I'M 28

An EXO fanfiction

HunKai

Rating: T-M

Pairing: Sehun X Kai, Choi Minho X Kai

Warning: BL, YAOI, M-preg

Cast: Kris Wu, Oh Sehun, Kim Jongin, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Choi Minho, Kim Jummyeon, Luhan, Krystal Jung, Lee Sungmin

Halo ini chapter dua belas selamat membaca maaf atas segala kesalahan. Happy reading all….

Previous

"Aku tidak bisa meminumnya sendiri, terlalu banyak."

"Nanti saja, terlalu panas." Ucap Jongin sambil mendorong cangkir air jahenya sedikit menjauh.

"Sampai saat ini Jongin hyung masih memikirkan tentang masalah keluarga Jongin hyung?"

"Tentu saja."

"Hmmm."

"Aku tidak tahu apa suatu hari nanti aku mendapat maaf dari orangtuaku atau tidak." Ucap Jongin lantas menatap wajah Sehun selama beberapa detik.

"Kita bicara kemungkinan terburuk, bagaimana jika Jongin hyung tidak mendapatkan maaf?"

"Setidaknya aku tak jadi pembunuh."

"Untuk saat ini tidak usah dipikirkan saja." Ucap Sehun kemudian menyesap air jahenya. "Tapi aku yakin Jongin hyung sedang berpikir sekarang, entah itu tentang keluarga Jongin hyung atau tentang hal lainnya."

"Kau tahu darimana?"

"Wajah Jongin hyung itu terlihat jelas sekali sedang berpikir, terlalu tegang."

"Hanya memikirkan persoalan yang menyebalkan."

"Sebaiknya tidak usah dibahas?"

"Ya, sebaiknya tidak usah dibahas."

"Baiklah kalau begitu—Jongin hyung harus tahu jika aku selalu ada untuk Jongin hyung."

Jongin tersenyum miring selama beberapa detik. "Habiskan air jahemu." Ucapnya singkat.

BAB DUA BELAS

"Setelah ini acara Jongin hyung apa?"

"Aku harus ke kantor."

"Di hari Minggu?"

"Hmmm, tidak ada hari libur untukku." Ucap Jongin ditengah kesibukannya mengunyah apel.

"Jongin hyung harus menjaga kesehatan jangan bekerja terlalu lama di depan layar komputer dan bermain game di ponsel seharian."

"Aku tahu."

"Aku hanya mengingatkan."

"Kau tidak mencampur makananmu dengan potongan jeruk nipis lagi?"

"Air jahenya manjur aku tidak mual lagi."

"Baguslah kalau begitu, jeruk nipis terus, kasihan lambungmu."

"Hmm."

"Jongin hyung."

"Ya?"

"Apa Jongin hyung pergi ke kantor dengan taksi yang aku pesan khusus?"

"Tidak, aku akan naik taksi umum saja. Sebaiknya kau sudahi taksi pesanan khususmu. Apartemen baruku terletak di pinggir jalan arteri jadi aku tidak perlu berjalan jauh untuk naik taksi."

"Baiklah."

Sehun mengamati wajah Jongin lekat-lekat. "Kurasa ada orang yang menyukaiku."

"Huh?" Jongin berhenti dari kegiatan sarapannya, menatap Sehun bingung. "Apa?" Jongin kembali bertanya.

"Kurasa ada orang yang menyukaiku."

"Bukankah selama ini ada banyak orang yang menyukaimu?"

"Darimana Jongin hyung tahu?"

"Mereka yang mencarimu."

"Aku—tidak pernah memperhatikan mereka." Sehun menunggu reaksi Jongin, namun ia tidak mendapatkan apa-apa. "Kurasa ada orang yang menyukaiku." Ulang Sehun berharap Jongin memberinya sedikit perhatian.

"Lalu?" hanya pertanyaan singkat nan menyebalkan itu yang keluar dari bibir penuh Jongin.

"Jongin hyung tidak cemburu?"

"Aku—aku tidak tahu." Jongin menjawab pertanyaan Sehun dengan suara pelan.

"Baiklah, jika Jongin hyung tidak tahu. Aku hanya mencintai Jongin hyung saja jadi jangan mencemaskan apapun." Jongin mengangguk canggung, ia hanya ingin percakapan aneh ini segera berakhir.

"Kau—mau mandi di sini atau di rumahmu?"

"Jongin hyung tergesa-gesa ke kantor?"

"Tidak juga."

"Jam berapa Jongin hyung pergi ke kantor?"

"Sembilan pagi."

"Aku akan mandi di rumah, dan bagaimana jika kita berangkat bersama?"

"Berangkat bersama? Kau mau kemana?"

"Latihan dengan Taemin di SOPA kita searah jadi aku ingin berangkat bersama dengan Jongin hyung. Anggap saja sebagai latihan sebelum kita benar-benar tinggal bersama."

"Ya, ya." Balas Jongin tidak terlalu berminat sebenarnya.

Jongin melihat Sehun sudah menyelesaikan sarapannya, iapun berdiri dari kursinya karena makanannyapun sudah ia habiskan. "Tinggalkan saja di meja, nanti aku bersihkan kau pulang dan mandi."

"Tentu." Sehun membalas singkat.

"Kau membawa kunci cadanganmu kan?"

"Ya."

"Bagus, berarti aku tidak harus mengantarmu ke depan."

"Hmmm." Sehun hanya menggumam.

"Jangan membuatku menunggu lama atau aku akan meninggalkanmu."

"Jongin hyung tenang saja." Balas Sehun sambil mengedipkan sebelah matanya. Jongin melempar tatapan datar.

"Kau berusaha menggodaku ya?" Sehun mengangguk pelan diselingi senyuman. Jongin benar-benar sebal dan PLAK! Pukulan mendarat di kepala Sehun.

"Hyuuuuunngggg…..," rengek Sehun. Jongin tak peduli dan memilih pergi meninggalkan Sehun.

"Sepertinya aku harus mencari tips dan trik merayu kekasih yang lebih tua di internet," gumam Sehun. "Jongin hyung aku pulang dulu sebentar! Dan jangan berani-berani meninggalkan aku!" Sehun berteriak sekeras mungkin karena Jongin sudah masuk ke kamar. "Jongin hyung!" Sehun berteriak kembali.

"Ya!" Sehun mengernyitkan dahinya kala mendengar balasan teriakkan Jongin, yang yah—lumayan spektakuler.

"Ternyata bisa berteriak keras juga." Sehun kembali menggumam.

.

.

.

Jongin berdiri di depan pagar menunggu Sehun, belum, tenang saja Jongin belum lama berdiri di depan pagar mungkin belum sampai satu menit. Jongin mendongak kala melihat butir-butir salju ringan turun dari langit dan jatuh melayang.

"Apa yang Jongin hyung perhatikan?"

"Kau sudah siap? Kapan kau berdiri di sana?"

"Barusan, Jongin hyung memperhatikan apa?"

"Salju, apa kau tidak bisa melihat salju sedang turun?"

"Bukankah Jongin hyung tidak suka dengan musim dingin?"

"Aku hanya tidak suka dengan suhu udaranya, selain itu aku cukup menyukai musim dingin."

"Hmmm, baiklah, sebaiknya kita bergegas." Jongin mengangguk pelan menyetujui usulan Sehun. "Ah!" Jongin terkejut karena tangannya tiba-tiba digenggam oleh Sehun.

"Masukkan tangan yang lain ke dalam mantel musim dingin Hyung. Jongin hyung tidak memakai sarung tangan." Jongin tidak menjawab apa-apa namun dia melakukan hal yang Sehun katakan padanya, dan wajahnya terasa hangat sekarang.

Keduanya pergi bersama dengan taksi, tidak ada obrolan baik Sehun maupun Jongin memilih sibuk memperhatikan jalanan yang mereka lalui. Akan tetapi tangan keduanya masih bertaut, enggan untuk terlepas. Taksi lebih dulu berhenti di depan kantor Jongin, perlahan Jongin menarik tangannya dari genggaman tangan Sehun yang melonggar. Jongin mengambil ransel miliknya dan membukanya dengan cepat, ia mengeluarkan termos kecil berwarna perak dan menyerahkannya kepada Sehun. "Air jahe, aku membuatnya dengan mengingat resep yang kau ajarkan. Aku sudah mencicipi rasanya, enak, aku jamin."

"Kalau menurutku tidak enak bagaimana?"

"Sudahlah." Dengus Jongin sambil meletakkan termos kecil itu ke atas pangkuan Sehun. "Semoga latihanmu sukses hari ini." Jongin membuka pintu penumpang, menutupnya kembali kemudian berjalan memasuki bangunan kantor. Sehun hanya memandangi dari dalam taksi, dengan senyuman.

Jongin hanya ingin masuk ke dalam ruangannya dan menyelesaikan sisa pekerjaan ketika seseorang memanggil namanya. "Jongin."

"Ya?"

"Bisakah kita bicara sebentar?"

"Semua file yang harus aku kerjakan sudah aku kirimkan ke email Chanyeol hyung."

"Bukan itu, ini tentang…,"

"Baekhyun hyung?" Jongin memotong kalimat Chanyeol. Chanyeol mengangguk pelan.

"Tidak ada yang perlu dibahas lagi Chanyeol hyung, sudahlah, aku ingin melupakan semuanya. Membahas hal itu hanya akan membuat luka saja."

"Apa kau memaafkan Baekhyun?"

"Aku belum tahu, tapi aku janji padamu Chanyeol hyung aku pasti akan memaafkan Baekhyun hyung. Tapi tidak sekarang aku butuh waktu untuk menenangkan diri."

"Aku tahu apa yang Baekhyun lakukan sudah keterlaluan."

"Itu reaksi yang wajar menurutku." Jongin tersenyum kala memandang raut wajah terkejut Chanyeol. "Artinya Baekhyun hyung sangat mencintai Chan hyung dan tidak ingin kehilanganmu. Sudahlah, sebaiknya kau kembali menyibukkan dirimu dengan pekerjaan jangan sampai jadwal yang sudah ditentukan mundur."

"Baiklah Bos Besar." Ucap Chanyeol dengan nada menggoda.

"Diam!" ketus Jongin sembari memutar tubuhnya dan berjalan pelan memasuki ruang kantornya sendiri. Tiba-tiba Jongin teringat sesuatu, ia bergegas menghampiri Chanyeol yang ternyata sudah masuk ke dalam ruangannya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Jongin langsung masuk.

"Jongin?!" Chanyeol cukup terkejut dengan kedatangan Jongin saat dirinya sedang sibuk memperhatikan layar komputer.

"Maaf mengagetkanmu Chan hyung." Jongin lantas menutup pintu kantor Chanyeol dan menguncinya ia berjalan mendekati Chanyeol mengacuhkan tatapan bingung dari laki-laki yang lebih tua dua tahun dari dirinya.

"Kau—sepertinya ingin membahas sesuatu yang penting?"

"Ya. Aku mohon bantuanmu Chan hyung."

"Bantuan apa?"

"Tolong rahasiakan hubunganku dengan Sehun, katakan hal ini pada Baekhyun dan Minho hyung juga, aku tidak ingin merusak masa depan Sehun." Chanyeol tak langsung menjawab mendengar kalimat Jongin, Jongin tidak pernah peduli, atau jarang sekali peduli dengan urusan orang lain, dia terlalu fokus pada tujuan hidupnya sendiri.

"Kau—tidak ingin merusak masa depan Sehun?" Chanyeol berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Jongin.

"Ya, Sehun masih sangat muda masa depannya terlalu berharga untuk dihancurkan oleh hubungan tidak penting ini."

"Hubungan tidak penting? Kau mengandung anak Sehun, bagaimana bisa kau menganggapnya tidak penting Jongin?"

Jongin tersenyum miring. "Ayolah Chan hyung, Sehun masih tujuh belas tahun dia pasti akan berubah pikiran cepat atau lambat. Kita berdua sudah lebih dulu melewati masa-masa remaja labil seperti itu."

"Dan kau sudah siap jika Sehun meninggalkanmu?"

"Tentu. aku tidak pernah memiliki perasaan apa-apa kepada Sehun."

"Benarkah? Sedikitpun kau tidak memiliki perasaan terhadap Sehun?" tatapan Chanyeol terasa memojokkan bagi Jongin. "Aku—tidak mungkin mencintai seseorang yang jarak usianya sepuluh tahun di bawahku, itu terlalu mustahil, terdengar seperti roman picisan, ini realita. Tidak ada hubungan yang sempurna."

"Baiklah…," desah Chanyeol. "Jadi kau hanya ingin agar hubunganmu dan Sehun tidak diketahui oleh orang lain? Cukup aku, Baekhyun, dan Minho yang terlanjur tahu?"

"Ya hanya itu." Ucap Jongin kemudian memutar tubuhnya dan membuka pintu ruangan Chanyeol untuk keluar. Jongin berhenti di langkah pertama, kemudian menoleh ke belakang menatap Chanyeol. "Ah satu lagi, kurasa hari ini aku akan pulang lebih cepat."

"Kau bersedia memberikan alasanmu padaku?"

"Aku akan melihat apartemen baruku." Chanyeol hanya mengangguk pelan, Jongin tersenyum tipis sebelum benar-benar melangkah keluar dari ruangan Chanyeol.

Pukul tiga sore, satu jam sebelum jam pulang kantor Jongin pergi ke apartemen barunya. Apartemen yang berjarak satu jam dari pusat kota, berada di kawasan pinggiran Seoul, tenang dan nyaman. Bukan jenis apartemen mewah, apartemen sederhana dengan tiga kamar tidur, dua kamar mandi, satu kamar mandi berada di kamar utama, dan satu kamar mandi kecil berada di luar. Dapur, ruang makan, ruang tamu, dan ruang keluarga menyatu, balkon kecil dengan rak berisi pot-pot yang bisa ditanami. Dan dua kursi berangka aluminium lengkap dengan meja bulat kecil di tengah.

"Baiklah, ini tempat tinggal yang nyaman." Ucap Jongin iapun bergegas menghubungi Sehun sebelum anak badung itu merencanakan sesuatu yang tidak baik untuknya. Panggilan pertama Sehun tidak menjawab, hal yang selama ini belum pernah Sehun lakukan, bahkan Jongin mencoba untuk menghubungi Sehun lima kali.

"Kenapa aku harus peduli!" dengus Jongin tiba-tiba merasa bodoh dengan usahanya menghubungi Sehun, kemudian ia memutuskan untuk mencoba ranjang baru. Atau lebih tepatnya tidur, tubuhnya cukup lelah sekarang dan tidur sepertinya menjadi godaan yang tidak bisa diabaikan.

.

.

.

"Hari ini adalah hari terakhir kita berlatih. Aku akan sangat sibuk setelah ini."

"Baiklah, kurasa semuanya juga sudah sempurna. Waktu yang tersisa kita gunakan untuk beristirahat kurasa istirahat hanya untukku kau pasti akan sibuk dengan hal lain." Sehun hanya tertawa pelan mendengar kalimat Taemin. "Kau banyak berubah Sehun, apa aku sudah mengatakannya?"

"Kau tidak mengatakan apa-apa."

"Aku melihatmu menjadi orang yang lebih dewasa dan bertanggungjawab, kau belajar lebih rajin, tidak berisik di kelas, tidak membolos kelas, bekerja dengan serius, menepati setiap janjimu, hal-hal yang dulu tidak pernah kau lakukan."

"Kalimatmu membuatku terdengar sangat buruk di masa lalu." balas Sehun dengan nada menahan tawa.

"Aku melihatmu sangat buruk di masa lalu, aku tidak memungkirinya."

"Kau juga tidak lebih baik!" Sehun mendengus sambil menyikut lengan kiri Taemin.

Kedua sahabat yang sedang bercanda itu seketika diam, kala pintu ruang latihan terdorong ke dalam dan munculah Luhan. "Sehun." Luhan menyebut nama Sehun dengan ramah disertai senyuman.

"Halo Luhan hyung." Sehun mencoba membalas dengan nada ramah.

"Kalian akan berlatih lagi? Apa aku mengganggu?"

"Tidak, tidak." Taemin menjawab cepat. "Kami sudah selesai dan aku berencana untuk pulang."

"Ah rupanya begitu."

"Masuklah Luhan hyung." Taemin meminta Luhan untuk melangkah memasuki ruang latihan dengan ramah. Luhan mengangguk pelan kemudian melangkah memasuki ruang latihan. "Ayo duduk." Ucap Taemin sambil menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya.

"Aku ingin bertanya sesuatu pada Sehun."

"Padaku?" Sehun menatap Luhan lekat-lekat, Luhan mengangguk pelan. "Baiklah, katakan saja Luhan hyung."

"Benarkah kau setuju untuk melakukan iklan bersamaku? Aku diberitahu oleh nyonya Hyura."

"Ya, itu benar."

"Bukankah dulu kau menolak?"

"Aku tidak menolak, tawaran itu terlambat datang. Kau tahu sendiri nyonya Hyura pelupa." Balas Sehun tak berniat untuk mengatakan jika Hyura adalah ibunya, semua orang sudah tahu, selain itu Hyura paling tidak suka jika dipanggil dengan sebutan Ibu.

"Kau benar." Balas Luhan diiringi tawa pelan."

"Apa yang Luhan hyung lakukan di sekolah? Sekarang libur kan? Apa Luhan hyung juga ikut kompetisi menari?"

"Aku berlatih menari setiap hari Sabtu dan Minggu tapi aku tidak berencana mengikuti kompetisi menari."

"Hmmm." Sehun menggumam namun Taemin tahu jika sahabatnya itu merasa lega.

"Baiklah kalau begitu, aku pergi sekarang dan Sehun semoga kita bisa bekerjasama dengan baik."

"Tentu." balas Sehun iapun berdiri dan berjabat tangan dengan Luhan. Luhan tersenyum kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang latihan. Taemin menunggu hingga pintu benar-benar tertutup sebelum bicara kepada Sehun.

"Jelas sekali."

"Jelas apanya?"

"Jelas sekali jika Luhan hyung menyukaimu."

"Tidak ada topik pembicaraan lain Lee Taemin?" cibir Sehun dan Taemin hanya tertawa menanggapi kekesalan Sehun.

"Ah ya, saat Luhan hyung bilang jika dia tidak berniat mengikuti kompetisi menari kau terlihat lega, apa itu benar atau itu hanya dugaanku saja?"

"Kau benar."

"Kenapa?"

"Jangan pura-pura bodoh Taemin, Luhan hyung itu sangat ahli menari jika dia ikut, peluang kita untuk menang akan menyempit, bisa-bisa kita juara dua nanti."

"Aku yakin dengan kemampuan kita berdua."

"Tapi aku sekarang punya pekerjaan lain yang harus aku lakukan."

"Sehun." Panggilan Taemin dengan nada lain membuat Sehun menaruh perhatian penuhnya untuk Taemin. "Jika ini memberatkanmu kita bisa mundur dari sini, maksudku dulu kau ikut karena hadiah uangnya sekarang kau punya uang dan Jongin hyung juga menjadi milikmu, kurasa tidak ada gunanya kau ikut."

"Kau ini bicara apa?! Kau menginginkan kompetisi ini."

"Aku tidak ingin memberatkanmu."

"Aku ingin membantu sahabatku, jika kau menang di sini maka beasiswa untuk pergi ke sekolah seni di Amerika akan terbuka lebar, aku membantumu jadi diam dan berterimakasihlah padaku."

"Kenapa aku ingin melempari wajahmu dengan botol air mineral dibanding ucapan terimakasih."

"Kau hanya iri dengan ketampananku."

"Astaga! Aku tidak tahu jika kau gila Sehun, sudahlah, ayo pulang sekarang latihan sudah selesai, aku ingin memenangkan game terbaruku dan kau harus pergi ke tempat lain."

"Kau benar, ayo."

Keduanya berjalan bersama menuju gerbang depan sekolah. "Ada banyak orang yang menginginkanmu."

"Menginginkan aku?"

"Sehun jangan berlagak bodoh!" Taemin akhirnya berteriak karena terlalu gemas dengan reaksi menyebalkan Sehun.

"Aku bukannya berlagak bodoh, aku hanya tidak mengerti kenapa mereka menginginkan aku."

"Aku juga tidak tahu kalau soal itu. Kau…," Taemin menggantung kalimatnya ia menarik bahu kiri Sehun agar telinga anak itu dekat ke mulutnya. "Kenapa kau justru mencintai Jongin hyung? Apa dia istimewa?"

"Kau ingin tahu?"

"Tentu saja, aku ingin tahu. Aku sahabatmu dan kau tutup mulut soal itu, pada Kyungsoo dan Chen hyung juga kau tutup mulut."

"Kalau aku bercerita kau pasti bosan."

"Kau belum mencobanya."

"Baiklah akan aku ceritakan."

"Kapan?!"

"Jika aku punya waktu."

"Sialan!" dengus Taemin yang ditanggapi dengan tawa menyebalkan dari Sehun.

"Baiklah aku akan bercerita."

"Benarkah?!"

"Kau melihat wajahku sedang main-main?"

"Tidak, ayo ceritakan!" Taemin memekik antusias.

"Kau ingat aku pernah kabur dari rumah kan?"

"Ya aku ingat dengan jelas, karena Kris menolak membelikanmu bayi buaya."

Sehun tersenyum sambil mengangguk pelan. "Kris hyung tidak mencariku tapi Jongin hyung mencariku dan menemukanku di taman belakang gedung tua yang terbengkalai."

"Kenapa saat itu Jongin hyung peduli padamu?"

"Karena Kris hyung meminta tolong."

"Kenapa Kris hyung meminta tolong kepada Jongin hyung?"

"Kris hyung belum memiliki SIM saat itu."

"Ahhhh rupanya seperti itu, lalu kau langsung jatuh cinta pada Jongin hyung?"

"Belum."

"Berarti ada momen lain?"

"Iya."

"Apa?! Ceritakan?!"

"Tidak, itu tidak adil aku tidak bercerita pada Kyungsoo dan Chen hyung jadi cukup sampai di situ saja."

"Aku penasaran Oh Sehun!" Taemin berteriak kencang sedangkan Sehun memilih untuk berlari pergi sambil tertawa keras.

Sehun duduk di dalam taksi, ia meraih ranselnya untuk mengambil ponsel, ia terkejut melihat panggilan tak terjawab dari Jongin. "Astaga! Ada apa? Tadi ponselku dalam mode senyap." Sehun memutuskan untuk menghubungi Jongin dengan panik.

"Halo."

"Ada apa Hyung?!"

"Aku hanya ingin memberitahu jika sekarang aku ada di apartemen, tapi aku akan pulang untuk membersihkan peralatan makan pagi tadi, mengambil sisa barang yang mungkin masih ada, dan mobilku."

"Jongin hyung akan pindah hari ini juga?"

"Kurasa iya, karena pihak pengelola apartemen sudah menyiapkan apartemen siap huni, semuanya dalam keadaan bersih dan rapi, barang-barangku juga sudah ditata, jadi tidak ada alasan untuk tidak segera pindah."

"Baiklah kalau begitu aku juga akan melakukan hal yang sama, kita berangkat bersama nanti, bagaimana?"

"Sebaiknya kau jangan tergesa-gesa, maksudku bagaimana dengan kakakmu?"

"Aku sudah membicarakan hal ini sebelumnya dengan Kris hyung."

"Baiklah kalau begitu, aku tutup teleponnya ya aku benar-benar mengantuk sekarang."

"Tentu, Jongin hyung sedang tidur siang sekarang?"

"Ya, tapi panggilanmu membangunkan aku."

"Maaf kalau begitu, sampai nanti."

"Sampai nanti."

"Ah dan maaf aku tidak mengangkat panggilan Jongin hyung tadi."

"Tak masalah." Sehun tersenyum memandangi layar ponselnya, jantungnya berdebar cepat, suara Jongin membuat seluruh rongga dadanya terasa hangat.

Pertemuan kedua

Hari Senin Kris yang sibuk dengan kuliahnya lupa membangunkan sang adik, Sehun berlari dengan panik keluar dari rumah, mengunci pintu pagar dengan seragam yang sekedar menempel.

"Sehun apa kau bangun kesiangan?!"

Pertanyaan itu mengejutkan Sehun, pagar berhasil terkunci Sehun berbalik dan melihat Jongin berada di dalam mobilnya. "Ya Jongin hyung!"

"Dimana kakakmu?"

"Pergi ke kampus."

"Baiklah, masuklah kuantar kau ke SOPA, aku yakin jika sedikit mengebut kau tidak akan terlambat masuk."

"Benarkah?!"

"Ya."

"Cepat masuk ke mobil."

"Terimakasih Jongin hyung! Aku mencintaimu."

"Ah baiklah, baiklah, aku juga mencintaimu anak tetangga badung."

Pertemuan ketiga

Sehun terlibat perkelahian, saat kepala sekolah memanggil wali atau perwakilan wali untuk datang ke sekolah, seperti biasa ayah dan ibunya terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, dan kakaknya, Kris, tentu saja tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Jonginlah yang datang atas permintaan Kris untuk menjemput Sehun di sekolah. Jongin membawa Sehun ke rumahnya, itulah pertama kali Sehun melihat isi rumah Jongin.

"Kenapa Jongin hyung yang datang ke sekolahku?"

"Kakakmu meminta tolong padaku."

"Kenapa Jongin hyung bersedia?"

"Tolong menolong itu baik. Kenapa kau berkelahi dengan Lee Joon?"

"Dia mengejekku."

"Mengejekmu karena apa?"

"Aku anak haram, karena ayah dan ibuku tidak menikah. Aku pukul wajahnya, tidak keras, tapi giginya tanggal dua."

Jongin hanya bisa melempar tatapan tidak percaya. "Ayo masuk, jangan diulangi lagi jika ada yang mengejekmu abaikan saja."

"Aku dianggap penakut."

"Balaslah dengan hal lain."

"Hal lain maksudnya apa?"

"Menjadi sukses, bungkam semua orang yang mengejekmu, untuk saat ini cukup dengan nilaimu yang baik atau menjadi juara kelas."

"Hmm begitu ya."

"Tanganmu terluka." Ucap Jongin sambil mengangkat tangan kanan Sehun dan memeriksanya. "Duduklah biar aku obati, kakakmu sepertinya belum pulang dari kampus. Kau lapar kan?" Sehun mengangguk pelan. "Aku sudah memesan makanan, kuharap kau suka dengan ayam."

"Aku sangat suka." Balas Sehun diiringi senyuman lebar.

"Baguslah." Jongin pergi untuk mengambil kotak obat, sementara Sehun duduk menunggu di ruang keluarga sembari mengamati keadaan rumah Jongin. Tak lama Jonginpun kembali dan berlutut di hadapan Sehun yang duduk di atas sofa. "Kemarikan tanganmu." Sehun menurut ia mengulurkan tangan kanannya. "Kita bersihkan dulu lukamu dengan air bersih yang mengalir." Sehun tidak menjawab. "Ayo." Ucap Jongin sambil menuntun tangan Sehun untuk pergi ke dapur.

Setelah selesai dibersihkan, perlahan Jongin mengeringkan tangan Sehun dengan kapas, memberi obat luka kemudian membebatnya dengan perban. "Jika besok bengkak kau harus pergi ke dokter."

"Ya. Terimakasih Jongin hyung."

"Bukan masalah."

"Kenapa Jongin hyung begitu baik?"

"Karena kau dan kakakmu satu-satunya tetangga yang aku kenal." Ucap Jongin polos kemudian tersenyum lebar.

Pada pertemuan ketiga itu, Sehun sadar jika hatinya benar-benar telah tertambat kepada laki-laki yang berusia jauh lebih tua darinya. Siapa yang peduli, cinta tidak bisa diukur dengan logika, semua bisa dilakukan demi cinta.

"Kita sampai."

"Ah terimakasih Paman." Ucap Sehun setelah menyerahkan ongkos taksi, Sehun lantas keluar tapi dia tidak pulang dia justru pergi ke rumah Jongin. Ia ingat Jongin mengatakan ditelpon tadi jika ia belum sempat mencuci peralatan makan kotor. Sehun berniat untuk mencuci peralatan makan kotor, meringankan pekerjaan Jongin. Ia masuk dengan kunci ganda, bergegas pergi ke dapur dan mencuci semua peralatan makan kotor di dalam bak cuci dan membereskan meja makan, semua itu selesai dalam waktu setengah jam. Setelah semua beres Sehun memutuskan untuk pulang, ia sendiri harus bersiap-siap.

.

.

.

"Halo Kris hyung!" Sehun menyapa kakaknya yang sedang menonton televisi dengan ramah.

"Ada apa denganmu?"

"Suasana hatiku sedang baik, aku mandi dulu ya."

"Baiklah, sudah makan?"

"Belum, nanti saja aku akan makan dengan Jongin hyung." Sehun berlari menaiki anak tangga, menyisakan Kris dengan segala kebingungannya tentang sang adik.

Seusai mandi Sehun lantas membuka lemari pakaian memilih pakaian dan mengeluarkan koper abu-abu besar yang sudah jauh hari disiapkan untuk pindah bersama Jongin. "Aku harus membawa peralatan mandi, parfum, ah ya jaket almamater SOPA belum masuk." Ucapnya sambil menarik ransel berwarna hijau tua, membukanya dan menjejalkan barang-barang yang tidak tertampung di dalam koper. "Nah, beres." Ucapnya penuh dengan kepuasan.

Kri menatap adiknya yang baru turun dari lantai dua dengan bingung."Kau— benar-benar akan tinggal dengan Jongin hyung?"

"Tentu saja aku selalu serius dengan ucapanku Kris hyung."

"Ah baiklah, tapi apa kau sudah bersiap-siap?"

"Sudah."

"Hanya membawa satu koper dan satu ransel?"

"Ya, aku hanya membawa seragam dan beberapa pakaian favoritku."

"Hanya itu?"

"Ya, aku akan memulai semuanya dengan hal baru."

"Dramatis."

"Kali ini aku tidak akan membalas Kris hyung."

"Kenapa?"

"Anggap saja sebagai ramah tamah sebelum perpisahan."

"Ayolah Sehun, kau hanya tinggal dua puluh lima menit dari sini. Kita bahkan pernah tinggal di Negara yang berbeda."

"Darimana Kris hyung tahu kita hanya berjarak dua puluh lima menit?"

"Ibu. Ah salah, Kakak."

"Ibu kita tidak normal." Kris hanya terkekeh pelan mendengar kalimat sang adik. "Seharusnya aku membalas ejekanmu tadi Kris hyung."

"Balas saja aku siap mendengarnya kapanpun."

"Aku sedang tidak ingin bertengkar. Kabari aku jika terjadi sesuatu padamu Kris hyung aku janji akan mengunjungimu setiap minggu."

"Haaah…," Kris mendesah pelan. "Baiklah." Ucapnya malas iapun berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Sehun. "Tak kusangka kau akan mendahuluiku menjadi seorang ayah dasar bocah badung."

Sehun terkekeh pelan. "Mau bagaimana lagi aku sudah tidak tahan."

"Astaga Sehun! Kau masih tujuh belas tahun dan otakmu sudah benar-benar kotor."

"Sudah jangan membahas hal itu lagi, aku menyesal."

"Kau menyesali perbuatanmu?! Kau menyesal menjadi ayah muda?"

"Aku menyesal sudah meperlakukan Jongin hyung dengan tidak baik, seharusnya aku menikahi Jongin hyung dulu baru menghamilinya." Kris langsung melempar tatapan datar, intinya sama saja, Sehun ingin menghamili Jongin.

"Akan kuantar kau ke rumah Jongin hyung sebagai tanda perpisahan. Kau tidak mengijinkan aku melakukan hal itu?"

"Aku ijinkan tapi aku akan mengawasi Kris hyung dengan ketat."

"Aku hanya akan bicara singkat dengan Jongin hyung."

"Jangan mengatakan hal yang tidak penting pada Jongin hyung."

"Aku tahu, tenang saja jangan cemas."

"Baiklah, ayo, tapi aku tidak yakin apa Jongin hyung sudah pulang."

"Langsung kita lihat saja."

"Hmmm, ayo Kris hyung."

TBC

Terimakasih atas kesediaan waktu para pembaca sekalian yang sudah bersedia membaca cerita aneh saya. Terimakasih untuk Hun94Kai88, shakyu, loeloe07, whitechrysan, sayakanoicinoe, MooN48, xx1031, mimi, NishiMala, elferani, saya sayya, HK, kimkai88, youngimongi, cute, Seraphine Rin, sheyy bunny, Kim Jongin Kai, WyfZooey, JHyunra98, SparkyuELF137, Baegy0408, KaiNieris, Athiyyah417, Mara997, Kim Jonghee, BabyWolf Jonginnie'Kim, chanzhr, novisaputri09, Grey378, RHLH17, NisrinaHunkai99, kaisaria88, kanzujacksonjk, vivikim406, fitrysukma39, ucinaze, exoldkspcybxcs1, jjong86, Veraseptian, tobanga garry, ulfah cuittybeams, ohkim9488, geash, hunjonghan. Terimakasih atas review kalian.