JOURNEY OF SPRING/ CHAPTER 12

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : Naruhina

Rating : T

WARNING

DON'T LIKE DON'T READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL. KARAKTER HINATA DISINI SANGATLAH KUAT DAN SANGAT OOC.

.JIKA ADA YANG TAK MASUK AKAL, DI ANGGAP MASUK AKAL JUGA YA HEHE

.

.

.

Hinata duduk termenung diruang tengah sambil melihat televisi. Jari jemari Hinata tak henti-hentinya menekan beberapa angka untuk mengganti channel yang ada. Acara televisi siang ini tak ada yang menarik. Dibalik persembunyiannya, Hinata mendengar suara tawa Iruka dan Naruto secara bersamaan. 'Sepertinya diluar sana sedikit menyenangkan. Setidaknya tidak membosankan,' pikir Hinata.

Gadis berparas cantik ini keluar dan bergabung bersama mereka. Bergabung dalam arti hanya melihat mereka dari dekat tanpa harus ikut bermain air. Sejujurnya, Hinata ingin sekali bermain air bersama mereka tapi karena keadaannya seperti ini, membuat Hinata untuk mengurungkan niatnya. Hinata duduk di teras rumah sampingnya sambil melihat Naruto dan Iruka tertawa bersama.

"Hinata nee-chan, ayo main air bersama Iruka!" ajak Iruka yang mengetahui kehadiran Hinata.

Hinata tak mengiyakan ajakan Iruka namun ia berlari kecil menuju bocah berumur empat tahun dan bermain bersama. Melihat kedatangan Hinata, ide jail Naruto kembali muncul. Ia mengambil selang yang tergeletak di tanah di dekat mata kakinya lalu menyemprotkan air kepada Hinata. Naruto tertawa puas karena berhasil membuat Hinata basah kuyup, sedangkan Hinata shock sambil menahan rasa kesal dihatinya.

"Naruto-kun!" teriak Hinata.

Hanya suara tawa yang Hinata dapat, merasa tak terima dengan perlakuan Naruto. Hinata berlari, ia kemudian merebut paksa selang yang ada ditangan kekasihnya. Hinata memutar penuh keran air yang tak jauh darinya lalu menyemprotkan aliran air itu kepada Naruto. Tentunya volume air yang Hinata siramkan pada Naruto lebih besar daripada serangan air Naruto sebelumnya. Walaupun hanya dengan satu tangan, tapi Hinata cukup terampil memainkan selang dengan tangan kirinya.

"Rasakan ini, hahahaha," tawa Hinata girang.

Naruto, Hinata dan Iruka terlarut dalam permainan airnya. Suara tawa mereka menambah semarak indahnya suasana dipagi hari yang cerah ini. Tawa ketiganya seperti Sakura yang mekar dimusim semi tanpa sedikit keraguan. Semua terlarut dalam kebahagiaan yang muncul didalam jiwa. Tawa mereka berhenti ketika bel pagar kembali berbunyi.

"Aku akan membuka pintunya," ucap Hinata.

"Hinata, biar aku saja yang membuka pintunya," pinta Naruto.

Hinata mengangguk kecil, ia membiarkan ia Naruto membuka pintu pagar rumahnya. Naruto berjalan tanpa ragu, ia masih bertelanjang dada dan rambut yang basah. Kulitnya yang kecoklatan semakin terlihat seksi ketika sinar matahari menyentuhnya. Perlahan jari jemarinya membuka pagar. Naruto tertegun ketika melihat sosok pria tampan bersurai merah berdiri dihadapannya dengan pandangan bingung. Apalagi dengan penampilan seperti ini, ia takut Gaara akan berpikiran macam-macam tentangnya.

"Naruto, sedang apa kau disini?" tanya Gaara bingung. Belum sempat Naruto menjawab, Hinata tiba-tiba muncul tak jauh dari belakang Naruto.

"Siapa itu Naruto-kun?"

"Hi … Hinata-chan?" seru Gaara.

"Gaara-kun, ada apa pagi-pagi begini kesini?" tanya Hinata.

Gaara tak langsung menjawab pertanyaan Hinata. Ia melihat gadis pujaanya itu dari atas sampai bawah. Basah kuyup, sama seperti keadaan Naruto sekarang. Kecurigaannya mulai muncul dan sepertinya perkataan Erika mendekati kebenaran. Pikiran buruk Gaara semakin menjadi-jadi, walaupun mereka sebatas teman tapi apakah harus sejauh ini? ditambah lagi Naruto bertelanjang dada. Perasaan was-was menghinggapi relung hatinya. Jika Gaara dilingkupi perasaan bingung dan curiga. Lain halnya dengan Naruto, ia takut, gugup, dan bingung melihat kedatangan Gaara. Ia takut hubungannya dengan Hinata diketahui oleh kakak sepupunya. Ia tak mau membuat Gaara sakit hati tapi disisi lain ia juga ingin Gaara mengetahuinya. Ini memang sulit.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Gaara penasaran.

"Kami hanya bermain air bersama dengan Iruka," jawab Hinata.

"Iruka? Siapa Iruka?"

"Dia anak dari tetanggaku, masuklah. Kebetulan sekali kau datang, rumah ini semakin ramai dan menyenangkan. Jadi, aku tak merasa kesepian."

Gaara mulai melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah Hinata dan berjalan menuju halaman samping rumah. Dari jauh terlihat anak kecil yang asyik bermain selang air. Ia paham, anak inilah yang dimaksud Hinata. Naruto tak mengatakan apapun, dia hanya bisa berjalan sambil menunduk.

"Merasa kesepian? Memangnya kemana ibumu?"

"Seharian ini ibu tak ada dirumah. Beliau berkunjung ke rumah paman karena istrinya baru saja melahirkan. Besok ibu baru pulang. Ehmm Gaara-kun, duduklah, aku ganti baju dulu."

Hinata mempersilahkan Gaara duduk diruang tengah sedangkan Naruto tersenyum hambar ke arah Gaara. Pria berambut merah itu tersenyum kepada sepupunya, apapun alasann Naruto berada dirumah Hinata, sedikitpun Gaara tak memiliki perasaan cemburu. marah bahkan sampai membenci sepupu kesayangannya sendiri. Mata Gaara beralih melihat genangan air yang ada dilantai akibat tetesan air yang berasal dari celana Naruto yang basah. Gaara sedikit menggelengkan kepalanya, ternyata sifat ceroboh Naruto tak pernah hilang.

"Naruto, apa kau akan membasahi seluruh lantai dengan celanamu?" canda Gaara.

"Astaga, iya aku lupa. Bagaimana ini lagipula aku tidak membawa pakaian ganti. Ehmm Gaara-nii, apa di mobilmu ada sepasang pakaian?" tanya Naruto. Gaara tersenyum sambil menggeleng pelan. "Haissh, bagaimana ini? Gaara-nii tunggu sebentar."

Gaara mengangguk tanda mengerti. Naruto pergi meninggalkan kakak sepupunya sebentar. Langkah kakinya membawa Naruto mendekati kamar Hinata. Tak lama Naruto mengetuk-ngetuk pintu kamar Hinata.

"Hinata-chan, apa kau punya pakaian untuk pria?" tanya Naruto sedikit teriak dari depan pintu.

"Apa kau gila, semua penghuni rumah ini adalah perempuan."sahut Hinata dari dalam kamarnya. Hinata terlihat agak kesulitan mengancingkan bajunya hanya dengan menggunakan satu tangan yaitu tangan kiri. Hinata mulai frusasti, karena hampir tiga menit ia hanya berkutat dengan satu kancing bajunya.

Naruto tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Celananya yang basah semakin lama semakin berat. Dengan terpaksa ia menanggalkan celananya tepat dikamar Hinata, Naruto merasa tak malu karena ia masih memakai boxer berwarna putih. Secara bersamaan, pintu kamar Hinata terbuka. Naruto tersentak, ia yang berdiri dengan satu saat mencoba melapas celananya tak sanggup menyeimbangkan tubuhnya. Pria tampan itu pun terjatuh namun segera mungkin ia berusaha berdiri. Ia melihat Hinata dengan baju berenda dengan corak polkadot dengan warna pink, berdiri di depan pintu.

"Naruto, apa kau bisa membantuku sebentar?"

Naruto tak langsung menjawab, ia memperhatikan Hinata secara seksama. Matanya sedikit terbelalak kita ia sadar bahwa Hinata tak mengancing sebagian bajunya. Walaupun Hinata menautkan kedua sisi baju yang dikenakan dengan tangannya, namun Naruto masih bisa melihat sedikit bra hitam yang menutupi bagian vitalnya. Tak hanya itu saja, Naruto juga bisa melihat perut Hinata yang langsing. Entah sadar atau tidak, ia mulai menelan ludah.

"A-apa yang bisa aku bantu Hinata?" tanya Naruto sedikit tergagap.

"A-aku kesulitan mengancing baju dengan menggunakan satu tangan. Apa kau bisa mengancingkan bajuku?" pinta Hinata.

Naruto menelan ludah namun kepalanya masih bisa mengangguk. Entah kenapa kedua lututnya agak bergetar, darahnya secara cepat berkumpul dikepalanya menyebabkan rasa panas yang sungguh luar biasa. Naruto sudah tidak bisa lagi menahan semburat merah dipipinya. Tak hanya Naruto, Hinata pun juga merasakan hal yang sama. Untunglah kancing baju bagian atas sudah Hinata kaitkan. Dia tak bisa membayangkan apa yang bisa ia lihat jika kancing paling atas masih terbuka.

Tangan Naruto mulai mendekat secara perlahan. Berkali-kali ia menelan ludah, berkali-kali juga semburat merah muncul dipipinya. 'Tuhan, kuatkanlah hambamu ini," batin Naruto dalam hati. Rambut Hinata yang basaha, bajunya yang sedikit ketat membuat gejolak mudanya memberontak. Naruto tanpa sadar menghembuskan nafas didepan Hinata. Satu persatu Naruto mulai mengancingkan baju Hinata.

"Naruto-kun, kau kenapa?" tanya Hinata tampak polos.

"Aku … aku tidak apa-apa Hinata-chan." Tinggal satu kancing lagi Naruto, jadi kuatkanlah dirimu, ucap Naruto dalam hati. "Sudah selesai."

"Terima kasih Naruto-kun. Aku menemui Gaara dulu."

"Hinata-chan?!" panggil Naruto.

"Iya?"

"Apa benar kau tak punya baju pria?"

"Aku tidak punya, aku hanya memiliki kaos baisa, itu pun warnanya merah muda. Apa kau tidak apa-apa memakai kaos itu?"

"Baiklah, aku tak keberatan," ucap Naruto terpaksa.

"Kalau kau mau cari bawahan juga ada. Ambil saja dilemariku Naruto-kun."

"Baik."

ooOOoo

"Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Hinata.

"Tidak apa-apa," jawab Gaara dengan senyum.

"Kalau boleh tahu, ada perlu apa Gaara-kun datang kesini?"

Gaara tak langsung menjawab pertanyaan Hinata. Ia mngumpulkan segenap keberaniannya untuk mengucapkan kalimat ini. Kalimat sederhana namun sangat sulit diucapkan jika kau terkurung dalam suatu perasaan, yaitu perasaan cinta. Gaara semakin meleleh melihat senyum Hinata yang menawan. Huh, tak ada kata lain yang bisa ia gambarkan tentang Hinata. Gadis didepannya ini seperti bidadari yang jatuh dari langit. Senyuman itu membuat hatinya semakin kacau, jantungnya semakin berdebar-debar seolah ingin keluar dari tulang yang mengurungnya.

Awalnya ia hanya ingin mengkonfirmasi kabar tentang hubungan Hinata dan Naruto tapi setelah bertemu Hinata, Gaara begitu ingin mengungkapkan perasaannya. Dia tak tahu kenapa pikirannya berubah hanya dalam beberapa menit saja. Beberapa kali mulutnya berusaha berucap kata namun suara ditenggorokan tak kunjung keluar.

"A-a-aku …. ," ucap Gaara terbata-bata.

"Iya Gaara-kun kau kenapa?"

Disisi lain, Naruto keluar dari kamar Hinata dengan kaos berwarna pink dan celana tiga perempat berwarna biru. Ini baru pertama kalinya Naruto mengenakan pakaian wanita, tapi untunglah modelnya seperti baju pria, hanya warnanya saja yang terlihat feminim. Naruto melangkahkan kakinya menuju ke tempat Gaara dan Hinata berada. Otaknya mulai berfikir apa yang akan ia lakukan nanti didepan Gaara Nanti.

"Aku mencintaimu, Hinata-chan."

Langkah Naruto terhenti saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Gaara, ia kemudian bersembunyi dibalik dinding yang tak jauh dari ruang tengah. Naruto menyandarkan tubuhnya ke dinding sedangkan matanya melihat langit-langit. Ia tersenyum kecil, senyum yang memiliki banyak makna. Jujur Naruto merasakan percikan api cemburu yang sudah mulai berkobar didalam dirinya tapi disisi lain, Naruto juga kasihan dengan Gaara karena tentunya Naruto tahu jawaban Hinata.

"Apa yang kau katakan tadi?" tanya Hinata yang nampak tak percaya.

"Aku mencintaimu, Hinata-chan."

Kedua mata Hinata terbelalak, ia sama sekali tak menyangka Gaara mengucapkan kalimat sakral ini. Kalimat yang diidam-idamkan seluruh wanita Jepang, ini benar-benar gila. Hinata tak bisa mengatakan apa-apa, dia terlalu shock mendapat kalimat indah itu dari mulut seorang artis terkenal dan tampan yaitu Sabaku Gaara. Jika tadi Naruto yang menelan ludah karena keseksian Hinata, sekarang Hinata yang menelan ludah akibat kalimat ajaib yang bisa membius siapa saja.

Hinata tidak mungkin menerima pernyataan cinta Gaara karena dia adalah milik Naruto. Terlalu kasar jika ia mengatakan "tida"k secara langsung, maka dari itu Hinata memilih untuk diam. Sedangkan Naruto, ia masih sabar menunggu dibalik dinding dan membiarkan Gaara mengatakan semua perasaanya.

"Aku tahu kau tak bisa menjawabnya Hinata dan aku tahu alasannya."

"Kau tahu alasanku?" tanya Hinata heran. Gaara pun mengangguk.

"Kau mencintai sepupuku, Namikaze Naruto dan kalian sepasang kekasih, iya kan?"

Naruto tertegun mendengar ucapan Gaara. Darimana kakak sepupu kesayangannya ini mengetahui hubungan mereka berdua. Padahal susah payah Naruto berusaha menyembunyikan hubungan ini sejak ia tahu bahwa Gaara mencintai Hinata. Ia tak mau Gaara sakit hati jika mengetahui kenyataan sebenarnya tapi tidak munafik, ada secercah kelegaan dalam dirinya hari ini karena Gaara sudah mengetahui semuanya. Hinata juga bingung darimana Gaara mengetahui semuanya padahal sebelumnya dia tidak pernah cerita tentang kehidupan asmaranya.

"Kenapa kau diam saja Hinata, perkataanku benar kan? Kalian berdua juga dijodohkan kan?" tanya Gaara dengan senyuman. Hinata menjawab pertanyaan Gaara dengan anggukan pelan. Melihat anggukan Hinata, Gaara tertawa kecil, tawa putus asa.

"Naruto-nii!" teriak Iruka dari luar. Bocah itu berlari kea rah Naruto yang bersembunyi dibalik dinding. Naruto tersentak karena tiba-tiba Iruka meneriakan namanya. "Kenapa Naruto-nii berdiri disini?" tanya Iruka polos.

Baik Hinata dan Gaara melihat kemana Iruka berdiri. Sudah tak ada lagi tempat untuk bersembunyi bahkan menghindar dari masalah rumit ini. Naruto perlahan menampakkan batang hidungnya, ia mengigit bibir bawahnya yang merah dan seksi. Naruto akan selalu seperti ini jika dia merasa gugup dan bingung.

"Naruto-kun, sedang apa kau disana?"

Sedikit demi sedikit ia memberanikan diri menatap Gaara. Anehnya tak ada tatapan kebencian dari Gaara, pria berambut merah ini malah tersenyum tanpa beban melihat kehadiran Naruto. Hinata menatap keduanya dengan perasaan bingung, ia tak mau dua pria ini yang masih memiliki hubungan saudara bertengkah hanya karena dia. Siapapun yang mendengar cerita Hinata pasti akan mengatakan bahwa kehidupan cintanya sangat menyenangkan karena dia dicintai oleh dua orang pria tampan, kaya dan terkenal di Jepang. Tapi bagi Hinata ini adalah sebuah bencana. Gaara semakin lama semakin berjalan mendekati Naruto. Ia menghentikan langkah saat jaraknya dan jarak Naruto hanya tinggal beberapa sentimeter.

"Gaara-nii gomen aku hanya … ."

Greb! Gaara memeluk Naruto dengan penuh kasih sayang. Naruto tak menyangka jika Gaara akan memeluknya, sebelumnya ia berfikir bahwa Gaara kan memukul atau bahkan menamparnya. Gaara menepuk-nepuk telapak tangannya ke punggung Naruto.

"Baka, kenapa kau tak mengatakan padaku kalau Hinata itu kekasihmu?"

"Aku tak ingin membuat Gaara-nii sakit hati, aku ingin Gaara-nii bahagia."

"Lagi-lagi kau bodoh, kau lebih memilih sakit hati demi kebahagiaanku. Aku tahu bagaimana sakitnya kau Naruto-kun," Gaara mulai melepaskan pelukannya dari Naruto. "Jika aku tak bisa menjaga Hinata maka kau yang harus menjaga Hinata."

Naruto mengangguk pelan, entah karena debu atau apa matanya mulai berair. Lagi-lagi Gaara tersenyum kepada Naruto. Kedua telapak tangan Gaara menepuk-nepuk kedua bahu Naruto, ia kemudian menghembuskan nafas seolah mengeluarkan semua beban yang ia tanggung. Hinata dan Iruka hanya bengong melihat adegan mengharukan ini. Gaara kemudian berjalan keluar dari rumah Hinata. Jujur didalam hati ia merasa sangat terpukul dan sakit tapi ia tak mau menunjukan rasa itu didepan Naruto.

"Gaara-nii … Gaara-nii … !" Naruto mengejar Gaara tanpa mempedulikan Hinata.

"Naruto-kun!" panggil Hinata lirih, namun sayang bayangan Naruto dan Gaara sudah menghilang.

ooOOoo

Naruto bergegas berlari menuju mobil Gaara, ia membuka pintu mobil begitu saja bersamaan dengan masuknya Gaara ke dalam mobil. Gaara mengijak gas mobilnya secara kasar. Naruto sama sekali tak menyalahkan Gaara, ia tahu bagaimana perasaan kakak sepupunya ini. Patah hati itu sungguh menyakitkan apa lagi kalau kita tahu kalau cinta kita hanya bertepuk sebelah tangan. Naruto tahu pikiran Gaara sekarang ini kacau mungkin juga ia tidak fokus saat menyetir. Gaara diam, entah dia menyadari atau pura-pura tida menyadari jika Naruto ada disampingnya. Gaara terus menginjak gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan menyalip beberapa truk pemuat barang. Semakin lama laju mobil ini semakin tak terkontrol.

"Gaara-nii pelankan kecepatanmu, ini jalur dalam kota dan berbahaya," protes Naruto. Namun lagi-lagi Gaara tak menghiraukan Naruto. Saat Naruto mengalihkan pandangannya ke depan, ia melihat mobil yang berhenti mendadak.

"Gaara-nii awas!"

TO BE CONTINUE