[REMAKE] From The Darkest Side by Santhy Agatha

Genre :: Romance, Thriller

Cast :: Kim Jongin, Xi Luhan, and others. [KAILU]

Rated :: M

.

Disclaimer : Saya me- remake novel favorit saya, cerita aslinya kalian bisa

baca novel From The Darkest Side (Santhy Agatha). So, cerita ini

bukan milik saya, saya hanya meremake oke?jangan nuduh saya plagiat ya.

Oh iya ini re-post ya?

.

Typo(s). SG.

Don't Like , Don't Read chingu!

Annyeong aku bawa ff From The Darkest Side KaiLu Ver lanjutannya ^^

Happy Reading!

"Hamil?" Jongin terperangah. Sejenak dia termenung bingung. Tetapi kemudian dia tersenyum, "Hamil?"

"Haidku tidak datang bulan ini... dan tidak pernah terjadi sebelumnya." Luhan menatap Jongin penuh rasa bersalah, "Maafkan aku Jongin..."

"Kenapa kau minta maaf? Aku akan menelepon dokter sekarang. Kita pastikan. Kalau kau memang hamil, kita harus berhati-hati menjagamu. Dan kita akan menikah segera."

"Menikah?" Luhan menatap ragu ke arah Jongin yang sudah mulai memijit nomor di ponselnya.

"Ya. Anak itu harus mempunyai ayah, dan dilahirkan dari pernikahan yang sah." Jongin menatap Luhan lembut dan cemas, "Bagaimana perasaanmu? Apakah kau merasa pusing? Mungkin kau harus berbaring dan jangan berjalan-jalan,"

Luhan tersenyum geli, "Aku tidak apa-apa Jongin..."

Lelaki itu menelepon dokter pribadinya dan mengucapkan instruksi agar lelaki itu datang. Kemudian lelaki itu meletakkan teleponnya dan menatap Luhan takjub. "Wow... kau hamil Luhan... hamil anakku..."

Luhan tersenyum, "Aku bilang aku mungkin hamil karena aku terlambat haid, belum tentu aku hamil, Jongin..."

Jongin menatap Luhan dengan lembut, "Kau pasti hamil, karena kau terlihat begitu cantik." Lelaki itu memundurkan kursi kerjanya yang besar dan membuka tangannya, "Sini, duduk di pangkuanku."

Luhan tersipu, tetapi dia datang mendekati Jongin, lelaki itu memeluknya dan mendudukkan Luhan dengan lembut ke pangkuannya, mereka bertatapan. Lengan Jongin melingkari pinggang Luhan dan kedua lengan Luhan melingkari leher Jongin.

Luhan hamil, dan itu berarti seluruh rencananya untuk mengakhiri kehidupannya agar bisa mengenyahkan Kai tidak bisa dilakukan. Jongin selalu menjadi anak tunggal, ayahnya kejam dan ibunya tidak dekat dengannya. Keluarga angkatnya sempat mengisi kekosongan di dalam dirinya, tetapi itupun tidak berlangsung lama. Anak itu, kalau benar Luhan hamil, anak di dalam kandungan Luhan harus dia jaga. Jongin harus bisa menekan Kai semakin dalam supaya tidak terbangun dan menguasainya lagi.

"Aku akan menjagamu Luhan, aku akan berusaha supaya Kai tidak bangun dan berbuat jahat."

Luhan menatap Jongin dengan cemas, "Bisakah kau melakukannya Jongin? Aku takut Kai mendesakmu lagi sampai kau tenggelam dan dia menguasai tubuh ini.."

Jongin menyentuh lembut perut Luhan dan mengusapnya penuh sayang. "Aku sebenarnya putus asa, sudah tidak menemukan cara lagi untuk mengalahkan Kai... tetapi semuanya berbeda kalau ada anak ini, anak ini memperkuat tekadku untuk bertahan, Luhan... Aku harus lebih kuat demi menjaga kalian berdua..."

Luhan menangkup tangan Jongin yang sedang memegang perutnya. "Terima kasih Jongin."

"Ya Tuan Jongin, Nona Luhan hamil." Dokter itu sudah selesai memeriksa Luhan. "Hasil tes urine menyatakan positif, dan dari USG saya sudah bisa melihat kantong kehamilannya tampak, meskipun masih kecil."

Jongin menerima kabar itu dengan sangat gembira, dia menyalami dokter itu dengan bersemangat dan menanyakan detail yang sekecil-kecilnya kepada sang dokter. Setelah dokter itu pergi, Jongin duduk di sebelah ranjang dan menggenggam erat tangan Luhan yang sedang berbaring.

"Kau harus benar-benar menjaga dirimu, jangan terlalu lelah."

Luhan terkekeh, "Jongin, aku cuma hamil, bukan sakit."

Lelaki itu tersenyum malu, "Aku tidak pernah dekat dengan wanita hamil sebelumnya. Maafkan aku. Kaulah wanita hamil pertamaku."

Luhan tertawa, "Benarkah kau tidak pernah dekat dengan wanita hamil sebelumnya Jongin?"

Jongin menggelengkan kepalanya, "Aku cenderung menghindari wanita hamil dan anak-anak, bukan karena aku tidak menyukai mereka... Aku... aku takut Kai tiba-tiba muncul dan melukai mereka."

Kehadiran Kai telah begitu membatasi Jongin, Luhan yakin dengan kelembutannya Jongin pasti menyukai anak-anak kecil. Dia hanya tidak bisa mendekati dan berinteraksi dengan mereka.

"Apa yang dilakukan oleh Kai kadang begitu menakutkan... dia benci hewan peliharaan, dia selalu terdorong untuk membunuhnya, entah untuk bersenang-senang atau memang dia sengaja menggangguku. Karena itulah aku tidak berani mengambil resiko membiarkannya berdekatan dengan anak-anak. Kai, sama seperti diriku, tidak punya pengalaman sama sekali yang berhubungan dengan anak-anak."

Luhan mengerutkan keningnya. Kalau sampai yang terburuk terjadi dan Kai menguasai tubuh Jongin lagi, apakah Kai akan melukai anaknya? Anak yang dikandung Luhan bagaimanapun juga hidup dari benih tubuh itu, tubuh yang sama-sama ditinggali oleh Kai dan Jongin. Anak ini anak Kai juga bukan?

"Semoga semua baik-baik saja Jongin." Luhan bersungguh-sungguh dengan kata-katanya, dia berharap semuanya baik-baik saja.

Jongin menatap ke cermin di ruang kerjanya. Menatap bayangan yang balas menatapnya dengan dingin.

"Aku akan semakin kuat karena adanya anakku di kandungan Luhan. Dan aku akan segera menikahinya." Dia mengucapkan kata-katanya kepada Kai, dengan tegas.

Ekspresi Kai tidak dapat ditebak, tentu saja dia sudah tahu kalau Luhan hamil. Dia selalu sadar dan mengawasi dari sudut yang gelap. Hanya saja saat ini dia terbelenggu. Jongin benar-benar dalam kondisi kuat dan waspada sehingga Kai tidak bisa bangun dan menguasai tubuh itu.

"Anakku juga Jongin. Jangan lupakan itu. Anak itu juga anakku."

"Tetapi tidak berarti kau tidak akan melukainya bukan?"

Kai memasang wajah datar, "Aku tidak tahu. Aku tidak pernah dekat dengan anak-anak sebelumnya. Kau yang selalu menjauhkanku dari anak-anak."

"Karena kau kejam terhadap hewan peliharaan, kau membunuh anjing, membunuh kelinci dan hewan-hewan lain yang kau anggap mengganggu."

"Aku melakukannya untuk membuatmu merasa tidak nyaman." Kai menyeringai. "Bukan berarti aku akan melakukannya kepada anak-anak."

Jongin mendengus, "Aku tidak akan membiarkanmu bangun Kai. Aku akan menekanmu kuat-kuat sehingga tidak ada kesempatan bagimu untuk melukai Luhan dan anakku."

"Anakku juga." Kai kembali mengoreksi, senyumnya tampak malas dan mengejek, "Apakah ini berarti kau membatalkan niatmu untuk membunuh kita berdua?"

"Ya." Jongin menatap Kai dengan dingin, "Tetapi bukan berarti aku membatalkan niat untuk melenyapkanmu."

Kai terkekeh, "Tidak akan bisa Jongin, kau sudah mencobanya dan tidak pernah berhasil bukan? Semakin kau mencoba melenyapkanku, semakin aku bertambah kuat."

Mata Jongin menyipit, "Sebelumnya aku tidak punya perempuan yang kucintai dan calon anak untuk kulindungi."

Kata-kata Jongin sedikit mengubah ekspresi Kai, tetapi lelaki itu tetap tersenyum dan sedikit mengejek, "Kita lihat saja nanti."

Jongdae pulang ke rumah ini. Kedua tangannya masih di gips tetapi kondisinya sudah lebih baik. Jongin dan Luhan menyambutnya. Luhan waktu itu sangat bersyukur ketika Jongin mengatakan bahwa Kai hanya melukai Jongdae dan tidak membunuhnya, bahwa Jongdae sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit. Tetapi Luhan tidak tahu bagaimana cara Kai melukai Jongdae, karena itu ketika dia melihat kedua tangan Jongdae di gips, Luhan menoleh ke arah Jongin dan mengernyitkan keningnya,

"Apakah Kai..."

"Ya." Jongin tampak begitu menyesal, "Kai mematahkan kedua tangan Jongdae."

Luhan begidik ketika membayangkan kekejaman Kai, membayangkan betapa sakitnya Jongdae ketika itu. Didekatinya Jongdae dengan mata berkaca-kaca.

"Maafkan saya." bisiknya, sungguh-sungguh menyesal, bagaimanapun Jongdae terluka karena membantunya melepaskan diri. Tetapi Jongdae membalas tatapannya dengan tatapan malu dan penuh penyesalan,

"Saya yang minta maaf Nona Luhan." Suaranya serak, "Saya mengira saya menolong anda, tetapi saya melemparkan anda ke dalam bahaya."

Luhan mengernyit, membayangkan ketika Minwoo berusaha memperkosanya. Kenangan itu terasa mengerikan, apalagi ketika dia mengingat pemandangan mayat Minwoo yang bersimbah darah dengan pisau tertancap di punggungnya. Dengan cepat Luhan berusaha mengenyahkan pikiran itu. Dia mencoba tersenyum kepada Jongdae,

"Tidak apa-apa, yang penting kita semua bisa berkumpul di sini dan baik-baik saja."

"Bersama bayi anda." Jongdae tersenyum, "Tuan Jongin menceritakan semuanya kepada saya." Lelaki itu melirik Jongin, "Selamat Tuan Jongin, saya yakin anda pasti sangat bahagia."

"Sangat." Jongin bergumam tulus. Dirangkulnya Luhan erat-erat ke dalam pelukannya.

Malam itu mereka tidur berpelukan. Jongin berulangkali mengelus perut Luhan dengan lembut. Kemudian menciumi leher Luhan. Ciuman itu semula hanyalah ciuman lembut penuh kasih sayang, tetapi lama-kelamaan berubah panas. Jongin mulai mencumbu Luhan dengan kecupan-kecupan kecil, membuat Luhan menggeliat karena geli.

"Apakah kalau kita melakukannya tidak akan mengganggu si bayi" mata Jongin berkilat penuh gairah, tetapi ragu.

Luhan tersenyum, "Dokter bilang aman bagi kandungan."

Izin itu cukup buat Jongin, dengan lembut dia mengecup biibir Jongin dan melumatnya lembut, mencicipinya dengan penuh perasaan, seakan bibir Luhan adalah buah yang sangat berharga yang harus disesap pelan-pelan agar semakin nikmat terasa. Ketika Jongin mengangkat bibirnya, napas mereka berpadu, terengah-engah,

"Bibirmu sangat manis dan nikmat." Lelaki itu bergumam sambil mengecupi bibir Luhan lagi, "Aku bisa terus dan terus menciummu, dan tak pernah merasa bosan."

Mereka tenggelam dalam ciuman yang panas. Lalu bibir Jongin mengecupi leher Luhan, menghirup aroma manis di sana yang memancing kejantanannya semakin menegang dan siap. Tangannya meraih jemari Luhan dan menggenggamkannya ke kejantanannya yang semakin menonjol dan mengeras,

"Kau rasakan itu sayang? Dia mengeras karena ingin segera memasukimu, ingin menyatukan dirinya dalam kelembutanmu." Luhan menggenggam kejantanan Jongin, merasakan panas yang berdenyut di sana. Lelaki itu lalu melepaskan gaun tidur Luhan, mengangkatnya lewat atas kepalanya dan mencampakkan gaun itu begitu saja di lantai, dia lalu menelanjangi dirinya sendiri.

Mereka berbaring telanjang berpelukan, menikmati rasa kulit masing-masing yang berpadu, panas bertemu dengan panas yang menggetarkan. Setiap sentuhan dan gesekan kulit mereka terasa begitu nikmat. Jongin yang keras dan Luhan yang lembut.

"Aku akan bersikap lembut." Jongin tersenyum dan mengecup kedua alis Luhan, memposisikan dirinya di antara kedua paha Luhan yang membuka untuknya, siap menerimanya.

Luhan tersenyum dan mengulurkan tangannya, menyentuh bibir Jongin yang ada di atasnya dengan jemarinya, Jongin mengecup jemari itu.

"Aku mencintaimu Jongin." Bisiknya dalam napas yang mulai terengah. Jongin sudah menyentuhkan kejantanannya ke kewanitaan Luhan, menggeseknya dengan lembut dan menggoda di bagian luar kewanitaannya, dengan sengaja menyentuh titik sensitif di luar kewanitaannya sehingga menimbulkan getaran yang membuat gelenyar panas mengaliri tubuh Luhan.

Wajah Jongin makin melembut mendengar pernyataan cinta Luhan, dia menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Luhan, "Aku juga mencintaimu Luhan.." sementara di bawah sana, kejantanannya mulai memasuki Luhan, membuat Luhan merasakan panas, keras dan berdenyut mulai menyatu ke dalam dirinya. Luhan mengerang dan melingkarkan kedua tungkainya ke pinggang Jongin. Dorongan itu membuat Jongin menenggelamkan dirinya dalam-dalam di pusat diri Luhan yang hangat dan basah.

Jongin memejamkan mata, menikmati panas dan basah yang mencengkeramnya erat, membuatnya harus berjuang agar tidak meledak seketika itu juga. Luhan terasa begitu nikmat, begitu pas dan begitu menggairahkan. Perempuan yang sekarang berbaring di bawahnya dengan mata berkabut, bibir sedikit membuka, napas tersengal, tubuh yang pasrah menerimanya, dan perempuan itu sedang mengandung anaknya.

Dengan hati-hari Jongin bergerak pelan, melakukan ritme bercintanya dengan hati-hati. "Apakah sakit?" Jongin berbisik pelan, menggertakkan giginya, menahan diri agar tidak mendorong terlalu keras, terlalu dalam.

Luhan menggelengkan kepalanya, "Tidak Jongin, rasanya nikmat." Luhan menggerakkan pinggulnya, merespon dorongan Jongin, membuat lelaki itu mengerang.

"Kau begitu nikmat sayang, seluruhmu begitu nikmat." Jongin menggerakkan badannya makin intens, menggesek seluruh titik kenikmatan di dalam tubuh Luhan, dan memuaskan dirinya sendiri. Lelaki itu menahan diri, menunggu Luhan mencapai kepuasannya. Dan ketika Luhan melengkungkan punggungnya dan mengerang pelan, Jongin mengikutinya. Kenikmatan ini tiada duanya. Bercinta dengan orang yang dicintai memang selalu memberikan getaran yang berbeda. Jongin tidak akan pernah bisa senikmat ini selain bersama Luhan. Mereka meledak bersama dalam orgasme yang luar biasa.

Tengah malam. Kai terbangun. Dia langsung terduduk, terkesiap kaget karena dia terbangun begitu saja. Lelaki itu menggerakkan tangannya. Well. Tubuh ini ternyata berhasil dia kuasai lagi. Jongin terlalu larut dalam orgasme dan kenikmatannya bersama Luhan sehingga dia lengah. Dan Kai begitu saja mengambil alih. Kai tersenyum. Dia sudah lebih kuat, waktu itu dia menganggap remeh Jongin dan tidak waspada, sehingga Jongin bisa mengambil alih.

Kai menoleh dan menatap Luhan yang tertidur di sampingnya. Perempuan itu meringkuk ke arahnya dengan posisi seperti janin di dalam kandungan. Tampak begitu lemah dan tak berdaya. Kai membayangkan betapa kagetnya nanti Luhan ketika bangun dan menemukan Kailah yang ada di sampingnya. Senyumnya tampak puas mengingat dia berhasil membuat Luhan orgasme ketika bercinta dengannya. Sedikit banyak, Luhan tetap terpengaruh oleh kemampuan bercinta Kai.

Luhan akan dikuasainya sampai tidak bisa lepas lagi. Sampai Luhan tidak bisa memikirkan Jongin lagi. Kai menyentuhkan jemarinya ke pipi Luhan. Tetapi kemudian pandangannya terarah ke perut Luhan dan dia mengernyit. Luhan sedang hamil.

Hamil... sama seperti Jongin, Kai sama sekali tidak mempunyai pengalaman dengan perempuan hamil. Dan kali ini, perempuan yang ada di depannya sedang mengandung anak Jongin, anaknya juga, anak mereka berdua. Apa yang bisa dia lakukan kepada perempuan hamil? Apakah emosi bisa membuatnya keguguran?

Kehamilan Luhan sebenarnya lebih membuatnya ingin tahu. Bagaimanakah rasanya memiliki seorang putra? Kai termenung dan memutuskan bahwa dia ingin memiliki seorang putra. Seorang putra yang akan dia besarkan dengan baik. Bukan dengan ancaman dan kekerasan seperti yang dilakukan ayah kandungnya kepadanya. Kai mengerutkan keningnya. Kalau begitu dia harus mengusahakan supaya kandungan Luhan baik-baik saja. Dia akan berpura-pura menjadi Jongin.

Ketika pagi hari Luhan terbangun, Jongin masih ada di sebelahnya, lelaki itu tertidur pulas dengan sebelah lengannya menjadi bantal untuk kepala Luhan. Luhan tersenyum indah mengecup lembut ujung hidung Jongin dengan sayang.

"Selamat pagi tukang tidur."

Jongin membuka matanya pelan-pelan dan kemudian menatap Luhan. Lalu dia tersenyum, "Selamat pagi, sayang." Dengan nakal dipeluknya tubuh Luhan dan dinaikkan ke atas tubuhnya,

"Kau rasakan itu?" Jongin berbisik dengan nada sensual, membuat tubuh Luhan menggelenyar. Dia merasakannya, kejantanan Jongin yang begitu keras, lelaki ini sedang sangat bergairah.

"Naiki aku Luhan." Jongin bergumam sambil mengarahkan pinggul Luhan sedikit turun sehingga kewanitaan Luhan menyentuh kejantanannya yang sudah siap. Luhan menempatkan dirinya, dan membiarkan Jongin membimbingnya. Lelaki itu menaikkan pinggulnya dan menurunkan pinggul Luhan, membuat tubuhnya menelusup dengan mudahnya ke dalam kewanitaan Luhan, terasa begitu panas dan berdenyut di dalam sana.

"Gerakkan tubuhmu, sayang. Puaskan aku." Jongin bergumam dengan nada menggoda, dan membiarkan Luhan menggerakkan pinggulnya. Lelaki itu menggeram ketika merasakan gerakan Luhan, matanya berkilat penuh kenikmatan. "Oh, kau nikmat sekali sayang." Jongin mengimbangi gerakan Luhan dengan menggerakkan pinggulnya ke atas, membuat mereka makin menyatu dan merasakan sensasi kenikmatan.

Percintaan dengan gaya ini membuat titik-titik di bagian paling sensitif Luhan tersentuh sepenuhnya, tanpa sadar dia menggerakkan tubuhnya semakin berani, mengekplorasi kenikmatannya dengan sebebas-bebasnya. Jongin mengikuti gerakannya, dengan sama liar dan bergairahnya. Dan kemudian Luhan mendongakkan kepalanya dan melengkungkan punggungnya ke belakang ketika mencapai puncak kenikmatan, bersama Jongin yang mengikutinya di belakangnya.

Tubuh Luhan rubuh, terkulai di atas tubuh Jongin dengan napas terengah-engah. Sementara tangan lelaki itu memeluk punggungnya dan mengusapnya sambil lalu.

Lama kemudian Luhan mengangkat kepalanya dan mereka bertatapan. Mata Jongin tampak penuh senyum dan menggoda, "Senang menaikiku?"

Pipi Luhan merah padam atas godaan itu, membuat Jongin terkekeh, dengan lembut dia melepaskan dirinya dari tubuh Luhan, lalu menghela perempuan itu ke sampingnya untuk kemudian memeluknya erat-erat.

"Kau baik-baik saja?"

"Ya." Setelah orgasme yang luar biasa itu, bagaimana mungkin dia tidak baik-baik saja?

"Bagaimana dengan perutmu?"

Luhan mengeryit. Mungkin maksud Jongin adalah 'bayi'nya? Dengan geli dia menjawab pertanyaan Jongin, "Perutku baik-baik saja, Jongin."

"Bagus." Jongin tampak puas dan mengetatkan pelukannya ke tubuh Luhan, sementara Luhan menenggelamkan kepalanya dengan damai di dada Jongin. Yang tidak Luhan sadari adalah bahwa ada kilatan yang berbeda di mata Jongin, dan bahwa kilatan mata itu, jelas-jelas milik Kai, bukan milik Jongin...

"Kenapa kau hanya sarapan itu?" Kai mengerutkan kening menatap Luhan yang hanya menyantap beberapa keping biskuit asin dan teh hangat. Dia sendiri sedang menyantap seiris besar pancake hangat yang disiram dengan sirup maple. Setahu Kai, perempuan hamil harus makan banyak bukan?

Kai sepertinya berhasil mengelabui Luhan. Percintaan panas mereka tadi pagi buktinya, Luhan tidak akan mau bercinta sepanas itu dengannya kalau tahu bahwa dia adalah Kai, bukan Jongin. Kali ini Kai bertekad agar Luhan selamat sampai melahirkan anaknya. Dia menginginkan anak itu. Dia ingin merasakan menjadi seorang ayah.

Dengan cepat, dia mengiris seiris besar pancake dan meletakkannya di piring dan menyorongkannya kepada Luhan. "Makan itu."

Luhan menatap Kai dengan memprotes, "Jongin bukannya aku tidak mau makan, aku merasa sedikit mual di pagi hari... kalau aku memaksakan memakannya aku akan muntah."

Kai mengamati Luhan dalam-dalam. Dia pernah mendengar perempuan hamil muntah-muntah di awal kehamilannya, tidak disangkanya Luhan juga merasakannya.

"Apakah kau tidak apa-apa? Apakah kau perlu minum obat?"

Luhan menggelengkan kepalanya dan mengelus perutnya dengan lembut, "Tidak ada obatnya Jongin, aku hanya harus mengalaminya, ini bukan penyakit."

Kai mengikuti arah pandangan Luhan, menatap perut yang sedang dielus oleh jemari Luhan, dia berdehem dan mengalihkan pandangannya, "Mungkin sudah waktunya kita membicarakan pernikahan." Kai sangat setuju dengan rencana pernikahan yang direncanakan oleh Jongin, dengan adanya pernikahan, Luhan dan anak itu akan terikat kepadanya.

Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Kai sambil tersenyum, "Aku akan mengikuti rencanamu Jongin, kapan kau ingin kita menikah?"

"Secepatnya." Kai tersenyum, aku akan menghubungi orangku untuk mempersiapkan semuanya."

Ketika Jongdae sedang berjalan menuju halaman depan, dia berpapasan dengan Tuan Jongin. Lelaki itu sedang menelepon, sepertinya membahas tentang pernikahan.

"Jongdae." Kai tersenyum, "Sepertinya kau sudah membaik."

Jongdae menganggukkan kepalanya, "Sebentar lagi gips saya akan dibuka."

"Kai pasti mematahkan tanganmu dengan begitu keras ya?" Padahal dalam hati Kai tersenyum , dia ingin menilai reaksi Jongdae, ingin tahu apakah Jongdae akan menyadari penyamarannya sebagai Jongin atau tidak. Dari dulu Kai suka bermain-main, menyamar sebagai Jongin dan melihat reaksi orang-orang.

Jongdae sendiri tampak bergidik membayangkan ketika tangannya dipatahkan oleh Kai dengan kejam. Dia menatap tuannya dan menghela napas panjang, "Saya pantas menerimanya."

Kai tidak bisa menahan diri lagi, dia menyeringai menunjukkan senyum kejamnya yang biasanya, "Dan aku akan mengulanginya lagi, kapanpun aku rasa perlu menghukummu."

Seketika itu juga Jongdae berjingkat mundur, menyadari bahwa yang ada di depannya adalah Tuan Kai, bukan Tuan Jongin. Oh Astaga. Bagaimana bisa Tuan Kai kembali mengambil alih? Bukankah Tuan Jongin sudah semakin kuat?

"Dan lain waktu, aku tidak hanya akan mematahkan tanganmu." Kai terkekeh, "Aku pernah bilang padamu kan? Aku bisa saja mematahkan kedua kakimu juga, bunyi tulang patah membuatku senang."

"Anda... Tuan Kai." Jongdae makin gemetar. Menatap mata dingin yang penuh hasrat membunuh itu.

"Ya, aku Kai. Tetapi kau tidak boleh mengatakannya kepada siapapun, atau aku tidak akan segan-segan melaksanakan ancamanku." Kai mendekatkan dirinya kepada Jongdae, membuat lelaki itu mundur dan akhirnya terperangkap di tembok, "Aku sedang menyamar menjadi Jongin, dan itu demi kebaikan Luhan dan anaknya. Siapa yang tahu apa yang dilakukan Luhan kalau dia tahu bahwa aku adalah Kai, mungkin dia akan begitu ketakutan sampai keguguran. Kau tidak ingin Luhan keguguran kan?"

Jongdae segera menggelengkan kepalanya, wajahnya tampak waspada. "Anda... " dia memberanikan diri untuk bersuara, "Anda tidak akan mencelakai Nona Luhan dan bayinya kan?"

"Tergantung." Suara Kai terdengar kejam, membuat Jongdae semakin bergidik, "Tergantung suasana hatiku. Kalau aku senang aku tidak akan melukai siapa-siapa. Kau mengerti maksudku, Jongdae?"

"Saya mengerti..." Apapun akan dia lakukan agar Kai tidak bisa melukai Nona Luhan. Dia pernah bersalah kepada Nona Luhan dan menjatuhkannya ke dalam bahaya, sekarang dia akan menebus kesalahannya.

"Bagus. Sekarang aku ingin kau membantuku. Aku ingin melaksanakan pernikahan."

Pernikahan itu dilaksanakan secara sederhana dan secepat kilat. Kai menyelipkan cincin berlian warisan turun termurun keluarga Kim ke jemari Luhan. Surat-surat ditandatangani, dan dalam sekejap, dia dan Luhan sudah menjadi suami isteri. Tentu saja surat-surat untuk mempelai lelaki semuanya atas nama Kim Jong In, Kai sempat mengerutkan keningnya tak suka. Tetapi kemudian menerimanya sebagai keuntungan tersendiri, mau bagaimana lagi, tubuh ini sejak awal memang tercatat bernama Kim Jong In.

Kai kagum dengan betapa cepatnya dan betapa mudahnya proses pernikahan itu. Dengan sedikit uang di sana sini, memang semuanya bisa menjadi mudah.

Ketika semua pengurus pernikahan sudah pulang. Kai menyimpan seluruh berkas pernikahan ke dalam brankasnya dan kemudian turun menemani mempelainya. Hatinya terasa puas, Luhan sudah terikat dengannya dan menjadi istrinya,

"Bagaimana perasaanmu, Nyonya Kim?" dia menyapa Luhan lembut.

Luhan yang bergaun putih tampak cantik dan segar, dia tersenyum lebar ketika melihat Jongin,

"Aku bahagia Jongin."

"Aku senang kau bahagia." Kai mendekati Luhan dan menghela perempuan itu ke dalam pelukannya, menikmati betapa mudahnya Luhan tenggelam ke dalam pelukannya kalau dia berperan sebagai Jongin, sama sekali tidak ada penolakan.

Sementara itu, Jongdae memasuki ruangan dan tertegun melihat Kai sedang memeluk Luhan. Nona Luhan tampak pasrah dan bahagia dalam pelukan Tuan Kai, Jongdae membatin, tentu saja itu karena Nona Luhan tidak menyadari bahwa yang sedang memeluknya bukanlah Tuan Jongin. Jongdae mengernyit. Dia tidak bisa mengatakan kepada Nona Luhan meskipun dia sangat ingin. Tuan Kai telah mengancamnya. Lagipula Tuan Kai mengatakan kalau ketakutan mungkin bisa membahayakan kandungan Nona Luhan.

Jongdae menatap kedua pasangan yang berpelukan itu dengan resah. Bagaimana dia bisa menyelamatkan Nona Luhan dari cengkeraman Tuan Kai? Dan kenapa Tuan Jongin bisa terkalahkan dan tak sadarkan diri kembali?

TBC

Annyeong, chingudeul :D

Gomawo buat yg masih setia baca ff remake'a ini n jg yg nge-review ff ini ne #deepbow

Kamsahamnida chingu :D #deepbow

Ditunggu reviewnya chingu :)