"Relationshi(t)(p)"
A BoBoiBoy Fanfiction byFanladyand FureeneAnderson
Disclaimer: BoBoiBoyMonsta.Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.
Warning(s) : Highscool!AU, no super power, typo, dll
TauYa/TauYi/HaliYi/KaiYa/HaliTauGem/TauFanGop/
.
Fanfiksi ini adalah hasil kegabutan Fanladydan FureeneAnderson. Dipersembahkan untuk kamu yang sedang mencari bacaan, hiburan, asupan, drama remaja dan yang sedang mengalami konflik tentang hubungan. Baik keluarga, persahabatan, platonic maupun romansa yang dipenuhi bunga. Semoga kita selalu berada dalam hubungan yang baik.
.
Selamat membaca!
.
.
.
Taufan sedang duduk di sofa dengan kepala yang bersandar. Matanya menatap langit-langit putih dengan kosong. "Gem, menurutmu aku bakal dihajar kak Hali enggak?"
"Ya pasti dihajarlah!" Balas Gempa. "Orang kamu jelas-jelas ngajakin pacarnya bolos pelajaran! Lagian, bisa - bisanya loh kamu kepikiran buat ngajakin Ying bolos. Emang kamu nggak mikir akibatnya kalau Kak Hali tau?"
"Ya elah. Sebelum pacaran sama kak Hali aku juga sering ngapa-ngapain sama Ying kali. Sekarang aja jadi terbatas banget," keluh Taufan. "Aku mau ngajak Yaya ga bisa, mau ngajak Ying juga ga bisa. Punya pacar malah ngebatasin pertemenan. Ga asik banget. Gini nih yang aku enggak suka dari pacaran. Apa - apa ada batasnya. Yang sebelumnya temen, malah dicemburuin dan dijadiin ancaman. " Taufan menghela napas. "Terus kalau udah kayak gini aku harus gimana, Gem?"
"Ya kamu cari pacar juga sana biar nggak ribut terus," Gempa berujar santai.
"Siapa? Aku harus pacaran sama siapa? Satu-satunya cewek yang kusuka udah diambil orang. Gimana aku mau pacaran?"
"Cewek lain banyak, kali. Emang cuma Yaya aja? Di sekolahan kita juga banyak. Pilih aja satu, deketin, pacarin. Udah, beres."
"Eh ngomong-ngomong soal cewek nih Gem, tadi di sekolah aku ketemu sama murid kelas tiga. Cantik sih. Tapi masa iya, aku pacaran sama kelas tiga?" cerita Taufan.
"Kenapa nggak? Sekarang kan jamannya cewek yang lebih tua?"
Taufan menggeleng. "Nggak Gem, aku nggak bisa suka cewek lain selain Yaya."
"Move on dong, Fan. Move on. Udah nggak jaman baper lama-lama. Mati satu tumbuh seribu. Iya nggak?"
"Nggak, ah. Pokoknya nggak. Aku bakal tetap perjuangin Yaya. Setidaknya sebelum janur kuning melengkung, aku masih punya kesempatan!"
"Kesempatan apa?"
Mama mereka muncul dari dapur dan membuat keduanya terlonjak kaget.
"Gempa, kamu kok nggak istirahat di kamar? Emang demamnya udah turun?"
"Nggak ah, Ma. Gempa mau nemenin Taufan aja. Tadi Gempa udah istirahat." Gempa tersenyum dan menggeleng meyakinkan.
Mama mengangguk, dua detik kemudian Halilintar muncul di pintu dengan memutar-mutar kunci motor di tangannya. Membuat Taufan dan Gempa juga ikut menoleh.
"Loh Hali? Darimana?" Tanya Mama. "Nggak sama Ying? Tadi kayaknya mama liat dia pulang ke sini sama Taufan, iya nggak sih Fan?"
"Iya, ma. Terus Yingnya langsung diculik tuh sama kak Hali," cibir Taufan.
"Sembarangan," balas Halilintar. "Ying udah Hali anter pulang, Ma."
"Oh,gitu? Kenapa nggak ajak makan di sini?"
"Kasian Ying ma. Kemarin dia udah makan di sini, masa makan di sini lagi?"
"Ya enggak apa-apa dong. Kan mama jadi nggak kesepian kalau ada anak cewek di sini."
"Ah ma sama aja." Taufan masih mencibir. "Kalau Ying di sini, dia nggak akan nemenin mama. Pasti bakal ditap kak hali duluan."
Halilintar mengabaikan Taufan dan langsung beranjak naik ke kamarnya.
"Hayo, kak Hali ngambek beneran sama kamu," bisik Gempa.
"Biarin aja," balas Taufan cuek. "Gitu doang ngambek. Baperan."
"Kamu berantem sama Kakak kamu, Fan?" Tanya mamanya khawatir.
"Taufan memutar mata. "Yaelah ma. Kayak nggak tau Kak Hali aja, kapan sih dia nggak berantem sama aku."
"Fan, aku saranin mendingan kamu ngomong deh sama Kak Hali." Bisik Gempa lagi.
"Nanti-nanti aja, deh. Aku lagi males ngomong sama orang baper." Taufan bangkit dan merenggangkan tubuh. "Taufan mau naik ke kamar juga deh, ma. Udah, ya."
Gempa dan ibunya mengawasi Taufan naik ke atas dan menghilang di lantai dua.
"Kakak-kakakmu kenapa, Gem?"
"Enggak tau deh, ma." Gempa menghela napas, berharap semoga hubungan kedfua saudaranya itu masih baik-baik saja.
.
.
.
Taufan melangkah di koridor lantai dua menuju kamarnya yang berada paling ujung. Ia tak sengaja melewati kamar Halilintar dan entah kenapa Taufan merasa kesal hanya dengan melihat pintu putih yang tertutup rapat itu.
'Aku nggak suka kalau Yaya Deket sama laki-laki lain. Apalagi yang punya perasaan lebih sama dia.'
'Aku harus ngejelasin kalau apa yang dia pikirin itu salah paham, Fan.'
Taufan geram. Entah kenapa ia merasa Halilintar juga tidak ada bedanya dengan Kaizo. Apa semua laki-laki yang pacaran akan posesif begitu dan mengekang pacarnya untuk tidak bebas berteman dengan laki-laki lain?
Tapi sepertinya, Taufan tidak akan begitu. Saking kesalnya, Taufan sengaja mengeraskan suara langkah tepat di depan kamar Halilintar.
Pintu kamar Halilintar terbuka tepat sebelum Taufan masuk ke kamarnya sendiri. Halilintar berdiri bersandar di bingkai pintu, menatap Taufan yang balik memandangnya dengan alis mengernyit.
"Apa liat-liat?" ketus Taufan. "Kalau mau ngomong, ngomong aja. Cepetan. Aku lagi ga punya waktu dengerin omelan kak Hali."
"Bukannya harusnya kamu yang ngomong?" Balas Halilintar sengit. "Kamu tau aku bakal ngomel? Berarti kamu tau apa yang udah kamu lakuin, kan?"
"Nggak. Emangnya aku ngapain?"
Halilintar menyipitkan mata. "Kau ngajak pacar orang lain buat bolos berduaan. Nggak ngerasa bersalah?"
"Pacar, ya? Haha, iya maaf deh yang udah jadi hak milik," Taufan tertawa sinis. "Iya, aku salah. Aku enggak tau diri deket-deket cewek orang. Aku bakal jaga jarak dari Ying sekarang. Puas?"
Tanpa menunggu balasan Halilintar, Taufan sudah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu sekencang-kencangnya.
"Cih apaan sih. Bikin kesel saja. Sana makan noh pacar." Gerutu Taufan entah pada siapa.
Taufan langsung merebahkan diri di ranjang tanpa berminat menyalakan lampu. Ia menatap langit-langit. Bertanya-tanya, mengapa hidupnya jadi lebih sulit sekarang.
Semuanya berawal sejak hari di mana Taufan mengetahui fakta bahwa Yaya sudah berpacaran dengan Kaizo. Lalu sekarang Halilintar juga pacaran dengan Ying. Berikutnya siapa? Gempa? Lalu Fang dan Gopal juga? Terus Taufan ditinggal sendirian? Oke fine. Taufan gapapa.
Napas dihela berat sementara Taufan berbaring menelungkup dengan wajah dibenamkan di bantal.
Hubungan itu sesuatu yang rumit. Yang awalnya terlihat biasa saja bisa berubah menjadi ancaman jika ada entitas lain yang menyusup masuk.
Padahal awalnya Taufan berpikir ia masih bisa berhubungan dengan Yaya walau Yaya berpacaran dengan Kaizo. Ia berpikir kalau Yaya masih mau bermain dengannya, bercanda dengannya sekalipun Yaya punya pacar. Tapi jangankan untuk bercanda, menyapa Yaya sekarang saja sudah terasa sulit.
Dulu Taufan juga mendukung penuh hubungan Ying dan Halilintar. Tapi sekarang, Halilintar justru melihatnya sebagai ancaman dalam hubungan mereka.
Kenapa semuanya seperti ini?
"Kalau pacaran malah jadi membatasi hubungan sama yang lain, mending enggak usah pacaran aja deh," gumam Taufan. Ia benar-benar kecewa harus kehilangan dua sahabat terbaiknya hanya karena mereka kini tengah menjalin hubungan kekasih dengan orang lain. Baru berpacaran saja sudah dibatasi begini, bagaimana kalau sampai menikah nanti?
Taufan menghela napas, bangkit dan berjalan ke arah jendela. Ia tersenyum melihat lampu Yaya yang sudah padam. 'pasti Yaya udah tidur.' pikirnya. Lalu ia buru-buru menggeleng.
'Nggak Fan. Nggak. Batasin diri. Nanti kamu dianggap ancaman hubungan orang lagi.' Taufan tersenyum satir.
"Padahal kan aku yang lebih dulu Deket dan kenal mereka berdua ketimbang Kaizo atau Kak Hali. Haha." Taufan mendesah. "Yang duluan ada emang pasti bakal kalah sama yang spesial, ya?"
Ia naik kembali ke tempat tidur dan menggelungkan diri di balik selimut. Mendadak saja ia merasa begitu kesepian. Ingin menghubungi Ying atau Yaya, tapi tidak mau dianggap perusak hubungan orang lagi.
"Mending chat Fang sama Gopal aja, deh... "
Taufan menggulir layar ponselnya. Gopal Gopal Gopal. Kayaknya udah tidur. Mending chat Fang. Dia kan lagi di china. Minta beliin oleh-oleh bisa kali ya?
Taufan mengetik pesan. "Yo! Kok pulang kampung enggak bilang-bilang? Balik ke sini bawa oleh-oleh ya? Jangan lupa!"
"Oleh-oleh apa? Mau dibawain anak panda?" balas Fang.
"Mau! Mau banget! Bawain emaknya sekalian biar rame. Hehe."
"Sembarangan. Gimana mau bawa-bawa panda balik ke sana coba?"
"Yee tadi kan kamu yang nawarin. PHP ah."
Balasan dari Fang. "Tumben nge-chat. Pasti ada maunya."
Taufan mengetik balasan. "Ya itu minta dibawain oleh-oleh. Eh kepikiran pengen hangout deh. Cepetan pulang Fang, pengen trip nih."
"Trip ke mana?"
"Ya ke mana aja. Bosen nih di rumah terus," ketik Taufan.
Pintu kamar dibuka dan Taufan langsung menoleh.
"Mama?" Taufan mengerutkan kening. "Kok nggak ngetuk-ngetuk dulu sih?"
"Kamu tumben matiin lampu." Kata Mama seraya berjalan dan duduk di ranjang Taufan. "Kamu bete lagi?"
"Iya bete." Taufan memberengut.
"Bete kenapa?"
"Banyak banget yang bikin Taufan bete," keluh Taufan. "Bawaannya sekarang pengen nabok orang, tapi enggak tau mau nabok siapa."
"Ya kamu lagi bete sama siapa?"
Taufan menghela napas. Ia bangkit untuk menyejajarkan posisi dengan mamanya.
"Ma, dulu Mama pas pacaran sama Papa dikekang nggak sih buat nggak temenan Deket sama cowok lain?"
"Hah? Nggak, sih," ucap sang mama setelah mengingat-ingat. "Tapi ya kalau emang dekatnya berlebihan pasti dikasih tau jugalah buat jaga jarak. Kan biar nggak cemburu."
"Tuh,kan. Pacaran itu emang ribet banget, ya? Masa membatasi pertemanan gitu, sih?" sungut Taufan. "Deket dikit aja ga boleh. Apa-apa cemburu. Nyebelin banget."
"Ya yang namanya pacaran pasti gitulah. Coba deh bayangin kalau kamu punya pacar, terus pacar kamu temenan Deket sama cowok lain, emang kamu enggak cemburu?"
Taufan berpikir sejenak lalu menggeleng. "Nggak ma, Taufan nggak bakal kayak gitu."
"Mana kamu tau? Orang kamu juga belum pernah pacaran kan?"
"Tapi Taufan nggak mau ngebatesin cewek Taufan buat deket ke orang lain gitu," ujar Taufan yakin. "Pacaran iru harusnya sama-sama saling percaya, kan? Kalau cemburuan terus buat apa? Yang ada malah jadi nggak nyaman karena dikekang terus."
"Cemburu itu ada karena sayang." Balas mamanya lembut. "Lagian kalau cemburu artinya dia takut kehilangan, kan?"
"Tapi nggak berlebihan juga kan cemburunya?" Tanya Taufan, tak bisa menahan kesal. "Ya kali ma masa Taufan harus ngerasa bersalah ngajakin temen cewek Taufan main. Padahal dia tau Taufan sama cewek itu cuma temenan. Te-me-nan. Dan temenannya udah lama, bahkan sebelum temen cewek Taufan ketemu sama pacarnya." Kata Taufan memberi penekanan.
"Maksud kamu Ying?" mama akhirnya tersenyum paham.
"Iya, ma. Sama Yaya juga. Masa' setelah mereka punya pacar malah Taufan ga boleh deket-deket mereka lagi? Padahal dari dulu Taufan yang duluan ketemu dan deket sama mereka. Tapi sekarang malah Taufan yang diusir pergi. Nyebelin ga sih, ma?"
"Yang paling nyebelin itu kak Hali. Masa dia nggak ngerti Taufan emang deket banget sama Ying? Lagian dia bisa ketemu sama Ying karena siapa kalau bukan Taufan coba? Kenapa pacaran itu bukan nularin kebahagiaan tapi malah Batasin interaksi orang ya, ma?"
Mamanya tersenyum lembut. Menepuk kepala Taufan. "Wajar Fan mereka kayak gitu. Lagian kalian kan masih dalam usia-usia labil jadi ya wajar kalau cemburunya sampai berlebihan. Tapi, kalau menurut mama ... Hubungan yang baik itu bukan mengekang, tapi saling percaya dan jaga hati masing-masing."
"Tuh kan! Mama juga sependapat kan?! Terus kenapa Kak Hali masih-"
"Ckckck." Mama menggeleng pelan. "Karena kakakmu masih belum cukup dewasa buat sampai ke tahap itu, Taufan."
"Terus sekarang gimana dong? Masa Taufan beneran ga boleh deket-deket Yaya sama Ying lagi?" Taufan merengek.
"Ya boleh aja deket. Tapi dalam batasan wajar. Kamu juga harus ngehargain mereka yang udah punya pacar masing-masing. Jangan sampe malah ngerusak hubungan orang ya sayang?"
"Berarti kalau masih dekat-dekat, Taufan yang dicap jadi perusak hubungan orang ya ma?" Taufan memberengut. "Harusnya mereka dong. Mereka yang udah ngerusak persahabatan Taufan.."
Mama mengusap rambut Taufan dan sedikit mengacaknya gemas.
"Nanti kamu juga bakal ngerti kalau udah punya pacar sendiri," katanya. "Makanya, daripada ngedumel terus sendirian, mending cari pacar sana. Masa' anak abg mama kerjaannya cuma di rumah terus nggak ngapelin siapa-siapa?"
"Ih, mama kok malah bahas itu, sih," sungut Taufan.
"Yaudah, sekarang kamu istirahat.." lalu mama teringat sesuatu. "Eh iya, jadi kamu beneran ribut sama Kakak kamu gara-gara Ying? Kok bisa? Kemarin kalian baik-baik aja."
"Mama tanya aja sendiri sama Kak Hali." Kata Taufan kesal.
"Mama maunya tau dari kamu dulu." Ucap Mamanya. "Ayo dong cerita. Cerita yang detail ya?"
"Tadi mama nyuruh istirahat. Gimana, sih?" sungut Taufan. "Taufan males ngomongin itu dulu, ah. Besok aja Taufan cerita, deh."
"Ya udah kalau gitu. Kamu tidur ya? Jangan ngegalau terus. Besok ngambek lagi ga mau sekolah," canda mamanya, lalu melangkah meninggalkan kamar. "Selamat tidur, sayang."
Taufan menatap pintu yang tertutup dari luar. Ia kembali membanting tubuhnya sendiri ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. Masih mengabaikan ponsel yang sejak tadi berdering minta diangkat.
"Yaudahlah."
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
A/N : Tuh kan udah mulai dramanya. Jangan bosen-bosen ikutin ff ini yaa. Makasih yang udah menyempatkan baca..!
Oh, iya, walau udah telat, kami mau minta maaf lahir batin sama semua pembaca fic ini! Maaf kalau ada kata-kata di fic ini yang bikin tersinggung. Tapi percayalah, kami bikin ini sepenuhnya cuma untuk hiburan, kok. Semoga kalian menikmati terus ngikutin kelanjutan fic ini!
Salam sayang,
Fanlady and Fureene
