"Jangan takut, Xing. Nanti kamu kuhubungi" ucap Joonmyeon seakan tahu apa yang dipikirkan Yixing. Yixing menyerahkan satu gelas es jeruk ke Joonmyeon, ia mengangguk menjawab ucapan Joonmyeon.
Dulu kau juga bilang seperti itu.
"Omong-omong Xing aku membelikanmu toples kaca supaya toples itu diganti"
.
.
.
50 Yixing's Wishs
Chapter 12
Xounicornxing
.
.
Aku punya banyak permohonan
Tuhan,bersediakan engkau mengabulkan permohonan-permohonanku?
Aku hanya punya 50 permohonan
Bisakah terkabul semua?
.
.
Happy reading
Yixing menguap sembari meregangkan otot lengannya. Badannya terasa amat pegal, ia yakin ini disebabkan oleh latihannya dengan Jongin yang melampaui batas tenaganya. Hampir saja dia berpikiran meminum satu butir obat stimulan agar dirinya bersemangat, namun Jongin sudah lebih dulu mencegah perbuatan Yixing.
Nanti hyung bisa-bisa kecanduan, secara tidak langsung ini narkoba hyung!
Begitulah kata Jongin. Jongin langsung membuang pil yang waktu itu sudah dibeli Yixing lima butir. Yixing berdecak sebal, namun pada akhirnya dia menaati perintah Jongin. Dengan sebal dia merelakan pil yang cukup mahal itu terbuang di toilet.
Baru saja Yixing akan menjatuhkan dirinya di kasur, seseorang melemparkan handuk ke dirinya. Yixing bergegas bangun, matanya mencari seseorang yang melemparinya handuk. Ia mendapati Jongin berdiri di pintu kamarnya yang sepertinya sudah menyelesaikan mandinya. Tadi Jongin memilih mandi di kamar mandi luar sedangkan Yixing memilih mandi di kamarnya, namun bukannya mandi, Yixing justru memilih merenungkan diri sembari meregangkan otot-otot pada tubuhnya.
"Mau apa kamu kemari Jongin, keluar ih!" perintah Yixing namun tak digubris oleh Jongin. Yixing berdecak sebal, ia melemparkan kembali handuk yang semula dilemparkan padanya. Sedangkan Jongin hanya menggeleng pelan.
"Cepat mandi hyung, dari tadi ngapain?" ucap Jongin membalas semua decakan sebal Yixing. Ia kembali melempar handuk itu kemudian keluar dari kamar Yixing.
Yixing bangkit dari posisinya, ia mendekati toples permohonannya yang kini tampak bening. Toples itu telah baru, digantikan oleh toples milik Joonmyeon, sedangkan toples lamanya telah dibawa pulang Joonmyeon. Entah apa yang akan Joonmyeon lakukan dengan toples yang sudah lama terkubur di dalam tanah itu, namun Yixing tak ambil pusing.
Yixing mendekap erat toples itu seakan tak mau melepasnya lagi. Ia menyayangi toples ini, ia menyayangi Joonmyeon dan ia ingin Joonmyeon kembali lagi suatu saat. Dia tahu ia tak dapat meminta Joonmyeon tetap disini. Ia tidak bisa egois. Memangnya siapa dia?
"Ah! Dimana kertas permohonanku?" tanya Yixing pada diri sendiri panik. Baru saja dirinya membuka dua laci pada meja be lajarnya, suara Jongin kembali menyadarkannya.
"Hyung sudah selesai apa belum mandinya?"
.
.
.
Jongin menikmati makan malam yang sudah disediakan oleh keluarga Wu ini. Di depannya ada Tao ibu Yixing yang menungguinnya makan malam sembari menunggu Yixing yang entah sampai kapan selesai mandi.
Kelihatannya keluarga Yixing tidak mengharuskan makan bersama seperti keluarganya, tapi itu bukanlah masalah bagi Jongin.
Jongin menyendokkan sesuap nasi dengan agak malas-malasan, tentu saja dengan rasa canggung yang berlebihan juga, ia meruntuki kebiasaan Yixing yang lama dalam mandi. Baru saja Jongin memasukkan nasi ke dalam mulutnya, Yixing sudah menepuk pundak Jongin kencang membuat Jongin terkejut dan memuncratkan nasi di dalam mulutnya.
Yixing meringis, Jongin terbatuk-batuk dan Tao menatap tajam puteranya.
"Maaf Jongin" ucap Yixing lalu mengambilkan temannya air putih. Tao menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan begitu Yixing, untung Jongin tidak tersedak!" Yixing menundukan kepalanya. "Maaf Ma" ucapnya pelan. Yixing mencorat-coret sebentar sebuah kertas lipat berwarna biru langit senada dengan kertas permohonannya yang sekarang entah dimana.
Wish#22 : Kompetisi, Joonmyeon, Jongin, dan segala yang telah kami usahakan bersama. Sukseslah.
Kemudian tiga orang itu menikmati makan malam bersama.
.
.
.
Joonmyeon masih terus-terusan mencoba menjejalkan baju yang dibawanya ke dalam koper. Dia tahu koper ini sudah tak muat mengingat Jonmyeon asal-asalan memasukkan bajunya. Kasihan sekali Kyungsoo tidak ikut kembali ke Tokyo karena ia mendapat beasiswa di Korea. Jujur Joonmyeon juga ingin seperti Kyungsoo, namun orang tuanya tak mengijinkan mengingat dia masih baru mencoba mengingat.
Satu jam yang lalu Joonmyeon masih berusaha membujuk orang tuanya agar mengijinkannya menetap di Korea namun tak dihiraukan orang tuanya. Padahal ia sudah bersumpah ia telah ingat segalanya.
Akhirnya dengan terpaksa, Joonmyeon masih harus menjejalkan baju-bajunya ke dalam koper miliknya. Padahal masih ada besok untuk berberes baju, namun Joonmyeon masih ingat kalau besok ia harus menonton kompetisi dance Yixing dan teman hitamnya itu.
Tanpa Joonmyeon sadari, seseorang bermata bulat masuk ke kamarnya dan membantunya melipat baju.
"Hyung ini niat melipat baju atau tidak sih?"ucap Kyungsoo mengejutkan Joonmyeon. Kyungsoo nyengir. Joonmyeon menggeser kopernya agar lebih dekat dengan Kyungsoo, dia tahu kok Kyungsoo akan sukarela merapikan kopernya.
"Kamu masuk kamar orang tidak pakai ketuk pintu!"
"Biarin." Kyungsoo masih melipat baju Joonmyeon dan Joonmyeon berkeliling kamarnya tidak jelas.
"Hyung.. aku mau curhat" ucap Kyungsoo agak merajuk. Joonmyeon menoleh langsung ke arah Kyungsoo. Tumben Kyungsoo si pendiam ini mengeluarkan rajukannya? Joonmyeon mendudukkan dirinya di samping kopernya. Ia menanti kalimat curhatan dari sepupu terdekatnya ini.
"Once upon a time there is a boy-
"Kyung kau mau curhat apa mendongeng?" Joonmyeon melotot. Kyungsoo menunjukkan peace sign miliknya.
"Hehehe maaf hyung, aku ke intinya saja ya. Dulu aku punya sahabat, dan kita terkena friendzone." Joonmyeon mengangguk mengerti. Kyungsoo menarik nafas sejenak, dan meringis.
"Waktu itu kita masih kecil, dan parahnya dia... segender denganku. Aku mengaku suka dengannya, ia bilang begitu juga, namun orang tuanya tahu, dan mereka menjauhkanku" nafas Kyungsoo tercekat. Ia agak terisak. Joonmyeon memberi pukpuk pada bahu Kyungsoo. Berterima kasihlah orangtuanya dan orang tua Yixing tidak menentang begituan, bahkan dia ingat ibunya pernah bercanda dengan ibu Yixing akan menjodohkan mereka. Ckck, aneh-aneh saja, walau mungkin Joonmyeon tidak menolak sih. Uhuk.
"Orang itu temannya Yixing tadi hyung. Temannya teman masa kecil hyung tadi"
"HAH?!" Joonmyeon memekik. Ini kebetulan yang mengejutkan.
.
.
.
Yixing menguap mengucek matanya. Mukanya masihlah muka-muka bantal, kalau kata orang-orang sih begitu. Namun ini tak membuatnya mencegah dirinya menuliskan satu dua permohonan pada kertas lipat yang masih sepuluh lembar itu. Mungkin ia harus membeli kertas lipat lebih banyak lagi.
Wish#23 : Semoga Joonmyeon hyung datang nanti. Aku berharap banyak
Wish#24 : Berikanlah jalan yang terbaik untuk kami, Tuhan.
Wish#25:
Baru saja Yixing akan menuliskan permohonannya kembali teriakan ibunya membuatnya melesat ke kamar mandi.
Terima kasih sekali pada suara teriakan ibunya itu. Bisa-bisanya ibunya berteriak di rumah mereka yang luas ini.
.
Setelah Yixing mandi, ia memakai kostum yang sudah ia tentukan dengan Jongin. Hari ii Yixing mengecat rambutnya sementara menjadi kecoklatan. Ia menolak mentah-mentah perintah Jongin yang menyuruhnya mengecat rambutnya menjadi blonde. Tidak terima kasih. Apa kata ibunya nanti?
Yixing memakai celana panjang dengan kemeja yang lengannya entah kemana, ia mengeluarkan kemeja itu di sisi dengan dan memasukkan ke celana sedikit di sisi belakang. Ia juga memasang tali di kedua celananya, guna properti menarinya nanti.
(a/n : kostum growl bayangkan ya chingu)
Tak lupa Yixing juga memberi sedikit sentuhan pada rambutnya. Setelah selesai dengan dirinya, ia membuka pintu kamar yang ternyata di depannya sudah ada Jongin dengan kostum yang sama dengannya namun berbeda gaya. Tanpa persetujuan Yixing, Jongin mengacak rambutnya kembali.
"Tidak usah banyak gaya hyung." Yixing merengut, tapi tak membantah Jongin. Ia menarik Jongin sejenak ke dalam kamar dan memberinya kertas lipat miliknya tadi. Yixing juga memberi Jongin pulpen untuk menulis.
"Kau dulu bilang ingin menulis kertas permohonan kan? Sekarang kamu boleh"
Wish#25 : Menang kompetisi, tentu saja . -Jongin
Jongin menyerahkan kertas itu ke Yixing dan langsung dilipat oleh Yixing. Toples permohonan itu tampak sudah penuh setengah. Yixing memeluk sejenak toples itu.
Joonmyeon hyung datang tidak ya..
.
.
.
"Selamat datang di kompetisi dance yang diadakan olek SM Entertaiment! Saya Onew selaku pembawa acara akan memberi tahu beberapa ketentuan yang akan dinilai dan juga penghargaan jika memenangkan kompetisi ini"
"Kompetisi ini menilai gerakan, koreografi, dan kostum yang dipakai. Juga berapa kali kesalahan yang diperbuat. Ah, tentu kami juga melihat raut wajah penjiwaan kalian terhadap tarian yang ditunjukkan"
"Untuk pemenang, akan secara langsung menjadi trainee SM Entertaiment dan mendapat bimbingan serta latihan, untuk itu pemenang akan mendapatkan keringanan beasiswa di SOPA highschool tergantung tingkat Juaranya"
Yixing dan Jongin mengangguk –anggukkan kepala mereka paham. Tentu mereka mau belajar di sekolah seni elite seperti SOPA hinghschool. Yixing dan Jongin mendapatkan giliran maju nomor lima. Mereka kini duduk di barisan peserta, tepat di belakang juri karena nomor urut mereka dekat. Yixing sesekali menyempatkan untuk menoleh ke belakang mencari seseorang.
"Terima kasih atas penampilan peserta nomor empat. Peserta nomor lima, kami persilahkan menaiki panggung" Yixing terkejut, Jongin menoleh. Mereka segera bangkit dan berjalan menuju panggung. Ketika menaiki panggung Yixing sempat menoleh lagi ke arah bangku penonton, namun orang itu tidak ada. Yixing menghela nafas. Ya sudahlah..
Musik sudah dimulai dan mereka sudah bersiap pada posisi masing-masing-
BRAK
Baru saja mereka nyaris memulai dance mereka, seseorang, ah bukan. Dua orang pendek, satu berwajah malaikat namun songong dan satunya bermata bulat layaknya bola pingpong memasuki ruangan itu dengan keras hampir tersungkur, sampai-sampai semua orang melihatnya.
Yixing tersenyum kecil.
"Ehm, tolong musiknya diulang" perintah Onew membuat Yixing dan Jongin kembali fokus.
.
.
.
Yixing dan Jongin pulang dengan membawa piala bertuliskan Juara tiga. Salahkan insiden kecil yang disebabkan oleh Joonmyeon dan sepupunya Kyungsoo itu membuat mereka kurang fokus. Yixing tersenyum puas, sampai rumah nanti dia akan bercerita panjang lebar kepada ibunya. Namun sebelum itu, ia akan mengajak Joonmyeon jalan-jalan terlebih dahulu. Mungkin ini saatnya dia memberanikan diri menurunkan egonya untuk jujur sebentar ke pada sahabat dekatnya itu.
Dan disinilah Yixing dan Joonmyeon. Mereka berada di bawah pohon dekat sekolah maupun dekat rumah Yixing dan rumah lama Joonmyeon. Yixing mendudukkan dirinya bersandar di pohon yang makin rindang ini. Beberapa kali dirinya menelan ludah mencoba menenangkan pikirannya yang berkecamuk dan kusut. Joonmyeon menyusul duduk di samping Yixing.
Yixing menoleh sebentar ke arah sebuah rumah megah yang sudah berpenghuni. Ia menunjuk rumah itu dan mencolek bahu Joonmyeon.
"Dulu itu rumahmu hyung" ucap Yixing membuat Joonmyeon menoleh cepat.
"Dulunya sih tidak semegah itu, tapi sudah luas dari dulu" lanjut Yixing, Joonmyeon mengangguk paham. Yixing menelan ludah lagi, rasa-rasanya dirinya menjadi lebih gugup dari biasanya.
"H-hyung.. maaf" Yixing membuka suara. Tubuhnya agak bergetar, sesungguhnya ia benci saat dirinya dengan mudahnya menangis. Mentalnya sungguh cengeng. Sedangkan Joonmyeon setengah terkejut, ia terkejut kenapa pemuda di sampingnya ini tiba-tiba menangis.
"Maaf.. aku udah suka sama hyung, maaf kalau aku melanggar yang namanya arti sahabat. Saranghae hyung" Yixing menenggelamkan kepalanya. Joonmyeon terdiam. Tak tahu harus bagaimana.
Friendzone itu menyedihkan. Kamu bisa menyukainya, tapi tidak bisa memilikinya
Yixing hampir saja bangkit, namun Joonmyeon justru menarik dan memeluk pemuda itu. Besok dirinya sudah tidak ada di Korea, tidak ada yang menjamin dirinya bagaimana selanjutnya nantinya.
"Iya, tidak apa-apa Xingie" Yixing justru menangis keras membuat Joonmyeon panik sendiri. Ia mengelus-elus punggung pemuda berlesung pipi itu mencoba meredakan tangis anak itu.
"Aku tahu hyung akan lama di Tokyo. Jadi aku mengucapkan itu. Aku tidak berharap banyak pada hyung, aku hanya takut tidak sempat"
Joonmyeon mengangguk paham, dirinya mengerti, lagi pula mungkin memang benar, mungkin bukan hanya Yixing yang terkena friendzone ini, Joonmyeon mungkin juga. Namun tentu semuanya terasa asing bagi Joonmyeon, dirinya baru bisa mengingat semuanya kemarin, bukan berarti dirinya bisa mengingat langsung bagaimana perasaannya. Mungkin ia akan menyadarinya, tapi bukan sekarang. Jadi Joonmyeon putuskan untuk menenangkan Yixing memberi pemuda manis ini semangat.
Sehabis ini dia harus bersiap ke bandara.
.
.
.
Tbc
12/06/2015
Dwe. Xounicornxing
Terima kasih ya yang sudah menyempatkan review. Dimohon reviewnya lagi. wkwkw
