Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M for abuse content
Genre : Hurt Comfort, Family, Tragedy, Angst, Romance
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)
Note : Dilarang copy paste baik sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
Selamat membaca!
Secret
Chapter 11 : Mati Rasa Part. 1
By : Fuyutsuki Hikari
Kurama nyaris tidak bisa tidur dengan nyenyak sejak pertemuannya dengan Naruto tadi malam. Ia tidak pernah merasa seresah ini sebelumnya. Pria itu sangat yakin jika ia pernah bertemu dengan Naruto sebelumnya, tapi dimana? Menyerah oleh emosi-emosi asing yang menyergapnya, ia memilih untuk bangun dari tempat tidur, menyeret paksa kakinya ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Sesaat ia mengamati refleksi dirinya pada cermin besar yang berada di depannya. "Kau melupakan hal penting," ia berkata pada pantulan dirinya sendiri. "Kau harus bisa mengingatnya!" tambahnya yang terdengar seperti sebuah perintah.
Kurama terdiam sejenak. Berpikir keras.
Namikaze Naruto? Kenapa nama itu terasa tidak asing di lidahnya? Seolah-olah lidahnya sudah terbiasa mengucapkan nama itu.
Lagi-lagi sebuah helaan napas keras terdengar di dalam ruangan sunyi itu.
Apa mungkin yang dirasakannya merupakan perasaan romantis? Kurama mengernyit. Bukan. Dia sangat yakin jika perasaannya pada Naruto bukanlah perasaan cinta antara laki-laki dan wanita. Perasaannya pada wanita itu jauh lebih dalam. Namun ia sendiri merasa bingung mengatakan perasaan apa yang tengah dirasakannya terhadap wanita berambut pirang itu.
Mungkinkah hal ini dikarenakan Naruto memiliki rambut pirang yang sama seperti neneknya, hingga ia merasa begitu familiar dengannya? Kurama menggelengkan kepala lagi. Bukan karena hal itu, tegasnya di dalam hati. Ya, Tuhan, bagaimana caranya agar ia bisa mengingat kembali masa lalunya?
Kurama memijat dahinya yang berdenyut, sebuah usaha yang sia-sia dilakukannya untuk mengenyahkan rasa sakit yang menyerangnya semakin hebat. Ia lalu melepas napas panjang setelahnya, sejenak memejamkan mata, kepalanya menunduk dalam dan mengerang pelan saat rasa sakit di kepalanya semakin menghebat.
Rasa sakit itu memang selalu menyerangnya saat dia memaksa dirinya untuk mengingat masa lalunya, namun tidak pernah sedasyat ini. Tapi dia harus mengingatnya. Harus! Tegasnya di dalam hati, tidak menyerah.
Entah kenapa ia sangat yakin jika Naruto adalah bagian dari masa lalunya. Selama ini ia selalu mempercayai instingnya, dan saat ini instingnya berteriak keras, mengatakan dengan lantang jika ia sudah menemukan potongan puzzle yang dicarinya selama ini.
Separuh dari hatinya mengatakan jika ia harus bertanya langsung kepada wanita itu. Bertanya padanya apa mereka pernah saling mengenal sebelumnya? Namun separuh dari hatinya melarangnya dengan tidak kalah keras. Bagaimana jika pertanyaan anehnya malah membuat Naruto ketakutan? Lalu menghindarinya dan tidak mau lagi bicara padanya? Bagaimana jika wanita itu menolak untuk bertemu kembali dengannya?
Tidak. Hal itu tidak boleh terjadi.
Kurama mengerang. Semakin gelisah.
Baru kali ini dia merasa pikirannya buntu, serba salah.
Ia tidak tahu bagaimana caranya agar bisa kembali bertemu dengan Naruto lagi setelah wanita itu keluar dari rumah sakit. Alasan apa yang bisa digunakannya? Alasan apa yang cukup masuk akal hingga wanita itu tidak merasa curiga?
Aku perlu menyusun rencana matang untuk mendekatinya, pikir Kurama sambil menyipitkan mata.
.
.
.
Mengikuti nalurinya, Sasuke langsung memutuskan untuk pergi ke rumah sakit terdekat. Bercak darah di dalam kamar Naruto membuatnya sangat yakin jika ada seseorang yang terluka. Ia terus memaki pelan. Tapi bukan disebabkan rasa panik karena mengkhawatirkan kondisi wanita pembunuh itu. Dia tidak gelisah hanya karena memikirkan apa wanita itu baik-baik saja. Bukan karena alas an-alasan konyol itu, tegasnya di dalam hati berkali-kali.
Dia hanya merasa takut jika buruannya sudah diburu oleh orang lain terlebih dulu. Gigi Sasuke gemertuk saat memikirkannya. Tidak ada satu orang pun yang berhak menyakiti wanita itu selain dirinya, pikirnya marah.
Pria itu mengendarai kendaraannya gila-gilaan pagi ini. Mulutnya kembali mengumpat saat mobil yang dikendarainya harus berhenti karena terjebak lampu merah. Dengan tidak sabar ia menunggu hingga lampu lalu lintas kembali berubah warna menjadi hijau. Sungguh, ia merasa membuang banyak waktu saat ini.
Lampu pun berubah menjadi hijau, Sasuke segera menekan pedal gasnya dalam dan kembali mengendarai kendarannya dengan kecepatan tinggi. Kenapa perjalanan ini terasa sangat panjang? Tanyanya di dalam hati, yang tentu saja pada kenyataannya tidak benar. Pria itu hanya perlu waktu dua puluh menit saja untuk sampai di rumah sakit terdekat. Lebih cepat lima belas menit jika kendaraannya dikendarai dengan kecepatan normal.
Ia menurunkan kecepatan kendaraannya lalu membelokkan kendaraan itu dengan sempurna ke arah jalan masuk komplek rumah sakit.
Bukankah itu adik angkat Naruto? Tanyanya di dalam hati saat netranya menangkap sosok Hanabi keluar dari dalam gedung rumah sakit dengan tergesa-gesa. "Naruto pasti ada di sini," gumamnya sembari memukul stir mobilnya dengan keras.
Sasuke segera memarkirkan kendarannya. Dengan tidak sabar ia membuka sabuk pengaman yang dikenakannya, lalu keluar dari dalam mobil dengan tergesa. Pria itu setengah berlari masuk ke dalam gedung, berjalan tergopoh-gopoh saat pintu kaca otomatis rumah sakit terbuka.
Matanya menyisir setiap penjuru ruangan, lalu menghampiri meja informasi. "Apa ada pasien bernama Namikaze Naruto?" tanyanya tanpa basa-basi pada seorang perawat yang bertugas jaga pagi ini.
"Namikaze Naruto?" perawat itu bergumam lirih sembari mengetikkan nama yang digumamkannya, beberapa detik kemudian ia mengangkat kepalanya, menatap Sasuke lurus. "Nona Namikaze saat ini menempati ruang inap No.510 di lantai 5," terang perawat bertubuh kurus itu. "Apa ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan?" tanyanya.
"Tidak," jawab Sasuke pendek. "Terima kasih!" tambahnya sebelum membalikkan badan dan meninggalkan meja informasi, lalu berjalan menuju lift.
Sasuke kembali menunggu dengan tidak sabar hingga akhirnya pintu lift terbuka. Dengan cepat ia masuk ke dalam, membalikkan badan dan menekan tombol No. 5.
Pikirannya berkecamuk. Sasuke menegaskan sekali lagi pada dirinya sendiri jika apa yang dirasakannya saat ini bukanlah perasaan cemas. Bukan.
Brengsek! Makinya di dalam hati. Dia sama sekali tidak boleh terpengaruh. Terlebih oleh perasaan simpati atau lebih buruknya oleh perasaan romantis. Ia harus membuangnya jauh. Wanita pembunuh itu tidak layak dicintai, terlebih oleh dirinya.
Rencananya untuk menghancurkan wanita itu tidak boleh gagal. Naruto-wanita itu harus membalas tiap tetes air mata yang jatuh dari kedua mata ibunya. Wanita itu harus bertanggung jawab atas kesedihan yang dialami keluarga Uchiha setelah kematian Itachi dan Deidara.
Sasuke sudah bersumpah untuk menghancurkannya. Ia akan menghancurkannya walau hal itu juga akan menghancurkan dirinya sendiri. Ia akan menghancurkan wanita itu hingga Naruto merasa menyesal telah dilahirkan di dunia ini.
Suara bell lift membuyarkan lamunannya. Sasuke bergegas keluar saat pintu lift terbuka. Dengan ekspresi datar ia berjalan melalui lorong kosong panjang rumah sakit yang berwarna putih. Bau obat-obatan yang menyebar di seluruh ruangan menyergap indera penciumanya.
Ia terus melangkah, melewati beberapa pintu bernomor, hingga ia menemukan apa yang dicarinya-kamar No. 510.
Sasuke terdiam sejenak di depan daun pintu bernomor 510 itu. Menekan perasaan aneh yang terus menggerogoti niatnya untuk menghancurkan Naruto. Ia mengetuk pintu pelan, membukanya sedikit lalu mengintip ke dalamnya.
Hening.
"Kau benar-benar ada di sini," ujar Sasuke dengan nada penuh syukur, sementara Naruto menoleh ke arahnya dengan wajah ditekuk.
Di atas tempat tidurnya, Naruto mengerjapkan mata, lalu menguceknya pelan, untuk meyakinkan dirinya sendiri jika ia tidak berhalusinasi saat ini. "Bagaimana bisa kau tahu aku berada di sini?" tanyanya tanpa bisa menutupi keterkejutannya. Kedua netra wanita itu terus mengawasi pergerakan Sasuke yang melenggang masuk tanpa beban, lalu menarik sebuah kursi ke samping ranjang dan duduk di atasnya dengan sikap santai
Sasuke mendengus, terlihat enggan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Naruto. Dengan satu alis terangkat ia menyusuri seluruh penjuru ruangan, "Kau mengatakan padaku jika kau miskin, tapi ruangan yang kau tempati ini sama sekali tidak memperlihatkan jika kau miskin," sindirnya tajam. "Ruang VIP?" tanyanya dengan satu sudut mulut ditarik ke atas.
Naruto memutar kedua bola matanya. "Akan lebih sopan jika kau menanyakan kabarku terlebih dahulu," balasnya tajam. Ia melepas napas yang sesaat ditahannya dan kembali melanjutkan. "Hanabi yang memasukkanku ke ruangan ini," jelasnya singkat. "Sekarang jawab pertanyaanku-bagaimana bisa kau tahu aku ada di sini?"
Sasuke mencebikkan bibir, terlihat tidak peduli. "Aku tidak perlu bertanya mengenai keadaanmu, kulihat kau baik-baik saja," sahutnya ringan, membuat Naruto melotot. "Tadi aku datang ke tempatmu, pintu cafe tidak terkunci jadi aku langsung masuk," lanjutnya datar.
"Dan kau menarik kesimpulan jika sudah terjadi sesuatu?"
Sasuke mengangkat bahunya. "Tempatmu berantakan. Aku juga melihat bercak darah di dalam kamarmu, selain ke kantor polisi kemana lagi aku harus mencarimu?"
Naruto menahan napas, sementara degup jantunganya mulai berdebar tidak karuan. "Kau mengkhawatirkanku?" tanyanya dengan nada senormal mungkin.
"Tentu saja," jawab Sasuke membuat degup jantung Naruto berdetak semakin cepat, tak terkendali. "Aku akan rugi besar jika kau mati sebelum membayar hutangmu padaku," tambahnya dengan seringai menyebalkan yang sukses membuat debaran cepat serta kegugupan Naruto menghilang seketika. Sasuke menyempitkan kedua matanya dan kembali bicara, "jangan-jangan kau berpikir aku mengkhawatirkanmu karena... hm... perasaan romantis?" tanyanya dengan nada mencemooh.
Naruto menekuk wajahnya, semakin sebal karena Sasuke menertawainya dengan keras, seolah-olah wajah kesal Naruto merupakan satu hiburan menyenangkan tersendiri untuknya. Dia terus tertawa, terpingkal-pingkal, mengabaikan aura gelap yang menguar dari tubuh Naruto.
"Dasar tidak peka. Lintah darat!" desis Naruto dari balik giginya yang terkatup rapat, menahan marah.
Sasuke terbatuk. "Kau salah," ralatnya cepat sembari menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan wajahnya. "Aku hanya tidak suka rugi," tambahnya cepat. "Ngomong-ngomong, apa kau sudah melaporkan kejadian ini? Hei, kau benar-benar marah ya?" tanyanya saat Naruto memalingkan muka. "Aku hanya bercanda. Ok? Tentu saja aku mengkhawatirkanmu," seru Sasuke. "Aku serius," tambahnya cepat saat Naruto kembali melirik tajam ke arahnya. "Jadi?"
Naruto tidak langsung menjawab. Ia melepas napas lelah dan menjawab dengan tatapan menerawang, "Hanabi pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian tadi malam, saat ini."
Sasuke mengangguk paham. "Ah, pantas saja aku melihatnya keluar gedung rumah sakit dengan tergesa-gesa tadi," ujarnya pelan. "Lalu, apa kau memiliki seseorang yang dicurigai?" tanyanya lagi, dengan mimik serius kali ini.
Naruto tersentak, balas menatap Sasuke yang menatapnya ingin tahu. Wanita itu menggelengkan kepala pelan. "Tidak. Aku tidak mencurigai siapapun."
"Nada suaramu tidak mengatakan hal itu."
Keheningan kembali menyergap.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Sasuke lagi, mendesak. "Akan jauh lebih mudah jika kau jujur, Naruto."
"Benar kok," ujar Naruto ngotot, membuat satu alis Sasuke terangkat karenanya. "Aku tidak menyembunyikan apapun darimu," tambahnya dengan nada lebih rendah. Wanita itu memalingkan wajahnya, tidak mampu menatap lurus wajah Sasuke saat sedang berbohong. Tentu saja ada sesuatu yang disembunyikannya dari pria itu. Naruto menyembunyikan masa lalunya. Ia akan menyembunyikannya rapat, serapat mungkin hingga ia memiliki cukup keberanian untuk mengatakan catatan hitam masa lalunya pada Sasuke. "Jangan membahasnya lagi," pinta Naruto setelah terdiam beberapa saat. "Kejadian tadi malam murni bermotif pencurian. Itu saja."
"Begitu?" Sasuke menyahut pelan, terdengar tidak percaya namun ia memutuskan untuk tidak terlalu memaksa Naruto. "Mungkin ada baiknya jika aku memasang CCTV, dan alarm di tempatmu. Bagaimana?"
Naruto menoleh. "Apa perlu?"
"Kau sudah babak belur seperti ini dan kau bertanya apa perlu kita memasang CCTV dan alarm?" Sasuke bertanya dengan nada satu oktaf lebih tinggi. "Kurasa kau harus memeriksakan kepalamu juga, ada yang salah dengan otakmu," tambahnya galak. Sasuke bergerak, memundurkan kursinya lalu berdiri. Sejenak ia diam tak bergerak, sebelum mencondongkan tubuhnya, mengikis jarak antara dirinya dan Naruto.
Naruto memundurkan tubuhnya ke belakang. "Kenapa?" tanyanya gugup saat Sasuke semakin mendekat dan menatapnya lekat dari jarak yang teramat dekat.
"Lukamu," kata Sasuke pelan.
"Hah?"
"Apa sakit?" tanya pria itu dengan suara lembut, sementara netranya menatap lurus ke arah safir milik wanita di depannya.
Oh, kenapa jantungku kembali berdegup kencang? Pikir Naruto. Ia berdoa di dalam hati, semoga pria di hadapannya ini tidak mendengar suara degup jantungnya yang semakin menggila. "A-aku baik-baik saja," jawabnya terbata. Ia menelan kering, matanya membola saat Sasuke mengulurkan tangan kirinya lalu menyentuh ringan pelipis kanannya yang diplester dan ditutup kain kasa. "Dokter mengijinkanku pulang siang ini, aku hanya tinggal menunggu Hanabi kembali untuk menyelesaikan semua biaya administrasi."
Sasuke terdiam sejenak, tidak langsung bicara. "Jadi luka-lukamu benar-benar tidak parah?" tanyanya lagi. Naruto menggelengkan kepalanya pelan. "Syukurlah," kata Sasuke lirih, terdengar lega. Ia menegakkan tubuhnya, berdiri tegak, memasang pose berpikir dan kembali bicara, "kalau begitu aku harus secepatnya menghubungi perusahaan jasa keamanan agar mereka memasang alarm dan CCTV hari ini juga."
Naruto mengernyit, "Apa mungkin mereka bisa datang hari ini?" tanyanya terdengar ragu. "Bukankah kita harus reservasi dari jauh hari untuk bisa menggunakan jasa mereka?"
"Tidak jika aku yang meminta," jawab Sasuke dengan dagu terangkat, pongah. "Kau jangan khawatir, sebelum kau pulang ke tempatmu siang ini semuanya akan selesai terpasang," ia berkata dengan sangat yakin.
"Tapi, Sas-"
"Jangan membantah!" potong Sasuke cepat, membungkam suara Naruto. "Aku akan memastikan semuanya selesai terpasang sebelum kau kembali, dan tentu saja semua biayanya akan kumasukkan ke dalam daftar hutangmu padaku," tambahnya sebelum membalikkan badan, meninggalkan Naruto yang menatapnya dengan kedua bola mata terbelalak lebar.
.
.
.
Naruto membenahi bantalan kepalanya lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah Sasuke keluar dari ruangan. Ia memaksa matanya untuk terpejam, namun sedetik kemudian matanya kembali terbuka. Ia mengerutkan dahinya dalam.
Setelah hari ini dia tidak akan bertemu lagi dengan Kyuubi.
Tidak akan pernah bertemu lagi.
Tidak akan pernah.
Dadanya terasa sesak saat kenyataan itu menghantamnya telak layaknya sebuah palu tak kasat mata. Ia akan kembali berpisah dengan Kyuubi. Ya, Tuhan, ini terlalu menyakitkan, ratapnya di dalam hati.
Kyuubi kini bagian dari kelompok yang tidak bisa dimasuki oleh Naruto. Dunia yang jauh dari jangkauan tangannya. Dari obrolan perawat yang sekilas didengarnya tadi malam, kakaknya merupakan cucu dari seorang ahli bedah terkenal. Sang pewaris.
Naruto kembali memejamkan mata. Ia merasa yakin jika sesuatu telah terjadi pada kakaknya hingga pria itu tidak lagi mengenalinya. Kyuubi bahkan menggunakan nama lain saat ini. Lalu, bagaimana mungkin dengan tiba-tiba dia mengatakan pada Kyuubi jika ia adalah adik kandungnya. Wanita itu bahkan tidak merasa yakin apakah dia sanggup menghadapi reaksi Kyuubi selanjutnya. Bagaimana jika kakaknya itu benar-benar melupakannya dan mencapnya sebagai seorang pendusta? Pun jika Kyuubi menerima dan mengakuinya, ia hanya akan merusak masa depan kakaknya. Kyuubi pasti dikucilkan jika mereka tahu adik seorang Kyuubi seorang pembunuh.
Tidak. Dia tidak akan membiarkan apa yang ditakutkannya terjadi. Naruto akan menjaga jarak sejauh mungkin dari kakaknya itu. Dia hanya akan menatapnya dari jauh jika ada kesempatan. Dunia tidak boleh tahu jika Kurama dan Naruto memiliki hubungan darah, karena yang memiliki hubungan darah dengannya adalah Kyuubi, bukan Kurama.
Jika dengan menyembunyikan hubungan darah diantara mereka bisa menjamin kebahagiaan Kyuubi, maka Naruto berjanji akan membawa rahasia ini hingga liang kubur.
.
.
.
"Kau darimana saja, Hanabi?!" pertanyaan dengan nada tinggi itu menghentikan langkah Hanabi yang hampir mencapai anak tangga terbawah untuk naik ke lantai dua. Dengan gerakan pelan ia membalikkan tubuhnya, memberi hormat dengan membungkuk dalam. "Kenapa tidak menjawab pertanyaan ayah?" Hiashi kembali bicara dengan nada lebih rendah namun tidak menghilangkan tekanan pada suaranya. Kepala keluarga Hyuuga itu menunggu dengan aura yang tidak terbantahkan, menatap lurus wajah putri bungsunya dengan ekspresi datar.
Hanabi menegakkan tubuh dan menjawab singkat, "Hanabi menginap di rumah Kak Naruto, Ayah."
"Lagi-lagi kau menemuinya?" Hinata menimpali dari belakang punggung Hiashi. Sore ini dia bisa berada di rumah karena jadwal pemotretannya sore ini untuk salah satu majalah fashion ternamadiundur ke minggu depan. "Bukankah aku sudah mengatakan berulang kali agar kau tidak menemuinya lagi?"
"Kakak tidak berhak melarangku untuk menemuinya," sahut Hanabi dengan nada sama kerasnya. Keduanya saling balas menatap dengan kilatan marah, dan tidak mau mengalah. "Kak Naruto juga kakakku, kenapa aku tidak boleh menemuinya?"
Hinata terdiam, kemudian kembali bicara dengan dagu terangkat, "Akan menjadi skandal besar jika media mengetahui adikku berteman dengan seorang mantan narapidana. Karirku bisa terganggu."
"Aku tidak peduli!" jerit Hanabi dengan tangan terkepal. Napasnya naik-turun. Dia sudah lelah dengan semua ini. Ayahnya, kakak kandung serta para tetua tidak pernah lelah memperingatkannya untuk tidak menemui kakak angkatnya lagi. Tapi kenapa? Hanya karena kesalahan di masa lalu, ia harus membuang keberadaan kakak angkatnya seperti yang dilakukan oleh keluarganya? Tidak. Hanabi bukan tipe orang seperti itu. Apapun masa lalu Naruto, dia tetap kakak angkatnya. Kakak yang juga disayanginya, sama seperti ia menyayangi Neji dan Hinata.
"Ayah tidak mau kau mengganggunya." Hiashi kembali bicara, memutus keheningan yang sejenak tercipta. "Ayah melarangmu menemuinya karena takut Naruto merasa terganggu dengan kehadiranmu."
"Ayah?!" sela Hinata, merasa kesal karena ayahnya masih memikirkan perasaan Naruto.
Hiashi mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat pada Hinata untuk menutup mulut. Hinata berdecak, melirik kesal ke arah Hanabi yang menantangnya lalu berbalik pergi. Pembahasan mengenai Naruto terlalu sensitif untuknya. Wanita itu yakin ia tidak akan bisa tidur nyenyak lagi malam ini. Ya, tidurnya memang tidak pernah nyenyak sejak Naruto bebas dari penjara. Ia kembali dikurung oleh rasa takut yang menyiksanya semakin parah tiap harinya. Hinata menggigit bagian dalam bibirnya, memutuskan di dalam hati jika ia harus menemui Naruto dan menawarkan perjanjian yang menguntungkan secepatnya.
Hiashi berjalan pelan ke arah Hanabi lalu meletakkan tangannya di kedua pundak putrinya. "Setidaknya kau harus memberi kabar jika mau menginap di rumah kakak angkatmu. Jangan membuat kami menunggumu dengan cemas di sini."
Hanabi menghela napas. "Maaf, Ayah." Ujarnya sembari melirik ayahnya dari balik bulu matanya yang lebat. "Aku tidak sempat memberi kabar ke rumah, karena kemarin terjadi sesuatu di rumah Kak Naruto."
Hiashi mengernyit namun tidak mengatakan apapun.
"Tadi malam, empat orang pencuri masuk ke dalam rumah Kak Naruto."
Hiashi terbelalak, "Apa kau terluka?" tanyanya dengan nada cemas yang nyata. Hanabi menggeleng. "Lalu kakak angkatmu, apa dia terluka?" Hanabi mengangguk. "Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Hiashi semakin cemas mendengarnya.
"Kakak dirawat di rumah sakit tadi malam," lapor Hanabi. "Tapi tidak ada luka serius. Aku mengantarnya pulang dulu tadi."
"Kakakmu masih tinggal di tempat itu?"
Hanabi kembali mengangguk pelan. "Tapi ayah jangan khawatir," ujarnya. "Rumahnya sudah dipasang kamera CCTV serta alarm dan sistem keamanan canggih. Aku yakin setelah ini tidak akan ada pencuri lagi yang berani masuk."
"Tapi kakak angkatmu itu wanita, Hanabi. Bagaimana bias dia tetap tinggal seorang diri di tempat yang sama setelah kejadian itu?" tanya Hiashi dengan kernyitan dalam.
Hanabi mengangkat bahu. "Kakak sangat keras kepala. Aku sudah berulang kali membujuknya untuk kembali tinggal bersama kita di sini, tapi dia tidak mau," terangnya cemberut. Hanabi mendongakkan kepala, menatap ayahnya penuh harap. "Apa ayah bias membujuknya untuk tinggal bersama kita lagi? Bagaimanapun Kak Naruto pasti menghormati ayah dan mendengarkan ucapan ayah, kan?"
Hiashi terdiam. Hatinya terasa tertohok. Bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan putri bungsunya? "Sebaiknya kau naik ke kamarmu. Ayah akan memikirkan cara agar kakak angkatmu bisa tinggal di tempat aman dan nyaman."
"Ayah tidak bisa membawanya kembali ke sini?"
Hiashi terdiam.
"Tentu saja," lanjut Hanabi dengan suara lirih, terdengar kecewa. "Ayah tidak mungkin melakukannya. Nama keluarga Hyuuga dan karir kakak jauh lebih penting daripada kebersamaan keluarga. Iya, kan?"
"Hanabi~"
"Tidak, Yah. Aku sudah mengerti," potongnya cepat tanpa ekspresi. "Aku tidak akan memohon pada ayah lagi untuk membujuk Kak Naruto agar bersedia tinggal bersama kita. Tapi aku mohon, berjanjilah-Ayah tidak akan melarangku lagi untuk menemuinya."
.
.
.
Tiga hari pun berlalu dengan cepat setelahnya.
Siang ini berjalan seperti biasanya. Sejak dua hari yang lalu, satu orang design interior serta tujuh orang pegawai bangunan yang dipekerjakan oleh Sasuke masih sibuk menata, memperbaiki untuk mempercantik bagian dalam bangunan, sementara Naruto mengecat sebisanya bagian luar cafe.
Ada rasa senang di hatinya saat melihat perubahan besar pada gedung bertingkat dua ini.
Miliknya. Gedung ini miliknya.
Sebuah senyum simpul menghiasi wajah cantiknya. Dia akan melupakan masa lalu untuk memulai hidup baru.
"Naruto?!"
Mata Naruto melebar, napasnya tersentak. Waktu boleh saja memisahkan mereka begitu lama, namun ia tahu dengan benar siapa pemilik suara yang memanggilnya.
Naruto menoleh lewat bahunya, satu alisnya terangkat. "Kau?" ujarnya dengan nada biasa yang mengagumkan. Wanita itu meletakkan kuas catnya, lalu merapikan peralatan kerjanya dengan cepat. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya tanpa basa-basi. "Ah, maaf, tanganku kotor," ujarnya seraya memperlihatkan kedua tangannya yang berlumuran cat berwarna putih gading saat Hinata mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. "Aku tidak mau mengotori tangan halusmu," tambahnya dengan senyum menawan.
Hinata mengangguk maklum, dan berkata, "Tidak masalah," katanya. "Boleh aku meminta waktumu untuk bicara?"
Naruto mengernyit, "Aku sudah memberimu waktu selama sepuluh tahun, Saudariku. Apa itu masih kurang?" ledeknya.
Hinata bergerak resah, mulutnya bergetar. Dengan gugup ia menatap Naruto dari balik kacamata hitamnya. "Bisa kita bicara di dalam? Aku takut dikenali."
"Tentu." Suara Naruto kembali tenang dan dingin. "Tentu saja kau boleh masuk," tambahnya sembari menepuk-nepuk bagian belakang celana jeans-nya. "Silahkan masuk." Naruto berbalik, membuka pintu kaca ganda, mempersilahkan Hinata untuk masuk ke dalam ruangan terlebih dulu.
Hinata terdiam untuk sesaat, menunggu Naruto menutup pintu, lalu berjalan melewatinya. Dengan patuh ia mengekori Naruto naik ke lantai dua. Ia kembali mengamati ruangan yang juga berfungsi sebagai kamar, ruang tamu serta ruang santai milik Naruto. Ruangan ini terlihat sangat rapi dan begitu khas Naruto. "Tempatmu bagus," ujarnya memecah keheningan berat di dalam ruangan itu.
Naruto mengangkat bahu kirinya ringan, tanpa menoleh ke belakang dia menjawab, "Lumayan." Ujarnya. "Ah, maafkan aku, kau boleh duduk dimana saja asal kau nyaman," tambahnya saat berdiri di depan dapur kecilnya. "Kopi, teh, jus?" tawarnya kemudian tanpa ekspresi.
"Teh saja, terima kasih," jawab Hinata sembari melepas kacamata hitamnya.
Keduanya kembali terdiam untuk beberapa waktu hingga Naruto selesai menyajikan teh dan duduk di seberang Hinata. "Silahkan," katanya sembari menyodorkan secangkir teh tanpa gula ke arah Hinata.
"Terima kasih," jawab Hinata. Wanita itu memasukkan dua sendok gula ke dalam tehnya, mengoceknya pelan sebelum mengangkat cangkir ke bibirnya.
"Jadi, apa yang membawamu ke sini?" tanya Naruto tenang. Ia menatap lurus ke arah Hinata, mengawasinya dengan ekspresi tidak terbaca.
"Apa aku tidak boleh datang mengunjungimu?" Hinata balik bertanya dengan sikap tenang yang sama. Ia menekan rasa gugupnya, dan berusaha untuk bersikap setenang mungkin.
Naruto menyembunyikan senyum sinisnya di balik cangkir tehnya. "Akan sangat menyenangkan jika itu memang alasanmu untuk menemuiku. Tapi kurasa, kau memiliki alasan lain, bukan begitu?"
Jantung Hinata berdegup kencang, namun pada akhirnya dia berani untuk mengutarakan pertanyaannya. Sebuah pertanyaan yang menjadi alasannya datang ke tempat ini. "Sampai kapan kau berada di kota ini?"
Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudmu?" ia balik bertanya dengan nada geli. Memangnya siapa Hinata hingga dengan kurang ajarnya berani menanyakan hal itu?
"Apa kau berniat menetap di kota ini?" tanya Hinata lagi. Wanita itu menatap Naruto dengan pandangan ingin tahu dan cemas secara bersamaan. Kegugupannya membuat kedua telapak tangannya berkeringat dingin.
"Tentu saja aku akan menetap di kota ini," jawab Naruto santai. Ia menelengkan kepala. "Memangnya apa yang kauharapkan?"
"Kau tidak bisa menetap di kota ini," pekik Hinata gusar. "Kau harus pergi jauh, Naruto!" tambahnya dengan nada perintah menggelikan.
"Dan siapa kau?" tanya Naruto dingin. "Kenapa kau berani memerintahku ini dan itu?"
Hinata terdiam, tidak langsung menjawab. "Aku mohon...!" ia menundukkan kepala, memohon dengan tubuh gemetar, sementara kedua tangannya terkepal erat di atas pangkuannya. Tatapan tajam Naruto membuatnya gugup, namun ia menguatkan diri, tujuannya untuk memaksa Naruto pergi harus berhasil.
"Jangan membuatku tertawa, Hinata," kata Naruto, berharap tawanya tidak terdengar gemetar. "Ini hidupku, kalian tidak bisa mengaturku seperti dulu."
"Tapi-"
"Kau dan ayahmu sudah merengut waktuku. Sepuluh tahun Hinata. Andai kau lupa, sepuluh tahun adalah waktu yang sudah kalian rengut dariku."
"Tapi kau melakukannya untuk membalas jasa keluargaku," desis Hinata.
"Aku tidak pernah meminta untuk diadopsi," sahut Naruto dengan satu alis terangkat. "Kalian yang mengadopsiku, dan kalian memintaku untuk membalas jasa kalian. Bukankah itu terdengar menggelikan?" tanyanya dengan nada tajam. "Aku sudah membalas semua jasa keluargamu, dan sekarang dengan tidak tahu malunya kau datang untuk menyingkirkanku?"
"Tapi kau tidak bisa di sini, Naruto," ratap Hinata dengan mata berkaca-kaca. "Aku akan terus ketakutan setiap kali teringat jika kau berada disatu kota yang sama denganku. Aku akan memberimu uang dalam jumlah besar, asalkan kau mau pergi."
Naruto terkekeh, lalu tertawa keras hingga Hinata menatapnya aneh. "Apanya yang lucu?" tanya Hinata heran.
"Kau!" seru Naruto seraya menunjuk ke arah Hinata dengan telunjuk kanannya. "Kau benar-benar lucu, dan tidak tahu malu." Ia memberikan penekanan di ujung kalimatnya. "Kau pikir aku malaikat yang bisa melupakan orang-orang yang telah berbuat jahat padaku? Kau pikir aku tidak pernah mengutukmu selama aku berada di dalam penjara? Apa kau tahu hal-hal mengerikan apa yang telah terjadi padaku selama berada di tempat mengerikan itu? Kau tidak akan pernah tahu Hinata. Tidak akan pernah tahu."
"Aku bisa membayarnya dengan uang," sahut Hinata. Keberanian serta rasa percaya dirinya kembali timbul saat ia menyodorkan selembar cek kosong ke hadapan Naruto. "Isi berapa pun kau mau."
Gigi Naruto gemertuk. Kedua tangannya terkepal erat di atas pangkuannya. Namun dengan pengendalian diri yang baik ia tetap bersikap tenang, dan menjawab dengan nada tenang dan dingin. "Apa uangmu bisa mengganti kerusakan hatiku yang tidak bisa diperbaiki?" tanya Naruto membuat Hinata bungkam. "Apa kerugianku bisa tergantikan oleh uangmu?" Naruto terdiam sejenak, mendongakkan kepala untuk mencegah air matanya turun. "Dan apa uangmu bisa membayar derita serta kekejaman yang selama ini aku alami?" tanyanya masih dengan nada tenang namun tajam.
Hinata membeku. Ia tertunduk, tubuhnya gemetar saat pikirannya membayangkan jika dirinyalah yang berada di posisi Naruto saat itu. Tapi tidak. Nasi sudah menjadi bubur. Naruto sudah menggantikan dirinya untuk menebus dosanya. Bukankah itu cukup? Pikirnya egois.
"Pergilah, Hinata! Pergi sebelum kesabaranku habis. Kau harus tahu, aku bukan Naruto yang dulu pernah kau kenal." Naruto menarik napas tajam sebelum kembali bicara, "aku tidak akan pernah mengatakan apapun, oleh karena itu kau bisa tenang. Pergilah! Jangan pernah kembali. Pintu rumahku tertutup untukmu."
Hinata bergeming, menekan rasa malunya. "Aku mohon...!" ia kembali memohon dengan berurai air mata. "Karirku, keluargaku, dan hidupku bisa hancur jika masa laluku terbongkar. Aku tidak bisa tidur nyenyak, Naruto. Tolong kasihanilah aku!"
Naruto tertawa renyah, dan berkata, "Menyenangkan bukan, Hinata? Akhirnya kau merasakan sedikit dari apa yang dulu pernah kurasakan. Anggap saja itu hukuman untukmu." Ia mengatakannya dengan suara bergetar. "Hiduplah. Hiduplah dengan rasa sesal dan rasa takut, Hinata. Hidupmu tidak akan pernah tenang selama kau tidak jujur. Dan kurasa, itu cukup sebanding dengan penderitaan yang kualami selama ini."
Hinata terkesiap, terlihat terkejut. "Sejak kapan kau menjadi seorang pendendam?"
Naruto kembali mengulum senyum pahit. "Bukankah aku sudah mengatakan jika aku bukan Naruto yang dulu?" tanyanya parau. "Kalianlah yang merubahku. Kalian membentukku menjadi seperti ini. Kalianlah yang bertanggung jawab. Kalian!"
.
.
.
Kedatangan Hinata siang tadi jelas bukan satu hal yang menyenangkan untuk Naruto. Ucapan saudari angkatnya itu seperti menaburkan garam pada lukanya yang masih belum sembuh sepenuhnya. Naruto berdiri di depan jendela rumahnya, tatapannya, menerawang jauh ke luar jendela. Kenapa dia harus datang menemuinya? Tanyanya di dalam hari.
Untuk sejenak ia memejamkan mata. Melepas napas panjang untuk menenagkan pikirannya.
Ah, mungkin sebaiknya aku pergi keluar untuk menenangkan diri, ujarnya di dalam hati.
Naruto pun berganti pakaian dengan cepat. Ia baru saja akan pergi saat bel rumahnya berbunyi nyaring. Ia menyalakan intercom, melihat siapa tamu yang datang berkunjung-dan ternyata Sasuke.
Dengan langkah cepat dia segera turun untuk membukakan pintu.
"Aku datang untuk melihat progress pekerjaku," katanya yang masih berdiri di depan pintu. Pria itu menunduk, menatap buket bunga di tangannya. Alisnya langsung terangkat naik saat ia mendongak. "Kau mau pergi?" tanyanya melihat penampilan rapi Naruto sore ini.
Naruto mengangguk, namun matanya terfokus pada sebuah buket bunga matahari di tangan Sasuke. "Itu untukku?" tanyanya.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya, lalu menyerahkan buket di tangannya pada Naruto.
"Terima kasih!" pekik Naruto senang. "Kenapa harus repot-repot?"
"Bukan dariku," jawab Sasuke dengan bahu terangkat. "Asal kau tahu, aku tidak akan mengirim buket bunga seperti itu untuk seorang wanita. Aku akan mengirim sesuatu yang lebih berkelas daripada sekedar bunga matahari."
Naruto menyempitkan mata. "Kenapa kau terdengar seperti seorang kekasih yang sedang cemburu?" tanyanya sembari menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan Sasuke masuk. "Buket bunga ini sangat cantik. Hangat seperti musim panas," tambahnya dengan mata berbinar. Ia lalu mengambil sebuah kartu ucapan yang terselip diantara rangkaian bunga. "Ada kartu ucapannya." Katanya sembari menatap Sasuke.
"Kenapa kau terdengar begitu senang?" Sasuke menekuk wajahnya, berjalan masuk, mengekori Naruto naik ke lantai dua.
Naruto menoleh lewat bahunya. "Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku menerima sebuah buket bunga, jadi tentu saja aku sangat senang."
"Kau bisa begitu senang hanya karena sebuah buket bunga?" tanya Sasuke terdengar tak percaya, sementara Naruto kembali menoleh lewat bahunya dan menjawabnya dengan sebuah senyum memikat. "Ck, jadi siapa pengirimnya?"
Naruto terdiam, lalu menjawab dengan nada aneh bahkan untuk pendengarannya sendiri. "Seorang teman lama."
Sasuke mengernyit saat menangkap nada sedih dalam suara Naruto, namun pria itu memutuskan untuk tidak mengatakan apapun. Ia memilih untuk mendudukkan diri di sebuah sofa nyaman, sementara wanita berambut pirang itu berjalan menuju dapur untuk menata buket bunga di tangannya.
"Cantik, kan?" tanya Naruto bangga, wanita itu berjalan kembali ke ruang tamu dengan sebuah vas berisi bunga matahari. Diletakkannya hati-hati vas di tangannya ke atas meja di dekat jendela, ia menatapnya lama, lalu menoleh ke arah Sasuke yang tidak bersuara. "Kenapa kau mendengus?" tanyanya dengan mata menyipit saat pria itu mendengus sembari memasang ekspresi mencemooh.
Sasuke berdecak, terlihat bosan. "Itu hanya bunga biasa. Murah. Apanya yang cantik? Warnanya bahkan terlalu mencolok," cibir Sasuke. "Kau terlalu berlebihan," tambahnya dengan lirikan tidak suka.
"Bunga ini sempurna," balas Naruto ketus. "Lalu, untuk apa kau datang kemari? Aku yakin alasanmu sebenarnya datang kesini hanya untuk menggangguku. Iya, kan?"
"Begitulah," jawab Sasuke datar. "Jadi, kau mau pergi kemana?"
"Mencari udara segar," jawab Naruto. Bahunya merosot, ekspresinya berubah datar saat ia kembali bicara, "tolong jangan katakan jika kau mau ikut," ujarnya saat Sasuke tersenyum aneh.
"Bukankah akan lebih menyenangkan jika ada seseorang yang menemani?"
Naruto mengangkat kedua bahunya. "Tidak juga."
"Ok," seru Sasuke sembari berdiri, "Jadi kita mau pergi kemana?" tanyanya, mengabaikan keinginan Naruto untuk menyendiri.
"Aku tidak mau pergi denganmu, Sasuke," pekik Naruto sebal. "Aku ingin menyendiri," tambahnya. "Apa kau tidak mengerti ucapanku tadi?"
Hening.
Sasuke menaikkan satu alisnya. "Apa kau merasa malu berjalan denganku?"
"Bukan itu maksudku," balas Naruto cepat. "Kadang seorang wanita butuh waktu untuk menyendiri," jelasnya pelan, berharap Sasuke bisa memahami walau untuk kali ini saja. Naruto hanya ingin menyendiri, mengeluarkan kesedihan, amarah serta sakit hatinya setelah pertemuannya dengan Hinata tadi siang. Ia hanya perlu menghabiskan waktu seorang diri hingga perasaannya membaik.
Sasuke mendesah. "Tapi aku juga mau mencari udara segar. Rasanya akan jauh lebih menyenangkan jika ada seseorang yang menemanimu jalan-jalan dan menemanimu makan malam. Bukankah itu gunanya teman?" tanyanya dengan tatapan menerawang.
Naruto berdecak sembari bersidekap. Ia menyipitkan kedua matanya saat berkata, "Kenapa aku merasa menjadi orang jahat jika tidak mengijinkanmu ikut bersamaku?" Sasuke mengangkat bahu. "Oh, baiklah," seru Naruto dengan kedua tangan terangkat ke udara. "Kau boleh ikut, tapi kau harus mentraktirku makan malam."
Sasuke tersenyum tipis. "Aku tahu restoran mahal dan enak di pusat kota."
"Tidak," balas Naruto sembari menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak mau makan di restoran mewah. Aku ingin makanan enak yang dijual di kedai makanan biasa."
Sasuke terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab, "Kurasa aku tahu tempat yang bisa menyenangkan lidah dan perutmu. Tempat murah tentu saja. Kakakku sering membawaku makan di sana dulu-"
"Ada apa?" tanya Naruto saat Sasuke terdiam tanpa mampu menyelesaikan perkataannya.
Sasuke menggelengkan kepala pelan, memaksakan diri untuk menarik sudut mulutnya ke atas. "Tidak apa-apa," jawabnya cepat. "Kita pergi sekarang?" tanyanya untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Naruto mengangguk pelan, mencoba untuk mengenyahkan pertanyaan di dalam kepalanya. Sasuke seperti menyembunyikan sesuatu, pikirnya. Entah kenapa dia mulai berpikir jika bukan hanya dirinya yang memiliki rahasia besar, karena ia merasa jika Sasuke pun menyembunyikan rahasia dari dirinya saat ini.
Ah, sudahlah, pikir Naruto. Setiap orang pasti memiliki rahasia bukan? Menjadi hak mereka untuk mengatakannya atau menyembunyikannya. Bukan begitu?
"Ayo kita pergi," ujar Naruto dengan sebuah senyum manis.
.
.
.
Keduanya berjalan berdampingan, tenggelam dalam obrolan hangat yang menyenangkan. Sesekali terdengar suara renyah Naruto saat ia berhasil mengolok-olok pria di sampingnya. Kedua terus berjalan layaknya seorang sahabat lama, menikmati langit Kota Tokyo yang semakin menggelap.
"Jadi, aku boleh membeli apapun?"
Sasuke mengangguk.
"Apa kau yakin?" tanyanya lagi dengan mata menyipit.
"Memangnya kau bisa makan sebanyak apa?" dengus Sasuke. "Lagipula uangku tidak akan habis hanya karena mentraktirmu makan," tambahnya pongah. "Kau yakin tidak mau kubawa ke restoran mewah?"
"Tidak," jawab Naruto cepat. "Sudah kukatakan, ada tempat lain yang jauh lebih enak makanannya daripada restoran mewah kebanggaanmu itu."
Satu alis Sasuke terangkat. "Menurut seleramu maksudmu?"
Naruto memutar kedua bola matanya. "Anggap saja begitu," sahutnya sembari mendorong punggung Sasuke, memintanya untuk kembali berjalan.
"Ini dia," pekik Naruto senang saat sampai di tempat tujuannya yang pertama. "Sejak dulu kios penjual takoyaki ini sangat terkenal di kalangan anak muda," terangnya. "Dulu kami rela mengantri panjang demi mendapatkan satu porsi." Naruto bercerita penuh semangat. "Aku tidak menyangka jika kau juga tahu tempat ini, Sasuke. Setelah ini kita akan makan di kedai ramen Paman Teuchi. Ramennya sangat lezat, kau harus mecobanya," serunya riang, seolah melupakan hal kurang menyenangkan yang terjadi siang tadi."
Sasuke tidak menjawab. Pria itu berdiri dengan ekspresi tidak terbaca. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeansnya, jujur saja, jauh di dalam hatinya ia mulai merasa terganggu oleh nuansa familiar yang menjadi saksi bisu kenangan masa lalunya dengan Itachi. Dia tidak akan pernah lupa bagaimana Itachi dengan antusiasnya membawanya ke tempat-tempat penjual makanan favoritnya.
Terkadang Itachi menyeretnya paksa, agar Sasuke mau menemaninya makan di tempat itu.
Sasuke melepas napas yang sedari tadi ditahannya. Ia melirik ke arah Naruto yang terlihat sangat gembira dan bersemangat saat ini. Wanita itu terus tersenyum lebar, menatap makanan yang dijajakan dengan mata berbinar. "Aku pasti bisa mencicipi semua makanan ini." Sasuke mendengar suara yakin Naruto tanpa ekspresi, kedua tangannya kini terkepal di sisi kiri dan kanan tubuhnya.
Jangan tertipu, Sasuke, ujarnya di dalam hati mengingatkan dirinya sendiri. Dia hanya seorang pembunuh yang memiliki senyum malaikat. Kau tidak boleh melupakan hal itu!
.
.
.
TBC
Hello...!
Siapa yang kangen sama fic ini? Ayo angkat tangan! XD
Maaf lama menunggu untuk updatean chapter ini. Hm... moga belum pada lupa sama jalan cerita sebelumnya yah, kalau lupa-saya sarankan untuk membaca ulang dari awal. #Nyengir
Btw, part ini saya bagi dua yah, semoga masih sabar menunggu kelanjutannya. ((:
Dari review yang sudah masuk, beberapa pembaca banyak menanyakan hal2 berikut;
1. Kapan kebenarannya akan terungkap? Nanti. Tolong ditunggu aja. Kalau saya bocorin, nggak akan seru donk. #Wink
2. Sampai berapa chap? Biarlah mengalir seperti air. Kalau sudah waktunya 'tamat' pasti saya tamatin. #JawabanApaIni?
3. Kapan ingatan Kurama kembali? Saat saya menghendakinya.
4. Naruto kok lemah? Terlalu baik? Hm... iyakah? #MikirKeras
5. Jadwal update? Ora ono. XD
6. Ceritanya happy ending, kan? Baca sampai akhir yah. Nggak seru ah kalau dibocorin akhir ceritanya. #EkspresiSerius
7. Kenapa Naruto-nya selalu menderita? Tuntutan jalan cerita dan alas an utamanya karena saya penulis ceritanya. #EkspresiSeriusLagi
Ah, sepertinya hanya itu saja yang paling banyak ditanyain. Selebihnya sudah saya baca semua. Terima kasih untuk semua dukungannya yah. Terharu banget. #Ketjup
Well, apa ada bagian yang kalian suka? Bikin kesel, emosi atau sedih mungkin? ((:
Semoga chap ini bisa cukup menghibur. Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^-^
#WeDoCareAboutSFN
