Udara dingin menusuk permukaan kulit setiap manusia. Butiran salju turun mengiringi pemakaman Park Woojin. Pemuda bergigi gingsul itu terlihat damai dalam peti mati. Hyungseob menatapnya sedih. Matanya bengkak, ingin menangis pun air matanya sudah kering. Jonghyun hanya bisa menepuk pundak sang kekasih.

Haknyeon masih terisak. Ia tak menyangka jika sang sahabat akan pergi terlebih dahulu meninggalkan dirinya.

'Dasar bajingan Woojin. Kau tega meninggalkanku sendirian disini. Kau tega kawan.'

Angin berhembus kencang. Tak ada suara kicauan burung yang menemani. Hanya ada keheningan serta isakan tangis. Ibu kandung Park Woojin menangis heboh, menatap jasad anak semata wayang dalam peti putih.

"Nak, bangunlah. Ibu berjanji akan berhenti merokok agar kau tak perlu membiayai operasi Ibu. Tapi kumohon, bangunlah anakku. Park Woojin yang tampan, Park Woojin anak Ibu satu-satunya."

Jihoon berinisiatif mengusap punggung nyonya Park yang terisak. "Bibi, relakan Woojin. Dia sudah tenang di atas sana bersama Tuhan."

Tangisan nyonya Park pecah. Ia memeluk erat tubuh Jihoon. Berusaha mengalirkan perasaan sedihnya pada pemuda berwajah manis. Jihoon mengusap lembut punggung bibi Park. Air mata lolos begitu saja dari pelupuk.

Seonho merasa sesak. Ia menepuk pelan pundak Haknyeon. "M-maafkan Aku. Seharusnya saat itu Aku berani melawan—"

"Tidak apa tuan. Tidak ada yang perlu di sesalkan. Setidaknya Woojin tenang disana." ucap Haknyeon tersenyum. Pemuda Joo mengusap air mata yang masih membasahi pipi.

Wajah Seonho memanas. Ia segera memeluk Haknyeon. "Maafkan Aku—hiks."

Haknyeon hanya tersenyum lembut. Lalu menepuk pundak tuan muda. "Tidak apa-apa."

Samuel dan Daehwi hanya bisa merenung. Menautkan tangan, menyalurkan perasaan masing-masing. "Kuharap Woojin bahagia disana." ucap Daehwi.

Pemuda berparas bule itu tersenyum simpul. "Dia sudah bahagia disana."

Jaehwan menatap sendu semua orang. Suasana tengah berduka. CEO Kim menghampiri Ibu kandung Woojin, memberikan bela sungkawa yang sebesar-besarnya. "Aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian Putra mu."

Nyonya Park menoleh pada Jaehwan. Ia segera memeluk erat tubuh pemilik perusahaan nomor satu di Korea Selatan. "Hiks—anakku tuan—hiks."

Jaehwan membalas pelukan nyonya Park. "Aku turut berduka, Ibu."

Peti mati segera ditutup. Hyungseob menatap sendu jasad yang sudah memutih. Menatap pria bergigi gingsul itu untuk yang terakhir kali. Peti mati di masukkan kedalam liang lahat. Semua hening. Tak ada suara apapun. Yang tersisa hanyalah hembusan angin serta buliran salju. Yang mengiringi kepergian Park Woojin.

Ahn Hyungseob, menatap sedih makam polisi Korea Selatan. Makam seorang malaikat bersenjata yang telah melindungi nyawanya. Makam Park Woojin.

.

.

.

.

THE BODYGUARD FROM CINA

Main cast:

Lai Guanlin, Yoo Seonho, and other.

Disclaimer:

Remake of 'The Bodyguard from Beijing/The Defender'

But, The Bodyguard from Cina is mine.

Warn! Yaoi, OOC, TYPO, ParodyAU!

I hope you enjoy this story~

.

.

.

.

Mobil hitam melesat maju dengan sedikit lebih cepat. Ban mobil menindas beberapa buliran salju di atas tanah. Udara semakin lama semakin dingin, suhu di bawah nol derajat membuat semua orang harus mengenakan mantel tebal.

"Jaehwan, cepatlah cepat." ucap Seonho. Ia terlihat panik sekarang.

Jaehwan tak menjawab. Ia hanya mengemudi dalam diam. Kecepatan mobil di tambah, manik mata pemuda itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.

'Guanlin sudah dilatih untuk menerima peluru di tubuhnya.'

Ucapan komandan Wu kembali terngiang-ngian di kepala Jaehwan.

'Kau menunduk untuk melindungi diri dari tembakan, itu adalah hal yang wajar. Jadi, kau tak perlu merasa bersalah.'

Tuan Kim sekedar mengurut pelipis. 'Tapi tetap saja Aku merasa telah menyusahkan Guanlin.'

Setelah pemakaman Woojin tadi pagi, Seonho dan Jaehwan segera pergi ke pengadilan dan melaksanakan sidang. Hasilnya, Hwang Minhyun di nyatakan bersalah. Berhubung pria Hwang itu sudah tiada, hakim memutuskan untuk membagikan anggota tubuh Minhyun dan di sumbangkan ke rumah sakit untuk orang yang membutuhkan. Seonho segera bergegas minta diantar ke tempat markas tentara. Hari ini, Lai Guanlin akan di pulangkan ke negara asalnya. Cina. Tugasnya sebagai seorang bodyguard sudah selesai. Misinya menjaga seorang Yoo Seonho telah selesai.

"Aku ingin melihatnya untuk terakhir kali." ucap Seonho sembari menyenderkan kepalanya pada jendela mobil.

Jaehwan sekilas melirik kearah Seonho. Lalu kembali menatap jalanan. 'Bahkan Seonho sangat mencintai Guanlin. Itu wajar, karena Guanlin sudah menjaganya dari ancaman maut.'

"Seonho." panggil Jaehwan.

Pemuda yang di sebutkan namanya menoleh, "Ya?"

"Apa kau benar-benar mencintai Guanlin?"

DEG

Jantung Seonho serasa ingin lepas. Pertanyaan sang kekasih membuatnya gugup. Ia bingung harus menjawab apa. Seonho menundukkan kepala. Merasakan keheningan untuk beberapa menit. Jaehwan yang melirik sekilas pun tersenyum.

"Kau mencintainya pun itu wajar." ucap Jaehwan santai.

Seonho masih menunduk. Ia merasa bersalah pada sang kekasih. "Maaf."

Jaehwan tersenyum simpul. "Kau tidak bersalah. Cinta itu tumbuh karena suatu kebiasaan bukan?"

Pemuda Yoo terdiam. Ia masih mendengarkan ucapan Jaehwan. Mobil melaju semakin cepat. Menghantam beberapa rintik-rintik salju yang turun.

"Seonho." panggil Jaehwan.

Yoo Seonho menoleh, "Ya?"

"Kerjarlah cintamu. Kejarlah Lai Guanlin."

.

.

.

.

Mobil hitam berhenti di perempatan jalan. Seonho segera bergegas keluar menggunakan jaket tebal. Ia melihat banyaknya tentara Cina dan juga polisi Korea Selatan. Terlihat Haknyeon yang sedang bersalaman dengan komandan Wu Yifan.

"Sir Haknyeon, ini ada beberapa barang titipan dari Guanlin." ucap komandan Yifan dengan aksen Cina sembari memberikan koper berwarna coklat tua.

Haknyeon yang mengerti aksen Cina pun menerimanya. "Terima kasih, komandan."

Komandan Wu menepuk pundak pemuda Joo, lalu pergi. Haknyeon masih diam mematung. Mulutnya sedikit menghembuskan nafas, merasakan puih-puih angin yang menerjang permukaan kulit. Di tatapnya koper pemberian komandan Wu. Haknyeon membuka koper, melihat beberapa jumlah uang yang ia yakini sangat banyak.

Terdapat surat di dalam sana. Haknyeon segera membaca surat tersebut.

'Joo Haknyeon. Uang ini tolong kau berikan untuk biaya pengobatan operasi Ibu Woojin. Jangan kau gunakan untuk berjudi, ya?'

Haknyeon menitikan air mata. "Dasar bodoh, kenapa kau menitipkan uang sebanyak ini padaku? Sudah tahu Aku bolot soal uang."

Pemuda Joo menatap Seonho yang tengah berlari menghampiri Guanlin. "GUANLIN—"

"Maaf, Anda tidak bisa masuk." ucap dua polisi berbadan kekar. Menghalangi jalan pemuda Yoo. "Biarkan Aku masuk,"

"Tidak bisa tuan." ucap salah satu polisi.

Seonho menghembus nafas kasar. Uap udara mulai melayang-layang di udara. Menatap mobil sedan hitam yang berada di ujung sana. Jaehwan datang menghampiri, "Tuan, bolehkah saya masuk? Saya punya paspor."

Dua polisi itu menatap paspor milik Jaehwan, "Yasudah. Hanya kau yang boleh masuk."

Palang pintu terbuka. Jaehwan segera berlari menuju mobil sedan yang di tumpangi Guanlin. Seorang polisi kembali menjegatnya. "Ada perlu apa?"

"Sir, bolehkah saya berbicara dengan Lai Guanlin?" tanya Jaehwan.

"Tidak." ucap polisi.

"Tolong lah.."

"Tetap tidak bisa."

Jaehwan menunduk frustasi. Ia berbalik badan menatap Seonho. Pemuda itu terdiam. Hatinya sesak sekarang. "Guanlin..."

Joo Haknyeon datang sembari menepuk pundak Seonho. "Tuan, ada titipan dari Guanlin untuk Anda."

Seonho menangis. Tangannya terulur untuk menerima barang titipan Guanlin. Matanya melebar, sebuah kotak jam tangan yang semalam ia berikan untuk tentara Cina. Pemuda itu terisak, apa Guanlin tak menyukai barang pemberiannya? Sampai-sampai jam tangan itu di kembalikan.

Tuan Yoo mengusap pelan kotak jam tangan berwarna hitam. Dibuka perlahan kotak tersebut. Lalu memperlihatkan sebuah jam tangan. Namun bukan jam tangan pemberian Seonho. Itu adalah jam tangan berwarna gold milik Guanlin. Tertera sebuah tulisan disana.

'Terima kasih.'

Seonho segera menatap ke depan. Melihat mobil sedan melaju pergi. Ia berteriak keras. "LAI GUANLIN." senyum bahagia terpancar di wajah manisnya.

Terlihat bayang-bayang pemuda di dalam mobil menengok kebelakang. Menatap Seonho yang melambaikan tangan sembari terisak. Pemuda itu tersenyum.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

Omake

7 tahun telah berlalu. Seonho menjalani kehidupannya sebagai seorang guru TK dengan normal. Sebentar lagi adalah hari ulang tahunnya yang ke 31. Statusnya sekarang adalah seorang single. Jaehwan memaklumi perasaan Seonho, bahkan sampai saat ini mereka masih berkawan baik.

Seonho juga masih berhubungan dengan Haknyeon. Terkadang mereka pergi bersama dengan guru Ung. Sebagai seorang guru TK, ternyata pekerjaan sampingan Seonho adalah sebagai Makcomblang antara Haknyeon dan Euiwoong.

Daehwi dan Samuel telah menikah. Sekarang, mereka berada di London. Mereka membuka usaha kafe disana. Daehwi masih sering menghubungi Seonho untuk sekedar berbincang-bincang.

Bae Jinyoung yang sudah berumur 17 tahun pun semakin gencar mendekati Jihoon. Pemuda Park itu terkadang terheran, dulu dia yang sering mendekati Jinyoung. Tapi sekarang Jinyoung-lah yang gencar mendekatinya.

"Kenapa kau mengikutiku?"

"Karena Aku suka padamu."

"Umurku lebih tua 14 tahun darimu, Jinyoungie."

"Yang lebih tua itu lebih menggoda, hyung."

Dan Hyungseob, dia putus dengan Jonghyun. Sampai saat ini, ia masih setia mengunjungi makam Woojin dan menjenguk Ibu Park. Mereka terlihat sangat akrab bagaikan seorang Ibu dan anak kandungnya sendiri.

Hari ini adalah hari ulang tahun Seonho. Usia nya telah memasuki 31 tahun. Pemuda Yoo tak banyak perubahan selama 7 tahun terakhir. Ia tetap terlihat muda dan segar. Masih setia mengajar anak-anak TK yang menggemaskan. Pemuda Yoo mengajarkan segalanya.

Kedua langkah kaki berjalan santai di trotoar kota Seoul. Udara dingin membuat Seonho harus mengenakan mantel serta syal agar tubuhnya hangat. Matahari nampak terbenam, di gantikan oleh sinar rembulan. Salju semakin turun. Musim dingin masih berlanjut sampai bulan Januari.

Seonho melangkah santai. Menatap beberapa toko yang masih buka. Beberapa orang berlalu lalang melewati trotoar. Kedua tangannya menenteng kantung belanja. Ia terlihat bahagia.

Lampu merah tertera pada lampu lalu lintas. Beberapa orang yang ingin menyebrang pun segera berjalan diatas zebra cross. Seonho kembali mengeratkan cengkraman pada dua kantung belanja yang ia bawa.

Beberapa orang berjalan santai ketika menyebrang. Seonho berjalan paling belakang. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Semua terlihat damai. Sampai ketika mobil hitam melaju dengan kecepatan penuh. Mata hitam Seonho melebar, menatap mobil yang berjalan menuju arahnya. Semua orang berlari, menyelamatkan diri. Begitupun Seonho, ia juga mulai berlari. Sampai mobil itu mulai mendekat pada arahnya.

"KYAAAAAAAA!"

BRUK

Seseorang menarik tubuh pemuda Yoo. Seonho memejamkan mata. tubuhnya berguling di jalanan aspal. Beberapa pasang mata berusaha menolong. Ia merasakan jalanan ketika tangannya menyentuh tanah. Namun, tubuhnya terasa hangat. Ia merasa terjatuh diatas tubuh seseorang.

Pemuda Yoo membuka mata secara perlahan. Angin berhembus kencang, membuat tubuh Seonho menggigil. Matanya melebar, ia memang terjatuh diatas tubuh seseorang.

"Kita bertemu kembali, Yoo Seonho."

Mata Seonho mengeluarkan air mata. Ia tak sanggup menahan rindu selama 7 tahun terakhir. Pemuda itu hanya tersenyum tipis melihat raut wajah Seonho. Diusapnya perlahan pipi gembul pemuda Yoo.

"Selamat ulang tahun, Seonho."

Seonho segera memeluk tubuh pemuda yang lebih besar darinya. Berpelukan di tengah jalan raya Seoul. Merasakan dada bidang pria yang sangat ia rindukan keberadaannya. Seseorang yang sangat ia cintai. Pemuda itu terisak, kemudian memukul-mukul dada bidang Guanlin.

"Bodoh! Kenapa kau baru mengunjungi ku setelah 7 tahun, hah?!" Seonho menangis. Air mata menetes begitu saja tanpa henti.

Guanlin mencengkram kedua tangan Seonho erat, menatap wajah pemuda yang sangat ia rindukan. "Maaf, Aku baru dapat waktu untuk mengunjungi mu sekarang."

"Setidaknya kirimi Aku surat!"

"Aku tak sempat."

"Dasar bodoh!"

"Aku bodoh karena cintamu, Seonho."

Tangan kanan Guanlin mengusap lembut air mata yang menempel di pipi. Tersenyum lembut menatap wajah Seonho yang berada diatas tubuhnya.

"Aku merindukanmu, Lai Guanlin. Selamat datang kembali ke Korea Selatan."

Dua pemuda itu melepas rindu. Tak mengidahkan tatapan banyak orang. Merasakan cuaca hangat dan dingin secara bersamaan. Di atas aspal, di tengah jalan raya Seoul. Di bawah jatuhnya salju yang mengiringi.

7 tahun memang bukan waktu yang singkat. Namun Seonho dan Guanlin bersabar, menahan rindu selama beberapa tahun. Dan kini, luapan rindu pun terbalaskan.

"I miss you my bodyguard."

"And I miss you my naughty Seonho."

"You're my lovely bodyguard. The bodyguard from Cina."

.

.

.

.

END

A/N:

11 Juli 2017 - 11 September 2017.

Finally, fanfiksi THE BODYGUARD FROM CINA tamat juga xD /lempar bunga. Terima kasih buat: noname rivaicchiaikarahazukyEllegisntCheshire OhGuesschuKaren AckermanKimssiJeonnimererigadokkamobyankaiErumin SmithYaoi and Yuri Loverskim nayasoonyounghearteuskarayumsTriass99Rina Putry299TaeTae-TrackKise NanaseRe-Panda68kfcfmd yang telah memberikan review untuk chapter kemarin, dan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca fanfiksi ini dari awal :D

Hehe, saya disini selaku levieren225 ingin membagi cerita awal ketika saya membuat fanfiksi ini.

• Jujur waktu itu saya ingin membuat fanfiksi THE BODYGUARD FROM CINA dengan versi RIREN (Levi x Eren) dari fandom ATTACK ON TITAN/SHINGEKI NO KYOJIN. Bahkan saya waktu itu sudah membuat dokumennya dengan judul THE BODYGUARD FROM PRANCIS. Namun, saat itu saya masih kurang yakin. Akhirnya saya konsultasi pada Erumin Smith. Dan dia menyarankan untuk membuat versi GUANHO. Dan jujur saja saya awalnya tidak begitu mengenal Produce 101. Akhirnya dengan dibantu oleh Erumin Smith, saya mengerjakan fanfiksi ini dan mengenal anggota Produce 101. DAN BAHKAN NGESHIP GUANHO, WINKDEEP, JINSEOB, SAMHWI, MINHYUNBIN, HAKWOONG, JAEWOON xD

• Kenapa Seonho di pasangin sama Jaehwan disini? (Pertanyaan sejuta umat) Hehe, jadi gini kawan-kawan. Karena pada saat pembuatan fanfiksi, saya tidak terlalu mengenal anggota Produce 101. Saya kembali konsultasi sama Erumin Smith. Saya bertanya, "Siapa yang wajahnya pantas menjadi seorang CEO di Produce 101?" Dan beliau menjawab. "Kim Jaehwan.". Dan pada akhirnya saya membuat Jaehwan menjadi kekasih Seonho disini—dan setelah saya mempublish chapter 1, Erumin Smith datang kepada saya dan bertanya. "KOK SEONHO DI PASANGIN SAMA JAEHWAN? HAHA AKU NGAKAK.". Dan, pada intinya mempasangkan Seonho-Jaehwan adalah sebuah kesalahpahaman xD

• Dan untuk adegan gore, saya juga berkonsultasi pada ererigado. Ya, karena sesungguhnya dia adalah pakar fanfiksi psikopat xD /plak. Big thanks to ererigado untuk saran adegan pembunuhannya :D

• Saat saya sedang istirahat di atas kasur, tiba-tiba saya dapat pesan dari ererigado, beliau bilang katanya ada yang buat gambar untuk fanfiksi THE BODYGUARD FROM CINA. Saya terkejut bercampur senang. Hehe, terima kasih Cheshire Oh yang sudah membuat gambar untuk fanfiksi ini :D

Hehe, ya mungkin cuma itu doang sih yang bisa saya ceritakan. Dan, saya juga berniat membuat sequel untuk fanfiksi ini. Setuju tidak? Hehe, kalau sempat nanti saya buat sequel nya :D

Dan sekali lagi, terima kasih yang sudah membaca, memberi komen, memfavorite, memfollow fanfiksi ini. Tanpa kalian, fanfiksi ini mungkin tidak akan berlanjut sampai tamat—ya mengingat saya ini orangnya terkadang memiliki mood yang naik turun untuk melanjutkan fanfiksi.

Dan terima kasih juga yang sudah memberikan kritikan dan saran untuk fanfiksi ini, kritik dan saran kalian sangat membantu untuk melanjutkan fanfiksi ini :D Terima kasih banyak!

Sampai jumpa di sequel fanfiksi ini dan fanfiksi saya yang lain! :D

-levieren225