.

Come Away With Me

.

Karya: Kristen Proby

.

.

.

Cast: Xi Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun

GS for Uke

.

.

Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan. Setting cerita ini tidak di Korea.

Luhan POV

.

HUNHAN

.

RATE M

.

.

Hope u will enjoy this remake^^

Happy reading

.

.

.

Previous chapter:

"Apakah kau ingin menenggelamkanku?"

"Mungkin aku akan melakukan pernafasan buatan dari mulut ke mulut."

"Kau tidak perlu membunuhku untuk melakukan itu! Aku yakin itu." Aku terkekeh dan menyipratinya lagi, menikmati tubuh telanjangnya di dalam air yang bening, merefleksikan mata hitam kecoklatannya yang sempurna.

"Tuhan, kau terlihat cantik saat ini," katanya.

"Aku juga sedang memikirkan hal yang sama tentangmu." Aku berenang dan masuk ke pelukannya lagi.

"Aku senang bermain denganmu," katanya dan mencium hidungku.

"Aku juga, di dalam dan di luar ranjang." Aku tersenyum lancang dan dia menggigit bibirnya.

"Aku harus bilang, pagi ini adalah yang pertama untukku."

"Yang pertama bagus atau yang pertama buruk?" aku menjalankan jari-jariku ke dalam rambutnya yang basah, senang merasakan tubuh telanjang kami berangkulan di hangatnya laut pasifik.

"Yang pasti bagus, walaupun aku harus mengakui, aku lebih memilih memegang kontrol."

"Yah, variasi adalah bumbu kehidupan. Aku suka membuatmu terkejut sesekali." Aku mencium dagunya dan dia tertawa kecil.

"Tidak ada protes, baby."

"Hmm… bagus."

Dia mengangkatku dan mengejutkanku dengan meluncur masuk ke dalam diriku. Aku menyandarkan keningku di keningnya saat dia masih memasukiku.

"Aku mencintaimu."

"Oh baby, Aku mencintaimu juga. Ayo kita menakuti ikan-ikan."

.


.

Ini adalah pagi terakhir kami di surga tropis kami, dan aku berniat bangun ekstra pagi untuk memastikan aku bangun sebelum Sehun.

Dia sudah melakukan banyak hal untukku seminggu ini – sial, sebulan ini - dan aku harus melakukan sesuatu yang spesial untuknya sebelum kami pulang dan kembali pada realitas. Bukan berarti realitas itu buruk, tapi adalah suatu kebahagiaan sudah memiliki dirinya untuk diriku sendiri dalam seminggu ini.

Setelah hari telanjang kami, yang akan selalu kuingat di kepalaku selamanya, Sehun mengejutkanku dengan perjalanan memberi makan hiu, yang sebelum liburan ini aku selalu berasumsi bahwa diriku termasuk dalam menu makanannya, tapi semua berubah menjadi pengalaman yang paling menyenangkan dalam hidupku. Aku takkan pernah melupakan berdiri di dalam air hangat setinggi pinggang dikelilingi selusin hiu jinak berenang mengelilingi kami untuk mengambil makanan dari tangan kami.

Kemarin kami menghabiskan waktu dengan perawatan spa romantis untuk pasangan. Aku lebih sering ke spa dua minggu terakhir ini daripada dua tahun belakangan.

Aku tidak keberatan.

Tapi hari ini adalah hari terakhir kami. Aku melihat ke belakang untuk memastikan dia masih tidur, dan menuju tangga menuju air di bawah bungalow menunggu sarapan kami diantar dengan kano. Aku menataa makanan dan kopi di nampan dan masuk ke kamar tidur.

Setelah meletakkan makanan berbau harum di atas sofa rendah tanpa sandaran di ujung ranjang, aku naik ke atas tubuh Sehun dan mencium bibirnya.

"Sehun, sayang, bangun." Aku menggigit bibirnya dan menciumi lehernya saat dia bergeser di bawahku.

"Pagi," dia bergumam.

"Selamat pagi, cinta. Bangun. Aku punya sesuatu untukmu."

Dia membelai pinggungku dan mengernyit. "Susah untuk bercinta bila kau memakai baju, baby."

Aku tertawa saat dia membuka sepasang mata hitam kecoklatan seksinya. "Bukan itu yang aku punya untukmu."

Aku bangun darinya dan berjalan ke ujung ranjang saat dia duduk, seprei berkumpul di pangkuannya, dia mengusapkan tangannya ke muka dan rambutnya. Janggut paginya luar biasa seksi.

"Sarapan!" aku meletakkan nampan diatas ranjang di antara kami dan menarik penutup perak setengah bola dari atas piring. Terdapat pancake besar, bacon, telur dan buah. Di sebelahnya ada seteko kopi dan dua mug.

"Apakah kau memesan ini?" tanyanya.

"Iya, kupikir sesekali aku harus memberimu makan." Dia tersenyum dan menangkup wajahku dengan tangannya.

"Terima kasih, baby."

"Kembali. Aku harap kau sudah lapar." Aku memegang strawberry mengangkat ke depan mulutnya dan dia menggigitnya dan aku membawa sisanya ke mulutku sendiri.

"Kelaparan," katanya, matanya yang penuh gairah menatapku.

"Nanti," aku berbisik.

"Kau tidak menyenangkan." Dia cemberut saat menuangkan kopinya ke cangkirnya dan aku tertawa.

"Tadi malam kau tidak bilang begitu."

Ingatan tentang bercinta di bathtub yang berada di teras meluap di pikiranku dan aku menggigit bibirku.

"Tidak, tidak ada komplain buat tadi malam."

"Jam berapa kita nanti akan pergi?" tanyaku.

"Malam nanti. Kenapa?"

"Apakah kita ada rencana istimewa hari ini?" aku memakan pancake dan mengerang. "Oh Tuhan, ini enak."

"Ya ampun aku suka melihatmu makan, baby. Tidak, kupikir kita tidak ada rencana hari ini. Apakah ada yang kau inginkan?"

Aku mengangkat bahu dan menggigit pancake lagi.

"Ada apa?"

"Tak ada, kita bisa melakukan apapun yang kau mau." Aku mengangkat bahu, tapi menghindari tatapannya, tiba-tiba merasa malu. Aku tak ingin pergi keman-mana hari ini, aku hanya ingin bersamanya, dan aku tak tahu kenapa aku tiba-tiba begitu malu untuk berkata-kata dan memberitahunya. Ini bodoh.

"Luhan." Suaranya mengeras dan aku menatapnya. "Ada apa?"

"Tak ada apa-apa. Aku hanya berpikir…" aku meletakkan garpu dan menggigit bibirku. "Aku hanya ingin tetap di sini sampai kita pergi ke bandara. Aku ingin sendirian, selama yang kita bisa, di gelembung tropis ini." Kata-kata yang terakhir adalah bisikan dan aku mendongak untuk melihat reaksinya.

Dia tersenyum manis. "Kenapa hal itu membuatmu malu?"

Aku mengangkat bahu lagi dan memandang ke bawah. " Aku tak tahu. Kupikir kau mungkin ingin melakukan petualangan besar sebelum kita pergi, tapi aku hanya menginginkanmu."

"Baby, lihat aku." Aku melakukan apa yang dia minta dan aku sangat lega melihat senyumnya yang indah. "Menghabiskan hari sendirian hanya bersamamu di pulau yang cantik ini terdengar sempurna untukku."

"Oke," aku tersenyum padanya, lega dan melanjutkan menekuni pancake-ku.

Kami meyelesaikan sarapan, dan saat Sehun mandi, room service berkano datang dan membawa peralatan makan dan seprei yang kotor. Pria itu berbadan besar, dan senang mengobrol saat dia mengumpulkan barang-barang ke kotak dan menaruhnya di kano.

"Suami Anda adalah pria yang beruntung,"

Dia tersenyum padaku dan aku tersenyum, tapi aku merasa ada yang salah.

Betapa hal itu tidak pantas untuk diucapkan. aku tak mengkoreksi kesalahpahamannya tentang status pernikahanku dan hanya menjawab, "Terima kasih."

"Berapa lama Anda sudah menikah?"

"Um, belum lama." Kenapa hal ini membuatku takut? Aku sudah belajar sejak lama untuk mempercayai instingku, jadi aku berjalan melintasi ruangan sehingga aku berdiri di belakang sofa besar, dekat dengan pintu kamar mandi.

"Oh, itu bagus." Dia menelusuri sofa dan mengambil beberapa kain tiras berwarna oranye di bagian tangan sofa. Jantungku berdegup semakin takut. Dia mencoba mendekatiku dan kini matanya seperti predator. "Saya sudah memperhatikan Anda minggu ini. Anda sangat cantik."

"Saya rasa lebih baik Anda pergi sekarang." Aku bergeser ke sisi lain dari sofa menjauh darinya tapi dia mengikutiku dan jantungku melompat ke tenggorokan.

"Kenapa?"

"Karena saya tak ingin Anda ada disini. Suami saya akan segera keluar sebentar lagi, dan saya tidak tertarik. Segera keluar atau Anda akan dipecat."

"Anda tidak bisa melakukan itu, paman saya yang memiliki resort ini." Dia tertawa dan mulai mendekatiku dengan lebih cepat lagi.

"Sehun!" Aku berteriak, tapi sebelum kata-kata keluar dari mulutku lelaki besar itu terlempar dari belakang dan dibanting ke dinding. Sehun, nafasnya berat dan dengan wajah gusar, mencengkeram kerongkongan lelaki memukul wajahnya, dua kali, dan darah menyembur dari hidung lelaki itu dan dia menjerit seperti anak perempuan.

Aku yakin tidak ada yang berani melayangkan tangan padanya sebelum ini.

"Aku akan memastikan kau tak akan pernah mencoba menyentuh perempuan lainnya di resort ini lagi, bodoh." Suara Sehun dingin dan tenang, matanya seperti es, dan ini adalah sisi dirinya yang paling marah yang belum pernah aku lihat.

"Apakah kau baik-baik saja, baby?" dia tidak melihatku saat berbicara, tak mengalihkan pandangan dari lelaki itu.

"Aku baik-baik saja." Suaraku lebih kuat dari apa yang kurasakan dan aku lega.

"Telepon pelayanan pusat dan katakan pada mereka untuk memanggil polisi. Ceritakan pada mereka apa yang terjadi."

Aku melakukan yang dia minta dan dalam hitungan menit sebuah motorboat datang ke bungalow kami membawa manajemen dan polisi, dan seorang pria yang pasti adalah paman si brengsek itu.

Polisi mengembail alih situasi dan membebaskan Sehun dari tuntutan. Sehun kemudian segera mendekatiku dan memelukku. Aku pasti terlalu shock untuk melakukan hal lain selain hanya memandang dengan mata melebar melihat semua yang terjadi.

"Apakah kau baik-baik saja?" Tangannya membelai punggungku, menenangkanku.

"Ya, aku baik-baik saja. Dia tak menyentuhku, dia hanya sangat menakutkan, dan aku tahu dia akan melakukannya jika kau tak ada disini. Dia terasa aneh sejak menit pertama dia datang jadi aku pindah ke belakang sofa dekat kamar mandi berjaga-jaga jika dia melakukan sesuatu, dan ternyata benar." Aku gemetaran dan Sehun menarikku lebih dekat lagi padanya.

Pamannya berteriak pada polisi agar menangkap pria itu. Sepertinya ini bukan yang pertama kali terjadi. Si brengsek itu menangis, tapi tak ada yang peduli.

Saat melihat apa yang terjadi, ketakutanku berubah menjadi kemarahan.

Aku keluar dari pelukan Sehun dan berjalan ke arah si brengsek yang sudah diborgol oleh polisi. Dia menangis menunduk lemah dan takut dan sebelum aku menyadari, aku menyadukkan dengkulku ke selangkangannya dan membuatnya berlutut.

Dadaku terasa berat dan tiba-tiba semua hening.

"Aku bukan korban." Suaraku terdengar tegas dan terkontrol dan keras sebab aku ingin dia mendengar setiap kata. "Dan kau hanyalah sampah."

"Kalian lihat apa yang dia lakukan padaku? Aku ingin membuat tuntutan!" si brengsek itu meraung, tapi pamannya mengangkat tangan, membungkam dia.

"Aku tidak melihat ada hal yang tak layak kau dapatkan. Keluarkan dia dari dari bungalow ini."

Dia dibawa keluar dan sang pemilik resort meminta maaf sedalam-dalamnya, menawarkan penggantian dan pengembalian biaya dan hal-hal lain. Aku yakin dia berdoa supaya kami tidak mengumumkannya di media, yang mana kami juga tidak akan melakukannya.

Sehun tak akan melakukannya.

Aku berbalik dan melihat kearah mata Sehun, wajahnya mengeras. Dia berkata pada manajer bahwa kami tetap akan pergi hari ini.

"Kami akan mengajukan tuntutan, tapi saya juga tidak ingin hal ini keluar di media juga," Sehun berbicara dan jantungku berhenti.

Oh Tuhanku. Ini akan menjadi hal yang buruk jika sampai keluar di tabloid. Aku tiba-tiba merasa sangat bersalah. Aku meninggalkan Sehun untuk mengurus permasalahan ini dan pergi ke tempat tidur utama untuk mulai berkemas.

Sehun masuk ke kamar saat aku selesai membereskan laci yang berisi pakaian dalam.

Dia berjalan langsung kearahku dan menarikku ke dalam lengannya yang kuat, mengayunkanku ke depan dan ke belakang, mencium keningku.

"Apakah kau benar baik-baik saja?"

"Aku benar-benar minta maaf."

"Untuk apa?" dia memundurkan badan ke belakang dan mengernyitkan dahi memandangku. "Kau tidak melakukan hal yang salah."

"Ini akan menjadi sangat buruk untukmu jika tabloid mengetahuinya."

"Percayalah, mereka tidak akan tahu. Baik dari pihak resort maupun aku tak menginginkan hal itu terjadi. Dan bukan itu yang penting, tapi kau, baby. Apakah dia melukaimu?"

"Tidak, aku sudah bilang padamu, dia tidak menyentuhku. Tapi rasanya puas sudah menendang selangkangannya. Aku tersenyum dan Sehun menarikku kembali ke pelukannya.

"Aku sangat takut saat aku keluar dan mendengar kau berteriak. Aku melihat bajingan itu menyerangmu dan jujur saja tak banyak yang kuingat setelah itu. Aku harus memastikan dia tidak menyentuhmu." Dia membelai pipiku dan aku mencium telapak tangannya.

"Terima kasih."

"Aku akan selalu melindungimu, baby. Itulah tujuanku di sini. Itulah yang ingin kulakukan."

"Aku tahu, itulah salah satu alasan aku mencintaimu. Aku tak tahu kenapa aku tidak merasa ketakutan." Aku mengangkat bahu dan menyeringai. " Aku rasa aku hanya merasa kuat saja, dan aku tahu kau ada disini, dan dia tak akan bisa melukaiku." Aku menjalankan jariku ke rambutnya.

"Apakah kau baik-baik saja?"

"Selama kau baik-baik saja, ya, aku baik-baik saja. Tuhan, aku suka betapa kuatnya dirimu, baby. Cukup mengagetkan melihatmu membuatnya berlutut seperti itu."

"Kau mungkin ingin mengingatnya, untuk berjaga-jaga siapa tahu kau akan melakukan hal-hal yang diluar keharusan?" aku menekankan tubuhku ke tubuhnya dan tersenyum padanya.

"Oh yeah? Kau pikir kau bisa mengalahkanku?" Dia menggesekkan hidungnya ke hidungku dan mendesah.

"Mungkin tidak, tapi kalau bergulat akan menyenangkan."

Dia tertawa dan tersenyum lembut padaku.

Dan sekarang, saatnya kado yang lain untuknya.

"Jadi, sebelum kita sangat terganggu tadi, aku sebenarnya akan memberimu kado saat kau keluar dari kamar mandi."

Alisnya terangkat. "Kau memberiku hadiah?"

"Ya, semacam itulah." Aku memakai bathing suit cover up (pakaian longgar yang biasa dikenakan di atas bikini atau pakaian renang) yang cukup konservatif berwarna hitam. Pakaian itu model hoodie dengan resleting di depan yang menutupiku dari lutut hingga leher.

Aku mundur ke belakang dan Sehun mulai menurunkan resleting pelan-pelan, membuat pakaian itu masih tetap tertutup. Saat resletingnya selesai dibuka, aku mengangkat bahu sehingga pakaian itu jatuh ke kakiku.

Sehun menarik nafas dan matanya melebar, melihatku, dan wajahnya separuh menyeringai. Aku meletakkan tanganku ke pinggangku yang telanjang dan memiringkan kepala. "Kau menyukai pakaianku?"

Dia berjalan ke arahku dan menjalankan jarinya ke mutiaraku dan menciumku dengan caranya yang lembut dan lututku menjadi lemah.

"Baby, kau tahu aku menyukai ini. Tak ada yang menyamai saat melihatmu tidak memakai apapun kecuali mutiara ini."

"Aku suka caramu melihat diriku," bisikku.

Pandangan mata Sehun meluncur turun ke bawah tubuhku dan saat pandangannya kembali ke mataku dia menciumku lembut.

"Aku tidak ingin melakukan seks denganmu hari ini, Luhan," dia berbisik di bibirku.

Oh. "Kau tak akan melakukannya?" aku berbisik dan menarik kepalaku ke belakang, saat bibirnya menjelajahi leherku.

"Tidak."

"Aku suka suara bisikanmu."

Dia menyeringai "Aku tahu."

"Apa yang ingin kau lakukan?"

"Aku ingin bercinta dengan lembut dan manis denganmu." Punggungku dibelainya naik turun dengan ujung jari, hampir-hampir tak menyentuhku, mengirimkan getaran kedalam diriku, bibirnya melakukan hal yang sama di leherku. Sensasi ini membuatku gila.

"Kedengarannya menyenangkan."

Dia mengangkatku dengan lengannya dan aku menelusupkan jari-jariku ke rambutnya saat bibirku mencium bibirnya dengan lembut. Dengan lembut dia menurunkanku ke ranjang dan membungkusku dengan tubuhnya, kakinya berada di antara kaki-kakiku. Dia meluncurkan tangan kanannya di lengan kiriku dan menautkan jemarinya dengan milikku, tetapi daripada menahannya di atas kepala, dia lebih memilh meletakkannya di samping kepalaku.

Ini bukan tentang mengendalikan atau bermain denganku. Ini adalah tentang bagaimana dia menunjukkan seberapa besar dia mencintaiku, dan ini membuatku penuh dengan ketentraman dan kelembutan.

Tangan kirinya membelai rambut di wajahku sambil terus menciumku, perlahan, lembut, penuh kesabaran. Aku melingkarkan kakiku di betisnya, menggesek naik dan turun, membelainya, sambil mengetukkan jari-jari tanganku yang bebas naik turun di punggung kuatnya.

Aku bisa merasakan kekerasannya, tapi dia tidak melakukan gerakan untuk memasukkannya ke dalam diriku.

Belum.

"Kau sangat cantik," dia bergumam di bibirku.

"Kau membuatku merasa cantik," aku berbisik padanya dan dia mengerang.

Dia menanamkan ciuman kecil di dalam mulutku. Aku menggerakkan tanganku ke dalam rambutnya dan membelainya dengan lembut.

"Aku menyukai rambutmu. Rasanya sangat menyenangkan di tanganku."

"Aku tahu itu," dia berbisik dan aku merasakan dia tersenyum di leherku. "Kau selalu menaruh tanganmu disitu."

"Kumohon, jangan pernah memotongnya pendek ya." Aku suka mendengar suaranya berbisik.

"Okey." Dia mencium cuping telingaku dan menggelitikinya dengan gigiku. "Kau punya kulit yang luar biasa; begitu halus dan lembut. Dan kau selalu wangi."

Kata-katanya begitu menggoda, tangannya masih bergerak di rambutku dan tubuhku bersenandung.

Pinggulku mulai bergerak di bawahnya dan aku merasakan dia menyeringai di tenggorokanku. "Kau tahu apa yang kau lakukan padaku."

"Kau lakukan hal yang sama, baby." Dia melenturkan pinggangnya, menekankan miliknya ke pusatku yang basah. Ujungnya meluncur ke klitorisku dan aku terkesiap.

"Aku menginginkanmu."

"Aku tahu, aku juga menginginkanmu." Aku menyukai bisikannya, desahan dan erangan yang lembut. Ini adalah percintaan kami yang paling tenang, dan ini tidak kalah memabukkan.

Oh dengan sangat perlahan dia mengisiku, tiap inchi yang nikmat, hingga miliknya terkubur sedalam yang dia bisa di dalam diriku, secara emosional aku merasakan air mata keluar dari mataku.

Pria manis, protektif, baik, seksi ini mencintaiku. Dan aku mencintainya, dengan sangat.

"Jangan menangis, baby." Dia berbisik dengan suara yang penuh emosi dan dia memulai gerakan perlahan, masuk dan keluar dari diriku. Kakiku naik melingkar di pinggangnya, membawanya masuk lebih dalam, dan saat dia mengenai titik paling sensitifku, aku merasakan percikan yang melayang-layang di tubuhku.

"Oh, aku akan keluar, Hunnie."

"Ya," dia berbisik di telingaku, dan aku hilang, tertelan orgasmeku, tapi aku hampir tak bersuara, terperangkap dalam suasana hening percintaan kami.

Sehun masih mendorong ke dalam diriku sekali lagi untuk yang terakhir kalinya dan mengosongkan miliknya di dalam diriku, membisikkan namaku.

ooOoo

.

Aku telah bertekad bahwa kembali ke dunia nyata tidaklah menyebalkan.

Kami telah kembali dari pelarian Tahiti romantis kami selama seminggu, dan telah kembali pada rutinitas kerja kami yang nyaman, saling berkirim pesan sepanjang hari, mengikuti gym atau yoga bersama dan memlilih berada di tempatnya atau tempatku pada malam hari.

Malam ini, kami bermalam di tempatku dan kami makan malam bersama Baekhyun.

"Bukan begitu caranya memasak pasta!"

Baekhyun terlihat cantik, seperti biasa, dia membelalakkan mata ke pacarku dan aku menyeringai.

"Memang bagaimana caramu membuatnya?" Sehun frustasi padanya dan aku duduk di belakang dengan segelas anggur menikmati pertunjukan.

"Kau harus menambahkan garam ke air sebelum mendidih. Semua orang tahu itu."

"Kau tahu, kau saja yang lakukan. Aku mau bersama pacarku." Dia meninggalkan Baekhyun untuk menyelesaikan makan malam itu dan datang ke meja untuk menciumku.

"Apakah dia menjahatimu?" tanyaku dan membelai wajahnya.

"Tidak, dia hanya tak bisa memasak dan tidak mau mendengarkan nasehat."

"Aku bisa mendengarmu, kau tahu." Baekhyun melotot pada kami dan kami tertawa.

Aku suka menghabiskan malam dengan mereka berdua. Mereka berdua adalah dunia bagiku dan aku senang mereka berteman dengan baik.

"Jadi, Sehun, kapan film terbarumu keluar?" Baekhyun mengaduk pasta.

"Jumat ini," dia merespon dan menyesap anggur.

"Apa?" seruku. Aku tidak tahu!

Kenapa dia tidak mengatakan padaku tentang hal ini?.

"Um, filmku akan rilis Jumat."

Aku memandangi dirinya, tercengang. Baekhyun bolak-balik melihat kami dan kemudian menggumam, "Oops."

"Kenapa kau tak mengatakan padaku?" perasaanku terluka.

"Itu tak terpikir olehku." Dia mengerutkan kening dan mengangkat bahunya.

"Kau akan merilis film besar untuk ditonton jutaan orang, dan kau tidak berpikir untuk memberitahu pacarmu?" aku berbalik dan menghadapnya, masih duduk di kursiku.

Apa?

"Aku hanya melakukan produksi; aku tidak membintanginya atau apapun itu."

"Aku tak peduli, Sehun. Ini hal yang besar. Apakah kau akan datang di pemutaran perdana?

"Tidak, tentu saja tidak." Dia menggelengkan kepala dan menjalankan tangan di rambutnya.

"Kenapa? Kau harus pergi. Kau bagian dari film itu."

"Tidak." Dia menggeleng keras. "Aku tidak melakukan hal itu lagi."

"Bagaimanapun, kau seharusnya memberitahukanku. Kau tak pernah menceritakan tentang pekerjaanmu, dan kau tahu semua tentang pekerjaanku."

Ini adalah sesuatu yang selalu menggangguku, dan aku bersyukur Baekhyun membicarakannya.

"Memangnya, apa yang dikerjakan seorang produser?"

Baekhyun bertanya saat dia mengeringkan pasta dan mulai membuat layer lasagna di wadah kaca.

"Tergantung produsernya. Ada berbagai tugas. Ada yang berada di lokasi sepanjang produksi dilakukan dan bekerja di sana. Ada yang bekerja di belakang layar, mengamankan uang dari studio atau merayu aktor dan sutradara. Ada banyak yang harus dikerjakan dan biasanya ada beberapa produser melakukan pakerjaan yang berbeda.

"Okay, jadi apa yang kau kerjakan, khususnya?" Aku bertanya, tiba-tiba merasa tertarik.

"Aku mengerjakan yang di belakang layar, kegiatan pra-produksi jadi aku bisa bekerja dari sini. Terkadang aku harus pergi ke L.A. atau New York untuk rapat singkat, tapi itu sudah jarang kulakukan akhir-akhir ini. Kebanyakan semuanya bisa dilakukan lewat telepon atau email. Jadi aku berkoordinasi dengan aktor atau sutradara, dan terkadang melakukan konferensi lewat telepon untuk mengamankan pendanaan proyek." Dia bercerita disertai dengan menggerakkan tangannya, begitu asyik dan antusias, dan aku dapat melihat bahwa, dia sangat menyukai yang dia kerjakan. Aku tersenyum padanya dan mencium pipinya.

"Aku bangga padamu."

"Kenapa?"

"Karena kau melakukan hal yang kau sukai dan hebat dalam hal itu."

"Bagaimana kau tahu?"

"Aku tak akan bersama dengan orang yang menyebalkan." Aku merespon dengan lancang dan dia tertawa.

"Jadi, berapa banyak uang yang kau amankan untuk film yang keluar Jumat ini? Dan siapa yang membintanginya?"

Baekhyun memasukkan lasagna ke oven dan bersandar di meja dapur mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Judulnya Rough shot dibintangi Channing Tatum. Ini film action, ada banyak stunt -pemeran pengganti- dan ledakan, jadi budgetnya tinggi. Sekitar seratus juta."

Baekhyun dan aku berpandangan dan kembali kearah Sehun.

"Maaf, apakah tadi kau bilang seratus juta dolar?" suaraku melengking. Itu mengganggu. Hampir sama mengganggunya saat pacarku menjadi penanggungjawab untuk melipatgandakan seratus juta dolar.

"Yeah." Dia tersenyum malu. Film aksi petualangan selalu berbudget tinggi karena banyak sinematografi yang terlibat, CGI, dan banyak hal yang aku tak terlalu paham tapi aku tahu kalau itu mahal."

Aku menelan ludah. Wow.

"Jadi, ini film box office besar kalau begitu."

"Yeah, kami berharap akan mendatangkan seratus lima puluh juta minggu ini."

Dia mengangkat bahu lagi, tapi aku melihat kebanggaan di matanya.

"Sekarang, aku akan menanyakan sesuatu yang lebih personal, dan kau bisa berkata untuk mengurus masalahku sendiri, tapi aku penasaran karena uang adalah hal yang kubutuhkan untuk hidup." Mata Baekhyun penuh rasa penasaran dan aku tahu persis apa yang akan dia tanyakan.

"Ok, silahkan." Sehun menyeringai. Dia juga tahu.

"Well, aku tahu seberapa besar aktor dibayar untuk film berbudget besar. Tapi bagaimana dengan produser?"

"Saat semuanya sudah diselesaikan, setelah royalti dan sebagainya, dari film ini aku mungkin akan menerima sekitar lima belas."

Aku mendekatkan mataku padanya dan menggigit bibirku, tidak yakin bisa memahami kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Sehun tidak melihat kearah kami. Dia menunduk memandangi anggurnya.

Akhirnya Baekhyun berbicara. "Tolong katakan padaku kalau kau punya pengacara bagus yang ahli di bisnis hiburan dan akuntan yang juga ahli di dunia hiburan dengan reputasi yang bagus. Karena jika kau tidak punya, aku kenal beberapa diantara mereka." Dia benar-benar serius.

Sehun menganggukkan kepalanya. "Yeah, semuanya sudah ditangani dengan baik selama bertahun-tahun."

"Bagus." Baekhyun merespon.

Aku tak tahu harus berkata apa. Aku tahu dia kaya, tapi aku tak menyangka.

Akhirnya, Sehun melihat kearahku. "Apakah kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja." Aku berbisik.

"Kau terlihat agak pucat." Aku menggelengkan kepalaku mengalihkan pandangan dan melihat kearah Baekhyun.

"Luhanie," katanya, "Kau kan tak asing dengan yang namanya uang."

"Tidak, aku tidak."

"Orang tuamu meninggalkan warisan sebesar dua puluh juta dolar."

Sehun memucat.

"Aku tahu."

"Jadi, apa masalahnya?" dia bertanya lembut.

Aku mengernyitkan kening. "Well, aku rasa karena terlalu banyak yang harus kupahami." Aku melihat kearah Sehun dan akhirnya, aku merasa butuh untuk menyentuhnya, menggenggam tangannya. "Aku minta maaf, sayang. Tentang uang itu bukan masalah buatku, kau tahu itu. Aku rasa aku hanya terkejut mendengar pacarku berurusan dengan para aktor dan film ratusan juta dolar dan berteman dengan Abeoji. Itu hal yang mudah terlupakan karena kita jauh dari kehidupan yang itu."

"Luhanie, aku keluar untuk suatu alasan."

"Aku tahu."

"Jangan membuatku takut," bisiknya.

Aku tak menakutimu." Aku tersenyum, menemukan keseimbanganku.

"Um, bolehkah aku bertanya lagi?"

Baekhyun menaikkan tangan seperti kita berada di kelas dan kita tertawa.

"Okay."

"Bolehkah aku meminta nomer telepon Channing Tatum?"

Tawa kami meledak, dan aku lega karena ketegangan sudah diturunkan.

"Dia sudah menikah, Baekhyun."

"Sial." Dia mengerutkan dahi. "Semua yang bagus sudah diambil."

"Sehun," aku melompat turun dari bangku dan berdiri diantara kedua pahanya, membelai lengannya. "Aku ingin menonton filmmu minggu ini."

"Kau ingin melihatnya?" dia terlihat benar-benar kaget.

"Ya, ini adalah karyamu. Aku ingin mendukungmu. Ayo datang ke malam pembukaan."

"Aku sudah bilang, aku tidak pergi ke premier. Aku tak akan pergi ke L.A. untuk itu." Dia bersikukuh menggelengkan kepalanya.

"Tidak, yang kumaksud disini. Ayo kita pergi ke malam pembukaan disini, di Seattle."

Baekhyun melompat kegirangan. "Aku juga mau pergi! Aku yakin aku bisa mengajak seseorang untuk berkencan."

"Kita pergi malam saja, kita akan kencan ganda, nonton film, mungkin makan malam. Mari kita rayakan!"

Sehun tersenyum, senyuman lebar 'melelehkan-celana-dalamku' dan untuk pertama kalinya, dia terlihat sungguh bangga dan senang dengan pekerjaannya. "Kau benar-benar ingin melakukannya?"

"Tentu saja."

"Kalau begitu kurasa kita akan pergi. Tapi jangan di bioskop. Aku tak ingin malam kita rusak karena aku dikenali dan harus berdiri selama tiga jam untuk memberikan tanda tangan."

"Kita akan nonton pada tengah malam di pinggir kota setelah makan malam. Kau bisa memakai mantel dengan topi dan kacamata hitam." Aku menyeringai padanya dan dia menyipitkan matanya padaku.

"Kau adalah si pandai yang menyebalkan."

"Tapi kau mencintaiku." Aku tersenyum dengan manis

"Oh Tuhan, cari kamar sana." Baekhyun menarik lasagna dari oven.

ooOoo

.

"Aku gugup." Aku melihat kearah Baekhyun dan ketakutan. "Bagaimana kalau aku tak menyukainya?"

"Berarti kau akan berbohong, memperlihatkan gigimu yang indah dan berkata kau menyukainya. Itu yang dilakukan oleh kekasih, apapun pekerjaan pacar mereka."

Dia berjalan dengan menyeret kaki ke lemariku mencari sesuatu yang bisa dikenakan untuk menonton film malam ini.

"Siapa yang kau ajak malam ini?" tanyaku sambil menarik gaun hitam dari kepalaku dan memakai Manolo Blahniks hitamku.

"Jangan menguliahiku."

"Uh, okay."

"Aku mengajak bosku."

"Sial! Kukira kau tak menemuinya lagi." Apa yang terjadi?

"Kami tidak benar-benar bertemu."

"Apakah kalian tidur bersama?"

"Tidak, sudah pasti tidak. Dia tidak seburuk apa yang kukira. Saat kejadian memalukan itu berlalu… well, dia orang yang baik. Jadi kupikir kenapa tidak mengajak dia." Dia menggigit bibirnya dan memakai sepasang anting perakku.

"Kuharap kau tahu apa yang kau lakukan Baekhyun."

"Aku tak yakin yang kulakukan, tapi satu malamini saja. Kumohon, tenanglah, ok?"

"Aku adalah lambing ketenangan. Aku tersinggung kau bilang yang sebaliknya. Lagi pula aku disini untuk makam malam juga."

Dia tersenyum padaku saat bel pintu berbunyi.

"Salah satu pria kita tiba," aku melongok ke pintu bersiap untuk pergi. "Aku akan membuka pintu."

Aku berjalan menuruni tangga dan membuka pintu dan menemukan sebuket bunga mawar merah besar terpampang di mukaku.

"Well, halo."

Kepala Sehun muncul dari belakang bunga dan tersenyum padaku. "Hai, cantik, ini untukmu."

"Terima kasih, cintaku." Aku membenamkan hidungku ke mawar itu dan menghirupnya saat dia masuk dan menutup pintu di belakangnya. Dia terlihat luar biasa memakai kemeja biru berkancing rendah yang cocok dengan warna matanya dan celana panjang berwarna khaki.

"Kau kelihatan tampan," aku bergumam dan mencium bibirnya dengan lembut.

"Kau mempesona." Dia menjalankan ujung jarinya menuruni wajahku dan aku merona.

"Ayo, aku akan memberi bunga ini air dan kemudianaku akan menonton film kekasihku malam ini."

Sehun tertawa. "Oya? Itu keren."

"Aku tahu, dia sangat terkenal, tapi aku tak bisa bilang siapa dia karena kami orang yang menjaga privasi." Aku menganggukkan kepala seperti orang bijak padanya, mataku melebar.

"Apakah kau yakin aku tak bisa membuatmu mengatakannya?"

Dia melingkarkan lengannya ke bagian tengah tubuhku saat aku menataa bunga di vas.

"Tidak bisa, mulutku terkunci."

"Sial, padahal aku berharap untuk mengajakmu keluar malam ini." Dia menyusupkan wajahnya ke leherku dan aku menghembuskan nafas.

"Well, aku mungkin bisa pergi denganmu nanti, setelah kencanku yang lain."

Sehun menggelitik igaku dan aku menjerit.

"Enak saja. Kau adalah milikku, baby. Biasakanlah hal itu."

Aku masuk ke pelukannya dan menyusupkan tanganku ke rambutnya, tersenyum padanya.

"Kau adalah satu-satunya yang aku inginkan, cintaku."

Matanya melembut dan memberiku ciumannya yang membuatku berbunga-bunga. "Begitu juga denganku, baby."

"Oh Tuhanku, apakah kalian berdua pernah berhenti?"

Baekhyun memutar matanya saat dia tiba di ruangan dan Sehun tersenyum puas dan mencium pipiku.

"Tidak."

"Lelucon, Chanyeol baru saja mengirim pesan, dia akan tiba di sini dalam beberapa…"

Kemudian bel pintu berbunyi.

"Dia akan tiba di sini sekarang. Aku akan membuka pintu."

Dia tersenyum dan berjalan ke depan pintu.

"Siapa pria itu?" Sehun bertanya.

"Pria yang menjadi bosnya." Aku merespon dan alis Sehun menyatu.

"Benarkah?"

"Yeah, ini mungkin akan menarik."

"Ayo masuk, dan bertemu dengan mereka." Baekhyun berjalan masuk ke dapur lebih dulu di depan seorang pria yang sangat menarik mengenakan jins gelap dan kemeja hitam berkancing rendah berlengan panjang.

Dia tinggi seperti Sehun dengan bahu yang lebar, bibir tipis, rambutnya sedikit ikal tertata rapi, matanya hitam dan senyum lebar yang tulus. Ya, dia tampan seperti yang pernah Baekhyun ceritakan sebelumnya. Dia juga punya mata yang ramah, dan tak bisa mengalihkan pandangan dari wajah Baekhyun saat kami diperkenalkan olehnya.

Dia terpesona olehnya.

"Chanyeol, ini adalah teman sekamarku, Luhan, dan pacarnya, Oh Sehun."

Chanyeol menjabat tangan kami berdua dan tersenyum pada Sehun. "Senang bertemu denganmu. Aku memang bukan fans film yang kau bintangi tahun lalu, tapi aku menyukai film yang kau produseri sekarang. Aku sudah menunggu Rough Shot keluar bulan ini." Dia tersenyum pada kami berdua dan mundur untuk merangkul Baekhyun.

"Semoga kau menyukainya." Sehun terlihat santai dan menghembuskan nafas lega dalam hati.

"Bisakah kita pergi? Aku kelaparan."

"Ayo." Sehun menggandeng tanganku dan kami masuk ke SUV Mercedes miliknya, aku duduk di depan bersama Sehun dan Baekhyun dan Chanyeol di belakang.

"Kalian ingin makan di mana?" Sehun bertanya pada kami.

Aku menoleh untuk menjawab dan melihat Chanyeol mencium tangan Baekhyun. Apanya yang hanya teman.

Aku akan menginterogasinya nanti.

"Bagaimana kalau restoran Meksiko kecil yang kau ajak minggu lalu?" aku memberi usul.

"Disitu tenang dan mereka punya margarita yang enak."

Baekhyun dan Chanyeol mengangguk setuju.

"Restoran Meksiko." Sehun mengangkat tanganku dan mencium buku-buku jariku dan aku tersenyum malu padanya.

Restorannya tidak terlalu ramai untuk Jumat malam. Pemiliknya mengenal Sehun, jadi mereka memandu kami ke pojok privat dekat belakang jadi kami tak akan terganggu.

Setelah keripik dan salsa diantarkan, dan kami memesan makanan, kami duduk dan menyesap margarita dan mencoba mengenal Chanyeol.

"Jadi, Chanyeol, apa pekerjaanmu?" tanya Sehun.

"Aku bekerja di firma investasi yang sama dengan Baekhyunie," dia merespon dan tersenyum pada Baekhyun.

Alisku naik keatas hingga ke garis rambutku dan bertemu pandang dengan Baekhyun.

Baekhyunie? Tidak ada yang memanggilnya begitu.

Baekhyun menyipitkan matanya padaku, secara telepati mengatakan padaku untuk menutup mulut.

"Sudah berapa lama kau bekerja?"

Sehun bertanya, tidak menyadari percakapan hening kami.

"Sekitar delapan tahun."

Kami mengobrol ringan tentang bagian yang enak dari makanan kami. Chanyeol sopan, perhatian, dan jelas sepenuhnya terkesan dengan Baekhyun.

Dan mereka sepenuhnya saling terkesan.

Sehun meletakkan tangannya di pahaku dan meremasnya dan aku mengaitkan jemariku ke dalamnya.

"Kau pernah berlayar?" Chanyeol memecah keheningan.

"Pernah beberapa kali, tapi sudah lama tidak melakukannya. Kau?"

"Sebenarnya ya, aku mempunyai catamaran -perahu dengan dua lambung- di dermaga di Seattle. Apakah kalian berdua mau bergabung dengan kami di siang hari untuk berkeliling di sekitar Sound?"

Sehun melihatku meminta persetujuan dan aku mengangguk dan tersenyum, melihat Baekhyun mengangguk perlahan.

"Kedengarannya menyenangkan."

Nota tagihan datang tapi aku mengambilnya sebelum orang lain.

"Kau tidak akan membayari ini." Sehun mengambil dompetnya tapi aku menjauhkan nota darinya.

"Ya aku akan melakukannya. Kita merayakan premier filmmu, jadi aku yang membayar."

"Tidak, berikan nota itu."

"Milikku." Aku menahannya di dadaku sambil mengeluarkan kartu dari dompetku.

"Ya ampun. Luhanie…"

Aku menarik wajahnya ke wajahku dan menciumnya pelan dan lama. Saat aku menarik diriku kami berdua kehabisan nafas. "Biar aku yang membayar. Aku bangga padamu, menyebalkan."

"Aku tak bisa berdebat denganmu jika kau melakukan itu." Dia mengomel dan terlihat jengkel, tapi aku melihat sinar lucu di mata hitam kecoklatannya yang indah dan aku tersenyum puas aku memberikan nota dan kartuku ke pelayan.

Chanyeol mengamati kelakuan kami dengan penuh keingintahuan dan berakhir dengan seringai lebar.

"Dude, kau buruk sekali." Katanya pada Sehun

"Kau tak pernah tahu," Sehun mengeluh.

~o0o~

"Empat untuk Rough Shot, please." Aku memberikan kartuku ke gadis penjual tiket di bioskop dan tersenyum padanya. Kami datang terlalu pagi, tapi kami ingin segera ke tempat duduk di belakang jadi kami tidak terlihat mencolok dan pergi setelah semua orang meninggalkan ruangan saat film berakhir.

"Ini adalah terakhir kalinya kau membayariku di manapun." Sehun mengeluh di belakangku.

Baekhyun dan Chanyeol menertawainya dan aku jelas hanya tersenyum.

Kami membeli dua pop corn ekstra besar dan sekeranjang soda untuk dibagi dan menemukan kursi kami. Walaupun kami sudah tiba tiga puluh menit lebih awal aku terkejut melihat segerombolan orang sudah duduk di bioskop.

Kami naik ke baris paling atas dari tatanan kursi model stadium dan duduk di tengah-tengah, Baekhyun dan aku duduk diantara para lelaki.

Sehun menjalankan kedua tangannya menuruni pahanya dan mengambil nafas dalam.

"Apakah kau gugup?" aku berbisik di telinganya.

Dia menunduk tersenyum padaku dan mencium keningku. "Sedikit."

"Apakah kau menonton film-filmmu?" tanyaku.

"Yeah, tapi biasanya menunggu sampai akhir minggu pembukaan untuk melihat reaksi penonton. Minggu pembukaan adalah saat yang menggelisahkan, dan biasanya sibuk."

"Aku bersyukur kita di sini. Ini menyenangkan."

Dia tertawa dan mengambil segenggam popcorn dari wadahnya. "Aku juga. Kuharap kau menyukainya."

"Aku akan menyukainya."

Bioskop terisi dengan cepat dan akhirnya lampu dimatikan dan preview dimulai

Aku bingung melihat bahwa dua dari lima film di preview terdapat keterangan diproduseri oleh oleh Sehun Oh. Aku mendongak melihatnya, bingung, dan dia menunduk tersenyum malu padaku. Aku menggelengkan kepala dan mendorong beberapa pop corn ke mulutnya, membuatnya tertawa.

Aku antusias saat Rough Shot dimulai, dan ingin berdiri dan bersorak saat nama Sehun muncul di layar saat pembukaan film. Tapi aku lebih memilih menciumnya keras-keras dan memberinya senyum bangga yang konyol.

Sulit untuk dikatakan, tapi kurasa dia sebenarnya merona.

Filmnya fantastik, saat adegan Channing Tatum yang hampir telanjang berjalan melintas di layar, Baekhyun dan aku saling berpandangan dan mulai tertawa. Kami tak bisa menahannya. Sehun melempar pop corn padaku dengan sebal.

Ini adalah film dua jam yang cepat yang membuatmu tetap duduk di kursimu sampai akhir untuk mengetahui "siapa yang melakukannya". Di film itu memang sungguh banyak adegan action dan ledakan. Ada juga adegan percintaan yang intens antara Channing Tatum dengan aktris pendampingnya dan aku tidak bisa melihatnya tanpa pemikiran klinis, mengetahui bahwa Channing Tatum sudah menikah dalam kehidupan yang sebenarnya, bertanya-tanya bagaimana istrinya menghadapi adegan seperti ini.

Aku juga luar biasa senang bahwa Sehun telah memilih untuk mengambil peran berbeda di bisnis perfilman.

Satu adegan berdarah membuatku dan Baekhyun sama-sama mengerutkan badan.

"Oh, Tuhan, benarkah?" aku menutup mulut dengan tanganku saat aku menyadari aku telah berteriak terlalu keras dan Chanyeol dan Sehun menertawakan kami bersamaan.

Saat daftar penutupan ditayangkan, aku tak bisa berhenti tersenyum. Aku bertepuktangan, dengan tanpa menarik perhatian, saat nama Sehun muncul lagi dan dia menyeringai padaku. Kami menunggu sampai semua penonton pergi dan lampu menyala untuk meninggalkan bioskop. Saat kami berdiri aku melingkarkan tanganku pada Sehun dan memeluknya erat, menguburkan wajahku di dadanya dan menghirup aromanya yang seksi. Aku menarik kepalaku ke belakang dan mendongak melihat mata hitam kecoklatannya yang bersinar.

"Aku menyukainya. Aku sangat bangga padamu. Kita akan melakukan ini untuk semua film. Aku mau jadwal."

Dia menjalankan jarinya menuruni wajahku dan tersenyum manis. "Aku akan memberimu satu." Dia menciumku lembut.

"Um, Luhanie? ini adalah kencan ganda. Berhentilah bersikap berlebihan dengan pacar terkenal super kerenmu, tolong." Aku tertawa dan memandang balik kearah Baekhyun.

"Aku hanya menghargai karya seninya." Kataku dengan sopan.

"Lakukan penghargaanmu di tempat yang privat. Ayo, jalan." Baekhyun dan Chanyeol berjalan mendahului kami keluar bioskop. Aku bergerak untuk mengikuti, tapi Sehun menahan sikuku, menarikku kembali.

Aku berbalik padanya dan dia menciumku lagi, kali ini dengan penuh gairah, penuh cinta.

Dia menarik dan menyandarkan keningnya di keningku.

"Ada apa?" tanyaku.

"Terima kasih untuk malam ini. Aku mencintaimu, baby."

"Aku juga mencintaimu."

ooOoo

.

TBC

.

ooOoo

.

.

.

Thanks for:

ay2306 - noenoe - Juna Oh - noVi - fitry. sukma. 39 - fuckyeahSeKaiYeol - keziaf - De 7oohluhanm - ramyoon - Arifahohse - Selenia Oh – ryanryu

.

.

See you next chap~