You're mineā¢
Main cast : Baekhyun, Chanyeol ChanBaek
Other cast : Kyungsoo, Sehun, Kai, Luhan, Kris dll
Genre : Romance, Marriage, Drama
Rate : T
WARNING! typo(s) GS GENDERSWITCH, yang tidak suka GS mohon tidak membaca. No Bash No Blame
DISCLAIMER: Semua chara milik Tuhan, ibu, bapak, agensi masing masing, aku hanya meminjam nama doank (berharap Baekhyun jadi milik saya #plak)
...
FlashBack ON
Chanyeol menarik lengan Kyungsoo kasar, namja itu menyeret tubuh mungil itu menjauhi perpustakaan. Bisa dilihat wajah namja tinggi itu sedang menahan amarah. Ia terus saja menyeret tubuh yeoja itu tanpa mempedulikan rintihan dari bibir sahabatnya.
"Park Chanyeol! apa yang kau lakukan?" Tanya Luhan menghentikan kegiatan Chanyeol saat sedang berpapasan di koridor sekolah, di belakangnya di ikuti oleh seseorang yang Luhan ketahui sebagai hoobae mereka.
"Chanyeol sunbae, jangan menyalahkan Kyungsoo noona, Ini salahku aku yang memintanya mengajariku pelajaran Kimia" Ucap adik kelasnya itu begitu sampai tepat di samping mereka.
"Aku tidak bertanya padamu!" Sahut Chanyeol ketus pada hoobaenya itu.
Kyungsoo meronta mencoba melepaskan cengkeraman itu, hingga berhasil, ia memberi isyarat adik kelasnya itu untuk pergi dari sana.
"Pergilah Jongin. Aku tidak apa-apa. Maaf tidak jadi membantu mengerjakan tugasmu!"
Hoobaenya bernama Jongin itu mengangguk mengerti. Akhirnya ia berpamitan dan meminta maaf lagi.
"Sekali lagi maafkan aku noona" ujar Jongin final sebelum benar-benar pergi dari sana.
Luhan yang sedari mengamati kedua sahabatnya kini angkat bicara.
"Sebenarnya ada apa ini? Dan Kau Park Chanyeol Kau itu kenapa?" Tanyanya masih dengan tatapan bingung.
Chanyeol tidak menjawab. Namja itu mendecih keras sebelum berlalu dari sana. Ia harus mencari pelampiasaan untuk kemarahannya sekarang.
Karena tidak mendapat jawaban dari sahabat lelakinya, Luhan lalu menghampiri Kyungsoo yang masih disana sambil mengusap-usap lengannya yang memerah. Luhan berani bersumpah, jika tadi Chanyeol benar-benar mengeluarkan semua kekuatannya.
"Gwenchana Kyung?"
"Gwenchana Lu"
"Tapi tanganmu merah sekali. Chanyeol benar-benar keterlaluan! Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"
"Nanti juga sembuh, ini memang salahku. Aku akan meminta maaf padanya sepulang sekolah."
Luhan menghela nafasnya lalu menarik tangan Kyungsoo yang tidak sakit dan membawanya ke UKS.
Sesampainya di UKS, Luhan segera mengobrak abrik laci obat. Yeoja itu tersenyum senang kala menemukan yang sedari tadi dia cari. Luhan duduk di samping Kyungsoo yang sedang bersender di ranjang UKS. Pelan-pelan yeoja itu mengoleskan salep pada lengan Kyungsoo yang memerah.
Kyungsoo tersenyum tatkala sahabatnya selesai mengoleskan salep itu pada pergelangan tangannya.
"Gomawo Lu! aku akan mentraktirmu nanti" Ujar Kyungsoo sambil terkekeh.
Luhan yang sedang mengembalikan salep krim itu pun ikut terkekeh.
"Baiklah, nanti istirahat ya, aku lapar sekali!"
Setelah Luhan selesai dengan pekerjaannya yeoja itu menuju kursi dan di ikuti oleh Kyungsoo.
"Kyung, sebenarnya tadi apa yang terjadi? Kenapa Chanyeol marah-marah? Dan ada Jongin disana?" Luhan kembali bertanya, kerena sedari tadi tidak mendapat jawaban.
Kyungsoo mengusap dahinya sebentar. "Sepertinya Chanyeol, marah karena aku tidak jadi menemaninya berlatih basket, dan malah pergi ke perpustakaan membantu Jongin mengerjakan tugas kimianya."
Luhan mendecih. "Cih, hanya itu alasannya? Astaga, Dobi itu berlebihan sekali! Kenapa tidak mencariku saja kalau kau sedang sibuk. Aigoo sungguh namja pabo!"
Kyungsoo terkekeh menanggapi perkataan Luhan.
"Sebentar lagi aku ada pelajaran musik, kau mau ke kelas atau istirahat dulu? Kurasa kau juga tidak bisa ikut pelajaran olah raga saat tanganmu seperti ini!"
Ucap Luhan bersiap kembali ke kelas, dia memang tidak sekelas dengan Kyungsoo. Ia terpisah dengan sahabatnya Chanyeol dan Kyungsoo saat kenaikan kelas tiga. Kyungsoo dan Chanyeol tetap sekelas, sedangkan ia sendiri.
"Kau berlebihan Lu, tapi sepertinya kau ada benarnya juga. Lebih baik aku membolos saja. Aku juga sedang malas."
"Huh, baiklah aku kekelas dulu nanti aku akan menjengukmu lagi, bye!"
"Bye!"
Pintu UKS kembali tertupup ketika Luhan sudah keluar dari ruangan kesehatan. Kyungsoo menghembuskan nafasnya panjang, ia senderkan tubuhnya pada badan kursi dan memajamkan matanya sebentar. Kyungsoo tahu betul alasan Chanyeol tadi marah padaya, bukan hanya karena ia tidak menemani Chanyeol bermain, tatapi namja itu cemburu. Cemburu pada Jongin. Mengingat betapa dekatnya ia dengan hoobaenya yang satu itu sejak mereka bertemu saat MOS pertama Jongin.
"hahhh,... Park Chanyeol, susah sekali menjadi pacarmu! Kau itu pencemburu sekali!"
Ucap Kyungsoo seorang diri.
Tanpa ia sadari, semua perbincangan kedua yeoja itu tadi di dengar oleh seorang namja di dalam toilet UKS. Namja itu adalah Jongin. Tadi saat Kyungsoo dan Luhan memasuki UKS ia memang lebih dulu berada disana. Dan entah siapa yang menyuruhnya, namja itu malah bersembunyi di dalam toilet.
Jongin mengepalkan kedua tangannya, mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Kyungsoo. Yeoja yang diam-diam dia sukai.
FlashBack End
Kai menyesap red wine di gelasnya lagi. Namja itu hampir menghabiskan sebotol penuh air berwarna merah kelam itu. Dia bukan ingin mabuk, tetapi hanya ingin menghilangkan stres di kepala yang tiba-tiba saja menyerang.
Nasibnya. Bukan, lebih tepatnya adalah nasib pernikahannya. Tidak bohong jika ia merasa senang sebelumnya, karena akhirnya berhasil menikahi wanita yang telah merebut perhatiannya sejak masih SMA dulu. Wanita yang menjadi cinta pertamanya. Bisa di bilang menikah dengan Kyungsoo itu adalah jackpout yang sangat besar untuknya. Selain bisa dekat dengan wanita itu, bahkan tanpa perlu bersusah payah, dia bisa memiliki wanita itu sekarang ini.
Tapi, semua tidak seperti yang ia harapkan. Dia memang memiliki tubuh Kyungsoo, karena secara hukum wanita itu sah sebagai istrinya. Namun satu yang jelas Kai ingat. Dia tidak akan pernah bisa memiliki hati wanita itu. Kyungsoo menolaknya. Walau tanpa berbicara langsung padanya, Kai cukup peka sebagai lelaki.
"Kau bisa memilikiku dan menjangkau tubuhku semaumu Kai. Tapi satu yang harus kau ingat, hatiku sudah dimiliki seseorang, selamanya hanya milik satu namja saja. Sampai kapan pun tidak akan pernah berubah!"
Kai tersenyum miring. Namja itu tertawa sendiri. Tidak, dia tidak gila, garis bawahi itu. Dia hanya stres atau malah sudah mabuk.
"Park Chanyeol, aku tidak tahu apa keistimewaan yang ada pada dirimu. Sehingga membuat kedua yeoja itu bertekuk lutut dihadapanmu," Ucapnya seorang diri.
Kedua yeoja yang dimaksud adalah Kyungsoo dan Baekhyun.
Ah, mengapa Baekhyun? Jujur saat pertama kali Kai melihat wanita itu, hatinya sedikit begetar. Tapi Kai bukanlah seorang playboy, karena yang ia cintai hanyalah Kyungsoo. Perasaannya pada Baekhyun tidak lebih adalah kekaguman. Oh ayolah, lelaki mana yang tidak akan terpesona oleh kecantikan Baekhyun. Bukan cuma wajahnya yang indah, tetapi hatinya juga menawan.
Kai yakin bahkan lelaki yang sudah berumah tangga pun akan terpikat oleh keindahan yeoja itu. Yeoja ceria dan manis seperti peri. Dia berani bertaruh, andai saja ia lebih dulu bertemu dengan Baekhyun, dan bukan Kyungsoo. Ia pasti akan jatuh cinta pada Baekhyun.
"Kita lihat saja Park Chanyeol! Jangan harap kau bisa mendapatkan kedua yeoja itu bersamaan!"
.
.
.
.
.
Baekhyun merasa tidak bisa menahan malunya saat ini. What the hell, dia salah orang, namja di hadapannya itu bukanlah Chanyeol suaminya. Dan ingat apa yang baru saja ia lakukan? Membentak dan menarik kasar pundak orang itu.
Aigoo, rasanya urat malu Baekhyun ingin putus sekarang. Jangan lupakan tatapan mematikan yeoja di samping namja itu. Baekhyun yakin yeoja itu adalah kekasih atau istri si namja. Dia sudah bisa membayangakan bagaimana nasibnya sebentar lagi.
"Hei.. Nona apa yang kau lakukan?" kata yeoja di hadapannya membentak.
Dugaan Baekhyun tidak melenceng sedikit pun.
Baekhyun membungkuk berkali-kali. Dia minta maaf sedalam yang ia bisa. Ini memang salahnya menjadi orang ceroboh.
"Mianhae, Jeongmal Mianhae. Aku benar-benar tidak sengaja, maaf aku salah orang," Ucap Baekhyun masih tidak berani mengangkat kepalanya.
Baekhyun dengar suara namja itu memaafkannya. Segera Baekhyun mengangkat kepalanya memastikan.
"Tidak apa-apa, nona," Ujar namja itu sopan. Sedikit, Baekhyun sungguh terselamatkan.
Tapi Baekhyun menangkap jelas wajah tidak terima sang yeoja di hadapannya. Sepertinya ia marah kekasihnya memaafkan Baekhyun begitu saja.
"Lain kali berhati-hatilah jika bertindak. Jangan sembarangan menarik-narik orang. Apa matamu bermasalah?" Yeoja itu masih saja berucap ketus di tambah kata-kata kasar yang membuat Baekhyun kaget, tapi dia bisa apa.
"Sudah chagi, jangan dibesar-besarkan. Nona ini tidak sengaja"
Ucap namja itu menenangkan si yeoja.
Yeoja itu mendengus dan melipat tangan di dada memasang wajah tak terima pada kekasihnya.
Baekhyun mengatur nafasnya. Karena rasa malunya semakin menjadi, ia pun segera pamit dan pergi dari sana. Tak lupa ia sempatkan membungkuk meminta maaf lagi.
.
.
.
Sesampai di rumah Baekhyun langsung masuk ke kamar dan membanting pintu keras-keras. Chanyeol bahkan sampai terlonjak dibuatnya. Penasaran dengan apa yang terjadi pada Baekhyun, namja itu pun segera menyusul istrinya ke kamar. Seingatnya tadi di mobil Baekhyun tidak mengucap sepatah kata pun.
Chanyeol memasuki kamar dan berjalan menuju ranjangnya. Matanya yang bulat itu menangkap tubuh istrinya bergumul di balik selimut nan tebal. Ia mendekati tubuh Baekhyun dan menggoyang-goyangkan tubuh si yeoja mungil.
"Hei Baek, ada apa ? Sesuatu terjadi?" Tanya Chanyeol kepada Baekhyun yang masih asyik di posisinya. Yeoja itu tidak menjawab.
Chanyeol berfikir agaknya Baekhyun marah padanya. Oh dia tentu tak melupakan kesalahannya tidak jadi membelikan yougurt untuk Baekhyun. Chanyeol lupa akan benda itu karena ia bertemu Kyungsoo waktu di Lottte tadi.
"Baekhyun, aku minta maaf tadi membuatmu menunggu lama, Mian ne?" Bujuk Chanyeol lagi.
Tiba-tiba kepala istrinya muncul dari balik selimut dan langsung memukul kepala Chanyeol dengan guling yang semula ia peluk.
Chanyeol berusaha menghindari pukulan itu dengan tangannya. Tetapi Baekhyun masih tidak menyerah, yeoja itu malah mengeluarkan semua tenaganya sampai membuat Chanyoel yang berusaha menghindar jatuh dari ranjangnya.
"Rasakan itu, namja menyebalkan!"
.
.
.
.
.
Pukul 8 pagi di hari Sabtu hari yang panjang untuk pasangan suami istri Wu. Pasalnya hari ini Kris libur dari semua pekerjaannya. Menjadi fotografer itu tidaklah sulit, buktinya Luhan sekarang tidak pernah memarahinya lagi kalau Kris pulang terlambat. Lambat laun sepertinya Luhan juga mulai dewasa.
Kris bergelung di dalam selimut tebal di atas kasur. Cuaca sedingin ini, bisa-bisanya namja itu tidur tanpa busana. Oh sepertinya semalam dia tidak sempat memakai pakaiannya setelah acara bercinta dengan istrinya.
Sinar matahari mulai mengusik matanya ketika sebuah tangan mungil menyibak tirai kamarnya. Dia Luhan, istri Wu Yifan, tentu saja. Yeoja itu membuka semua gorden kamarnya untuk menyambut sinar sang mentari.
Luhan bernafas lega setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya pagi ini. Yeoja itu bahkan sudah memasak sarapan, tetapi suaminya masih keasyikan tidur dalam selimutnya. Tubuh langsing itu berjalan menuju sisi ranjang untuk membangunkan suaminya. Tadi ia sedang mencari sesuatu, tapi tidak menemukannya, dan bertanya kepada Kris saat ini adalah tujuannya.
"Kris, apa kau sudah bangun?"
Luhan menepuk lengan Kris yang terlihat dari luar selimut, membuat namja itu mengerang lirih masih dengan mata terpejam. Kris menggeliat pelan mengintip Luhan yang sedang duduk di sampingnya. Matanya terbuka sebelah, membiasakan cahaya yang mulai menyapa retinanya.
Lama kelamaan matanya mulai menangkap sesuatu yang membuat kesadarannya berangsur-angsur terkumpul. Tubuh yeojanya yang sedang duduk di sampingnya hanya memakai dress tidur tipis -tanpa underwear sepertinya- membalut tubuh langsingnya. Sexy, batin Kris sambil menyeringai.
Luhan mengerutkan keningnya melihat suaminya yang senyum-senyum sendiri dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Apa suaminya sedang mengigau. Tapi yeoja itu segera sadar kemana arah pandangan Kris tertuju. Oh, dadanya. Luhan segera menyilangkan tangannya di dada menutupi tubuhnya dan menatap Kris tajam. Sedangkan suaminya menoleh kearahnya hendak protes.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Luhan galak mendapati ternyata suaminya itu begitu mesum.
"Baby, kenapa di tutupi, Kau menghilangkan semangat pagiku" Ujar Kris lalu kembali mencoba memejamkan matanya karena nutrisi mata di pagi harinya di recohkan oleh istrinya.
"Ya! Tuan Wu kau ini mesum sekali! dan Hei, jangan tidur lagi aku mau bertanya padamu!" Omel Luhan pada suaminya. Dia heran bahkan sadar saja belum sepenuhnya, tapi otak suaminya sudah melayang kemana-mana.
"Tanyakan saja, aku mendengarmu!" Balas Kris tapi tetap memejamkan matanya.
"Aisshhh, namja ini." Luhan mendesis sebentar. "Apa kau memindahkan paper bag di atas rak sepatu?"
"Paper bag yang mana?"
"Yang berwarna Coklat"
"Aku tidak tahu!"
"Ya! Krisssss... setidaknya bukalah matamu sebentar, kau menyebalkan sekali!" Protes Luhan akhirnya, karena suaminya itu terlalu malas meladeninya.
Kris. Mau tak mau ia kembali membuka matanya dan duduk menghadap istrinya. Jika tidak menuruti keinginan Luhan, sudah dipastikan kalau pagi ini pasti akan terjadi perang lagi.
"Yang mana? Yang mana?" Tanya Kris terlihat kesal.
"Ya! kau marah?" Galak Luhan tak mau kalah.
"Aigoo~ baiklah-baiklah sekarang katakan paper bag yang mana? aku tidak melihat satu pun" Kris membuang nafasnya.
"Yang berisi sepatu pemberian Hyungmu waktu itu"
Kris memutar otaknya mendengar jawaban Luhan. Sepatu pemberian kakaknya...?
Aaaaah akhirnya namja tinggi itu ingat.
"Oh itu, aku membuangnya kemarin" Jawab Kris santai. Membuat Luhan menatapnya tak percaya.
"Apa?!kapan kau membuangnya? dimana?" Tanya Luhan heboh.
Kris memicingkan matanya. "Baru saja kemarin, memangnya apa isinya? Itu hanya sepatu rusak Lu," Jelas Kris meyakinkan.
"Kris, kau yakin di dalamnya hanya sepatu, apa kau sudah mengechecknya? Sepertinya ada benda terjatuh didalam paper bag itu!"
"Benda apa? Aku sudah mengecheck isinya Lu. Dan aku belum rabun untuk tidak melihat benda yang kau maksud. Di dalamnya hanya sepatu! SEPATU!" Ucap Kris dengan penekanan di kata Sepatu.
"Aihhh Ya Ampuuun~ lalu dimana Ponsel itu!" gunam Luhan terlihat panik.
"Ponsel siapa? punyamu?"
"Anieyo, milik orang yang tidak sengaja aku bawa"
"Siapa? kau tidak pernah bercerita padaku?"
"Sudah lama sekali, dan aku baru ingat kemarin jika aku menaruhnya di atas rak sepatu. Tapi saat aku mencarinya tidak ketemu. Mungkin terjatuh, dan seingatku di bawah lagi adalah paper bag coklat itu" Luhan menjeda kalimatnya sebentar untuk bernafas.
"Kris kau benar-benar tidak melihatnya? Aku ingin melihat ponsel itu, siapa tahu di dalamnya ada kontak yang bisa dihubungi!" Tanya Luhan lagi sambil memegang tangan suaminya.
Kris hanya geleng-geleng. Dia tidak melihat ponsel itu sekalipun.
Namja itu melihat raut sedih istrinya, tapi tersadar oleh sentuhan lembut tangan istrinya. Sedetik kemudian menarik lengan kurus Luhan yang masih memegang tangannya. Kris menghempaskan tubuh istrinya ke ranjang hingga terlentang. Menatap yeoja itu lekat.
"Aku mau tidur lagi, lebih baik kau juga tidur eoh?" Ucap Kris parau, Terlihat sekali namja itu kembali mengantuk. Lalu melesatkan kepalanya ke ceruk indah istrinya. Sekaligus mencari kesempatan.
Luhan memukul dada telanjang Kris, namja itu memang telanjang tetapi sudah memakai boxer abu-abunya. Luhan melotot kearah Kris saat Namja itu mengaduh karena pukulannya.
"Adduhh Lu, kau jahat sekali sih?" Ringis Kris merasakan dadanya yang sedikit nyeri karena pukulan sadis sang istri.
"Makanya hati-hatilah, kau mau membunuh anakmu!" Galak Luhan.
Kris menangkap apa yang didengarnya, sejurus kemudian namja itu menganga di tempatnya.
"K-kau a-apa?" Kris mengedip-ngedipkan matanya. Tiba-tiba saja ia menjadi gagu bicara.
Luhan terkekeh geli melihat ekspresi shock suaminya. Yeoja itu tersenyum malu-malu. "Aku hamil Kris" ucapnya lirih.
"Really?" Tanya Kris memastikan dengan ekspresi yang terlihat sangat bodoh dimata Luhan, mata melotot dan mulut melongo. Namun istrinya itu segera mengangguk.
"Tadi pagi aku mengetesnya, dan hasilnya positif. Kris kita akan jadi orang tua secepatnya" Papar yeoja itu menjelaskan kronologisnya, tidak lupa senyum manis masih menyertai wajahnya yang cantik.
Kris akhirnya percaya. Dan karena sangking bahagianya Kris segera mengecup bibir istrinya berkali-kali. Kris masih pada posisinya menindih tubuh Luhan dengan kedua siku sebagai penyangga, kemudian memandangi wajah istrinya sumringah.
"Selamat baby! selamat atas kehamilanmu. Dan selamat atas keberhasilanku!" Ujar Kris riang, yang dihadiahi tatapan bingung Luhan.
"Berhasil, tentu saja tidak sia-sia usahaku setiap malam. Dan kita harus merayakannya!" Ujar Kris semangat, kembali menyambar bibir istrinya, kini disertai lumatan-lumatan halus. Kris benar-benar memperlakukan istrinya dengan lembut.
Namun itu tidak berlangsung lama karena Luhan menjitak kepalanya keras.
Tuk!
"Ya! baby, kenapa menjitakku?" Sungut Kris, lagi-lagi rencananya digagalkan dengan sadis.
"Kau ini! otakmu mesum sekali. Aku tidak mau merayakan dengan caramu!" Luhan tahu betul jika Kris mengajaknya merayakan dengan bercinta. Demi Tuhan yang semalam saja, dia masih merasa kelelahan.
Yeoja itu beranjak dari kasurnya setelah berhasil mendorong tubuh besar Kris. Luhan menuding wajah Kris tepat di depan mata. "Dan Kau belum sikat gigi! berapa kali kubilang jangan menciumku sembarangan kalau belum gosok gigi!" Ucap Luhan kesal lalu keluar dari kamarnya dengan langkah lebar-lebar.
Kris (lagi-lagi) hanya menghela nafas sambil meratapi nasibnya.
"Huuuffttt istriku galak sekali..."
.
.
.
.
.
Chanyeol menyiapkan semua berkas-berkas yang akan dibawanya rapat hari ini dengan wajah kusut. Istrinya sedang sibuk memasak di dapur. Hari ini adalah ulang Tahunnya. Dan ia sedikit kesal karena Ayahnya tidak memberikan libur untuknya. Bahkan hari ini ia harus rapat diluar kota. Arggh... benar-benar menyebalkan.
Baekhyun datang dari arah dapur meletakkan segelas kopi diatas meja. Ia tersenyum sekilas kearah suaminya yang menatapnya. Yeoja itu mendekati Chanyeol memberi isyarat agar suaminya menunduk. Chanyeol pun mengikuti permintaan istrinya walau dibarengi dengan muka bingung.
Cup
Chanyeol membulatkan matanya begitu menyadari apa yang baru saja terjadi. Sedangkan Baekhyun semakin tersenyum lebar.
"Selamat Ulang Tahun Chanyeollie" tutur Baekhyun manis, yeoja itu kemudian menyerahkan kotak kecil kepada suaminya. Chanyeol menatap kotak itu penasaran.
"Bukalah itu hadiah untukmu!"
Chanyeol tersenyum mendengarnya. Begitu Namja itu akan membuka hadiahnya tiba-tiba ponselnya berbunyi. Chanyeol mengangkat telepon itu lebih dulu dan sepertinya berbicara serius, tapi Baekhyun dapat melihat raut kesal yang menguar dari wajah tampannya.
Baekhyun tidak perlu bertanya, yeoja itu hanya menghadiahi tatapan siap mendengarkan cerita suaminya.
"Appa memintaku segera berangkat. Maaf Baekhyun, aku tidak bisa sarapan bersamamu. Kami akan segera berangkat ke Busan," Jelas Chanyeol dengan wajah cemberut. Baekhyun tahu Chanyeol menyesal.
"Tidak apa-apa, lagi pula itu adalah pekerjaanmu Park Chanyeol. Ah, tunggu dulu!"
Baekhyun berjalan lagi ke dapur dan kembali membawa kotak bekal lalu menyerahkannya kepada Chanyeol.
"Jika kau tidak bisa sarapan di rumah, maka makanlah di mobil. Aku memasak banyak jadi kau bisa memakannya dengan Abeoji."
Chanyeol menatap kotak makanan yang tersusun dua itu sambil tersenyum. Di dalamnya adalah beberapa potong kimbab yang tersusun rapi. Chanyeol kemudian memasukkan kotak makan itu kedalam tas, tapi sebelumnya ia terlebih dulu menyimpan kado yang Baekhyun berikan.
"Aku akan membukanya nanti. Dan gomawo untuk sarapannya."
Chanyeol mencium bibir Baekhyun sekilas lalu bersiap-siap berangkat.
Baekhyun mengantarkan Chanyeol sampai ke depan rumah. Ia lupa tidak membawa mantelnya saat keluar, udara cukup dingin.
"Park Chanyeol, hati-hati di jalan," nasihat Baekhyun sambil melambaikan tangannya saat mobil suaminya mulai melaju meninggalkan garasi.
"Oke, Sampai jumpa nanti~"
.
.
.
.
.
"Nona Wu, sepertinya sekarang kau rajin sekali ke Rumah sakit. Kau tidak terkena penyakit rindu padaku kan? Atau kau mempunyai gebetan baru disini?"
Siang ini Baekhyun kembali kedatangan seorang tamu. Luhan mengunjunginya lagi hari ini. Tapi bedanya yeoja itu tidak membawakan makan siang untuknya seperti tempo hari.
"Nyonya Park, jika boleh jujur aku tidak bermaksud menemuimu! Tapi berhubung aku masih menganggapmu teman makanya aku menjengukmu! Dan YA! jangan sembarangan bicara, siapa yang kau maksud dengan gebetan baru!" Jawab Luhan yang disertai sindiran menanggapi perkataan sahabatnya. Ia mendengus mendengar perkataan Baekhyun. Gebetan? Apaan?!
Baekhyun membenarkan letak kacamata bacanya. Yeoja itu memutar kursinya hingga berhadapan dengan Luhan. Memang sejak tadi ia berbicara tanpa melihat lawannya.
Selanjutnya ia menghentikan sejenak pekerjaannya. Sepertinya mengobrol sebentar dengan yeoja cerewet di hadapannya itu tidaklah buruk. Walaupun jika akhirnya adu mulut sekalipun. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa bosannya.
"Lalu apa yang kau lakukan disini? Apa kau sakit?" Baekhyun mulai berbicara serius.
"Aku tidak sedang sakit, tapi aku ingin mengunjungi penyelamat masa depanku."
"Lu, bicaralah serius" Ucap Baekhyun kesal.
"hahahah Baiklah-baiklah Baekki. Aku kemari untuk menemui Dokter kandungan" jelas Luhan akhirnya. Membuat Baekhyun membuka mulutnya lebar.
"K-Kau hamil?" Tanya Baekhyun kaget.
Luhan terkikik. Kenapa mendengar ia hamil semua orang menatapnya dengan ekspresi bodoh. Tadi pagi Kris. Dan sekarang sahabatnya, Aigoo~ ia jadi tidak sabar melihat ekspresi Chanyeol nanti.
"Astaga Baek, wajahmu jelek sekali kalau begitu, kkkk" Balas Luhan masih menahan tawa.
"Luhan aku serius!"
"Hahaha, iya Baek, iya. Aku akan segera menjadi Eomma" Jawab Luhan berhenti bercanda. Baekhyun segera berlari kearah tempat duduk Luhan dan memeluk tubuh yeoja itu erat.
"Aigoo~ Aigoo Aigoo~ aku akan mempunyai keponakan. Chukkae Lu! Aku benar-benar senang mendengarnya!"
Luhan tersenyum lebar dan membalas pelukan Baekhyun sambil mengelus punggung sahabatnya.
"Terimakasih Baekhyun."
Baekhyun melepaskan pelukannya, senyum manis masih menghiasi wajah imutnya. Lalu ia kembali duduk ke kursinya.
"Lalu, berapa usia kandunganmu?"
"Molla, aku belum memeriksanya, maka dari itu aku ingin berkonsultasi denganmu."
"Konsultasi apa?"
"Tentang kehamilanku!"
"Ya! pabo, aku bukan Dokter kandungan. Kau salah tempat Nyonya Wu!"
Luhan mengerucutkan sebentar mendengar Baekhyun mengatainya bodoh.
"Kalau begitu antarkan aku bertemu Dokter itu!"
"Ya! Lu, aku sibuk bagaimana mungkin aku mengantarkanmu?" jawab Baekhyun cepat. Mengingat jam kerjanya sampai sore. Dan malam nanti ada acara keluarga.
Luhan semakin murung mendengarnya. Baekhyun jadi tak enak sendiri.
"Bukannya aku tidak mau Luhan. Tetapi nanti malam aku harus ke rumah keluarga Chanyeol. Mertuaku akan merayakan Ulang tahun suamiku," Tutur Baekhyun menjelaskan alasannya. Luhan segera mengangkat kepalanya.
"Oh iya aku lupa, Hari ini Dobi itu Ulang tahun. Aih aku akan melakukan Video call dengannya nanti" Balas Luhan yang sekarang berubah ceria lagi.
"Tidak pa-pa Baek, baiklah aku akan memintamu menemaniku hari Senin nanti!"
"Kenapa harus menunggu hari senin. Demi Tuhan Lu, kau punya suami kenapa tidak mengajak Kris saja?"
"Tidak!" Jawab Luhan sambil menggeleng-geleng keras.
.
.
.
.
.
Chanyeol tidak bisa berhenti berfikir. Oh Ya Tuhan, bagaimana bisa dia di pertemukan lagi dengan sosok yeoja itu disaat seperti ini. Rasanya kepalanya seperti ingin pecah. Apa-apaan ini?
Hari ini rapat yang dihadirinya di Busan, dirinya di hadapkan oleh kenyataan yang seperti mengerjainya. Bukan hanya menghadiri rapat satu meja dengan yeoja itu. Bahkan ia harus bekerja sama dengan perusahaan milik kekasihnya dulu.
Do Kyungsoo dialah Direktur baru perusahaan Do Corp yang akan menjadi partnernya untuk proyek baru perusahaan Park!
Ini kebetulan atau Tuhan memang sengaja mungujinya.
Chanyeol mengusap wahahnya berkali-kali. Sekarang adalah waktu istirahatnya. Dia memiliki waktu break satu jam dari Ayahnya sebelum melanjutkan rapatnya lagi dan kembali ke Seoul malam ini juga. Seharusnya ia merenggangkan ototnya di atas kasur hotel. Tapi apa ini? Apa yang sedang ia lakukan? Dia malah pergi keluar demi memenuhi ajakan Kyungsoo minum kopi. Sebenarnya ia bisa saja menolak. Tetapi namja itu lebih mengikuti kata hatinya, untuk menerima tawaran itu.
Chanyeol menemukan Kyungsoo yang melambai kearahnya. Yeoja itu tersenyum manis sekali. Park Chanyeol memutuskan berjalan santai kearahnya.
"Maaf aku telat, apa kau sudah lama menunggu?" Tanya Chanyeol singkat lalu menarik kursi untuk duduk.
"Park Chanyeol kau masih sama saja seperti dua tahun yang lalu ya!" Jawab yeoja itu sambil terkekeh tanpa menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Chanyueol. Namun Chanyeol malah menatapnya tajam. Ia tidak suka jika harus mengungkit-ungkit masalalu nya.
Menyadari tatapan tidak bersahabat dari Chanyeol, akhirnya yeoja itu kembali memasang wajah tenang nya. Kyungsoo tidak ingin merusak acaranya pertemuannya dengan Chanyeol kali ini.
"Maaf jika aku sudah tak sopan padamu, Aku sudah sampai 10 menit yang lalu"
"hn..."
"Kau memesan apa? Latte, macchiatto atau cappucino?" tanya yeoja itu menawari Chanyeol kopi yang ingin dipesan. Tangan mungilnya sedang membolak-balik buku menu di cafe itu. Tak menyadari kalau namja dihadapannya sedang menatapnya dalam. Hati Chanyeol mencelos mendengar setiap tutur kata Kyungsoo. Yeoja itu menyebutkan semua rasa kopi favoritnya. Raganya seakan ditarik paksa untuk mengingat semua masa lalu.
Tapi Chanyeol sudah menetapkan hatinya. Dia tidak boleh goyah, dia tetap harus mengubur rasa cintanya yang dulu, walaupun itu sangatlah sulit dan membuatnya sesak. Tapi dia tidak boleh menyakiti hati Baekhyun yang sekarang tulus mencintainya.
Kyungsoo menghentikan acara membolak balik buku menunya. Yeoja itu tersenyum (lagi) ke arah Chanyeol yang sedang menatapnya datar.
"Geurigo... Selamat Ulang Tahun Park Chanyeol" ucap Kyungsoo manis lalu menyerahkan sekotak hadiah untuk Namja dihadapannya.
Chanyeol menerimanya dengan kaku, tapi ia paksakan untuk tersenyum.
"Gomawo!" Balasnya singkat. Ia tak perlu bertanya bagaimana Kyungsoo masih mengingat ulang tahunnya. Chanyeol tahu jawabannya.
"Heum... kuharap kerjasama kita akan berjalan dengan lancar"
"Aku akan berusaha semampuku! Dan terimakasih Kau sudah menginvestasikan sebagian sahammu untuk proyek itu"
"Aku masih harus belajar banyak tentang perusahaan. Appa sudah tidak bisa mengurus pekerjaan ini lagi. Karena itu aku akan memindahkan Perusahaan pusat di Korea"
"Semoga beruntung!"
"Maaf jika aku akan merepotkanmu nanti. Tapi aku benar-benar tidak tahu harus memulai dari mana"
"Aku akan membantumu semampuku!"
Mereka mengobrol cukup lama. Membicaran tentang perusahaan. Chanyeol akan bekerjasama dengan perusahaan Kyungsoo untuk proyek pembangunan Rumah sakit di Jepang segera. Itu artinya namja itu akan lebih sering bertemu dengan Kyungsoo.
Chanyeol melihat jam tangannya sebentar. Waktunya istirahat sudah selesai dan ia harus segera kembali menghadiri rapat. Namja itu akhirnya beranjak dari kursinya dan pamit pada Kyungsoo.
"Aku ada rapat sepuluh menit lagi. Aku pergi dulu!"
Kyungsoo pun ikut berdiri. Mungkin ia juga akan meninggalkan Cafe setelah namja ini pergi.
"Guraeseo, terimakasih untuk waktumu. Sampai bertemu di Jepang nanti!"
Chanyeol tidak menanggapi itu, ia segera melangkah keluar dari Cafe.
.
.
.
.
.
Chanyeol berada di balkon sebuah hotel mewah. Tangan kekar namja itu sedang melingkar posesif di pinggang seorang yeoja mungil. Gadis itu mengalungkan tangannya sadikit berjinjit saat ciuman Chanyeol menuntut lebih. Namja itu terus saja melumat penuh gairah bibir yeoja di hadapannya. Seakan menyampaikan semua perasaannya yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Chanyeol semakin memperdalam ciumannya saat nafsunya semakin membara.
"Chanyeol!" Ucap seorang yeoja begitu memasuki kamar itu. Chanyeol segera tersadar mendengar suara wanita yang memanggilnya. Ia lepaskan ciuman itu untuk melihatkan siapa yang memanggil namanya.
Matanya membulat begitu tahu wajah yeoja itu.
"Baekhyun!" Ucapnya nyaris berbisik.
Chanyeol melihat istrinya beruraian air mata. Jika dia Baekhyun lalu siapa yeoja yang baru saja ia cium. Chanyeol menoleh ke arah sampingnya dan mendapati Kyungsoo menatapnya datar. Bagaimana dia tidak shock jika yang barusaja berciuman dengannya bukanlah sang istri. Melainkan-
Kyungsoo.
Belum sempat ia meresapi kebingungannya. Suara Baekhyun kembali menyadarkannya.
"Aku membencimu Park Chanyeol!" Ucap Baekhyun sebelum berlari pergi dari sana.
Chanyeol hendak mengejarnya, tetapi Kyungsoo menahan tangannya dan memberi isyarat padanya, yeoja itu menggeleng kepala seolah melarangnya.
Chanyeol diam ditempatnya sambil mengepalkan tangannya. Dia sedang berperang melawan hatinya. Pergi atau-
Bruuuakkkkkk!
Tiba-tiba suara hantaman keras yang di akibatkan oleh tabrakan mobil membuatnya membuang pandangan jauh ke bawah. Tepatnya jalan raya yang terlihat jelas dari arah balkon kamarnya.
Seorang yeoja memakai gaun sama dengan yang dikenakan Baekhyun baru saja tertabrak Mobil. Tubuh itu terpental jauh dan darah segar memandikan tubuh tak berdaya itu.
Chanyeol mundur dari langkahnya, air matanya jatuh tanpa diperintah. Yeoja itu adalah Baekhyun! Tidak! Baekhyun tidak akan meninggalkannya. Tidak! Chanyeol berlari kebawah dengan kalut sambil terus meneriakkan nama istrinya.
"Baekhyun Andwe! Andwe! Kajima! Andwe! KAJIMAAAAAAAAA!"
Chanyeol segera tersadar, matanya terbuka lebar nafasnya naik turun tidak beraturan dan keringat dingin mengucur dari dahinya. Ia baru saja bermimpi buruk.
Baekhyun!
Chanyeol masih mencoba menetralkan nafasnya yang memburu, Membuat Ayahnya memandangnya panik. Mereka sedang di dalam mobil yang sama untuk melakukan perjalanan kembali ke Seoul.
"Park Chanyeol! Kau bermimpi buruk?" Tanya Ayahnya melihat tingkah putranya.
"Appa, Baekhyun. Dia-"
"Astaga! apa kau begitu merindukannya? Tenangkan dirimu, sebentar lagi kita sampai"
Ayahnya geli melihat putranya menyebut-nyebut nama Baekhyun. Pria paruh baya itu mengira putranya sedang merindukan istrinya sampai terbawa mimpi.
.
.
.
.
.
"Aigoo~ Baekhyun, aku tidak menyangka sekarang kau sangat pintar memasak"
Nyonya Park memuji menantunya sambil menyiapkan hidangan makan malam di meja makan.
"Ini semua berkat eomma, karena eomma yang sudah repot-repot memberiku les privat memasak waktu itu" Jawab Baekhyun sedikit bersemu malu.
Nyonya Park terkikik. Dulu memang dia yang bela-belakan datang setiap sore ke apartement Baekhyun ketika yeoja itu baru saja menikah dengan putranya, sekedar mengajari menantunya memasak berbagai makanan. Dan tidak disangka, ternyata Baekhyun cepat sekali menerima pembelajarannya. Bahkan sekarang masakan Baekhyun memiliki rasa yang tak jauh beda dari masakannya.
"Kau memang menantu yang cerdas Baekki" Ucap nyonya Park gemas lalu mengacak rambut Baekhyun pelan.
Mereka betul-betul pasangan Ibu mertua dan menantu yang sangat kompak dan akur.
Baekhyun mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah mewah keluarga Park. Ia lantas bergegas menuju depan.
"Sepertinya Chanyeol dan Abeoji sudah datang, aku akan melihat mereka dulu eomma!"
Pamit Baekhyun, nyonya Park hanya tersenyum sambil mengangguk menanggapi.
Baekhyun membungkuk hormat ketika mobil mewah yang mebawa Ayah mertua dan suaminya terbuka. Ia mengangguk lalu menyapa Baekhyun yang berada di hadapannya.
"Halo Baekhyun, Apa kabar?"
"Abeoji halo, aku baik-baik saja" balas Baekhyun menanggapi sapaan ayah mertuanya.
Tak lama berselang, diikuti Chanyeol yang keluar dari sisi kanan mobil. Namja itu segera memutar tubuhnya untuk menghampiri Baekhyun. Baekhyun tersenyum lebar mendapati Chanyeol berjalan kearahnya.
Ayah Chanyeol segera pamit ke dalam untuk segera beristirahat. Pria paruh baya itu terlihat sekali kelelahan.
Menyisakan pasangan muda Chanyeol dan Baekhyun disana. Baekhyun akan membuka suaranya sebelum Chanyeol segera menyambar bibirnya. Namja itu memeluk erat tubuh istrinya dan memberikan ciuman dalam pada bibir tipis istrinya.
Baekhyun tentu saja terbelalak kaget. Dia memukul dada Chanyeol karena reflek.
"YA! Chanyeol, apa yang kau lakukan?" Tanya nya dengan mata melotot kerah Chanyeol. Bukannya menjawab, malahan namja itu kembali menciumnya.
.
.
.
.
.
Acara makan malam di rumah keluarga Park baru saja berakhir Baekhyun sudah berpamitan pada kedua orang tua Chanyeol untuk pulang. Yeoja itu mengaku sangat lelah hari ini. Chanyeol menyuruhnya menunggu di mobil dulu, karena namja itu bilang ingin mengambil beberapa barang-barang lamanya di kamarnya terdahulu.
Baekhyun sedikit bosan menunggu, kenapa tadi dia tidak menuggu di dalam saja. Hah berkali-kali yeoja itu merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Ia membuang pandangannya k earah tas Chanyeol yang berada di jok belakang mobilnya. Seingatnya tadi namja itu meletakkan box besar di jok. Karena penasaran ia berusaha meraih tas Chanyeol dan menjatuhkan box berpita yang ditaruh di atas tas itu. Baekhyun mengambilnya.
Dia membolak-balik box itu. "Apa ini kado dari Abeoji?" Baekhyun mulai penasaran pun membuka Box kado berwarna merah itu.
"Waaahhhh ini syal? rajutan sendiri?" Oceh Baekhyun seorang diri memandang kagum syal rajutan berwarna merah di tangannya.
"Apa mungkin Abeoji yang memberikannya?" Yeoja itu masih sibuk dengan kado milik Chanyeol, kemudian matanya menemukan sebuah note terselip di dalam kotak tersebut.
Baekhyun membuka nya, namun tiba-tiba senyuman dibibirnya menghilang.
Dear Chanyeollie...
Terimakasih untuk hari ini. Syal itu melambangkan rajutan hubungan diantara kita. Aku percaya padamu mengartikannya sejauh apa!
Selamat ulang Tahun!
Baekhyun meremas kuat-kuat Syal merah itu. Apa ini maksudnya? Siapa yang memberikan hadiah ini? Gadis itu merasa emosi. Tapi ia menahannya, Baekhyun mencoba menampik semua prasangka buruk itu, ia tidak boleh menuduh Chanyeol sembarangan. Mungkin Chanyeol akan menceritakan padanya nanti.
Karena bosan menunggu, akhirnya Baekhyun memutuskan kembali ke dalam rumah, siapa tahu Chanyeol membutuhkan bantuannya. Yeoja itu mencari Chanyeol kemana-mana tapi tidak menemukan suaminya. Sampai ia tiba di pintu dapur, Baekhyun mendengar seseorang sedang mengobrol, itu seperti suara Chanyeol dan nyonya Park.
"Park Chanyeol, apa Baekhyun sudah memeriksakan keadaannya?" Nyonya Park menatap serius putranya yang sedang duduk di meja makan. Mereka sedang terlibat pembicaraan serius.
"Eomma! Baekhyun tidak sakit, memangnya apa yang perlu di periksakan?"
Nyonya Park menghela nafasnya. "Chanyeol, eomma sangat ingin menimang cucu. Kau tahu sendirikan Yura tidak tinggal di Korea!"
"Kami akan memberikan mu cucu jika waktunya tiba"
"Tapi, harus berapa lama eomma menunggu. Eomma sudah semakin tua dan-"
Belum sempat nyonya Park melanjutkan kalimatnya Chanyeol berdiri dari kursinya dan memotong perkataan ibunya cepat.
"Lalu maksud eomma apa? Menyuruhku menikah lagi? Bukankah eomma sendiri yang menginginkan Baekhyun menjadi menantumu? Demi Tuhan eomma, kau jangan egois"
Chanyeol semakin frustasi menghadapi tingkah ibunya. Bagaimana bisa ibunya mendesaknya memiliki anak, jika Tuhan saja belum menghendaki.
Nyonya Park ingin bersuara lagi tetapi suara benda jatuh membuyarkan perbincangan dua orang itu. Mereka menoleh kearah luar tetapi tidak menemukan apa-apa disana. Tiba-tiba Chanyeol perasaannya tak enak. Ia segera pamit pada ibunya dan bergegas pulang!
Baekhyun!
Panggilnya dalam hati.
.
.
.
.
.
Baekhyun mengubur tubuhnya di dalam selimut, ia menangis. Yeoja itu sudah menahan air matanya sedari pulang dari rumah keluarga Park. Rasanya sesak sekali. Dadanya seperti tersumbat benda tak kasat mata dan membuatnya sulit bernafas. Ia tidak pernah menyangka, bahwa orang yang selama ini memperlihatkan perhatian besar padanya tengah sangat kecewa pada dirinya. Baekhyun tidak akan menyalahkan mertuanya tentang hal ini, Ibu Chanyeol memang benar. Orang tua mana yang tidak ingin segera mempunyai cucu setelah melihat anaknya menikah. Dan itu membuat Baekhyun semakin terpuruk. Dia merasa tidak berguna sebagai wanita.
Yeoja itu tetap pada posisinya ia tidak perduli pada bantalnya yang sudah basah akibat air matanya. Baekhyun tetap tidur menyamping membelakangi suaminya yang tanpa ia ketahui sedang menatapnya bersedih. Chanyeol tentu tak cukup bodoh untuk tidak mengetahui bahwa istrinya sedang mati-matian meredam isakan tangis. Jika boleh jujur ia ingin sekali memeluk istrinya erat dan menyuruh Baekhyun menumpahkan semua air mata sialan itu di dadanya.
Baekhyun merasa Chanyeol berusaha membalik tubuhnya agar menghadap namja itu, segera mengusap air matanya yang masih terus mengalir. Dia tidak ingin Chanyeol melihat dirinya yang cengeng.
Chanyeol berhasil manarik tubuh Baekhyun hingga merapat padanya. Matanya memandang lekat manik istrinya membuat Baekhyun memukul kepalanya pelan.
"Aku mengantuk, jangan menggangguku" Ucap Baekhyun parau, ia berharap jika Chanyeol menganggap ia benar-benar mengantuk dengan suara seperti itu.
Chanyeol mengecup kedua kelopak mata Baekhyun. Yeoja itu ingin protes, tapi saat tangannya hendak memukul dada suaminya Chanyeol lebih dulu mengunci pergerakannya.
"Aku ingin bercinta malam ini!" Desah Chanyeol tepat di depan wajah Baekhyun. Lagi-lagi tanpa menunggu protes dari istrinya Chanyeol segera melahap bibir istrinya. Memaksa memasuki gua hangat milik sang istri, menyesap bibir tipis itu atas dan bawah. Chanyeol tidak akan pernah bosan untuk menjamah bibir manis istrinya. Dia sangat menyukai saat dimana Baekhyun mengerang disela-sela ciumannya. Seperti sekarang ini.
"Eunnngggggghhhh" Baekhyun menggeliat resah ketika Bibir Chanyeol memanjanya semakin membabi-buta. Chanyeol pun semakin semangat begitu mendengar desahan seksi dari Baekhyun mengusik pendengarannya. Nafsunya bertambah liar. Akalnya semakin terbakar. Tangannya mulai merayap kedalam piyama tidur Baekhyun dan melepaskan sesuatu yang mungkin akan mengganggu pekerjaannya malam ini.
.
.
.
.
.
Baekhyun merosot kelantai kamar mandi yang dingin. Ia membuang kasar tespeck yang baru saja ia gunakan. Yeoja itu mulai mengacak rambutnya frustasi. Menangis.
"Igeon wae?"
Rintih Baekhyun pilu menghadapi kenyataan di depan matanya.
Ia menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya yang masih berlapis kemeja kebesaran Park Chanyeol.
Baekhyun benci seperti ini. Dia tidak tahan, Kenapa nasibnya sangat menyedihkan. Ia juga ingin mempunyai anak agar semua orang tidak memandangnya sebelah mata. Tapi takdir begitu kejam padanya.
Akhirnya ia memilih menangis sesenggukan di dalam bath up, memeluk erat tubuhnya sendiri. Dia sengaja menyalakan air kran untuk meredam suara tangis pilunya.
.
.
.
.
.
Ruangan operasi terlihat tenang begitu seorang suster yang membawa pasiennya yang akan segera menjalani operasi transplantasi paru-paru memasuki ruangan. Mereka sudah menyiapkan peralatan yang diperlukan dengan baik-baik. Tinggal menunggu sang Dokter yang akan memimpin jalannya operasi. Tapi semua anggota medis disana dibuat saling berbisik bertanya kemana sang perginya sang Dokter yang belum juga sampai.
"Bagaimana ini suster Min, kemana Kim sonsaengnim kenapa belum juga kemari?" Tanya seorang suster ahli bius bertanya. Dia hanya khawatir pada pasien jika tidak sengaja di tangani sedangkan ia sudah menyuntikkan cairan anestesi 10 menit yang lalu.
"Aku akan mengecek sebentar di ruangannya!" Putus suster bernama Min itu segera melangkah cepat keluar ruangan. Sambil tergesa-gesa ia berlari menuju ruangan Dokter Kim. Tapi belum sempat ia sampai ke tempat yang dituju, orang yang dicari sedang berjalan menuju ke arahnya, sehingga membuat mereka berpapasan.
"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Dokter itu berjalan lurus menuju ruang operasi.
"Sudah sonsaengnim, pasien juga sudah di bius 10 menit yang lalu. Kita harus segera melangsungkan operasinya sekarang!" Jelas suster itu berjalan mengekor di belakang Dokter.
"Oke, aku tahu! Lalu apa wali dari pasien itu sudah datang?" Tanya Dokter Kim tapi tidak menghentikan langkahnya.
"Wali pasien sedang ke luar kota sonsaengnim, ku dengar pemilik panti tempat bayi itu tinggal sedang mengurus perpindahan. Tapi Dokter yang menangani bayi itu akan segera datang"
Mendengar itu membuat Dokter laki-laki ini menampilkan smirknya.
"Baiklah aku mengerti! Mari kita segera lakukan operasinya!" Bersamaan dengan selesainya percakapan itu pintu ruangan operasi pun terbuka. Dengan gagah si Dokter tadi di pakaiakan pakaian steril yang akan digunakan selama berjalannya operasi berlangsung.
.
.
.
.
.
Byun Baekhyun dikejutkan oleh seorang bocah kecil manis yang berlari kearahnya. Ia akhirnya berhenti sebentar kerena bocah itu menghadang jalannya. Ia membungkuk mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi si bocah.
"Annyeong cutie girl, ada yang bisa eonni bantu?" Tanya Baekhyun tersenyum manis. Sebenarnya ia terburu-buru ingin naik ke lantai 8 menunggui operasi Chandoo berlangsung. Tapi sepertinya bocah itu ada urusan dengannya.
Bocah itu lalu menyerahkan setangkai bunga matahari padanya. Tentu Baekhyun menerimanya dengan senang hati. Ia memang sering dikirimi beberapa jenis bunga belakangan ini. Dan setiap harinya adalah bunga yang berbeda, mungkin jika dirangkai sekarang sudah menjadi sebuket bunga yang cantik. Baekhyun juga sempat bingung, namun selanjutnya ia tidak mau ambil pusing. Karena mengira mungkin saja semua bunga itu kiriman dari Chanyeol. Walaupun terdengar mustahil, karena namja itu sedang di Jepang saat ini.
"Bisa kau beri tahu eonni bunga ini dari siapa?"
"Baru saja Pangeran berjubah putih itu memintaku menyerahkan pada eonni" Kata gadis kecil itu polos. Oh astaga! Baekhyun ingin terkikik, apa kata bocah itu? Pangeran berjubah putih? Benarkah masih ada?
"Pangeran tinggi itu sangat tampan, nanti kalau Hyesung sudah besar, Hyesung mau menikah dengannya" Imbuh gadis itu lagi.
Baekhyun mengacak rambut halus milik si bocah. "Jadi namamu Hyesung eoh? Aigoo ~ Hyesung neomu gwiyeo. Tapi maaf eonni harus segera pergi. Terimakasih bunganya sayang sampai jumpa"
Baekhyun memilih segera beranjak, tak lupa ia melambaikan tangannya yang disambut antusias oleh Hyesung.
.
.
.
.
.
"Hyung aku sudah melakukan yang kau suruh. Sekarang mana bayaranku!" Ucap Taeyong kepada kakaknya. Namja itu menjulurkan tangannya ke arah Sehun. Tapi segera ditepis pelan oleh kakaknya.
"Aku sedang sibuk, lebih baik kau pulang dan segera selesaikan pekerjaan rumahmu!"
Sehun melanjutkan pekerjaannya di depan komputer. Pura-pura acuh pada adiknya yang sekarang sedang merengut maximal.
"YA! Oh Sehun, kau ini jahat sekali pada adikmu. Sebenarnya kau itu kakak kandungku bukan sih? Kau bahkan menyita mobilku sebulan ini, dan menyuruhku kesekolah naik bus. Kau mau menghancurkan imageku sebagai cowok keren eoh?"
Pletak!
Lagi-lagi anak tertua dari keluarga Oh itu menghadiahi jitakan manis untuk adiknya.
"Dimana sopan santunmu bocah? aku lebih tua darimu bodoh" Ucap Sehun marah-marah. Namja itu sampai beranjak dari kursinya untuk sekedar memeberi pelajaran pada Taeyong.
"Sakit, hyung! kau benar-banar jahat padaku"
"Ingat, hukumanmu belum berakhir sebelum kau menemukan ponselku!"
Omel Sehun galak. Dia memang sengaja memperlakukan Taeyong seperti budaknya. Alasannya karena ponsel kesayangnnya yang telah dihilangkan oleh adiknya.
"Itu sudah setahun yang lalu hyung. Bagaimana bisa aku menemukan yeoja itu.! AAhh mungkin jika aku ke Hongdae lagi, aku bisa bertemu dengannya hyung!" Nego Taeyong. Paling tidak ia bisa mendapatkan keuntungan.
"Itu hanya modusmu! Pokoknya sebelum kau menemukan ponselku, jangan harap kau bisa hidup enak!"
Taeyong mendelik mendengar jawaban kakaknya. Selalu saja kakaknya itu berkuasa. Mungkin kalau saja Ayahnya berpihak padanya, ia akan melapor pada pria tua itu sekarang. Namun naas, Ayahnya pun pasti akan lebih membela Sehun daripada dia.
"Lebih baik aku bilang pada Baekhyun noona kalau kau sudah pulang dan bekerja satu rumah sakit yang sama dengannya" Ancam Taeyong berusaha menakuti Sehun.
Bulan ini Oh Sehun memang resmi bekerja di JU Hospital. Surat ijin kerja dari Universitasnya sudah keluar. Lalu disini akhirnya, Sehun berseragam putih dengan tag name dan jabatan melekat di saku kirinya. Surgery 'Oh Sehun'
"Atau bahkan aku harus memberi tahunya kalau hyungku yang paling tampan ini telah menjadi secret admirernya lama sekali" Ucap Taeyong sambil melenggang keluar. Dia sudah bosan berdebat dengan hyungnya. Lebih baik jalan-jalan. Sekalian mengerjai hyungnya, ia ingin tahu bagaimana ekspresi Sehun mendengar perkataannya. Taeyong akan semakin gencar menggoda kakaknya, kalau saja Sehun tidak-
"Berani mengadu, Aku tidak akan memberimu makan!"
mengancam.
Kartu mati untuk Taeyong. Namja itu berbalik sebentar dan menatap tak percaya kakaknya, sebelum benar-benar pergi dari sana dengan wajah kesal.
.
.
.
Di lobby Taeyong tidak sengaja berpapasan dengan Baekhyun. Buru-buru ia berbalik ingin menjauh sebelum ia teringat sesuatu. 'Ah, untuk apa kau kabur, noona pasti juga tidak akan mencurigaiku' Setelah menyadari kebodohannya. Namja itu kembali berjalan tenang, sok cool. Dan benar! Baekhyun melihatnya.
"Taeyong, apa yang kau lakukan disini?" Sapa Baekhyun membuat namja itu segera mengangkat wajahnya dan tertawa garing.
"Oh H-haaaai Baekhyun noona, senang bertemu denganmu. Aku sedang menjenguk temanku" Balas Taeyong sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
"Begitu ya?"
"Iya" Ia mengangguk sebentar. Matanya berusaha melihat ke segala arah, asalkan tidak melihat wajah Baekhyun.
"Hei, kau sedang mencari sesuatu?"
"Eh, tidak! em maksudku iya. Aku menunggu teman," jawab Taeyong berdusta. Tapi saat ia menoleh kebawah tidak sengaja matanya menangkap sesuatu di tangan Yeoja itu. Satu adalah bingkisan kado yang ia kirimkan tadi, tapi bunga itu. Sepertinya ia tidak meletakkan bunga disana. Salahkan namja itu yang selalu ingin tahu. Akhirnya dengan tidak tahu malu ia bertanya.
"Noona, membawa kado, Apa noona sedang ulang tahun?" Tanya Taeyong terlihat sekali basa-basi.
"Tidak, hari ini bukan ulang tahunku. Tadi siang aku menemukan kotak ini di dalam kantorku. Dan tidak tahu siapa pengirimnya."
"Oh jadi begitu" Taeyong pura-pura mengangguk paham. "Lalu bunga itu, juga berada disana?" Tunjuk namja itu pada bunga matahari di tangan Baekhyun.
"Anieyo. Bunga ini diberikan oleh seorang anak kecil. Dan ia bilang bahwa bunga ini dari pangeran berjubah putih. hahaha anak itu lucu sekali," jelas Baekhyun kembali tersenyum mengingat perkataan lucu bocah kecil yang ditemuinya pagi tadi.
Sedangkan Taeyong tidak terlalu menggubrisnya. Namja itu sedang sibuk dengan pikirannya sendiri 'Oooh, jadi hyung bertindak dobel. Bahkan dia harus repot-repot menyuruh anak kecil mengantarkan bunga. Uh memalukan' Taeyong geleng-geleng membayangkan bahwa orang yang memberi bunga Baekhyun adalah Sehun. Dia berfikir, menyedihkan sekali nasib kakaknya.
"Taeyong, kau tidak papa?" Tanya Baekhyun menghadiahi tatapan bingung melihat Taeyong menggeleng-geleng tak jelas.
"Oh! aku tidak papa." Taeyong segera tersadar. "Emm... noona aku harus pergi sekarang juga. Sampai jumpa kapan-kapan yaaa, daaah" Ucap Taeyong sambil berlari meninggalkan Baekhyun.
.
.
.
.
.
Baekhyun merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memeluk boneka pinguin biru yang baru saja didapatkannya dari seseorang tapi tidak ia ketahui.
Biasanya ia akan tidur sepanjang malam dengan 'Korrillakuma' nama boneka pemberian Chanyeol saat di Lotte kemarin. Saat suaminya pergi ke Jepang, tapi begitu mendapati boneka penguin itu, lalu memilih meninggalkan Korrilakumanya kesepian.
Baekhyun yakin sekali, jika pinguin itu bukan hadiah dari Chanyeol. Ia sangat tahu kalau Chanyeol tidak pernah mengetahui kegemarannya pada binatang unggas itu. Paling tidak jika suaminya ingin membelikannya boneka pasti seorang tokoh kartun. Atau yang paling parah boneka berbentuk paha ayam. Baekhyun sangat marah waktu menerimanya, tapi akhirnya boneka itu ia simpan juga.
"Ahh, aku jadi kangen Sehun" Ucap Baekhyun semakin mempererat pelukannya pada tubuh boneka. Semua yang berhubungan dengan penguin biasanya tidak jauh-jauh dari Sehun. Makanya yeoja itu bilang tiba-tiba merindukan sahabat lelakinya.
Yeoja itu teringat telepon dari Tao tadi siang yang mengundangnya untuk merayakan Natal nanti bersama. Sekalian merayakan keberhasilan Film perdana sepupu Baekhyun itu. Tao sudah sukses menjadi artis, walau ia sudah debut hampir satu tahun, dengan membintangi berbagai peran pembantu di drama-dramanya. Baru kali ini Tao mendapat apresiasi yang sangat mengejutkan dari Fans. Namanya melambung tinggi setelah Film yang melibatkan dirinya dirilis awal Desember ini. Dan mendapatkan rating tinggi pada hari pertama tayang.
Baekhyun mengambil ponselnya. Ia ingin menghubungi Chanyeol, menanyakan apa Malam Natal nanti suaminya jadi pulang atau tidak. Jika tidak, mungkin Baekhyun bisa menerima undangan Tao. Tapi jauh dalam hatinya, ia ingin sekali Chanyeol pulang, walau hanya sehari.
Sambungan teleponnya mulai terdengar. Yeoja itu menunggu sampai teleponnya diangkat sambil memainkan telinga boneka Rillakuma coklat milik Chanyeol yang tertinggal.
.
.
.
.
.
Entah siapa yang memulai, yang jelas kedua orang dewasa berbeda genre itu sedang berciuman panas. Kedua orang tak lain tak bukan adalah Chanyeol dan Kyungsoo.
Bagaimana bisa Chanyeol melakukan itu pada Kyungsoo sedangkan ia sudah menikahi yeoja lain.
Setengah jam yang lalu. Awalnya mereka hanya duduk berdua dan membicaran tentang bisnis, namun mereka terlarut dalam obrolan panjang yang tidak berujung. Chanyeol memang sudah di Jepang selama dua minggu mengurusi proyek pembangunan Rumah sakit bersama Kyungsoo.
Mereka tinggal di hotel yang sama, tapi berbeda kamar. Lalu bagaimana bisa sekarang mereka berada di kamar hotel milik Kyungsoo? Jawabannya adalah beberapa waktu lalu yeoja itu mengundang Chanyeol untuk mengajaknya minum. Cuaca di Jepang malam ini sangatlah dingin. Kyungsoo menawarinya main ke tempat tinggalnya (kamar hotelnya) Mereka menjadi sedikit dekat sekarang, tapi Chanyeol sudah sekuat hati menjaga perasaannya. Namja itu mempunyai batasan saat bersama yeoja itu. Kecuali sekarang, kenapa mereka berciuman seperti itu?
Park Chanyeol tidak terlalu sadar dengan apa yang ia lakukan. Mungkin namja itu terlalu banyak meminum winenya. Bisa dilihat dari dua botol wine yang sudah terbuka dan bertengger manis di atas meja. Kyungsoo juga tidak jauh berbeda dengan laki-laki itu. Yeoja itu bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya saat pendangannya mulai berkunang-kunang. Ketika ingin berdiri dari kursinya ia limbung dan hampir terjatuh. Tentu saja Chanyeol yang berada di sana dengan sigap manangkap tubuh yeoja yang hampir ambruk itu. Mereka berpandangan lama sekali, namun tidak ada sepatah katapun. Chanyeol menangkap hembusan nafas hangat dari Kyungsoo dengan jarak sedekat ini. Namja itu memejamkan matanya kala tiba-tiba Kyungsoo bergerak memajukan wajahnya hingga bibir mereka saling menempel.
Siapa yang tidak akan terlena jika bibirnya tiba-tiba di cium seperti itu, dan kerena akalnya yang sedikit mengabur akhirnya dengan brengsek Chanyeol pun membalas ciuman itu. Hingga beginilah sekarang.
Chanyeol mendorong kepalanya sampai titik terdalam ciumannya. Tautan bibir itu semakin lama semakin panas, Kyungsoo yang semula meletakkan tangannya di kepala Chanyeol untuk meremas rambut hitam milik namja itu, kini mulai berani mangalun dan membelai sensual dada Chanyeol yang terbungkus kemeja kerja putih.
Mereka terus saling melumat hingga dorongan dari tubuh mungil Kyungsoo mengajaknya jatuh ke atas ranjang. Sebut Chanyeol gila, namja itu masih tidak bisa menyadari kenyataan di depannya. Dengan brengsek, ia terus melumat bibir Kyungsoo hingga gadis itu mengerang keenakan.
Mungkin jika Chanyeol dalam keadaan sadar, ia pasti akan membenturkan kepalanya sendiri ke tembok sampai ia mati. Ini bukan kehendaknya. Dia sedang mabuk.
Sedangkan di atas meja kamar itu ada ponsel yang terus saja berdering memanggil si pemilik, namun tak ada yang menghiraukannya. Karena nyatanya namja si pemilik itu sedang melayang dari akal sehatnya.
.
.
Baekhyun hampir mati bosan, menunggu jawaban dari Chanyeol, demi Tuhan ini bahkan baru jam 8 malam. Apa iya suaminya sudah tidur.
Yeoja itu membuang nafasnya sebentar. Bibirnya mengerucut kesal.
"Oke, sekali lagi tidak kau angkat. Aku tidak mau menelponmu lagi Park Chanyeol jelek!"
Baekhyun berbicara pada ponselnya, yang jelas saja percuma karena benda itu tidak akan pernah menjawabnya.
.
.
Ponsel Chanyeol masih saja berdering. Namja itu mengedipkan matanya sebentar masih dalam posisi tertindih tubuh Kyungsoo. Ia mencoba menajamkan pendengarannya, seperti mendengar ponselnya berdering. Saat ingin bergerak tiba-tiba yeoja itu menggigit kuat bibirnya sampai ia mengerang frustasi.
"Eeummmmhh"
.
.
.
.
.
To Be ...
.
.
.
See you next Chap... Mueheheheh ^^
Annyeong Chinguth... Ada yang mau membunuh saya? Aigoo~ harap bunuh Chanyeol dulu yaa? waks... ckckckck.
Sumpah! sebenarnya saya gak tega bikin Chap ini ngegalau. Apalagi setelah melihat ChanBaek baikan. Amigoooo~ TLP Beijing saksi bisu cinta mereka /plak/ Suer deh sangking senangnya saya sampe pingin nyium mereka/maunya/modus/
ChanBaek shipper rayain balikan mereka yuuukkk,? so kasih saya review donk! *aih kok lebay* Oke Guys, Ternyata masih banyak yang jadi Silent Readers sampai akhir. Tapi aku ra popo kok, sumpah ora popo rek! Saya masih punya Readers yang setia /throwlove/ yang menerima ff ini apa adanya! *cieelllahh*
Hufftt Kayanya FF ini mau segera di Tamat in. Tapi masih galau, di putus samapi chap berapa, Mungkin kalau gak 15 ya 16 kali ya? Atau malah 30(?) O_O Andweeeeee... Becanda kok! *wink*
Oke Fix segitu dulu ya. Dan Heiiii Readers nim yang masih bilang ini mana konfliknya, What the hell... Kaya gini masih belum bisa dibilang konflik, saya angkat tangan. Gak bisa jawab apa-apa. Sorry ya, ini udah limit dari otak saya.
Last Words... Thank you so much for my beloved Readers... I LOVE YOU... :3
..
Review maybe...?
Annyeong~
