My Famous Husband Jung

By LadySinner_25

.

.

.

"Sayang bangun, apa kau tidak pergi sekolah hari ini?"

Jaejoong terbangun dari tidurnya dan mengusap matanya yang masih mengantuk. Yunho menatap istrinya, mengagumi adegan menggemaskan didepan matanya. Akhirnya Jaejoong membuka matanya dan melihat suaminya yang sedang menatapnya. Dia sedang mengerucutkan bibirnya ke Jaejoong. Namja yang masih terlihat cantik meski baru bangun tidur itu tersenyum melihatnya dan langsung naik ke pangkuanan Yunho, meringkuk manja didadanya. Yunho mengacak-acak rambutnya. Dia terlihat seperti seorang bayi dalam pangkuan Yunho. Jaejoong memang masih bayi.

"Masih mengantuk ya?" Jaejoong menganggukkan kepalanya dan menutup matanya tetapi Yunho mengangkat kepalanya dan menatapnya.

"Matamu membengkak sekarang, aku mohon jangan mengangis lagi sayang. . ." Jaejoong kembali menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba dia mengingat mimpi buruk yang dialaminya semalam, seketika membuatnya gemetar. Dia berdoa didalam hati, berharap kalau semuanya akan baik-baik saja.

"Kau terlalu banyak khawatir. . ." Jaejoong hanya kembali meringkuk didada Yunho, tidak mengatakan satu katapun. Mencari kehangatan didada suaminya lagi dan memeluknya dengan erat. "Aku akan mengantarmu ke sekolah hari ini. Bagaimana?"

Jaejoong menegakkan badannya dan menatap Yunho. "Bukannya kau sibuk? Besok malam penghargaannya akan diselenggarakan."

"Betul! Dan itu masih besok jadi aku masih punya banyak waktu untuk memanjakan istriku, tidakkah kau menyukainya?" Jaejoong tersenyum pada Yunho dan menautkan lengannya ke leher Yunho.

"Aku menyukainya Yunnie! Ayo kita mandi bersama." Ajak Jaejoong pada suaminya.

". . ." Yunho tersenyum nakal pada istrinya dan Jaejoong mengangkat kedua alisnya.

"Ada yang sedang mesum nih?" Jaejoong menggoda suaminya tetapi Yunho hanya terus tersenyum nakal padanya. Dia diangkat dan dibopong Yunho ke kamar mandi kemudian menurunkannya pelan-pelan di bak mandi.

"Mari kita mulai sayang!" Yunho mulai menanggalkan baju dan celananya. Jaejoong hanya melihat apa yang dilakukan suaminya. Dia sangat mencintai namja itu, namja yang membuat hidupnya menjadi lengkap dan dia tidak akan membiarkan orang lain mengambilnya keluar dari hidupnya atau mereka akan menemui ajal mereka.

Ooo_ooO

"Berapa banyak yang kau mau? Aku akan membayarmu!" Seorang yeoja mungil menatap namja dihadapannya.

"Aku tidak butuh uangmu. Aku punya banyak uang."

"Lalu mengapa kau datang kemari?" Yeoja itu mengangkat kedua alisnya dan menyeringai.

Namja yang dia ajak bicara berjalan ke belakangnya dan memeluknya. "Kau tahu betul apa yang aku mau, jangan berpura-pura seperti kau tidak tahu!"

"Tapi aku tidak menyukaimu, kau sudah tahu itu!"

"Itu bukan yang kau katakan padaku saat aku menidurimu!" Yeoja itu memutar kepalanya ke namja yang sekarang tengah menyeringai padanya.

"Jadi. . . Apa yang kau inginkan sebagai penggantinya huh?" Yeoja itu melingkarkan lengannya ke leher namja tampan tersebut.

"Aku menginginkanmu BoA. Aku hanya ingin dirimu!" BoA menyeringai dan menekan bibirnya ke bibir namja dihadapannya yang tangannya mulai menggerayangi pinggul kecil BoA.

"Aku akan memberikan apa yang kau inginkan, tapi kau harus janji padaku. Aku akan mendapatkan Yunho besok malam. Kau mengerti?" BoA duduk dipangkuan namja itu dan mulai menggesekkan buttnya ke organ di selangkangan namja itu.

"Yeah! Aku akan memastikan dia menjadi milikmu!"

"Aku berharap kau bisa menepati janjimu padaku. . . Manajer Kim." Dan mereka mulai mencium bibir satu sama lain dengan panas dan pakaian mereka juga mulai terlepas dari tubuh mereka.

Ooo_ooO

Jaejoong memasuki gerbang sekolahnya dan dia melihat semua orang sedang menatapnya. Sekelompok siswa yang duduk dibangku dan membaca buku, menghentikan apa yang sedang mereka lakukan dan melihatnya dengan penuh keingintahuan. Beberapa yeoja mengukir senyum menawan di wajah mereka. Beberapa teman sekelasnya membuka mulut mereka lebar. Di koridor sekolah, para yeoja menghentikan langkah mereka dan memberinya jalan serta mulai melambaikan tangan mereka kepadanya.

Jaejoong merasa aneh dan mengkerutkan kedua alisnya. Demi semua yang ada didunia, apa yang telah terjadi pada mereka semua. Dia hendak masuk ke kelasnya ketika geng Tiffany menghalangi jalannya dan melihat yeoja itu. . .

Tersenyum.

Benarkan? Apa dia tidak salah lihat?

"Hi, Aku Tiffany." Teman sekelasnya itu mengulurkan tangannya ke dirinya dan mencoba untuk tersenyum semanis mungkin padanya.

"Aku tahu!" Jaejoong mendengar suara Tiffany terkesiap kaget.

"Benarkah?" Tiffany menatapnya dengan mata yang melebar.

"Iya! Kau. . ." Jaejoong akan mengatakan kalau Tiffany adalah teman sekelasnya namun Taeyeon memegang tangannya terlebih dahulu dan tersenyum padanya.

"Aku Taeyeon, siapa namamu?" Taeyeon meremas tangan Jaejoong dan sedikit kesakitan saat dia merasakan tangannya diremas sedikit kasar. Dia mengangkat tangannya yang lain untuk meminta gadis itu melepaskan tangannya, tetapi Yuri ikut menggenggamnya.

"Aku Yuri, siapa namamu?"

'Ummmmm! Apa yang sudah terjadi?' Tanya Jaejoong dalam hati. Dan ketika dia ingin mengatakan bahwa dia adalah Kim Jaejoong, Changmin datang dan menarik lengannya dengan kasar sehingga terlepas dari genggaman kedua yeoja itu. Tentu saja tindakan Changmin membuat kerumunan siswa dan geng Tiffany merasa tidak senang.

Changmin menarik Jaejoong ke area sekolah yang sepi. Jaejoong membiarkan dirinya ditarik oleh Changmin sedangkan dia berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah kaki panjang Changmin yang terkesan tidak sabaran. Dan ketika mereka sampai di tempat tujuan, Changmin langsung mengajukan pertanyan padanya.

"Yah! Hyung. . . Kau pikir apa yang kau lakukan?" Jaejoong mengerutkan alisnya mendengar reaksi Changmin.

"Mweo? Aku tidak melakukan apa-apa!"

"Sungguh? Kau baru saja membuat seluruh sekolah menjadi sesi mari meneteskan air liur di pagi hari."

"Mweo?" Jaejoong tidak mengerti maksud dari sepupu suaminya itu.

"HYUNG! DIMANA KAU MELETAKKAN WIG PALSUMU DAN KACA MATA PROFESORMU?"

Jaejoong membelalakan matanya dan langsung menyentuh rambut dan matanya tetapi semua benda yang disebutkan oleh Changmin tidak ada pada tempat dimana biasanya mereka berada. Hal itu menjelaskan bahwa dia telah melupakannya sejak dia masuk ke mobil Yunho.

Dia lupa memakai wig dan kacamatanya karena alasan yang sedikit memalukan. Setelah menyelesaikan mandi pagi mereka yang panas, karena masih merasa kurang puas atas tubuh pasangan mereka, membuat mereka melanjutkan ronde kedua mereka di mobil Yunho. Dan Yunho juga pasti melupakan peralatan menyamarnya karena manajer yang menghubungi suaminya tepat setelah mereka menyelesaikan 'Bisnis' mereka. Jaejoong merona hebat saat mengingat apa yang menjadi alasan dibalik kelupaannya.

"Hyung! Apa yang akan kau lakukan sekarang? Tidak ada seorangpun yang mengenalimu sebagai kutu buku yang terkenal itu. Sepertinya kau telah menghipnotis mereka juga, ya. . . kecuali aku tentunya!" ucap Changmin, terselip rasa bangga diakhir kalimatnya.

Jaejoong masih menundukkan kepalanya, dia tidak bisa mengatakan kepada Changmin kalau dia benar-benar lupa dengan peralatan menyamarnya yang tertinggal di mobil Yunho atau dia akan berakhir dengan menjadi bahan godaan dari si food monster itu. Atau mungkin dia akan diperas untuk memasak makanan kesukaannya.

"Apa yang harus aku lakukan Minnie?"

"Mengapa kau bertanya padaku? Kau harus mendapatkan wig-mu itu!"

"Aku tidak bisa. . .!"

"Dan kenapa kau tidak bisa?"

"Karena. . ." Jaejoong menggantung kalimatnya, diambilnya napas dalam. "Wig dan kacamataku tertinggal di mobil Yunho."

"Apa Yunho hyung yang mengantarmu ke sekolah?"

"Iya!"

"Dan kenapa kau bisa melupakannya?" Jaejoong kembali merona hebat mendapat pertanyaan dari Changmin. Namun karena kejeniusan yang dia punyai, Changmin bisa menebak apa yang membuat Jaejoong merona dan melupakan barang yang membantunya untuk menutupi identitas aslinya. "Baiklah! Kalian bercinta di mobil!"

Jaejoong meletakkan kedua tangannya di mulut lebar Changmin karena ada beberapa siswa yang berjalan melewati mereka. "Yah! Kau tidak perlu mengumumkannya sekeras itu!"

"Gosh! Sudah dipastikan kalian berdua adalah kelinci-kelinci termesum dari yang pernah ada!"

"Hey! Jangan panggil kami seperti itu. Ini natural karena kita adalah pasangan suami istri."

"Iya dan juga mesum. . ."

"Uggghhh! Aku tidak akan berdebat denganmu!" Jaejoong mulai berjalan namun Changmin menahannya dengan memegang lengannya lagi.

"Kau pikir kau akan pergi kemana hyung?"

"Aku akan kembali ke kelas. Kemana lagi?"

"Oh yeah! Dengan penampilan seperti itu?" Changmin menunjukkan jari telunjukknya kearahnya dan baru menyadari kalau dia tidak menggunakan perlengkapan penyamarannya. Sepertinya mengingat apa yang dia dan suaminya lakukan tadi pagi mampu membuat kerja otaknya menjadi kacau hingga membuatnya melupakan hal-hal yang seharusnya tidak dia lupakan.

"Ya ampun. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"

"Pulang ke rumah!"

"Tidak mungkin. Aku sudah terlalu sering absen dan aku tidak bisa langsung pulang hanya karena ini!" Jaejoong sedikit sedih jika mengingat sekolahnya yang sedikit terbengkalai karena masalah pribadinya.

"Terus. . . Apa yang otak jeniusmu sarankan hyung?" Tanya Changmin.

"Menunjukan kepada dunia!"

"Kau serius?" Changmin terkejut dengan jawaban Jaejoong.

"Aku tidak bisa selamanya bersembunyi seperti ini Minnie dan aku harus keluar!"

"Apa Yunho hyung tahu soal ini?"

"Tidak. Dia tidak tahu."

"Dan dia pasti akan panik jika dia mengetahuinya!" Changmin terlihat frustrasi dan ditatapnya hyung sekaligus teman sekelasnya itu. Ya mungkin istri sepupunya itu namja yang keras kepala namun kalau sudah keluar sifat 'bitchy'nya tidak akan ada yang bisa menjinakkannya.

"Jadi. . .?"

"Tidak apa-apa Minnie. Dan selain itu aku tidak ingin merasa tidak aman lagi dengan kehadiran pelacur itu. Akan aku tunjukan pada dunia bahwa aku jauh lebih cantik dari yeoja itu!"

"Pelacur?"

"Iya. Pelacur BoA itu!"

"Ohhh. . . Aku pikir dia cantik hyung!" Jaejoong menatap Changmin tajam dan namja yang ditatap menutup mulutnya, merutuki keteledorannya dalam hati. Dia baru sadar kalau BoA adalah musuh abadi Jaejoong.

"Iya kau benar hyung! Kau jauh lebih cantik darinya! Kau terlihat seperti malaikat dan dia terlihat seperti setan!" Jaejoong mengukir senyum lebar diwajahnya sekarang dan mulai berjalan lagi. "Hyung!"

"Apa?" Jaejoong memutar kepalanya lagi menghadap Changmin yang tersenyum menyeringai padanya.

"Traktir aku atau aku akan mengumumkan ke seluruh sekolah kalau kau sudah bercinta didalam mobil tadi pagi."

Jaejoong sangat yakin kalau Changmin bisa menjadi namja baik tapi kalau sudah bicara mengenai makanan dia bisa berubah menjadi monster. Jadi untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan Jaejoong menganggukkan kepalanya, tak apa meski akan mengurangi isi dompetnya.

"Pasti. Aku akan membelikanmu cake setinggi 2 meter untuk memuaskan kebutuhanmu!" Jaejoong melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti dengan Changmin yang sudah berjalan disampingnya.

"Itu sangat besar hyung, aku pikir aku tidak akan sanggup menghabiskannya!"

"Tidak Minnie, itu sungguh cukup untukmu! Sangat cukup untuk menenggelamkan dirimu di lautan rasa manis dan mati." Kali ini Jaejoong yang tersenyum menyeringai kepada Changmin dan si food's monster hanya bisa mempoutkan bibirnya.

"Kau jahat!"

"Tidak! Aku cantik!"

"Tidak! Kau tidak cantik!"

"Tidak ada cake untukmu!"

"Iya! Kau cantik dan seperti malaikat dan. . ." Jaejoong merangkul lengan Changmin.

"Aku tahu itu! Ayo kita tunjukan ke seluruh sekolah apa arti cantik sesungguhnya!" Dan mereka berlari saat mendengar bell masuk jam pelajaran pertama berdering.

Ooo_ooO

Changmin dan Jaejoong masuk ke kelas mereka dan semua siswa memusatkan perhatian mereka pada siswa yang baru mereka lihat meski sebenarnya telah mereka kenal sebagai 'kutu buku'. Jaejoong duduk dibangkunya begitu pula Changmin yang sekarang juga duduk di bangkunya disamping Jaejoong. Semua siswa tidak memberikan perhatiannya kepada guru yang tidak menyadari kalau semua pandangan mata para siswanya ke belakang bukan ke depan.

Jaejoong mulai merasa tidak nyaman saat banyak pasang mata menatapnya. Kemudian dia melihat Tiffany -yeoja pemberani yang selalu bangga akan dirinya sendiri dan menyebut dirinya cantik- berjalan kearahnya.

"Apa kau siswa pindahan disini? Senang bertemu denganmu!" Tiffany mengulurkan tangannya lagi kepadanya dan Jaejoong mencoba untuk menyambutnya tetapi Changmin menampik tangan yeoja itu menjauh dari Jaejoong.

"Jangan ganggu dia pelacur!" Tiffany membelalakan matanya lebar pada Changmin namun Changmin tidak menghiraukannya, melirik pun tidak.

"Siapa kau memanggilku seperti itu?" Marah Tiffany.

Jaejoong menyadari kalau semua mata masih menatap mereka dan dia takut jika guru mereka mendapati keributan kecil ini sebelum Tiffany sempat kembali ke bangkunya. "Maukah kau melakukan sesuatu untukku Tiffany? Aku mohon kembalilah ke bangkumu atau kau ingin aku menarikmu dan mengikatmu?"

Changmin menyeringai ke Jaejoong dan Tiffany menghentakan kakinya kembali ke bangkunya.

Setelah keributan kecil tersebut dapat diatasi oleh Jaejoong, akhirnya guru mereka membalik badannya kembali menghadap ke para siswa-siswinya dan perhatiannya tertarik pada siswa menarik yang duduk dibelakang, beliau tersenyum.

"Akhirnya Mr. atau lebih tepatnya Mrs. Jung keluar juga!" Mrs. Lee tersenyum pada Jaejoong dan seluruh kepala siswa langsung berputar menghadap ke arah dimana guru mereka mengajak bicara salah satu siswanya dan mendapati Jaejoong yang merona malu.

"Tunggu Mrs. Lee. . . baru saja kau memanggil dia Mr. Jung?" Tiffany berdiri dan memutar kepalanya ke guru mereka dan Jaejoong bergantian beberapa kali. Yuri dan Taeyoon melakukan hal yang sama, begitu juga seluruh siswa yang berada didalam kelas.

"Iya kau benar nona Hwang." Mrs. Lee membenarkan pertanyaan Tiffany. Mendengar jawaban dari gurunya membuat Tiffany mengerutkan kening dalam kebingungan.

"Apa dia siswa pindahan disini Mrs. Lee?" kali ini Yuri yang bertanya pada gurunya dan Mrs. Lee terkikik mendengar pertanyaan dari salah siswinya.

"Iya! Aku juga ingin bertanya hal yang sama Mrs. Lee karena aku baru melihatnya hari ini," seru Taeyoon.

"Tidak! Dia adalah teman sekelas kalian sejak awal ajaran baru di sekolah!" Jawaban Mrs. Lee membuat para siswa bertanya-tanya apa yang sebenarnya guru mereka bicarakan.

"Benarkah?" Tanya seluruh siswa serempak.

"Terus kenapa namanya Jung?" Tanya Tiffany lagi.

"Aku pikir kita tidak pernah punya teman dengan nama kelurga itu!" Leeteuk bersuara.

"Itu karena dia memakai nama keluarganya, Kim. Tapi sepertinya sekarang dia sudah siap untuk menunjukan kepada kita siapa dia yang sebenarnya. Ibu guru pikir suatu kehormatan bila Mr. Jung mau memperkenalkan dirinya. Maukah anda?" Jaejoong menggigit bibirnya dan mengambil napas dalam. Berdoa semoga teman-teman sekelasnya tidak kaget saat perkenalan diri yang akan dia lakukan. Diputarnya kepalanya ke Changmin yang saat ini tersenyum padanya dan menganggukkan kepalanya seolah berkata 'Lakukanlah, ini pilihanmu'.

Jaejoong berdiri dan berjalan menuju kedepan kelas, menyadari semua mata yang masih tertuju padanya. Mengagumi kecantikannya, memuja kulit putihnya, beberapa teman namjanya sudah meneteskan air liurnya karena aroma tubuhnya yang manis, dan beberapa teman yeojanya cemburu dengan bibir pouty merahnya.

Dia mengangkat pandangannya ke depan dan semua temannya terkagum-kagum melihat betapa cantik dirinya dilihat dari dekat. Ruangan kelas menjadi sunyi lagi, menunggu dirinya untuk memperkenalkan diri. Jaejoong mengambil napas dalam untuk menenangkan dirinya.

"Aku. . ."

Jaejoong terhenti ketika sebuah keributan terjadi diluar kelas. Dia memutar kepalanya kearah pintu untuk melihat keributan apa yang terjadi dan dia melebarkan matanya saat melihat Yunho telah berdiri di pintu ruang kelasnya.

Yunho membungkuk, memberi hormat kepada Mrs. Lee dan ruangan kelas Jaejoong menjadi dua kali lebih sunyi kecuali teriakan para yeoja diluar yang masih terdengar dari dalam kelas. Sedangkan siswa-siswi yang ada didalam ruangan terkejut melihat Jung Yunho yang terkenal berada didalam ruangan mereka. Para siswa yang berada diluar ruang kelas, ikut mengintip idola mereka . Yunho membungkuk kembali ke ibu guru dan berjalan menuju istrinya, tersenyum.

"Saya minta maaf atas kehadiran saya yang mendadak. Saya sungguh meminta maaf untuk hal itu." Dan Yunho membungkuk lagi sekarang ke para siswa yang masih tercegang dibangku masing-masing. Para siswa tidak percaya bahwa mereka sekarang menyaksikan Jung Yunho membungkuk dan meminta maaf kepada mereka. Tetapi untuk apa? Pertanyaan seluruh siswa seolah terjawab saat Yunho kembali bicara.

Yunho memutar kepalanya kembali ke guru dan terseyum. "Mrs. Lee bisakah saya meminjam istri saya sebentar?"

"Ehhhhhh?" Seluruh siswa dibuat terkejut, sedangkan Mrs. Lee hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tanda bahwa beliau memberi ijin kepada Yunho.

"Terima kasih," jawab Yunho sambil membungkukkan badannya. Dipegangnya lengan Jaejoong dan mulai menarik istrinya ke pintu namun kemudian berhenti lagi. Dipegangnya bahu Jaejoong dan membiarkan istrinya sekali lagi menghadap teman-temannya.

"Benar! Dia adalah istriku. Kutu buku yang terkenal di sekolah kalian, JUNG KIM JAEJOONG!" Yunho memainkan matanya ke Changmin kemudian meninggalkan ruang kelas.

Dilain pihak, Tiffany jatuh pingsan. Yuri dan Taeyoon harus menangkapnya sebelum ketua geng mereka membenturkan kepalanya ke lantai.

Yunho menarik Jaejoong hingga mencapai mobil mereka di depan gerbang di sekolah Jaejoong. Para siswa tidak dapat mengalihkan mata mereka dari pasangan serasi itu dan tetap berada di posisi mereka, berusaha untuk mengintip Jung Yunho yang digilai banyak yeoja menarik lengan seorang namja cantik.

Ketika mereka sudah berada didalam mobil, tiba-tiba Yunho memeluk Jaejoong. Apa yang dilakukan Yunho membuat Jaejoong terkejut. Dia berusaha untuk keluar dari pelukan Yunho dan berhasil.

"Yunnie. . . Ada apa denganmu?" Yunho menatap istrinya khawatir.

"Apa kau baik-baik saja? Apa seseorang menyakitimu? Menyentuhmu? Atau meraba-rabamu? Katakan padaku!" Yunho memeriksa lengan Jaejoong, memeriksa jika ada tanda yang terlihat. Memeriksa jika ada tanda ungu yang bisa menyebabkan kulit indah Jaejoong berubah menjadi jelek. Tangan Yunho ditampik oleh Jaejoong dan dia menghentikan apa yang dia lakukan.

"Apa yang kau katakan?"

"Kau meninggalkan wig dan kacamatamu di mobilku sayang. Dan aku baru menyadarinya saat aku mau mengambil kostumku dan masuk ke dalam gedung SM. Aku menjadi takut dan mengkhawatirkanmu, jadi aku secepatnya kembali kesini dan tidak akan berani menunjukkan diriku ke manajer hyung setelah apa yang aku lakukan hari ini." Yunho masih terengah-engah dan Jaejoong tertawa melihat keadaan suaminya. Kadang-kadang Yunho bisa menjadi idiot.

"Aku masih hidup Yunnie, kau bisa lihat sendiri!"

"Tadi aku pikir kau akan disentuh atau di. . ."

"Iya aku memang telah disentuh!" Yunho melebarkan matanya dan mulai memeriksa tubuh Jaejoong lagi.

"Mweo? Siapa yang menyentuhmu? Katakan! Aku akan menonjok orang yang sudah berani menyentuh istriku!"

"Bisakah kau tenang Yunnie?"

"Kau bilang kau telah disentuh, berani-beraninya mereka menyentuhkan tangannya padamu!" Yunho masih memeriksa tubuh Jaejoong.

"Uggghh! Hentikan Yunnie! Kau berlagak seperti tidak pernah disentuh orang lain?" Yunho berhenti dan menatap istrinya.

"Jadi. . . Kau suka dengan ini? Kau suka dengan perhatian yang mereka berikan padamu?"

"Biarkan aku. . .," Kembali Jaejoong dipotong oleh Yunho saat bicara.

"Aku pikir kau sengaja tidak memakai peralatan menyamarmu hari ini, kau ingin dilihat oleh semua orang. Aku benar kan?" oceh Yunho.

"Bisakah kau. . ."

"Kau sekarang suka menjadi pusat perhatian huh? Kau suka kan?"

Jaejoong merasa iritasi pada Yunho. Benar dia merasa tidak aman karena BoA namun kalau sudah berhubungan dengan dirinya, rasa tidak aman Yunho lebih besar dibanding dengan dirinya. Kau tidak akan berani menyentuhkan tanganmu didepan Yunho atau kau akan menjumpai makammu. Seperti itulah keposesifan Yunho.

"Kau. . ."

"HENTIKAN!" Jaejoong dengan putus asa menatap suaminya yang sekarang mengatupkan kedua bibirnya tetapi dengan aura hitam yang mengelilinginya.

"Kau tidak pernah mau mendengarkan aku Yunnie. Maukah kau mendengarkan aku dulu?" Jaejoong mencoba bicara dengan nada lembut seraya melihat ekspresi suaminya. Dia baru saja berteriak kepada Yunho dan sekarang merasa bersalah karenanya. Dia mendekat ke samping suaminya, kemudian duduk dipangkuannya. Kaca mobil Yunho berwarna hitam jadi mereka tidak akan khawatir walau mereka bercinta berkali-kali didalam mobil.

"Mereka memegangku hanya karena mereka ingin berjabat tangan. Mereka pikir mereka belum pernah mengenalku. Mereka adalah Tiffany, Taeyoon dan Yuri. Dan mereka adalah teman sekelasku."

"Tapi sayang. . . tetap saja mereka sudah menyentuhmu!" Yunho mempoutkan bibirnya dan Jaejoong hanya tertawa.

"Apa salahnya dengan hal itu? Seperti aku akan hamil saja karena sentuhan mereka!" Jaejoong mencium bibir pouty Yunho dan mencubit pipinya. "Jangan mempoutkan bibirmu, kau terlihat Jelek."

"Yah! Terus kenapa kau menikahiku jika aku jelek?" Jaejoong menyeringai dan berbisik di telinga Yunho.

"Karena kau HOT sayang. . .!" Yunho merinding, seolah dia telah digelitik oleh suara hangat Jaejoong di telinganya.

"Hmmmm. . . bisakah kau buktikan betapa HOTnya diriku?" Yunho tersenyum nakal pada Jaejoong.

"Tentu sayang!" Yunho melebarkan mata sipitnya mendengar persetujuan langsung sang istri.

"Disini?" Yunho menunjuk kursi mobil mereka dan Jaejoong menganggukan kepalanya.

"Aku tidak masalah jika ronde ketiga disini lagi!" Yunho mencium penuh dan dalam bibir Jaejoong, tidak dapat menahan godaan bibir merah yang terlihat sangat menggiurkan baginya. Yunho merangkulkan lengannya ke leher Yunho dan mulai menggesekkan pantatnya ke selangkangan Yunho. Yunho menarik tubuhnya, menghentikan ciuman mereka yang mulai panas.

"Aku takut aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri sayang. Ayo kita pulang!"

"Tapi Yunnie, aku masih ada pelajaran di kelas."

"Ohhh Tidak jadi masalah, kita akan urus hal itu nanti. Untuk sekarang kau selesaikan dulu urusan kita." Dan Yunho melajukan mobilnya kembali menuju ke apartemen mereka lagi. Sepenuhnya melupakan kalau dia seharusnya berada di studio hari ini.

Well. . . Yunho tidak peduli tentang hal lain selama Jaejoong berada disisinya.

Ooo_ooO

YunJae saat ini berada diatas tempat tidur mereka, berbaring tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh mereka. Jaejoong menatap suaminya yang masih terlelap dan dia tersipu malu ketika matanya melihat dada Yunho yang penuh dengan tanda merah, hasil perbuatannya. Dia tidak tahu kostum yang seperti apa yang akan dikenakan suaminya itu, bisa jadi dia akan mengenakan kostum yang menunjukan tubuh indahnya mengingat dia telah mempersiapkan penampilan seksi dengan BoA.

'Ugggh BoA lagi,' pikir Jaejoong.

Dengan pelan Jaejoong bangun dari tempat tidur dan membungkus tubuh polosnya dengan selimut yang sepenuhnya telah terjatuh di lantai dan berjalan sedikit tertatih ke kamar mandi. Dia memperhatikan tubuhnya sendiri dan melebarkan matanya ketika dia melihat lehernya juga penuh dengan tanda merah hasil perbuatan Yunho!

'Arrgghhh! Yunho pabo. . . Kenapa dia harus membuat tanda disini? Bagaimana caraku menghapusnya?' Dia tidak punya concealer yang biasa dia gunakan untuk menutupi tanda yang dibuat oleh suaminya. Dia lupa untuk membelinya.

Jaejoong keluar dari kamar mandi, terlihat lebih segar setelah mandi. Dia melihat suaminya masih tidur dan dia pun tersenyum, dengan pelan mendekati tubuh telanjang nan indah didepannya dan menutupi ciptaan Tuhan yang sempurna itu dengan selimut. Kemudian dia mengambil ponselnya dan menekan nomor Junsu, menanyakan jika kostum Yunho sudah dipersiapkan apa belum dan juga berharap semoga sahabatnya itu tidak sibuk. Namun kemudian dia berpikir itu tidak mungkin sejak Junsu mungkin juga akan menangani banyak artis untuk penghargaan besok termasuk pelacur itu tentunya. Dia menunggu sambungan teleponnya diangkat dan pada dering ke lima, Junsu menjawabnya.

{"Manajer Kim. . . apa semuanya sudah siap?"}

Jaejoong mengangkat alisnya saat mendengar suara yeoja di sambungan lainnya dan dia yakin itu bukan Junsu.

{"Iya. . . Setelah acara penghargaan berakhir, dia mungkin sudah berada di tanganmu."} Sekarang terdengar suara namja dan sekali lagi itu bukan suara Junsu.

Jaejoong mendengar suara kaki yang diseret dan suara erangan. Mulutnya membentuk huruf 'O' ketika dia mendengar suara ciuman basah dan dia sangat yakin bahwa itu adalah suara sebuah ciuman. Bagaimana bisa Junsu menyaksikan semua itu? Atau Junsu tidak ada disana? Tapi kenapa dia menjawab panggilannya jika dia tidak ada disana? Jaejoong mengabaikan pemikirannya untuk sementara dan terus mendengarkan.

{"Manajer Kim. . . Kau harus memastikan kalau Yunho tidak akan tahu mengenai ini, atau kita akan ketahuan."}

Jantung Jaejoong seolah berhenti berdetak ketika dia mendengar nama suaminya disebut. Dan jantungnya kembali berdetak tak keruan saat dia terus mendengarkan percakapan diujung lain sambungan ponselnya.

{Pasti! Tapi kau harus menepati janjimu padaku BoA!"}

Jaejoong melebarkan matanya dan menggertakan giginya. Sekarang dia menjadi lebih yakin kalau pelacur itu telah merencanakan sesuatu diotaknya. Saat ini semua yang ingin dia lakukan adalah menguliti pelacur itu hidup-hidup, atau mungkin membakarnya di hutan, menjadikannya umpan untuk hiu atau menggundulinya. Apakah itu terlalu brutal? 'Well. . . Yeoja itu ingin menghancurkan pernikahanku yang bahagia dengan suamiku dan aku akan menghancurkan karirnya sebelum dia bisa menyentuhkan tangannya ke Yunnieku.'

Jaejoong mendengar suara pintu terbuka dan suara lain terdengar oleh telinganya.

{"Hey BoA, ini kostummu buat besok! Aku minta maaf telah membuatmu menunggu. Aku harus memeriksa setiap detailnya dan memastikannya semua sudah sesuai. Semoga kau berhasil!"}

Sekarang Jaejoong baru yakin bahwa suara yang baru dia dengar barusan adalah suara Junsu.

{"Terima kasih Junsu-yah, kita akan pergi sekarang kalau begitu dan aku minta maaf. Tadi aku mendengar ponselmu berdering dan aku mengakhirinya semenjak kau tidak ada disini. Kau bisa memeriksa siapa yang menghubungimu."}

Mengakhiri panggilan atau menjawab panggilan? Bagaimana yeoja itu bisa begitu bodoh? Sekarang semua rencananya telah terbongkar dan untuk semua orang yang mungkin bisa mendengarkannya, kenapa harus dirinya? Surga pastinya tengah berada dipihaknya kali ini dan dia akan memastikan BoA tidak akan bisa menyentuhkan tangannya ke tubuh Yunho, tidak akan meski hanya ujung jarinya.

'Aku harus melakukan sesuatu.'

"Kemana kau akan pergi sayang?"

Jaejoong hendak membuka pintu depan apartemennya ketika dia mendengar suara suaminya. Dan ketika berbalik, dilihatnya Yunho di ruang tamu terlihat baru menyelesaikan mandinya. Dia tidak tahu kalau suaminya sudah bangun, seharusnya dia pergi lebih awal. Tidak mungkin Yunho akan membiarkannya pergi sendirian.

"Uuummm. . . Aku akan beli concealer ke minimarket." Ugghh. Jaejoong senang dia bisa membuat sebuah alasan, meskipun lebih terlihat seperti sebuah kebohongan. Dia tidak bagus dalam hal berbohong.

Yunho menatap Jaejoong curiga.

"Apa kau yakin?"

Jaejoong menganggukkan kepalanya. "Iya sayang!"

"Apa kau ingin aku me-"

"TIDAK!" Kecurigaan Yunho semakin menguat mendengar teriakan Jaejoong. "Maksudku. . . Tidak sayang. Aku akan baik-baik saja pergi SENDIRI!"

Jaejoong mencoba menarik napas dan mengeluarkannya senormal mungkin. Dia bisa merasakan tatapan Yunho yang intens padanya. Sebenarnya dia berencana membeli seutas tali dan pisau yang akan dia gunakan untuk menjalankan misinya besok. Apa yang dia rencanakan?

Well. . . Jangan kemana-mana! JUNG KIM JAEJOONG masih merencanakannya. Namun satu hal yang pasti dia akan memastikan kalau BoA akan terlibat dalam sebuah skandal dalam beberapa hari kedepan.

"Aku akan pergi dengan mu!"

"Tapi Yunnie. . ."

"Mweo?" Jaejoong cemberut. Jika dia terus menolak, Yunho akan menjadi semakin keras kepala untuk membujuknya juga.

"Uuuuummm. . . Tidakkah kau lelah?" Tanya Jaejoong.

"Yah! Kau tidak ingin aku ikut? Apa kau akan bertemu dengan seseorang?"

'Ugghh!' Jaejoong mengerang. Jung Yunho yang posesif muncul lagi.

"Ya Tuhan Yunnie! Aku tidak ingin menemui seseorang, seperti yang aku bilang tadi aku ingin membeli concealer. Terima kasih pada lidahmu yang liar, aku harus menutupi leherku!" Yunho menautkan kedua alisnya dan berjalan menuju Jaejoong, memeriksa lehernya. Kemudian dia bisa melihat seringai suaminya.

"Jangan kau tutupi sayang, ini indah sekali!"

"Indah bokongmu! Aku harus pergi ke sekolah kalau kau lupa! Dan aku tidak ingin menjadi pusat perhatian karena ini!" Jaejoong menunjuk lehernya dan Yunho memberi ciuman singkat di leher yang baru saja ditunjuknya.

"Seperti kau tidak melakukannya saja di dadaku! Kau ingin melihatnya?" Yunho menarik keatas kaosnya dan menggoda Jaejoong. Dengan terburu-buru Jaejoong memutar kepalanya menghadap pintu depan apartemen mereka lagi sebelum Yunho dapat melihat wajahnya yang semerah tomat.

"Kau ikut apa tidak? Aku pergi sendiri saja!" Jaejoong menghentakkan kakinya dan menunggu Yunho didepan.

Yunho mengambil jaketnya dan mengunci pintu. Dia melihat istrinya yang mengerucutkan bibirnya sambil menundukkan kepalanya kebawah. Dia menyampirkan jaket yang dia bawa ke bahu Jaejoong dan istrinya mengangkat kepalanya menatap suaminya.

"Apa kau benar-benar keluar dengan pakaian seperti ini?"

"Apa salah-" Jaejoong memeriksa bajunya dan dia sekarang mengenakan kaos putih tembus pandang, tetapi cukup menutupi tanda merah yang banyak terdapat di lehernya.

"Lihatlah! Tuhan. . . sayang kau hanya akan membuat pegawai minimarket meneteskan air liurnya karenamu." Yunho menutup restleting jaketnya keatas hingga leher Jaejoong.

"Yunnie, ini belum musim dingin dan aku terlihat seperti hanger menggunakan jaketmu." Yunho tak menghiraukan Jaejoong dan melajutkan langkahnya.

"Yunnie. . ."

"Itu lebih baik! Tidak ada tapi-tapian Jung Jaejoong, ayo pergi!" Jaejoong mengerucutkan bibirnya lagi dan berjalan cepat mengikuti suaminya. Saat sudah dekat dipukulnya punggung Yunho.

Yunho hanya tertawa mendapati kelakuan istrinya. Dia merangkulkan lengan kanannya ke bahu Jaejoong. "Diluar dingin sayang, nanti kau sakit! Daya tahan tubuhnya tidak bagus saat udara dingin." Yunho mencium kepala Jaejoong dan mereka terus berjalan.

Ketika mereka sampai di minimarket, Jaejoong langsung berlari menuju bagian peralatan rumah tangga untuk memeriksa material-material yang mungkin akan dia gunakan. Dia tersenyum menyeringai saat dia melihat tali yang dijual disana. Dia memutar kepalanya kearah sang suami dan melihat Yunho sedang diperiksa oleh beberapa yeoja penggoda di minimarket. Untuk saat ini Jaejoong akan mengabaikannya karena dia harus menyelesaikan misinya terlebih dahulu, mempersiapkan peralatan yang dia perlukan terlebih dahulu. Dia mengambil seutas tali, sebuah plester, sebuah pena pentel, sebuah sticker dan yang paling penting pisau cukur.

Jaejoong tidak menyadari kalau Yunho sudah berada dibelakangnya dan saat dia hendak berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaannya, tetapi Yunho menahannya dengan memegang lengannya. Yunho memeriksa semua barang yang ada di keranjang belanjaan Jaejoong.

"Yah! Apa ini?" Yunho mengangkat seutas tali dan bertanya pada Jaejoong, mengangkat alisnya pada namja cantik dihadapannya.

"Uuummm. . ." Jaejoong tersenyum canggung pada suaminya dan menggaruk kepalanya. Gosh! Jaejoong harus berpikir untuk mendapatkan sebuah alasan yang masuk akal kali ini.

"Apa yang akan kau lakukan dengan ini sayang?"

"Uuumm aku berencana untuk membeli seekor anak anjing! Iya! Benar! Aku ingin membeli anak anjing!"

Yunho lebih mengerutkan dahinya, bingung. Dan Jaejoong menggigit lidahnya sendiri, takut mengatakan sesuatu yang bisa membongkar rahasianya.

"Tali? Kau ingin anak anjingnya mati?"

"Yunnie. . ."

"Dan sejak kapan kau suka anak anjing? Aku pikir kau punya alergi dengan bulu anjing?"

'Ugghh! Kenapa Yunho bisa menjadi begitu pintar kadang-kadang?' Pikir Jaejoong. "Uuumm kenapa tidak sayang?"

Yunho meletakkan tali tersebut kembali ke tempatnya semula tetapi Jaejoong mengambilnya dan meletakkannya kembali ke keranjang.

"Apa yang ingin kau lakukan dengan mengunakkannya?"

"Aku menggunakannya untuk olah raga pagi!"

"Olah raga?"

"Iya!"

"Dengan seutas tali? Olah raga seperti apa yang menggunakan tali?"

"Lompat tali! Tidak pernah mendengarnya?" kembali Yunho menatap Jaejoong curiga, namun Jaejoong dengan cepat berjalan kembali ke kasir.

"Yah!"

"Mweo?"

"Apa kau berencana untuk membunuh dirimu sendiri Jung Jaejoong?" Jaejoong menjadi frustrasi sekarang, jika Yunho tidak berhenti mengintrograsinya sekarang dengan pasti dia akan memukul suaminya!

"Yah!" Yunho memegang kedua lengan Jaejoong, menghentikannya dari berjalan.

"Aku pasti akan menggunakannya untuk menggantung diriku sendiri Jung jika kau tidak berhenti menanyaiku!"

Yunho membelalakan matanya dan menarik tangannya dari lengan Jaejoong. Jaejoong berlari ke kasir dan membayar semua barang yang ingin dia beli sebelum Yunho berubah pikiran. Dan ketika Jaejoong memutar kepalanya kearah suaminya, dia melihat gadis yang sama menggoda dan tersenyum nakal pada Yunho.

Jaejoong meneliti counter jika ada majalah yang dijual disana atau tidak dan dia bersyukur karena minimarket tersebut juga menjual majalah, bahkan dia melihat majalah dengan Yunho yang menghiasi sampulnya. Dia mengambil majalah tersebut dan membayarnya. Setelah kasir memberikan uang kembalian, segera Jaejoong menghentakan kakinya berjalan menuju yeoja yang masih saja tersenyum pada Yunho. Dia bisa melihat bagaimana yeoja itu duduk dan menyilangkan kakinya, memamerkan pahanya yang sangat jauh dari kata indah.

Darah Jaejoong mendidih melihatnya dan berjalan cepat ke yeoja itu dan membanting majalah ditangannya ke meja yang sontak mengagetkan Yunho dan malang bagi yeoja itu, dia terjatuh dari tempatnya duduk karena terlalu kaget.

"Hey wanita penggoda! Main matalah dengan dia yang ada di majalah. Dan jangan dengan yang asli karena dia adalah propertiku! Kau dengar itu?" Yeoja malang itu bergegas pergi keluar dari minimarket dengan majalah ditangannya.

Jaejoong menatap suaminya yang tengah tersenyum padanya dan ketika memutar kepalanya, dia melihat mata semua orang menatap padanya. Dengan membungkukkan badannya, dia meminta maaf kepada semua orang dan menarik tangan Yunho untuk keluar dari minimarket. Namun sebelum keluar kembali dia berbalik dan menyengir kepada semua orang.

"Aku hanya mengklaim PROPERTIku!" Jelas Jaejoong.

Semua orang mengangkat tangan mereka dan mengacungkan jempolnya kepada Jaejoong. Setelah itu Jaejoong memegang tangan Yunho lagi dan berjalan cepat, concealer sepenuhnya terlupakan.

Tak seorang pun akan berani mencuri Yunhonya dari dirinya karena dia berubah menjadi evil yang sesungguhnya jika sudah cemburu.

Dan pesan untuk BoA, persiapkan dirimu untuk besok! Kau akan merasakan penyiksaan dari seorang Jung Kim Jaejoong!

.

.

.

tbc

.

.

.

Editor's Note :

Bahasa tidak baku, banyak typo bertebaran, maaf jika ada bahasa yang tidak berkenan.

Woahhh Annyeong..

Update lagi!

Semoga semua bisa enjoy bacanya!

Saya mau cerita dikit.. minggu kemarin habis update chap 10, keesokan harinya kenalan aku yang udah married cerita kalau dia mimpi dijauhin ma suaminya. Dalam mimpi dia bingung sampai nyari tahu apa sebabnya. Dan akhirnya pas bangun dia nangis karena mimpinya. Habis dengar cerita dia rasanya.. mirip banget ma yunjae kemarin ya? so walau hanya sebuah fic banyak author yang berusaha ceritanya menjadi sereal mungkin~~~

Anyway.. thanks alot buat semua yang udah review :

# shipper89 # kimRyan2124 # Rsza # hannik2206 # ruixi1 # Dewi15 # Hiruzent 1 # Chayurieza # whirlwind27 # RistinOK137 Suka YJ NoChangKyu # GOMCHI46 # angel sparkyu # Ohlu Balbal # Jung Sister # Hyemi Han # min # rise01 # dheaniyuu # chacaa # danactebh # cassandraaeris12 # vierashian djoniez # guest137 # birin rin # juliaeka kimjung # mimi2608 # TyaWuryWK # cha yeoja hongki # saphire alwaya for onyx # auntyjeje # RereYunjae Pegaxue # Yunjaeeee # iche cassiopeiajaejoong # JonginDO # wulandari apple # ara choi # Dariel Malfoy # Opi nur58 # My jeje # vichi vhan # Brownieyes # Zheyra Sky # Uchiha Emo10 #All Guests

Yang udah follow dan ngefavoritin jg terima kasih banyak..

All smoochies for every each YJS :*:*:*

YunJae's love is REAL!

YunJaeDdiction