"Maaf aku keluar duluan. Ada urusan jam dua nanti" pamit Lucy melepas paksa pelukan mereka. Membuka pintu yang mengernyit pelan tak bertenaga. Ia lelah namun dihapuskan oleh senyum Natsu, bahkan Tuhan sekalipun lebih memilih si lemah dibanding pemeran predator

NGIETTT ….

CKLEK!

BLAMMM!

Srutt ….

Salah, seharusnya bukan begini! Kenapa egoku yang justru bertindak?! Batin Lucy duduk meringkuk di belakang papan persegi panjang, menangisi keputusan di mana hatinya dibiarkan memutuskan tanpa melibatkan logika. Rencana itu gagal, justru mereka akan semakin tersakiti seiring waktu berjalan. Secepat mungkin Natsu pasti mengetahui perihal kehamilan tersebut, lali apa? Dia menyalahkan diri sendiri daripada menuntut Sting!

Kau terlalu bodoh atau pemaaf? Orang lemah sekalipun berhak membela arti kehidupan!

"Anda bernama Lucy Heartfilia?" tanya seorang pria tua berjas putih. Mungkin dokter yang menangani Natsu selama ini. Pucuk kepalanya mengangguk pelan, ia beranjak bangkit agar tidak menghalangi jalan masuk

"Zeref pergi kemana?"

"Entahlah. Namun yang pasti kak Zer melewatkan jam kunjungan biasanya" sementara lingkaran penunjuk waktu itu telah mengacungkan jarum di angka satu. Lagi pula, sejak kapan ia tega meninggalkan sang adik?

"Kamu sudah tau bukan, kemungkinan Natsu buta sebesar delapan puluh persen?"

"Lalu kenapa? Saya kehabisan kata-kata untuk mengomentari nasibnya. Jangan bertele-tele dokter Makarov. Jika anda ingin menyampaikan kabar buruk lain silahkan"

"Harapan hidup Natsu tinggal setengah tahun kurang. Setelah mendengar prediksi saya, kau menjawab apa?" membisu, jawaban yang Lucy berikan spontan akibat shock berat. Dia sadar kanker stadium empat memang ganas, tetapi … kenapa harus sekarang?

"Bohong … katakan dokter bercanda! Kalau saya menolak maka kenapa?! Keputusan di tangan Natsu seorang, umur mutlak di tentukan Tuhan! Kekuatan terbesar manusia adalah kemauan berjuang, jadi … jadi ….!"

"Memilih percaya pada Natsu, hn? Tidak buruk, anak muda. Zeref juga mengutarakan hal serupa, kalian benar-benar berani menantang takdir"

"Kami hanya mendukung dari belakang, Natsu-lah tokoh utamanya. Dok, kenapa Anda berkata mustahil melakukan donor mata? Teknologi semakin canggih, saya pikir sangat memungkinkan"

"Sebenarnya bisa, tetapi ditilik melalui sudut pandang logika, memberikan Natsu mata sama sekali tidak berguna, sedangkan waktu hidup di dunia kian berkurang ditelan hari dan bulan" suara kenyataan begitu kejam. Lucy mengerti maksud penjelasan dokter, tapi konsekuensi ditanggung satu pihak bukan?

Tap … tap … tap ….

Baru saja ditanyai lima menit lalu, Zeref tiba di rumah sakit sambil membawa toples berisikan … bola mata? Lucy teringat ulah nekat Sting di gudang, dia juga sempat berkata, '… akan ku simpan dan perlihatkan pada Natsu', dasar psikopat! Namun yang menjadi pertanyaan mereka berdua, bagaimana cara pemuda miring ini menyusup dan pastinya mencuri ke mansion Eucliffe? Mana mungkin petugas keamanan tinggal diam?

"Kamu mengerti maksud saya?" dokter Makarov menatap intens sepasang onyx tak kenal gentar. Zeref menyerahkan toplesnya terlebih dahulu, hendak bersaksi menurut tindakan yang dia rasa paling benar

"Intinya tolong donorkan sebelah mataku untuk Natsu. Saya menerobos mansion Eucliffe di saat penghuni rumah pergi, dan satpam dibius setelah ku ancam agar memberikan kode keamanan. Sulit mencarinya ke berbagai sudut, ternyata Sting menyimpan di dalam lemari kamar"

"Gi-gila! Kak Zer tindakanmu …."

"Aku sadar akan akibatnya! Kalau Sting melapor tamat sudah riwayatku, tetapi beda cerita jika kita berdua mengadu pertama kali. Masalah ini hanyalah tentang siapa cepat dia menang"

Meski Lucy membenarkan tindakan Zeref. Bola mata itu miliknya sampai kapanpun, jika diambil kembali haruslah Sting yang disalahkan karena merebut organ orang lain, walau salah memakai cara dengan presentase keberhasilan tiga puluh pun tetap dianggap ilegal, dan dia benar mengenai ucapan tersebut. Mereka beranjak menuju kantor polisi, sebelum tiba pun diperingatkan agar tidak membuat kekacauan seperti kemarin.

Tetapi ….

"Maaf. Kasus pembullyan terhadap Natsu Dragneel telah ditutup satu jam lalu" ucapan pak polisi menyebabkan Zeref naik pitam. Ditelantarkan seharian lalu seenak jidat dibuang ke laut?! Mereka bahkan lebih gila dari pasien rumah sakit jiwa!

BRAKKK!

"MANA BOLEH BEGITU?! MESKIPUN KAMI RAKYAT JELATA TETAP BERHAK MEMINTA KEADILAN! BUKANKAH SUDAH SAYA BILANG KEMARIN?! STING MENGHAMILI LUCY DAN MELAKUKAN TINDAK KEKERASAN!" Lucy sebatas mendengarkan. Zeref patut marah kesaksiannya diabaikan polisi

"Sting menyogok kepala polisi sebesar seratus juta joule, agar kasus ditutup dan jejak kejahatannya terhapuskan. Maaf, sebanyak apapun mengadu dia tidak bisa dimasukkan ke penjara" kejam … hasil jerih payah mereka tersia-siakan?

"Kami mengerti. Ayo kita pulang, Lucy"

Tekad dikalahkan benda duniawi?! Zeref baru pernah merasakan kekalahan telak seumur hidupnya, begitupun Lucy yang tak dapat berkutik sedikitpun. Sekarang ia berpikir untuk merencanakan jadwal donor mata Natsu, tentu lebih cepat lebih baik. Sepanjang perjalanan memikul kesedihan di kedua pundak, mereka bertemu Sting di perempatan lampu merah, dengan seringai kemenangan terukir jelas berbalut sikap angkuh.

"Hai para pecundang! Bagaimana rasanya berjuang hingga jantung mau copot, tetapi dikalahkan sangat telak? Aku tau pasti menjengkelkan, tapi kau mesti sadar di mana posisi dan siapa dirimu sesungguhnya, Zeref Dragneel"

"Ya, ya, daripada menyogok polisi balik, kutu macam kalian lebih baik pasrah dipermainkan takdir! Mau kuberitau satu hal? Tuhan sebenarnya berada di mana-mana termasuk dalam kantong. Dengan uang kita bisa membeli apapun, kekuasan, kebahagiaan, bahkan jika kau menginginkan dunia sekalipun!"

"Hentikan omong kosong soal, 'uang tidak bisa membeli kebahagiaan'. Karena sumbernya sendiri berasal dari sana. Cinta kasih, melayani sesama, rela berkorban? Kalian gila jika beranggapan, di dunia masih ada manusia seperti itu"

"Hidup hanya sekali, manfaatkanlah sesuka hati! Takut masuk neraka? Apa Tuhan sekejam itu untuk menyiksa manusia? Kalau iya, kenapa kita terus dibantu ketika mendapat cobaan?" Zeref terperengah di tempat. Dia mau menantang Maha Kuasa secara tidak langsung?!

"Hukum memang tidak adil kepada mereka yang diperdaya, tetapi karma berbeda! Sting, aku bertaruh kau akan merasakannya setelah semua ini berakhir. Uang tak dapat menghentikan kuasa Tuhan!"

Inilah realita, di mana si kaya mampu memperoleh segalanya tanpa perlu mengeluarkan peluh, sedangkan si miskin wajib bersusah payah demi mempertahankan hidup. Zeref mendorong kasar Sting agar menjauh, mereka pun pulang usai dicegat sepuluh menit hanya untuk mendengarkan ceramah tuan sok absolut. Lagi pula, para perjuang ini tidak betul-betul kalah.

Keesokan harinya ….

Lucy menjenguk Natsu setelah bel pulang berbunyi, dan seperti biasa Gray menyusul satu jam kemudian. Sepasang onyx itu asyik membaca puisi kuno, yang akan Yajima-sensei ulangkan minggu depan, walau dia dilarang dokter dan Zeref mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Sesekali irisnya diusap, atau mendekatkan jarak buku dengan mata supaya terlihat jelas. Tinggal menghitung mundur sebelum ia kehilangan.

"Ma-maaf. Apa tulisanku terlalu kecil?" tanya Lucy berpura-pura tidak tau. Padahal hatinya meringis sakit menyaksikan Natsu menderita. Dulu membaca satu buku pun dibabat habis dalam sehari. Sekarang satu paragraf pun belum sampai

"Tidak, mataku saja yang bermasalah. Maaf membuatmu khawatir, Lucy-san. Terima kasih telah meminjamkannya, aku senang" senyum itu aneh, seakan menutupi sebuah dusta di balik ketegaran dengan jiwa rapuh

"Senang katamu? Natsu, kumohon ungkapkan semuanya. Kita saling mencintai kau tau itu, jangan ditanggung sendirian"

"Kenapa kamu menerimanya? Sebentar lagi aku buta! Waktu hidup tersisa sedikit, bergerak kurang leluasa, bahkan ke toilet pun dibantu! Kita tidak bisa kencan, jalan-jalan ke taman bermain atau makan malam bersama. Bertemu tiap dua jam sehari, siang dan malam, lalu apa? Hanya itu!"

"Selama kamu sehat aku senang! Siapa yang peduli dengan kencan? Bersama seperti inipun merupakan kebahagiaan bagi kita berdua. Apapun upayamu kuhargai sepenuh hati. Jam kunjungan sudah habis, sampai jumpa nanti malam"

Lagi-lagi dipaksa berpisah … ketika Lucy keluar dari kamar, seseorang datang membanting pintu kasar. Mengagetkan Natsu yang spontan menaruh buku di atas laci. Samar-samar ia melihat lelaki berambut pirang pucat, dan tidak lain adalah Sting? Firasatnya berubah buruk, apalagi kedua tangan itu menutup matanya tanpa alasan jelas, membuat perasaan takut memuncak ke permukaan. Semua begitu gelap, cahaya lampu … buku … sepiring buah … mereka … di mana?

"Hentikan Sting-san, aku ketakutan!" teriak Natsu sambil meronta-ronta minta dilepaskan, mendukung rencana si pirang pucat untuk menganggu psikisnya

"Bayangkanlah, kamu akan seperti itu jika buta! Tidak bisa melihat, berjalan dipapah, buku pun harus dibacakan oleh seseorang, kasihan sekali! Kau penasaran akan sesuatu? Kakakmu kehilangan matanya karena kucongkel, dan sekarang ingin diberikan padamu. Beruntung atau sial ya?"

"Ja-jadi kakakku …."

"Benar Natsu, Zeref kehilangan sebelah matanya! Dan dia akan melupakanmu cepat atau lambat. Sudah buta, ditinggal kakak sendiri, malang nasibmu. Atau mungkin … kau ingin Lucy dilenyapkan dari cerita kehidupanmu?"

"Apapun asalkan jangan Lucy-san dan kakak! Gray-san juga …. tapi Sting-san, apa salahku sehingga kau membenciku?"

"Kenapa tanyamu?! Magnolia tidak membutuhkan sampah masyarakat macammu. Untuk apa berjuang demi mempertahankan nyawa? Sia-sia kataku, percuma!"

"Benar Sting-san, ucapanmu tepat … namun apa salah?! Aku juga manusia, kita semua tidak mau meninggal begitu saja! Gray-san, Lucy-san, kakak, setidaknya kesedihan mereka bisa ku tunda sesaat. Akan ku tunjukkan pada dunia, TUHAN MEMBERIKAN HIDUP UNTUK MENGUKUR SEBERAPA KERAS MANUSIA BERUSAHA DEMI SESUATU BERNAMA KEHIDUPAN!"

Sang pemenang ialah, mereka yang berani berjuang tanpa mengenal arti lelah.

Berambung ….

Balasan review :

Fic of Delusion : Ya ada yang mati emang, bisa tebak siapa? Oke thx ya udah review!

Kaoru Dragneel : Emang kampret dasar si Sting. Yap udah mau selesai terus review ya. Thx udah review!