Wkwkwkwk, ternyata banyak yang penasaran siapa yang nelpon Indonesia X3 saya sengaja bikin itu agak... misterius. Karena... tahukah anda siapa yang menelepon...? JENG JENG JEEENG... baca aja ceritanya :D -shot-
Disclaimer: Hetalia bukan punya saya, tapi dengan (tidak) berbangga hati saya menyatakan bahwa OC-OC ASEAN disini milik saya
"Nih."
Indonesia mangap melihat uang yang disodorkan Norway padanya.
"Untuk membantumu dalam krisis air," kata Norway singkat. Cowok cantik itu membetulkan posisi topinya. Indonesia hampir tidak percaya saat Norway meneleponnya kemarin-dia dan cowok itu kan, tidak terlalu dekat. Setidaknya dibandingkan hubungannya dengan negara-negara lain yang membantunya. Dan dia sangat tidak percaya saat Norway dengan santainya mengundangnya untuk minum teh, tapi ujung-ujungnya dia memberikan uang. Apakah ini yang namanya troll runtuh?
"T-Terima kasih, Norway..." kata Indonesia pelan, tidak tahu harus bereaksi apa. Tentu saja, ucapan terima kasih tidak cukup untuk membalas Norway.
Norway hanya mengangguk singkat, senyum kecil terukir di wajahnya.
Setelah ini, hanya ada satu hal yang menjadi harapan Indonesia.
Semoga ga ada yang ngorupsi ni duit.
"Indonesia raya~ merdeka merdeka~ hiduplaaah Indonesiaaa rayaaa~"
Bukan, itu bukan ringtone Indonesia. Lagu itu keluar dari mulut Indonesia sendiri, dan jika anda bertanya-tanya apakah suaranya merdu atau tidak, bisa anda bayangkan sendiri kalau suara seorang bishounen itu seperti apa.
Oke, lanjut sebelum telinga anda sekalian berdarah mendengar suara Indonesia. (author: -ditusuk Indonesia pake bambu runcing-)
Indonesia sedang asyik mencari-cari buku resep yang sempat diberikan Norway padanya saat dia berkunjung kemarin hari. Dia ingin mencoba beberapa resep masakan ala Norwegia, dan sebagai gantinya dia juga mengajari Norway beberapa masakan Indonesia (Norway terlihat sedikit shock saat melihat rawon).
"Ah, ini dia," gumam Indonesia saat melihat buku resep dengan bahasa Norwegia yang tidak dia mengerti, dan begitu dia meraih buku itu, sebuah sayatan memanjang muncul di tangannya, membuatnya segera menarik tangannya sambil meringis.
Indonesia memandang luka yang tiba-tiba muncul itu, dan luka itu perlahan meneteskan darah ke lantai kayu di bawahnya. Indonesia terbelalak, dan logikanya berjalan cepat.
"Buku Norway disihir!"
Dia segera bangkit dan ingin menelepon Norway untuk meminta pertanggung jawaban (author: kesannya kek Indonesia dihamilin Norway ya? /plak) saat HP-nya keburu berbunyi lagi dengan suara membahana nan bombastis yang bergema di penjuru rumahnya. Indonesia sekarang sudah memastikan HP-nya terletak di meja lampu dekat kasurnya, tapi alih-alih disana, HP-nya sekarang kembali nyasar ke rak bumbu-tepatnya di dapurnya (dan Indonesia tidak perlu bertanya-tanya lagi kenapa HP itu bisa disana-kuntilanak sudah memberitahunya kalau tuyul yang iseng menyembunyikannya).
Dia melihat caller ID, takut mendapat gelar miss communication dan begitu melihat nama sang presiden a.k.a. bosnya, dia segera memencet tombol hijau. "Ya, ada apa, Pak?"
"Indonesia! K-Kau tidak apa-apa, kan?"
Bosnya tidak terkesan OOC kali ini, tapi tetap saja Indonesia heran. "Err... tadi sih saya sempet kena luka gitu pas nyentuh buku Norway... apa mungkin buku Norway disihir?"
"Indonesia, ini serius!" bosnya hampir membentaknya, membuat Indonesia menjauhkan HP-nya beberapa senti dari telinganya, takut congek. Intensitas suara bosnya kalau lagi ngambek bisa membuat Greece terbangun dengan sangat cepat. "Israel menyerang kapal pembebasan Gaza!"
"WHAT?" sekarang Indonesia yang balas berteriak. Israel, si bocah ABG yang sombong itu, menyerang kapal pembebasan Gaza? Tunggu tunggu tunggu... bukankah ada sekitar 12 orang warga Indonesia di situ? Berarti... kalau lukanya begini bukankah artinya beberapa dari mereka ada yang...
"Tidak ada relawan dari Indonesia yang meninggal," kata bosnya, membuat Indonesia terkejut.
"Pak, anda bisa membaca pikiran!" kata Indonesia polos.
Di ujung sana, bosnya menghela nafas, mengira-ngira kenapa cowok satu ini masih bisa becanda di saat-saat serius nan kritis seperti ini. "Mereka terluka, dan sampai ini tidak ada kabar... negara-negara lain sepertinya sudah langsung mengambil tindakan. Yah, aku hanya meneleponmu untuk memastikan kondisimu saja-bisa gawat kalau kau terluka karena dengan itu kau tidak bisa mencabuti rumput lagi. Tolong kau hubungi negara lain, terutama America karena dia pengasuh Israel. Saya permisi dulu."
Indonesia terdiam menatap layar HP-nya, dan kembali ke luka yang masih meneteskan darah. Dia menaruh HP-nya dan segera mencuci lukanya di wastafel, membasuh darah yang sudah membanjir.
Israel sudah keterlaluan. Sudah-sangat-keterlaluan. Dia tidak lebih tua dibanding yang lain, kalau dari penampilan dia hanya berumur kira-kira 16-17 tahun. Hanya karena dia mempunyai America di belakangnya bukan berarti dia bisa bertindak semena-mena begini.
Indonesia mengepalkan tangannya yang terluka. Israel tidak bisa dimaafkan. Apa dosa para relawan yang mereka serang? Kali ini America tidak bisa bertindak lunak lagi padanya. Hal ini sudah di luar batas, dan Indonesia tidak sudi memaafkan Israel. Masih mending kalau Israel meminta maaf dan membebaskan Palestine. Kalau bocah satu itu masih bertindak sombong... Indonesia pasti akan langsung mengangkat senjata. Dia tidak perlu takut, Russia ada di belakangnya. Dan dia yakin banyak negara pasti bertindak sama sepertinya. Tapi, sebagai negara yang sudah tinggal di abad 21, dia harus berpikir jernih. Dia langsung mengakses internet lewat laptopnya, menahan hasrat untuk membuka site-site tidak senonoh yang sudah dia bookmark dan melihat beberapa site berita.
Dia bisa melihat cuplikan berita dimana Israel menyerang kapal itu, dan membacanya dengan seksama. Diberitakan kalau Israel sudah membayang-bayangi kapalnya dari sejak malam, dan seusai sholat subuh Israel langsung menyerang kapal itu dengan persenjataan lengkap sementara para relawan hanya memakai pisau, golok, persis seperti Indonesia saat di jaman peperangan-kecuali mereka tidak memakai bambu runcing. Yang membuat Indonesia kesal adalah, biarpun kapal itu sudah mengibarkan bendera kebangsaan Italy-maksudnya bendera putih, Israel masih tetap menyerang.
Di bawah artikel itu, Indonesia melihat seseorang dengan topeng, jaket hijau dan topi merah. Turkey. Dia membaca artikel itu juga, dan hatinya terasa sedikit lebih tenang. Beberapa jam setelah penyerangan itu, Turkey 'mengamuk'. Dia langsung menarik duta besarnya di Israel, membatalkan latihan militer dan hubungan diplomatik. Memang kesannya ekstrim, tapi itu bisa dimengerti karena yang diserang adalah kapal Turkey, dan Israel juga melukai orang-orang Turkey. Padahal dulu Turkey dan Israel bisa dibilang teman baik, sama seperti Israel dan America-yah, kalau Israel dan America sih lebih tepatnya babu dan majikan. Tapi sekarang, Turkey sudah berubah 180 derajat. Dari teman baik menjadi musuh bebuyutan. Indonesia bisa melihatnya dari wajah Turkey yang sepertinya sudah siap meremukkan Israel kapan saja, dan dia terlihat jauh lebih marah dibanding saat dia bertemu Greece. Itu artinya sebuah negara yang cukup berpengaruh di kancah internasional sudah siap memojokkan Israel, dan itu berita bagus.
Dia juga sempat mengecek e-mail dan melihat sebuah e-mail darurat dari Singapore, Malaysia (wow), dan beberapa negara lain di tengah-tengah spam e-mail dari Facebook. Isinya hampir sama, meminta dukungannya untuk memojokkan Israel. Malaysia malah bilang, biarpun dia tidak terlalu menyukainya, dia mengusulkan lebih baik dia dan dirinya langsung menyerang Israel hari ini juga, toh mereka punya England dan Russia yang siap membantu kapan saja. Usul yang menggoda, tapi harus ditahan karena ini abad 21 bung. Otak mengalahkan otot di abad ini. Well, itu hanya pepatah yang sepertinya sudah hampir tidak berlaku.
Indonesia membalas e-mail mereka satu per satu, merasakan kemarahannya semakin memuncak saat dia menyebut kata 'Israel'. Sepertinya kemarahannya pada negara Yahudi itu jauh lebih parah dibanding kemarahannya pada Malaysia. Israel, Israel. Tidak ada yang mengerti jalan pikirannya. Setelah blokade Gaza, dan sekarang ini? Dunia harus menghukumnya seberat mungkin, atau itulah yang dipikirkan Indonesia.
E-mail baru datang dari United Nations, dan Indonesia kembali membacanya.
Rapat dadakan. Datang ke markas PBB di New York, sekarang. Saya tidak peduli time zone di tempat kalian. Datang, sekarang. Kau juga, America, atau kau akan benar-benar kehilangan hak vetomu.
Oke, pertama... maaf kalau yang bagian Norway itu salah informasi (koran saya ilang... ;A;). Tolong beritahu berita yang sebenarnya bagaimana, dan saya akan mengedit lagi.
Dan kedua, saya tidak ada maksud untuk menjadi sedikit rasis pada Israel. Ya, saya tahu mereka sudah keterlaluan banget, tapi minimal kita coba saja menyelesaikan masalah ini dengan baik, no? Tidak ada yang mau perang ketiga di dunia ini. Lagipula kalau saya baca di koran, Yahudi itu semakin waspada kalau terus ditekan, jadi lebih baik kita membuat mereka santai dulu dan baru kita berunding-dan kalau mereka masih keras kepala, saya juga enggak ada masalah kalau pada mau perang. World VS Israel (+ USA). Bisa dibayangkan siapa yang menang.
Sorry, blabbering. Reviews, bitte?
P.S. : kalau ada yang penasaran, Israel adalah seorang cowok disini. Just to clear things out.
