My Caddy Girl

Cast: Kyuhyun - Sungmin – Other SJ & DBSK members

Genre : Romance, Drama, Hurt

Rate : T + (Bisa berubah sewaktu-waktu)

Warning : GS, Typos, Flat and Multichapter

Copycat and plagiarism is not allowed


.

.

.

Sebuah kejujuran memang terkadang lebih menyakitkan dari sebuah kebohongan. Tapi tidak semua kebohongan yang berjalan sangat indah akan berakhir dengan menyakitkan pula. Percayalah, hakikat memaafkan jauh lebih tinggi daripada dimaafkan.

.

.

.

Suasana halte bus di salah satu daerah perbatasan kota Seoul tampak sangat tidak enak dipandang mata. Bukan karena lokasi tersebut sangat sepi bak taman pekuburan tapi lihatlah satu-satunya gadis yang sedang terduduk disana. Penampilan kusut ditambah mata sembab yang bahkan jika diukur sudah lebih besar dari kelereng makin diperparah dengan terpaan hujan dan angin yang sepertinya ikut menangisi nasib gadis itu - Lee Sungmin.

Sejak meninggalkan apartemen kekasihnya siang tadi, gadis bergigi kelinci itu bahkan tidak tahu akan kemana ia malam ini. Salahkan saja emosi dan ego tingginya yang langsung memerintah kakinya untuk pergi tanpa membawa uang sepeser pun. Jangankan uang, pakaian saja belum sempat ia ganti.

Menangis seharian rupanya sudah membuat Sungmin lupa akan rasa haus dan lapar. Kakinya terus berjalan tanpa mempedulikan rasa lelah. Ia kecewa. Kecewa karena merasa sudah tidak ada lagi orang yang bisa ia jadikan sekutu. Sang kekasih yang awalnya ia harapkan jadi sandaran justru kini berbalik arah membela sang musuh - menurut Sungmin.

Sungmin memeluk kedua lututnya. Menenggelamkan kepalanya yang kini terasa pening. Udara dingin dan percikan air hujan yang menempel di kulit putihnya membuat gadis itu merasakan titik lelah atas semua keputusasaan. "Tuhan, maafkan aku karena belum bisa menerima ibu kandungku sendiri. Yang aku tahu ibuku hanya dia, dia yang selalu bersamaku selama ini dan juga appa. Lalu bagaimana bisa aku menerima kenyataan yang sebenarnya? Dan lagi siapa ayah kandungku? Aku bahkan merasa seperti anak haram yang tidak diharapkan kelahirannya." Lirih Sungmin.

Sungmin merebahkan kepalanya ke salah satu tiang sanggahan. Terus menangis. "Kyuhyun, kau dimana? Aku kedinginan, Kyu. Kapan kau akan menjemputku?" Sungmin makin mengeratkan pelukan pada kedua lututnya sebelum ia tersenyum sinis. "Kau pasti sedang di rumah sakit menjenguk mereka 'kan?. Iya aku yakin kau pasti disana. Kau sangat menyayangi mereka."

~oOo~

Kyuhyun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Salahkan saja hujan dan angin yang memperpendek jarak pandangnya. Pria itu menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri berharap menemukan sosok gadisnya. Jalanan yang ia tempuh pun semakin lama semakin mengecil, Kyuhyun sadar ia sudah berkendara sejauh ini sejak siang tadi. "Ini sudah hampir ke daerah perbatasan. Mustahil Sungmin pergi sejauh ini apalagi ia tidak membawa uang." Monolog Kyuhyun.

Semakin jauh ia melajukan mobilnya, Kyuhyun semakin ragu untuk melanjutkan perjalanannya. Dengan segera pria itu memutuskan untuk berputar arah, semakin frustasi karena tidak bisa menemukan Sungmin dimanapun. "Kemana lagi aku harus mencarimu, Ming? Bahkan Hyukkie sahabatmu sendiri tidak tahu keberadaanmu." Kyuhyun mengusap kasar wajahnya sebelum kembali fokus pada jalan raya. "Lebih baik aku kembali. Aku bisa mencarinya lagi besok." Kata Kyuhyun masih mengedarkan pandangannya. "Atau mungkin aku harus membuat iklan di koran? Ah sepertinya melapor polisi tidak ada salahnya. Atau... Ya Tuhan!" Kyuhyun menepikan mobilnya secara mendadak bahkan ban mobil depannya sempat menabrak sisi trotoar.

Tanpa mempedulikan derasnya guyuran hujan Kyuhyun berlari ke arah halte bis. Dan betapa terkejutnya lelaki itu saat menemukan kekasihnya tertidur dengan lutut yang terlipat. "Sungmin." Panggil Kyuhyun.

Pria kelahiran Februari itu segera mengangkat bahu Sungmin saat panggilannya tidak mendapat respon. "Ya Tuhan. Sayang kau pingsan?" Kyuhyun menepuk kasar pipi Sungmin berharap wanita yang dicintainya itu membuka mata. "Sayang bangun. Ini aku." Lanjut Kyuhyun namun kembali tidak mendapat respon apapun. Dengan cepat pria itu mengangkat tubuh Sungmin dan melajukan mobilnya menuju apartemen.

~oOo~

"Bagaimana keadaan Sungmin, Dokter?" Tanya Kyuhyun tidak sabar saat seorang pria paruh baya memasukkan stetoskopnya ke dalam tas.

Dokter itu tersenyum melihat kekhawatiran Kyuhyun yang berlebihan. "Tenanglah Tuan Cho. Nona Lee hanya kelelahan. Ditambah tekanan darahnya yang rendah dan juga dehidrasi. Jadi tolong pastikan kekasih anda ini benar-benar istirahat total selama dua atau tiga hari." Kata Dokter Shin.

"Tapi apa benar Sungmin tidak perlu dirawat di rumah sakit? Mungkin ia butuh pemeriksaan lanjutan?" Tanya Kyuhyun lagi.

"Tidak. Pastikan saja pola makan dan istirahat Nona Lee sudah teratur, saya menjamin keadaannya akan membaik dalam dua hari ke depan."

Dokter Shin memberikan beberapa obat dan juga selembar kertas resep ke tangan Kyuhyun. "Untuk sisa obatnya anda bisa menebusnya besok."

"Terima kasih." Ujar Kyuhyun seraya mengantar Dokter Shin pulang.

Kyuhyun kembali ke kamarnya menatap prihatin ke arah Sungmin yang sudah berbalut kemeja putih miliknya. Pria itu membetulkan letak selimut di tubuh Sungmin.

Kyuhyun merebahkan diri di samping kekasihnya, tanpa bosan menatap wajah Sungmin yang terlihat kekanakan. Pria itu tersenyum penuh makna saat ingatannya menerawang ke tiga puluh menit lalu dimana untuk pertama kalinya ia melihat tubuh polos Sungmin saat dirinya harus mengganti pakaian sang kekasih yang sudah basah kuyup.

"Sayang, cepat sembuh." Kata Kyuhyun. Ia mengecup kening Sungmin lama. "Kau belum lupa bukan kalau bulan depan kita menikah? Aku tidak mau pengantinku terlihat seperti mayat hidup." Kali ini Kyuhyun mencium bibir plump milik kekasihnya yang tampak pucat.

"Tidurlah. Pindahkan rasa sakitmu ke tubuhku. Aku mencintaimu." Kyuhyun mengeratkan pelukannya mendekap nyaman tubuh Sungmin dan mulai tertidur.

~oOo~

Sungmin menggeliatkan tubuh ketika matahari mengusik mata kembarnya. Ia masih ingat benar saat dirinya terakhir kali berada di halte bis bukan di ranjang senyaman ini.

"Aakh..." Gadis kelinci itu meringis memegang kepalanya yang terasa berat. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru kamar. Wanita cantik itu tercengang, ia sangat hapal dengan kamar ini. "Ya Tuhan! Kyuhyun." Matanya kembali mengedar dan semakin terkejut saat melihat keadaan tubuhnya yang kini terbalut kemeja putih milik Kyuhyun.

Sungmin menarik selimutnya. Semakin frustasi. Seluruh pakaiannya sudah terganti bahkan sampai ke pakaian dalamnya. "Siapa yang mengganti pakaianku?" Tanya Sungmin dalam hati. "Kyuhyun tidak mempekerjakan satu orang pun pembantu di apartemen ini." Gumam Sungmin saat ia mengingat hal itu. "J-jangan bilang kalau Kyuhyun yang... Aaaaarrghhhh."

"Sayang kau kenapa?" Kyuhyun membuka kasar pintu kamarnya saat mendengar teriakan Sungmin.

"Diam Cho! Jangan mendekat." Larang Sungmin saat Kyuhyun melangkah menuju ranjang.

"Iya. Tapi kenapa kau berteriak begitu? Apa ada yang sakit?" Tanya Kyuhyun khawatir.

Sungmin memasang sikap waspada dengan menahan selimut putih itu sebatas dadanya. Kyuhyun mengerti dengan raut ketakutan Sungmin dan mencoba kembali mendekat. "Sudah kubilang diam di sana, Cho Kyuhyun." Teriak Sungmin.

"Sayang, aku mohon kau tenang." Kata Kyuhyun menghentikan langkahnya. "Aku terpaksa mengganti pakaianmu, Ming. Kau kehujanan dan seluruh pakaianmu basah." Ujar Kyuhyun menjelaskan. "Tapi kau tenang saja. Aku tak melakukan apapun." Lanjutnya.

"Tapi tetap saja kau sudah bertindak lancang." Kata Sungmin tidak terima.

"Lancang bagaimana? Aku tak mungkin membiarkanmu tidur dengan pakaian basah. Kau akan sakit." Kata Kyuhyun. "Lagipula aku calon suamimu."

"Setelah kau menamparku kau masih berani bilang jika kau calon suamiku?" Mata Sungmin menatap nyalang.

Kyuhyun menundukkan kepalanya merasa bersalah. "Mianhe. Aku benar-benar menyesal."

"Lebih baik aku pergi." Sungmin menyibakan selimutnya dan berniat turun dari ranjang. "Aaaakkhhh." Gadis itu kembali meringis menahan sakit di kepalanya.

"Sungmin." Kyuhyun menahan bahu Sungmin namun sang kekasih langsung menepisnya.

"Jangan sentuh aku."

"Tapi kau masih sakit, sayang. Dokter Shin menyarankan kau untuk istirahat total." Kyuhyun merebahkan tubuh Sungmin. Kali ini tidak ada penolakan.

"Kau istirahatlah. Aku akan mengambil sarapan untukmu." Ujar Kyuhyun.

~oOo~

Sudah tiga hari Sungmin terpaksa tinggal di apartemen Kyuhyun. Terpaksa, karena keadaan tubuhnya yang tidak memungkinkan gadis kelinci itu untuk pergi.

Selama tiga hari itu juga Sungmin mendiamkan Kyuhyun. Berkali-kali pria berambut ikal itu meminta maaf, berkali-kali juga Sungmin bungkam. Rasa sakit hatinya belum bisa ia hilangkan walaupun sebenarnya Sungmin sudah memaafkan Kyuhyun sejak pertama kali kekasihnya itu meminta maaf. Ini bukan tentang kemarahan karena Kyuhyun menggantikan pakaiannya, namun karena Kyuhyun menamparnya.

"Sayang, kau makan ya." Bujuk Kyuhyun. Sungmin yang masih saja berbaring hanya diam tak menanggapi.

Kyuhyun mendesis kesal. Ia rasa kesabarannya sudah cukup. "Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan padamu, Ming. Bahkan aku sudah meminta maaf dan aku menyesali perbuatanku waktu itu tapi kau tetap mendiamkanku seperti ini." Lanjut Kyuhyun.

"Baiklah. Kalau kau memang tidak nyaman tinggal bersamaku, aku akan pergi. Tapi ku mohon kau harus makan. Jaga kesehatanmu." Kyuhyun melirik Sungmin sekilas menanti reaksi sang kekasih, namun tidak ada tanda-tanda dari gadisnya itu untuk menahan Kyuhyun.

"Hubungi aku kalau kau butuh apapun." Kyuhyun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Sungmin.

Sungmin membalikkan tubuhnya saat mendengar pintu kamar yang terbanting cukup keras. "Maafkan aku, Kyu. Aku masih kesal karena kau lebih membela ibuku." Lirih Sungmin.

~oOo~

"Bagaimana kabarmu, hyung?" Tanya seorang pria paruh baya pada Cho Hangeng. Ya mereka saat ini sedang berada di ruangan kepala keluarga Cho itu.

"Tidak pernah merasa sebaik ini." Jawab Hangeng sembari menyesap kopinya. "Kyuhyun akan menikah sebentar lagi. Dan aku lega karena dia mendapat wanita yang terbaik." Ucap Hangeng.

Pria paruh baya itu merubah ekspresi wajahnya saat mendengar perkataan Hangeng, membuat kepala keluarga Cho itu tidak enak hati pada akhirnya. "Ah... Bukan maksudku Zhoumi-"

"Aku mengerti, hyung. Kyuhyun memilih wanita itu karena memang dia mencintainya 'kan?" Kata pria itu-Kangin.

"Maaf!" Lirih Hangeng.

"Hmm?"

"Maaf karena tidak bisa memenuhi janjiku pada noona untuk menikahkan Kyuhyun dengan putri kalian." Kata Hangeng.

Kangin melangkah menuju jendela, menghela napas saat mengingat kejadian mengerikan puluhan tahun silam. "Seandainya kecelakaan sialan itu tidak pernah terjadi. Mungkin aku tak akan pernah kehilangannya dan juga anakku."

Hangeng menghampiri Kangin, berdiri di sebelahnya. "Kau tidak berusaha untuk mencarinya lagi?"

"Aku mencarinya pun kurasa aku tak akan siap jika harus bertemu dengannya." Jawab Kangin.

"Kenapa?" Hangeng mengernyitkan dahinya mendengar jawaban sang sahabat.

"Kau tahu sendiri 'kan statusku sekarang?"

Hangeng menepuk pundak sahabatnya. "Kalau kau masih mencintainya, carilah dia Kangin-ah. Hidupmu sudah sebegitu menyedihkannya. Kau pantas bahagia."

Dua orang lelaki dan dua wanita tampak sedang berbicang-bincang di sebuah cafe. Mereka berempat tampak bahagia dengan obrolan mereka tentang masa depan. "Teukie-ah, aku dan Hannie baru saja dari rumah sakit. Kami akhirnya memeriksakan jenis kelamin anakku. Dokter bilang dia laki-laki." Kata Heechul antusias sembari mengusap perutnya yang membuncit.

"Benarkah? Dua hari lalu aku juga melakukan USG dan dokter bilang anakku perempuan." Jawab Leeteuk tak kalah senangnya.

"Wah... Ini suatu kebetulan yang menyenangkan." Kata Hangeng menanggapi.

"Hangeng-ah, bagaimana kalau kita menjodohkan anak kita?" Tanya Leeteuk.

"Ide yang bagus noona. Aku yakin putrimu pasti sangat beruntung mendapat putraku yang super tampan." Ujar Hangeng bangga.

"Kau salah hyung. Anakmu yang akan beruntung mendapatkan putri kami. Aku akan mendidiknya menjadi wanita cantik dan baik hati seperti ibunya." Jawab Kangin membuat pipi Leeteuk bersemu.

"Aish... Kalian ini. Aku jadi tidak sabar menikahkan mereka."

"Ya! Chullie-ah. Kau melahirkan saja belum sudah ingin menikahkan putramu." Dan mereka berempat pun kembali tertawa merajut mimpi-mimpi indah dalam angan.

"Kau benar, hyung. Mungkin aku harus mencarinya lagi." Lirih Kangin saat tersadar dari lamunannya.

~oOo~

BRAK

Kyuhyun membuka kasar pintu ruang kerja sang ayah. Tanpa izin dari si pemilik ruangan, Kyuhyun segera merebahkan tubuhnya di sebuah sofa panjang yang terdapat di sana.

"Hei... Ada apa dengan putra appa? Kau terlihat buruk, Tuan Muda." Ejek Hangeng. Sementara Kyuhyun hanya diam tanpa bisa berhenti memijat keningnya.

"Kau kenapa hmm?" Tanya Hangeng mendudukan dirinya di samping Kyuhyun.

"Appa, Sungmin marah padaku." Adu Kyuhyun.

"Wanita memang terkadang sering marah tanpa sebab, Kyu. Kau hanya perlu sedikit merayunya dan-"

"Masalahnya Sungmin marah karena aku menamparnya."

"MWO? Siapa yang mengajarkanmu berbuat kasar pada wanita, hah?" Kesal Hangeng.

"Aku tak sengaja, appa. Sungmin tak ingin menjenguk ibu kandungnya bahkan dia juga tak ingin bicara dengan Jaejong eomma. Aku hanya kasihan pada mereka. Mereka merindukan Sungmin."

"Tunggu! Kau bilang ibu kandung Sungmin?" Tanya Hangeng dan Kyuhyun hanya mengangguk. "Maksudmu, Lee Yunho dan Lee Jaejong bukan orang tua kandung Sungmin?" Tanya Hangeng lagi.

"Iya appa. Mereka bukan orang tua kandung Sungmin. Itulah alasan Sungmin kabur dari rumahnya dan tinggal di apartemenku."

"MWO?"

"Aish... Bisakah appa tak berteriak?" Kesal Kyuhyun.

"Kau yang membuatku terkejut!" Kata Hangeng. "Jadi kau juga membohongi appa dan eomma tentang perjalanan bisnis ke Busan? Kau tidak pulang ke rumah karena tinggal dengan Sungmin di apartemenmu?" Lagi-lagi Kyuhyun mengangguk.

"Maaf sudah berbohong. Aku terpaksa karena Sungmin benar-benar kacau saat itu."

"Kyuhyun. Kalau Sungmin bukan anak kandung keluarga Lee, Apa kau tahu siapa orang tuanya?" Tanya Hangeng.

"Ne! Sungmin dirawat oleh Jaejong eomma karena ibu kandungnya koma saat melahirkan Sungmin. Ibu kandung Sungmin sangat cantik. Ya walaupun Jaejong eomma tak kalah cantik." Jawab Kyuhyun,

"Lalu siapa ayah kandungnya?" Tanya Hangeng lagi.

Kyuhyun mengangkat bahunya. "Tak tahu. Aku belum sempat bertanya pada mereka."

Kyuhyun yang menyadari raut wajah Hangeng tiba-tiba tersadar akan sesuatu. "Appa tidak berubah pikiran bukan tentang hubunganku dan Sungmin?" Tanya Kyuhyun.

"Maaf Kyu. Ini terlalu mengejutkan." Jawab Hangeng. "Kau tahu bagaimana dunia luar menyorot kehidupan keluarga Cho. Masalahnya kita juga tidak mengetahui siapa ayah kandung Sungmin." Lanjut Hangeng.

"Tapi ini semua juga di luar dugaanku. Bahkan Sungmin pun belum bisa menerima kenyataan ini. Aku mohon appa, tetap berikan restu untuk kami." Mohon Kyuhyun.

"Setidaknya biarkan appa bertemu dengan ibu kandung Sungmin. Appa perlu bicara dengannya."

"Baiklah. Bagaimana kalau besok?" Tanya Kyuhyun yang dijawab oleh anggukan dari Hangeng.

~oOo~

Sungmin kembali ke rumahnya. Ke rumah orang tuanya. Tanpa harus mengetuk pintu, gadis itu terus berjalan menuju sebuah kamar. Tetapi saat membuka pintu, sekujur tubuhnya kaku melihat pemandangan yang tak biasa.

Sang ayah Lee Yunho, pria tegar yang Sungmin sangat tahu anti mengeluarkan air mata kini tengah menangis terisak sambil memegang tangan ibunya. "Appa." Panggil Sungmin.

"Ya Tuhan nak. Kau dari mana saja? Eomma sudah menunggumu sejak empat hari lalu." Kangin memeluk tubuh anaknya. Melepas rindu karena berhari-hari Sungmin pergi dari rumah.

"Maaf appa. Aku hanya terlalu lemah melawan egoku." Kata Sungmin membalas pelukan sang ayah.

"Jangan tinggalkan appa lagi nak. Appa sudah tak punya siapa-siapa. Hanya kau satu-satunya keluarga appa." Sungmin tertegun mencerna perkataan ayahnya.

"Appa ini bicara apa? Kau masih punya eomma dan orang itu."

"Minnie, eomma sudah pergi nak. Eomma sudah pergi meninggalkan kita." Tangis Yunho pecah. Sungmin pun hanya bisa ikut menangis mendengarnya.

"Appa jangan bercanda." Sungmin menggelengkan kepalanya. "Eomma sedang tidur, iya 'kan appa?" Sungmin berjalan mendekat ke arah ranjang.

"Eomma tertidur untuk selamanya, sayang. Dia tidak bisa bertahan melawan sakitnya." Kata Kangin.

"Tapi Kyuhyun bilang eomma hanya pingsan." Kata Sungmin masih menyangkal.

"Kau terlambat, Minnie. Eomma memang sempat siuman saat di rumah sakit. Tapi dia menutup matanya lagi saat tak menemukanmu." Kini Yunho sudah merangkul bahu Sungmin yang bergetar.

"Tidak! Ini tidak mungkin." Teriak Sungmin. "Katakan eomma masih hidup appa. Katakan kau hanya mengerjaiku. Katakan kau hanya menghukumku karena aku pergi dari rumah. Aku mohon katakan kalau semua ini lelucon appa." Sungmin menangis saat menyadari kenyataan yang terjadi. Ia terlambat.

"Maaf nak. Biarkan eomma beristirahat dengan tenang." Sungmin menggeleng tidak percaya. Ingin sekali meneriaki dirinya yang bodoh. Ingin sekali mencaci dirinya yang egois.

"EOMMA."

Gadis itu terbangun. Napasnya tidak beraturan, peluh mengalir di dahi indahnya dan jangan lupakan juga setitik air mata yang menetes di pipinya.

Sungmin meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. "Jam dua siang."

"Ya Tuhan. Apa maksud mimpiku tadi?" Tanya Sungmin pada diri sendiri.

"Sekeras-kerasnya kau menghindar kau tetap tidak bisa merubah takdir"

"Kenapa kau tidak mengambil sisi positifnya saja?"

"Aku merindukan kekasihku yang selalu bermanja-manja dengan orang tuanya. Aku merindukan kekasihku dan orang tuanya yang saling bertukar canda dan mengejek. Aku merindukan kekasihku yang selalu kompak membuatkan sarapan untukku. Bukan kau yang sekarang membenci orang tuamu."

Kata-kata Kyuhyun terus berputar di otak Sungmin. Sedikit berpikir sekaligus merasa takut dengan kejadian di mimpinya gadis itu akhirnya beranjak dari tempat tidur. "Aku harus pulang."

~oOo~

Kyuhyun tak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Jiwa pria itu melayang. Memikirkan Sungmin apakah gadis yang dicintainya itu baik-baik saja? Kyuhyun ingin menelpon tapi masih sangat yakin jika sang kekasih tak akan menjawab. Setidaknya ia merasa sedikit menyesal telah meninggalkan Sungmin tadi.

Tok...Tok...Tok...

"Masuk." Kyuhyun menoleh saat sekertarisnya berdiri di ambang pintu.

"Maaf Tuan, Nona Lee ingin bertemu anda." Mata Kyuhyun terbelalak. Ia sangat tahu siapa Nona Lee yang dimaksud sekertarisnya itu.

"Persilahkan dia masuk." Sekertaris Kyuhyun mengangguk, dan tak lama berselang Sungmin masuk dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Sungmin." Sapa Kyuhyun bangkit dari kursinya. "Ada apa kesini? Kau masih belum sembuh, sayang."

"Kyu~" Sungmin memeluk Kyuhyun erat. Menyandarkan kepalanya di dada sang kekasih.

"Hei... Kau kenapa?" Tanya Kyuhyun saat menyadari bahu gadisnya bergetar. Sungmin menangis.

"Aku mimpi buruk." Jawab Sungmin.

Kyuhyun melepaskan pelukannya. Menangkupkan kedua tangannya di pipi Sungmin. "Mimpi apa? Mau bercerita?" Tanya Kyuhyun.

"Akan kuceritakan nanti. Tapi bisakah kau membantuku sekarang?" Tanya Sungmin dengan tatapan memohon.

"Kau ingin aku melakukan apa, Ming? Aku pasti membantumu." Tanya Kyuhyun.

"Antarkan aku ke rumah eomma." Lirih Sungmin.

Tubuh Kyuhyun menegang seketika. Ini terlalu mengejutkan dan membingungkan untuknya. Apa Sungmin sudah mulai belajar menerima kenyataan?

Tak lama berselang Kyuhyun tersenyum mendengar permintaan Sungmin. "Pasti sayang. Kita berangkat sekarang?" Tanya Kyuhyun.

"Hmm." Jawab Sungmin mengangguk.

"Baiklah aku ambil kunci mobil dulu." Kyuhyun baru akan melangkah namun tangan Sungmin mencegahnya.

Kyuhyun yang merasa ditahan membalikkan tubuh dan tersenyum saat melihat Sungmin menundukkan kepalanya. "Maafkan aku." Lirih Sungmin.

Kyuhyun mengangkat dagu Sungmin. Membuat mata keduanya bertemu. "Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Minta maaflah pada orang tuamu dan Leeteuk eomma."

"Tapi..." Sungmin ragu akan melanjutkan perkataannya atau tidak. "Tapi aku tidak yakin mereka akan memaafkanku. Aku terlalu egois." Lanjut Sungmin.

Kyuhyun mengerti maksud ucapan kekasihnya itu. Ia mengecup kening Sungmin singkat sebelum kembali mendekap Sungmin dan membelai surai hitamnya. "Kau tahu sayang? Semarah-marahnya orang tua pada anaknya, mereka pasti memiliki pintu maaf yang sangat luas. Aku yakin orang tuamu pasti akan mengerti, biar bagaimanapun juga tak mudah untukmu menerima kenyataan ini." Kata Kyuhyun.

"Tapi kalau mereka tak mau memaafkanku bagaimana?" Tanya Sungmin.

"Aku yakin hal itu tak akan pernah terjadi."

~oOo~

"Sebenarnya kenapa tiba-tiba berubah pikiran begini, Ming?" Tanya Kyuhyun. Saat ini keduanya sedang berada di perjalanan menuju rumah Jaejong.

"Aku mimpi buruk, Kyu. Aku mimpi eomma meninggal saat aku ingin meminta maaf. Aku takut." Jawab Sungmin.

Kyuhyun menoleh ke arah Sungmin, sedikit mengulas senyum saat menyadari Sungmin sedang menahan tangis.

Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin sesaat setelah pria itu menepikan mobilnya. "Menangislah."

Sungmin menoleh dan perasaannya semakin tak karuan. "Aku bilang menangislah. Kau sama sekali tak berbakat menahan tangis seperti itu." Kata Kyuhyun.

Tidak sampai lima detik Sungmin langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Kyuhyun. Dia memang ingin menangis tapi tak tahu untuk alasan apa.

Kyuhyun hanya berusaha sabar sambil sesekali menenangkan gadisnya. "Kyuhyun. Kalau aku boleh jujur pada hatiku, sebenarnya aku sama sekali belum siap bertemu eomma." Kata Sungmin tersendat-sendat karena bicara sambil menangis.

"Lalu mengapa kau memaksakan diri bertemu eomma?" Tanya Kyuhyun.

"Karena aku takut semua yang ada di mimpiku tadi menjadi kenyataan." Jawab Sungmin.

"Sayang, boleh aku bicara satu hal?" Kyuhyun melepaskan pelukannya dan memaksa mata foxy Sungmin untuk menatapnya. Sungmin menganggukan kepalanya. "Menurutku lebih baik kau dengarkan dulu penjelasan eomma. Mereka pasti memiliki alasan sampai harus menutupi semua ini darimu."

Sungmin tidak menjawab, hanya matanya saja yang menatap tajam ke arah Kyuhyun. "K-kau jangan salah paham dulu, Ming." Kata Kyuhyun saat mengetahui sinyal kemarahan dari mata Sungmin. "Aku bukan membela siapapun. Aku hanya tak ingin masalahmu ini semakin berlarut. Kau tak bisa berbohong jika kau merindukan orang tuamu. Untuk itu dengarkanlah penjelasan mereka. Terserah apa nanti kau bisa menerima alasan itu atau tidak, tapi setidaknya berikan mereka kesempatan." Lanjut Kyuhyun.

"Tapi orang itu sudah membuangku."

"Bukan membuang, sayang. Kau sendiri yang bilang jika Leeteuk ahjumma koma saat melahirkanmu. Mungkin Jaejong eomma hanya ingin merawatmu."

"Terserah kau, Cho! Aku memang tidak akan menang jika harus berdebat denganmu." Kesal Sungmin.

Kyuhyun tersenyum saat Sungmin mengerucutkan bibirnya. "Aku senang Sungminku sudah kembali." Kali ini pria itu membawa tubuh sintal Sungmin ke pelukannya. "Aku merindukanmu, Lee Sungmin."

~oOo~

Sungmin mengetuk pintu rumah sederhana yang terlihat sepi itu. Jantungnya semakin berdegup cepat saat pintu rumahnya terbuka, dadanya berdesir hangat kala ia melihat sosok pria paruh baya yang sangat ia rindukan kini tengah berdiri didepannya. Tanpa banyak kata ia langsung menerjang tubuh gagah pria itu. "Appa!" Sungmin tak menyadari air matanya sudah lolos.

"Kau kembali, nak?" Tanya Yunho masih diantara batas percaya dan tak percaya membalas pelukan Sungmin.

"Appa, aku merindukanmu."

"Appa bahkan lebih merindukanmu, nak." Yunho melepaskan pelukannya untuk kemudian menghadiahi kecupan bertubi-tubi di kening Sungmin. Di belakang, Kyuhyun hanya bisa tersenyum lega melihat adegan ayah dan anak yang bersatu kembali ini.

"Appa bagaimana keadaan eomma? Kyuhyun bilang eomma sempat pingsan." Tanya Sungmin khawatir.

Tak menjawab pertanyaan anaknya, Yunho yang melihat Kyuhyun berdiri di belakang Sungmin sedikit merengut. "Kenapa baru membawa Sungmin pulang setelah empat hari tak memberi kabar, Tuan Cho?" Tanya Yunho kesal.

Kyuhyun hanya bisa tersenyum. "Anakmu itu keras kepala, Appa. Aku bahkan hampir kehilangannya karena memaksa tuan putri ini untuk pulang." Jawab Kyuhyun membela diri.

"Yasudah, masuklah dulu. Kau lihat sendiri bagaimana keadaan eommamu." Ajak Yunho.

Mereka bertiga berjalan menuju kamar utama di rumah itu. Hampir satu minggu Sungmin pergi, ternyata ia sangat merindukan rumah ini. Kenangan manisnya berputar saat mengingat kehangatan yang ia dapat dari orang tersayangnya.

"Jae-ah, lihat siapa yang datang." Ujar Yunho saat memasuki kamar mereka diikuti Sungmin dan Kyuhyun.

"Hhh... Sepertinya eommamu masih tidur, Min." Yunho mendudukan diri di pinggir ranjang menyibakan anak rambut di kening istrinya yang sedikit berantakan.

Sungmin semakin mendekat, hatinya berdenyut nyeri saat melihat tubuh Jaejong yang semakin kurus. Pandangannya terhenti pada tangan kiri Jaejong, gadis kelinci itu semakin tersenyum miris saat ibunya tertidur sambil menggenggam sebuah syal berwarna pink hasil rajutan tangannya. 'Apa eomma benar-benar semenderita ini saat aku pergi?'

Tanpa banyak kata Sungmin membaringkan diri di sisi kiri Jaejong dan memeluk tubuh ibunya dengan sayang. Kyuhyun yang duduk di samping Sungmin terus mengusap punggung gadisnya. Pria tampan itu berani bertaruh kalau sebentar lagi sang kekasih akan menangis.

"Eomma... Hiks... Aku minta maaf." Kata Sungmin tanpa melepaskan tangannya pada perut sang ibu.

Merasa tidurnya terusik Jaejong mencoba membuka matanya. Sesaat ia sadar akan wangi baby cologne yang menyeruak masuk ke indra penciumannya. Tanpa harus membuka mata ia sangat hapal dengan wangi ini.

"Sungmin, Nak kau pulang?" Tanpa memperhatikan rasa pening di kepalanya wanita paruh baya itu segera bangkit bersandar di kepala ranjang.

"Eomma, maafkan aku. Kau jadi sakit begini karenaku." Lirih Sungmin bangun dari rebahnya dan memeluk sang ibu. Tak henti-hentinya bibir plump gadis itu mengeluarkan isakan.

"Kau tak salah, nak. Eomma yang seharusnya meminta maaf padamu. Eomma mengecewakanmu ya?" Tanya Jaejong.

"Aku memang kecewa karena eomma membohongiku."

"Tapi demi Tuhan, Minnie-ah. Eomma melakukan itu karena tak punya pilihan lain." Jawab Jaejong masih memeluk Sungmin.

"Ya aku tahu, eomma. Aku minta maaf dan aku akan menunggu penjelasan eomma." Sungmin tersenyum. "Eomma, kenapa sampai sakit?" Pelukan Jaejong semakin erat, seperti tidak ingin anaknya pergi lagi.

"Eomma tak apa sayang. Eomma hanya merindukanmu." Jawab Jaejong.

"Aku juga merindukanmu. Maaf sudah membuat eomma seperti ini." Air mata keduanya sudah tak bisa tertahan.

Yunho yang sejak tadi memandang sendu kedua wanita yang dicintainya akhirnya membuka mulut. "Jae-ah, aku rasa sudah saatnya Sungmin tahu yang sebenarnya. Lagipula disini juga ada Kyuhyun, biar semua jelas dan kita bisa memulai hidup baru setelah ini." Kata Yunho yang menyadari kalau semua harus diluruskan sekarang.

Jaejong mengangguk, menatap ragu ke arah Kyuhyun kemudian. "Kyu, kau benar tak akan merubah pendirianmu saat sudah mengetahui semuanya?"

"Tak akan eomma. Aku terlalu mencintai Sungmin sampai aku tak pernah peduli dengan masa lalunya." Jawab Kyuhyun yakin.

Sungmin merasa hatinya menghangat saat mendengar jawaban Kyuhyun. Gadis itu kemudian mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun dan dengan segera pria itu melingkarkan tangannya di perut Sungmin. "Eomma, aku masih menunggu penjelasanmu. Aku mohon jangan tutupi apapun dariku lagi." Pinta Sungmin.

"Tapi kau janji ya, apapun yang terjadi jangan pernah berubah. Kau selamanya akan menjadi putri kami."

"Iya eomma. Aku berjanji."

Yunho menyusul Jaejong yang sudah berlari masuk ke dalam kamar mereka lebih dulu. Hatinya sakit melihat sang istri yang tidak berhenti menangis. "Jongie-ah, sudahlah. Bukan hanya kau yang terpukul dengan kenyataan ini. Aku juga." Kata Yunho seraya membelai punggung istrinya lembut.

"Tapi kau dengar sendiri penjelasan dokter tadi. Aku tak bisa hamil, Yunho. Aku tak akan bisa memberimu keturunan Lee. Aku merasa gagal. Hiks" Isak Jaejong menuangkan isi hatinya.

"Sabarlah sayang. Vonis dokter bukan akhir segalanya. Hanya Tuhan yang bisa menentukan apakah kau bisa hamil atau tidak." Kata Yunho menenangkan.

"Tidak mungkin. Bahkan aku sudah berhenti berharap akan sebuah keajaiban. Semuanya semakin nyata saat dua tahun pernikahan kita tapi aku tak kunjung menunjukan tanda-tanda kehamilan." Tangis Jaejong makin keras.

"Sssttt... Sudahlah. Kau cukup percaya padaku. Aku tak akan pernah meninggalkanmu." Yunho mengecup pucuk kepala istrinya. "Kalau kau sudah siap kita bisa mengadopsi anak nanti." Lanjut Yunho.

"Tapi-"

"Tak ada tapi. Keputusanku sudah bulat. Kita akan mengadopsi anak."

Drrttt... Drrrtttt...

Jaejong menghapus air matanya saat merasakan getaran di saku celananya. Setidaknya Yunho tidak mempermasalahkan hasil vonis dokter tadi sehingga ia bisa sedikit lega.

"Hallo!" Jawab Jaejong

"Apa benar nomor ini milik Lee Jaejong?" Tanya seorang pria dengan suara tegas di seberang sana.

"Ne! Aku Lee Jaejong."

"Ah selamat siang Nyonya Lee, saya kepala kepolisian daerah Seoul. Maaf apa kau mengenal Tuan Kim Youngwoon dan istrinya Kim Leeteuk?"

Jaejong sedikit mengerutkan keningnya. "Ya, aku sangat dekat dengan Nyonya Kim, dia sahabatku. Tapi kalau suaminya hanya beberapa kali bertemu saja." Jawab Jaejong jujur.

"Bisakah kau ke rumah sakit umum Seoul? Nyonya Kim dan suaminya mengalami kecelakaan dan mobilnya terbakar."

"Apa? Baiklah aku segera kesana."

PIIP

Jaejong dan Yunho berlari panik di koridor rumah sakit. Tujuan mereka hanya satu, ruang emergency. Jaejong yang melihat seorang dokter keluar dari ruangan itu pun segera menghampiri. "Dokter, tadi saya mendapat telepon dari pihak kepolisian Seoul. Mereka memberitahu tentang Kim Leeteuk dan suaminya yang mengalami kecelakaan." Kata Jaejong sedikit panik.

"Ah jadi anda keluarga Nyonya Kim?" Tanya dokter itu.

"Ne, dia kakakku."

"Baiklah Nyonya-"

"Jaejong. Lee Jaejong."

"Ya Nyonya Lee, keadaan Nyonya Leeteuk cukup parah namun syukurlah hal itu tidak berpengaruh pada kandungannya. Calon bayinya selamat."

"Ba-bayi?"

"Ya, Nyonya Lee sedang dalam masa kehamilan saat ini. Usia kandungannya sudah memasuki bulan kelima. Syukurlah ia sangat kuat untuk mempertahankan kandungannya."

"Lalu bagaimana dengan suaminya dokter?" Kali ini Yunho yang bertanya.

"Maaf Tuan, sampai saat ini polisi masih mencari keberadaan Tuan Kim. Dia dinyatakan hilang."

Jaejong merawat Leeteuk dengan sangat baik, bahkan wanita cantik itu hanya membutuhkan waktu sebulan untuk penyembuhan pasca kecelakaan. Sejak saat itu juga Leeteuk tinggal bersama Jaejong di Ilsan dan meninggalkan rumah mewahnya dengan Kangin di Seoul. Ia terus berkomunikasi dengan para polisi yang mengurusi kasus kecelakaan yang terjadi padanya dan sang suami. Sampai detik ini pun mereka belum berhasil menemukan keberadaan KimYoungwoon-suami Leeteuk.

Pada awalnya Leeteuk mengalami shock hebat saat mengetahui sang suami yang dinyatakan hilang. Namun Jaejong dan Yunho selalu mendukung dan menyadarkannya bahwa sekarang ada makhluk tidak berdosa yang membutuhkan dirinya. Perlahan Leeteuk mulai bangkit dan belajar memulai hidup baru bersama keluarga Lee sembari menunggu kabar baik dari penyelidikan kasusnya.

"Eonni, minumlah susumu. Nanti dingin dan kau akan merasa mual seperti kemarin." Ujar Jaejong seraya memberikan segelas susu vanilla khusus ibu hamil.

"Nanti saja Jae-ah, aku sedang menunggu kabar dari pihak kepolisisan." Jawab Leeteuk.

"Eonni, polisi bilang kemungkinan besar Kangin oppa tewas saat kecelakaan itu terjadi." Kata Jaejong hati-hati, khawatir Leeteuk akan merasa sedih.

Leeteuk tersenyum. "Aku tahu Jongie sayang." Ujar Leeteuk mengusap bahu Jaejong. "Tapi entah mengapa hatiku sangat yakin kalau Kangin masih hidup. Kalaupun memang dia meninggal saat kecelakaan itu, aku ingin mereka menemukan jasad Kangin. Aku ingin memakamkan suamiku dengan layak."

"Hahh... Terserahmu saja eonni. Yang penting jaga kesehatanmu. Aku tak ingin terjadi sesuatu dengan bayimu. Kau harus bersyukur karena kau bisa hamil. Banyak orang diluar sana yang ingin memiliki anak tapi tak seberuntung dirimu." Kata Jaejong.

Leeteuk yang memang sudah mengetahui permasalahan Jaejong pun hanya bisa tersenyum sendu. "Jangan bicara seperti itu, Jae-ah." Leeteuk menarik tangan Jaejong dan meletakannya di perut Leeteuk yang sedikit membuncit. "Mulai saat ini, anak ini juga anakmu, kita akan merawatnya bersama." Lanjut Leeteuk memberikan senyum terbaiknya.

Tanpa terasa, kandungan Leeteuk sudah memasuki bulan kesembilan. Susah payah ia merawat kandungannya karena dokter sudah mengingatkannya dengan sangat keras bahwa kandungan wanita itu cukup lemah. Leeteuk dilarang melakukan pekerjaan berat atau merasa stress. Saat ini ia sedang menyaksikan acara televisi. Yunho sudah pergi bekerja dan Jaejong sedang ke mini market untuk membeli beberapa keperluan rumah tangga.

Matanya terus terfokus pada layar TV saat sebuah infotainment memberitakan suatu hal yang mengejutkan untuknya. "ARTIS DAN MODEL KIM TAEYON MELANGSUNGKAN PERNIKAHAN DENGAN SEORANG PENGUSAHA MUDA KIM YOUNGWOON." begitulah kira-kira headline di salah satu infotainment yang ia tonton,

Tubuh Leeteuk menegang saat melihat gambar suaminya mengenakan tuxedo pernikahan bersama seorang wanita lain, tanpa ia sadari air matanya sudah mengalir deras di pipi putihnya. Kepalanya pusing dan wanita itu merasa sang jabang bayi terus menerus menendang perutnya. Ia merintih kesakitan sampai Jaejong yang baru saja pulang dari mini market melihat cairan bening mengalir di kaki sang kakak. "Ya Tuhan, eonni."

"Jongie, perutku sakit." Kata Leeteuk memegangi perutnya.

"Sepertinya kau akan melahirkan eonni, aku akan panggil taxi. Bertahanlah!" Teriak Jaejong panik.

"Aahhhhhh... Ini sakit sekali Jongie." Teriak Leeteuk. "Kangin... Kangin sudah menikah lagi." Lanjutnya.

"Diamlah eonnie, jangan bicara macam-macam soal Kangin oppa di saat seperti ini." Ucap Jaejong semakin panik. Tangannya sibuk mendial nomor operator taxi.

"Aku... Aku tidak... Ahhhhh... Aku tidak bercanda. Kangin sudah melupakanku." Remasan tangan Leeteuk di perutnya semakin keras. "Arrghhh ini semakin sakit." Ucapan terakhir Leeteuk sesaat sebelum kesadarannya menurun dan ia jatuh pingsan.

Jaejong dan Yunho sedang menunggu di depan ruang operasi. Sudah hampir dua jam mereka menunggu namun tidak ada tanda-tanda jika operasinya sudah selesai. Setelah empat jam menunggu, barulah lampu berwarna merah itu mati dan seorang dokter keluar dari ruangan itu. "Bagaimana keadaan kakak saya?" Jaejong langsung menyerang dokter itu dengan pertanyaannya.

"Bayi Nyonya Kim lahir dengan selamat. Jenis kelaminnya perempuan." Ucap dokter itu sedikit melegakan hati pasangan Lee.

"Lalu ibunya?"

"Nyonya Kim tak sadarkan diri pasca melahirkan. Ia kehilangan banyak darah dan saat ini beliau dalam keadaan koma." Jaejong langsung menangis saat mendengar penjelasan dokter.

"Kapan noona Leeteuk akan sadar, dokter?" Tanya Yunho.

"Entahlah tuan, bisa satu minggu, satu bulan, satu tahun, atau kemungkinan terburuknya Nyonya Kim tak bisa melewati masa komanya. Kita hanya bisa menunggu keajaiban Tuhan."

"Dan sejak saat itulah eomma dan appa memutuskan untuk merawatmu, Minnie. Kami tidak tahu kapan Leeteuk eonnie akan sadar, dan kami tidak mungkin membiarkanmu hidup tanpa orang tua." Kata Jaejong mengakhiri ceritanya.

"Eomma~" Sungmin beralih memeluk Jaejong. Tak henti-hentinya air mata keluar dari foxy gadis itu. Biarlah hari ini ia menangis sepuasnya, yang penting setelah ini ia bisa memulai hari baru dengan keluarganya. "Maaf sudah bersikap egois. Terima kasih sudah merawatku. Eomma dan appa selamanya akan menjadi orang tuaku."

"Terima kasih Minnie. Terima kasih sudah mau mengerti."

Sungmin merasa bersalah karena sudah menolak Leeteuk dalam hidupnya. Bagaimana mungkin ia membenci ibu yang sudah berjuang keras demi melahirkannya. "Lalu kapan kau akan berbicara dengan ibu kandungmu, sayang?" Tanya Jaejong.

"Entahlah eomma. Aku rasa Leeteuk ahjumma tak akan memaafkanku."

"Biasakan dirimu untuk memanggilnya eomma, Minnie." Tegur Yunho. "Leeteuk noona bukan seorang pendendam. Dia pasti bisa mengerti perasaanmu."Lanjut Yunho.

"Aku akan berusaha appa." Jawab Sungmin membuat kedua orang tua asuhnya tersenyum lega.

Kyuhyun yang sedari tadi menyimak dengan baik penuturan Jaejong memberanikan diri membuka suara. "Eomma, jadi ayah kandung Sungmin itu bernama Kim Youngwoon?" Tanya Kyuhyun yang dibalas dengan anggukan oleh Jaejong.

"Aku mengenalnya eomma, kedua orang tuaku bahkan berteman baik dengannya." Mata Sungmin membulat tak percaya. Begitu juga dengan Jaejong dan Yunho.

"Apa? Kau serius, Kyuhyun?" Tanya Sungmin.

"Ya... Kangin ahjusshi adalah ayah Zhoumi."

"APA?"

~oOo~

Kini keempatnya masih berada di kamar Jaejong. Mereka saling melepas rindu dan berbagi cerita saat mereka ditinggalkan dan meninggalkan. Sungmin memutuskan untuk tidak memikirkan dulu masalah ayah kandungnya. Pikirannya sudah terisi penuh dengan berbagai macam masalah. Saat ini ia hanya ingin fokus dengan keluarga dan pernikahannya dengan Kyuhyun yang tinggal menghitung minggu.

Jaejong memegang kedua pipi Sungmin memastikan keadaan sang anak. "Kau baik-baik saja 'kan Minnie? Kau makan dengan baik 'kan? Tetapi kenapa kantung matamu terlihat seperti panda? Apa kau terus mengangis sepanjang hari? Ya Tuhan, Minnie jangan buat eomma khawatir lagi." Sungmin tersenyum kecil mendengar pertanyaan ibunya yang bertubi-tubi.

"Aku tak apa eomma. Calon menantu kesayanganmu menjagaku dengan sangat baik." Jawab Sungmin mencoba mencairkan suasana.

Jaejong menoleh ke arah Kyuhyun dan tersenyum, tangan kirinya mencoba meraih jemari panjang kekasih anaknya itu. "Terima kasih Kyuhyun."

Kyuhyun balas menggenggam tangan Jaejong dan mengecupnya singkat. "Jangan percaya seratus persen pada kata-kata putrimu, eomma. Dia bahkan mogok makan selama tiga hari karena marah padaku." Sungmin menatap tak terima ke arah Kyuhyun seakan berkata "Jangan bicara macam-macam."

"Apa maksudmu?" Tanya Jaejong. "Kalian bertengkar?" Kali ini mata sayu wanita cantik itu mengarah ke foxy Sungmin.

"Sudahlah eomma, tak perlu dengarkan Kyuhyun. Aku hanya kesal karena dia mengganti pakaianku tanpa izin." Jaejong yang mendengarnya segera menatap nyalang ke arah Kyuhyun. "Hei... Bagaimana aku meminta izin? Kau pingsan dan bajumu basah karena kehujanan. Tentu saja aku tak mau ambil resiko jika kau sampai sakit."

"Tunggu! Sungmin pingsan? Ya Tuhan nak, kau sakit?"

"Eomma~ Jangan dengarkan Kyuhyun. Dia saja yang terlalu berlebihan." Sungmin kembali memeluk ibunya. "Aku tak apa. Hanya demam karena kehujanan." Jawab Sungmin menutupi kenyataan sebenarnya.

"Tapi kau sampai pingsan, Minnie."

"Aku sudah sembuh setelah dikurung tiga hari oleh pria itu." Adu Sungmin.

"Aigo~ baru ingin menikah saja sudah seromantis ini. Aku bertaruh jika aku tak perlu menunggu lama untuk mendapat cucu dari kalian." Kata Yunho menggoda pasangan ini.

"Aku akan mengabulkan mimpimu secepatnya appa." Jawab Kyuhyun.

Dan keempat orang itu larut dalam tawa bahagia tanpa menyadari seorang wanita lagi yang hanya bisa mengintip dari celah kecil pintu kamar yang terbuka. Ia tersenyum bahagia, setidaknya Sungmin sudah tidak membenci Jaejong dan Yunho. "Kau sudah kembali Min-ah. Sepertinya kau memang bahagia di tengah keluargamu. Baiklah sebaiknya aku menyerah." Setelah merapatkan pintu itu, sang wanita paruh baya mendorong kursi rodanya untuk menjauh. Ia hanya bisa menangis saat putri kandungnya belum bisa menerima kehadirannya.

Sungmin, Kyuhyun, Jaejong dan juga Yunho yang menyadari ada seseorang yang menutup pintu kamarnya langsung terdiam dan menatap daun pintu itu dengan pandangan berbeda. "Itu pasti eommamu, Min. Ia sudah keluar dari rumah sakit dan memilih menjalani rawat jalan untuk melakukan fisioterapi." Tubuh Sungmin menegang. Bergantian ia menatap kedua orang tuanya. Terakhir matanya berhenti di kedua onyx hitam milik Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum dan mengecup kening Sungmin lama. "Temui dia sayang." Lirih pria itu.

Seakan terhipnotis dengan kalimat Kyuhyun, Sungmin bangkit dari duduknya membuka pintu dan menatap sendu punggung wanita yang terlihat kesusahan mendorong kursi rodanya. Dengan cepat Sungmin berjalan mendekat dan meraih pegangan di kursi roda itu. "Biar kubantu... Eomma."

Leeteuk menghentikan pergerakan tangannya, tubuhnya bergetar mendengar panggilan merdu Sungmin untuknya. Eomma, Sungmin memanggilnya eomma. Leeteuk menatap sendu wajah putrinya. Sungminnya tersenyum, senyum yang sama yang ia tunjukkan pada Jaejong. "S-Sungmin..."

Sungmin meraih tangan Leeteuk dan menggenggamnya. "Ne... Eomma." Jawabnya sembari tersenyum.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.


Pertama-tama, saya mau minta maaf atas waktu update fic ini yang sangat lama. Tapi saya begini bukan tanpa alasan. Untuk temam-teman yang sering melihat kegalauan saya di "TKP" pasti tahu apa yang menyebabkan saya kehilangan mood untuk publish fic ini (tolong digaris bawahi, kehilangan mood untuk publish, bukan untuk menulis). Semoga dengan selesainya masalah tersebut, saya bisa mendapatkan feel saya kembali di FFN ini. :)

Dan untuk yang sudah tahu kalau saya akan membuat Remake story, sepertinya saya batalkan karena kemarin saya melihat sudah ada yang mempublish fiction KyuMin dari novel yang sama. Jadi lebih baik nanti selesai My Caddy Girl, saya akan fokus di Catch Me On Summer Snow saja.

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa review ya. Untuk yang sudah review di chapter-chapter sebelumnya saya juga mau berterima kasih.

Click the review button please. Keep reading, review-in and the next chapter will be updated soon.

Much love

Kyuhyuniverse