Kuroshitsuji © Yana Toboso

OC and Story Line in this fic © Me


Stay Close Happiness

"KUHABISI NYAWAMU!" teriak Leo dan Hera ketika mereka berhasil menyudutkan musuh mereka.

Iblis Tak Bernama sudah hampir pasrah dan menutup matanya seiring tubuhnya ditarik oleh gravitasi menuju keras dan dinginnya tanah dibawahnya. Sudah hampir pasrah ketika ia bisa merasakan kedekatan pedang Leo di jantungnya yang berdetak dengan cepat.

'Sial sial sial sial sial sial sial sial sial sial!' rapal Iblis Tak Bernama merasakan rohya akan segera lepas dari raganya bila ia benar memiliki roh.

Undertaker melihat Iblis Tak Berama jatuh bahkan dikejar oleh pedang di tangan Leo mulai berpikir cepat. Sang shinigami lagendaris itu menebas seluruh anjing jejadian milik Hera hanya dalam sekali tebasan sabit lalu melempar sabitnya ke arah Leo. Leo yang menyadari kedatangan sabit yang menukik lurus kearahnya berusaha melindungi dirinya sendiri menggunakan pedang miliknya hingga mementalkan sabit Undertaker ke udara.

Iblis Tak Bernama mendarat di tanah dengan cukup keras hingga membuatnya butuh waktu beberapa lama untuk bangun. Iblis kecil itu membuka matanya ketika ia tidak merasakan hawa keberadaan death scythe milik Leo di jantungnya, tapi matanya menatap sebuah sabit yang berputar di udara dan tepat akan jatuh mengenainya. Refleks, Iblis Tak Bernama berguling menjauh dari sabit tersebut yang berhasil menancap di tanah, tempat tubuhnya berdiam sebentar, lebih tepatnya bagian kepala Iblis Tak Bernama.

'Untung saja aku bergerak cepat,' batin Iblis Tak Bernama bersyukur ia masih bisa hidup tapi, rasa shock-nya tidak bisa dipertahankan begitu saja ketika Leo yang juga sudah mendarat di tanah, meluncur untuk menyerangnya.

"Gunakan sabit itu untuk menangkis death scythe-nya!" teriak Undertaker dari atas atap ketika ia masih diserang oleh Hera. Iblis Tak Bernama dengan singgap menggambil sabit milik Undertaker lalu menangkis serangan demi serangan yang diberikan oleh Leo. Aduan besi yang bising bisa terdengar di seluruh jalan pertokoan tersebut.

Di sisi Undertaker yang sudah tidak bersenjata, kini memilih untuk mundur. Setelah berhasil menghindari pisau yang dihunuskan oleh Hera dan menendang iblis betina itu, Undertaker melompat dari atas atap dan mendarat tepat disamping Iblis Tak Bernama lalu mengambil sabitnya secara paksa dan menebas Leo. Tebasan sabit Undertaker berhasil dihindari oleh Leo walau merobek kerah pakaiannya.

"Waah waah~ Kalau begini, terpaksa kita mundur dulu. Sampai bertemu lagi," ucap Undertaker.

"Ap-!? Tunggu!" perkataan Iblis Tak Bernama terpotong ketika tubuhnya sudah diseret menjauh oleh Undertaker. Hera yang cukup tersulut amarah ingin mengejar keduanya tapi, terhenti oleh Leo yang menendang punggungnya hingga ia jatuh tersungkur di atas tanah.

"Kau!" teriak Hera murka.

"Jangan terbawa emosi dulu, iblis betina. Kita biarkan mereka pergi," kata Leo melihat pakaiannya yang robek oleh karena sabit Undertaker. "Kita juga harus menyiapkan rencana lain dan memulihkan tenaga," lanjut Leo berjalan ke arah sebaliknya. Hera terdiam masih menatap tanah sebelum akhirnya melepaskan Undertaker dan Iblis Tak Bernama hanya untuk kali itu saja.

Undertaker and Iblis Tak Bernama berlari cukup jauh dari musuh mereka, ketika Undertaker sudah merasa aman, ia berhenti di sebuah gang sempit antar gedung tinggi bersama dengan Iblis Tak Bernama yang masih kaget dengan kejadian tadi.

"Untuk sementara kita aman. Fuuuh~ ternyata menjadi babysister susah juga ya~" kata Undertaker melihat Iblis Tak Bernama yang jatuh berlutut di dekatnya. Kemudian gemuruh guntur dapat terdengar menggelegar disusul hujan deras yang membasahi bumi. "Oh~ aku jadi teringat sesuatu," ucap Undertaker duduk di tanah. Iblis Tak Bernama yang mendengarnya menengadah menatap Undertaker dan ikut duduk di sampingnya. Sekian detik ia menunggu Undertaker untuk melanjutkan perkataannya tapi tidak ada yang terjadi.

"Apa?" tanya Iblis Tak Bernama akhirnya. Nada suaranya tidak terdengar kesal atau marah seperti sebelumnya. Mungkin karena ia lelah akan luapan emosinya atau mungkin ia tidak ingin terdengar menjengkelkan lagi.

"Lunam... dan Sera," ucap Undertaker mengejutkan Iblis Tak Bernama. "Tidak, itu bukan namamu."

"Tentu saja bukan. Aku bahkan tidak tahu siapa namaku," jawabnya memeluk lututnya sendiri. Pakaian dan rambutnya mulai basah kuyup tapi ia tidak merasakan dingin. Ketenangan kembali menyelimuti mereka meskipun suara hujan tak dapat dihindarkan.

"Kurasa aku mengerti sekarang apa yang dikatakan oleh Alberth."

"Alberth?" Undertaker kembali tidak menjawab melainkan mengeluarkan buku cinematic record milik Iblis Tak Bernama lalu berdiri. Iblis Tak Bernama mengikuti gerakan Undertaker dan memperhatikan bagaimana Undertaker menebaskan sabitnya hingga mencabik-cabik buku itu sampai hancur dengan sorot mata tak percaya. "A-apa yang kau lakukan? Itu cinematic record milikku!"

"Kau tak membutuhkan ini lagi," jawab Undertaker kemudian ia berlutut di depan Iblis Tak Bernama sehingga pandangan mereka setara. Manik hijau menatap dalam ke manik merah seakan ingin membaca semuanya. Perlahan, tangan Undertaker mengusap pipi Iblis Tak Bernama yang kebingungan tapi, sang shinigami terseyum lalu berkata, "Aku tak percaya, ia sudah menyeretku ke dalam masalah ini sejak awal kali aku bertemu dengannya." Iblis Tak Bernama semakin bingung menatap Undertaker.

"Lebih dari setengah abad yang lalu, aku bertemu dengan seorang iblis. Ia mengatakan bahwa namanya adalah Alberth," cerita Undertaker masih menatap dalam mata Iblis Tak Bernama. "Tipikal iblis yang penuh dengan tipu muslihat. Aku masih ingat bahwa ia memiliki rambut putih dan mata merah serta tatapan mengejek yang selalu berada di wajahnya itu. Aku sangat tidak suka padanya. Sayangnya, aku harus menyelidiki seorang manusia yang catatan cinematic recordnya dicuri. Aku sudah tidak ingat namanya tapi ia adalah seorang wanita dari kalangan kelas menengah bawah."

"Alberth itu, apa dia mengikat kontrak dengan manusia yang kau bilang?" tanya Iblis Tak Bernama.

"Tidak."

"Apa?"

"Alberth juga adalah dalang pencurian cinematic record tersebut. Kami cukup banyak berbincang di saat pertarungan. Ia gesit bahkan sempat-sempatnya memberi ejekan kepada seluruh shinigami. Jujur saja, lawakannya sama sekali tidak lucu tapi aku cukup menikmatinya~ Jadi aku putuskan untuk melihat kelanjutan cerita ini tanpa menyadari bahwa aku ikut terseret di dalamnya sama seperti sekarang.

Aku baru menyadari, Alberth yang mati-matian menghapus jejak riwayat wanita tersebut karena ia telah jatuh cinta padanya. Ia tak bisa membiarkan shinigami maupun iblis tahu akan hal tersebut. Sebagai seorang iblis, jatuh cinta pada mortal adalah hal tabu. Ia juga tak ingin kekasihnya mati tapi wanita itu tidak bersedia mengikat kontrak dengannya. Meskipun berhasil mendapatkan cinematic record milik wanita itu, ia tidak menghancurkan buku itu dan menyimpannya.

Setahun kemudian, wanita itu melahirkan seorang anak perempuan."

Iblis Tak Bernama terdiam menahan napas mendengarnya.

"Anak dari iblis dan manusia. Setengah iblis dan setengah manusia."

Bunyi guntur melanda tempat tersebut membuat suasana semakin tidak mengenakan terutama untuk Iblis Tak Bernama. Matanya terbelak terkejut mendengar perkataan Undertaker. Ia mulai berharap bahwa itu adalah lelucon tapi tatapan mata dan ekspresi serius Undertaker menandakan hal sebaliknya.

"Sayangnya, beberapa shinigami datang menyerbu tempat tinggal keduanya. Sang wanita itu mati dan Alberth lari membawa anaknya. Bodohnya, ia lari menemuiku. Memohon padaku untuk menyelamatkan anaknya. Seorang anak yang terkutuk karena darah yang ia miliki.

Hari itu hujan lebat sama seperti sekarang ini. Di gang lorong sempit tempat ia menyembunyikan dirinya diantara bayangan gedung. Meskipun sulitnya keadaan, anak dalam pelukannya tidak menangis.

Aku masih ingat bahwa ia mengatakan lawakan terakhirnya di depanku dan aku dibuatnya tertawa terbahak-bahak. Itu adalah masa dalam sekian lamanya aku tidak tertawa seperti itu. Lalu ia berkata, 'Aku memberimu lawakan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Sebagai gantinya, selamatkan anakku dan jaga dia bila sesuatu yang buruk terjadi padanya.' Aku sama sekali tidak mau dibuat repot tapi aku akui bahwa lawakannya sangat memuaskan.

Ia kemudian terseyum kearahku lalu mengucapkan keinginannya yang lain.

'Sayangku sudah tiada. Maka selayaknya akupun pergi,' katanya kepadaku. Aku mengerti akan maksudnya itu. Ia memegang buku cinematic record kekasihnya dan menyerahkan anaknya kepadaku sebelum aku mengabulkan keinginannya dan membunuhnya serta menghancurkan cinematic record milik kekasihnya.

Aku melarikan diri dari sana agar tak ada satu shinigami-pun yang mengikuti kami ke sebuah desa terpencil di pelosok London. Kuletakan bayi itu di depan rumah seseorang yang kupikir dapat merawatnya. Aku merasa tugasku sudah selesai tapi, hal tersebut salah."

Iblis Tak Bernama terdiam dengan perasaan campur aduk dibuatnya. Ia mengalihkan pandangannya menjauhi mata Undertaker dengan ekspresi sedih tapi Undertaker terus menatapnya kali ini tatapannya terasa lembut dan menyentuh.

"Kau mirip dengan ayahmu~" ucap Undertaker membuat Iblis Tak Bernama menatap kembali mata Undertaker. "Aku tak menyadarinya saat pertama kali melihatmu, tapi, saat bertarung denganmu untuk pertama kalinya, kau mengingatkanku pada Alberth. Aku akan mengeluarkanmu dari situasi ini. Si iblis sialan itu sudah membuatku berjanji atas lawakannya~ Yaaah~ beginilah cerita menarik yang seharusnya terjadi." Undertaker bangun dari posisi berlututnya lalu berjalan keluar dari gang tersebut.

"Bagaimana caranya?" tanya Iblis Tak Bernama menatap punggung Undertaker tanpa beranjak dari tempatnya. Undertaker berbalik dan terseyum.

XXXX

Sudah 3 hari lamanya Leo dan Hera terus mencari keberadaan Undertaker dan Iblis Tak Bernama namun hasilnya nihil. Hujan telah menghapus bau mereka sehingga anjing-anjing Hera tidak dapat menemukan target mereka. Hera sudah tidak memiliki kesabaran lagi dan ingin langsung menerjang dan membunuh siapapun. Dan Leo harus bersabar atas kemarahan atasannya dan menangani emosi Hera yang semakin menjadi-jadi.

"TAK BISA'KAH KAU TENANG!?" teriak Leo kepada Hera pada suatu malam. Keduanya sedang berdiri di atas atap sebuah bangunan tinggi di jalanan yang ramai akan manusia. Hera sedari tadi terus menggerutu dan menggumamkan untuk membunuh Undertaker yang mendidihkan kepala Leo.

"DIAAAM! KAU YANG MELEPASKAN MEREKA SEJAK AWAL!" balas Hera. Leo berdecih sebelum kembali mengamati jalanan ramai Kota London. Tak lama kemudian, anjing-anjing milik Hera kembali. Hera menyambut mereka lalu terseyum lebar dan mengerikan. "Hey, Tuan Shinigami. Aku menemukan mereka…!" kata Hera puas.

Keduanya segera mengikuti anjing-anjing milik Hera ke sebuah pelabuhan di bagian timur London. Suasana pelabuhan itu remang-remang dengan cahaya lampu yang seadanya. Ada beberapa penjaga yang melakukan tugas malamnya dan ada beberapa yang sedang berjudi. Suasana yang tidak terlalu sepi maupun terlalu ramai.

Keduanya berhenti di sebuah bangunan tua dan cukup besar yang terbuat dari kayu yang sepertinya sudah termakan usia di sudut pelabuhan. Ketika pintu dibuka, isinya penuh degan kotak-kotak kayu yang disusun tinggi membentuk seperti di bagian sisi kiri dan kanan ruangan serta beberapa barang yang ditutup dengan kain menyisahkan hanya sedikit ruang untuk jalan.

Leo dan Hera masuk ke dalamnya dengan hati-hati, beberapa anjing jejadian mengelilingi gedung untuk mencari mangsa mereka. Lalu seekor anjing menyalak dengan kerasnya. Hera yang berpikir sudah menemukan mangsanya, segera berlari masuk lebih dalam.

"Kudapatkan kau!" teriak Hera.

"Tunggu!" teriak Leo berusaha mengejar Hera yang menghilang di balik tikungan tumpukan-tumpukan kotak yang tersusun. Disaat itulah, Iblis Tak Bernama melompat dari lantai 2 dan menerjang Leo sebelum Leo berhasil menarik death scythe-nya hingga dirinya jatuh telentang di atas lantai kayu dengan Iblis Tak Bernama menahan kedua tangan dan tubuhnya.

"Iblis sialan…!" maki Leo berusaha lepas dari genggaman Iblis Tak Bernama. Dan sang iblis yang menangkapnya terseyum puas karena kini kondisi tubuhnya sudah kembali seperti semula, bukan tubuh anak-anak lagi melainkan sosok seroang gadis muda yang masih belia. Leo berpikir keras untuk melepaskan dirinya hingga akhirnya ia bisa menedang Iblis Tak Bernama menjauh darinya. Leo bangun dan mempersiapkan pedangnya. "Heh! Sosok apa itu!" ejek Leo.

"Kenapa? Kau terpesona?" balas Iblis Tak Bernama mempermainkan Leo. Ia melihat bagian perutnya yang ditendang tadi oleh Leo yang kini bercap sepatu. "Baju baruku jadi kotor…" gumam Iblis Tak Bernama mengusap bekas tersebut. Ia kemudian melihat Leo yang sudah berada di dekatnya dan menebaskan pedangnya berkali-kali.

Di sisi lain, Undertaker sedang menghabisi seluruh anjing jejadian milik Hera di sebuah tempat yang penuh dengan deretan gudang penyimpanan setelah berhasil menghalau iblis betina itu menjauh dari gudang kayu tempat Leo dan Iblis Tak Bernama bertarung. Ayunan sabitnya di gerakan dengan sangat akurat hingga menyisahkan sedikit dari kawanan anjing-anjing tersebut.

"Kurang ajar kau!" kata Hera kini maju menggunakan pisau kecilnya, tapi pisau itu patah terkena sabit milik Undertaker yang terseyum penuh kemenangan.

"Kau nampak kelelahan~" kata Undertaker dengan nada menyebalkannya membuat emosi Hera meledak seketika. "Sebegitu inginnya kau membunuhku untuk membalaskan kematian Alberth~?"

"Jangan kau berani sebut namanya dengan mulut kotormu itu!" teriak Hera.

"Memangnya kau berhubungan apa dengan Alberth~?" tanya Undertaker lagi.

"Alberth adalah segalanya untukku! Sekarang tutup mulutmu untuk selamanya!" teriak Hera mengarahkan anjing-anjing yang tersisa untuk menyerang Undertaker tapi dengan mudahnya ditebas hingga semuanya menghilang.

"Kau tahu kalau Alberth mencintai orang lain?" kata Undertaker.

"TENTU SAJA AKU TAHU! WANITA RENDAHAN ITU! BERHASIL MEREBUT ALBERTH DARIKU!" jawab Hera penuh emosi. "Sudah bagus wanita dan anaknya itu mati! Tapi tak kusangka Alberth juga mati! Dan kau yang membunuhnya!" kata Hera kencang ke arah Undertaker. Si Shinigami lagendaris tersebut hanya menunjukan senyuman penuh dengan ejekan mendengar perkataan Hera.

"Wah~ Wah~ ini sungguh memuakkan hingga aku ingin tertawa~!"

"Apa…!"

"Dan ini menjadi cukup membosankan karena aku sudah tahu akan apa yang terjadi selanjutnya... Kau akan menemui ajal yang sama dengan Alberth dengan mati di tanganku…!" ucap Undertaker.

"JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU!" murka Hera. Matanya merah menyala. Seluruh tempat itu bagaikan ditelan oleh bayangan hitam saat Hera menunjukan sosok iblisnya yang sesungguhnya. Ia diselubungi oleh aura hitam dan merah lalu lari menerjang Undertaker yang sudah siap menerima serangan apapun.

XXXX

Iblis Tak Bernama berhasil menghindari serangan Leo dengan baik dan berlari memanjat tumpukan kotak tersebut dengan sekali pijakan diikuti Leo yang seperti kesetanan dan tidak peduli bila ia telah merusak kotak-kotak tersebut ketika ayunan pedangnya berhasil dihindari oleh Iblis Tak Bernama.

'Sudah kuduga ini ide buruk,' batin Iblis Tak Bernama mengingat perkataan Undertaker kepadanya.

Sehari sebelumnya…

Undertaker dan Iblis Tak Bernama duduk di dalam sebuah gudang penyimpanan di pelabuhan tersebut. Seluruh kekuatan Iblis Tak Bernama sudah pulih sepenuhnya. Ia bahkan sudah mengambil sosoknya sebagai gadis mudanya yang dulu. Seluruh pakaiannya berwarna hitam dengan gaya gothic yang kental dan sepatu boot hitam pula. Persis dengan penampilannya ketika pertama kali ia bertemu dengan Nicholas.

"Kita akan menggiring mereka ke gedung terpencil di sudut pelabuhan ini, di sana kau harus menghadapi Leo sendirian. Aku sendiri yang akan menghalau iblis betina itu dan membunuhnya," kata Undertaker yang duduk bersebrangan dengan Iblis Tak Bernama. "Apa kau tahu bahwa ada sebuah benda yang tidak dapat dipotong oleh death scythe? Jawabannya adalah death scythe itu sendiri."

"Kau akan memberikanku senjata untuk melawan dia?" tanya Iblis Tak Bernama.

"Mana mungkin~" jawab Undertaker membuat Iblis Tak Bernama ingin memukulnya. "Tapi, ada satu lagi death scythe yang bisa kau dapatkan."

"Haah!?"

"Satu hal lagi yang perlu kau ingat… Kau tak boleh membunuhnya! Kalau kau membunuhnya, kau akan dapat masalah yang lebih parah lagi."

'Merebut senjatanya dan tidak membunuhnya!? Memangnya dia pikir segampang itu!' batin Iblis Tak Bernama cukup kesal tapi ia tida bisa berhenti konsentrasi bila ia tidak ingin menjadi yang terbunuh di sana.

"Kau ini… mudah untukmu mengatakannya tapi itu tidak mungkin…" Undertaker menunjuk luka melintang di wajah dan lehernya setelah mendengar pernyataan dari Iblis Tak Bernama.

"Siapa yang membuat luka seperti ini kalau bukan kau? Leo lebih lemah dariku kau pasti bisa melakukannya."

"Aku kan memiliki senjata waktu itu. Dan Nicholas membantuku. Kau pikir aku bisa menang satu lawan satu denganmu?" Tapi Undertaker tidak menjawab melainkan terseyum.

"Kuserahkan semuanya kepadamu."

Iblis Tak Bernama menatap tajam ke arah pedang milik Leo yang berayun indah di udara. 'Pertama rebut pedangnya dulu!' batin Iblis Tak Bernama mengamati sekelilingnya lalu ia mengambil kotak besar yang ada di belakangnya dan melemparkan ke arah Leo.

Otomatis, Leo menghancurkan kotak tersebut hingga menjadi potongan-potongan. Iblis Tak bernama segera berlari ke arah Leo lalu menendang kepalanya dari samping hingga Leo jatuh dari ketinggian tumpukan kotak-kotak tersebut.

Iblis Tak Bernama kembali melempar beberapa kotak ke arah Leo yang masih sempat-sempatnya berdiri dan menghancurkan kotak itu. Leo kembali melompat ke arah Iblis Tak Bernama yang melemparkan sebuah kotak lagi. Leo menebasnya sekali lagi dan menghunuskan pedang tersebut.

Refleks, Iblis Tak Bernama menggeser tubuhnya tepat saat Leo juga berpijak di kotak yang sama dengannya. Sebelum Leo bisa menebasnya lagi, Iblis Tak Bernama memegang pergelangan tangannya dengan kencang.

'Kalau tangannya patah, tidak masalah 'kan?' batin Iblis Tak Bernama lalu memelintir tangan Leo dengan kencang hingga Leo menjatuhkan pedangnya di kaki Iblis Tak Bernama. Ia kemudian menlutut perut Leo dengan kencang dan kembali melemparnya hingga ia mendarat di tumpukan kotak-kotak kayu yang ada di seberangnya. Iblis Tak Bernama mengangkat pedang tersebut dan menggemgamnya erat di tangannya sambil memandang Leo dengan kondisi yang cukup menyedihkan.

Leo memandang Iblis Tak Bernama dari tempat ia mendarat. Pandangannya sangat buram karena kacamatanya terjatuh entah di mana saat ia mendarat tadi. Ditambah lagi, death scythe-nya ada di tangan Iblis Tak Bernama membuat ia tidak mungkin melanjutkan pertarungan.

Iblis Tak Bernama menghampiri Leo dalam diam. Ia masih memegang pedang tersebut di tangan kanannya. Saat ia berjalan mendekat, ia melihat sebuah kacamata ada di dekat kaki Leo jadi ia memungutnya.

"Wah, pengelihatanmu buruk sekali ya," komentar Iblis Tak Bernama saat melihat segala sesuatunya dari balik lensa tersebut.

"Diam kau keparat!" kata Leo ingin merebut kacamatanya tapi tertahan oleh ujung pedang yang berada di depan lehernya. Tanpa kacamata-pun, Leo bisa tahu bila ia tidak berhenti, ia akan mati. Tak lama kemudian, teriakan melengking seorang wanita terdengar oleh keduanya. "Iblis betina itu sudah mati rupanya. Yah, itu bagus! Dan sekarang aku juga akan mati ditangan seorang setengah iblis!"

"Itu tidak sopan," kata Iblis Tak Bernama cemberut. Keduanya kembali terdiam. Leo tidak bergerak sedikitpun dan Iblis Tak Bernama tidak menurunkan pedangnya sampai Undertaker datang. Tubuhnya penuh dengan percikan darah dari korbannya namun ia sendiri tidak terluka. Undertaker mengambil kacamata milik Leo dan mengembalikan ke pemiliknya.

"Tugasmu sudah selesai," kata Undertaker kepada Leo. Leo dan Iblis Tak Bernama terkejut mendengarnya. Undertaker kemudian mengambil death scythe Leo dari tangan Iblis Tak Bernama dan mengembalikannya juga pada Leo yang diterimanya dengan berat hati. "Sekarang pergilah dari hadapanku!" ucap Undertaker dengan tatapan penuh kematian membuat Leo lari dari sana.

"Jadi… kita menang?" tanya Iblis Tak Bernama hati-hati menatap ke arah Undertaker.

"Ya," jawab Undertaker singkat. Ia kemudian berlutut di depan Iblis Tak Bernama. "Aku akan kembali ke dunia Shinigami dan melaporkan kejadian ini. Tenang saja, setelah ini, kau dapat hidup bebas. Kau tak perlu lagi takut akan manusia selama kau bisa mengendalikan dirimu sendiri. Ayahmu ingin kau bahagia dan hidup. Karena itu ia menyerahkanmu padaku. Sekarang aku akan memenuhi kontrak ini. Meskipun aku benci padanya, ia adalah orang yang menarik."

"Kita tidak akan bertemu lagi?" tanya Iblis Tak Bernama.

"Mungkin iya, mungkin tidak. Satu lagi, akan kuberi tahu kau sesuatu yang bagus…"

.

.

.