Mingyu terus menarik lengan Wonwoo hingga keduanya sampai di kantin Fakultas Geologi yang berada di samping fakultas mereka.
Suasana kantin sepi karena hari Sabtu tidak ada kegiatan perkuliahan.
Wonwoo dan Mingyu masih berusaha menormalkan napas mereka yang terengah-engah karena kelelahan berlari.
"Lo ngapain sih!?" tanya Wonwoo sebal.
Mingyu duduk dengan posisi berhadapan dengan Wonwoo.
"Mau cari udara segar. Gue kan tadi udah bilang," jelas Mingyu sambil memajukan badannya ke arah Wonwoo.
"Stop! Lo mau ngapain?" tanya Wonwoo panik saat tubuh Mingyu semakin mendekat.
"Rambut lo berantakan, Wonwoo."
Mingyu merapikan rambut Wonwoo yang berantakan akibat berlari tadi.
Wonwoo hanya terdiam menerima perlakuan Mingyu.
Mingyu hanya tersenyum kecil melihat pipi Wonwoo yang memerah.
"Mingyu, ini bukan cari udara segar. Ini kabur namanya," protes Wonwoo.
"Abisnya gue ngantuk. Duduk di ruangan berjam-jam," kata Mingyu mengeluh.
"Harusnya lo gak usah dateng aja, dari pada siang bolong gini lo kabur."
Mingyu terkekeh kecil mendengar perkataan Wonwoo.
"Sekali doang gak apa-apa kan?"
"Lo bisa kena masalah," jawab Wonwoo.
Mingyu pura-pura tak mendengar apa yang dikatakan Wonwoo.
Mingyu memposisikan dirinya duduk nyaman dengan kepala bertumpu pada tangannya, lalu memejamkan matanya.
Drrrttt...
Wonwoo merasakan HPnya bergetar lalu mengambil HP di saku celananya.
You have a message.
Semoga gak terjadi apa-apa.
12:35 Jun : Lo dicariin Woozi, lo dimana?
Seketika tubuh Wonwoo terasa lemas ketika membaca nama Woozi.
Tangan Wonwoo bahkan sedikit gemetar saat memegang HP.
12:36 Wonwoo : Ada apa Jun?
Tidak sampai satu menit, Jun sudah membalas pesan Wonwoo.
Padahal Jun tipe orang yang lama dalam membalas pesan.
Sepertinya ini masalah serius.
12:36 Jun : Gue gk tau. Pokonya lo cepet ke sini brg maba itu. Itu kata Woozi.
Wonwoo bertambah panik karena Woozi tahu dia sedang bersama Mingyu.
Wonwoo memasukkan HP ke dalam sakunya lalu membangunkan Mingyu yang sedang tertidur.
"Woy! Bangun! Bangun!" kata Wonwoo sambil menepuk-nepuk punggung Mingyu.
"Hmmm," gumam Mingyu yang baru saja membuka matanya.
Wonwoo terlihat panik, wajahnya pucat, tangannya gemetar dan sorot matanya tidak fokus.
"Lo kenapa? Ada apa?" tanya Mingyu khawatir saat menyadari ekspresi Wonwoo yang tidak seperti biasanya.
"Kita sekarang harus balik. Ini penting."
Kali ini Wonwoo yang menarik tangan Mingyu untuk segera beranjak dari tempat duduknya.
"Ada apa sih!?" tanya Mingyu yang berjalan tertatih karena kesadarannya yang belum sepenuhnya terkumpul.
Wonwoo tidak menjawab.
Wonwoo melepaskan tarikannya pada lengan Mingyu lalu setengah berlari menuju gedung serba guna.
Mingyu yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti Wonwoo di belakang.
"Kita balik ke ruangan serba guna?"
Mingyu menyadari mereka semakin dekat ke gedung serba guna.
Mingyu terlihat panik saat menyadari ada Woozi dan beberapa anggota Komdis sedang berdiri di samping lapangan parkir.
"Wonwoo!" panggil salah seorang yang Mingyu yakin itu suara melengking milik Woozi.
Seketika Mingyu reflek bersembunyi di balik barisan motor-motor yang terparkir.
Wonwoo berhenti berlari menyadari namanya dipanggil.
Betapa terkejutnya Wonwoo saat tahu bahwa Woozi yang memanggilnya.
Dengan langkah gemetar Wonwoo menghampiri Woozi dan beberapa anggota Komdis yang sudah berdiri dengan tangan yang menyilang di depan dada.
Wonwoo terlihat bingung saat dia sadar bahwa Mingyu tidak ada di belakangnya.
"Lo darimana?" tanya Woozi dengan intonasi yang membuat Wonwoo merinding.
Wonwoo menelan ludahnya sendiri melihat raut wajah para Komdis yang tidak bersahabat.
Mampus gue! Pikir Wonwoo.
"Mmmmm..."
Wonwoo tak tahu apa yang harus dia jelaskan pada Woozi.
"Lo bisa ngomong kan!?" tanya Woozi lagi dengan intonasi yang semakin tinggi.
Mingyu yang berada agak jauh bisa mendengar pembicaraan Woozi dan Wonwoo karena volume suara Woozi yang keras.
Gue harus gimana? Batin Mingyu.
"Lo gak bisa jawab!?"
Woozi semakin emosi karena Wonwoo hanya diam dan menunduk.
"Dia abis nemenin maba kabur. Tuh gue bantuin jawab," ucap salah seorang Komdis yang tadi siang melihat Wonwoo dan Mingyu kabur.
"Iya bener!?" sentakan Woozi membuat Wonwoo semakin takut.
"Lo di sini sebagai apa Wonwoo?" tanya Woozi kali ini dengan agak tenang.
Wonwoo memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah Woozi.
"Gue koordinator Dokumentasi," jawab Wonwoo pelan.
"Apa? Koordinator Dokumentasi?" tanya Woozi mengulang kalimat Wonwoo.
Wonwoo mengangguk.
"Lo panitia inti kan? HARUSNYA LO SALAH SATU YANG PALING NGERTI ESENSI DAN TUJUAN OSPEK INI! BUKANNYA MALAH BANTUIN MABA KABUR! HARUS LO YANG BIMBING MEREKA!"
Woozi menyentak Wonwoo dengan suara keras.
Wonwoo kembali tertunduk, menyalahkan dirinya sendiri yang bukannya melarang Mingyu tetapi malah menemaninya.
"Iy..a. Gu..e.. ..u," jawab Wonwoo terbata-bata.
"Lo tau kesalahan lo kan?"
Woozi kali ini menurunkan volume suaranya berusaha mengendalikan emosinya.
Mingyu mengangguk mantap.
"Ambil posisi!" perintah Woozi dan Wonwoo pun langsung menurunkan tubuhnya ke paving blok mengambil posisi push-up.
Komdis bukan hanya sebuah bidang yang bertugas mendisiplinkan peserta ospek, tetapi juga panitia ospek supaya acara berjalan lancar dan dapat mencapai tujuan.
Mingyu yang memperhatikan apa yang terjadi merasa bingung dan panik.
Gue harus ngapain? Ini kan salah gue, bukan Wonwoo.
Mingyu bingung apakah harus diam di tempatnya sekarang, bersembunyi dan membiarkan Wonwoo yang menanggung kesalahannya, atau dia perlu ke sana menjelaskan pada Woozi bahwa semua murni kesalahannya dan Wonwoo tidak tahu apa-apa.
"Lo tau jumlah mahasiswa baru tahun ini berapa?" tanya Woozi saat Wonwoo sudah dalam posisi hukuman.
"237 orang," jawab Wonwoo.
"Push-up sebanyak mahasiswa baru, sekarang!" perintah Woozi.
"SATU!" teriak salah seorang anggota Komdis dan Wonwoo langsung menurunkan setengah badannya untuk melakukan gerakan push-up.
"DUA!"
Apa!? 237 kali push-up di siang bolong gini? Ini udah keterlaluan!
Mingyu merasa tak terima mendengar Woozi memerintah Wonwoo dengan hukuman yang menurutnya tidak manusiawi.
Mingyu langsung beranjak keluar dari tempatnya bersembunyi.
"Tunggu!"
Wonwoo menghentikan gerakannya.
"Gak ada yang nyuruh lo berhenti! Lanjut!" perintah Woozi lagi.
"Mau lo apa? Lo harusnya ada di gedung serba guna," ujar Woozi dengan tajamnya.
"Berhentiin hukuman itu. Yang salah gue, gue yang kabur, bukan Wonwoo," bela Mingyu yang tak bisa tahan melihat Wonwoo yang harus menanggung kesalahannya.
"Wonwoo lo berhenti!" ujar Mingyu seraya menarik tubuh Wonwoo untuk berdiri.
Woozi menepis tangan Mingyu.
"Biarin dia lakuin hukuman itu. Itu memang pantas buat dia," sahut Woozi.
"Tapi gue yang ngajak dia kabur, ini salah gue!" ujar Mingyu emosi.
"Wonwoo, lo berhenti sekarang!"
Ucapan Mingyu tak membuat Wonwoo berhenti, meski Wonwoo sudah mulai merasa lelah padahal hitungan masih kurang dari tiga puluh. Artinya Wonwoo masih harus melakukan 200 kali lagi push-up.
"Lo apa-apan sih seenaknya ngasih hukuman! Lo gak liat dia udah mulai cape!? Yang salah tuh gue, bukan dia!"
Mingyu tak mengerti kenapa bukan dia yang dihukum padahal dia sudah mengakui hal yang sebenarnya terjadi.
"Gue aja yang jalanin hukuman!" Mingyu masih berusaha agak Wonwoo berhenti.
"Ini salah dia sebagai senior karena gak bisa ngasih contoh yang baik dan ngebimbing juniornya," jelas salah seorang Komdis.
"Tapi gue yang salah, gue aja yang dihukum," pinta Mingyu pada Woozi.
"Tadi udah dijelasikan kan kenapa Wonwoo dihukum? Lo seharusnya mikir dulu sebelum melakukan sesuatu, apakah tingkah lo itu bisa ngerugiin orang lain atau engga," jelas Woozi seraya menatap Mingyu.
"Supaya lo jera dengan kelakuan lo, lo yang gantiin buat ngehitung hukuman Wonwoo!" tambah Woozi dengan nada perintah yang tak bisa dibantah.
"Apa!?"
"Lo gantiin buat ngitungin, bisa berhitung kan?"
"Gak!" tolak Mingyu.
Gila aja! Masa gueyang ngehitung hukuman yang dilakuin Wonwoo padahal hukuman itu seharusnya buat gue.
"Kalo lo gak mau ngitung, hukuman Wonwoo gue buat dua kali lipat," kata Woozi.
"Apa? Tapi—"
"Udah itungan keberapa?" tanya Woozi pada Wonwoo.
"En..aam..p..u..llu..hh," jawab Wonwoo terengah-engah.
"Itung sekarang, atau gue yang ngitungin sampai itungan 548?"
Mingyu hanya terdiam. Tidak mungkin dia dengan teganya menghitung hukuman Wonwoo.
"CEPAT!" perintah Woozi dengan suara nyaring.
"Enam satu," Mingyu mulai menghitung meski pelan.
Wonwoo maafin gue! Teriak Mingyu dalam hati.
"Yang keras suaranya! Lo kan cowok!" teriak salah seorang Komdis.
Wonwoo terus melakukan push-up mengikuti hitungan dari mulut Mingyu.
"Enam dua!" kini suara Mingyu lebih keras.
Tidak ada pilihan lain selain ini.
Melihat Wonwoo seperti ini saja, Mingyu sudah sangat merasa bersalah.
Mingyu tak ingin membuat Wonwoo push -up dua kali lipat hanya karena dia tidak mengikuti perintah Woozi.
Untuk Wonwoo yang jarang sekali berolahraga, tentu saja hukuman ini sangat sulit.
Ditambah lagi dia harus melakukannya di bawah sinar matahari yang terik.
"Dua ratus tiga puluh tujuh!"
Hitungan terakhir, Wonwoo langsung menghempaskan badannya kepaving block.
Badan Wonwoo seperti baru selesai mandi, tubuhnya basah oleh keringat.
Tangannya seperti mati rasa, kedua tangannya gemetar bahkan terlalu lemah untuk menumpu badannya.
"Wonwoo, maaaf," sahut Mingyu menghampiri Wonwoo dan membantunya bangun.
"Anjing lo!" umpat Wonwoo kasar seraya menepis tangan Mingyu.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca^^
Aku tunggu fav, follow dan review kalian^^v
