Mr. Detektif

(Kihyun FF)

Rate: T

Genre: Romance, Crime

Hi, jumpa lagi!

Sorry nggak bisa ramaikan Desember ceria karena ada masalah sama jaringan internet. Moga-moga setelah ini laptop sehat terus, internet lancar jaya. Jadi sisa Desember bisa digunakan untuk ngebut ff Kihyun.

Selamat membaca dan mohon sabar sama yang namanya typo!

Bukti bag. 2

"Aku bertemu temanku saat perjalanan pulang. Karena dia tidak ada kendaraan, aku menawarinya tumpangan," terang Kibum yang sedang menyetir sambil bicara di telepon dengan Kyuhyun. "Tidak jauh. Rumahnya satu arah dengan kantormu. Setelah dia turun, aku langsung ke kantormu. Tidak lebih dari lima belas menit."

Kibum menoleh ke samping, mantan kekasih kecilnya duduk di sana. Membalas dengan senyum kaku meski Kibum tersenyum padanya dengan tulus. Yah, memang sangat kebetulan Kibum bertemu dengannya. Niatnya hanya lewat jalur ynag dia lewati sekarang agar lebih cepat sampai ke kantor Kyuhyun, tapi siapa sangka dia menemukan Ren yang baru pulang dari kampusnya. Dia bersama beberapa teman sedang menunggu bus di halte. Saat itulah Kibum berinisiatif memberi tumpangan, sekaligus ingin tahu kabar mantan kekasihnya itu setelah berpisah dengannya.

Awalnya berjalanan dengan mulus. Mereka tidak canggung meski berpisah beberapa bulan. Ren menceritakan kesehariannya masih dengan semangat, serasa mereka masih punya hubungan yang sama seperti dulu. Kibum juga masih senang bicara dengan mantan kekasihnya itu. Sampai detik di mana keduanya sama-sama merasa masih saling menyayangi, Kyuhyun menghancurkan tahap lanjut yang akan mereka bangun. Kyuhyun menelepon mengatakan bahwa dirinya punya perasaan tidak enak. Dia hanya memastikan keadaan Kibum. Yang berarti tanda bahaya untuk Kibum. Dia tak bisa kembali dengan Ren, bahkan walau hanya berteman.

"Teman lama. Luo saja kenal dengannya." Kibum menambahkan. "Aku sudah sampai rumahnya. Kututup dulu teleponnya!"

Setelah mendapat persetujuan dari Kyuhyun, Kibum menutup teleponnya. Kembali mengantongi ponsel itu, kemudian fokus menyetir.

"Sepertinya dia khawatir sekali. Kekasihmu, ya?" tanya Ren sambil memainkan jemarinya di atas pangkuan.

"Iya, baru beberapa minggu ini." Kibum menjawab sambil tersenyum kecut.

Ren membalas senyum dengan tak kalah kecutnya.

Gara-gara telepon dari Kyuhyun, suasana yang tadinya biasa saja mendadak jadi canggung. Ada sekitar tiga kilo lagi perjalanan menuju rumah Ren, jadi tidak enak kalau diam-diaman. Kibum berinisiatif mengawali pembicaraan lagi, setidaknya Ren tidak murung seperti sekarang ini.

"Kau sudah mulai ujian? Kupikir ini akhir tahun ajaran."

"Iya. Aku berniat mengebut pelajaranku, mengambil semester pendek agar kuliahku cepat selesai." Kibum hanya mengangguk, padahal Ren ingin Kibum tahu alasan dia ingin segera menamatkan kuliahnya. Namun karena terlanjur bicara, dia harus menjelaskannya tanpa diminta. "Aku ingin segera lulus. Ingin mencari pekerjaan agar bisa tinggal sendirian."

Kibum agak kaget bagian ini. Orang tua Ren tak mungkin setuju. "Kenapa kau ingin tinggal sendirian?"

"Biar aku tak dikekang lagi oleh Appa dan Eomma."

Mengingat hubungan mereka dulu tak disetujui orang tua Ren, Kibum paham maksud mantan kekasihnya itu untuk tinggal sendiri. Namun Kibum juga paham kalau ketidaksetujuan orang tua Ren beralasan. Perbedaan umur mereka salah satunya. Juga karena pekerjaan Kibum yang memiliki banyak resiko terhadap orang-orang terdekat.

"Tapi sekarang kau sudah punya kekasih baru, Hyung."

Kibum mengernyit, benar tebakannya kalau Ren melakukan itu untuknya. Namun setelah mengingat bahwa Kyuhyun adalah kekasihnya saat ini, sekarang atau nanti dia sudah tidak bisa kembali pada Ren. Kyuhyun jauh lebih baik dalam segala hal dibanding Ren. Kedewasaannya, kepintarannya, kekayaannya, bahkan resiko pertengkaran dengan Kyuhyun lebih membuat Kibum tertantang. Mereka punya Chemistry. Dan yang paling penting Kyuhyun punya kekuasaan yang kemungkinan kalau marah Ren bisa dilibasnya sampai habis. Kibum tahu betul soal itu, termasuk yang menjadikannya was was sedari kemarin. Kyuhyun meledakkan rumah dengan motif yang tidak jelas, berarti Kyuhyun juga bisa menghancurkan orang dengan motif yang sama tidak jelasnya.

Di luar dari itu semua, Kibum mencintai Kyuhyun. Resiko menjadi kekasih orang superior seperti Kyuhyun mau tak mau harus Kibum ambil. Asal Kyuhyun tidak minta tukar posisi saja saat mereka berada di ranjang yang sama.

"Ren, kurasa orang tuamu memisahkan kita bukan tanpa alasan. Umur dan pekerjaanku alasan yang tidak bisa dianggap sepele."

Ren mengangguk. "Aku tidak masalah kalau harus terus mengalami kemalangan karenamu."

"Tapi orangtuamu akan sangat mempermasalahkannya." Kibum memutar setirnya, membelok di tikungan terakhir perumahan tempat Ren tinggal. "Semua polisi disumpah untuk lebih mengutamakan keselamatan orang lain dibanding siapapun. Kalau bersamamu, aku tak bisa lebih mementingkanmu dari orang lain. Orang tuamu pasti tahu itu, makanya mereka tidak setuju dengan hubungan kita." Kibum berhenti selang dua rumah. Tentu saja agar tidak ketahuan oleh orang tua Ren.

"Aku pasti bisa menjaga diri sendiri, Hyung."

"Orang tuamu tak akan berpikir seperti itu."

"Lalu apa orang tua kekasih barumu menyetujui hubungan kalian?"

"Aku belum pernah bertemu mereka."

"Apa kekasih barumu bisa melindungi diri lebih baik dariku?" Dia mengajukan pertanyaan baru setelah jawaban pertama Kibum tak memuaskan.

Kibum mengangguk. Kyuhyun memang hanya bisa sedikit membela diri kalau lawannya pakai otot, tapi kalau pakai otak, siapapun pasti bisa dihancurkannya dengan mudah.

"Kau menyukainya, Hyung?"

Kibum mengangguk lagi.

"Sebesar apa cintamu padanya dibanding cintamu padaku saat kita masih pacaran dulu?"

"Ren, jangan suruh aku membandingan kalian berdua!" Kibum menarik tangan Ren. Mengelusnya untuk menenangkan. "Kalian punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi cinta tidak bisa diukur."

"Aku tidak rela kau mencintai orang lain, Hyung!" Ren menarik tangannya. Agaknya benci dengan apa yang dikatakan Kibum barusan. "Terima kasih telah mengantarku pulang." Dia melepas sabuk pengaman, kemudian keluar.

"Ren!"

"Kau pulang saja, kekasihmu menunggu, kan?"

"Ren, aku akan mentraktirmu makan lain kali!"

"Tidak usah!"

Meski Kibum beberapa kali mengalami penolakan, tapi dia tidak pernah sakit hati. Sekarang melihat Ren yang ditolaknya, Kibum yang sakit hati. Tidak tega melihat mantan kekasih kecilnya itu bersikap ketus karena dia lebih memilih Kyuhyun daripada Ren. Tapi mau bagaimana lagi, cintanya sudah berpindah. Janjinya juga sudah dibuat untuk setia dengan Kyuhyun. Hanya mantan kekasih rasanya tak bisa membuatnya melanggar apa yang sudah disepakatinya dengan Kyuhyun.

.

.

Walaupun Kibum masih terpengaruh perkataan Max kemarin, tidak membuatnya melupakan prosesi temu kangen dengan Kyuhyun. Masih ada ciuman dan pelukan tiap mereka berpisah dan bertemu lagi. Seperti kali ini, Kibum masih memberikan ciuman dan pelukan hangat meski Kyuhyun tak mau berlama-lama dalam pelukannya.

Kyuhyun segera menyerahkan kertas yang isinya daftar tempat-tempat romantis pemberian Max. Kalau Kibum yang memegang kertas itu pasti sudah lecek, atau hilang entah kemana. Tapi Kyuhyun mengurusnya dengan baik. Bahkan ketika Kyuhyun menunjuk nomor terakhir di list itu, Kibum masih bisa membacanya dengan jelas.

"Tempat ini jauh dari mana-mana."

"Di luar Seol." Kibum membenarkan.

"Aku sudah mengeceknya. Walau tidak se-modern tempat-tempat di Seol, kelihatannya cukup bagus untuk di kunjungi."

"Kau mau kita ke sana sekarang? Ini di Busan, di pelosok. Tidak cukup waktu untuk berangkat, bersenang-senang, lalu pulang lagi. Setidaknya kita butuh menginap."

"Kalau begitu kita menginap."

Kembali lagi menjadi Kyuhyun yang permintaannya terkesan seenaknya. Kibum memang sudah terbiasa, tapi masih tak habis pikir kenapa sedikitpun Kyuhyun tidak berubah. Setidaknya mempertimbangkan bahwa dia bukanlah orang yang bisa bepergian seenaknya. Ada orang-orang yang mengincar nyawanya di luar sana. Selain itu masalah perusahaan yang berkasnya sudah dilimpahkan di kepolisian sudah mulai diselidiki, Kyuhyun harus berada di tempat kalau polisi ingin memintainya keterangan.

"Kudengar besok penyidik akan datang ke kantormu untuk mengurusi masalah kecurangan itu. Harusnya kau berada di kantor."

"Itu alasanku menyelesaikan pekerjaan lebih cepat hari ini. Aku mau kau membawaku ke kantor polisi." Kyuhyun memasang sabuk pengaman, kemudian menyamankan tubuh di dudukan mobil. "Aku mau memberi keterangan pada penyidik sekarang juga, setelah itu minta ijin untuk pergi ke tempat yang tadi."

"Memangnya ada sistem seperti itu di kepolisian?"

"Kau kan yang tahu soal hukum." Kyuhyun melambaikan tangannya agar Kibum menjalankan mobil. Dia ingin segera keluar dari area perkantoran secepat mungkin. "Walaupun tidak boleh, kalau aku yang minta kurasa mereka akan mengijinkan."

"Masalahnya bukan hanya boleh tidaknya kau meninggalkan Seol saat kepolisian menyelidiki kecurangan di kantormu, tapi aku juga sudah kembali aktif di kepolisian. Hari ini ada kasus yang diserahkan padaku. Kasus pencemaran nama baik, kekerasan, dan pelecehan seksual anak seorang pejabat, Min Ah yang jadi partner-ku."

"Lalu kenapa kalau kau sudah menangani kasus lagi? Kau bisa ambil cuti beberapa hari, dan wanita yang barusan kau sebut sebagai partner-mu pasti bisa melakukan penyelidikan sementara waktu."

"Kyu, sebagai aparat negara kita sudah disumpah untuk mengesampingkan kepentingan pribadi." Dua kali Kibum menyebutkan sumpah kepolisian membuktikan bahwa dirinya polisi yang bertanggung jawab. Ren maupun Kyuhyun harus tahu soal itu. "Dan sebagai partner, aku tidak bisa melimpahkan kasus pada Min Ah seorang." Kibum malah mematikan mesin mobilnya, membuat Kyuhyun mendecih sambil menyilangkan tangan. "Lagipula kau masih dalam bahaya. Ingat surat kaleng itu, kan?"

Kyuhyun memalingkan mukanya keluar mobil. "Kan ada kau yang melindungiku." Namun dia menambahkan, "Kecuali kau memang mulai bosan dekat denganku!"

"Kau ini bicara apa?"

"Tidak bicara apa-apa. Feeling-ku bilang begitu."

"Feeling-mu pasti salah."

"Oh ya? Tahu dari mana feeling-ku salah?"

"Aku tidak akan pernah bosan denganmu."

Kyuhyun mendiamkannya sejenak.

"Kyu…"

"Tidak usah bicara lagi. Kalau kau memang tak mau pergi denganku ke tempat itu, ya tidak usah pergi. Antar aku pulang dan kau bisa kembali pada partner-mu itu!" kata Kyuhyun ketus.

"Kau terdengar seperti sedang cemburu." Kibum men-starter mobilnya. "Aku tak akan ambil cuti, tapi kita bisa pergi ke sana akhir pekan nanti." Walau Kyuhyun masih tidak mau menghadapnya, Kibum yakin Kyuhyun sedang mempertimbangkan perkataannya barusan.

Kibum menjalankan mobilnya, meninggalkan pelataran gedung kantor sesuai permintaan kekasihnya itu.

Kihyun

Min Ah masuk kantor dengan lengan kanan diperban. Ada banyak goresan di mukanya, namun untungnya luka-luka itu tidak membahayakan nyawanya. Luka gores bisa hilang dengan salep-salep khusus. Luka di lengannya juga bisa sembuh tanpa bekas. Dia hanya terserempet pengendara motor yang sayangnya bisa kabur sebelum Min Ah dan petugas yang bersamanya berhasil mengenali pengendara itu.

"Chang, tolong bukakan rotiku ini!" Min Ah menyerahkan roti lapis rasa keju yang masih terbungkus plastik. Baru diambilnya dari kantong belanjaan yang dibelinya dari mini market terdekat. Chang mengambilnya, merobek plastik pembungkus dan mengeluarkan isinya. Min Ah langsung mengulurkan tangan kirinya, namun yang diterimanya hanya setengah roti saja. Chang memakan setengahnya lagi. "Dimintai tolong saja minta imbalan!"

"Jaman sekarang tidak ada yang gratis," katanya sambil mengigit sisa rotinya.

"Itu akan mengingatkanku agar lain kali tidak minta tolong padamu lagi!"

"Terserah kau. Menjauh dariku sana!"

Min Ah mendecih. Berjalan menjauh sambil mengigiti rotinya. Di meja kerjanya, ada Kibum tengah mencari informasi mengenai kasusnya lewat komputer di meja. Min Ah berdehem membuat Kibum mendongak padanya. Saling pandang sejenak sebelum kemudian Kibum menunjuk ke arahnya.

"Ada apa denganmu?"

"Harusnya aku yang tanya, ada apa denganmu?"

Kibum menunjuk cangkir berisi teh panas yang barusan diantarkan office boy padanya. "Habiskan rotimu dan minumlah, aku akan jelaskan." Kibum juga berdiri, menyorokkan kursinya pada Min Ah. Menarik wanita itu dan mendudukkannya di kursi. "Aku tak bisa datang lebih cepat sebelum mengantarkan Kyuhyun ke kantornya. Jadi kalau kau sampai dapat luka seperti itu, rasanya aku jadi punya hutang."

"Kau hanya merasa punya hutang? Tak merasa bersalah?" Kibum mengakui kalau dia salah, namu minta maaf bukanlah gayanya. "Tapi kau tak minta maaf?"

"Permintaan maaf tak harus ditunjukkan dengan kata-kata," dalih Kibum.

Melihat Min Ah meletakkan rotinya lalu mengambil cangkir, Kibum buru-buru mencomot setengah roti yang sebenarnya sudah jadi setengah setelah kejadian Chang tadi. Min Ah meneriakinya, namun Kibum terlanjur memasukkannya dalam mulut.

"Kau beli banyak, kenapa secuil roti saja kau ributkan?"

"Tak pernah belajar agama, ya? Mengambil makanan orang yang kesusahan itu dosa hukumnya."

"Aku lupa bagian itu." Kibum berdalih lagi. "Jadi ada apa dengan tanganmu?"

Min Ah tak jadi minum dan meletakkan kembali cangkirnya setelah tak sabar menunggu teh itu mendingin. "Aku terserempet motor."

Kibum menyengir "Kupikir kau berkelahi dengan orang-orang suruhan tersangka lalu kalah, aku sampai merasa bersalah karena tidak menemanimu menemui tersangka." Karena Min Ah jago bela diri, Kibum mengira Min Ah baru menghadapi banyak orang hingga dapat luka. Tapi mendengar partner-nya itu hanya keserempet motor, tidak ada gunanya lagi dia khawatir. "Aku sampai berencana membalaskan dendam."

"Sama saja. Gara-gara kau tak ikut denganku, aku kehilangan orang yang menyerempetku."

"Aku tahu orang yang cari masalah denganmu akhirnya akan jadi seperti apa." Kibum mengingatkan soal kejadian sebelumnya saat seorang pemuda menggoda Min Ah. Mencoba bertindak mesum, namun berakhir di rumah sakit. "Kau selalu berlebihan menanggapi orang-orang seperti itu."

"Aku ketua detektif di bagian pelecehan seksual. Memang itu yang harus kulakukan."

"Ya, kau benar. Tapi jangan hajar tersangka sampai masuk rumah sakit juga." Tidak habis pikir wanita berpenampilan menarik, wajahnya cantik, body-nya ok, tapi suka memukuli orang. Pantas saja sampai sekarang Min Ah tidak memiliki kekasih. "Sudah untung mereka tidak berani menuntutmu, kalau sampai ada yang berani kau bisa menggantikan posisinya di sel tahanan."

"Sudah, jangan bahas itu!" Min Ah mengeluarkan satu roti lagi dari kantorng plastiknya. Kali ini rasa coklat. "Kau sudah baca laporan yang dibuat keluarga korban, kan?" Kibum menganggukinya. "Sore ini kita dijadwalkan menemui korban di rumahnya, kali ini kau harus ikut aku ke sana!"

Kibum mengiyakan.

"Kibum!"

Panggilan itu menghentikan pembicaraan antara Min Ah dan Kibum. Tae sub melambai langsung ke arahnya. Mengkodekan bahwa apa yang akan dikatakannya sangat penting untuk diketahui.

"Kau harus tahu pelaku kasus surat kaleng itu."

Sebelum beranjak, Min Ah menyodorinya roti dengan tangan kiri. Bukan untuk diberikan, tapi untuk dimintai tolong membukakan. Kibum meraih roti itu, membukanya, mengeluarkannya dari plastik, tapi seperti apa yang dilakukan Chang tadi, dilakukan juga olehnya. Kibum mengambil setengahnya, lalu meninggalkan Min Ah yang mengomel kesal. Kibum berpindah ke meja Tae sub kemudian.

"Anak yang terekam CCTV waktu itu sudah ditemukan. Darinya kita mendapati keterangan bahwa dia tidak tahu menahu soal isi surat itu. Dia bilang dibayar untuk meletakkan surat itu di sana."

"Pelakunya?"

"Kau akan terkejut kalau tahu siapa pelakunya."

"Jangan bertele-tele, katakan saja pelakunya!"

Tae sub tertawa kecil. Melihat ketidaksabaran Kibum membuatnya makin bersemangat mengulur waktu. "Kau tidak ingin menebaknya?"

"Orang yang menginginkan Kyuhyun keluar Korea, keluarga besar Kyuhyun sendiri," kata Kibum asal. "Tapi aku salah menebak akhir-akhir ini."

"Kau memang salah menebak." Tae sub tersenyum sebentar apalagi setelah melihat setengah roti di tangan Kibum belum disentuh sama sekali. "Bagi rotinya padaku dan aku akan menyebutkan pelakunya. Kujamin kau akan terkejut!"

Janji terkejut itu mengharuskan Kibum membagi roti hasil rampasannya dari Min Ah. Setengah dari yang dia pegang diberikannya pada Tae sub. Ketika sama-sama mengigit, kemudian mengunyah roti, Tae sub memulai lagi. Diawali dengan cerita timnya bertemu anak itu, mengetahui orang lain yang menyuruh dan membayar si anak, sampai pencarian orang itu.

Tim yang Tae sub kirim menemukan orang itu. Tidak bisa disebut orang sebenarnya, karena umurnya baru 17 tahun. Masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Orang tuanya hanya pedagang kue beras keliling. Tinggal di daerah Incheon pinggiran. Anak itu tidak punya masalah apapun yang berkaitan dengan Kyuhyun, Changmin, dan Jessy.

"Cuma iseng maksudmu?"

"Aku bilang tidak ada masalah apapun dengan mereka bukan berarti tidak ada hubungan." Tae sub mulai menghabiskan rotinya. Dengan mulut penuh dia menambahkan, "Dia juga mengaku di suruh. Kau akan terkejut mengetahui siapa yang menyuruhnya."

"Kau sudah tiga kali mengatakan aku akan terkejut mengetahui siapa pelakunya." Kibum mengikuti Tae sub, memakan habis rotinya. "Memangnya siapa orang yang kurang kerjaan mengirim surat kaleng itu?" tanyanya sambil mengunyah, untung tidak muncrat.

"Kekasih tercintamu, Kyuhyun!"

"UHUK!"

Kibum tersedak, tapi Tae sub hanya menepuk lengannya tanpa mau membantu lebih lanjut. Dia malah kembali ke layar komputer, membuka file, kemudian mencetaknya.

"Kami harap kalian bisa datang ke kantor polisi sewaktu-waktu bila dibutuhkan keterangannya." Seorang polisi senior berkata pada Kyuhyun, Leeteuk, dan Siwon yang berdiri berjajar di lobi kantor.

"Tentu saja. Kami siap dimintai keterangan." Leeteuk mewakili teman-temannya.

"Kalau begitu kami undur diri dulu," pamit polisi itu.

"Terima kasih."

Si polisi menyalami Leeteuk, Kyuhyun, dan Siwon. Keluar lobi, menaiki mobil yang kemudian meninggalkan gedung kantor Kyuhyun. Tiga mobil polisi lainnya menyusul di belakangnya. Empat mobil itu membawa 7 orang yang terlibat penggelepan dan kecurangan dalam perusahaan. Tinggal Chulkyu saja yang perlu ditangkap.

"Apa itu sudah semua?" Siwon hanya menebak.

"Aku harap tidak ada yang tersisa," jawab Leeteuk ringan.

"Kalaupun masih ada yang luput dari pengamatan penyidik, cepat atau lambat kita pasti akan menemukannya, Hyung."

"Kau benar, Kyu."

Ketika mereka berjalan hendak memasuki lift, Siwon menyerobot posisi Leeteuk. Menempatkan diri di tengah-tengah. Dia mencoba mendekati Kyuhyun lagi. Tersenyum semanis mungkin sebelum memulai aksinya.

"Aku bersyukur semua ini sudah berakhir." Kyuhyun hanya mengangguk. "Karena kau sudah melewati hari-hari yang berat akhir-akhir ini, kupikir kau berhak dapat liburan."

"Kurasa juga begitu." Leeteuk setuju.

"Bagaimana kalau kusiapkan liburan untuk akhir pekan. Kita bertiga ke pantai."

"Ide bagus." Masih Leeteuk yang menyutujuinya.

Pintu lift terbuka, Leeteuk masuk paling awal, diikuti Kyuhyun, kemudian Siwon. Posisi mereka berubah, tapi Siwon tetap berada di dekat Kyuhyun. Dia memencet tiga angka berbeda di dekat pintu lift untuk Kyuhyun, Leeteuk, dan dirinya sendiri. Pintu menutup, lift terangkat.

Siwon menoel Kyuhyun. "Kau masih ingat liburan kita yang terakhir?"

Ya, Kyuhyun mengingat semua hal yang pernah dilaluinya. Karena Kyuhyun menjadi lebih jenius, hal sekecil apapun jadi bisa dia ingat, termasuk hal buruk sekalipun.

"Kita mencoba main judi tapi kalah semua." Siwon tertawa sendiri.

Kyuhyun tersenyum dan Leeteuk menyengir saja.

"Kau pernah bilang suatu saat akan mencoba berjudi lagi sekali-kali. Kita pergi ke sana dan mencoba peruntungan kembali."

"Kita tidak pernah untung dalam perjudian, Siwon." Leeteuk membuat pernyataan. "Hanya soal bisnis baru kita beruntung."

"Setidaknya kita bersenang-senang. Iya kan, Kyu?"

Kyuhyun mengangguk lagi.

"Kusiapkan segalanya. Sabtu nanti kujemput kau di rumahmu!"

"Aku juga senang kalau bisa ke sana lagi, tapi akhir minggu ini aku sudah punya acara." Leeteuk dan Siwon memandanginya. "Liburan dengan kekasihku."

"Kekasihmu?" Siwon mengernyit. Agak kecewa. "Wanita yang kau perebutkan dengan Changmin itu? Kupikir kau tak ada hubungan dengannya."

"Aku akan berkencan." Kyuhyun menggeleng. "Pokoknya aku tidak bisa ikut dengan kalian. Ajak saja siapapun yang ingin liburan."

"Apa aku tak bisa ikut liburan denganmu?"

"Siwon hyung, aku barusan bilang akan berkencan. Tidak bisa mengajak orang lain selain aku dan kekasihku." Tepat saat itu lift terbuka pada lantai tempat ruangan Siwon berada. "Lain kali saja kita pergi liburan bersama," tambahnya sambil mempersilakan Siwon keluar.

Ogah-ogahan Siwon keluar lift, Leeteuk sampai harus mendorongnya. Dan ketika lift kembali tertutup, menyisakan Kyuhyun dan Leeteuk di dalamnya, Kyuhyun merasa agak sedikit lega. Siwon belum tahu kalau hubungannya dengan Kibum sudah sangat jauh. Mungkin Siwon juga tak tahu kalau tiap harinya Kibum mengantar jemput Kyuhyun, bahkan tinggal di rumah yang sama. Karena temannya itu punya perasaan khusus padanya, dan Kyuhyun tak punya perasaan yang sama, sedikit demi sedikit harus diluruskan.

"Kau berencana memberitahu Siwon kalau kau memacari Kibum?" Kyuhyun mengangguk. Leeteuk jadi kasihan pada Siwon. "Bukankah kau bilang sedang mempertimbangkan saranku untuk mencari kekasih lain?"

"Iya, tapi sekarang aku masih dengan Kibum. Selama kita belum benar-benar putus, Kibum berhak dikenal orang sebagai kekasihku."

"Makin ke sini kau makin terbawa suasana dengan hubungan percintaanmu." Leeteuk menggeleng-geleng prihatin. "Aku takut orang mengira kau yang tergila-gila dengan Kibum."

Kyuhyun menyeringai. "Yang penting kenyataannya, Hyung. Aku yang lebih segala hal, Kibum yang jelas-jelas tergila-gila padaku." Agak congkak mengatakan hal barusan. Sejujurnya Kyuhyun mau Kibum tergila-gila padanya, tidak seperti sekarang ini yang mulai menunjukkan kebosanannya. Awal pertemuan hubungan mereka seperti maraton, cepat dan menggebu-gebu. Makin ke sini makin melesu, tinggal riak-riak kecil. Kyuhyun tak suka seperti ini. Dia mau hubungannya bertahan sampai nanti, sampai kiamat kalau bisa. "Walau anggapanmu hubunganku dengan Kibum hanya untuk saling menguntungkan, aku dan Kibum tetap berhak dapat liburan bersama."

Ting…

"Kita bicara lagi nanti." Kyuhyun mengakhiri pembicaraan.

Lift berhenti di lantai tempat ruangan Leeteuk berada. Leeteuk keluar sambil melambaikan tangannya pada Kyuhyun. Lalu pintu lift kembali tertutup, naik ke lantai tempat ruangan Kyuhyun berada. Hanya butuh beberapa detik Kyuhyun sampai ke lantainya. Disapa oleh Yue yue saat melewati ruangan sekertarisnya itu, kemudian masuk ruangannya sendiri.

Kyuhyun mengambil handphone-nya dari saku. Mendial nomor Kibum dan mendapati kekasihnya menjawab panggilannya dengan cepat.

"Kibum kau ada di mana sekarang?"

"Di kantor."

"Apa sangat sibuk?" Karena terdengar suara-suara berisik dari kantor Kibum. Suara Max, bercampur teriakan Luo, dan banyak lagi suara yang tak dikenalnya.

"Setiap hari sibuk di kantor ini. Memangnya ada apa?"

"Kita jadi ke Busan akhir pekan ini."

"Oh…" Kibum terdengar tidak fokus, masih bimbang. "Baiklah," katanya kemudian. "Ada yang harus kukerjakan. Kita bicarakan ini nanti malam saja."

"Kau benar-benar sangat sibuk, ya?"

"Iya, kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi kututup teleponnya. Aku harus mengintrogasi tersangka."

"Ok, kita teruskan nanti malam!"

Telepon sudah ditutup. Kyuhyun makin yakin kalau Kibum memang sudah mulai bosan padanya. Dulu tidak seperti ini. Apapun kesibukannya, Kibum selalu ada untuk Kyuhyun, tapi akhir-akhir ini tidak lagi seperti itu. Memang Kibum pernah mengatakan kalau pekerjaannya bisa jadi longgar dan sibuk sewaktu-waktu. Tidak bisa senaknya menelepon atau sekedar bertemu Kyuhyun. Tetapi tebakan Kyuhyun kesibukan Kibum itu bukan semata-mata karena pekerjaan, tapi karena sesuatu yang lain. Kyuhyun sangat cemburu membayangkan sesuatu yang lain itu berhubungan dengan orang ketiga.

Kihyun

"Kyuhyun?"

Kibum mengangguk lesu.

"Kenapa kau perlakukan dia seperti itu?" Tae sub menghela nafas khawatir. "Kalau dia balas dendam pada kepolisian bagaimana?"

"Mengingat kitalah yang menyelamatkan dan melindunginya selama ini, dia tidak akan membalas dendam hanya karena aku menutup teleponnya. Lagipula kita memang sibuk, Tae."

"Sibuk membicarakan Kyuhyun!" Tae sub membuat cemoohan dengan suaranya. "Mengingat dia meledakkan rumah sendiri, mengirim surat kaleng berbentuk ancaman pada diri sendiri dan orang lain, aku rasa dia bisa membalas apapun yang kau lakukan padanya."

"Jangan menakutiku!"

"Aku tidak menakutimu. Hanya bicara kenyataan saja."

Ternyata anak sekolahan yang di suruh Kyuhyun menyiapkan dan mengirim surat kaleng ke rumahnya, rumah Changmin, dan apartement Jessy adalah salah satu anak yang sekolahnya dibiayai Kyuhyun. Anak itu mengaku pernah ditelepon Kyuhyun lewat nomor ibunya. Diajak jalan-jalan, belanja, dan makan. Kemudian dibelikan handphone pribadi. Belum lama ini Kyuhyun menelepon lagi, menyusun skenario surat kaleng dengan motif mengerjai teman-temannya. Anak itu di suruhnya membuat dan mengirimkan surat kaleng. Namun tidak tahu sama sekali maksud terselubung dari permintaan Kyuhyun itu.

"Aku bingung apa motifnya."

Sama dengan Max kemarin yang juga bingung menentukan motif kejahatan yang dibuat oleh Kyuhyun. Heran, kan? Kyuhyun meledakkan rumah sendiri. Kyuhyun mengancam diri sendiri. Agakanya kalau bukan karena ganguan mental, tidak ada lagi motif lain yang cocok untuk Kyuhyun. Karena kebangetan kalau Kyuhyun melakukan semua hal itu hanya untuk bersenang-senang.

"Kita tunggu tim menemukan adik guru TK itu. Apa yang dilakukannya demi Kyuhyun?"

"Itu sama saja kau menuduh Kyuhyun."

"Memang aku menuduhnya."

"Aku juga menuduhnya!" serobot Max yang diam-diam mendengarkan pembicaraan Kibum dan Tae sub. Dia pernah dijanjikan disponsori liburannya oleh Kyuhyun, tapi bukan berarti harus membela kalau lelaki itu memang bersalah. "Hanya saja tuduhan yang sudah terbukti tidak ada pengaruhnya bagi Kyuhyun."

Si wanita yang kemarin menyebut Kyuhyun gila, kali ini ikut bicara lagi. "Sepertinya kekasihmu mengalami kerusakan otak yang lumayan parah."

"Kau mulai lagi!" tegur Kibum. "Berani bicara seperti itu kalau orangnya ada di sini?"

"Ya ampun Kibum, kau keterlaluan saat membelanya!"

"Kau keterlaluan saat mengaitanya!"

Perkara dengan si wanita ditutup.

Kembali kepada Tae sub. Temannya itu menopang dagu dengan tangan kanan, tangan kirinya membuka lembaran laporan yang disusun polisi-polisi suruhannya. Membuka lembar pertama, lembar ke dua, berhenti di lembar ke tiga. Dia membaca di sana.

"Kapan Kyuhyun diracuni sepupunya itu?"

"Bukan sepupunya yang meracuni Kyuhyun." Tae sub lupa kalau Kyuhyun sudah menjelaskan soal itu. "Dia sudah mendapat ancaman dari dulu," terang Max yang segera diangguki Kibum.

"Tadi aku hendak menyimpulkan kalau setelah diracuni dan jadi jenius itulah Kyuhyun memulai tindakan-tindakan konyol. Tetapi kalau dia sudah mendapat ancaman jauh sebelum itu, berarti motif untuk bersenang-senang atau karena Kyuhyun mengalami kerusakan otak tidak berlaku lagi."

Max mulai setuju.

Kibum tidak tahu harus setuju atau tidak.

"Mengingat dia banyak merekayasa keadaan, tidak menutup kemungkinan kalau semua yang dialaminya selama ini adalah hasil rekayasanya juga."

Para wanita langsung merinding mendengarnya. Kyuhyun bukan orang yang kuat, tapi pemikirannya menakutkan. Ototnya tak bisa merobohkan tiang bambu, tapi otaknya bisa menghancurkan tembok beton, istilah begitu.

"Itu akan jadi tugas Kibum untuk mengetahui motif Kyuhyun!" Bukan dari Max, Tae sub atau pegawai lainnya. Itu dari Chang yang baru datang bersama Luo. "Satu-satunya orang yang bisa mendekatinya hanya kau, Kibum. Jangan perlakukan dia berbeda dari sebelumnya kalau kau tidak mau ketahuan telah mencurigainya. Dia bisa menjadikanmu sasarannya!"

"Kenapa kau jadi ikutan menakutiku!"

Chang hanya menyeringai. Tidak serius menakut-nakuti Kibum, namun serius dengan misi yang dikatakannya. "Coba kalian cari kejadian apa saja yang melibatkan Kyuhyun di dalamnya. Dalam hal ini Kyuhyun yang jadi korban!"

"Untuk apa?"

"Untuk mencari referensi. Motif seseorang melakukan tindakan pengrusakan tidak hanya kejahatan, bisa juga karena sesuatu yang baik."

"Kalau kau beranggapan seperti itu, kemungkinan memang ada benarnya. Aku akan mencari semua kasus yang terdaftar yang melibatkan Kyuhyun!" Tae sub menarik diri dari pembicaraan.

Luo menepuk pundak Kibum. "Walau Kyuhyun yang kita ketahui sekarang terlihat lebih menakutkan dari sebelumnya, aku masih menyukainya." Namun yang dikatakannya barusan tidak semenggebu sebelum-sebelumnya. "Mungkin kau memang ditakdirkan untuk Kyuhyun!" Dan Luo ikut-ikutan menarik diri. Pergi ke mejanya sendiri meninggalkan Kibum.

Setelah semuanya kembali ke meja masing-masing, Kibum pun mengambil langkah sama. Dia menuju mejanya sendiri. Menyiapkan pertanyaan untuk korban yang akan ditemuinya sore ini mungkin akan membuatnya melupakan Kyuhyun sejenak. Chang mendekat padanya, berkata lirih agar hanya Kibum yang bisa dengar.

"Kyuhyun mencintaimu betulan, itu bisa jadi perlindungan yang hebat!"

Kibum hampir tertidur ketika Kyuhyun tiba-tiba menjatuhkan diri di sebelahnya.

"Kau menyukai orang lain, kan?"

Bagai ditarik dengan kekuatan besar, Kibum membuka matanya karena terkejut. Apa Kyuhyun tidak salah bicara? Begitu yang dipikirkannya.

"Dapat pemikiran darimana?"

"Dari tindakanmu selama beberapa hari ini yang terkesan menjauhiku."

Seperti kata Chang, dia tidak boleh ketahuan. Kibum menarik Kyuhyun, membawa ke pelukannya. Mengecup dahinya, kemudian kembali memejamkan mata. "Memangnya ada orang yang bisa menandingi pesonamu di dunia ini?"

"Tidak ada, tapi perselingkuhan terjadi bukan hanya karena pasangan tidak memiliki pesona." Namun dia tetap melingkarkan lengannya di sekitaran pinggang Kibum. "Juga karena pintar menggunakan kesempatan."

"Aku memang punya banyak kesempatan, sayangnya hati ini tidak mengijinkanku menggunakan kesempatan itu." Kibum menarik tangan Kyuhyun, meletakkan telapak tangan itu ke dadanya. "Rasakan detak jantungku. Jantung ini hanya berdetak cepat terhadap dua hal, kalau akau sedang mengejar penjahat dan kalau aku sedang dekat denganmu!"

Kyuhyun mendengus, tapi menyeringai. Dan kemudian tertawa kecil. "Aku tidak suka kau gombali!"

"Aku tahu."

"Aku lebih suka kau cium."

"Aku juga tahu itu." Kibum membuka matanya, sekali lagi menarik Kyuhyun dan memberinya ciuman. "Kalau kau mulai merasa ragu, kau harus ingat kalau aku mencintaimu!"

"Kalau kau punya kesempatan dan tak bisa menggunakannya tapi ada orang yang memaksamu, aku akan membuatnya berhenti." Kalau sebelumnya kalimat seperti ini terdengar seperti kecemburuan semata, tapi sekarang lebih terdengar seperti ancaman. Kibum sadar, tapi harus tetap tenang. "Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu!" Kemudian mengubur mukanya di leher Kibum.

Kihyun

"Kibum, serahkan ini pada Kyuhyun!" Si yeoja pendukung hubungannya dengan Kyuhyun muncul lagi kali ini. Meletakkan kotak besar di meja Kibum. Dia mengambil sticky notes dari meja sebelah, lalu menulisinya. Sebuah ucapan sederhana yang ditujukan pada Kyuhyun, kemudian merekatkannya di atas kotak itu. "Ini coklat bermerek yang kupesan dari kekasihku. Jangan coba-coba mengambilnya kalau Kyuhyun belum melihatnya dulu!"

"Pasti ilegal!"

"Jangan mentang-mentang kekasihku orang yang kau tandai sebagai pelaku kriminal, lalu semua darinya bersifat ilegal!" tudingnya. "Ini dibeli pakai uangku, tahu!" Dia melempar sticky notes ke meja sebelah, lalu meninggalkan Kibum ke mejanya sendiri.

Detik berikutnya, Min Ah meletakkan berkas ke atas mejanya. "Baca dulu, kalau sudah cukup serahkan ke pengadilan untuk di proses!"

"Tanganmu sudah sembuh?"

Luka di wajah Min Ah sudah hilang. Baru kemarin wanita itu terlihat babak belur, sekarang sehat. Tangannya juga sudah terbebas dari perban. Hanya sisa goresan melintang, itupun samar-samar saja. Hebat, seakan dia punya kemampuan menyembuhkan diri dengan cepat. Min Ah membawa kantong plastik lagi. Kibum bisa melihat dalamnya ada beberapa roti lapis.

"Dokter terlalu membesar-besarkan luka kecil. Luka gores saja diperlakukan seperti luka sayatan pedang," jawabnya sambil melenggang santai menjauhi Kibum. "Jangan melirik rotiku seperti itu, aku tetap tidak akan membaginya padamu!"

Yang ketiga datang ke meja Kibum adalah Tae sub. Lelaki itu meletakkan foto-foto Kyuhyun dari berbagai sudut. "Aku tidak sedang menyuruh orang untuk menguntit kekasihmu. Ini foto-foto yang diambil dari CCTV dari beberapa kejadian. Rincian kejadian itu akan kucetakkan untukmu!"

"Ada lagi?"

"Memangnya kau mau apa lagi?" Kibum menggeleng. "Ya sudah. Hari ini aku punya pekerjaan yang harus kuselesaikan." Tae sub melangkah menjauhi Kibum.

Setelah tiga orang itu, siapa lagi? Kibum siap menerima orang berikutnya, tapi yang datang kali itu dalah Luo. Meletakkan handphone-nya di meja Kibum sambil pasang muka muram.

"Gawat!"

"Apanya yang gawat?" Kibum meraih handphone itu, melihatnya, tapi tak ada apa-apa di sana. "Apanya yang gawat? Tidak ada apapun di handphone-mu!"

"Yang gawat bukan handphone-ku, untuk apa kau melihatnya!"

"Kalau begitu untuk apa juga menaruhnya di mejaku?"

"Memangnya tidak boleh?"

Kenapa mereka malah meributkan handphone? Kembali pada kata gawat yang barusan di ucapkan Luo.

"Kekasihmu kecelakaan!"

"APAAA?" Kibum melonjak dari kursinya.

"Astaga, aku salah ucap!" Luo mendorong Kibum untuk tenang. "Mantan kekasihmu kecelakaan. Sekarang dia ada di rumah sakit!"

"Ren?"

Luo mengangguk. " Dia ditabrak orang!"

To be continue

See you dua hari lagi!