Day Dream
Author bohong kalo kemain author bilang enggak ngeplai ama chapter kemaren..
Sumpah...
Masih blushing!
Momen Mitsu[Name] memenuhi alur cerita. Tokoh baru, dan sedikit campur tangan Masamune.
Rate : T
Disclaimer : SenBasa punya Capcom. Bukan punya saya!
Balesan review :
De-aruka :
Neesan emang setia! Acungin jempol dah! #thumbsup
Ini.. udah aku banyakin Mitsunarinya.. kakak ngeplai apa enggak? Enggak tau.. tapi moga-moga iya sih..
Sofianyputri :
Ente ngeplai? Maaf.. tapi belakangan ini mungkin kamu kurang ngeplai ama Masamune. Saya akan mempertajam konflik jadi sofiany-san sabar ya..
Sekalian persiapkan diri untuk ngenes hidup-hidup..
Achan toujou :
Wah.. kamu review 2 kali.. :D... ini. sama si seterikaan.. agak gimana gitu.. tapi biarin lah..
MAKASIH MINNNNNNAAAAAAAAAA!
Chapter 12 : Masalah baru dan Mitsunari
Aku langsung pergi dari tempat itu. Terlalu malu untuk menoleh kembali, dan terlalu canggung untuk meminta penjelasan...
Itu tadi kan pernyataan cinta tidak langsung!
Masamune-sensei bahkan tidak memanggilku kembali, dan itu membuatku lega. Aku berusaha menormalkan semua penampilanku. Ekspresiku, nafasku dan detak jantungku.
Aku berusaha sebaik mungkin terlihat baik-baik saja dan tidak terlihat seperti gadis yang baru saja dicuri ciuman kening pertamanya oleh seorang pria.
Aku pun kembali ke tempat Megumi, Sakuya dan Rina. Mereka sudah makan setengah dari makanan yang ada.
"Hai.. kau kembali juga.." sapa Sakuya.
Aku duduk di tepi tikar.
"Kau kenapa? wajahmu merah sekali.. apa kau sakit?" tanya Megumi. Sial.. aku lupa satu hal..
Ada seorang ahli analisis disini..
Hanajima Megumi..
"Aku baik-baik saja.." kataku. Meraih sebotol susu, dan segera meminumnya. Kau tahu, susu menormalkan detak jantung dan menetralisir asam lambung. Sekaligus penangkal rasa gundah..
"Kau sepertinya haus sekali ya.. [Name].." kata Rina.
"Aku belum makan dari tadi.. Rina.." kataku.
"Oh ya.. jadi siapa orang yang sejak awal memanggilmu? Sepertinya dia dekat sekali denganmu ya.." kata Sakuya menagih janjinya.
Aku nyaris lupa akan hal itu. lalu meraih ponselku dan membuka galeriku. Memilih sebuah foto dan menunjukkannya pada ketiga teman perempuanku.
Dan benar dugaanku..
Mereka terpukau..
"Dia pacarmu?" tanya Rina.
Aku langsung blushing.
"Bukan!" kataku keras, dan itu jelas membuat Rina, Sakuya dan Megumi terkejut. Mereka tidak pernah melihatku berkata sekeras ini sebelumnya.
"Kau.. sedang sensi... apa kau datang bulan.." tanya Sakuya hati-hati.
"Mungkin karena lapar.."
"Bisa juga karena kelelahan.."
"Yah.. dan semuanya benar.." kataku. Aku sih tidak heran mereka terpana oleh foto orang yang kutunjukkan.
Karena itu foto Edgar..
Alasan yang membuatku tidak heran adalah..
Pertama, Edgar cakep..
Kedua, wajah Edgar cool
Ketiga, Edgar tinggi..
Keempat, Edgar kulitnya pucat.. tidak jauh dariku..
Kelima, Edgar punya kharisma..
Memangnya ada wanita yang mau menolak orang sempurna seperti Edgar?
"Dia sepupuku.." kataku. "Sepupu... pantas.. wajahnya agak nyerempet sama kamu.." gumam Sakuya. "Namanya Edgar.." lanjutku. "Sepupunya saja cakep begitu.. jelas sekali [Name] populer di sekolah.." kata Megumi menyimpulkan. "Hah? Kau bilang apa?" tanyaku. "Kau tidak sadar dirimu terkenal?" tanya Megumi tidak percaya. Aku separuh menggeleng, "Apa kau tidak sadar banyak sekali yang mengagumimu!" tanya Megumi sambil mencengkram kedua pundakku dan mengguncang-ngguncangkan badanku sedikit. Seolah mengembalikanku ke kenyataan.
"Biasa saja..." kataku. Aku menyingkirkan tangan Megumi, gadis berambut hitam panjang (tapi tidak sepanjang milikku) ini menarik kembali tangannya.
"Sepupu tapi mesra.." goda Rina. Aku memutar mataku, menghiraukannya. "Jika kalian mau bertemu dengannya. Besok dia ke Jepang..." kataku.
"Eh! Besok!" tanya ketiga temanku. Aku mengangguk.
"Aku menantimu bersama sate ayam.. Edgar-kun.." kataku mantap. Lalu bayangan sate ayam memenuhi kepalaku.
XXX
Besoknya
Aku cukup kecewa, ternyata Edgar tidak datang pagi hari. Tapi nanti malam sekitar jam 2. Apalagi sekolah dipulangkan lebih awal.. ini jadi membuat semua terasa lambat..
Aku rindu sate..
Untuk menaikkan moodku. Aku jalan-jalan ke taman yang ada di dekat rumahku. Taman itu cukup ramai, dan membuatku jadi tidak takut jalan-jalan sendirian.
Aku memakai jaket putih bergaris hitam dengan risleting yang membuat jaketku melekat langsung pada tubuhku. Di dalamnya ada sweater hitam panjang tanpa lengan yang mencapai lututku. Aku memakai legging hitam untuk menutupi seluruh kakiku.
Dengan sepatu kets hitam kesayanganku. Kalau kalian ingin tahu, 70% sepatuku adalah kets hitam. Aku duduk di sebuah bangku taman di samping jalan kecil. Beberapa orang nampak berlalu lalang di sekitarku. Namun mereka semakin jarang melewati jalan ini. "Baiklah.." gumamku.
Aku mengedarkan pandanganku sejenak dan menangkap seseorang. Dia laki-laki tinggi dengan kaos dan jeans. Tersenyum padaku, "Hai.." sapanya. Sepertinya dia orang Indonesia.
"Hai juga.." kataku. Aku mengabaikannya, tapi rasanya tidak enak. Dia terus tersenyum padaku, dan dia juga baru saja menyapaku. Entah senang melihat teman satu negara atau bagaimana. Aku curiga padanya, aku pun berdiri dan berjalan menjauh dari bangku yang kududuki.
Berjalan menjauh seolah bukan siapapun baginya. "Ternyata kau sudah lupa padaku.. sombong sekali.." kata laki-laki itu. Aku langsung terhenti. Lelaki itu sepertinya jauh lebih tua dariku. Mungkin sudah SMA.
Sementara aku sekitar SMP..
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku tanpa menoleh.
"Pernah.." kata lelaki itu.
Suara ini..
Rasanya tidak asing..
Wajahnya juga..
Aku pernah melihatnya di..
Fotonya Ieyasu!
"Daniel?" tanyaku. "Wah! Kau ingat namaku! Akhirnya.. syukurlah.." kata lelaki itu. aku merasakan langkah kakinya mendekat ke arahku. Aku terdiam, entah kenapa.
Aku ingin lari dari sini. Dia.. dia seperti berbahaya bagiku..
Saat aku berbalik, dia sudah ada di hadapanku. Tentu saja aku terkejut.
"Ingat aku? [Name]?"
Aku terdiam, tidak menjawab.
Aku ingin lari..
Aku ingin lari dari sini...
Dia membuatku takut..
"[Name]?" tanya lelaki bernama Daniel itu. "Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.." lanjutnya. Tangannya hendak meraih wajahku. Tapi langsung kutampar.
"Jangan sentuh aku.." kataku spontan. Tapi itu juga membuatku terkejut. Aku bingung dalam diam.
Memang apa salah orang ini sampai aku begitu takut dan benci padanya...
"Maaf.." kata Daniel.
"Sepertinya kau benci padaku.. tapi kita tetap teman.. kau membutuhkanku.."
"Apa maksudmu.." tanyaku tidak mengerti. Aku melihat wajahnya, entah kenapa..
Aku benci dia..
"Kau membutuhkanku.. seperti aku membutuhkanmu.. ayo kita berjalan bersama lagi seperti dulu.."
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!"
"[Name]!"
Aku langsung terdiam. Suara teriakannya mengerikan, dia membentakku. Aku menunduk.
Daniel meraih tanganku. "Akan kuingatkan kau.." katanya dengan nada yang sama mengerikan seperti suaranya tadi.
PLAKKK!
Aku terkejut, suara itu terdengar begitu keras. Apa aku baru saja menamparnya tanpa kusadari..
Tidak.. itu.
Aku melihat ke sebelahku. Sudah ada sepasang kaki tegak terpasang disana, lalu aku menelusurinya. Mitsunari?
Tangannya tergantung sebelah di antara aku dan Daniel. Seolah membatasi jarak kami berdua. Matanya menatap tajam Daniel. "Jangan paksa dia.." kata Mitsunari pada Daniel.
"Heh.. memangnya kau siapa? Kau orang luar.." tanya Daniel dengan nada sarkastis. Tangannya di sembunyikan di belakang. apa mungkin Mitsunari menampar tangannya.
Aku berjalan ke belakang Mitsunari. Mau tidak mau aku harus berlindung di belakangnya.
"Siapa aku? Siapa kau baginya?" tanya Mitsunari.
JLEEEBB!
"Apa sekarang kau berarti baginya?" tanya Mitsunari lagi. Daniel memendam amarahnya. Tangannya terkepal kuat. Aku semakin takut.
"Aku tidak tau apakah kau benar-benar mengenal [Name] atau tidak.. tapi memaksa wanita itu tidak baik.." kata Mitsunari. "Dia memang membutuhkanku! Tau apa kau soal kami!" balas Daniel beringas.
"Ishida.." gumamku berbisik. "Kau paksa dia.. kau akan semakin menderita saat kau tahu dia tidak menginginkanmu.." kata Mitsunari. Aku terkejut, perkataan Mitsunari bukan kata-kata kosong..
"Diam kau!"
"Memangnya kau tahu apa soal aku dan [Name]?" tanya Mitsunari.
JLEEEEBB!
"I-Ishida?" tanyaku.
"Apa menurutmu gadis ini akan selalu ada untukmu? Waktu berubah.. barang pun berubah.. kau menyimpan barangmu di loteng tanpa mengirim siapapun untuk merawat atau membersihkannya? Dan ketika kau kembali kau memaksa barang itu seperti sedia kala? Lucu sekali.." kata Mitsunari.
Nyali Mitsunari pasti besar sekali mengatakan hal seperti itu..
"I-Ishida.. kau.."
"[Name]!"
DEG!
Aku langsung tersentak. Suara bentakan itu terdengar lagi. "I-Ishida.." aku memanggil Ishida. Aku sangat takut pada orang itu..
Ishida merentangkan sebelah tangannya ke belakang seolah melindungiku. "[Name]..." panggil Mitsunari dengan nada dingin. Aku melihat ke arahnya.
Dia melirik sedikit ke arahku. Lalu kembali lagi. "Pergilah.." kata Mitsunari.
"Apa?" tanyaku.
"Kubilang pergi ya pergi gadis licik.." kata Mitsunari dengan nada pokerface.
"Kau..." aku merasa kesal dia memanggilku dengan julukan itu.
"Berbaliklah dan jangan melihat lagi ke belakang.. aku akan urus ini.." kata Mitsunari.
"Ishida.."
"[Name]! Dengarkan aku!"
"Jangan hiraukan aku dan dia.. pergilah.." kata Mitsunari. Aku menghela nafas, lalu berdoa. Semoga Mitsunari baik-baik saja..
Aku lalu berbalik, dan berjalan menjauh dari sana dengan setengah berlari.
Semoga kau baik-baik saja... Mitsunari..
Terimakasih..
Aku pun terus berjalan. Mencoba menjauh dari sana dan menghiraukan apapun yang terjadi. Tapi aku masih mengkhawatirkan rambut seterika itu..
Mitsunari..
Apa kau baik-baik saja?
Aku pun pergi ke tempat yang ramai. Kulihat di sekeliling taman itu ada toko-toko. Aku melihat ada sebuah supermarket disana.
Menyadari sesuatu, aku lalu berjalan ke toko tersebut.
XXX
Aku keluar dari toko tersebut. Panjang umur..
Belum genap 3 detik aku sudah menangkap bayangan Mitsunari.
Berdiri menghadap air mancur. Dengan tangan dimasukkan ke saku celana hitamnya, jaket hitam tidak dikancingkan dan dalaman kaos ungu dipakai menambah kesan santai.
Aku menghela nafas, antara malu, berat hati, segan dan.. perasaan aneh.
Aku menghampiri pria itu. sambil membawa barang yang kubeli dari toko tersebut. Di setiap langkahku kuisi dengan merangkai kata-kata dan memikirkan ekspresi yang pantas untuk berhadapan dengan Mitsunari. Semakin lama, aku semakin dekat, dan tinggal beberapa langkah lagi dan jarakku cukup dekat dengannya.
Langkahku terhenti.
Mitsunari berdiri membelakangiku, dia menyadari aku di belakangnya dan berbalik ke arahku secara perlahan. Lalu aku melihat wajahnya.
Tidak terjadi apapun pada tubuhnya..
"Syukurlah.."
Deg!
Aku setengah terkejut dengan apa yang kukatakan tadi. Sungguh diluar perkiraanku.
"Apa?"
"Bu-bukan apa-apa!" sahutku cepat. Wajahku mulai sedikit memerah, aku menghindari kontak mata dengannya. Lalu berusaha menutupi wajahku dengan poniku yang cukup panjang demi menyembunyikan roman wajahku.
Mitsunari jelas tahu ini situasi canggung. Tapi ekspresi wajahnya tidak berubah, dia masih memandangku seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapannya sangat tenang, sepertinya 'Sisi Tenang Mitsunari' muncul lagi.
"Ini..." kataku setelah beberapa saat. Memberikan sebuah bungkusan kertas coklat berbentuk pouch ke arahnya. Dia memperhatikan benda itu.
"Ucapan terimakasihku..." kataku lagi. Sial.. wajahku merah sekali..
Kenapa aku bisa begini..
Padahal Mitsunari adalah musuh bebuyutanku. Tapi barusan dia melindungiku...
Jarak benci dan cinta itu setipis kertas..
Teori sialan! Kenapa harus ada kenyataan seperti itu!
Tunggu..
Aku sedang tidak..
Suka dengan Mitsunari kan?
Argh! Lupakan!
Mitsunari meraih benda itu. Lalu membukanya, aku menatapnya sedikit untuk melihat apakah dia berubah ekspresi atau tidak.
Sebuah syal berwarna putih-hitam-ungu.
Sangat cocok dengan imej Mitsunari.
Pria itu terdiam melihatnya, "Belakangan ini angin kencang sekali.." kataku. Seolah barusan dia bertanya 'Kenapa kau memberiku ini?'.
SYUUUU!
Panjang umur..
Entah setiap perkataanku yang memang merupakan mantra atau bagaimana. Tapi tiba-tiba angin berhembus begitu kencang persis seperti yang kumaksud. Bahkan rambutku yang kubiarkan tergerai bergerak tegas mengikuti anginnya.
Tap.. Tap..
Aku mendengar suara kaki mendekat ke arahku. Aku sadar kalau itu adalah Mitsunari. Mau apa orang ini?
Dia menyodorkan sesuatu ke dekat wajahku. Syal yang kubelikan..
"Kupinjamkan sebentar karena anginnya kencang..." kata Mitsunari.
"Ta-tapi.."
"Pakai.."
"Ishi-"
"Kubilang pakai ya pakai.."
Aku seketika mendecih. Orang ini masih saja..
Karena aku tak kunjung melakukan perintahnya. Dia justru mulai mencoba melingkarkan syal dileherku.
"He-hei! Aku bisa pakai sendiri!" kataku. Aku langsung menyambar syal itu dari tangan Mitsunari dan memakainya dengan cepat. Entah apa yang ingin segera kuakhiri.
"Bagaimana denganmu?" tanyaku hati-hati. "Kenapa kau mencemaskanku?" tanya Mitsunari dengan wajah dingin.
"Aku sudah berhutang banyak padamu.. aku tidak mau.. menambah hutang itu lagi.." kataku.
Mitsunari menatapku, ini kedua kalinya aku bisa sedekat ini dengan Mitsunari. "Kalau kau ingin membayarnya.. gampang.." kata Mitsunari datar.
"Hah?"
"Turuti perintahku.."
"Eh?"
"Dan jangan protes.."
"HM!"
Aku mulai curiga. Sebenarnya kalau dengan Mitsunari aku takkan bisa berpikiran yang aneh-aneh. Tapi... ini tetap saja mencurigakan!
Entah kenapa bayang-bayang apa yang dilakukan Masamune-sensei kemarin hinggap di kepalaku..
Ah! Bukan!
Ini Mitsunari Ishida! Dia musuh bebuyutanku! Dia..
Dia tidak mungkin menyatakan cinta padaku..
Lupakan..
Aku berpikiran terlalu jauh. "Ayo pergi.." kata Mitsunari singkat sambil berjalan. "Kemana?" tanyaku. Dia terhenti. "Diam dan ikuti aku.. kau akan tahu.." kata Mitsunari. Lalu dia berjalan lagi.
Aku lalu tersadar setelah beberapa saat, lalu mulai mengikutinya. Aku menjaga jarak dengannya, lalu melihat punggungnya dari belakang.
Benar yang dikatakan Mitsunari.
Anginnya kencang sekali, sepertinya tidak sia-sia dia memakaikan syalnya padaku. Tapi yang kukhawatirkan..
Bagaimana dengan Mitsunari?
Punggungnya itu sepertinya mengurangi angin yang datang ke arahku.
Aku merasa bersalah pada Mitsunari, pasti dia menerima semua angin itu.
Lalu kami sampai di tempat yang dia maksud.
"Apa ini?" tanyaku.
"Motor.."
"I-Ishida.."
"Ya?"
"I-ini.."
"Motor ninja.."
"Kau bisa naik motor!"
"Tentu saja.."
Aku masih termangu, motor hitam dengan garis ungu dan putih. Persis seperti syal yang kuberikan pada Mitsunari. Sebuah kebetulan yang... entahlah..
"Ta-tapi.. bagaimana kalau kau ditilang... lagipula.."
Kita masih kelas 3 SMP kau tahu..
"Aku memiliki keluarga polisi.. sama sepertimu..." kata Mitsunari. Dia berjalan mendekati motornya. "Aku sudah dilatih naik motor sejak dulu, aku mendapat lisensi mengemudi jauh lebih dulu dari yang ditentukan. Kau tidak perlu khawatir.." katanya sambil meraih helm putih dengan garis ungu.
"Kita mau kemana?" tanyaku.
"Ke suatu tempat.." kata Mitsunari. Memakai helmnya, lalu memberikan sebuah helm putih bergaris hitam ke arahku. Cocok dengan baju yang kupakai..
Hei..
Ini..
Ini kebetulan yang keterlaluan..
"Apa yang kau inginkan?"
"Jangan protes.."
Aku mendecih.
Aku lalu mengambil helm itu, dan memakainya. Mitsunari mulai men-stater motornya dan berdiri dengan mesin menyala. Menungguku untuk naik, aku dengan segan mulai menaiki motor itu.
Anginnya kencang sekali, tapi Mitsunari dengan tegap mengendalikan motornya seperti pria dewasa. Apa jangan-jangan dia ikut lomba balap ya?
Aku menjaga jarak dengannya agar tidak terlalu dekat. Setelah dirasa beres. Dia mulai menjalankan motornya.
Motor ini berjalan dengan gagah seperti dikendarai pria dewasa. Mitsunari seperti sangat lihai mengendalikannya. Dia tidak berlebihan, seperti orang bertanggung jawab yang memperhitungkan keselamatanku matang-matang..
Gentleman.
Deg!
Apa yang kukatakan!
Aku bisa gila dengan ini!
Angin mulai menerjangku. Aku bersyukur dalam hati karena memakai pakaian tertutup hari ini. tapi tetap saja dingin..
Dengan pakaian seperti ini saja sudah dingin.. bagaimana dengan Mitsunari?
Aku menyentuh punggungnya perlahan..
Dingin..
Jaket hitam itu seperti membeku karena angin.
Mitsunari..
Kau pasti merasakan hal yang lebih dingin dariku kan?
Kau membiarkan seluruh angin menerpamu sementara mengendalikan motor ini juga butuh tenaga..
Aku mulai mendekat, sementara aku ragu untuk melakukannya. Aku adalah musuh bebuyutannya, bagaimana kalau dia menolakku dan jadi marah karena aku?
Tapi... tubuh Mitsunari dingin sekali, dia menerima begitu banyak angin. Aku lalu melakukannya perlahan tapi pasti.
Cukup dekat dengan Mitsunari, lalu tanganku perlahan melingkari pinggangnya.
Tidak begitu erat, bahkan helm-ku tidak mencapai punggungnya. Aku bisa merasakan Mitsunari terkejut dalam diam. Tapi matanya masih fokus, dia seperti tidak menerima apapun dariku.
Ini sudah cukup untuk menaikkan suhu tubuhnya. Tanganku mampu merasakan dinginnya tubuh Mitsunari.
"Ishida.." gumamku lirih.
"Kau tidak melakukan apapun kan?"
Deg!
Aku terdiam. Perkataan Mitsunari tadi entah kenapa menusukku. Apa dia tidak suka?
Aku melepaskan untaian tanganku dari pinggangnya perlahan.
"Aku tidak bilang aku tidak suka.. [Name].."
Deg!
"Ja-jadi?" tanyaku.
Mitsunari tidak menjawab. Kami terdiam, sudah cukup jauh perjalanan ini berlangsung. Dia mau membawaku kemana sih?
Motor ini berhenti karena ada lampu lalu lintas. Aku merasakan sesuatu yang..
Hangat..
Tanganku mulai hangat..
Aku menangkap ada mobil di sudut mataku. Aku menoleh entah karena apa...
Deg!
Itu..
Mobil biru dengan sedikit warna hitam..
Mobil Volvo biru..
Aku merasakan ada keadaan yang tidak asing di dalamnya.
Wajahku memucat, mataku terbelalak.
Apalagi setelah si pemilik mobil menurunkan kaca mobilnya..
.
.
.
.
Masamune-sensei...
Habislah aku...
TBC!
Author Note :
Saya curhat dikit boleh kan? Okeh..
Pertama, saya belakangan ini jarang tidur. Entah kena virus begadang dari kakandaku atau memang aku banyak sekali pekerjaan sampai tidur tengah malam. Minggu ini sekolahku mulai padat..
Nah, mungkin saja setelah ini saya apdetnya agak lambat. Jadi reader sekalian mohon bersabar. Saya sering menguap di kelas diselingi batuk karena pilek musim hujan. Ngeselin...
