Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Run away
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Run away by author03
Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.
Romance\Drama
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 12
.
.
.
"Mari kita pulang." pinta Naruto ketika keningnya menempel ke kening Hinata.
Dengan rasa haru dan bahagianya, Hinata tersenyum dan mengangukkan kepalanya.
.
.
.
.
"Aku akan membunuhmu! Padahal aku sudah keluar dari sini semalam. Kau jalang sialan!" bantal sofa mahal itu terus menghantam tubuh yang terpojok di pojokan dinding itu.
"Sakit bodoh! Siapa suruh kalian megurungku!" kedua tangan putih itu menghalang bantal mahal itu agar tak menghantamnya. Dirinya adalah korban disini. Mereka menguncinya diruangan entah dimana, wajar saja jika dirinya kabur, kan?
"Aku belum makan sedari malam tadi brengsek!" kaki itu menginjak kesal lutut itu. Pagi-pagi buta ia melihat gadis sialan ini layaknya maling dimana-mana. Tentunya Shion bertujuan untuk menangkapnya tapi dia malah lari dan berakhirkah mereka dengan tersesat entah dimana.
Shion melempar bantal mahal itu ke wajah gadis bernama Sakura ini dan menjatuhkan bokongnya ke lantai.
"Aku akan mati kelaparan sebentar lagi." kedua tangannya menyentuh perutnya yang terus berbunyi. Sudah jam berapa ini? Yang Shion tahu ia lumayan lama mencari jalan dan menghajar gadis sialan ini.
"Aku juga lapar sialan! Kalian mengurungku tanpa memberiku Makan."
.
.
.
Hinata tersenyum ketika tangan Naruto setia mengengam tangannya dan menuntunnya masuk kedalam rumah. Mereka baru saja tiba ke Konoha dengan helikopter. Jam telah menunjuk pukul 13.42
"Kau tahu? Saat aku terjebak waktu itu. Gadis itu terlihat mirip denganmu. Aku memanggil namamu waktu itu tapi tiba-tiba kau muncul dari balik pintu dan itu sungguh membuat aku terkejut dan aku langsung sadar waktu itu." Senyum lucu menghiasi bibir Naruto. Itu bukan kejadian yang boleh di tertawakan tapi ketika mengingat kejadian itu lagi. Rasanya sangat lucu. Ia melihat dua Hinata.
Hinata membalas tersenyum lucu. Kejadian itu tak lagi penting untuknya. Ia telah tahu kejadian itu adalah salah paham, jadi biarkan saja hal itu berlalu.
"Aku haus sekali." Hinata menganti topik pembicaraan. Terus tersenyum membuatnya sangat haus.
"Aku juga. Sebaiknya kau beristirahat dulu. Kau pasti lelah."
Hinata menggangukkan kepalanya sebagai jawaban.
.
.
.
.
"Shion? Kau!" Shion membuka matanya dan mendudukkan dirinya, menatap siapa yang tengah berdiri dibelakangnya. Padahal ia sudah setengah tertidur tadi.
"Bos!" tangan Shion merebut gelas ditangan Hinata dan meneguk habis air itu dan meletakkan gelas itu ke lantai.
"Hah! Hah!" seketika badannya kembali menghempas lantai keramik. Nafasnya terengah-engah layaknya ikan yang hampir mati kekeringan, lega karena berhasil masuk kedalam air.
...
Mata Hinata tertuju pada seorang gadis bersurai pink tertidur bersandar dilantai diseberang Shion.
"Berani sekali kau." ucap Naruto terkejut. Berani sekali dia merebut minuman Hinata.
"Bos.. Hah~ Tak ada siapapun yang memerlukan rumah sebesar ini." ucap Shion lemah. Seketika saja matanya kembali terpejam. Ia sungguh lelah, haus, lapar, mati rasa.
...
Naruto berjalan menghampiri meja kecil dipojokan ruang tamu tak jauh darinya.
Ia mengangkat telepon itu dan menekan beberapa angka.
"Urus dua manusia di lantai tiga ini. Kirimkan Shion pulang ke Suna dan mmm" Naruto memberi jeda. Ia bahkan tak mengenal gadis pink itu. Mau di kirim kemana? Dan perlu kah jika Naruto menyiksanya saja daripada membiarkannya bebas? Dia telah membuat Hinata salah paham.
...
Hinata mengedikkan bahu ketika Naruto menatapnya. Ia tak tahu harus berkata apa. Sejujurnya, ia juga tak begitu kesal lagi.
"Terserah. Pokoknya bawa gadis pink itu jauh dari sini. Jika perlu buang dia ketempat pembuangan sampah akhir." Naruto menutup telepon itu.
"Bukankah itu berlebihan?" ucap Hinata ragu. Dia tak serius kan soal pembuangan akhir itu?
"Tentu saja tidak." Naruto menarik lembut tangan Hinata dan membawanya pergi. Beruntunglah lift sedang bermasalah jadi dirinya melewati tempat ini, jika tidak mereka berdua pasti mati kelaparan disini.
.
.
.
.
Satu minggu kemudian..
Hinata pov.
Sesak.
Sesak.
Sesak.
Hanya kata itu yang terus menganggu pikiranku.
Aku berusaha memasang wajah setenang mungkin tapi aku tak bisa. Bagaimana bisa?
Aku tengah berjalan menuju altar tapi bukan itu yang aku khawatirkan.
Apa yang aku khawatirkan adalah apa yang melekat di badanku ini. Gaun putih dengan ekor entah berapa panjang dan dipenuhi berlian. Asataga. Bisakah kalian menyebutkan harga dari gaun ini?
Aku bahkan hampir tak berani bernafas karena takut tarikan nafas panjang bisa membuat berlian di gaun ini terlepas meskipun hal itu tak mungkin. Ini bukan gaun murahan.
Rambut ku tersenggol rapi keatas dan dihiashi oleh sebuah mahkota yang ah sudahlah mahalnya itu.
Kepalaku sedikit tertunduk. Kejadian ini mengingatkan ku pada pertama kali aku mengenal Naruto. Dimana barang mewah selalu berada tepat didepanku. Sungguh mengerikan. Meskipun aku sering melihat barang mewah ketika bersamanya tapi kali ini apa yang aku lihat jauh lebih mewah dan mahal.
Aku senang tapi disatu sisi aku merasa ngeri. Aku sudah mengatakan pada calon suamiku bahwa aku tak perlu pernikahan semewah ini tapi tak dia dengarkan. Dia memilih tempat yang paling elit dijepang dan dekorasi, wartawan, pakaian. Semuanya. Sungguh, aku hampir kehabisan nafas ketika aku memikirkan seberapa banyaknya uang yang dikeluarkan untuk pernikahan ini. Lihat saja di setiap inci dinding ruangan ini di tutup oleh kain yang terbuat dari emas. Iya emas! Bayangkan saja. Lihat saja cara emas itu berkilauan. Sungguh indah dan mengerikan.
...
Aku melirik ke sebelah, kearah ayahku yang tengah mengandengku dan menuntunku ke altar. Dia terlihat sangat bahagia? Hello! Jangan gila. Tentu saja dia bahagia begitu juga dengan keluargaku dan keluarga Naruto.
Aku juga bahagia. Sangat bahagia.
.
.
Hinata pov end.
.
.
.
Naruto pov.
.
Jas mewah melekat di badanku, begitu juga dengan sepatu mahal melekat di kakiku. Rambutku disisir rapi kebelakang dan jangan lupakan wajah ku yang memang sudah tampan ini.
Senyum tak kunjung hilang dari bibirku ketika calon istri manisku berdiri tepat di hadapanku. Wajah manis nan cantiknya dengan sedikit makeup membuatnya semakin cantik.
Oh, aku tahu. Dia pasti hampir kehabisan nafas karena gaun berlapis-lapis berlian di badannya itu dan juga soal tempat pernikahan ini. Wajahnya sangat lucu.
Dia memintaku agar tak melaksanakan pernikahan yang mewah seperti ini tapi tak aku dengarkan karena ...
Semua ini masih kurang. Dia begitu mahal dimataku. Aku akan membayar dan mengorbankan apapun untuknya. Aku mencintainya. Sangat besar. Cintaku sangat besar dan tak bisa dibandingkan hanya oleh secuil gaun itu maupun harga resepsi pernikahan ini.
Aku sangat bahagia. Lihatlah kedua orang tuaku di bangku yang terus tersenyum senang. Jangan lupakan air mata terharu ibuku itu.
Ya, harus aku katakan jika sampai saat ini mereka tak tahu bahwa gadis ini pernah menolak anak tampan nan kaya mereka ini tapi ya sudahlah. Bukankah lebih baik hal itu menjadi rahasia?
Naruto pov end.
.
.
Hinata dan Naruto bersama-sama mengikat janji suci dihadapan pendeta dan para saksi yang kemudian berganti cincin.
"Silahkan mencium mempelaimu." ucap sang pendeta dan Naruto pun mendekatkan wajah tampannya pada wajah Hinata.
Plok
Plok
Plok.
Semua manusia bertepuk tangan ketika kedua bibir itu menyatu.
Ini hari yang sangat membahagiakan.
.
.
.
.
Malam akhirnya tiba, acara resepsi itu masih berlangsung tapi kini berpindah ke tepi pandai. Meja-meja bulat berjejer rapi tak lupa dengan kursi-kursinya.
Makanan dimana-mana begitu juga dengan minuman. Manusia berpakaian mewah dimana-mana begitu juga dengan balon-balon dan dekorasi di mana-mana.
Angin tak begitu kencang sehingga tak bisa menerbangkan kain meja.
Banyaknya bintang bertebaran di langit, bulan begitu indah dan untungnya salju tak lagi turun.
Kini mata semua manusia dikursi masing-masing tertuju pada pentas tak jauh didepan mereka.
Dimana sang mc baru saja turun ketika sang lelaki bersurai perak itu hendak berpidato setelah kedua orang tua sang mempelai hari ini.
Toneri pov.
.
.
Ya entah bagaimana cara mengatakannya tapi intinya aku merasa aku memiliki dendam pada teman bodohku itu. Bisa juga kalian sebut adik bodoh ku itu.
Itu lah sebabnya mengapa aku dipentas ini. Aku rasa aku akan membocorkan beberapa rahasia yang selama ini menjadi rahasia. Dia akan membenciku. Hah! Aku rasa aku sudah membencinya dari dulu. Hei.. Adik-kakak memang tak pernah akur bukan?
Aku meneguk habis segelas kecil anggur ditanganku dan melempar asal gelas itu yang untungnya berhasil ditangkap oleh pengawalku dibawah. Aku rasa sesekali menjadi pengacau dihari penting tak lah masalah. Anggap saja aku membalas dendam dengan cara menirunya. Dia selalu mengacauku, bukan?
Aku menyesal mengapa aku membiarkan gadis cantik itu kembali padanya? Iya itu salahku, tapi entahlah antara menyesal tak menyesal. Aku bingung. Aku hanya ingin melampiaskan rasa kesalku pada mempelai pria yang selama ini menyusahkanku. Atau mungkin aku hanya kesal karena mengapa aku harus selalu berbaik hati pada sialan itu.
Haha.. Anggaplah aku mabuk. Tapi aku serius. Dia tak akan pernah melupakan hari ini dimana aku membongkar semua rahasia sialan nya. Dia akan membenciku. Cih! Layaknya aku perduli. Dia selalu memerlukanku. Dan aku tak takut padanya. Dia terlalu bocah ketika melawanku. Ingat?
Naruto memang brengsek dan aku memang bukan manusia brengsek seperti dia tapi aku bisa menjadi seperti dia setidaknya untuk sekali.
Oh tidak. Aku rasa aku sungguh mabuk. Dia akan langsung membunuhku ketika ada kesempatan.
.
.
Toneri pov end.
.
.
"Baiklah mari kita langsung ke intinya sebelum sang mempelai lelaki sempat membunuhku." Toneri membuka suara lewat mic di depannya.
...
Firasat Naruto tak enak. Dia terlihat mabuk?
Hinata membalas tersenyum pada Sasuke yang terduduk dimeja sebelah tersenyum padanya.
"Ya.." Toneri memberi jeda. Hei brengsek! Ini saat yang tepat untuk membocorkan rahasia. Mengapa kau menjadi ragu? Kau memang sialan. Sesekali menjadi penghianat tidaklah masalah. Cukup katakan saja.
...
Semua manusia masih berfokus pada lelaki tampan diatas pentas, penasaran dengan apa yang akan dia katakan.
"Aku tak tahu ingin memulainya dari mana jadi terserahlah." ucap Toneri membulatkan tekadnya. Ia merasa kepalanya berputar. Ia hampir tak pernah minum sebelumnya meskipun selalu menemani adiknya itu ke Bar.
"Naruto sering ke bar dan mabuk. Aku selalu menjadi supirnya yang bertugas membawanya pulang kerumah dengan selamat meskipun aku tak suka ke tempat bising itu. Aku tak tahu mengapa aku mau saja mendengarkannya dan menyembunyikan hal ini dari kedua orang tuanya. Entahlah mungkin karena dia sudah seperti adikku sendiri. Aku melindunginya tapi ketika aku memikirkannya lagi, hal itu sungguh membuatku kesal."
Dengan secepat kilat Naruto beranjak dari kursinya dan menghampiri Toneri. Itu rahasia besar sialan!
Kushina dan Minato terdiam terkejut begitu juga dengan Hinata. Mengapa Kushina dan Minato tak tahu hal itu dan mengapa Toneri membocorkan hal itu?
Semua tamu tentunya juga terkejut akan fakta itu. Dia lelaki yang baik, itulah yang semuanya ketahui tapi dia malah suka mabuk?
Toneri berlari pergi dengan micnya ketika Naruto mengejarnya.
"Hentikan brengsek! Aku akan membunuhmu." itu rahasia besar yang Naruto sembunyikan dengan membayar mahal!
...
Hinata tetap saja terdiam di kursinya. Sebaiknya ia tak mencampuri urusan ini sebelum urusannya semakin besar.
"Satu lagi yang lucu. Gadis bernama Hinata itu pernah menol"
Buk!
Tinju super keras mendarat mulus dipipi Toneri yang langsung membuatnya terjatuh, menindih pasir. Dia langsung tak sadarkan diri dan tentunya semua tamu langsung bergosip-gosip.
Naruto merebut mic ditangan Toneri dan melangkah pergi. Membiarkan si sialan yang hampir saja akan membuat dirinya menjadi trending topik dimana-mana terbaring tak berdaya dipasir.
"Aa.. Maaf, dia mabuk. Biasalah bicara sembarangan. Haha.." ucap Naruto berusaha mencarikan tatapan aneh para tamu termaksud kedua orang tuanya.
"Ya.. Mari kita lanjutkan acaranya." ia akan mati.
.
.
.
.
Besok paginya, dimana tujuan pertama Naruto adalah kamar si sialan yang hampir membuatnya mati semalam.
.
.
.
...
"Aa.. Sakit sekali." Toneri menyentuh pipinya yang terasa sangat sakit seolah habis ditinju.
...?
Ia mendudukan dirinya dari posisi baringnya dan memperhatikan sekelilingnya. Dimana ini? Apa yang terjadi?
Toneri menyingkirkan selimut di badannya dan menatap sejenak dirinya. Dimana pakaiannya? Mengapa ia hanya memakai singlet dan celana boxer? Sepertinya Toneri tak ingat bahwa dia muntah semalam dan Hinata dan Narutolah yang mengurusnya.
Blam!
Mata Toneri tertuju pada pintu yang tiba-tiba terbuka dengan kasar.
"Oh Naruto?" kedua tangan Naruto terkepal erat, giginya terkatup kuat ketika ia melangkah menghampiri Toneri yang menatapnya bingung.
Grep!
"Hei! Kau mau membunuhku?!" marah Toneri terkejut ketika Naruto sudah terduduk di atas perutnya dan mencekik lehernya.
"Oh, aku menunggumu bangun agar aku bisa melihatmu kehabisan nafas dan mati." ucap Naruto penuh dengan amarah. Jujur saja, ia tak serius untuk membunuh sialan ini tapi sayangnya saat ini ia terlalu kesal untuk berpikir bahwa cekikan ini sungguh bisa membunuh Toneri.
"Huk! Lepaskan! Kau mengapa?!" Kedua tangan Toneri berusaha menyingkirkan tangan Naruto dilehernya. apa yang terjadi? Mengapa dia kesal?
"Aku tak bisa bernafas bodoh!" kaki Toneri menendang-nendang. Tubuhnya mengeliat ingin dilepas tapi Naruto tak mau menyingkir darinya, malah cekikannya semakin erat. Sejak kapan tenanganya menjadi sebesar ini?
"Kau brengsek! Kau sengaja membocorkan rahasiaku."
"Uugh! A! Lepasuggh! Siaal!"
.
.
Piang.. Nampan berisi air putih dan bubur itu terjatuh kelantai dan berserakan.
"Naruto!" kedua tangan Hinata menutup mulutnya. Ia sungguh tak percaya apa yang ia lihat.
Naruto menyingkir dari tubuh Toneri karena terkejut.
"Hinata?" panggil Naruto terkejut.
"Kau gay?" tanya Hinata tak percaya. Ia mendengar desahan To-Toneri dan apa yang Naruto lakukan diatas badan Toneri? Tolong jelaskan bahwa Hinata salah paham lagi.
"Tidak!" jawab Naruto terkejut.
Grep.
Deg!
Hinata tersentak kaget ketika Toneri diatas ranjang memeluk Naruto dari belakang. Jangan tanya! Tentu saja Naruto juga terkejut.
"Maaf Hinata tapi kau benar." ucap Toneri menyesal.
Deg!
Hinata Syok apalagi Naruto.
Deg!
Mata Hinata terus saja melebar tak percaya. Perlahan langkahnya termundur. Tidak. Ini tak mungkin.
"Hinata." Toneri mengengam tangan Naruto ketika dia hendak menghampiri Hinata.
"Kau harus menerima kenyataan ini karena kalian sudah menikah."
Deg!
Hinata tak sanggup berkata apa-apa. Ia memilih melangkah pergi. Tidak mungkin. Naruto.. tak masuk akal.
.
.
"Apa yang kau kau lakukan!" Naruto menepis kasar tangan Toneri.
"Oh tidak. Anggap saja aku tengah balas dendam." jawab Toneri santai yang cukup menyulut amarah Naruto. Anggap saja balas dendam karena orang ini tiba-tiba ingin membunuhnya.
"Aku akan sungguh membunuh mu!" Naruto meninju kasar wajah Toneri dan kembali mencekik leher sialan itu.
"Aku pastikan kau mati!" kedua tangan Naruto terus mencekik kesal leher Toneri. Awas saja jika Hinata salah paham lagi. Ia pastikan akan membunuh manusia ini lagi dan lagi.
Tangan Toneri menarik tangan Naruto agar menjauh. Nafas! Sungguh tak bisa bernafas! Ia hanya bercanda dengan Hinata. Mengapa serius sekali?
Tak bisa bernafas bodoh!
"Huk! Bo..doh!"
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian.
"Huh!" lagi-lagi Naruto memalingkan wajahnya ketika Hinata menatapnya.
"Ayolah. Jangan marah lagi. Aku hanya syok waktu itu." pujuk Hinata lucu.
Sejak kejadian dengan Toneri kemarin, Naruto ngambek.
Ya, Toneri menjelaskan semuanya dan Hinata sudah menduganya. Jika dia gay, dia tak mungkin main dengan perempuan. Hehe. Ia hanya syok waktu itu.
Clik.
Hinata menutup pintu kamar mereka ketika Naruto dan dirinya masuk kedalam.
Jam telah menunjuk pukul 23.34 dimana mereka baru saja kembali dari sebuah pesta kecil yang diadakan Toneri yang untungnya tak mati waktu itu. Dia sungguh pingsan kemarin dan Naruto hampir mati ketakutan karena mengiranya mati. Haha. Mereka sungguh manis.
"Yaa.. Baiklah kalau masih tak mau memaafkanku. Aku ingin tidur saja. Malas membujuk mu." ucap Hinata malas ketika ia melihat Naruto terduduk dipinggir ranjang dan membuang wajahnya.
Entah sengaja tak sengaja. Menggoda tak menggoda Hinata menanggalkan gaun panjang polosnya didekat Naruto.
Hanya butuh waktu satu detik mata Naruto langsung menjelahi badan montok Hinata yang hanya ditutupi bra dan celana dalam.
Dia sengaja.
.
Beberapa menit kemudian, Hinata keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang sudah bersih dari make up dan badannya telah terbalut gaun tidur.
Ia menghampiri suaminya yang masih saja membuang wajahnya.
"Selamat malam." kecupan dihadiahi untuk sisi bibir itu yang ugg! Langsung menggoda Naruto itu.
Sialan!
Naruto melingkarkan kedua tangannya ke perut Hinata ketika Hinata melangkah pergi.
Dengan sekali tarikan, bokong Hinata menempel dipahanya yang masih tertutup celana panjang.
"Kau sengaja." ucap Naruto cemburut ketika ia menempelkan keningnya ke kening Hinata.
"Jangan marah lagi. Aku hanya syok waktu itu." pujuk Hinata sambil menampilkan wajah memohon yang luar biasa imutnya.
"Baiklah." Naruto melahap bibir Hinata. Hei! Karena dirinya tengah ngambek. Ia harus menahan dirinya mati-matian karena istri cantiknya terus saja sengaja menggodanya.
Hinata melingkarkan kedua tangannya ke leher Naruto. Kami sudah sah. Hehe, jadi jangan protes.
Naruto mengecup pipi Hinata dan berpindah ke leher putih itu.
Entahlah. Naruto terasa sangat alih dan itu cukup membuat Hinata ragu. Hehe. Hari ini mungkin akan menjadi pertama kalinya mereka melakukan ritual suami istri karena beberapa hari ini mereka sangat sibuk ditambah.
.
.
Blam!
Hinata menjauh dari Naruto ketika pintu kamar yang lupa ia kunci terbuka dengan kasar.
Brengsek! Naruto menahan rasa kesalnya ketika melihat siapa di ambang pintu itu.
"Apa kalian tengah sibuk? Maafkan aku. Kali ini aku tak sengaja. Kau membawa ponselku dan aku sungguh memerlukan itu sekarang." ucap sang pendobrak pintu yang ternyata Toneri. Baiklah ia mengaku, beberapa kali dirinya mendobrak pintu ini meskipun terkunci hanya untuk mengacau malam dua manusia ini. Hmm entahlah bagaimana cara mengatakannya, ia hanya tak rela tapi kali ini ia sungguh tak sengaja. Sumpah. Ia sungguh butuh ponsel itu detik ini juga.
Naruto mengambil sebuah ponsel dari saku celananya.
Ternyata benar. Ini bukan ponselnya tapi yang benar saja? Apa tak ada waktu lain? Ini sedang darurat.
"Sudah kuduga." Toneri melangkah masuk dan menghampiri Naruto tapi langkahnya berhenti ketika..
Bamm! Krerak! Tak!
Naruto melempar ponsel pentingnya kelantai dan menginjaknya.
Hinata terdiam karena terkejut. Perlahan ia memundurkan langkahnya. Jangan lagi. Hinata mohon. Peperangan antar adik-kakak akan kembali dimulai.
"Aku kembali kan." Naruto menendang ponsel yang sudah retak itu ke arah Toneri yang masih membeku.
Tangan Toneri terkepal erat. Itu sungguh ponsel penting. Ia mengerti Naruto kesal karena Toneri selalu menganggu waktu pentingnya tapi ponsel itu sungguh penting bagi Toneri.
"Kau sungguh keterlaluan! Kau marah hanya karena aku menganggu malammu? Apa aku bukan lagi teman mu hingga kau begini kejam?" marah Toneri sambil meninju kuat pipi kanan Naruto ketika ia berlari menghampirinya.
Naruto membalas meninju pipi Toneri.
"Kau yang tak mengangap aku temanmu lagi. Kau tahu ini bukan pertama kalinya tapi kau malah marah. Biasanya kau tak pernah marah!" acara meninju itu terus terulang. Entahlah siapa yang salah. Biasanya Toneri selalu mengalah tapi belakangan ini tak mau mengalah dan itu membuat Naruto kesal sedangkan alasan Toneri tak mengalah karena adik sialannya ini lebih memilih gadis itu dari padanya.
...
Hinata berdigik ngeri akan perkelahian sungguhan itu. Apaan? Itu perkelahian sungguhan! Lihatlah sudut bibir dan pipi mereka membiru bahkan berdarah.
"Akan aku hancurkan bibirmu agar tak bisa mencium Hinata. Sialan! Menyesal sekali aku membiarkan Hinata kembali padamu!" tinju kembali dihadiahi untuk pipi Naruto.
Naruto tahu lelaki ini hanya kesal hingga berkata begitu tapi Naruto tetap saja tak mau mengalah. Dia adalah sang adik. Sang adik tak pernah mengalah. Sang kakaklah yang di wajibkan untuk mengalah.
"Harusnya aku membunuhmu waktu itu. Jika saja kau tak pingsan. Kau sudah mati. Dan harusnya Hinata sudah hamil!" Naruto kembali menindih Toneri dan meninju wajah sialan itu.
Hinata kembali berdigik ngeri tapi pipinya merona. Hamil?
Blusshh..
.
"Oh? Kau masih perduli padaku? Aku kira kau sudah lupa diri setelah memiliki orang baru." Toneri menindih Naruto. Mereka bahkan sudah terjatuh kelantai dari atas ranjang tapi masih saja berguling dan meninju.
Naruto berguling dan duduk diatas perut Toneri. Satu tangannya mencengkram kerah baju Toneri dan satu tangannya meninju wajah Toneri yang sudah membiru dan lembam.
"Kau yang lupa diri pada adikmu ini."
Baiklah. Perkelahian ini mulai terdengar terkendali.
Hinata tak tahu bagaimana cara memisahkan dua manusia itu tapi ia sadar akan satu hal.
Terima kasih bayak Kami-sama karena anakmu ini bukan seorang lelaki. Ia tak tahu apakah perkelahian ini akan di alaminya juga jika dirinya adalah seorang lelaki yang memiliki seorang kakak. Mengerikan sekali hanya dengan memikirkannya.
Hinata tahu mereka akan segera berbaikan setelah acara bertinju ini tapi mereka terluka. Hal ini tetap saja tak bisa dibiarkan.
"Hinata!/Hinata!"
Deg!
Hinata mengangkat tinggi kedua tangannya layaknya tengah di todongkan senjata ketika kakak-adik itu menyebut namanya secara tiba-tiba.
"Aku hah! atau dia yang hah! berubah?" tanya Toneri ngos-ngosannya dengan posisi dirinya masih terbaring dilantai dan Naruto meduduki perutnya. Satu tangan Naruto mencengkram kerah kemejanya sedangkan kedua tangannya mencengkram tangan Naruto di kerah kemejanya.
"Aku atau dia?" tanya Naruto ingin jawaban ketika matanya menatap Hinata. Naruto tahu dirinya keterlaluan. Harusnya dirinya mengalah karena dirinya duluan merusak barang kakaknya ini tapi sang adik tak pernah bersalah.
Toneri sadar, sikapnya pada adiknya ini berubah karena beberapa hal tapi tak ada salahnya kan jika adiknya ini sekali saja mau mengalah untuknya?
..
Ya,, Jika mau jawaban yang jujur.
Sang kakaklah yang berubah tapi sang adiklah yang bersalah.
Jadi ya?
Salah siapa?
.
.
.
.
.
Tamat.
.
.
.
Sudah.
Sudah..
Udh ditambah satu ya.
Hmm omong-omong. Epilog itu apa ya? Hehe. Serius nanya.
Dan btw pov siapa yang kalian sukai?
Apakah Toneri setengah mabuk itu terlihat lucu? Hehe
