[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

.

CRUSH IN RUSH

서두르다

[ChanBaek GS]

.

Remake story by Santhy Agatha

.

.

제 11 화

.

.

Baekhyun membuka matanya dan mendadak merasa kehilangan orientasi. Dia kebingungan menyadari dirinya berada di atas ranjangnya. Bukanlah semalam... Baekhyun sedang duduk minum teh di sofa, sementara Sehun sedang berlatih serius dan mengurung diri di kamarnya setelah makan malam?

Seingat Baekhyun dia mengantuk dan memutuskan memejamkan matanya sebentar di atas sofa, saat itu benaknya sedang berkecamuk karena Chanyeol tak kunjung pulang juga. Lalu sepertinya dia tertidur...

Kalau begitu kenapa dia bisa berada di atas ranjang ini? Baekhyun terduduk, menatap sekeliling dengan bingung, apakah dia berjalan kembali ke ranjangnya tanpa sadar?

Yah. Itu mungkin saja. Dengan bergegas, Baekhyun langsung menuju kearah kamar mandi. dia harus segera mandi dan menyiapkan sarapan pagi.

.

.

.

Ketika sampai di dapur, Baekhyun mengernyit melihat Chanyeol sudah duduk di sana, lelaki itu sedang menyesap secangkir kopi, kemudian tersenyum datar ke arah Baekhyun.

"Hai, aku sudah bangun duluan darimu." Gumam Chanyeol ramah, ada senyum di sana.

Baekhyun langsung gugup, "0h... Aku akan membuatkan sarapan untukmu."

"Tidak usah." Chanyeol mendorong cangkir kopi yang sudah dihabiskannya, "Aku cukup minum kopi saja, aku akan menjemput Tiffany, kami berjanji akan sarapan bersama sebelum main golf."

Tangan Baekhyun yang membawa dua butir telur membeku. dia menoleh dan menatap Chanyeol bingung.

"Kau akan pergi dengan Tiffany Iagi?"

Chanyeol tertawa. "Tentu saja, kau lupa? Tantangan itu kan seminggu lamanya." Lelaki itu lalu berdiri, meraih jaketnya yang tersampir di kursi. "Aku pergi dulu," gumamnya dan kemudian sambil bersenandung, lelaki itu pergi berjalan keluar.

Sementara itu Baekhyun masih terpaku kebingungan menatap bayangan Chanyeol yang menghilang di ambang dapur.

Chanyeol...bersenandung?

Tiba-tiba Baekhyun merasakan perasaan tidak enak yang mengglayutinya. perasaan yang dia tidak tahu itu apa. Yang pasti rasanya menyesakkan dada dan membuatnya ingin menangis.

.

.

"Chanyeol pergi lagi?" Sehun yang datang ke dapur untuk sarapan menatap Baekhyun yang murung. Meskipun begitu Baekhyun membuatkan Omurice yang sangat enak untuknya.

"Dia pergi pagi-pagi sekali."

Sehun terkekeh, "Seperti tidak sabar menghabiskan hari bersama perempuan itu ya." Lelaki itu lalu tersenyum lembut, "Dan kita seharian di sini, menghabiskan hari yang membosankan... Hmmm..." Dia tampak berpikir. "Mungkin kau bisa ikut aku."

"Kemana?" Baekhyun menatap Sehun dan tampak agak tertarik.

"Aku akan menemui mentorku untuk membicarakan persiapan resital tiga bulan lagi di Austria. setelah itu aku bebas. Kau bisa ikut aku, menunggu sebentar ketika aku berkonsultasi dengan mentorku, lalu kita mungkin bisa pergi ke taman hiburan, atau tempat lainnya yang ingin kau kunjungi."

"Taman hiburan?" mata Baekhyun melebar, begitu tertarik ketika mendengar nama Taman hiburan disebut, dia tahu taman hiburan di Seoul cukup terkenal, tapi yang dia tahu tiketnya cukup mahal, sehingga datang kesana hanyalah impian bagi Baekhyun. "Tapi... Tapi bukankah harga tiketnya mahal?" Baekhyun mengungkapkan kecemasannya, membuat Sehun terbahak.

"Baekhyun, begini-begini aku adalah pemain biola dengan bayaran tinggi, sekali-kali mentraktirmu tidak apa-apa buat kantongku," gumamnya dalam senyuman, Sehun lalu menghabiskan suapan nasi gorengnya, "Ayo siap-siap, kita berangkat sekarang, semakin pagi kita sampai, semakin banyak kesempatan kita untuk mencoba banyak wohana."

Setengah meloncat, Baekhyun pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian, membuat Sehun melihatnya sambil tersenyum. Baekhyun sangat mirip dengan Min Ah adiknya yang begitu lugu dan polos, dengan tubuh mungil dan wajahnya yang penuh binar.

Ternyata Sehun cukup lemah dengan perempuan-perempuan yang setipe adiknya. Lelaki itu mengangkat bahunya, ya sudahlah lagipula dia tidak ada pekerjaan hari ini, bermain ke taman hiburan tentunya menyenangkan, sekaligus bisa menghibur Baekhyun yang tampak begitu murung.

Tiba-tiba Sehun menebak-nebak, apakah Baekhyun begitu murung karena Chanyeol pergi lagi dengan Tiffany hari ini?

.

.

.

Setelah menunggu Sehun kira-kira setengah jam disebuah ruangan elegan, di sebuah sekolah musik elit di kota ini. Sehun pun keluar dan mengatakan Ia bebas untuk hari ini dalam senyum lebarnya.

Mereka lalu berkendara ke bagian utara kota. memasuki kawasan taman hiburan itu.

"Kau mau masuk ke yang mana dulu?" Sehun masih memutar mobilnya di jalanan yang melingkar-lingkar itu, melihat-lihat semua pilihan yang ada.

Baekhyun sendiri tersenyum lebar penuh harap, "Aku mau ke taman hiburan seperti yang di televisi itu." Baekhyun pernah melihat iklan televisi yang menayangkan tempat hiburan ini. Kelihatannya sangat menyenangkan, bahkan Baekhyun sampai berbunga-bunga membayangkannya.

Sehun tersenyum melihat ekspresi Baekhyun.

"Oke kita kesana. tapi hati-hati jangan jauh-jauh dari aku ya. Adikku dulu pernah mengalami penculikan di sana."

"Benarkah?" Baekhyun tampak terkejut.

"Yah... Mungkin kau tidak mengikuti berita, tetapi dulu cukup heboh ditayangkan..." Sehun tersenyum pahit,

"Tapi sudahlah yang penting adikku sekarang selamat dan berbahagia."

Baekhyun melirik sekilas ke wajah Sehun, menemukan ekspresi pahit yang pekat di sana. Kenapa sekilas tadi Sehun tampak begitu sedih?

.

.

.

Malam telah tiba ketika Chanyeol pulang ke rumah. masih jam sembilan malam dan dia mendapati apartemennya gelap. Tidak mungkin kan mereka semua sudah tidur? Chanyeol menyalakan lampu dengan kebingungan.

Dan kemudian dia melangkah ke dekat kamar Baekhyun dan memanggil namanya, tidak ada jawaban, dia membuka pintu kamar Baekhyun yang tidak dikunci dengan hati-hati dan menemukan kamar itu kosong. Hal yang sama juga terjadi di kamar Sehun.

Chanyeol mengernyitkan keningnya, dan tiba-tiba merasa marah. Apakah Sehun mengajak Baekhyun pergi bersamanya? Pergi kemana? Kenapa sampai malam sekali belum pulang?

Chanyeol menekan nomor ponsel Baekhyun, tersambung tapi tidak diangkat-angkat, dia kemudian mencoba menghubungi nomor Sehun yang ternyata tidak aktif.

Dengan gusar dia mondar-mandir di ruang tengah, menunggu setengah marah setengah cemas. Kemana Sehun membawa Baekhyun? Apakah Baekhyun bersama Sehun? Ataukah dia pergi sendirian? Atau jangan-jangan ayah kandungnya merencanakan menculik Baekhyun ketika sendirian di rumah?

Pikiran-pikiran buruk memenuhi benak Chanyeol, membuat kepalanya kalut dan pening. Hampir satu jam lamanya Chanyeol menunggu dengan cemas.

Sampai kemudian ada suara-suara itu di pintu, suara tawa cekikikan. Lalu pintu apartmen terbuka, menampakkan Sehun yang sedang merangkul Baekhyun sambil tertawa, di tangan mereka ada kembang gula yang hampir habis setengahnya.

Dua sejoli itu tertegun ketika melihat Chanyeol berdiri di tengah ruangan, menatap mereka berdua dengan marah.

"Kemana saja kalian?" gumamnya dingin.

Sehun langsung sadar ada kemarahan di sana, dia langsung berdiri agak di depan Baekhyun, seolah melindunginya, dan kemudian tersenyum seolah-olah tidak ada sesuatu pun yang berbeda.

"Oh. Hai Chanyeol, kami kira kau akan pulang larut seperti kemarin." Senyum Sehun tampak tenang, "Aku mengajak Baekhyun ke taman hiburan."

Ekspresi Chanyeol mengeras. Hampir meledak, "Ke taman hiburan? Satu jam lebih aku menunggu kalian di sini cemas akan apa yang terjadi, mencoba menghubungi ponsel kalian yang tidak bisa dihubungi, dan ternyata kalian ke taman hiburan dan bersenang-senang?" Chanyeol melemparkan tatapan marah ke arah Baekhyun. "Dan kau, kuharap kau tidak melupakan posisimu di rumah ini. Kau bukan salah satu dari kami. Tugasmu adalah menunggu rumah dan membersihkannya, mempersiapkan masakan. Karena kau adalah pelayan rumah ini. Mengerti? Apa perlu kuulangi? Kau hanyalah pelayan di rumah ini!"

Mata Baekhyun melebar. tidak menyangka akan dikata-katai seperti itu, kenapa Chanyeol begutu marah? Apakah karena Baekhyun memang melanggar aturan? Seorang pelayan seharusnya memang menunggu rumah bukan? Baekhyun yang bersalah. memang Baekhyun yang bersalah.

Chanyeol mengatakan bahwa dia bukanlah salah satu dari mereka... Ternyata Chanyeol sama saja dengan ayah kandungnya dan Tiffany, memandang Baekhyun sebagai sosok dengan kelas yang lebih rendah dan lebih hina. karena asal usulnya yang tidak jelas...

Mata Baekhyun berkaca-kaca, Tetapi dia berusaha menyembunyikannya.

"Maafkan aku...," gumamnya dengan suara serak.

Sehun yang melihat Baekhyun hampir menangis menggertakkan giginya, menatap Chanyeol dengan marah,

"Baekhyun tidak berhak diperlakukan seperti itu Chanyeol, kau tidak berhak menghinanya."

Pembelaan Sehun terhadap Baekhyun, dan juga posisi Sehun yang menutupi Baekhyun seolah melindungi Baekhyun dari dirinya semakin menyulut kemarahan Chanyeol, dia memandang Sehun dengan dingin.

"Baekhyun itu pelayanku, sudah hakku untuk memarahinya ketika dia melakukan kesalahan. Aku yang membayar gajinya, aku yang memberinya tempat bernaung dan memberinya makan. Jadi aku berhak melakukannya." Mata Chanyeol bersinar sinis, "Dan kalau kau menginginkan pelayanan yang sama dari Baekhyun, seharusnya kau membawanya saja dan memberikan bayaran yang cukup untuknya, mungkin saja kau akan menerima pelayanan ekstra dari tubuhnya." Mata Chanyeol menelusuri tubuh Baekhyun dengan tatapan melecehkan.

Cukup sudah! Baekhyun tak sanggup lagi mendengarkan kata-kata hinaan Chanyeol kepadanya. Setengah mendorong Sehun yang ada di depannya, Baekhyun berlari dengan berlinang air mata, masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.

Sehun menatap Chanyeol dengan marah, matanya menyala.

"Kau keterlaluan Chanyeol, aku tidak tahu apa yang ada di otakmu itu, tapi kau tidak berhak menyakiti Baekhyun seperti itu!"

"Oh ya? Apakah kau ingin memukulku? Apakah kau jangan-jangan menginginkan Baekhyun untukmu sendiri? Ingin memiliki tubuhnya yang menggiurkan itu?" Chanyeol membalas perkataan Sehun dengan tantangan. Dan kemudian yang di dapatkannya adalah sebuah tinju yang keras di mukanya.

Sehun melemparkan tinju itu dengan penuh emosi, napasnya terengah-engah karena marah, suaranya bahkan bergetar menahan kemarahannya. Tinju itu begitu keras sampai kepala Chanyeol mundur ke belakang.

"Dengarkan kata-kataku ini baik-baik. Aku menyayangi Baekhyun karena dia mirip dengan adikku. Tidak pernah ada satupun pikiran kotorku terhadapnya, tidak sepertimu," desisnya marah, "Dan kurasa persahabatan kita berakhir di sini, aku akan pergi dari rumahmu, dan membawa Baekhyun. Kurasa lebih baik kubawa saja dia pulang sebagai calon istriku kepada mamaku, daripada dia disini terus-menerus kau lecehkan. Aku pikir dulu kau tulus menolong Baekhyun, tapi ternyata aku salah. Pikiranmu picik, sama seperti ayah kandungmu!"

Dan kemudian Sehun berlalu, meninggalkan Chanyeol yang masih tertegun dengan rasa panas di wajahnya, bekas pukulan Sehun.

.

.

.

Pagi harinya Chanyeol terbangun dengan kepala pening, sudut bibir yang memar dan rasa bersalah yang luar biasa.

Dia telah melakukan kesalahan yang begitu besar...

Menghina dan melecehkan Baekhyun seperti itu, pantas saja Sehun memukulnya. Masih diingatnya air mata Baekhyun semalam, dan tatapan mata terlukanya. Chanyeol menghela napas panjang, kemarin dia begitu cemas dan bingung dan kemudian dia dihadapkan akan pemandangan Baekhyun dan Sehun yang pulang sambil tertawa-tawa dan berangkulan tangan, tidak mempedulikan bahwa Chanyeol menunggu mereka dengan cemas... Lalu kemarahannya memuncak, dan berakhir dengan menyakiti Baekhyun.

Chanyeol sungguh-sungguh tidak ingin menyakiti Baekhyun seperti itu... Kata-kata kasarnya... Penghinaannya. Dia pasti telah mencabik-cabik perasaan halus Baekhyun. Perempuan itu pasti benar-benar terluka.

Dengan gusar. Chanyeol melangkah keluar dari kamarnya dan berhadapan dengan Sehun yang sudah berpakaian rapi di sana. Mata Sehun menatapnya dingin, masih marah.

"Aku akan pergi dari sini dan membawa Baekhyun." Gumam Sehun tegas. Matanya melirik ke arah kamar Baekhyun yang tertutup rapat. Tidak biasanya Baekhyun belum bangun jam segini. Biasanyo Baekhyun sudah ada di dapur, menyiapkan minuman panas dan sarapan yang beraroma harum. Tetapi Sehun maklum, perlakuan Chanyeol kepadanya semalam tentu sangatlah menyakiti perempuan itu, mungkin perempuan itu menangis semalaman.

Chanyeol meringis dan menggelengkan kepalanya,

"Tidak Sehun, jangan pergi, maafkan aku, dan jangan bawa Baekhyun."

Sehun menatap Chanyeol yang tampak berantakan dengan memar di sudut bibirnya dan mata yang begitu kalut.

"Kau sudah keterlaluan menghinanya Chanyeol, kau lupa dia seorang perempuan polos yang tidak tahu apa-apa." Sehun mendesis, "Dan aku tidak akan membiarkannya di sini menanggung kesalahan yang tidak dia buat, menanggung kemarahanmu yang tidak diketahui sebabnya."

Chanyeol menghela napas panjang. "Aku tahu. Aku tahu Sehun, kemarin aku keterlaluan. Aku memang salah. Aku pulang dan menemukan kalian tidak ado, ponsel kalian sama-sama tidak bisa dihubungi, dalam kecemasanku aku malah berpikir jangan-jangan ayah kandungku menculik Baekhyun."

Chanyeol menatap Sehun dan meminta maaf. "Aku memang pantas mendapatkan pukulan itu, maafkan aku."

Sehun termenung menatap Chanyeol dengan skeptis. Tetapi bagaimanapun juga. dia menemukan kesungguhan di mata Chanyeol. lelaki itu sekaligus tampak tersiksa.

Akhirnya Sehun menghela napas panjang.

"Semuanya terserah Baekhyun, minta maaflah kepadanya. Kalau dia tidak mau menerima maafmu, aku akan membawanya menjauh darimu."

Chanyeol menganggukkan kepalanya, dan kemudian mengetuk pintu kamar Baekhyun.

"Baekhyun? Kau sudah bangun?"

Tidak ada jawaban. Kemungkinan Baekhyun masih tertidur dengan lelapnya.

Chanyeol mengetuk lagi, "Baekhyun, kalau kau sudah bangun, keluarlah. Aku ingin meminta maaf kepadamu. Kata-kataku padamu semalam memang keterlaluan. Aku cemas dan menumpahkan kemarahanku kepadamu, kau tidak pantas menerimanya, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi... Baekhyun?"

Sama sekali tidak ada jawaban. Chanyeol melemparkan tatapan curiga ke arah Sehun. Ekspresi keduanya sama-sama harap-harap cemas.

Dengan hati-hati, Chanyeol membuka handle pintu kamar Baekhyun, dan mendapati ranjang kosong dan rapi seperti tidak pernah ditiduri.

Dengan tergesa Chanyeol melangkah masuk diikuti Sehun ke kamar mandi yang ternyata juga kosong. Lemari-lemari masih penuh dengan pakaian, rak sepatu kaca masih tertata rapi. Baekhyun tidak membawa apapun pergi dari sana selain pakaian yang dibawanya masuk ke kamar ini.

Baekhyun tidak ada di mana-mana.

Chanyeol melemparkan tatapan cemasnya ke arah Sehun.

.

.

.

[TBC]

.

.

.

Author's Note :

Omaigatt demi apa... Chanyeol lu hampir bikin gue mewek karena kata-kata lu ㅠ0ㅠ Sakit banget njirr..

Buat reader-nim jangan lupita review yee, cuss eykeu tunggu :) *ketjup*

-ByunYeol-