Chapter 12

My Highschool My Love

.

.

.

Sehun tengah duduk tercenung memandangi bangku Luhan yang kosong ketika Tao membanting pintu kelas dan berjalan masuk kemudian membanting tasnya.

Kapital M.E.M.B.A.N.T.I.N.G.

Kepala Sehun menggeleng kesal, dia kembali memandang ke depan. Segera membuang muka ketika tak sengaja bertatapan dengan Kyungsoo. Dan karena Kyungsoo adalah iblis (bagi Sehun) dia menyeringai licik sembari melempar tatapan aneh pada Sehun dan bangku Luhan secara bergantian.

Menjatuhkan kembali tatapan ke bangku kosong Luhan, Sehun merasa hampa dan juga sepi. Biasanya Luhan akan tertawa ceria bersama Kyungsoo, bercanda bersama Jongin, berkelahi dengan Chanyeol dan sekarang dia merasa kehilangan.

Tidak ! ini salah.

Sehun berusaha meyakinkan bahwa dia tidak sedang memikirkan Luhan. Tidak sekarang. Disaat dia teringat dengan perkataan kasarnya.

"Aku akan menghancurkannya. Dimulai dari kau Luhan !"

"Beranikah kau mengatakan pada Luhan jika sebenarnya ayahnya telah mati ? ayahnya telah mati didepan matamu dan kau masih terus mengikuti anaknya !"

Ia bersalah, kalimatnya salah, perlakuannya pada Luhan semuanya salah. Dan ciuman itu, Sehun merasa ingin mati mengingat apa yang sudah dia perbuat.

Sehun menghela napas berat, melirik pada Jongin yang duduk bersandar disampingnya. "Kau sudah merasa hancur ?" tanyanya dengan nada dingin, "Aku berhasil membuat dia meninggalkanmu"

Jongin menggigit bibir kuat-kuat, mengatur ekspresiya agar sekeras dan setegas mungkin "ini masih belum cukup" tukas Jongin dengan nada dingin yang sama. Jujur, dia merasa berdosa jika harus terus berperang dengan adiknya sediri. Tapi perkataan Sehun pada Luhan tidak bisa dia maafkan meskipun itu kenyataan, Jongin tetap belum siap dengan semua konsekuensi ini. "Kau harus berusaha lebih giat lagi untuk menghancurkanku. Melibatkan Luhan dalam perang kita adalah sesuatu yang naif dan kekanakan"

"Aku tidak melibatkannya" Sehun menyangkal "dia terlibat dan semua ini memang berkaitan dengan dia karena orang yang dibunuh ayahmu adalah ayah Luhan"

"Tutup mulutmu !" perintah Jongin dengan nada bicara yang sangat datar namun menusuk, Sehun tersenyum miring.

"Kenapa aku harus tutup mulut ? Kau baru sadar sekarang siapa kau ? Kau putra pembunuh dan mencintainya ?" senyum dibibir Sehun berganti dengan seringai kebencian. "Tidak ada gunanya kau berbohong dalam hal mencintainya karena sesungguhnya kau hanya merasa bersalah. Berhenti munafik !"

"Apa masalahnya jika memang aku mencintainya ? Kau tak suka ? Kau tak setuju ? Ah, kau bahkan bukan adikku lagi. Jadi untuk apa aku mendengarkanmu ?"

Urat saraf Sehun berkedut menahan emosi, mata kelamnya menyala seolah amarah telah membakar dirinya. Ditatapnya Jongin dengan sorot mata paling tajam seakan ia ingin membunuh Jongin dengan tatapan. Namun didalam hati, dia merindukan pemuda ini, menyayangi pemuda ini dan semua benar-benar tidak berguna.

Hidupnya tidak berguna.

Niatnya untuk tahu sedikit saja informasi dimana Luhan juga tidak berguna malah berakhir adu mulut. Sehun sungguh ingin berteriak, memerintahkan Jongin untuk mencari Luhan tetapi dia punya harga diri yang tidak akan dibiarkannya jatuh begitu saja.

Jongin adalah kakak, musuh dan rival baginya.

"Kau tak perlu mendengarkanku. Kita musuh" peringat Sehun keras. Beranjak dari bangkunya dengan luapan emosi masih menguar pekat bagai ledakan lava.

Sehun merasa bodoh, kenapa dia bisa semarah ini. Kenapa dia seberantakan ini hanya karena tidak tahu dimana Luhan ? kenapa dia harus peduli pada seseorang yang digunakannya untuk menghancurkan hidup Jongin ? apa yang terjadi dengan dirinya ?

Kepalanya seakan pecah, diraihnya kenop pintu dengan emosi. Tapi karena Tao berdiri disana, dia membentaknya."Minggir ! kau menghalangi jalanku" titah Sehun pada Tao yang memegang kenop pintu. Alhasil karena Tao tidak menyingkir juga Sehun segera menabraknya tanpa berbelaskasihan. Dia tidak peduli ketika Tao meneriakinya 'sialan' karena dia sudah terbiasa dengan kosakata tersebut apalagi dia juga menganggap dirinya sebagai 'sialan'.

Langkahnya aneh dan terasa berat. Sembari menyusuri koridor sepi, Sehun memasukkan kedua kepal tangan ke dalam saku. Pelan namun pasti ekpresi dingin diwajahnya telah luntur dan seiring langkahnya yang semakin jauh, Sehun menunduk. Merasakan hatinya yang terasa nyeri entah karena Jongin atau Luhan. Dia tidak tahu dan tidak berusaha menyangkal.

Memasukkan beberapa keping koin ke dalam mesin penjual minuman otomatis, Sehun berjongkok memungut kaleng kolanya kemudian duduk pada bangku kosong yang menghadap langsung pada kantin sekolah.

Sekilas, dia membayangkan suasana istirahat dimana siswa berlalu-lalang. Sehun melihat dirinya duduk bersama para senior, sementara Luhan tertawa bersama geng-nya ditambah Jongin dan juga Chanyeol. Mereka begitu indah dan saling memiliki. Sehun bukanlah bagian dari mereka.

Dia lebih suka terlibat bersama Kris, Jongdae, Lay serta Suho karena para senior tidak tahu menahu apa yang dirasakan oleh Sehun. Sebenarnya, dia bersembunyi. Dia takut bertemu Jongin, dia takut berpapasan dengan Luhan namun karena munafik, Sehun selalu memperhatikan Luhan dari kejauhan sembari berharap dia yang diperhatikan tidak akan pernah tahu.

Pernah sekali Sehun melibatkan diri, ketika itu Luhan bertabrakan dengan Kris. Mengakibatkan keduanya terjerumus dalam pertengkaran, melahirkan dendam dalam diri Kris hingga orang yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu merencanakan pembully-an kepada Luhan. Sehun turun tangan untuk memisahkan mereka.

Sejujurnya, saat itu dia bersumpah bahwa keinginannya adalah untuk menarik Luhan tapi akhirnya dia hanya menyeret Kris menjauh karena Sehun kembali memikirkan harga dirinya yang setinggi langit.

Oh, dan satu lagi. Ketika itu dia berlari menyusul Luhan. Menyelamatkan gadis tersebut dari kejaran Kris. Dan ciuman itu terjadi begitu saja… sungguh, dia tidak merencanakannya.

Setelah itu, dia merasa lebih berdosa daripada sebelumnya.

Sehun tahu dirinya dan Jongin bersalah atas kematian ayah Luhan, oleh sebab itu dia tidak berani mendekati Luhan barang 1 inchi-pun. Dia malu. Dia tidak memiliki muka dan dia merasa kotor.

Maaf ?

Ya, Sehun ingin mengatakannya. Tapi dia tidak bisa. Keberadaan Luhan hanya semakin menambah dalam luka dihatinya. Luka akibat kematian Zoumi dan luka akibat kepergian Jongin.

Semuanya seperti bercampur secara rancu ketika Sehun memperhatikan Luhan, jantungnya seakan terbalik dan dia tercekat kehabisan napas. Tanpa tahu apa sebabnya tapi dia yakin bahwa semua itu adalah rasa bersalah.

Sekarang disaat tak ada lagi kesempatan baginya untuk memperhatikan Luhan, Sehun kehilangan fungsi dari tubuhnya. Sulit tidur, sering marah, tidak bisa makan. Mirip gejala orang patah hati tapi sumpah, dia tidak sedang patah hati.

Diteguknya cairan cola sembari merenung dalam kesunyian. Gelembung serta rasa sedikit pahit tidak membuatnya mengernyit, justru dia bersandar pada tembok. Memejamkan mata. Berpikir apakah dia tengah berjuang menyangkal sesuatu seperti rindu didalam hatinya namun dia tidak ingin memikirkan ini lebih jauh lagi. Percuma. Luhan telah lenyap.

Dengan tarikan napas berat, Sehun berderap menyusuri koridor yang tadi ia lalui. Berencana menaiki tangga untuk menenangkan diri di atap sekolah. Berhenti sejenak ketika menemukan Tao bersandar pada pegangan tangga dengan mata kosong. Sehun mengacuhkannya.

Sehun menghela napas lega ketika udara segar menyambutnya di atap, kakinya melangkah santai dengan sekaleng soda ditangan. Ia menyesap cairan berbusa itu sekilas lalu memandangi langit biru sementara sebelah tangan terletak diatas pagar besi.

Deheman ringan memaksa Sehun membalik tubuh, memasang kembali raut es-nya dan tersenyum miring pada seseorang yang duduk pada sebuah bangku beton panjang, melipat kedua tangan dan memberinya tatapan datar.

"Kau bolos ?" tanya Sehun tidak percaya kemudian tertawa remeh.

Kris menggeleng "aku tidak sedang membolos. Kau tahu, terjadi sesuatu yang mengejutkan" lapornya menurunkan bahu lemas. "Apa yang kau rasakan ?"

Sehun mengernyit "Apa ?"

"Apa yang kau rasakan ketika kau berciuman dengan Luhan ?"

Sehun terkena serangan jantung mendadak. Menjilat bibirnya yang tiba-tiba kering "C-ciuman apa ?" sialan, dia gugup.

"Apa kau merasa jantungmu berdetak dengan cepat, kepalamu berputar seperti mabuk, kupu-kupu berterbangan, berdebar-debar, melayang—"

"Hey, Hey" sela Sehun bingung "Kau ini kenapa ?"

"Aku sakit jantung" Kris berdiri menghampiri Sehun kemudian menarik lengan pemuda pucat itu dan menempelkannya pada dadanya. Karena terkejut, Sehun malah meninju dada Kris lengkap dengan rasa kesal. "Nah, jantungku kehilangan akal sehatnya" gumam Kris linglung.

Sehun memandangi teman tingginya dengan alis tertekuk "Kau ingin aku menghubungi dokter keluargamu ?"

"Sudah, aku sudah. Dia akan memeriksa keadaanku nanti"

"Lebih baik kau pulang saja ! Aku tidak mau membopongmu jika tiba-tiba kau pingsan"

Kris memberengut "aku tidak sesekarat itu. Aku mau tidur saja. yeah, tidur" tukasnya berintonasi aneh. Kris berbalik, mengambil posisi berbaring pada bangku beton. Memejamkan matanya, sedetik kemudian mengerang marah karena dia mencemaskan jantungnya yang terus berdetak-detak kurang ajar seolah ingin melompat keluar. Mengkhawatirkan.

Gelagat aneh Kris membuat Sehun penasaran, dia berderap menghampiri Kris. Memilih duduk dilantai dengan Kris berbaring dibelakangnya.

"Kau baik-baik saja ?"

"Ya. Aku baik. Tapi jantungku agak sedikit bodoh dan… ini menyebalkan"

Hening beberapa saat. Sehun menggigit bibir, memikirkan beberapa kosakata kemudian menyusunnya dan mengerang pelan karena kalimatnya terasa sangat menggelikan tapi persetan, Sehun tetap menanyakannya kepada Kris, "Apa kau tahu dimana dia ?" Kris menurunkan lengan dan balik bertanya "Dia siapa ?"

"Dia"

"Siapa ?"

"Pokoknya dia !"

"Pokoknya dia siapa ?"

Sialan ! "Korban bully-mu ! Brengsek !"

Kris melirik Sehun dengan alis terangkat heran, "Jiwa dan ragamu berubah mengenaskan dan kau membentakku seperti ini hanya gara-gara dia ?" tanya Kris tidak percaya.

"Tentu saja tidak !" tukas Sehun sambil menggeleng keras, "Maksudku, itu salah satu penyebab. Tidak, bukan begitu. Maksudku, aku… Oh persetan !" Sehun meneguk colanya dan mengusap wajah kesal. "Katakan saja apa kau tahu dimana dia ?"

Kris menahan tawa geli dengan tingkah panik Sehun, karena tidak tega mempermainkan bocah ini maka ia menjawab jujur, "Well, aku tidak tahu Nak. Beberapa hari yang lalu aku memutari sekolah untuk mencarinya dan tidak ada yang kutemukan kecuali omong kosong Chanyeol. Kenapa kau bertanya padaku, bukankah dia sekelas denganmu ?"

"Aku bertanya padamu karena ingin tahu sudah seberapa jauh kau membully-nya" Oh wow ! alasan yang bagus.

Kris berdehem sedikit curiga. "Aku bahkan belum memberi dia pelajaran samasekali. Oh sialnya, aku tidak pernah merasa segagal ini dalam hal membully"

Sehun meminum kembali colanya sampai tandas. Membuang kalengnya ke dalam tong sampah menimbulkan bunyi buruk rupa selama beberapa detik Sehun lalui dengan berpikir keras dan akhirnya sebuah kalimat yang bahkan tidak diduga oleh Sehun meluncur begitu saja dan amat sangat mulus tanpa hambatan, "Berikan dia padaku"

"APAAA ?!"

"Berikan Luhan padaku"

Kris terkekeh. Menepuk-nepuk bahu Sehun dari belakang. Seolah baru saja mendengar lelucon terlucu di dunia, tawanya semakin keras. Sehun mendengus jengah. "Aku serius. Aku akan menghancurkannya untukmu. Jadi berikan Luhan padaku".

.

.

.

My Higschool, My Love

Juliana Hwang

Rate : T+

Genre : Drama, Romance, Friendship, Family, Hurt/comfort(maybe), Fluff (maybe)

Chapter : 12/?

Warning : GS, School Life, Typo(s)

I DON'T HATE SILENT READER BUT PLEASE REVIEW

Semua cerita merupakan murni hasil pemikiran saya dan saya mohon maaf bila ada kesamaan dalam penulisan cerita. Cerita ini milik saya dan saya meminjam nama EXO sebagai tokoh.

Happy Reading

.

.

.

Tertidur selama 2 jam setelah berdebat adalah sesuatu yang tidak biasa tapi terbangun dengan posisi menyakitkan adalah sesuatu yang lebih tidak biasa lagi.

Kris mengerjap di kursi beton sementara Sehun masih sibuk tertidur dengan kepala diletakkan diatas lengan Kris membuat si pirang melenguh. Dengan teganya menarik lengan ke belakang, alhasil kepala Sehun terbentur kerasnya beton.

"Arghh !" jeritnya mengelus kepala "Setidaknya bangunkan aku dengan cara yang baik"

"Itu cara terbaik yang aku miliki" bela Kris datar.

"Terbaik apanya ! Kau mengancam otakku"

Kris memutar bola mata bosan. Jangan katakan jika mereka akan berdebat lagi. Ayolah Kris sudah mengalah untuk memberikan Luhan kepada Sehun dengan pertimbangan bahwa dia akan mengincar Tao sebagai gantinya. Dan inikah yang dia dapatkan atas kebaikan hatinya, diumpati oleh anak tidak tahu diri macam Sehun.

Jadi inilah cuplikan perdebatan mereka 2 jam yang lalu.

"Aku serius. Aku akan menghancurkan Luhan untukmu"

"Tidak ada penawaran menarik maka tidak akan diterima"

"Jadi sekarang kau mau bermain suap-menyuap denganku ?"

"Sedikit. Lagipula tidak ada jaminan bahwa kau bisa menghancurkannya untukku"

"Kau mau apa ? katakan tapi yang masuk akal"

"Jadi sopirku selama 1 bulan"

"Kris, yang masuk akal"

"Ok, berikan aku nomor ponsel Tao"

"Itu juga tidak masuk akal. Mana punya aku nomor ponselnya !"

"Ya sudah, Luhan untukku saja"

"Baiklah ! Baiklah, kau menang. Aku akan memberikan nomor ponselnya padamu besok. Kau puas ?"

"Belum. Aku juga harus tahu rumahnya, lagu kesukaannya, makanan favoritnya dan—"

"Fuck ! cari tahu sendiri !"

"Luhan untukku"

"Terserah ! kenapa kau tiba-tiba mengincar Tao ? salah apa dia padamu ?"

"Dia menciumku"

"APA ?!"

Jadi itulah yang terjadi dan pada akhirnya mereka tertidur seperti bayi tidak berdosa.

Merasa matahari luar biasa terik, Kris mengecek waktu dan bertanya pada Sehun "Berapa jam kita tidur ?"

Pertanyaan itu terdengar sangat salah.

Tapi Sehun menjawabnya acuh tak acuh seperti biasa "Sangat lama"

"Ayo kita pulang saja. Aku sungguh ingin tidur dikasur" Sehun mengangguk singkat. Mengikuti Kris menuju kelasnya setelah Kris memberi kode bahwa dia akan mengambil tas.

Tapi tiba-tiba Kris berhenti mendadak, Sehun yang berjalan lurus tanpa melihat ke depan menabrak punggung Kris membuat hidungnya kesakitan. Kris mengangkat telapak tangan serta memerintahkan Sehun untuk tidak membuka pintu kelasnya. Mereka memilih berdiri dibalik pintu seperti seorang penguntit.

"Aku sudah sangat lama ingin menanyakan ini padamu. Sudah hampir atau entah lebih dari 1 tahun. Kenapa kau tidak pernah berbicara pada Kris ?"

Ini dia hal yang sangat ditunggu Kris dalam hidupnya.

"Ya, kau sudah sangat lama tidak berbicara pada Kris. Dia bahkan juga tidak tahu kenapa kau mendiamkannya selama itu dan bukankah ini ajaib, dulu kau dan Kris sudah seperti bakpao dengan isi kacang yang saling melengkapi. Kalian duo sahabat yang keren kukira, tapi kalian tidak pernah saling menyapa sekarang"

Sehun tertawa miring ketika suara Jongdae menyebutkan nama makanan sementara Kris memelototi Sehun tidak suka.

"Kau mendiamkan Kris karena Lay ?"

Kenapa Lay harus dibawa-bawa dan kenapa Suho harus mendiamkan Kris karena Lay. Mata Kris membesar ketika sebuah pemikiran tersangkut diotak jeniusnya.

'Apa jangan-jangan'

"Kau menyukai Lay karena itulah kau mendiamkan Kris"

Tepat sekali !

Tangan kekar Kris segera mendorong pintu dengan gerakan santai. Sehun mengikutinya dari belakang, memilih bersandar pada pintu membiarkan 3 orang di dalam ruangan menatap Kris horror.

Sekali lagi Sehun menegaskan bahwa dia tidak mau ikut campur masalah orang lain karena Kris pernah mengatakan bahwa semua orang memiliki masalahnya masing-masing. Jadi dia bertahan di ambang pintu sambil mengawasi jika saja emosi Kris membuncah dan menghabisi Suho yang bangkit berdiri kemudian memandang lurus pada Kris.

Sehun berdecih dengan tindakan Suho karena sunbae-nya itu sedang berhadapan dengan Singa mengamuk. Doakan saja semoga Kris tidak mencabik Suho dengan garang.

Mata tajam Kris menatap Suho dan Lay dengan pandangan meremehkan serta kilatan emosi yang siap meledak kapan saja. "Rendah sekali, jadi kau mendiamkanku karena aku bertunangan dengan orang yang kau sukai" Kris beralih menatap Lay tajam "Dau kau ingin memutuskan pertunangan kita karena kau juga menyukai Suho" ada tawa mengerikan sekaligus menyedihkan disana.

"Hidupku terlalu banyak kejutan. Pertama ayahku menikah tanpa persetujuanku kemudian memaksaku bertunangan dengan Lay. Kedua, sahabatku menjauhiku dan ketiga tunanganku berkhianat padaku. Aku tidak sabar menanti kejutan keempat, mungkin saja ibu tiriku hamil sekarang dan aku akan punya adik. Hey, jangan tegang begitu ! Aku hanya ingin memuji betapa hebatnya kalian karena telah berhasil membodohiku. Brengsek !"

Jongdae mencoba menjelaskan sambil bangkit berdiri demi menghampiri Kris dan meluruskan pernyataannya "Kris, aku tidak bermaksud mengatakan jika Suho—"

"Diam disana !" mulut Jongdae terkatup rapat ketika Kris memotong perkataannya dengan nada sinis "Puisi di kamar Lay itu darimu ?" tanya Kris dengan nada bengis.

"Bagaimana kau bisa tahu puisi dikamarku ?"

Kris tertawa sumbang "Apa kau lupa ? aku ini tunanganmu dan kita sudah tidur bersama. Kau pikir apa yang tidak kuketahui tentangmu ?"

"Tapi kita tidak melakukan apapun" jerit Lay panik. Seringai Kris semakin lebar "Ternyata kau membela diri. Sudah sangat jelas jika kau menyukai Suho disini dan bagus sekali karena Suho juga menyukaimu"

Suho mengeratkan giginya sementara Kris kembali memicingkan mata pada Suho, aura kebencian menguar dari 2 pemuda yang sebenarnya bersahabat itu. Lay sibuk mengurut dahinya, siapa yang harus dia seret disaat genting seperti ini. Sungguh dia tidak ingin suatu perkelahian terjadi apalagi itu melibatkan namanya dan yang pasti akan semakin menghancurkan persahabatan mereka.

"Aku tidak menyukai Yixing" semua orang disana terhenyak dengan nada bicara Suho yang begitu menusuk. Bahkan Sehun mulai tertarik. "Tapi aku mencintai Yixing"

Jika ada bom nuklir disini pastilah bom itu sudah meledak habis-habisan. Jongdae mengusap wajahnya kasar karena Ya Tuhan….. Suho menuangkan minyak kedalam kobaran api. Lay shock dengan penuturan lurus Suho jadi dia mencengkeram lengan Jongdae dengan tenaga super kuat, Lay gemetar dan Jongdae menyadari itu sepenuhnya.

"Kau mencintai tunanganku ?" tanya Kris dengan menekankan sebuah nada dingin pada kata tunanganku. "Kau bahkan memusuhi sahabatmu sendiri hanya gara-gara perempuan" bibir Kris tersenyum miring, "Coba perlihatkan padaku apa yang bisa kau lakukan untuk merebut Lay dariku. Dan Lay !" Kris menoleh pada tunangannya yang berpegangan pada Jongdae, "Aku menolak permintaanmu untuk memutuskan pertunangan kita" tegas Kris kemudian menggapai tasnya lalu pergi beriringan bersama Sehun.

Lay jatuh berjongkok sambil meremas wajahnya, Jongdae panik karena wajah Lay kembali memucat padahal dia tahu jika kemarin Lay sudah bening menetes dari celah jari Lay membuat dada Jongdae terenyuh, sekuat apapun perempuan, sehebat apapun perempuan.. mereka tetaplah makhluk yang memiliki perasaan selembut sutera. Akan segera rusak meskipun hanya mendapat goresan kecil dan Jongdae tahu bahwa Lay menahan dirinya untuk tidak menjerit putus asa.

"Kau akan tetap diam disana seperti seorang kriminal atau kau mau memperjuangkan cintamu" kata Jongdae pada Suho dengan suara keras. Membuat Suho yang semula termenung akhirnya sadar kemudian menghampiri Lay.

Suho tidak tahu dari mana keberanian serta rasa nekat itu muncul ketika dia dengan serius merengkuh Lay ke dalam sebuah pelukan, membiarkan Lay menumpahkan seluruh air matanya disana.

Jongdae hanya membuang napas berat. Dia tengah memikirkan perkataannya sendiri 'kau akan tetap diam disana seperti seorang kriminal atau kau mau memperjuangkan cintamu'. Bibir Jongdae tersenyum pahit, bukankah kata-kata itu juga sangat pas untuk dirinya atau bahkan otak Jongdae menyusun kalimat tersebut untuk menampar akal sehatnya sendiri. Suho yang tahu jika orang yang dicintai sudah bertunangan saja berani mengambil resiko semengerikan ini. Tidak hanya menghadapi 2 orang, tapi 2 keluarga dari kaum elit sekaligus. Jongdae menjepit hidungnya, ngeri.

"Kris tidak mencintai Lay. Berjuanglah kalian berdua" kata Jongdae menyemangati meski ia tidak tahu apakah tindakannya ini bisa dimaafkan oleh keluarga Zhang dan juga keluarga Wu atau tidak, dia hanya ingin sahabatnya bahagia dan semoga saja Kris menemukan cintanya agar pemutusan pertungannya dengan Lay tidak membawa dampak buruk. Tapi tetap saja, semua ini begitu tak terduga serta memusingkan kepala.

"Aku harus mencari Xiumin" putusnya bangkit berdiri kemudian berlari keluar kelas.

"Maafkan aku" bisik Suho lirih diantara sunyinya kelas mereka yang hanya menyisakan Suho dan Lay "maaf telah menyebabkan masalah ini. Maaf karena aku harus mencintaimu" akhirnya beban seberat bola Bumi telah terangkat dari bahu seorang Kim Joonmyeon. Hatinya mendadak dipenuhi perasaan lega namun perih disaat bersamaan setelah akhirnya kata sederhana itu mampu meloloskan diri dari penjara yang sudah dibangunnya kuat-kuat didalam hati.

Sementara itu, Lay melepaskan rengkuhan Suho secara paksa. Dia bangkit berdiri dengan gerakan berantakan kemudian membongkar seluruh isi tasnya. Mata Suho membulat ketika Lay memungut liontin pemberiannya dan menggenggamkan benda itu pada tangan Suho.

"Itu darimu ?" tanya Lay dengan nada dingin, pipinya masih bercucuran air mata. Dia segera menghapusnya karena air mata terkutuk itu terasa sangat memalukan.

Suho mengangguk, ikut bangkit berdiri menghadap Lay yang memandangnya dengan sorot mata kelam.

"Puisi-puisi itu juga darimu ?"

"Hmm, dariku" jawabnya dengan gumaman rendah. Lay berada dalam persimpangan tangis dan tawa, bagaimana mungkin dia tidak tahu jika semua itu dari Suho sementara Kris saja sudah menyadarinya. Sejak kapan dia berubah menjadi manusia bodoh ?

"Kau mencintaiku ?"

"Sangat mencintaimu" suara mantap Suho terdengar lembut sekaligus bergetar namun entah kenapa semua masih sangat mustahil dan tidak bisa dipercaya.

Lay menatap Suho dengan hati kalut, dia sudah kacau. "Sejak kapan ? kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku ?"

"Tidak ada gunanya juga aku mengatakannya padamu"

Jantung keduanya mencelos rusak, bersimbah darah.

"Sekalipun aku mengatakannya jutaan kali, kau tetap tunangan Kris dan aku hanya orang bodoh yang mencintai tunangan sahabatnya. Kau bisa melihatnyakan ? aku telah mengacaukan semuanya dengan pernyataan tidak bergunaku. Tapi, aku lega karena sudah mengungkapkannya dan kau cukup melupakannya karena aku tidak menuntut untuk memilikimu"

Melupakannya ?

Semudah itu ?

Adakah yang lebih sadis dari itu ? Shit ! Lay ingin menghilang saja.

"Kau pengecut" geram Lay emosi "Semudah itu kau menyuruhku melupakannya ?"

Rahang Suho mengeras seiring dengan pikiran-pikiran tidak masuk akal yang berlalu-lalang dalam otaknya. Dia butuh udara segar jadi Suho berbalik tanpa menjawab apa yang ditanyakan Lay padanya. Suho merasa hatinya sangat aneh dan begitu hampa, dia tidak suka ini. Dia tidak mau mengkhianati Kris lebih parah lagi. Sudah cukup dia menjadi brengsek !

"Aku mencintaimu" jerit Lay dari belakang punggung Suho, untungnya Lay tidak tahu jika Suho tersenyum pahit sekarang sembari meremas liontin dalam genggaman tangan gemetarnya. "Aku sungguh mencintaimu" tambah Lay lagi dengan nada putus asa.

Tangan Suho yang lain mencengkeram kenop pintu dengan kuat seakan dia ingin menghancurkan benda itu menggunakan kekuatan tangannya "Sekarang aku sudah tahu dan terimakasih" sahut Suho pelan "Aku tidak mau memperjuangkan apapun untuk bersamamu karena aku tahu bahwa kita tidak akan bisa bersama dan selamanya tidak akan pernah bisa"

"K-kenapa ?" Lay bertanya dengan suara tersendat menyedihkan.

"Tentu saja karena kau adalah milik Kris dan aku tidak memiliki kemampuan untuk memilikimu" ungkap Suho sementara jantung remuknya sudah jatuh ke dalam lambung.

"Berhenti disana !"

Suho mengacuhkan perintah Lay kemudian membuka pintu.

"Kubilang berhenti disana Kim Joonmyeon !"

Maaf. Rapal Suho dalam hati kemudian menutup pintu kelasnya rapat-rapat. Sebenarnya Suho juga berusaha menutup hatinya dan membuang jauh-jauh cintanya pada Lay, tapi dia sungguh tidak bisa dan ketidaksanggupannya justru menyiksa dirinya sendiri dan tentunya menyiksa orang yang ia cintai. Dia telah mendapatkan hari terindah sekaligus terburuk dalam hidupnya.

.

.

.

-My High School, My Love-

.

.

.

Katakan pada siapapun yang lewat untuk menampar wajah Jongdae dengan kursi atau meja saja karena kursi terlalu ringan untuk menyentak otak tidak beres manusia ini.

Dia bilang apa tadi ? ingin mencari Xiumin ?

Bullshit ! nyatanya dia hanya duduk bertopang dagu dimeja kantin ditemani gumaman sedih tidak penting dari Jongin membuat Jongdae menyumpahi agar mulut itu segera berbusa dalam beberapa detik.

"Kau ingin diam dengan kesadaran sendiri atau kau ingin aku meninju wajahmu agar kau diam" Jongin mengatupkan mulutnya. Agak ngeri. Jongdae dalam mode monster memang mengerikan jadi Jongin memutuskan untuk meraih jus jeruknya namun kebiasaan menjengkelkan Jongdae sedang kumat, jus jeruknya sudah tandas dengan cara minum Jongdae yang sangat brutal nyaris barbar.

"Bagaimana kau dengan Luhan ?" tanya Jongdae setelah menelan jus jeruk tanpa rasa dosa. Jongin mengelus dada.

"Dia marah padaku dan dia tidak ada dirumah. Aku mencarinya kemarin, dia sungguh tidak ada. Bagaimana caraku mencarinya sementara ponselnya mati dan aku terus menunggu, menunggu, menunggu dan dia tidak juga menghubungiku. Kenapa dia bisa pergi dari rumah ? kenapa dia bisa tidak ada dirumah dan aku tidak tahu kenapa dia harus pergi ke—" alis Jongdae terangkat ketika cara bicara Jongin terus berputar-putar tidak jelas. Dia menjitak kepala Jongin agar otak encernya bisa digunakan kembali.

"Bicara yang benar !"

Jongin mendesah kemudian menjatuhkan wajahnya di meja, sedikit meringis ketika karya Sehun diwajahnya kembali terasa perih.

"Sebenarnya kau menyukai Luhan atau tidak ?" Jongin terhenyak. Seketika duduk dalam posisi tegak kemudian menatap tajam pada Jongdae yang memasang raut datar. Jongin tidak suka pembicaraan seperti ini.

"Itu tidak penting" sergah Jongin mengibaskan sebelah tangan.

Entah kenapa Jongdae melihat sesuatu yang berbeda dalam mata anak hitam ini "Kau tidak menyukai Luhan ?"

"Aku menyukainya"

"Jangan bohong !"

"Aku benar-benar menyukai Luhan dan aku samasekali tidak berbohong. Aku mencintainya"

"Jadi kau mencintainya ?" nada Jongdae terdengar mengejek. Jongin mengumpat kesal didalam hati.

"Tentu saja aku mencintainya. Hyung kira kenapa aku terus mengejarnya selama 2 tahun jika aku tidak mencintainya ?"

"Kau tidak terlihat seperti kau mencintainya"

"Lalu ?" tanya Jongin setengah emosi.

"Kau seperti merasa bersalah dan aku bisa melihat jika kau tidak mencintainya"

Mirip dengan yang dikatakan Sehun.

Cukup sudah !

Jongin menggeram, menghempaskan telapak tangannya pada permukaan meja kemudian melenggang pergi tanpa mau meladeni pernyataan memuakkan Jongdae atau Jongin memang muak pada dirinya sendiri.

Kepalanya hanya dipenuhi Kyungsoo, Kyungsoo, Kyungsoo, Sehun dan juga Luhan. Kenapa Kyungsoo harus 3 ? batin Jongin mengamuk. Sialnya Jongin malah berpapasan dengan Kyungsoo dipintu keluar kantin, dia buru-buru membuang muka sementara Kyungsoo hanya menatap datar padanya. Padahal keduanya sudah nyaris menangis seperti bocah berusia 5 tahun.

Kyungsoo yang baru saja memasuki kantin bersama Baekhyun segera menyusul Xiumin, Tao dan Chanyeol serta teman sekelas mereka yang lain.

"Tumben kalian tidak saling menggigit" komentar Tao pedas seperti biasa. Aura usilya sudah kembali dan Xiumin mensyukuri itu karena Tao yang galau sungguh tidak sedap dipandang.

"Aku hanya takut jika si pendek ini terjatuh ketika meminta obat di ruang kesehatan. Jadi aku menemainya"

"Baekhyun, jangan cari gara-gara. Aku sedang tidak ingin berkelahi" kata Kyungsoo setengah jengkel.

Chanyeol yang tahu bahwa Baekhyun dan Kyungsoo akan bergabung segera menyiapkan kursi kosong serta memenjara jantungnya agar tidak melompat keluar. Melihat Baekhyun melangkah seanggun itu sungguh membuat Chanyeol tercengang.

"Ya ! Park Chan ! liurmu hampir menetes. Ew" Tao memasang tampang jijik. Chanyeol merengut.

"Baekhyunie, duduk disini. Disampingku. Bersandinglah denganku" pintanya berlagak sok pangeran sembari menepuk bangku kosong disampingnya. Baekhyun hanya mengerutkan alis, tetapi didalam hati tengah menahan senyuman. Namun karena gengsi, dia mengendikkan bahu kemudian menarik kursi yang lain.

Xiumin, Tao serta Kyungsoo menyeringai setan.

Chanyeol tersapu ombak lautan. Dia baru saja ditolak.

Sementara itu, Jongdae yang duduk sebatangkara hanya menatap sendu pada Xiumin dimeja seberang. Dia hanyalah seonggok manusia tidak berguna tanpa Suho, Lay, Kris, dan Jongin atau terkadang Sehun yang duduk semeja dengannya dikantin. Sekarang teman-temannya itu entah pergi kemana. Tapi Jongdae sangat lapar sekarang dan dia tidak bisa makan dimeja sendirian, dia mulai menyesal kenapa harus berdebat dengan Jongin beberapa menit lalu menyebabkan adik hitamnya itu mengamuk lalu pergi begitu saja.

Apa yang harus aku lakukan ?

.-00-.

"Ohookk !" Xiumin tersedak secara tidak elit ketika seseorang yang sangat berbahaya untuk kesehatan jantungnya duduk tenang diruang kosong disamping Xiumin lengkap dengan menggenggam sumpit dan sendok ditangan.

"Aku tidak bisa makan sendiri jadi aku duduk disini. Jangan melihatku seperti itu !" gertak Jongdae ketika Kyungsoo memberondongnya dengan tatapan membunuh.

"Banyak kursi kosong disini. Itu disamping Chanyeol kosong, disamping Baekhyun juga kosong kenapa kau duduk disamping Xiumin ?"

"Apa salahnya duduk disini. Iyakan Xiumin ?" kata Jongdae mulai melahap makan siangnya setelah melempar senyum pada Xiumin dalam beberapa detik. Membuat jantung Xiumin melakukan lari maraton dengan kecepatan 600 km/jam. Cinta membuat seseorang tidak waras.

Kyungsoo manggut-manggut lalu menyendok makan siangnya "Kau sudah mulai rupanya"

Jongdae mengangguk semangat, nyaris tersedak namun bisa diatasi dengan baik "Aku sudah dan kau belum" Jongdae menunjuk Kyungsoo dengan sumpitnya "Kau tahu, dia tadi marah padaku"

"Kenapa dia bisa marah padamu ?"

"Aku hanya mencoba berbicara dengannya tapi dia marah padaku. Emosinya sungguh buruk akhir-akhir ini"

"Benarkah ?"

"Ya, dia bahkan membentakku"

"Nikmati saja" jawab Kyungsoo tidak peduli.

XiuTaoBaekChan hanya melongo parah karena tidak tahu apa yang tengah dibicarakan Kyungsoo bersama Jongdae. Mereka mengendikkan bahu kemudian lanjut makan, lalu tersedak secara tidak elit ketika Jongdae dengan gamblang menyumpit udangnya lalu menaruh makanan enak itu kedalam nampan Xiumin.

Kyungsoo menganga parah, baru tersadar ketika Baekhyun menyuapinya dengan udang kemudian Kyungsoo tertawa lebar mendapati pipi Xiumin merona merah muda.

"Aku tidak suka udang" kata Jongdae bahkan sebelum Xiumin sempat bertanya. Seringai Kyungsoo melebar dari telinga ke telinga.

"Modus. Uhukk uhukk !" ejek Kyungsoo jahil "kau seperti monster kelaparan ketika menemukan udang diatas meja makan dan sekarang tiba-tiba tidak suka udang"

Jongdae melotot pada Kyungsoo namun si perempuan hanya membalas dengan seringai jenaka. Sebenarnya agak sepi disini karena Luhan tidak ada, tapi Kyungsoo tidak ingin sedih berlebihan karena mungkin saja Luhan sudah bahagia di China. Namun, Kyungsoo berharap semoga saja Luhan masih berada di Korea dan kembali diantara mereka. Mengisi kekosongan akibat tempat yang Luhan tinggalkan secara mendadak. Semua merasa kehilangan.

Xiumin mencuri-curi pandang pada Jongdae yang duduk disampingnya. Sesekali tatapan mereka berdua bertubrukan dan Xiumin akan berpura-pura batuk atau membuang muka. Jongdae tersenyum, tanpa sengaja Jongdae menemukan Baekhyun menyendok makan siangnya tanpa gairah. Sorot matanya begitu gelap. Sekarang Jongdae tahu kenapa Lay takut dengan mata Baekhyun karena pandangan mata itu begitu dingin dan entah kenapa, memilukan.

Jongdae menggelengkan kepala, melahap makan siangnya dengan gerakan cepat. Mengangkat nampannya dari meja, melempar wink kepada Xiumin kemudian melangkah pergi. Xiumin yang mendapat wink dari Jongdae hanya tersenyum-senyum malu sementara Kyungsoo serta Tao sudah menyorakinya habis-habisan.

"Kau tahu" teriak Jongdae dari kejauhan, membuat murid-murid disana menoleh pada Jongdae "Aku tidak berkencan dengan Lay. Dia sahabatku" kemudian dia benar-benar pergi. Pipi Xiumin sudah sepanas matahari.

Pendekatan pertama sukses !

.

.

.

-My High School, My Love-

.

.

.

Langkah kaki gusar menggema dalam mansion mewah keluarga Wu. Siapa lagi pelakunya jika bukan si putra tunggal Wu Yifan. Leeteuk yang ketika itu sibuk menyiapkan makan siang bersama beberapa maid didapur segera menghampiri Kris diruang utama. Wanita itu mengecek waktu sekilas "Apa terjadi sesuatu Kris ?" tanya Leeteuk khawatir karena raut wajah putranya sungguh muram durjana.

"Tidak ada" sahut Kris ketus menaiki tangga. Pemuda itu berhenti melangkah, berhenti secara total ditengah tangga menuju lantai 2 ketika potret seorang wanita yang tertempel di dinding menarik perhatiannya.

Kris memandangi foto itu sangat lama, ibu kandungnya. Hanya wanita itulah yang mampu menenangkan Kris, karena itu Kris terlalu menyayangi perempuan yang telah memberinya kehidupan. Meskipun hidupnya kini masih jauh dari kata sempurna, Kris berusaha mensyukuri itu. Kris tertawa miris ketika air matanya nyaris menetes, dia menjadi sangat cengeng ketika merindukan ibunya.

"Kau merindukannya Kris ?"

Suara lembut Leeteuk mampu membuat punggung Kris menegang untuk sementara. Suara wanita itu sangat mirip dengan suara milik mendiang ibunya dan Kris sangat benci jika dia harus mengakui itu meskipun hanya dalam hati.

"Nyonya Wu terlihat sangat cantik dan maaf karena aku harus ada disini" ungkap Leeteuk sedih.

Kris mendesah keras.

"Kenapa kau harus minta maaf sementara kau sudah berhasil merebut posisi Ibuku sebagai Nyonya Wu disini, seharusnya kau senang"

"Aku tidak bermaksud melakukan itu Kris. Sungguh, dan aku menyayangi keluarga ini"

"Lalu bagaimana dengan keluargamu ? Apa kau punya keluarga yang lain ?"

Leeteuk menunduk, bayangan wajah Luhan membangkitkan kembali perasaan bersalah berkali-lipat lebih besar dari sebelumnya.

"Dengar Nyonya Xi Leeteuk !" gertak Kris geram "Terserah kau punya keluarga lain atau tidak. Aku bahkan tidak mau peduli tentang itu dan aku tidak mau peduli siapa kau sebenarnya. Kau hebat karena berhasil masuk ke dalam keluargaku tapi kau tetap orang asing bagiku. Kau tidak akan pernah bisa menjadi Ibu disini. Kau bukan siapa-siapa"

"YIFAN !" Kang In yang baru pulang dari kantornya untuk makan siang dirumah segera membentak marah. Kris berdecih tidak suka.

"Lihat ! kau juga sudah merebut Ayah dariku… Apa kau masih belum puas menghancurkan hidupku ? Kenapa kau tidak pergi saja sialan !" kepalan tinju Kris menghantam dinding beton didepannya. Menyebabkan tulang pada tangannya bertabrakan dengan kerasnya beton.

Tes

Tes

Tes

Darah mengalir dari sana sementara Kris membiarkan kepalan tinjunya tetap menempel pada dinding "Kau membiarkan Ibu mati Ayah, kau membiarkan Ibu mati untuk menikahi orang ini bahkan tanpa persetujuanku. Aku tidak penting dikeluarga ini, karena itu—" mata elang Kris menatap tajam pada aliran darah ditangannya "Karena itu kau menjodohkanku dengan Lay. Kau ingin aku cepat menikah agar aku segera menyingkir dari rumah ini. Ayah kira aku tidak tahu apapun huh ? aku tahu Ayah.. aku tahu jika aku tidak diharapkan disini"

"Kris kau salah. Dengarkan—"

"JANGAN MENYEBUT NAMAKU DENGAN KRIS ! JANGAN KOTORI PANGGILAN YANG DIBERIKAN IBU PADAKU !"

"Leeteuk menyayangimu Yifan" ucap Kang In kelewat lembut, Kris melotot tajam "Tidak bisakah kau menerimanya ? ini sudah 5 tahun"

"Ini baru 5 tahun" sela Kris dengan tawa memilukan "Apa kalian yakin bisa mengatasi kebencianku seumur hidup ? aku tidak akan pernah menerima perempuan ini sebagai ibuku bahkan sampai aku mati !" teriak Kris menusuk kemudian berjalan menuruni tangga. Rumah besar ini hanya membuat dadanya sesak. Kris berdecak sebal ketika Leeteuk menggenggam lengannya, "Apa lagi !" bentak Kris kasar.

"Biarkan aku mengobati lukamu" wajah Leeteuk menyiratkan kekhawatiran dimana hal tersebut malah membuat Kris semakin membencinya karena lagi-lagi perhatian wanita ini sangat mirip ibunya.

"Tidak perlu" sanggah Kris menghempaskan tangan Leeteuk kasar. Dia berjalan keluar rumah dengan perasaan kesal. Apalagi masalah Suho dan Lay membuat kepalanya semakin berdenyut menyebalkan. Tidak bisakah dia hidup indah sehari saja. Tanpa pertentangan dengan orang tuanya dan tanpa waktunya yang terus tersita hanya untuk memikirkan alasan kenapa Suho memusuhinya dan ternyata si sialan itu menyukai Lay. Tolong lemparkan batu pada kepala Kris karena sebentar lagi otaknya akan meledak atau biarkan dia mengubur diri ke dalam tanah untuk memeluk ibunya.

Kemudian mati.

.

Chanyeol merenggangkan tubuh lega ketika bel tanda akhir jam sekolah berteriak nyaring. Dia tersenyum pada para anggota OSIS, merapikan kertas-kertas berisi data para siswa yang akan mengikuti Festival Olahraga Nasional beberapa minggu mendatang.

Dipandanginya hasil dari rapat dengan senyum puas. Chanyeol adalah ketua OSIS sejak beberapa bulan lalu, menggantikan posisi yang sebelumnya dijabat oleh Lay.

Betapa kerennya seorang Park Chanyeol, sudah tampan, jago basket, cerdas dalam pelajaran, hebat memainkan alat musik, happy virus lagi. Coba jelaskan kurang apa lagi dia hingga Baekhyun selalu mengacuhkannya. Sangat menyedihkan.

"Rapat yang sukses ketua" ucap sekertaris OSIS kemudian pamit pulang lebih dulu sementara Chanyeol dengan beberapa temannya masih sibuk membersihkan ruang OSIS. Chanyeol melirik jam tangannya, dengan sangat menyesal berpamitan lebih dulu karena dia harus melakukan sesuatu.

Dia berdiri di gerbang sekolah ketika seluruh siswa Wufan Highschool berhamburan keluar. Sebagian besar dijemput oleh sopir pribadi keluarga dan banyak juga yang mengemudikan mobil sendiri.

Dari kejauhan, Chanyeol menangkap sosok Baekhyun melangkah beriringan dengan geng barunya. Fans Baekhyun mengekor dibelakang membuat dada Chanyeol terbakar tapi bibirnya mengulas senyum tampan.

Baekhyun rasa dirinya hampir meledak mendapati sosok Chanyeol bersandar pada gerbang sambil mengetukkan kaki ke tanah seolah tengah menunggu seseorang. Sebelah tangan masuk ke dalam saku dan ya ampun, dia tersenyum tampan sekali. Baekhyun sudah sangat kesepian karena tidak ada Chanyeol di kelas selama pelajaran terakhir jadi sekarang dia mendapati hatinya berteriak senang karena akhirnya melihat Chanyeol.

Senyum Chanyeol semakin lebar seiring dengan langkah geng Baekhyun yang semakin dekat dan dekat, Chanyeol menghadang jalannya.

"Apa kau ingin jadi preman sekolah" cibir Tao jengkel. "Minggir !"

"Tidak akan" sahut Chanyeol dengan cengiran. Pandangannya bertemu dengan Baekhyun, membuat si artis menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan kembang api yang berhamburan didalam jantungnya. Sensasi mengerikan.

Tiba-tiba Chanyeol mengeluarkan tangannya yang semula bersembunyi di belakang punggung. Menyodorkan setangkai bunga mawar merah kepada Baekhyun. Hal tersebut membuat Baekhyun panas, apalagi seluruh siswa memekik girang dengan apa yang Chanyeol lakukan semakin menambah semarak kembang api yang meledak didalam dirinya.

Baekhyun tertegun, tidak menyangka akan secepat ini. Semanis ini dan se-ekstrim ini.

Mendadak teringat dengan omelen khas manajernya 'Baekhyun, jaga image. Kau adalah artis yang hot'.

Oh sial !

Jantungnya berdetak lagi, lebih gila dan lebih tidak masuk akal. Tapi Baekhyun tidak akan membiarkan dirinya goyah. Chanyeol sudah membahayakan dirinya dengan tindakan ini. Sejujurnya Baekhyun tengah berjuang melawan perasaannya. Digigitnya bibir dengan cemas, sekumpulan siswa masih menjerit histeris. Bahkan XiuKyungTao menganga tanpa sanggup berkata-kata.

Chanyeol sungguh sesuatu.

"Mau menerima bunga ini ? Aku penggemarmu. Nomor 1" Chanyeol tersenyum.

Baekhyun berusaha keras memasang wajah datar tapi dia malah tersenyum. Aduh, bagaimana ini.

"Terima saja" Kyungsoo terkikik setan. Entah sejak kapan dia sudah berada disamping Chanyeol dan mendorong-dorong punggung si pemuda.

Chanyeol semakin menyodorkan bunganya, sinar kamera menyambar-nyambar bagai petir. Panas dari bawah kulit merambat merayapi pipinya, Baekhyun panik. Untung saja mobil ayahnya datang tepat waktu, jadi Baekhyun berlari cepat menuju mobil. Segera melompat kedalam dan menutup pintunya.

Meninggalkan Chanyeol beserta setangkai bunga mawar yang terabaikan.

"Baekhyun ! aku tidak akan menyeraaaaahh !" teriak Chanyeol tersangkut pada dahan-dahan kering.

Menyedihkan.

"Heol, kau seorang fans yang mengenaskan" cibir Tao pedas membuat Chanyeol merengut.

"Tontonan berakhir.. tontonan berakhir. Kalian bisa bubar !" teriak Xiumin mengusir kumpulan siswa yang kecewa berat karena Baekhyun tidak menerima bunga dari Chanyeol. Sebagaian dari mereka mengumpati Baekhyun dan sebagaian lagi mengumpati Chanyeol.

Ayolah, Chanyeol juga terkenal disini semenjak menempeli Kris menyerupai lintah, apalagi kenyataan bahwa sekarang dia adalah ketua OSIS membuat Chanyeol dianugerahi gelar idola sekolah. Bahkan fans-nya membuat club khusus untuk Chanyeol, jatuh cinta padanya tapi Chanyeol hanya jatuh cinta kepada Baekhyun seorang.

"Aku tidak akan menyerah" kata Chanyeol meninju udara dengan semangat api. Xiumin hanya geleng-geleng kepala dan Kyungsoo menggandeng lengannya.

"Kita pulang saja atau mereka akan semakin mempermalukanmu. Ck, bodohnya kau Chanyeol. Lihat internet hari ini dan wajahmu pasti muncul disana"

Chanyeol nyengir "Well, dengan begini aku dan Baekhyun akan terkenal sebagai pasangan paling sempurna sepanjang masa"

"Apa kau sedang bermimpi" Kyungsoo mencubit lengannya "Bangun sekarang Park Chan ! Baekhyun adalah artis dan kau hanya rakyat jelata"

Chanyeol memberengut kesal, membuang tangan Kyungsoo yang melingkari lengannya, "Ya Tuhan, aku tidak serendah itu Kyung. Asal kau tahu, aku ini Pangeran. PA-NGE-RAN"

XiuTaoKyung ricuh mencari kantung muntah.

.

Apa yang dipikirkan Kris ketika duduk merenung ditaman seorang diri adalah— tidak ada.

Dia hanya menatap kosong pada pepohonan disekitar taman sambil sesekali tersenyum iri pada anak-anak kecil dalam gandengan orang tua mereka.

Kalian bahagia dan aku tidak. Sedih Kris semakin iri.

Luka ditangannya juga cukup parah, terkadang Kris meringis ketika tulangnya berdenyut nyeri. Untungnya dia membawa sapu tangan untuk menyeka aliran darah yang mulai mengering. Dia tidak mau dikira psikopat karena berkeliaran dengan tangan bercucuran darah. Apalagi sampai dikira pembunuh bayaran, sangat tidak bagus.

Terik matahari diatas kepalanya berangsur-angsur lenyap membuat Kris terpaksa mengecek waktu. Jam 4 sore. Sudah berapa lama dia menjadi idiot disini.

Setelah meneguk cairan colanya yang terakhir, Kris memutuskan untuk pergi dari taman. Tempat indah itu bisa berubah jadi neraka jahanam karena Kris iri setengah mati pada anak-anak yang bermain bersama Ibu mereka.

Langkah Kris terkesan tanpa gairah dan gontai. Lambungnya berteriak-teriak sepanjang jalan, Kris baru ingat jika dia belum memasukkan apapun kedalam perutnya kecuali sekaleng minuman berbusa yang barusan dia telan.

Seorang perempuan berambut cokelat familiar yang berjalan tidak jauh dari Kris menarik perhatiannya karena perempuan tersebut sangat mirip dengan Luhan. Apalagi ransel merah marun milik perempuan itu semakin membuat Kris yakin untuk melupakan teriakan perutnya. Perempuan mirip Luhan itu memiliki langkah sama dengan Kris, gontai serta terlihat lelah seperti dia baru saja mengelilingi benua Amerika dengan berjalan kaki.

Kris mulai mencemaskan penglihatannya sekarang. Jadi dia menjambak rambutnya.

Kris mengibaskan tangan tidak peduli kemudian melangkah lagi. Terkejut ketika kakinya berhenti didepan café yang dia berikan kepada Lay ketika bertunangan sekitar lebih dari 1 tahun silam.

Mata Elang Kris menelusup ke dalam café, mencari-cari apakah Lay ada didalam dan dia menemukannya. Senyum Kris terkembang lega mendapati sahabat sekaligus tunangannya itu nampak ceria seperti biasa.

Setidaknya, Kris masih memiliki seseorang yang mampu menenangkannya selain Ibunya.

.

.

"Apa yang kau lakukan disini ?" tanya Lay tidak percaya setelah Kris muncul dicafenya dengan penampilan berantakan, mata merah dan tangan terluka. Apalagi Lay masih belum siap jika harus bertemu dengan Kris setelah perseteruan tunangannya dengan Suho telah terungkap "Hey, apa yang terjadi pada tangan—"

Perkataan Lay terhenti begitu saja saat Kris tiba–tiba memeluk tubuhnya.

"Biarkan seperti ini. Sebentar saja"

.

.

.

-My High School, My Love-

.

.

.

Chanyeol memandangi layar TV datar -nya dengan pandangan yang sulit diartikan. Terkadang dia membuang napas keras, terkadang juga menatap tajam pada layar TV-nya seolah TV itu telah melakukan dosa besar padanya.

Kemudian dia membanting remote ke samping lalu beranjak dari sofa untuk mencari minuman apapun yang bisa melunturkan perasaan dongkol dihatinya.

Ayah Chanyeol, Eunhyuk yang ketika itu baru pulang dari tugasnya di Kantor Polisi Distrik Sungai Han nampak geram dengan siapa yang muncul dilayar TV.

Dia memungut remote kemudian menekan tombol off dengan tenaga penuh, bertindak seakan ingin menghancurkan benda tidak bersalah tersebut.

"Kenapa kau suka sekali melihat Baekhyun ? ayah sudah memperingatimu Chanyeol"

"Aku sudah tidak suka lagi jadi terimakasih karena telah mematikan TV-nya" jawab Chanyeol dari dapur.

"Bagus kalau begitu" sambut Eunhyuk dengan nada datar. "Dimana ibumu ?"

Chanyeol mengangkat bahu cuek, puas setelah membasahi tenggorokan dan melihat ayahnya telah menghilang dari ruang TV. Dia mengendap-endap, kembali lagi duduk ke sofa kemudian menyalakan TV. Mengecek apakah adegan romantis Baekhyun dengan lawan mainnya sudah terlewati atau belum. Dan ternyata belum.

Sialan !

Baekhyun malah berpelukan dengan lawan mainnya dan berhubung sang actor sangaaaaattt tampan, jadi Chanyeol menggigit remote TV-nya dengan api bermunculan dari balik punggung.

Cemburu tingkat dewa.

Setelah adegan berpelukan yang begitu membakar jiwa selesai, sang actor melepaskan pelukannya dengan Baekhyun. Mengeluarkan bunga mawar merah, menyodorkan bunga tersebut pada Baekhyun dengan gaya yang sama dengan Chanyeol sepulang sekolah tadi.

Bibir Chanyeol mengulas smirk tipis "Tolak bunganya. Jangan diterima ! Jangan diterima !"

Tapi Baekhyun malah memeluk kembali sang actor kemudian menerima bunga mawar tersebut dengan mata berkaca-kaca. Bertingkah seolah 2 orang itu saling mencintai begitu dalamnya. Dunia adalah milik mereka dan Chanyeol hanya seonggok sampah tidak berguna.

Chanyeol serasa ingin mati. Bahunya jatuh lemas setelah membanting remot TV dengan kekuatan phoenix. Berapi-api !

"Aku kacau !"

.-00-.

"Kau membawa 2 buket bunga ? Krisan ?" tanya Hyoyeon pada Baekhyun ketika mereka melangkah beriringan di area pemakaman. Baekhyun tersenyum kemudian mengendikkan bahu.

Hyoyeon mengerutkan kening heran karena Baekhyun berjalan lurus melewati makam ibunya kemudian melewati makam tanpa nama dan malah berhenti dimakam lain. Apa dia lupa ingatan secara mendadak. Pikirnya konyol.

"Kim Jeseok" gumam Hyoyeon membaca ukiran pada batu makam dimana Baekhyun meletakkan untaian bunga Krisan disana "Siapa dia ?"

"Ayah Xiumin" sahut Baekhyun lugas.

Hyoyeon mengernyit "Siapa Xiumin ?"

"Teman baru"

"Baekhyun, tidak ada teman ketika kau seorang artis. Aku sudah mengatakannya padamu. Mereka bukan teman. Hanya fans atau antifans"

"Xiumin berbeda" kata Baekhyun tanpa berpaling "Dan mereka juga berbeda"

"Ayolah, kau harus percaya pada peringatan Manajermu"

"Aku percaya" Baekhyun tidak coba membantah "Tapi aku tidak akan mengikuti peringatanmu. Setidaknya, biarkan aku cukup dekat dengan mereka. Tidak lebih. Aku berjanji mereka tidak akan mengetahui hidupku"

"Baiklah" desah Hyoyeon kalah "What, kenapa ada sebuket bunga di makam ibumu ?"

Baekhyun mengendikan bahu cuek, "Seseorang selalu meletakkannya disana sebelum aku"

"Oh. Mungkin itu ulah fans-mu. Tapi, hey tidak ada yang tahu jika ibumu sudah meninggal. Ini mengerikan. Sebaiknya kita cepat pergi dari sini sebelum penguntit mengambil fotomu. Aku sudah cukup gila mengatasi foto-foto yang meledak akibat kau memilih memasuki Wufan Highschool"

"Apa salahnya aku memilih Wufan ?"

"Oh, tidak ada salahnya. Wufan adalah sekolah elit pemilik pengusaha nomor 1 di Korea. Justru sangat bagus karena sekolah elit itu mendongkrak karirmu. Tawaran semakin naik. Aku bingung memilih judul drama yang akan aku tunjukan padamu dan—" Hyoyeon berhenti sejenak, mengecek waktu kemudian menepuk dahinya sendiri "Kita akan terlambat untuk acara musik MBC. Bergegaslah !"

Baekhyun merasakan mobil van-nya berhenti secara perlahan. Menandakan bahwa ia telah sampai pada tujuan dan Baekhyun melenguh sesaat sebelum membuka mata. Langit nampak sedikit kelabu karena menjelang malam.

Gedung MBC berdiri didepannya. Banyak orang berlalu-lalang, nampak sibuk dengan kertas ataupun ponsel ditelinga. Mereka adalah staf. Baekhyun mengangkat bahu tidak peduli.

Namun ketika berhasil melangkah keluar dari mobil, dia dikejutkan oleh pemandangan yang sangat tidak asing.

Seorang lelaki berbalut jas rapi berdiri disisi mobil, sebuket besar bunga mawar digenggamnya dengan erat. Pintu kaca gedung MBC terbuka, muncul seorang perempuan cantik dan beberapa orang pengawal dari sana. Perempuan tersebut adalah artis senior Baekhyun yang dikabarkan akan segera menikah.

Langkahnya begitu anggun, berjalan menghampiri sang lelaki. Melemparkan senyum malaikat dan menerima buket bunganya dengan mata menyiratkan sebuah kebahagiaan tidak terbatas.

Para pemburu berita memotret adegan mereka, sebagian berlari ke mobil van Baekhyun namun Baekhyun segera memberi isyarat kepada manajernya bahwa mereka harus segera memasuki gedung atau para wartawan ini akan mengeroyoknya dengan brutal.

Sebenarnya, Baekhyun merasa sakit dengan kejadian barusan. Saat berjalan menghindari wartawan, dia nampak kosong karena memikirkan Chanyeol dan bunganya.

Merasa amat sangat bersalah dan tentunya menyesal.

"Astaga Baek !" teriak Hyoyeon keras begitu mereka berhasil memasuki gedung dengan selamat. Hyoyeon mengacungkan tab-nya pada Baekhyun kemudian melotot "Jelaskan padaku apa ini ?"

Opss, itu fotonya dengan Chanyeol ketika pulang sekolah tadi. Baekhyun berdiri bersama geng-nya dan Chanyeol mengulurkan setangkai bunga mawar. Rasanya dia panik dan segera tersenyum pada Hyoyeon.

"Ayolah Eonni, itu hanya tingkah fans"

"Tapi dia sangat berani Baekhyun sangat berani. Oh My God, skandal.. ini akan menimbulkan skandal besar-besaran apalagi kau tidak menerima bunganya. Aku diancam wartawan kau tahu, mereka mengancamku akan menyebarkan foto ini" Hyoyeon berteriak-teriak panik. Selanjutnya dia heboh sendiri mempertimbangan keputusan dengan agency mengenai foto tersebut. Jika sampai tersebar, antifans serta fans Baekhyun pasti mengamuk dan bisa saja membakar Wufan Highschool.

Baekhyun juga pasti mendapat kecaman keras karena menolak bunga pemberian fans.

Inilah celakanya jika kau menjadi seorang artis. Menerima berarti mati dan tidak menerima berarti lebih buruk daripada mati.

.-00-.

"Entah kenapa aku merasa seperti semua dosa seluruh manusia di dunia ini dilimpahkan kepadaku" kata Jongin pada Chanyeol setelah menyesap kopi dinginnya dari cup plastik.

"Maka mati saja kau" sahut Chanyeol dengan bahu terjatuh lemas. Memainkan setangkai mawar ditangan kemudian menyerahkannya pada Jongin dimana Jongin mengerutkan wajahnya kemudian meninju lengan Chanyeol. Matanya menyiratkan jijik secara berlebihan.

"Mungkin keputusanku untuk menenangkan diri disini adalah kesalahan besar karena aku malah bertambah berantakan setelah bertemu dengan wajah kusut kalian" komentar Suho sementara wajahnya kusut parah.

Kemudian ketiganya tertawa pedih.

"Apa masalahmu sunbae ?" tanya Jongin pada Suho.

"Penghianatan" jawab Suho rendah kemudian desahan frustasi keluar dari mulutnya "Kalau kau ?" Suho bertanya balik pada Jongin.

"Pergulatan batin, penyesalan dan masih banyak lagi. Hidupku mengerikan"

Suho mengangguk paham tanpa bertanya lebih lanjut, dia juga tidak perlu menanyai Chanyeol karena berita tentang Pangeran C dan setangkai bunga mawar merah telah meledak didunia internet. Chanyeol pasti ngeri dengan beritanya sendiri. Apalagi Baekhyun dan juga Chanyeol juga mendapat hinaan pedas di dunia maya akibat penolakan bunga tersebut.

Dasar bocah malang!

"Chanyeol kau—"

"Jangan tanya apapun padaku" sanggah Chanyeol menghentikan pertanyaan Jongin.

"Baiklah" desah Jongin menyerah tapi kemudian tiba-tiba Chanyeol merengek, "Baekhyun benar-benar menolakku" gumamnya, menangkup wajah dengan telapak tangan dan menggeleng-geleng frustasi.

Jongin dan Suho berpandangan sembari berkedip.

"Bungaku, aku… dia menolaknya"

"Oh jadi berita Pangeran C dan setangkai mawar merah itu benar kau ?" Jongin bertanya sembari menahan geli. Dan Chanyeol mengangguk dengan gaya anak anjing dibuang majikan.

Sekali lagi… bocah yang malang !

Hening menyelimuti 3 remaja yang tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Jongin menengadah menatap langit yang menggantung diatas mereka kemudian menggumam, "Menurut kalian, kenapa hidup selalu diwarnai oleh masalah ? kenapa Tuhan memberi kita masalah yang rumit seolah memaksa kita memikirkan bahwa hidup adalah sesuatu yang mustahil untuk dijalani"

"Kau berbicara seperti mau mati" komentar Suho pada perkataan Jongin yang dianggapnya terlalu mengenaskan. Hidup tidak seburuk itu, sungguh ! dan dia ingin hidup lebih lama sama seperti orang lain, jika bisa.

"Hey kalian bertiga !" teriak Jongdae dari kejauhan. Wajah Jongdae nampak cerah ceria, berbanding terbalik dengan wajah 3 orang yang duduk di sebuah kursi panjang. Mereka ada di taman kota.

Kursi yang sebelumnya diduduki Kris dengan muka galau berkepanjangan.

"Ceria sekali dia" komentar Suho. Chanyeol dan Jongin mengangguk.

"Hallo pangeran gagah berani" sapa Jongdae tersenyum jenaka pada Suho "kenapa kau melarikan diri dari pelajaran terakhir setelah mengungkapkan cintamu huh ?"

Suho sungguh ingin meledakkan mulut blak-blakkan Jongdae. Tidak bisakah dia diam saja dan tidak usah mengungkit-ungkit pengakuan cintanya yang begitu suram.

"Jadi kau sudah mengatakannya pada Lay ?"

"Ya" Jongdae mengangguk semangat, melupakan tatapan membunuh Suho yang secara terang-terangan ditujukan padanya. "Jika saja kalian melihatnya, aku yakin kalian pasti akan menangis haru dengan pengakuan si pangeran tanpa kuda ini. Sehun si datar itu bahkan tertarik lalu aku pergi karena aku tidak mau mengganggu moment pelukan antara si pangeran dan gadis idamannya"

Mata Suho melotot tajam sementara Chanyeol tertawa menyelamati "Akhirnya kau jadi laki-laki Hyung. Selamat. Tapi kenapa kau sangat suram ?"

"BUKANKAH AKU SUDAH BILANG JIKA APA YANG KULAKUKAN ADALAH PERCUMA !" tiba-tiba Suho membentak marah. 3 pemuda lainnya memandangi Suho bingung.

"Kau kenapa ?" tanya Chanyeol pada sepupunya.

"Aku merasa seperti kotoran" kemudian dia bangkit lalu menendangi kerikil tidak bersalah. 3 pasang mata yang masih disana berkedip memandangi punggung Suho yang menjauh.

"Dia benar laki-lakikan ?" tanya Jongin tidak nyambung.

Chanyeol mengendikkan bahu, "Terkadang dia bisa sangat sensitive mengalahkan perempuan tercengeng di dunia. Aku yakin setelah ini dia akan mengunci pintu kamarnya kemudian menulis puisi sedih. Aku bahkan menangis lebay ketika membaca puisi-puisinya, entah kenapa aku meramalkan jika kakakku akan menjadi penulis lagu yang sangat popular dikalangan manusia patah hati jika dia mau memusikalisasi puisinya"

"Puisi ?" Jongdae mengangkat sebelah alis "Sejak kapan Suho suka menulis puisi ?"

"Sejak dia jatuh cinta pada Zhang Yixing"

"Jadi semua puisi itu benar dari kakakmu ?" Jongdae takjub.

Chanyeol berdehem "Aku pernah merasa sangat sebal pada Suho Hyung karena dia sangat pecundang. Apa susahnya mengatakan jika dia menyukai Lay"

Jongin tidak berkomentar dan merasa tidak tertarik dengan obrolan Chanyeol vs Jongdae karena dia sendiri adalah pecundang yang tidak mau jujur jika dia mencintai… siapa yang aku cintai ?

"Jika aku jadi Suho" Jongdae mengambil tempat duduk "Aku pasti memilih menjadi pecundang saja"

"Kenapa ?"

"Bayangkan saja seperti apa rasanya jika orang yang kau cintai bertunangan dengan sahabatmu sendiri. Aku berani menjamin jika kau sudah mati mengenaskan dengan melompat dari lantai 16. Tapi untungnya, Suho bukan orang yang sebodoh itu"

"Tunggu !" sela Chanyeol kemudian memperbaiki posisi duduknya "Siapa yang kau bicarakan ?"

"Tentu saja Lay"

"Zhang Yixing ?"

Jongdae merengut "Iya, memangnya kakakmu menyukai berapa Lay sih" sinis Jongdae agak sensi.

"Tunangan siapa ?"

"Kau tidak tahu ?"

Chanyeol menggeleng. Jongdae membelalak tidak percaya sementara Jongin mendengus dengan ketidakupdate-an informasi Chanyeol. Kemana saja Chanyeol selama ini hingga dia tidak tahu bahwa Kris si senior yang dia idolakan ternyata adalah tunangan dari seorang Lay.

"Kau benar tidak tahu ?" Jongdae bertanya lagi. Chanyeol mulai jengkel.

"Lay itu tunangannya Kris" kata Jongin membuat rahang Chanyeol jatuh ke perut.

"Kris ? Kris, Wu Yifan ?!" Chanyeol masih bertahan dalam kebodohan.

"Astaga Chanyeol, tentu saja Kris si Wu Yifan. Memangnya ada berapa ratus Kris yang kau kenal didunia ini huh ?" Jongdae makin senewen sementara Chanyeol buru-buru bangkit dari kursi.

"Aku harus ke rumah Suho Hyung sekarang sebelum dia melompat dari atap rumahnya"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

THANKS TO

READER-NIM

Fanfiction ini tidak akan pernah ada tanpa kalian.

Sampai Jumpa di Chapter 13.

Salam kecup Juliana Hwang. Jangan muntah !