VAMPIR PROTAGONIS?

Whaat!

Wait!

Naruto belongs to Masashi Kishimoto.

FULL SAKURA POV

Hari masih gelap, bahkan tanda-tanda mentari menampakkan kakinya saja belum ada. Dinginnya udara fajar yang cukup bisa membuat gigiku gemerutuk tak terkendali. Apalagi ditambah cepatnya gadisku ini berlari. Ya memang aku berada digendongannya, tapi tetap saja membuat kulitku bergidik kedinginan. Panas nuraniku yang terus mengumpat kotor karena hawa dingin ini, tak cukup membuat badanku menghangat. Seumur hidupku aku tak pernah berkhayal bisa didalam situasi yang seperti ini. Hidupku yang tenang dan teratur berubah terlalu banyak diwaktu yang sangat singkat. Ya Tuhan, Kau sangat keterlaluan!

"Hei, are you okay?"

Sentuhan tangan dinginnya dikulitku membuat kesadaranku yang mengawang jauh kembali keasalnya.

"Ya, aku baik-baik saja Ino."

Kueratkan pegangan tanganku dilehernya yang jenjang. Berada didekatnya memang berbahaya dan penuh ketegangan, tapi rasa aman dan nyaman yang malah sering kudapatkan. Aku terlalu naif? Atau bodoh? Biar saja. Aku tak peduli! Kalian yang tak pernah merasakan cinta tak akan paham dengan sesuatu yang kurasakan saat ini.

"Benarkah? Aku tak yakin Love. Aku bisa membaca pikiranmu sekarang. Kau lupa?"

Ah sial! Aku memang lupa.

"Heii! Itu curang Ino. Tak beretika! Katamu kau bangsawan, dimana sopan santunmu Princess Yamanaka!"

"Wow! Ini pertama kalinya kau mau memanggilku Puteri, Love."

Nada bicaranya itu? Smug face! Haah! Jika bisa, akan kutonjok wajahnya sekarang.

"Bodoh!" umpatku tepat ditelinga kanannya.

Dan seperti biasa, Ino hanya tertawa dengan wajah menyebalkannya. Aku memang berada dipunggungnya, tapi bukan berarti aku tak paham dengan nampak wajah pacarku sekarang kan? Dari suara tawanya sudah dapat dipastikan dia tersenyum merendahkanku. Berengsek! Idiot!

"Here we go." ucap Sai.

Ino berhenti berlari. Didepanku terpampang bangunan klasik megah yang sudah sangat familiar untukku. Yah! That's Senju University. Kami bertiga berdiri cukup jauh dari bangunan utama. Bersembunyi dipohon-pohon halaman belakang universitas ini. Gila! Jarak yang begitu jauh bisa dilalui hanya dalam 15 men oh bukan! 12 menit! Bisa kalian bayangkan? Bodoh! Tentu saja. Aku, maksudku mereka bukan manusia, vampir. Wajar saja kan?

"Baiklah. Jangan lakukan yang tidak perlu dilakukan Sai." ucap Ino dalam.

Darahku memanas. Jantung berdetak tak karuan karena satu hal. Suara rendah Ino saat sedang serius benar-benar seksi. Fuck! Apa yang kau pikirkan Sakura! Bersabarlah sampai perang ini selesai.

Haaaaaaah! Tenanglah Sakura.

"Aku mengerti Ino." jawab Sai diakhiri senyum brengseknya.

Dan wuuusssshhh! Aku kembali melayang dengan cepat dipunggung Ino. Berlari beriringan, melewati lapangan football yang lebarnya sekitar 49 meter.

"Sakura. Fo-fokuslah dulu."

Ehh. Tentu saja aku sedang fokus! Aku tak mau mati semuda ini.

"Heii! Apa maksudmu vampir? Aku fok- ..."

Oh tidak! Jangan bilang... Ya Tuhan! Sakura bodoh! Aku lupa iblis ini bisa membaca pikiranku! Arrghh! Pasti dia membaca pikiran nakalku tadi. Sialan!

"Aaaarghhh! Kenapa kau menyebalkan sekali brengsek!"

Kucekik leher Ino yang tertutup sempurna dengan sweeter turtleneck green army nya. Tentu saja aku hanya main-main melakukannya. Dia memang sangat menyebalkan, tapi otakku dapat bekerja cukup baik untuk mengenali Ino bagian penting dari hidupku.

"Hei you! Stop doing lovey dovey!" ucap Sai pelan begitu kami sampai didinding Universitas Senju.

Sama denganku, Ino acuh tak acuh mendapat teguran konyol dari orang yang lebih konyol barusan. Dengan tenang, Ino memanjat dinding bata ini tanpa kesulitan yang berarti, mendahului Sai dan mulut besarnya. Cih! Si brengsek itu. Sok sekali dia. Dia pasti hanya iri saja. Aku yakin itu. Wajahnya sesuram kisah cintanya. Dasar bodoh!

Dengan sekali hentakan, kami sudah berdiri dilorong lantai satu Universitas Senju. Sunyi dan sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Bahkan tanaman dipojok koridor ini nampak kering dan layu. Mati.

"Ini aneh." ucap Ino menurunkanku pelan dari gendongannya.

"Kau benar Ino. Ini seperti bukan cara Ibu." sambung Sai yang sudah berada bersama kami.

Dan aku masih saja tak mengerti. Kan aku masih noob, kalian lupa?

Disamping kananku Ino tampak diam, berkosentrasi. Kurasa, dia sedang menggunakan kemampuan khususnya untuk membaca situasi saat ini.

"Sial! Aku tak mendengar apapun disini." kata Ino tiba-tiba.

Sai dengan wajah serius mengambil pensil yang selalu berada dikantong celananya. Mencoret-coret dinding biru laut didepan kami dengan gambar yang membentuk ular. Aku sudah beberapa kali melihat Sai mengeluarkan kemampuan khususnya yang seperti ini. Cukup dengan merapalkan sesuatu, dan seperti yang kalian lihat, ular-ular tadi yang awalnya hanya sebuah gambar didinding berubah jadi nyata. Melata didinding tempatnya tercipta, dan menuju ketempat-tempat yang diperintahkan Sai. Benar-benar hebat!

Kami bertiga jalan perlahan, sangat berhati-hati. Sai disebelah kiriku dan Ino disebelah kananku. Tapi tetap saja, tak serta merta membuat jantungku berhenti berdetak tak karuan karena rasa takut ini. Heei! Apa salahnya takut? Sungguh sangat manusiawi sekali kan?

"Disini kosong, juga diseluruh lantai. Sejauh ini ular-ularku tak menemukan sesuatu yang mencurigakan." ucap Sai pelan.

Oh tidak! A-apa mungkin semuanya dibantai Tsunade? Juga A-aayah?

"Tidak Sakura! Masih terlalu awal untuk mneyimpulkan hal itu. Ini juga belum semuanya."

Ino membaca pikiranku kembali.

"A-apa maksudmu I-ino?"

"Ruang bawah tanah Sakura. Ruangan yang kau kunjungi tempo hari." jelas Sai.

Ah! Benar juga. Harapanku kembali naik. Setidaknya masih ada peluang Ayah dan seluruh mahasiswa Universitas Senju masih hidup.

Telapak kakiku yang berbalut sneaker putih polos dengan simbol F nya menapakan kaki dilantai koridor dengan cepat. Suara adu sepatu dan lantai begitu nyaring memecah fajar di koridor yang terlalu sepi ini. Tanpa banyak berfikir kami menuju ke tempat yang menghubungkan bangunan utama dan ruang bawah tanah. Gudang lantai 1.

Pengap, berantakan, cahaya minim, debu berterbangan dimana-dimana, ada beberapa yang turut menggangu pernapasanku. Brengsek! Kurasa lain kali aku harus bawa masker.

Tanpa rasa jijik, Ino menyeka debu dicermin ajaib itu dengan lengannya. Sama hal yang kulakukan dulu, menempelkan telapak tangan kirinya hingga sinar hijau menyelimuti seluruh bagiannya. Dan tanpa rasa kaget seperti yang kurasakan dulu, pintu lift terbuka lebar. Kami bertiga masuk dengan tenang.

Ck! Konyol! Didalam ruangan sempit yang berwarna coklat kayu ini hanya terdengar deru nafasku yang terengah-engah. Sedangkan dua sosok disebelah kanan dan dikiriku yang tingginya melebihi tinggi badanku yang mungil ini, berdiri dengan tenang, tak menghiraukan betapa capeknya badanku mengimbangi gerak meraka. Fuck! Aku iri dengan daya tahan tubuh yang seperti itu.

TINGTONG

Lift terbuka! Ini ruangan yang kumasuki dulu, saat mencoba menolong Temari. Hanya sebuah hamparan luas, pengap, dan sudah tak ada lagi penjara-penjara tempat Temari dan yang lainnya dipenjara dulu.

"Nothing." ucap Ino sambil menggeleng.

Dan tanpa disuruh, Sai dengan inisiatifnya sendiri menggambar ular didinding lift. Dan detik berikutnya ular-ular milik Sai muncul dan melata ke arah ruangan pengap didepanku.

Lift tertutup.

Ya Tuhan. Kumohon lindungi Ayahku.

TINGTONG

Lift berhenti, pintu terbuka. Dimataku terpampang dengan sangat jelas sebuah ruangan yang membuatku terbengong seperti orang gila. Ini tak masuk akal! Ruangan bawah tanah dengan berbagai fasilitas lengkap, mewah, dan modern? Gila! Makhluk seperti apa mereka ini? Televisi dengan lebar 32 inchi beserta perangkat home theather nya yang lebih lengkap daripada miliku, meja billiard, mini bar yang pastinya hanya berisi darah manusia dan beberapa sofa yang terlihat sangat mahal. Mereka vampir yang aneh. Dan juga kaya.

"Disini juga sama saja Sai." ucap Ino pelan.

"Baiklah. Biar ularku yang memeriksanya."

Ular-ular Sai muncul dari dinding lift, melata pelan menuju keruangan aneh tadi.

Pintu lift kembali tertutup.

"Ada apa Sai? Apa kau takut eh?"

Aku melirik Ino yang tiba-tiba bicara, lalu memandang Sai yang tampak gelisah disamping kananku. Yah. Aku memang seperti idiot.

"Wajar jika aku takut Ino. Ini Ibu." jawabnya gelisah.

Ino tersenyum dengan wajah sinis. Tatapan matanya dipenuhi kebencian.

"Kau masih memanggilnya Ibu? Naif sekali."

Bisa kurasakan kebencian disetiap kata-katanya. Jeans Hotpants, sweeter turtleneck green army, memang membuatnya terlihat seksi, tapi tetap tak bisa menyembunyikan pribadinya yang gelap.

"Tak mudah merubah kebiasaan 400 tahun Ino."

Dan hanya decahan 'cih' yang kudengar dari bibir Ino. Benar juga apa yang dikatakan Ino, makhluk kejam yang telah membunuh seluruh orang yang kau sayangi tak pantas dipanggil Ibu.

'Ini lantai terakhir Love. Bersiaplah.'

Suara Ino didalam pikiranku.

TINGTONG

What the fuck! Ba-bajingan! Ba-bangsat! Ja-jalang sialan!

"Sa-sakura?"

Melihat pemandangan yang terpampang dimataku tak ayal membuat mataka mengabur. Kakiku melangkah kejejeran manusia dengan tangan tersalib, tanpa pedulikan teriakan Ino dan Sai yang berada dibelakangku. Di ruangan dengan dinding dan lantai berwarna merah ini, berjejer salib kayu yang jumlahnya ratusan. Si bangsat Tsunade mensalib seluruh mahasiswa Universitas Senju. Ya Tuhan, bagaimana mungkin tak Kau tolong mereka dari kekejaman ini? I-ini sungguh tak adil Tuhan!

Kupandang satu persatu wajah mereka, diantaranya ada yang aku kenal. Paku menancap erat ditelapak tangan mereka. Noda aliran darah kering nampak dari setiap leher dan baju yang mereka kenakan. Bangsat! iblis itu...

"Sakura..." panggil Ino pelan.

Aku memandang Ino yang berdiri tegap diantara mahasiswa yang terpasung tak berdaya. Luapan kemarahan semakin menguap didadaku, kebencianku kepada Tsunade dan antek-anteknya sudah tak terbendung lagi. Aku berlari kearahnya, meraih pipi perempuan yang tersalib didepanku ini. Rambut coklatnya berantakan tak membuatku kesusahan mengenali sosok ini. Tenten. Ya Tuhan!

"Tenten! Bangunlah Tenten! Ku-kumohoon."

Kakiku tak kuat lagi berdiri. Raungan tak membuat Tenten bangun. Ya-ya Tuhan! A-apa di-dia su-sudah... Tidak! I-ini tidak mungkin!

"Tenanglah Sakura. Dia tidak mati."

Dekapan Ino tak membuatku tenang begitu saja.

"Mereka semua yang disini masih hidup, terkena ilusi dari Sasuke."

Be-benarkah?

"Aku masih mendengar detak jantung mereka. Percayalah."

Ino memang sedang menengkankanku, tapi aku tak rnenemukan kebohongan dibalik sorot mata birunya.

Ya Tuhan! Tidak! Ayah!

"Ayah... Dimana Ayah Ino?" jeritku histeris.

Aku bangun. Pikiranku semakin kalut.

"Aku tak menemukan Kizashi-san." ucap Sai yang tiba-tiba sudah berada disamping Ino.

Ya Tuhan! Apa lagi sekarang?

"Tidak ada? Apa maksudmu tidak ada Sai!"

Aku bergegas berlari menyusuri salib-salib mahasiswa ini. Sakit ditubuhku akibat tabrakan dengan kayu salib-salib ini sungguh tak kupedulikan. Jika memang darahku menjadi bayaran untuk menemukan Ayahku, tak masalah jika aku harus terluka lebih parah lagi.

"Sakura, kumohon..."

Kutepis tangan Ino yang menahanku. Tidak tidak! Aku tak akan menyerah begitu saja.

"Tidak Ino! Please, biarkan aku mencari Ayahku."

Kembali kutelusuri setiap baris kayu-kayu ini. Brengsek! Tetap tak ada! Sudah kutelusuri setengahnya dan hasilnya tetap sama saja.

"Tidak ada Sakura. Kau dengar Sai..."

"Demi Tuhan Ino! Sai salah! Biarkan aku menemukan Ayahku!" teriakku dengan air mata yang begitu deras.

Fuck! Tekanan ini membuatku gila! Kulimpahkan segala kemarahanku dan kekecewaanku kepada gadis pirang didepanku ini. Aku menyesal? Tentu saja. Apalagi setelah melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu. Aaarrrgh! Im the worst.

"Ma-maafkan a-aku Ino. A-aku tak bermaksud se-seperti itu..."

Kurasa setelah ini Ino akan membenciku. Tergambar jelas dari wajah ayunya itu.

"Pa-pasti Sai salah. A-aku harus menemukan Ayahku. Kumohon, mengertilah."

Dan kulanjutkan pencarianku. Mencari beratus-ratus salib kayu mahasiswa Universitas Senju yang berada disini. Aku pasti menemukanmu, Ayah. Pasti!

BUUUUUGGHHHH

Eenggghhh si-sialan. Seseorang memukul leherku dengan keras.

"Bangsat kau Sai! Kenapa kau memukulnya sialaaan!" teriak Ino.

Dia berlari menghampiriku. Menangkapku sebelum tubuh ini menyentuh tanah.

"Lihat! Yang penting dia tenang kan?"

Padanganku kabur. Pusing. Dan yang terakhir yang dapat otakku tangkap adalah, bau mint tubuh Ino.


"Sakura..."

Sesorang memanggilku.

"Sakura, ayo bangunlaaah."

Seseorang menepuk pipiku. Brengsek! Bau apa ini? Menyengat dan terasa sangat pedas dihidungku. Mataku terbuka. Memang sedikit kabur, tapi sudah cukup mampu melihat paras Ino yang begitu khawatir dan wajah Sai yang begitu suram.

"Ah! Syukurlah kamu sudah bangun Love."

Ino segera mendudukanku. Kuambil botol minuman yang Ino berikan. Rasa manis terasa dilidahku saat minuman ini mengisi mulutku.

"Ah! Jauhkan benda itu dariku Ino! Baunya menyengat! Menjijikan!"

Dengan sigap Ino membuang sesuatu ramuan berwarna hijau jauh-jauh. Brengsek! Bagaimana bisa Ino melumuri benda menjijikan itu dihidungku? Sialan!

"See. Benda yang kau sebut menjijikan tadi bisa membangungkanmu dengan cepat."

Aah! Si brengsek itu angkat bicara.

"Shut up Sai. Ini semua juga ulahmu brengsek." sambung Ino.

Ulahmu? Sialan! Aku baru ingat. Dia yang memukulku keras tepat dileher. Bangsat itu! Dimana pikirannya?

"Kau... Kenapa kau memukulku sialaaan!"

Jika Ino tak memegangiku, sudah bisa dipastikan kuhancurkan setiap tulang-tulangnya.

"Woooo. Easy Sakura. Aku hanya berusaha menenangkanmu tadi." sambung Sai.

"Menenangkan? Dimana otakmu sialan? Kau bisa membunuhku tadi!"

Ya Tuhan! Melihat wajah tak merasa bersalahnya, Demi Tuhan, jika ada kesempatan akan kubuat hancur wajahnya itu.

"Tapi kamu tidak terbunuhkan?" jawabnya begitu santai.

"Saaaii! Akan kubunuh kau!" teriakku sangat keras.

Dan Sai menjauh dengan tertawa tak berdosa.

"Ino! Lain kali jangan halangi aku menghancurkannya! Atau kau akan merasakannya juga."

"Baiklah Love." jawab Ino menyebalkan dan terus meminum kotak darah miliknya.

Brengsek! Seharusnya dia membelaku kan? Dasar pacar tak peka! Semua vampir sama saja!

Jengkel kurebut kotak darah yang sedang dinikmatinya.

"Ino! Aku serius?"

"Haah! Aku juga serius Love. Jika perang sudah selesai, silahkan pukul Sai sesuka hatimu. Aku tak akan mencegahmu Love. Janji." jawabnya sambil menyambar kotak darah yang berada ditanganku.

Perang ya? Kuharap perang ini segera selesai. Menyelamatkan Ayah, Temari, Tenten, dan mereka seluruh mahasiswa Universitas Senju.

Ah!

"Ino, bagaimana keadaan mereka? Tenten?" tanyaku khawatir.

"Aku dan Sai sudah melepaskan tangan dan kaki mereka dari kayu. Tapi aku tak bisa membuat mereka sadar."

Wajah Ino lebih tampak serius. Bahkan dia meletakkan kotak darah yang diminumnya. Mungkin juga karena sudah habis.

"Kenapa?" tanyaku.

"Pikiran mereka berada dalam kekuasan Sasuke, ilusi Sasuke. Tak ada cara menyadarkan mereka selain mengalahkan Sasuke." jelas Ino dengan mata memandangku serius.

Membunuh Sasuke ya? Ini berat! Apalagi kata Ino, menurut urutan vampir Tsunade, Sasuke berada diurutan nomor 2 dan Ino berada dinomor 3. Dan Naruto nomor 1! Haaah! Perang ini seperti tak berpihak kepada kami.

Ino memelukku tiba-tiba. Membelai punggung dan rambutku pelan dengan tangan dinginnya. Bau mint dari tubuhnya memenuhi syaraf hidungku. Haah! Benar-benar nyaman.

"Itu hanya angka Love, jangan pedulikan. Kita melakukan hal yang benar, pasti Tuhan bersama kita Love."

Aarrrgh! Sial! Perkataan bijak Ino membuatku semakin melted!

Kueratkan pelukanku ditubuh ramping Ino.

"Apa kau yakin?" tanyaku ragu.

"Tentu saja Love! Kau membuatku percaya Tuhan itu ada. Dan beberapa kali Tuhan membantuku menyelamatkanmu. Dan akan tetap seperti itu Love. Aku percaya itu."

Ya Tuhan! Tambah lagi alasan aku semakin mencintai Ino. Selain cantik, seksi dan menggoda -uhh! Hentikan Sakura!- dia juga open minded, dan selalu berfikir positif. Dia paket sempurna. Sumpah! Tak akan kulepaskan Ino dari tanganku. Aku bersumpah.

Ino melepaskan pelukannya dari tubuhku. Memandangku langsung dengan mata birunya yang mendamaikan. Senyum tipis bibir merahnya tak pernah membuat kupu-kupu diperutku berhenti terbang. Dia ... Dia vampir dengan wujud malaikat. Oh God! I love her somuch!

"I love you too, Love. I love you."

Dan kembali kurasakan manis bibirnya berada dibibirku. Tak ada lumatan menggoda yang dipenuhi nafsu seperti biasanya. Hanya kecupan penuh cinta dari gadis yang begitu kucinta. Bibirnya yang dingin tak membuatku ragu menyentuhnya dengan milikku. Malah kedua tanganku sudah berada dipipinya dan mengharap ciuman ini tak selesai dengan begitu cepat.

Dan kenyataan tak berjalan sesuai harapanku. Ino melepaskan pagutan dibibir kami.

"Maaf Love. Kau harus makan, Sai sudah membawakanmu buah-buahan."

Dan seperti anak kecil aku hanya mengangguk saja. Ya karena memang aku lapar juga sih.

Sai meletakan berbagai macam buah tepat dihadapanku. Cukup banyak untuk bisa kuhabiskan seorang diri. Tumben dia baik.

"Kalian sudah selesai? Kenapa? Aku tak menggangu kalian kan?"

Kali ini tak ada yang menanggapi Sai. Ino saja tampak tak mempedulikan dia yang sudah duduk bersama kami. Aku juga harus bisa secuek Ino!

Segera kuambil buah apel merah yang sejak tadi memanggil cacing diperutku. Tanpa mempedulikan kebersihan kulitnya, segera kugigit buah yang menjadi favoritku ini.

"Eeemhhh. Manis." teriakku refleks.

Aku seperti anak kecil? Biar saja!

"Tentu saja!" timpal Sai dengan wajah bangga.

Brengsek!

"Hei! Tetap tak akan membuat kesalahanmu hilang begitu saja sialan!"

Aku tak tau malu? Menikmati makanannya, tapi mencerca orangnya. Hah! Terserah kalian mau bilang apa, selama Ino tetap denganku aku tak peduli.

Kulirik Ino yang duduk disamping kananku. Wajah pucatnya terlihat sangat serius. Tak seperti tadi. Sebetulnya, apa yang dipikirkannya sekarang?

"Sai..." ucap Ino tiba-tiba.

Sedangkan yang dipanggil hanya bengong dengan wajah terkejut.

"I-ino awaaaas!"

SLLEEEEEBB

Aku tak tahu lagi caranya bernafas dengan benar. Keterkejutan ini seperti menghantam kesadaranku dengan cepat. Melihat gadisku menolongku untuk kesekian kalinya. Membiarkan telapak tangan kanannnya tertusuk pedang milik pemuda dengan rambut raven hitam yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana. Uchiha Sasuke.

"Refleks yang bagus Yamanaka." ucap Sasuke bengis.

"Saaai, Sakura!"

Kakiku tak lagi di tanah. Sai menggendongku menjauh dari Ino dan Sasuke yang sedang bertarung. Brengsek! Kenapa dia malah melarikan diri?

"Lepaskan aku Sai!"

Bukannya melepaskanku malah tangannya semakin erat mencengkram meronta sekuat tenagaku, tapi tangan Sai tetap kokoh meredam gerakanku. Brengsek!

"Kenapa kau malah melarikan diri sialaaan! Kenapa kau tak membantu Ino?" aku berteriak semakin kencang.

Dan si bangsat ini malah mempercepat larinya. Sialan!

"Sai! Lepaskan aku sekarang! Atau tidak akan kuhancurkan setiap tulangmu tanpa ampun!"

Demi Tuhan ini bukan gertakan! Aku akan melakukannya jika memang diperlukan.

"Diamlah Sakura! Ino menyuruhku melakukan ini semua."

Ini pertama kalinya Sai membentakku. Bukannya aku takut, aku hanya kaget saja.

"A-apa maksudmu?"

"Ini semua rencana Ino. Dia menyuruhku untuk tetap bersamamu sampai saatnya kau menusuk Tsunade dengan pedangmu." ucapnya tegas tanpa melihat kearahku.

Mata Sai fokus melihat jalan didepannya. Kekuatan larinya lebih cepat daripada Ino. Kurasa karena situasi genting yang kami hadapi sekarang.

"Kenapa? Kenapa begitu? Kenapa tidak dia saja yang menjagaku?"

Apa Ino takut aku akan menghambatnya bertarung? Jika iya, jahat sekali dia!

"Karena dia tahu hanya denganku kau akan tetap aman. Hanya denganku kemungkinan hidupmu lebih besar."

A-apa maksudnya? Bukankah kekuatan Ino jauh diatas Sai? I-ini benar-benar membingungkan.

"Aku horcrux terakhir Tsunade, salah satu jantung Tsunade. Dia pasti tak akan berani menyentuhku. Akan sangat menguntungkan jika melawannya bersama denganku. Sedangkan Ino, dia memang vampire first class, tapi Tsunade 'tak berhutang' apapun dengannya. Pasti akan sangat mudah mengalahkannya bukan? Juga dirimu."

Oh crap! Aku sekarang mengerti apa yang dipikirkan Ino dan Sai selama ini. Tapi tetap saja ini salah!

"Tapi tetap saja Sai, bukankah lebih efektif melawan Sasuke bertiga? Dia pasti akan cepat kalah?"

"Memang benar! Tapi lihat jam berapa ini? Kurang dari 2 jam lagi bulan akan muncul dan Tsunade akan memulai ritualnya." jelas Sai.

Fuck! Kenapa harus seperti ini? Ini pilihan yang sungguh sulit.

"Ino kuat. Percayalah dengannya, Sakura. Dia pasti bisa melawan Sasuke."

Aku hanya diam. Tak menanggapi kata-kata Sai. Aku bingung harus menanggapinya bagaimana lagi? Dan Tuhan! Kumohon menangkan Ino. Jaga Ino! Please...

'Dasar bodoh! Ino bodoh! Aku membencimu vampir bodoh!'

Aku mengumpat keras dalam hati. Berharap Ino mendengarku dari jauh sana.

'Baiklah-baiklah dengan Sai. Dengarkan apa yang dikatakannya Love.'

Dan air mataku kembali menetes. Brengsek! Jahat sekali dia! Membuatku menangis untuk kesekian kalinya.

'Susul aku segera setelah urusanmu selesai Ino. Aku menunggumu.'

Tidak seperti yang pertama. Sudah 10 menit aku menunggu balasan Ino tapi masih juga suaranya tak terdengar dipikiranku. Oh God! A-apa dia baik-baik saja? A-apa dia bisa mengalahkan Sa-sasuke? Fuck! Kepalaku pusing tak karuan. Memikirkan hal semacam ini membuat migrainku kambuh.

'Sa-sakura?'

Ino! Ini suara Ino.

'I love you.'


Aku tak tahu pasti nama dan lokasi tempatku berada saat ini. Hamparan tanah yang sangat luas yang dikelilingi hutan lebat dan gunung berapi disebelah timur. Jangan suruh aku menanyakan nama gunung itu ke Sai! Dia sedang sibuk melawan Tsunade sekarang.

Tugasku untuk saat ini hanya satu, membebaskan Karin dan Temari yang sedang ditawan Tsunade disalibnya. Kucabut pasak yang menancap ditelapak kiri Temari. Seperti saat kucabut yang sebelah kanan, darah tak menguncur dibalik lukanya. I-ini aneh! Tidak sesuai dengan ilmu kedokteran yang kupelajari selama ini. Haaaah! Lupakan saja Sakura. Yang terpenting sekarang adalah, gerakan kakimu dengan kilat dan letakan Temari di pinggir hutan yang aman!

Sekarang Karin! Aku bergegas berlari kearah dimana Karin disalib.

SLAAAASSSSH

Bangsat! Tsunade sudah berada di depanku.

"Ck! Tidak lagi sayaang."

BUUUGGGHH

Arrrggghh! Sakit!

Belum sempat kuayunkan pedang emas yang kubawa, Tsunade memukul perutku dengan amat keras. Membuatku melayang dan semakin jauh di tempat Karin berada. Beruntung Sai yang sudah dalam mode Volstandig segera menangkapku, kalau tidak? Haaah! Bisa saja tulang punggungku akan hancur.

"Sakura? Kau baik-baik saja kan?" tanyanya khawatir.

"Yah. Im fine. Thanks." jawabku bohong.

Aku tak ingin membebaninya dengan nyeri yang begitu dasyat diperutku.

"Syukurlah. Maafkan kecerobohanku tadi. Kupastikan tak akan terulang lagi Sakura."

Ya Tuhan! Sai menepati janjinya, dia benar-benar menjagaku dengan baik. Aku tidak boleh lemah! Aku tidak boleh kalah! Aku harus kuat!

PRAAAANG PRAAAANG PRAAAANG

Suara aduan belati Tsunade dan pedang milik Sai begitu nyaring sekali. Tak ada yang mau mengalah, tapi beruntung bagi kami, saat Ritual Purnama dilaksanakan kekuatan Tsunade akan berkurang separuhnya. Tapi bukan berarti dia lemah. Tidak sama sekali! Bisa saja Tsunade menghabisi Sai dengan cepat, tapi tak dilakukannya. Kurasa karena Sai horcrux luarnya terakhir.

Binggo!

Aku sudah mendapatkan Karin dengan selamat. Dengan cepat kuletakan dia disebelah Temari. 5 mahasiswi yang berada disalib lainnya? Kalian pasti berfikir aku jahat, hanya menyelamatkan temanku saja. Tapi mau bagaimana lagi. Jantung mereka sudah disantap Tsunade. Mereka sudah tak bernyawa. Prioritasku sekarang adalah membantu Sai mengalahkan Tsunade dan menyelamatkan Ayahku. Dan waktuku tidak lebih dari durasi purnama. Damn it!

Sial! Sai terdesak! Belati Tsunade sudah tepat dileher Sai.

Aku harus cepat!

Aku memang tak bisa berlari dengan cepat. Bahkan berpindah antar tempat dengan waktu yang sangat singkat tak bisa kulakuakan. Tapi setidaknya kekuatan fisikku cukup mampu disandingkan dengan Vampir Second Class.

BUUUUUUGGGGHHH

Tanganku rasanya lumayan nyeri. Tapi tak apa, bisa memukul wajah Tsunade dan membuatnya bergulung-gulung di tanah sudah cukup menyenangkan.

"Haah! Terimakasih Sakura. Kau menyelamatkanku."

Sai menyambut uluran tanganku. Dia bangkit dan berdiri tepat disebelahku. Bersiap melawan Tsunade bersama-sama.

"Sudah ada kabar soal Ayahku, Sai?"

"Belum Sakura. Ularku masih mencari Kizashi-san berada."

Aku hanya diam tanpa menanggapi jawaban Sai. Baiklah. Aku harus lebih bersabar lagi.

Mungkin ini terdengar bodoh, tapi untuk ukuran penyihir tua yang jahat parasnya cukup menawan. Aarrghh! Pantas saja semua anak-anaknya terlihat sempurna. Apalagi Ino. Menurutku dia yang paling sempurna!

Tsunade bangkit.

"Ck! Ini mengharukan! Anakku dan manusia berusaha membunuhku. Hahaha!"

Tawanya sunggur mengerikan. Kharismanya tak terbantahkan. Rambut pirang berantakan, gaun putih dengan noda darah dimana-mana. Tentu saja bukan darahnya! Tapi milik 5 gadis yang jantungnya sudah dimakannya tadi. Kau tahu kalian pasti mual. Tahanlah sebentar.

"Dan kau Sai, Aku Ibumu, kenapa kau ingin sekali membunuhku sayang?"

Tsunade berjalan maju. Aku bersiap. Kukuatkan peganganku di ganggang pedangku.

"Kurasa Ino mempengaruhimu Nak. Sadarlah. Dia yang salah, bukan aku sayang. Dia pengkhianat sayang. Dia yang penjahatnya."

Terus saja membual Tsunade! Sai cukup pintar untuk percaya omong kosongmu!

"Simpan omongkosongmu Tsunade!"

Wow! Sai tak memanggilnya Ibu.

SLAAAASSSSH

Sai melaju secepat kilat dengan sayap bergerak kuat.

PRAAAANG

Tsunade menahan serangan Sai barusan. Kaki kirinya yang bebas menendang perut Tsunade dengan keras. Tapi ya seperti yang kalian lihat, Tsunade menahannya dengan kedua tangannya. Pertarungan sengit terjadi lagi.

Sai menyuruhku untuk menjadi back up nya. Maksudnya, aku tak punyai kemampuan berpindah dengan cepat. Sedangkan pertarungannya dengan Tsunade membutuhkan kekuatan itu. Dia menyuruhku untuk menyerang Tsunade jika ada kesempatan.

PRAAAANG PRAAAANG

BRAAAAKK

Yes! Sai berhasil membuat Tsunade tersungkur tepat didepanku. Ini saatnya!

"Bangsat!"

PRAAAANG

Sial! Dia berhasil menahan pedangku dengan belatinya.

"Aaaarrrghhhhh!"

Cahaya kuning terang muncul dari pedangku. Sangat silau. Membuat Tsunade kesakitan karenanya. Teriakannya sangat nyaring. Kulit diwajah dan tangannya mengelupas, terbakar karena sinar aneh ini. Wow! Pedangmu sungguh berguna kakek!

"Ji-jirayaaa! Brengsek kau! Sialaaaan!" teriaknya lebih keras lagi.

BUUUUUGGHH

Sai semakin menghancurkan Tsunade, memukul perutnya sangat keras hingga membuat tanah disekitar kami bergetar karenanya.

"Aaarrghh!"

"Mati kau sialan! Matilah! Membusuklah dineraka!"

I-ini pertama kalinya aku mendengar Sai berteriak begitu lantang, dan, dan me-menakutkan. Pukulan keras Sai tadi membuat Tsunade tak bisa bergerak lagi. Tanah tempatnya terbujur sudah tak karuan bentuknya, bahkan aku tak tahu rupa Tsunade saat ini. Asap debu dan tanah yang berwarna coklat menghalangiku melihat penampakannya saat ini. But, itu sama sekali bukan masalah. Hanya perlu menancapkan pedang emasku dan dia akan mati. Simple.

"Kembalilah ke Neraka brengse..."

Dasar bodoh! A-apa yang dipikirkan makhluk sialan ini!

"Aaaaaarrrrrrgghhhh!" teriakan Sai terdengar begitu menyakitkan.

"What the hell are you doing bitch? Apa kau bodoh haaaaaaahh?"

Belum sempat pedangku menancap dada Tsunade, si brengsek Sai menghalangi laju pedangku dengan cara memegang bilah pedang yang tajam. A-apa jangan-jangan, dia berubah pikiran? Gawat!

"Ki-kizashi-san..."

A-aapa?

"Ma-mana? Dimana Ayahku Sai?"

Aku berteriak tak terkendali. Bahagia karena Ayahku akhirnya ditemukan sekaligus khawatir dan kaget tak percaya juga.

"Ki-ki-kizashiii saan..."

Asap debu tanah disekitar Tsunade perlahan menghilang. Ba-bangsat! Sialaaan! Itu bukan Tsunade, tapi Ayahku! Brengsek! Sejak kapan? Ba-bagaimana bisa dia... Jalang sialan! Air mataku mengalir begitu deras, melihat darah muncul dibeberapa bagian tubuh Ayahku. Pun darah hitam Sai menetes dipipi Ayahku. Dadaku sesak. U-udara tak mampu memenuhi paru-paruku. Sa-sakit.

"A-ayah..."

Ak-aku tak mempu mendengar suaraku sendiri.

"A-aayaah..."

Tangisanku semakin pecah. Kudekati tubuh tak berdaya Ayahku. Di-diam. Hangat. Kuseka dalam yang mengalir diujung kiri bibirnya. Ya Tuhan, a-aku tak pernah tahu rasanya akan sesakit ini. Ta-tangan ini... Sialan! Tanganku ini yang sudah membuat darah keluar dari tubuhnya.

"A-ayah ku-kumohon, ja-jangaan ..."

Aku menangis meraung-meraung. menangisi Ayahku sekarang dan juga alur hidupku yang sa-sangat lucu ini. Ck! Tuhan, pasti Kau tertawa dengan keras sekarang bukan?

"Sa-sakura, kumohon kuatlah sedikit lagi."

Ku-kuat? Ba-bagaimana mungkin Sai?

ZLAAAASH ZLAAAASH ZLAAAASH ZLAAAASH

"Aaaaaarrrghhh!" raungan Sai keras.

Ku-kurasa ini akhirnya. Tak ada harapan lagi. Mu-mungkin sebentar lagi nasibku akan sama seperti Sai sekarang, tertancap empat buah tombak tajam yang datang entah darimana. Ck! Aku paham sekarang, pantas saja pertempuran Sai tadi dia terlihat lebih unggul, rupanya itu Ayahku. Sial bukan?

Mulut Sai mengeluarkan darah hitam pekat. Sangat banyak, kurasa Vollstandig nya tak akan bisa membantunya. Sayap hitamnya yang sangar nampak sangat kacau, tertusuk tombak tajam milik Tsunade tentu saja.

Tinggal menunggu giliranku.

"Sa-sakura... pe-pedangmu...?"

Kupegang pedang emas yang selalu Ino dan Sai bilang begitu hebat, tapi nyatanya? Ck! Percuma tak akan menolongku dan Ayahku dan yang lainnya.

Hollyshiiit!

Seseorang yang kutahu itu siapa menarik rambut panjangku dengan keras. Tak terasa sakit, kurasa otakku tak dapat mengenali rasa sakit itu lagi. Tubuhku melayang di udara, sangat cepat.

BRRUUUUKKKK

Tidak lagi. Sentuhan kasar punggungku dan tanah ini cukup membuatku kembali meringis. Kali ini sungguh terasa sakit.

"Eeengghhhh."

Untuk kesekian kalinya aku merasakan sakit dibadan ini lagi, kali ini dileherku. Wajahnya memandangku jijik seakan aku kotoran yang bisa mengotori gaun putih panjangnya kapan saja. Kulit badannya sangat dingin dan sama pucatnya dengan vampir yang kukenal.

"Kenapa diam Sakura? Berdoakah?"

Damn it! Tsunade mencekikku lebih kuat lagi. Sa-sakiit.

Dengan kasar Tsunade memegang daguku dengan tangan yang lainnya. Menggerakan ke kanan dan ke kiri seolah aku boneka yang siap dihancurkannya kapan saja.

"Hm, kau memang tak mirip Jiraya. Pantas aku tak mengenalimu." kata Tsunade dengan senyum menjijikannya.

"Per-persetan de-denganmuuh- Eeeenghh!"

Si vampir sialan yang duduk diperutku itu semakin mengencangkan jari-jarinya di leherku. Ck! Kurasa aku akan mati sekarang. Apa aku terdengar putus asa? Memang.

PLAK

Tsunade menamparku pelan. Lebih pelan daripada Sasuke yang melakukannya tempo hari.

"Wow! Kau membawa pengaruh negatif untuk Ino ku sayang."

Ino yaa? Dimana Ino sekarang? Entahlah! Mungkin saja masih bertarung dengan Sasuke, mungkin saja juga ... Haaaah! Entahlah! Semoga dia baik-baik saja, aku tak ingin menempatkannya diposisi yang seperti ini.

Aku sudah tak tahu lagi akan jadi apa aku sebentar lagi. Tangan kananku memang memegang pedang emas milik Kakek, tapi tanganku seperti sudah habis tenaganya untuk bisa mengayunkannya. Belati Tsunade sudah berada dileherku, ujungnya menancap langsung dikulitku.

"Daaa sayaang, Salam buat Ayah dan Kakekmu yaa."

Haaaah! Aku menangis lagi, hanya kali ini dalam diamku. Menanti diriku menjemput ajal yang diberikannya.

"Bajingaaaan kau Sai! Bajingaaaan! Aaaarrrrrrghhhh!"

Suara menggelegar Tsunade memaksa membuka kembali kelopak mataku. Tsunade sangat kacau. Tangannya sudah tak lagi dileherku, mengacak-acak rambut pirangnya seperti orang gila. Mulutnya meracau tak jelas, selain umpatan-umpatan kasar. Kurasa dia kesakitan.

"Sa-sakuraaaaa! Pedangnya!" Sai memanggilku keras dari tempatnya.

Ahh! Benar juga! Buat apa pusing-pusing memikirkan penyebab Tsunade kesakitan seperti ini, ini kesempatan yang bagus bukan?

ZLEEEEEEBB

"Aaaarrgggghh! Manusia bangsaat!"

Kutusukan pedangku ke dada Tsunade.

BUUUUUGGH

Kutonjok wajahnya dengan sisa tenagaku. Dan berhasil! Tsunade tak lagi duduk santai diperutku. Brengsek! Badan brengsek! Kaki brengsek! Berlarilah dengan cepat!

No no no! Jangan lagi!

Aku memang tidak menyukai Sai, tapi bukan berarti aku membencinya. Apalagi dia beberapa kali membantuku dan Ino. Ya Tuhan!

"Bodoh! Brengsek! A-apaa yang kau lakukan sialaaaaan!" kutampar pipinnya pelan.

Haaah! Sai memuntahkan darahnya lagi. Ditambah juga darah merembas dari pedang miliknya yang sudah tertancap didadanya. Dan tombak-tombak Tsunade juga.

Ah benar! Darah! Sial! Tasku tergeletak nyaman disekitaran salib tumbal Tsunade.

Kaki brengsek kuatlah!

"He-ei mau ke-kemana kauh? Su-sudah di-disini saja, i-itu tak a-akan mem-bantukuuh." ucap Sai sangat kesusahan.

Brengsek!

"Bodoh! Kau bo-bodoh sialaaaan!" aku menangis semakin kencang.

"Kau yang bo-bodoh Sa-sakura! Bergembiralah! Ki-kita me-menang. Ja-jalang itu su-sudah kembali ke neraka."

Tsunade memang sudah mati. Ta-tapi yang kupedulikan untuk saat ini keadaanmu bodoh.

"Sa-saaai...?

Cahaya emas menyelimuti tubuhnya. Si-sial! Aku sudah pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Hi-hinata! Siaaal! Sai brengseek!

"Goodbye Sa-sakura. Sa-salam ke I-ino. Uuuhh!"

Sai menghilang, juga pedangnya. Dan aku hanya bisa menangis dan menangis saja. Tidak! A-aku ha-harus kuat! Ta-tapi pusing memenuhi kepalaku. A-aku, a-aku tak sanggup lagi...

"Ah! Sudah kuduga, pasti anakku mengorbankan dirinya untuk dirimu lagi."

Su-suara i-ini? Ti-tidak mungkin!

Kukuatkan kepalaku untuk mendongak.

"Hallo Sakura..."

Bunuh aku saja Tuhan.

"Ts-Tsunade..."

TBC