Meant To Be

.

.

By phoenixmaiden

.

.

Translate by Uchiha Kazusha

.

.

Chapter 12

Harry mendesah dan merentangkan tangannya sampai terdengar bunyi 'krak'. Dia kelelahan, Wynter telah membuatnya bangun semalaman, tapi akhirnya Wynter dapat tidur, memberikan Harry beberapa jam untuk tidur. Hanya sekarang Wynter tidak mau tidur siang.

"Kau harus tidur kadang-kadang." Kata Harry pada Wynter. Wynter melihat ke arahnya pada suaranya dari tempat duduknya, dan kemudian mengabaikan Harry demi melihat kakinya.

"Aku akan terbangun sepanjang malam lagi, iya kan?" dia berbisik pada dirinya. Dia mengangkat keranjang cucian dan meletakkannya di sofa untuk melipatnya. Pakaian Wynter, pakainnya, handuk. Simpel. Harry telah melakukannya sangat sering hingga dia dapat melakukannya dengan mata tertutup. Tidak berarti dia akan melakukannya, buta tidak menyenangkan. Setengah buta juga tidak lebih baik. Terima kasih Tuhan karena telah menemukan ramuan di salah satu buku yang Hermione berikan padanya untuk dibaca yang memperbaiki penglihatannya, sekarang dia tidak harus menggunakan kacamata lagi.

Harry selesai melipat dan mengangkat masing-masing tumpukan baju. "Aku akan segera kembali." Katanya ke Wynter dan pergi untuk meletakkan baju-bajunya di tempat yang benar. Ketika dia kembali ke ruang keluarga dia melihat Wynter sedang mencarinya, memutar kepalanya ke kanan dan kiri dan mencari. Ketika Harry datang terlihat mata Wynter menuju ke arahnya dan Wynter melambai padanya. Harry tersenyum padanya saat dia melewati Wynter dan memberikannya sebuah ciuman. Wynter memberikannya senyumnya dan melambai padanya dan menendang-nendang kakinya.

Harry tertawa. Dia tidak akan pernah merasa cukup dengan putrinya. Dia bisa duduk dan melihat Wynter berjam-jam dan terhibur. Hal-hal yang dilakukan oleh Wynter sangat menggemaskan dan sebuah bukti dengan banyaknya foto yang diambilnya di album foto. Dia sudah memiliki banyak foto dan Wynter bahkan belum merangkak!

Dia menunduk ke tempat duduk Wynter dan menyentuh kaki Wynter membuatnya tersenyum.

Merasa haus dia pergi ke dapur dan mengambil minum. Getaran tiba-tiba datang di punggungnya dan dia berhenti. Dia tegang dan melihat ke sekeliling ruangan, tapi tidak melihat apapun. Tetapi, dia mendengar beberapa saat jika ada yang salah. Tidak ada. Dia melihat kembali ke Wynter , Wynter baik-baik saja, bermain dengan cincin plastik kunci.

Dia mengangkat bahunya dan menganggap itu sebagai rasa dingin. "Aku harap, aku tidak menemukan sesuatu." Katanya dan kembali berjalan ke dapur.

MMMMMM

Tom berhenti di depan pondok kecil itu, bentuk yang sama seperti yang ada di depannya. Pondok itu berwarna biru cerah dengan warna putih. Bunga-bunga berjejer di depannya, kuncupnya menghadap matahari. Semak liar tumbuh di samping sisinya, menutupi bagian dari beranda ke jendela. Beberapa langkah menuju ke pintu putih. Ayunan tergantung di depan teras.

Betapa anehnya, pikir Tom dengan mengejek.

Ini bukanlah apa yang telah dia pikirkan tentang Potter berlatih, tapi penampilan bisa menipu. Walaupun begitu, dia merasa kecewa. Sensasi yang ada saat perburuan dan dia bepikir tentang beberapa skenario yang mana harus dia tangani. Dia tidak mengharapkan berbulan-bulan pencarian dan membimbingnya ke kota Muggle dengan pondok yang terlihat bagus, walaupun dia mengakui bahwa ini... agak bagus.

Tom selalu benar, tentu saja. Meninggalkan pencarian ke pengikutnya tidak membuahkan hasil. Dia seharusnya tidak berharap banyak. Jadi, seperti biasanya dia harus melakukannya sendiri. Dia membutuhkan waktu beberapa bulan, tapi di sini dia. Di depan pintu rumah Potter. Dan apa yang harus dia lakukan hanyalah fokus pada koneksi yang mereka miliki. Sesuatu yang sangat simpel dapat membawanya langsung ke sini dan dia tidak pernah berpikir tentang ini sebelumnya. Tapi berpikir tentang koneksi membuatnya berfikir tentang bahwa memang ada koneksi di antara mereka. Sejak dia terakhir menggunakannya beberapa tahun lalu untuk menjebak Potter, koneksi itu semakin kuat, tapi itu adalah pikiran untuk nanti.

Sekarang dia punya seseorang bermata hijau yang akan dihancurkannya. Oh, dia akan sangat menikmati ini. Dia tersenyum kejam dan mengangkat tongkatnya ke pintu...

MMMMM

Didalam, Harry menunduk untuk minum. Dia menutup matanya saat dia berpikir tentang tugas rumahnya yang harus dia lakukan. Kita lihat... pakaian sudah siap, membersihkan debu sudah siap, membersihkan-

Harry tiba-tiba tersentak saat pintu terbang ke dalam. Gelasnya terjatuh dari tangannya dan pecah di lantai saat tongkatnya meluncur ke tangannya. Dia berlari ke ruang keluarga dan memposisikan dirinya di samping sofa dan menghadap pintu.

Dan kemudian datang orang terakhir yang ingin dia temui—Voldemort.

"Potter akhirnya aku menemukanmu," kata Voldemort atau apakah ini Tom? Dia telah menghilangkan wajah ular dan jubah usangnya dengan tubuh aslinya dan dengan jubah yang bagus, tapi dia telah mempersiapkan diri untuk bertarung.

"Voldemort," kata Harry dengan tenang meskipun faktanya dia panik dalam hati. Matanya mengarah ke Wynter yang sedang melihatnya dengan mata ingin tau. Dia tidak boleh melihat putriku. Dia tidak boleh!. Dia kembali memperhatikan Tom. Tolong, Tuhan apa saja yang ada di atas sana, jangan biarkan dia melihat putriku!

"Aku sangat terkejut." Kata Tom."Aku tidak berharap kau menjadi sangat," dia berhenti, "Tenang." Bahkan saat dia mengatakannya, dia melihat sekeliling. Segalanya terlihat bagus dan rapi, merasa seperti rumah. Di dalamnya terlihat sama seperti di luarnya, tidak ada jebakan. Disana ada keranjang cucian di sofa demi Merlin! Sesuatu sangat tidak benar.

Harry mengabaikan pertanyaan di dalam kalimat itu. "Aku sedang beristirahat. Sekarang keluar," kata Harry mengangkat tongkatnya dan berjalan ke depan agar dia berada di depan sofa.

Tom terkekeh dengan kejam,"Kau pikir aku hanya akan pergi? Jangan membuatku tertawa. Tidak, aku akan mengakhiri ini, ini telah berlansung sangat lama," kata Tom, membisikkan kalimat terakhir pada dirinya. Dia mengangkat tongkatnya. "Ini akan berakhir... dengan kematianmu!"

Harry memblokir mantra yang datang ke arahnya dan mengirimkan kembali mantra miliknya di luar, jauh dari Wynter. Wynter tidak terlindungi dan jika dia berhenti untuk meletakkan mantra pada Wynter itu akan membuat perhatian Tom, jadi dia harus membuat Tom menjauh. Tapi itu tidak bekerja, Tom malah semakin jauh dari pintu. Harry mengambil beberapa langkah ke depan untuk mencoba memblokirnya, untuk mengintimidasinya untuk bergerak mundur dan melemparkan kutukan lain.

Tom membelokkannya dan mantra itu mengenai dinding, meninggalkan tanda hangus. "Kau telah berlatih, bravo. Tapi itu tidak cukup," katanya dan melemparkan kutukan kematian.

Harry menjauh dari kutukan itu dan kutukan itu mengenai sebuah gambar di dinding, memecahkan kacanya dan menjatuhkannya. Itu terjatuh ke lantai.

Suara merengek menangkap perhatian mereka dan nafas Harry tercekat, tapi dia memaksa dirinya untuk melihat ke belakang. Tidak, tidak. Tidak sekarang. Jangan menangis. Tolong. Beranilah sayang, beranilah! Harry mulai dengan cepat mengeluarkan mantra-mantra, beberapa dengan kata-kata dan yang lainnya tanpa kata untuk mengusir Tom.

Tom membelokkan mantranya dan mendengarkan suara itu. Dia tau dia telah mendengar sesuatu. Ah, disana suara itu lagi, pikirnya dan tatapannya tertuju pada sofa. Tapi sofa tidak membuat suara kecuali itu di ubah dan sofa itu tidak di ubah, terlihat seperti ada robekan dan air mata di dalamnya. Itu mungkin adalah... di melangkah maju tetapi dia dipaksa untuk lebih mempertahankan diri.

Potter... berbeda. Di awal duel mereka, dia terlihat tenang, tepat dan dapat diprediksi. Sekarang mantranya asal-asalan, panik. Kalau dia melihat dengan benar, Potter terlihat ketakutan, seperti dia tidak ingin Tom melihat sesuatu. Dan apapun yang membuatnya begitu, berada di belakang sofa. Tom mempertahankan dirinya dan melemparkan lebih banyak mantra untuk membuat Potter mundur, dia melangkah maju ke ruangan.

Harry mulai panik, dia semakin mendekat. Dia tidak boleh melihat Wynter! Dia tidak bisa mengambil Wynter pergi! Harry melempar meja untuk mengalihkan perhatian Tom. "Expelliarmus!" teriaknya, tapi Tom memblokirnya dan mengambil langkah maju semakin mendekat.

"Sectumsempra," kata Tom menunjukkan tongkatnya. Harry menghindari mantra itu dam menabrak lampu di meja dan membuatnya pecah.

Harry takut kalau itu menyakiti putrinya, dia berbalik untuk melihat Wynter dan itu adalah pengalih perhatian yang Tom inginkan. Harry tersentak kesakitan saat mantra Tom mengenainya di tangan dan dia jatuh ke lantai.

Tom mengambil langkah mendekat sampai dia hampir menyentuh sofa dan dia dapat melihat apa yang di sembunyikan Harry. Dia menunjukkan tongkatnya ke bawah dan tersenyum dengan senang saat dia melihat panik di mata Potter.

Suara merengek itu mulai lagi dan berubah menjadi penuh dengan tangisan. Terkejut, Tom menunjukkan tongkatnya ke tempat di mana suara itu berasal.

"TIDAK!" teriak Harry dan maju ke kaki Tom. Dia bergegas berdiri kedepan dan mengangkat Wynter dari tempat duduknya. Harry memegangnya dengan ketat di dadanya dan membuat suara lembut ke arah Wynter. Harry menunjukkan tongkatnya ke Tom dan mulai untuk mundur ke belakang.

Tom hampir terjatuh, tapi dia menangkap dirinya sendiri. Gerakan tiba-tiba Potter telah mengejutkannya, tapi sekarang dia sedang marah. Dia berdiri dan mengangkat tongkatnya, sebuah kutukan di bibirnya dan kemudian dia tiba-tiba dia membeku. Kemarahannya menguap menjadi bingung kemudian terkejut. Disana ada sebuah bundelan di tangan Potter, tertutupi sebuah selimut, sudutnya terkena darah Potter. Tangan yang kecil menggenggam baju Potter dan kaki yang kecil menggantung di sekitar pinggangnya. Itu adalah suara itu? Suara itu... adalah seoarang bayi?

Seorang bayi...

Apa yang dilakukan seorang bayi disini?

Saat pikiran itu datang ke pikirannya, pikirannya mulai berputar dengan pikiran, menyatukan semuanya.

Ini sudah setahun sejak malam itu.

Seorang bayi...

Setahun sejak Harry mulai bersembunyi.

Seorang bayi...

Setahun dia telah mencari. Tidak, dia telah mencari berbulan bulan, tapi ini sudah setahun sejak pengikutnya mulai mencari. 9 bulan bagi seorang anak untuk tumbuh dan 3 bulan yang lain menjadi setahun...sejak...malam itu...

Tom melangkah kebelakang saat pikirannya memberi jawaban. Itu tidak mungkin...tapi buktinya ada di depan matanya. Dia merendahkan tongkatnya dan melihat ke bundelan yang ada di tangan Harry. Seorang bayi di tangannya. Dia hanya bisa melihat dengan shock pada fakta ini.

Seorang bayi... bayinya.

Bayiku ... pikir Tom linlung.

Harry panik saat dia melihat tongkat itu merendah dan shock berada di mata biru Tom dan dia tau bahwa Tom telah mengetahuinya. "Ke-keluar," bisik Harry dengan serak.

Tom tanpa sadar mengambil langkah ke depan, menuju Harry, menuju anaknya.

Terror ada di hati Harry saat Tom maju ke Wynter dan dia memegang Wynter dengan ketat, "KELUAR!" Harry berteriak padanya.

Tom tersentak dari rasa linglungnya dan melihat ke arah mata hijau Harry dan ke bayi yang menangis di tangannya.

"Keluar! Keluar!" Harry terus berteriak, histeris.

Tom mengambil langkah ke belakang dan kemudian maju lagi, terus menatap ke arah Harry dan bayinya.

Kemudian Tom pergi.

End Of Chapter