Naruto © Masashi Kishimoto
Allergy or Lovewritten by RenJeeSun
Rated: M (For theme and language)
Genre: Romance, Hurt/Comfort.
Pairing: SasuNaru, ItaKyuu.
Slight: SasoDei, NejiGaara, ShikaKiba
warning: AU, sho-ai, Boys Love, Smut, OOC (sangat), OC, typo bertebaran, No Bashing, dll.
Well, if you Don't like, don't read!
::A::C::SN::J::S::
.
::A::C::SN::J::S::
.
"…Itulah hal yang membuatku jatuh cinta padamu, Kurama."
Entah berapa lama Kyuubi lupa untuk bernapas. Satu-satunya hal yang terpikirkan saat ini adalah berusaha mencerna pengakuan laki-laki yang masih setia berada di atasnya. Matanya tidak lepas dari bola hitam yang menatap lurus. Kyuubi tidak pernah menduga akan mendengar kalimat itu meluncur dari mulut sang Uchiha sulung. Seseorang yang ia kenal tidak memiliki hati, sejak dulu. Dan bukan tanpa alasan Kyuubi berpikir seperti itu.
Sepuluh tahun lalu dia tahu bahwa Itachi hanya menganggapnya setara binatang liar. Tatapan Itachi saat pertama kali bertatap muka dengannya sudah cukup memberitahu Kyuubi apa yang Itachi pikirkan saat itu. Walaupun mata hitam itu terlihat tanpa emosi bagi orang lain disekitarnya. Tapi tidak bagi Kyuubi, ia tahu betul arti tatapan itu karena ia pernah melihat ayahnya melihat seekor kuda liar dengan tatapan yang sama seperti yang Itachi berikan padanya saat itu. Seperti sorot mata yang berusaha untuk terlihat tidak akan menyakiti siapa pun, seolah mendekati binatang yang kapan saja bisa menyerang tanpa terduga. Sorot mata yang berkeinginan kuat untuk menjinakkannya.
Kyuubi tahu, tapi dibalik itu Kyuubi juga tidak bisa mencegah dirinya merasa penasaran. Meskipun dia tahu anggapan Itachi terhadap dirinya seperti itu, tapi sesuatu yang lain juga terlihat dalam tatapan datar itu. Sesuatu yang membuat Kyuubi bersedia mengundang Itachi masuk kedalam kehidupannya. Sesuatu itu bernama tantangan. Tantangan untuk menjinakan binatang liar. Menjinakkan dirinya. Dan seumur hidup Kyuubi tidak pernah mundur ketika menghadapi sebuah tantangan, ia menerimanya dan menghadapinya dengan rasa percaya diri tinggi. Yakin jika Itachi tidak akan bisa mengendalikannya dan bersumpah bahwa hal sebaliknya lah yang akan terjadi. Tapi kesombongan dirinya saat menghadapi tantangan itulah yang kini membawanya dalam penyeselan selama sepuluh tahun.
Awalnya ia hanya bermain-main dengan Uchiha sulung, melihat reaksi laki-laki itu. Tapi setelah beberapa lama mengenalnya ia mulai merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang belum pernah ia rasakan pada siapa pun sebelumnya. Tapi saat itu ia mengabaikan perasaannya dan lebih fokus untuk membuat Uchiha sulung itu bertekuk lutut di hadapannya. Ia berusaha mendapatkan kepercayaan muka keriputan itu, yang bisa dibilang tak pernah berhasil, hingga akhirnya suatu hari tiba-tiba saja Itachi mengajaknya kencan, dan entah apa yang dipikirkannya saat itu yang jelas ia menyetujui ajakan itu. Dan dari situ hubungan mereka berjalan ke hal-hal yang Kyuubi sangat enggan mengingatnya. Tapi satu hal yang pasti dalam hubungan itu Kyuubi tidak pernah merasa percaya dengan Itachi, begitu pula sebaliknya.
Well, dari awal Kyuubi memang tidak pernah percaya dengan bajingan itu. Hell, dulu ia tidak pernah percaya dengan siapa pun. Jika diingat kembali hubungan mereka sepuluh tahun lalu juga bukan dibangun atas rasa suka, tapi hanya sebatas rasa penasaran satu sama lain. Penasaran siapa yang bisa memenangkan tantangan tersebut. Bisa dibilang awal hubungan mereka memang tidak sehat. Tak jarang mereka saling memanfaatkan satu sama lain untuk kepuasan pribadi. Entah itu dalam konteks seksual ataupun hubungan sosial. Tapi lambat laun semua itu berubah.
Hal ini sama seperti pertama kali dia mencicipi pie apel yang tersaji diatas piring cantik, dan ketika merasakan kelezatan pie apel tersebut, ia tak bisa berhenti. Hingga akhirnya rasa candu pun muncul. Rasa candu akan satu sama lain. Sesuatu yang sejak awal tak pernah ia duga. Hal itu membuat Kyuubi menyadari satu hal; Kyuubi memang tidak pernah percaya padanya, tapi bukan berarti rasa cinta tidak bisa muncul dihatinya.
Dan sepertinya hal yang sama juga terjadi pada diri bajingan itu. Bajingan yang awalnya hanya ingin mengontrolnya kini terjebak oleh tantangan yang ia buat sendiri. Dan ketika mereka berdua memahami perasaan masing-masing semuanya telah berakhir, bahkan sebelum sempat mereka benar-benar memulai. Dan baru sekarang Kyuubi mengetahui kebenaran perasaan bajingan itu padanya dengan mengatakan; 'dia jatuh cinta pada Kyuubi'. Bahkan ketika Kyuubi tidak pernah memberikan rasa percayanya sedikitpun pada bajingan itu. Dalam hati Kyuubi menanyakan kesehatan mental laki-laki di atasnya.
Orang waras mana yang jatuh cinta pada seseorang yang tidak pernah percaya padanya? Itu terdengar sangat tidak masuk akal.
Right.
Memangnya sejak kapan Uchiha itu masuk akal?
Sama tidak masuk akalnya dengan dirinya yang mencintai bajingan itu, tanpa ia pernah percaya padanya…
Ugh, ya ampun. I hate complicated.
Kenapa semuanya menjadi sangat rumit seperti ini? Kenapa tidak ada satu pun orang disekitarnya yang membiarkan masa lalu tetap menjadi masa lalu? Kenapa mereka semua harus mengungkitnya? Apa tidak ada satu pun yang mengerti arti kata 'berakhir'? Memikirkannya saja sudah membuat kepala Kyuubi mau pecah.
"Kurama..?"
Kyuubi mengerjap, panggilan itu menarik kembali pikirannya ke alam nyata. Sekilas memerhatikan posisi mereka yang masih sama. Sudah berapa lama mereka seperti ini?
"Kalau kau sudah selesai, bisa kau menyingkir?"
Onyx menyiratkan kebingungan, tapi mata ruby itu menatap lurus. Menunggu. Akhirnya, dengan tak rela Itachi menurutinya, perlahan menyingkir dari atas tubuh Kyuubi. Lalu Kyuubi bangkit dari posisinya dan duduk.
Kyuubi memegangi kepalanya yang kini berdenyut-denyut. "God! Kenapa kau selalu suka membuatku sakit kepala," keluhnya.
Itachi menyipitkan mata curiga melihat reaksi tenang dari Kyuubi itu. Bukan maksud Itachi untuk merasa besar kepala atau apa. Tapi menurut pengalaman, tidak ada yang bersikap begitu tenang seperti laki-laki di depannya ini ketika ia baru saja mengungkapkan perasaannya. Dia baru saja mengungkapkan cinta-nya. Seorang bajingan sepertinya menyatakan cinta. Wow, seharusnya dia mendapat penghargaan. Sebuah pelukkan misalnya? Atau setidaknya tepukan di bahu. Bukan sakit kepala.
Dengan ragu Itachi bertanya, "Kau tidak apa-apa?" Itachi bisa melihat bahu Kyuubi yang menegang mendengar pertanyaannya itu.
"Tidak apa-apa?" pertanyaan itu diulang dengan penuh racun dalam suara Kyuubi, "Tidak apa-apa kau bilang?" Men-deathglare Itachi yang berdiri memandangnya tanpa berkedip, raut wajah bajingan itu tidak menunjukkan apa pun. Walaupun sesungguhnya Itachi merasa sedikit kebingungan dengan perubahan emosi Kyuubi yang berubah begitu cepat.
"Dalam dua minggu seorang bajingan mengacaukan kehidupan yang sudah kutata begitu rupa selama sepuluh tahun. Tentu saja aku tidak apa-apa. In fact I fan-fucking-tastic."
Itachi nyaris geleng-geleng kepala. Bukan hanya karena dia tidak mendapat 'pelukkan atau tepukan', tetapi sekarang ia malah mendapat 'semburan api'. Itachi menghela napas dalam hati.
Seharusnya Itachi sudah menduganya. Seorang Kyuubi hanya akan merasa senang jika Itachi mau berlutut di hadapan pemuda berambut oranye itu… Oh well, mungkin Itachi akan dengan senang hati melakukannya. Membayangkannya saja sudah bisa membuat Itachi menelan ludah. Membayangkan dirinya berlutut dihadapan Kyuubi, merasakan jemari ramping Kyuubi meremas rambutnya ketika dia dengan sepenuh hati mengerjai bagian tersensitif tubuh pemuda bermata ruby itu, membayangkan bagaimana tatapannya tidak lepas dari wajah pemuda berambut oranye itu, wajah yang dipenuhi sensasi kenikmatan, dengan mulut terbuka, memohon lebih hanya untuk mendesahkan namanya dengan putus asa—mulut Itachi tiba-tiba terasa sangat kering. Bad Itachi bad. Ini bukan saatnya berkhayal.
Tidak ingin membuat situasi semakin tidak nyaman, apalagi Itachi bisa merasakan celana yang dia kenakan semakin terasa sempit, Itachi berdeham singkat. Berusaha terlihat se-normal mungkin, lalu berkomentar, "Mulutmu menjadi semakin aktif kalau sedang marah. Well, itu salah satu hal yang aku suka darimu."
Kyuubi memicingkan mata padanya, "Kau mengolokku?"
"Tidak. Aku hanya bicara fakta."
Kyuubi menggeram, "Kau—" Lalu menghela napas. "You know what. Lupakan. Jika terus seperti ini tidak akan ada habisnya. Kau akan selamanya mengganguku. Katakan padaku, apa maumu sebenarnya?"
"…Apa?" Bola mata hitam itu mengerjap polos.
Kyuubi menyipitkan mata, "Kau tahu, aku sedang mabuk," katanya, seolah hal itu menjelaskan semuanya.
"Uh-huh? Kau terlihat sangat sadar untuk orang mabuk. Walaupun mood-mu cepat sekali berubah-ubah."
"Jangan bercanda. Kau tahu apa yang kumaksud."
Itachi mengangkat bahu, "Aku tidak mau apa pun darimu."
"Dan aku benci apel." Kyuubi mendengus. "Dari dua minggu lalu kau sudah ada di Konoha dan baru sekarang kau merasa perlu bicara denganku, ini sudah nyaris tengah malam. Tiba-tiba kau meminta membicarakan masa lalu. Disaat aku sedang mabuk. Melihat keadaan ini seharusnya kau bisa menundanya untuk besok, saat aku bisa berpikir jernih. Tapi tidak, kau tidak melakukannya. Kau memilih sekarang. Jadi katakan padaku, siapa yang sebenarnya berusaha kau tipu?"
Itachi menatap Kyuubi dalam waktu lama. Tidak bisa mengalihkan tatapannya dari ruby yang bekilat marah. Dan hanya satu hal yang terlintas dipikiran Itachi saat mendengarkan semua rencananya terpapar dengan sangat jelas.
"You are so adorable," ucap Itachi begitu saja, tapi itu benar, melihat api yang menyala-nyala di mata ruby itu dan juga wajah kemerahan Kyuubi yang penuh emosi, di mata Itachi pemuda bermata ruby itu terlihat begitu menggemaskan, dan hal tersebut adalah salah satu hal yang Itachi sukai dari laki-laki di depannya ini. Tak heran jika dulu Itachi sering sekali menggodanya untuk melihat reaksi Kyuubi yang seperti sekarang. Walaupun dalam hati ia juga tidak menyangka Kyuubi benar-benar memahami dirinya.
Sorot mata Kyuubi menajam, dia ingin sekali berteriak frustasi menghadapi bajingan bebal satu ini, atau membenturkan wajah keriputan itu ke tembok. Sayangnya, karena ia belum berkeinginan menjadi pembunuh laki-laki keriputan Kyuubi lebih memilih menanyakan pertanyaan rasional yang masih bisa ditangkap pikiran berkabutnya. Tidak mau memberi kepuasan atas komentar konyol itu, "Apa kepalamu baru saja terbentur?"
"Tidak. Aku rasa tidak. Tapi terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Saat mengatakannya Itachi tersenyum lebar.
Mulut Kyuubi merapat jengkel. Pengalamannya dengan Itachi yang tersenyum lebar dan bukannya menyeringai biasanya bukan sesuatu yang akan dia sukai. Tapi dia sudah lelah dan ingin cepat-cepat mengakhiri pembicaraan ini. Dan satu-satunya cara adalah dengan mengikuti kemauan bajingan itu. Betapa pun menjengkelkan sikapnya.
"Sudah cepat katakan. Jangan membuang-buang waktu. Aku mau tidur."
Akhirnya Itachi mengangguk, lalu mengangkat dua jarinya, "Dua."
"Huh?"
"Hanya dua hal yang aku mau. Apa kau bersedia memenuhinya?"
"Selama kau berjanji berhenti mengusikku."
Itachi mengangguk setuju, "Pertama, aku mau kita berkencan."
Kyuubi menatapnya dengan bodoh, "Apa?"
Itachi mengabaikannya. "Kedua…" Tidak menyelesaikan kalimatnya, Itachi merebahkan tubuhnya disisi ranjang yang kosong. Dengan posisi miring menghadap Kyuubi yang duduk di sisi lainnya. Satu tanganya menyangga kepala dan satu lagi menepuk pelan sisi kasur di sebelahnya. "Aku ingin tidur denganmu."
Ekspresi Kyuubi dua kali lipat lebih bodoh, "The fuck!?"
"Reaksimu berlebihan. Aku bilang tidur, bukan bercinta."
"Siapa yang sudi tidur denganmu, Brengsek!"
"Oh, faktanya dulu kau begitu suka berada di bawahku, memohon dengan manisnya."
Kyuubi tercengang tak percaya, raut wajahnya seketika berubah murka bercampur malu. Beraninya bajingan ini…
"Kau bajingan paling busuk yang pernah aku temui." Geram Kyuubi.
Tapi Itachi hanya menanggapi hinaan itu dengan ekspresi angkuh, menantang Kyuubi menarik kembali kata-katanya.
Kyuubi menggeratakan gigi. Bajingan sialan! Terkutuklah kau hingga ke dasar neraka!
Apa dia sudah pernah mengatakan bahwa; dia tidak akan lari dari tantangan? Well, itulah yang lagi-lagi ia lakukan. Disaat mabuk pun harga dirinya harus menang.
"Fine! But no funny business," kata Kyuubi akhirnya, sangat tidak ikhlas dan sangat yakin kemungkinan besar ia akan menyesalinya.
Itachi berusaha manampilkan ekspresi se-polos mungkin, "Aku sama sekali tidak tahu apa yang kau bicarakan."
Kyuubi memutar bola mata, ekspresi polos seperti itu benar-benar tidak cocok diwajah keriputan itu, "Aku serius Itachi," katanya tegas.
"Uh-huh." Itachi kembali menepuk kasur, "cepatlah. Aku mengantuk."
Kalimat retorik sudah berada di ujung lidah Kyuubi, tetapi dia memilih menelannya kembali, berdebat dengan bajingan itu saat tengah malam sangat menguras tenaga. Dan Kyuubi sangat ingin ini semua cepat berakhir. Satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya saat ini adalah menerima permintaan konyol itu; tidur di ranjang yang sama dan ketika bangun dia sudah tidak akan melihat wajah keriputan itu merusak matanya.
Hopefully.
Akhirnya dengan perasaan lelah bercampur wawas Kyuubi ikut merebahkan diri di sampingnya. Membelakangi bajingan itu. Tapi tiba-tiba tubuhnya menegang, ketika merasakan lengan Itachi melingkari bagian atas tubuhnya. Dengan cepat Kyuubi menoleh ke belakang hanya untuk melihat Itachi yang sudah memejamkan mata.
Malam ini kenapa ia menjadi sangat tidak beruntung? ratap Kyuubi dalam hati. Seharusnya dia sudah bisa menduga, bajingan itu tidak akan melewatkan kesempatan di depan matanya… oooh, right. Dia berurusan dengan bajingan, memangnya apa yang bisa dia harapkan?
"Itachi—"
"Selamat tidur," bisik Itachi yang semakin merapat di belakangnya.
Seketika tubuh Kyuubi berubah seperti patung es. Oh God. Kenapa harus hal seperti ini yang kau pilih untuk menyiksaku?
Kyuubi menggeretakkan gigi dengan kuat. Jika tadi dia tidak suka Itachi yang memelukknya, sekarang dia mengutuk bajingan itu atas apa yang dialaminya. Dia terperangkap. Bukan karena tidak bisa bergerak. Tapi tidak ingin bergerak. Tidak ingin memberikan kepuasan kepada benda keras yang terasa menekan bagian belakang tubuhnya. Kyuubi bisa merasakan seringai bajingan itu dibagian belakang lehernya. Bajingan itu sengaja.
"Please, jangan biarkan masalah kecil-kumembuatmu tidak nyaman. Bukankah aku sudah berjanji akan bersikap baik?" Itachi kembali berbisik dengan nada mengejek dan terhibur bersamaan. Tahu betul apa yang membuat Kyuubi begitu kaku dalam pelukkannya. Tapi dia tidak bisa menghentikannya, Itachi sangat menyukai kehangatan tubuh Kyuubi dalam rengkuhannya. Jika dia harus tersiksa dengan kedekatan mereka saat ini, maka Itachi memastikan Kyuubi juga harus merasakan hal yang sama.
"Jangan jadi pengecut, Kurama."
Kalimat terakhir itu sudah cukup menghentikan perlawanan yang hendak Kyuubi lakukan. Dia bukan pengecut. Damn it!
"I fucking hate you."
"Oh, well, I love fucking you," balas Itachi, memutar matanya, lama-lama dia kebal juga dengan ungkapan benci penuh racun itu, "dan aku yakin kau tidak akan mau aku melakukan hal 'tidak baik' di saat kau sedang tidur. So please, biarkan aku tidur."
Meskipun ia suka menggoda Kyuubi, tapi ia juga sudah cukup lelah dengan semua yang terjadi hari itu. Lebih memilih untuk segera memejamkan mata, sebisa mungkin mengabaikan masalah di bagian selatan tubuhnya yang terasa sangat tidak nyaman. Berharap di pagi hari masalah tersebut hilang dengan sendirinya. Dalam hati Itachi mendengus, karena tahu harapannya tidak akan terpenuhi. Sejak dulu Kyuubi punya kebiasaan menempatkan dirinya dalam keadaan tidak nyaman. Bisa dipastikan dia akan mengalami blue balls hingga pagi hari. Lagi. Ironisnya, Itachi tidak bisa membiarkan dirinya membenci Kyuubi karena itu.
Dilain pihak, seandainya Kyuubi bisa berpikir jernih, seratus persen ia yakin tidak akan pernah membiarkan Itachi memanipulasinya semudah ini. Dan satu hal yang Kyuubi tekankan malam itu. Tidak ada alkohol dalam bentuk apapun di saat Uchiha Itachi berada di sekitarnya.
Dan hasil dari semua kejadian itu sampai pagi adalah tak semenit pun Kyuubi bisa tidur, ada lingkaran hitam mengerikan di bawah matanya. Begitu matahari terbit Kyuubi langsung bangun dan bergegas menjauh dari Itachi. Meninggalkan Itachi yang tersentak kaget di tempat tidur. Kyuubi sudah tidak peduli lagi. Dengan cepat ia mengemasi barangnya dan menuju kamar Naruto untuk mengajaknya pulang saat itu juga.
Persetan dengan Uchiha.
.
::A::C::SN::J::S::
.
Senin.
Nyaris setiap orang mengutuk hari itu. Termasuk tokoh utama kita satu ini. Saat membuka mata Naruto hanya diam beberapa saat hanya untuk memandangi langit-langit kamar yang tidak asing baginya. Kening Naruto berkerut untuk sedetik kemudian membelalak lebar dan mengerang. Otaknya baru memproses keadaan disekitarnya, ia sudah kembali pulang kerumahnya kemarin diantar oleh Kyuubi, dan langsung menuju kamarnya, menjatuhkan diri ke kasur untuk tertidur begitu saja, tanpa mengganti pakaiannya. Entah mengapa ia merasa begitu lelah, mungkin karena ia mempunyai seorang kakak yang sangat tidak pengertian, yang membangunkannya di pagi buta hanya untuk kembali ke Konoha. Dan tanpa sadar, ia benar- benar menghabiskan waktu liburnya hanya untuk tidur. Dan tak terasa hari telah berganti. Kemudian dengan gerakan malas Naruto menoleh melihat jam, yang menunjukkan pukul 06:11 a.m dan kembali mengerang.
Merasa tidak akan bisa tidur lagi ia bangun dari kasurnya, menuju kamar mandi, lima menit menyelesaikan ritual paginya dan berganti pakaian dengan hanya menggunakan celana boxer dan kaus lengan pendek di sana ia keluar, berjalan menuju dapur, sekali dalam beberapa detik menguap lebar dan ketika sampai disana ia menyadari bahwa dapur itu terlihat sepi.
Aneh, Naruto membatin, biasanya ia sudah bisa melihat ibunya sibuk di dapur pada jam seperti ini.
Bicara soal orangtuanya, ia juga baru menyadari sejak kepulangannya ke rumah ia tidak melihat seorang pun di rumah atau mendengar suara ibunya berceloteh.
Kemana orangtaunya pergi? Naruto membatin heran, namun sedetik kemudian mengangkat bahu singkat, dan berpikir, mungkin saja orangtuanya sedang melakukan perjalanan bisnis bersama seperti biasanya. Atau lebih tepatnya Ayahnya memaksa Ibunya untuk ikut bersamanya, karena semua orang tahu pak tua itu tidak bisa dipisahkan sehari saja tanpa ibunya. Kalau begitu nanti ia akan menelpon ibunya untuk memastikan.
Ketika telah berada di depan kulkas Naruto mengambil sekotak susu bersama sekotak sereal di lemari dan kemudian menyiapkan mangkuk untuk sarapan paginya. Kemudian membawa makanan itu menuju ruang duduk dan mengambil remot untuk menyalakan T.V. Beberapa saat Naruto hanya ditemani siaran anime favoritnya dan sereal coklat. Hingga suara Kyuubi tiba-tiba menyentaknya dari suasana tenang yang sangat jarang ia nikmati akhir-akhir ini.
"Naruto? Kau sudah bangun rupanya. Aku pikir kau berniat molor sampai siang."
Naruto nyaris tersedak dan hampir menumpahkan sereal miliknya. Dia menatap galak kakaknya yang sedang menuruni tangga dengan langkah malas.
"Gah! Jangan mengaggetkan orang pagi-pagi! Kalau aku mati bagaimana!" Ia benar-benar kaget melihat Kyuubi, tidak tahu jika Kyuubi akan menginap di rumah, ia pikir Kyuubi akan pulang ke apartemennya setelah mengantarnya.
Kyuubi memutar bola matanya, "Tidak akan, yang bermasalah kan otakmu, bukan jantungmu." Laki-laki yang telah berpakaian rapi itu menuju dapur dan membuat sarapan.
"Kenapa kau sangat menyebalkan sih!?" Naruto menatap bengis kakaknya itu, tidak terima otak paling canggih miliknya diejek.
"Mungkin karena pagi-pagi aku sudah melihat wajah mu?"
"Hei! Jangan bawa-bawa wajah tampanku!"
Kyuubi memberikan tatapan sedatar papan pada adiknya, "Sepertinya sereal itu membuatmu berhalusinasi, Adikku."
"Gah! Jangan menuduh serealku yang tidak-tidak!" Naruto sewot, Kyuubi memutar bola mata.
Sambil cemberut Naruto menyuapkan satu sendok penuh sereal kemulutnya. "Kenapa juga kau harus menginap di sini. Mengganggu ketenangan orang saja."
"Kenapa juga aku tidak boleh menginap disini, hah? Sebelum kau lahir aku sudah tinggal di sini lebih dulu, Bocah." Lalu Kyuubi mengernyit tak suka, "Dan jangan bicara sambil mengunyah Naruto. Menjijikan."
Bukannya menuruti, Naruto malah mengejek Kyuubi dengan melakukan hal sebaliknya, "Heh, siapa yang peduli."
Mata Kyuubi menyipit melihat sikap menantang adiknya itu, "Jangan memulai sesuatu yang tidak bisa kau menangkan, Adikku. Kau tahu, saat ini suasana hatiku sedang sangat tidak baik, dan aku punya sepuluh cara yang bisa aku gunakan untuk memberimu pelajaran atas sikap tidak sopanmu itu padaku, dan saat ini tidak akan ada ibu yang bisa menolongmu. Kalau kau masih ingin menikmati suasana tenangmu sebaiknya kau diam dan mulailah bersikap sopan."
Naruto menatap lama kedua bola ruby milik kakaknya itu, lalu mengerjap, "Wow, kau benar-benar mengerikan dipagi hari." Lalu kembali memakan serealnya dengan santai.
Sebelah alis Kyuubi terangkat, "Kau sadar kan kalau aku baru saja mengancammu?"
"Yep. Tapi aku tahu kok, itu hanya ancaman kosong."
"Oh?"
"Yep. Kau tidak akan melakukannya, karena aku tahu betul betapa sayangnya kau pada adik paling tampanmu ini," Naruto menyengir lebar.
Untuk sejenak Kyuubi hanya menatap adiknya itu, lalu mendengus, "Dasar bodoh." Dan mengalihkan wajahnya pada sarapan dihadapannya.
Cengiran Naruto bertambah lebar—jika itu mungkin.
"I love you too. Nii-chan."
Kyuubi mendengus dan berpaling, dan tanpa adiknya ketahui ia tidak bisa mencegah senyum yang membentuk bibirnya.
Lalu tiba-tiba Kyuubi tersentak, ia teringat sesuatu, "Oh, Naruto, nanti sore aku berangkat ke luar kota sampai minggu depan."
Naruto mengangkat alisnya, tidak biasanya kakaknya itu berangkat tiba-tiba seperti ini, biasanya dia akan memberitahu dua hari sebelum keberangkatan.
"Mau kemana?"
"Kau tidak perlu tahu."
Kali ini kening Naruto berkerut, entah kenapa jawaban itu terdengar mencurigan di telinganya, karena bisa dilihat dari ekspresi Kyuubi yang berubah datar dan menjaga suaranya terdengar begitu tenang. Tapi Naruto juga masih sayang nyawa, jadi ia lebih memilih menelan kembali pertanyaan yang sudah berada di ujung lidah melihat reaksi kakaknya yang mencurigakan itu. Jika Naruto terlalu banyak bertanya bisa-bisa ia memancing emosi rubah pemarah.
Jadi dia hanya bisa membalas dengan, "Okay."
"Aku minta kau jangan berbuat macam-macam jaga rumah baik-baik. Aku tidak ingin kejadian setahun lalu terulang."
Naruto meringis, kenapa juga Kyuubi harus mengungkit-ungkit persitawa itu. Ketika dirinya mengadakan pesta di rumah disaat kedua orangtuanya dan juga Kyuubi sedang melakukan perjalanan bisnis di tempat berbeda. Hari itu memang seminggu setelah kelulusan sekolah, dan ia bersama teman-temannya berencana mengadakan pesta malam harinya, awalnya seru-seru saja tapi berubah menjadi bencana ketika pukul 01.25 a.m terdapat tetangga mengadu ke polisi mengenai keributan di rumahnya dan entah dari mana saat beberapa polisi memeriksa mereka, para polisi itu menemukan beberapa obat terlarang dari orang-orang yang datang meramaikan pesta di rumahnya. Bahkan ia sendiri tidak mengenal orang-orang itu. Dan semenjak itu orangtuanya melarang keras ia mengadakan pesta di rumahnya. Jika tidak haknya sebagai anak dicabut. Literally.
"Iya kau tenang saja. Aku tidak akan macam-macam," jawab Naruto dengan menggerutu.
Kyuubi mengangguk, dan kemudian mereka menikmati sarapannya. Dan tidak ada satupun dari mereka yang berniat menghancurkan suasana nyaman dipagi hari itu dengan membahas liburan yang baru saja mereka lalui.
.
::A::C::SN::J::S::
.
Aku mau pulang.
Itulah yang ada dipikiran Naruto begitu kakinya menginjak ruang kelas mata kuliah bisnisnya. Dimana teman-temannya memang telah menunggunya. Termasuk Neji dan Shikamaru yang sepengetahuan Naruto belum pindah jurusan. Sedang apa dua pengacau itu dikelasnya?
"Jangan tanya," kata Naruto tepat ketika ia berhadapan dengan keempat orang temannya dan mengambil tempat duduk membelakangi mereka.
Keempat orang tersebut saling berpandangan antara satu sama lain.
"Baiklah, kita tidak akan bertanya, kemana kau beberapa hari terakhir. Tidak ada kabar, telepon juga tidak bisa dihubungi, bahkan sepupumu juga menghilang. Ah ya, laki-laki yang bernama Sasuke Uchiha itu juga menghilang…" tutur Kiba, yang menyadari ketika tubuh Naruto berubah tegang begitu nama Sasuke disebut. Begitu pula dengan ketiga orang lainya yang langsung memberikan tatapan penuh curiga pada sahabat pirangnya itu. "Tentu saja kita tidak akan bertanya," lanjutnya sarkastik, "aku yakin dia tidak hubungannya dengan kau yang menghilang."
"ARGH! Astaga! Hentikaaan!" Naruto menggeram frustasi, memutar tubuhnya, menatap jengkel keempat orang temannya, "Geez, kalian kira aku tidak bisa merasakannya. Kalian seperti ingin melubangi kepalaku dengan tatapan kalian itu. Baiklah, baiklah. Kalian menang." Ia menghela napas. "Iya, aku akui, selama aku tidak ada aku sedang bersamanya, tapi bukan hanya aku saja, Deidara dan Sasori-senpai juga ada bersama kami."
"Nah, tidak begitu sulit bukan untuk bicara." Celetuk Kiba.
Naruto memutar bola mata, "Tapi aku tidak mau membahas masalah itu sekarang."
"Eeeehh? Kenapa—"
"Nanti akan kuceritakan," potong Naruto cepat.
Keempat orang lainnya kembali saling berpandangan. Kiba mengangkat bahu, walaupun sedikit tidak rela kehilangan gosip hangat pagi-pagi. Shikamaru hanya bergumam 'merepotkan'. Gaara hanya diam dan masih menatap dengan pandangan curiga.
"Baiklah, kami tidak akan memaksamu, sekarang." Neji akhirnya angkat bicara, "Tapi saat pulang kuliah nanti sebaiknya kau ikut dengan kami. Dan ingat, jangan coba-coba kabur Naruto."
Naruto cemberut, dan bergumam, "Jerk!"
Bila dia mendengar hinaan itu, Neji memilih tidak meresponnya. "Kalau begitu kita pergi sekarang, sebentar lagi mata kuliah kita dimulai…" Neji melirik sebelah kanannya. "Ayo Shikamaru." Menurut, Shikamaru berjalan di belakang laki-laki berambut panjang itu, menuju pintu.
"Neji tunggu!" teriaknya mendadak, ia teringat sesuatu. Neji otomatis berhenti dan berballik dengan heran. Naruto terlihat buru-buru mengambil sesuatu dari tasnya, begitu mendapat apa yang dicari, sesuatu itu dilempar kepada Neji yang untungnya berhasil ditangkap.
"Neji kau sialan! Bisa-bisanya kau menitipkan aphrodisiac itu padaku!" jerit Naruto, nyaris histeris. "Ambil kembali milikmu dan jauhkan benda itu dariku!"
Perhatian Gaara langsung beralih pada laki-laki berambut panjang itu, dengan cepat. "You what!? Kau menitipkan aphrodisiac pada Naruto!?" Ekspresinya seperti seekor induk raccoon yang melindungi sang anak.
"Tunggu sebentar. Apodiak?—"(Di sini Shikamaru mengoreksi dengan; "Aphrodisiac, baka." Tapi sepertinya Kiba memilih menulikan telinganya, dan terus bertanya) "—Bukankah itu 'obat cinta' yang kau jelaskan padaku beberapa waktu lalu, Gaara?" Kiba menimpali dengan bingung, menatap Gaara, yang langsung mendapat jawaban berupa sebuah anggukan. Lalu ia beralih pada Neji, ekspresinya seolah mengatakan bahwa ia baru pertama kali melihat laki-laki itu, sorot matanya berubah penasaran, "Woah… kau punya benda seperti itu Neji?"
Neji mengerjap, menatap kaget ketiga orang itu. "Aku—apa? Aphro—" Ia terkesiap begitu memproses apa yang dimaksud ketiga orang yang menatapnya dengan sorot mata sama, seperti melihat seorang kriminal kelas atas. Pupil sewarna lavender membesar dua kali lipat, "Tentu saja tidak!" bantahnya keras. "Berhenti menatapku seperti itu!"
Lalu dia melihat benda kecil berupa botol ditangannya. Itu sebuah parfume. Tepatnya parfume yang ia titipkan pada Naruto. Tidak paham dengan tingkah Naruto yang tiba-tiba menuduhnya, ia bertanya dengan sorot mata bingung, "Apa maksudmu, Naruto? Siapa yang menitipkan aphrodisiac padamu? Ini hanya parfume biasa."
"Kau bohong! Kalau itu cuma parfume seperti yang kau bilang Kyuubi tidak akan 'diserang' seperti saat itu! Kau kan juga sampai melarangku menggunakannya! Karena katamu parfume itu punya efek aneh."
Neji memerhatikan lekat Naruto untuk sesaat, dalam hati bersumpah; akan mencari tahu apa maksud dari 'Kyuubi diserang'. Siapa yang berani menyerang rubah kejam itu? Batinya merasa tertarik. Lalu, "Aku tidak berbohong. Benda ini memang hanya parfume biasa yang aku pesan khusus untuk ulang tahun sepupuku, Hinata. Aku menitipkannya padamu karena aku tidak mau dia menemukan parfume ini sebelum waktunya. Dan aku memberi peringatan seperti itu agar kau benar-benar tidak mencobanya."
"Kau… yakin?"
Neji mengangguk mantap.
"… baiklah. Aku percaya padamu," kata Naruto akhirnya, meskipun masih ada keraguan dalam suaranya. "Uhm… hanya memastikan, kau tidak menyimpan benda seperti itu lagi kan?"
"LAGI!?" Kiba memekik, menatap tak percaya pada Neji.
"Shut up! Kau membuat telingaku tuli. Mutt!"
"Aku bukan mutt!" Kiba sewot setengah mati.
"Tentu saja kau bukan mutt," Shikamaru yang sejak tadi hanya melihat drama di depannya tiba-tiba menimpali dan langsung merangkul Kiba yang sedang berang dari belakang, "Tapi Puppy. My little puppy~."
"Tidak ada yang minta pendapatmu!" Kiba menyikut perut Shikamaru.
Shikamaru merintih sakit. "Kenapa menyikutku?"
"Aku juga bukan 'your little puppy' Aku manusia!"
Tiba tiba saja sebuah tangan membekap mulut Shikamaru. "Stop. Berhenti melawak. Kalian terlalu banyak menarik perhatian."
Empat orang itu langsung memandang sekeliling mereka. Benar saja yang dikatakan Gaara, mereka sudah seperti tontonan sirkus.
"Perubahan rencana." Kata Neji cepat. "Shikamaru, berhenti berpura-pura sakit." Orang yang dimaksud langsung menghapus ekspresi kesakitan diwajahnya, digantikan dengan ekspresi malasnya seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa dibalik sikap malasnya terdapat bakat akting yang tersembunyi. Sehingga membuat Naruto menatap takjub sobatnya itu, dan Gaara hanya memberikan sorot terhibur, berbeda dengan korban pemuda berkuncir itu, Kiba hanya bisa menatapnya dengan ekspresi terbodoh yang patut diabadikan. Dan Neji yang lebih lama mengenal Shikamaru hanya memutar bola mata. Well, sepertinya kita hanya harus menerima, bahwa setiap hari kita akan mempelajari hal baru. Bahkan dari sahabat yang kita kira mengenalnya luar-dalam.
Shikamaru berusaha mengabaikan tatapan ketiga orang itu, walaupun dalam hati tangannya gatal mengabadikan ekspresi Kiba saat itu dengan smartphone-nya. Tapi ia lebih ingin segera pergi dari tempat itu, "Sekarang apa?" tanyanya.
Neji tersenyum manis, terlalu manis hingga yang melihatnya mendadak diabetes. Untungnya bukan secara harfiah.
"Bawa Naruto, kita ke rumahku."
"Ck, merepotkan sekali." Shikamaru bergumam sambil menuju ke arah Naruto yang menatapnya bingung, "Kau hutang padaku Neji."
"Iya, iya, terserah." Balas Neji ringan.
"A-Apa yang kau lakukan—He-hei! Shikamaru turunkan aku! Hei!" Naruto yang kini sedang di panggul Shikamaru berusaha memberontak.
"Ck, Naruto berhenti bergerak-gerak, jangan sampai aku menjatuhkanmu. Kau ini merepotkan sekali sih. Ugh! Sebenarnya kau ini makan apa!? Berat sekali."
"O-oi! Naruto, apa-apan! Berhenti memukulku!"
"Brengsek kau Shika! Aku tidak gendut."
"Owowow! Sakit Naruto!"
"Bilang dulu aku tidak gendut."
"What are you a girl?"
"Damn it! Kenapa sekarang kau malah menarik rambutku. Naruto! Hentikan!"
"Aku laki-laki!" jerit pemuda pirang itu.
Jika saja Shikamaru tidak berada dalam keadaan terancam botak secara paksa mungkin ia akan membalas Naruto dengan kalimat sarkastik seperti, 'Yeah, right. Laki-laki yang menjerit seperti perempuan.'
"Gah! Aku tidak menjerit seperti perempuan! Shikamaru brengsek!"
Well, damn. Sepertinya IQ-nya menurun karena rambutnya sejak tadi terus ditarik. Kenapa juga mulutnya harus berkhianat? Ck, merepotkan.
"Tarik kembali ucapanmu!"
"Tidak akan sebelum kau melepas tanganmu dari rambut berhargaku!"
Neji berdecak melihat perdebatan sangat tidak penting itu. Shikamaru masih terus menjalankan perintah Neji hingga sampai ke mobil miliknya. Dengan masih membopong Naruto yang benar-benar berusaha membuat kebotakan permanen pada kepalanya.
Dan karena yang membawa mobil hanya dua orang, maka mereka di bagi menjadi dua kelompok. Karena tidak ada pilihan lain Naruto yang sudah di turunkan langsung menuju mobilnya sendiri, dan berhenti sesaat untuk melemparkan kunci kepada Gaara. Kemudian Neji juga memasuki mobilnya sendiri. Kiba yang tadinya akan mengikuti Gaara dengan tiba-tiba ditarik Shikamaru menuju mobil Neji. Kiba protes tapi sia-sia ketika Shikamaru telah menutup pintu mobil dan menahannya duduk.
"Jalankan mobilnya Neji."
.
.
Sesampainya di rumah keluarga Hyuuga yang bernuansa tradisional mereka semua berkumpul di ruang duduk. Shikamaru yang tampak kelelahan membopong Naruto terkapar begitu saja di lantai beralaskan tatami. Minuman dingin dan kudapan telah di suguhkan didepan mereka.
"Sekarang Naruto, kau bisa menceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi belakangan ini," kata Neji, langsung kepokok permasalahan.
Kening Naruto bertaut mendengar perkataan Neji itu. "Kau sadar kan, kita bolos kuliah hanya untuk mendengar aku bercerita. Bagaimana jika ibuku tahu?"
Neji mengangguk santai, "Bilang saja dosennya mendadak sakit atau apa."
Naruto memutar bola mata, "Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa aku mau berteman denganmu," ujarnya, menyerah.
Neji hanya membuat ekspresi wajahnya sepolos mungkin. "Karena aku pemuda baik hati dan tidak sombong?"
Naruto mendengus kasar dan dalam hati Naruto mengutuk pemuda berambut panjang itu. Naruto lalu menghela napas, sepertinya dia sudah tidak bisa menghindar lagi.
"Aku akan memberitahu kalian," kata Naruto, setengah hati. "tapi aku minta kalian jangan ada yang menyela sampai akhir. Aku tidak akan mengulangnya." Di respon dengan anggukan oleh ketiga orang lainnya dan lirikan setuju dari Shikamaru yang masih berbaring.
Ketika Naruto bercerita dari awal hingga detail terkecil, benar-benar tidak ada yang membuka suara. Dan saat Naruto selesai bercerita, ruangan duduk yang lumayan luas itu menjadi hening seketika. Sibuk mencerna dongeng Naruto di pertenakan selama tiga hari tersebut.
"Kau benar-benar melalui hari yang luar biasa Naruto," ujar Kiba, dia meringis antara ingin merasa simpati dan prihatin. Diikuti anggukan dari yang lainnya.
Naruto mendengus, "You have no idea."
"Apa kau benar-benar berpikir dia hanya ingin berteman denganmu?" Gaara bertanya.
Naruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Mungkin? Aku tidak tahu."
"Heh… aku rasa itu hanya kamuflase," Shikmaru menimpali.
Empat pasang mata langsung menoleh padanya. "Apa maksudmu, Rambut Nanas?" Kiba bertanya dengan bingung.
Shikamaru bangkit dari posisinya, melirik si laki-laki pecinta anjing sekilas. "Kamuflase. Uchiha itu hanya berteman dengan Naruto untuk mendapat sisi baiknya. Ketika Naruto sudah merasa percaya padanya, maka dengan itu akan lebih mudah mengambil hati Naruto."
Naruto mengernyit, memikirkan kemungkinan itu.
"Aku rasa Uchiha tidak sejahat itu. Apa yang membuatmu bisa mendapatkan kesimpulan seburuk itu, Shikamaru?" kata Kiba, berusaha berpikir positif.
Kali ini Shikamaru menatapnya, lalu melengos dan kembali berbaring meletakkan satu lengan di wajahnya, memilih tidak memberikan jawaban. "Merepotkan."
Merasa diabaikan Kiba merengut kesal, dan melempar bantalan duduk pada laki-laki malas itu, "Hei! Aku bertanya padamu!"
Neji hanya memutar bola matanya melihat tingkah kedua orang itu. "Kiba sudahlah, biarkan saja dia."
"Aku rasa itu pengalaman pribadimu, iya kan Shikamaru?" kata Gaara datar, seraya mengambil secangkir teh, dan menahan seringai ketika dilihat tubuh laki-laki yang dicurigai memiliki IQ tinggi tapi pemalas itu berubah tegang. "Ah, aku benar rupanya," tambah Gaara yang menganggap reaksi Shikamaru sebagai jawabannya dan kemudian menyesap tehnya.
Kiba menganga, "Apa? Bagaimana bisa kau selicik itu? Katakan padaku siapa korbanmu itu! Kau harus minta maaf padanya," tuntutnya, menguncang tubuh Shikamaru.
Dengan perlahan Shikmaru mengangkat tangannya yang menutupi matanya. Tatapan bosan ia berikan pada laki-laki yang memiliki tato segitiga terbalik di pipinya itu.
Shikamaru berucap dengan nada tak percaya, walaupun ekspresinya tidak berubah sama sekali, "Kau…sejak kapan kau menjadi sebodoh ini?"
Kiba mengerjap tidak mengerti. "Huh?"
Neji geleng-geleng kepala.
"Kiba," Gaara angkat bicara, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Kiba beralih padanya dan bisa melihat sorot mata Gaara berkata lain, antara sorot tidak percaya dan kasihan, "Yang menjadi korbannya itu kau."
"A—apa?" Kiba jelas sekali terlihat kaget, membeku, speechless. Dia beralih pada Shikmaru, sebagai konfirmasi. Dalam hati berharap bahwa yang dikatakan Gaara tidak benar. Tapi harapan itu hancur begitu saja ketika ia mendengar kalimat selanjutnya yang meluncur dari mulut Shikmaru.
"Iya aku memang merencanakan semua itu," Shikamaru mengakui, tidak ada nada menyesal sama sekali dalam suaranya, "tapi aku tidak bermaksud buruk dan aku tidak akan meminta maaf karena menyukaimu. Toh, akhirnya kau juga membalas perasaanku. Jadi aku rasa tidak ada yang dirugikan. Yang lebih penting sekarang kau sudah menjadi milikku dan aku milikmu. The end." tambahnya ringan, seolah dia sedang membicarakan cuaca di pagi hari, bukannya pengakuan cinta pemuda malas itu. Tapi tidak bisa dipungkiri dibalik nada ringan yang digunakan Shikamaru tidak menutupi maksud serius ucapannya. Dan sama sekali tidak memberi ruang untuk perdebatan di dalamnya.
Wajah Kiba benar-benar merah padam. Nyaris merupai warna tato di wajahnya. Ia ingin marah, berteriak atau apa pun, tapi tidak bisa dipungkiri hatinya berdentam bahagia. Karena itu adalah perkataan termanis yang pernah dia dengar dari pemuda malas itu, sejak mereka berpacaran enam bulan yang lalu.
Naruto menyaksikan adegan drama di depannya itu hanya tersenyum dengan sorot mata terhibur.
"Wow, you are awful romantic, Shika." Neji berkomentar, ada ringisan jijik di wajahnya.
Shikamaru melirik partner in crime-nya itu, "Setidaknya aku tidak mengunakan 'obat cinta' untuk menarik perhatian orang yang aku sukai." Lalu kembali membaringkan tubuhnya, membelakangi yang lainnya, menunjukkan bahwa dia tidak ingin diganggu untuk sementara waktu.
Neji terdiam, mendadak mulutnya terasa kering. Merasa membunuh Shikamaru saat ini adalah hal yang paling wajib untuk dia lakukan. Dengan perlahan dia menoleh pada objek yang menjadi korban 'obat cinta' sebulan yang lalu. Dari ekspresinya Neji tahu apa yang sedang dipirkan Gaara saat ini. Neji bersumpah akan membuat Shikamaru membayar mulut ember-nya itu.
Gaara sama terdiamnya, menatap Shikamaru dengan mata melebar. Seketika ingatannya kembali pada saat itu. Saat di mana dia untuk pertama kali berada di luar kendali tubuhnya akibat obat yang pada saat itu ia tidak tahu keberadaannya.
Sekitar dua bulan lalu dia memang sedang berkunjung ke rumah Neji untuk mengembalikan CD yang ia pinjam. Menunggu Neji di kamarnya, yang sedang di suruh melakukan sesuatu oleh orangtuanya. Karena bosan menunggu ia mulai mengusik rak yang berisi kaset musik miliki laki-laki yang terobsesi dengan kerapian itu. Dan tanpa sengaja ia menemukan botol minuman kesukaannya. Sebotol kecil minuman lychee yang anehnya di taruh di bagian terdalam di rak kaset itu. Tidak merasa curiga dan merasa haus, Gaara meminumnya. Sampai habis. Lima menit kemudian tubuhnya terasa aneh. Kepalanya terasa melayang, tubuhnya terasa panas dengan intensitas gairah yang membuatnya tidak mengerti. Awalnya. Sampai Neji kembali dan menemukannya dirinya sedang meringkuk di lantai samping tempat tidur.
"Gaara!" Neji mendekatinya dengan panik, melihat posisi Gaara yang tidak wajar saat itu.
Tapi setiap sentuhan dari laki-laki itu membuat Gaara berjengit. Sentuhan itu seperti ingin membakarnya. Gaara berusaha menjauh dari jangkauan tangan dingin Neji, menyembunyikan wajahnya, yang tentu saja membuat laki-laki itu bingung.
"Kau kenapa?" Jawaban yang keluar dari bibir Gaara hanya sebuah lenguhan, yang membuat Neji membeku. Tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu. Sebuah botol yang membuat mata lavender pria itu membelalak lebar.
Shit!
"Ga-Gara?" panggil Neji takut-takut, berdoa dalam hati semoga apa yang dipikirkannya akan kondisi Gaara adalah salah. Walaupun kenyatannya sudah terpampang jelas didepan mata. "Apa kau yang meminum semua isi botol ini?"
Anggukan lemah adalah jawaban yang diterimanya. Untuk sesaat otak Neji berhenti bekerja, tatapan horror ia berikan pada laki-laki berambut merah yang memeluk kedua lututnya ke dada. Menyembunyikan bagian tubuh paling pribadinya. Gaara yang dilihatnya sekarang seperti orang lain. Lenyap sudah sosok yang selalu terlihat memasang topeng stoic itu. Yang sekarang dilihat Neji adalah sosok Gaara yang terlihat sangat… vulnerable.
"Neji…" panggilan lirih itu menyentak Neji dari pikirannya. Perlahan dilihatnya Gaara mengangkat wajah.
"Aku… ke-kenapa?"
Seketika itu juga Neji menelan ludah paksa. Ya Tuhan, godaan ini terlalu berat untuknya. Saat ini laki-laki yang menjadi objek mimpi 'indah'nya nyaris setiap malam itu terlihat sangat defenceless. Pemandangan didepannya ini sudah cukup membuat Neji ingin me-ravish Gaarasaat itu juga. Jika saja kesadaran moralnya begitu rendah, dia pasti sudah melakukannya sejak tadi. Asal tahu saja dia seorang gentleman. Tapi ia juga tidak bisa melepas pandangannya dari ekspresi erotis di wajah Gaara saat ini, walaupun pemuda berambut merah itu tidak menyadarinya. Wajah Gaara benar-benar merah, mata emerald itu digenangi air mata dengan mulut setengah terbuka, bibirnya bergetar, bernapas dengan tidak beraturan, tubuh ramping namun berisi itu gemetaran karena desakan gairah yang menguasai tubuhnya hal itu sudah cukup membuat bagian selatan tubuh Neji berdenyut nyeri. Fuck. Pikiran kotornya benar-benar bekerja disaat yang tepat. Namun disatu sisi Neji juga tidak ingin mengambil kesempatan yang akan membuat Gaara membencinya.
Oh sweet lord, kenapa kau memberikan cobaan yang begitu berat?
Akhirnya dengan ragu Neji berkata, "Uh, Gaara, kau sepertinya sedang merasakan efek dari obat perangsang. Dan efeknya bisa sangat lama jika tidak segera diatasi."
Mata hijau itu membulat, lalu menajam. Seandainya saja kondisi Gaara tidak seerotis saat ini Neji pasti tidak akan berani berada di ruangan yang sama dengannya. Tatapan itu jelas-jelas ingin memutilasinya hingga bagian terkecil.
"Bagaimana bisa kau menyimpan benda seperti itu di kamarmu, hah!?" desis Gaara marah.
Neji berjengit, tapi tidak menjawab. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa benda itu memang dia siapkan untuknya, bukan? Walaupun itu hanya rencana, dia tidak akan benar-benar menggunakannya, kok. Sumpah. Sayangnya Shikamaru tidak berpikir seperti itu. Dan tidak salah lagi dia pasti mati jika mengatakannya.
"Um…Maaf?" ujar Neji lemah.
Jawaban itu membuat Gaara bergerak maju untuk memukulnya, tapi sepertinya pergerakan itu menimbulkan gesekan tak terduga pada tubuhnya yang sudah kelewat sensitive, desisan nikmat meluncur begitu saja dari bibirnya. Dia kembali jatuh meringkuk dengan desahan yang membuat Neji berkeringat dingin menyaksikannya.
"Jangan berdiri saja di situ! Damn it! Lakukan sesuatu!" bentak Gaara frustasi.
Tapi Neji masih terdiam di tempat, bahunya terlihat begitu tegang, menyamai bagian selatan tubuhnya, tangannya mengepal begitu erat, matanya melotot shock melihat reaksi Gaara. Lalu ia membuka mulut, untuk kemudian menutupnya kembali, mulutnya benar-benar terasa kering, ia menjulurkan lidah untuk membasihi bibirnya dan mencoba kembali, "Hanya ada satu untuk menghilangkan efek obat itu… tapi aku tidak yakin kau bersedia melakukannya…"
Gaara men-deathglare laki-laki berambut panjang itu. Menuntutnya untuk tidak bertele-tele.
"Aku harus menyentuhmu," kata Neji, berusaha menampakkan ekspresi se-netral mungkin. "Jangan salah paham! Bukan maksudku untuk mengambil kesempatan atau apa, ta-tapi sepertinya kau tidak mungkin bisa mengatasi hal ini sendirian," tambah Neji cepat-cepat begitu melihat ekspresi Gaara.
Mata hijau Gaara berkilat penuh emosi; terkejut, takut, marah, tapi semua itu tersamarkan oleh gairah yang menyala-nyala.
"I-itu tadi hanya saran Gaara, kau tidak perlu mengikutinya, jika kau keberatan. Sumpah! A-aku tidak akan pernah memaksamu—"
"Neji," panggil Gaara, menyentaknya dari rasa panik.
"Y-ya?"
"Shut up."
Tiba-tiba saja Neji merasakan sesuatu yang lembut menekan bibirnya. Mata Neji membulat, merasakan sensasi mulut Gaara bergerak sensual di mulutnya. Refleks Neji mendekap erat Gaara. Merapatkan tubuh mereka, gerakan itu diterima Gaara dengan keintiman yang memabukkan. Membuat Neji mengerang nikmat. Tanpa sadar ia sudah mendorong Gaara menuju kasurnya. Menekan kedua tangan Gaara di samping kepalanya. Mendominasinya. Gaara meresponnya dengan menggesekkan pinggul mereka. Desahan tak terkontrol tertahan oleh dua mulut yang saling melumat. Detik itu juga pertahanan Neji luntur. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah memberikan pelepasan ternikmat untuk laki-laki di bawahnya. Untuk laki-laki yang telah memenuhi hatinya. Mereka pun terlarut dalam euporia tak berdasar. Lagi dan lagi. Hingga rasa lelah itu menghampiri, membuat mereka terlelap dalam kehangatan tubuh satu sama lain. Namun saat Neji membuka mata ia sudah tidak merasakan Gaara berada dalam dekapannya.
Sejak peristiwa itu terjadi, tidak ada dari keduanya yang membahasnya, bahkan Gaara bersikap seolah peristiwa itu tidak pernah terjadi. Neji tahu betapa malunya Gaara atas peristiwa saat itu. Untuk itu Neji berusaha member ruang untuk Gaara, karena ia tahu Gaara bertindak di luar kendalinya, itu semua hanya karena obat sialan itu. Rasa kecewa memenuhi hatinya ketika memikirkannya.
Jika saja Neji tahu bukannya hanya persasaan malu yang dirasakan Gaara. Saat itu bisa dikatakan dia hanya menggunakan tubuh Neji untuk lepas dari efek obat itu. Entah apa yang dipikirkannya saat itu, yang jelas saat itu perasaannya mengatakan jika ia tidur dengan laki-laki berambut panjang itu dia tidak akan menyesalinya. Meskipun benar ia tidak menyesal sama sekali setlah melakukanya, tapi tetap saja ia merasa bersalah, karena dia tahu bagaimana perasaan Neji padanya. Rasanya seperti ia memanfaatkan perasaan Neji saat itu.
Peristiwa itu juga sudah mengubah pandangan Gaara terhadap laki-laki bermata lavender itu hingga tiga ratus enampuluh puluh derajat. Dan dia tidak tahu bagaimana menghadapainya. Seseorang yang awalnya hanya dia lihat sebagai teman dari temannya (Naruto) sekarang selalu memenuhi pikirannya dan perlahan tapi pasti memasuki hatinya. Gaara sadar betul tentang perasaanya itu. Tapi bukan berarti dia tahu bagaimana caranya beraksi terhadap perasaannya itu. Belum lagi sering kali dia mengabaikan keberadaan laki-laki berambut panjang itu dengan sangat jelas.
"Gaara!" panggilan itu menyentak Gaara dari pikirannya dan mengerjap kaget, melihat sekelilingnya.
"Kau baik-baik saja? Aku memanggilmu dari tadi. Wajahmu merah, apa kau sakit?" Naruto bertanya heran.
"Sepertinya aku butuh udara segar," kata Gaara akhirnya, lalu pergi dari ruangan itu.
"Aku akan menemaninya," timpal Neji cepat-cepat, mengikuti ke mana arah laki-laki berambut merah itu menghilang.
"Well, that weird." Komentar Naruto setelahnya.
Kiba mengangguk setuju. "Lupakan saja mereka. Bagaimana denganmu? Apa rencanamu sekarang?"
Naruto hanya bisa mengangkat bahu.
"Hei, Naruto," panggil Shikamaru tiba-tiba, yang kini berbaring miring dengan tangan menyangga kepalanya, menghadap sahabat pirangnya, "aku ingin tahu satu hal. Kau bilang kau sekarang berteman dengan Uchiha itu. Bagaimana perasaanmu mengenai yang satu itu?"
Naruto terdiam, untuk sesaat hanya beradu mata dengan laki-laki malas itu. "Dan kenapa kau ingin tahu tentang itu, Shika?" tanyanya dengan nada curiga. Dari sekian banyak pertanyaan, Shikamaru memilih menanyakan hal itu. Sepertinya dia menemukan sesuatu yang tidak Naruto ketahui dari dongengnya barusan. Biarpun malas tapi terkadang laki-laki itu cukup observan.
"Hanya penasaran. Sudah jawab saja," desak Shikamaru, "Apa kau merasa puas dengan pertemanan itu? Itu artinya dia tidak akan mengusikmu lagi kan?"
Naruto mengernyit mendengar pertanyaan itu, "Dia mungkin tidak akan mengusikku lagi, tapi kenapa aku harus merasa puas berteman dengan bajingan itu?" nadanya sedikit meninggi.
"Well, apa kau memilih dia menghilang dari hidupmu?"
"Tentu sa—" kernyitan di dahinya semakin dalam, "yah, tidak harus begitu juga, sih. Kalau menghilang yang kau maksud dia lenyap dari muka bumi."
"Kalau yang aku maksud dia kembali ke kota asalnya. Bagaimana perasaanmu? Apa kau merasa senang?"
"Pertanyaanmu semakin aneh Shikamaru." Naruto terheran-heran, "tapi tentu saja aku senang—"
"Pikirkan lagi Naruto," potong Shikamaru. "Apa kau benar-benar merasa senang?"
Naruto menatapnya dengan pandangan bingung. Apa sebenarnya yang ada dipikiran temannya satu itu? Jawaban apa yang sebenarnya shikamaru inginkan darinya? Tapi karena sepertinya ia tidak paham dengan cara berpikir Shikamaru, akhirnya Naruto mulai mengikuti apa yang diminta laki-laki malas itu.
Apa dia benar-benar senang jika Sasuke menghilang? Kepergian bajingan itu tidak akan berpengaruh apa-apa baginya. Benar… kan?
"Naruto? Kau baik-baik saja…?" Tanya Kiba, ekspresi wajahnya sedikit cemas.
Kenapa Kiba berekspresi seperti itu? Memangnya dia tidak terlihat baik-baik saja? Naruto membatin keheranan.
Seperti membaca pikiran Naruto, Kiba menggeleng prihatin. "Aku tidak tahu apa yang berusaha Shikamaru lakukan padamu, tapi kau hanya diam dalam waktu lama dan tiba-tiba kau malah menunjukkan raut wajah kesakitan, Naruto."
Naruto membeku. Menatap pemuda bertato itu tanpa berkedip. Bola matanya melebar.
"Sudah kuduga." kata Shikamaru kemudian, membaca reaksi pemuda pirang itu, tersenyum puas. "Kau tidak akan suka dengan kepergiannya."
Naruto mengerjap, beralih pada Shikamaru, raut wajahnya tidak senang dengan kesimpulan yang diungkapkan pemuda itu, "Apa sebenarnya maksudmu Shika?"
"Sudah jelaskan. Kau naksir padanya."
Sontak rahang Naruto terjatuh, menatap tidak percaya padanya.
Shikamaru memutar matanya melihat reaksi itu, "Merepotkan. Apa aku harus menjelaskannya juga padamu, huh?" gerutunya, "Kau tidak suka dia hanya menjadi temanmu, tapi kau juga tidak senang jika dia pergi dari hidupmu. Jauh dalam hatimu kau menginginkan sesuatu yang lebih darinya. Walaupun kau menyangkalnya, kehadirannya terasa penting bagimu. Apalagi aku pernah memergokimu menatap bajingan itu dengan tatapan mendamba."
"Apa!? Tidak mungkin aku begitu! Aku tidak suka padanya! Kau pasti berkhayal!"
"Aku tidak bilang kau menyukainya," jelas Shikamaru, "Maksudku kau punya rasa ketertarikan terhadapnya. Dan tidak sedikit. Tapi kalau mau, sangkal saja sesukamu. Toh, pada akhirnya itu tidak akan berguna. Dan hal merepotkan ini juga bukan urusanku. Terserah apa keputusanmu."
Naruto mendengus, lalu memutar bola mata. "Kau sama sekali tidak membantu, Mr. Lazy."
Tatapan malas itu benar-benar membuat Naruto ingin melemparnya dengan kunai, terlebih saat laki-laki berkuncir itu berkata dengan nada bosan, "Aku tahu."
Naruto melemparkan kedua tangannya ke udara, menyerah. Lama-lama ia bisa darah tinggi jika terus berada di ruangan yang sama dengan pemuda malas itu. Lalu bangkit dan menghilang dari ruangan itu.
"Sekaranga apa?" Tanya Kiba yang sejak tadi hanya menjadi penonton.
"Apalagi? Di sini hanya ada kita berdua. Dan aku rasa Neji akan pergi cukup lama. Kenapa kau tidak mendekat padaku dan membuat mulutmu itu lebih berguna, huh?" nada itu diungkapkan dengan bosan tapi Kiba bisa melihat sorot mata kekasihnya itu memercikkan hasrat dengan sangat jelas. Membuat tubuh Kiba merespon dengan antisipasi.
"Kenapa tidak kau saja yang bangun?" tanya Kiba, walaupun begitu ia mendekat, menangkup kepala Shikmaru dan meletakkannya di pahanya, lalu bergumam, "Lazy bastard." Untuk kemudian menunduk membungkam mulut Shikamaru yang hendak bicara dengan mulutnya sendiri. Dengan posisi itu Shikamaru menggunakan satu tanggannya menahan kepala Kiba untuk tidak bergerak, memperdalam ciuman mereka.
.
::A::C::SN::J::S::
.
"Kau naksir padanya."
No... no. No! Itu tidak mungkin. Shikamaru pasti hanya mengada-ada. Ia tidak mungkin tertarik pada bajingan itu. Yakin Naruto dalam hati. Ia benar-benar tak habis pikir bagaimana Shikamaru bisa menyimpulkan seperti itu. Dasar Shikamaru bodoh!
Naruto menghela napas. Percuma saja ia memahami cara berpikir pemuda malas itu, yang ada kepalanya malah akan meledak. Lebih baik sekarang dia bermalas-malasan di rumah. Beruntung ibunya sedang pergi, jika tidak dia pasti akan kena amukan kucing betina karena Neji mengajaknya bolos.
Naruto memasuki rumahnya, mepelas sepatunya di genkan dan membeku. Siapa? Batinya melihat ada sepatu orang tak di kenal tertata rapi di situ. Apa orang tuanya sudah pulang?
"Ibu?" panggilnya ragu, berjalan perlahan ke dalam. Tak ada jawaban. "Ayah? Kyuu? Apa kalian sudah pulang?" Tetap tidak ada jawaban. Naruto menelan ludah paksa.
Semakin ke dalam dia semakin bisa mendengar suara berbisik dari ruang duduk. Dia berjalan mengendap-endap menuju ruangan itu dan berhenti sesaat untuk mengambil pemukul. Jika itu bukan orang tuanya bisa jadi itu perampok.
Dengan jantung berdebar ia memberanikan diri memasuki ruang duduk. Seketika pemukul di tangannya terjatuh begitu saja. Mulut Naruto ternganga, tidak percaya dengan apa yang ia temukan. Tepatnya seseorang.
"GAH! Apa yang kau lakukan di rumahku, Teme!?"
Pandangan Sasuke tidak lepas dari layar T.V di hadapannya, ditangannya terdapat stick player yang dengan brutal ia gunakan. Begitu berkonsentrasi dengan game yang entah sejak kapan ia mainkan. Duduk dengan tegang di lantai berkarpet dengan punggung bersandar pada sofa di belakangnya, kakinya yang terluka ia luruskan. Di meja juga terdapat beberapa kaleng minuman bersoda yang sudah kosong dan snack yang tinggal bungkusnya saja.
"Berisik, Dobe. Apa kau tidak lihat aku sedang sibuk. Bicaranya nanti saja."
Naruto mendekat ke arah pemuda yang sedang serius bermain game dan berdiri tepat di depan layar T.V, berkacak pinggang. "Jawab aku teme, kenapa kau bisa ada di rumahku?" kata Naruto dengan nada bossy.
Sasuke berdecak jengkel, tatapannya beralih pada Naruto yang berkacak pinggang di hadapannya. "Ibumu yang mengijinkan aku untuk tinggal di sini selama seminggu. Apa dia tidak memberitahumu?"
"Apa kau bilang? Ibuku—" Cepat-cepat Naruto mengambil smartphone-nya dan menempelkan ke telingnya.
"Halo? Halo Ibu?"
"Ya, sayang? Kau sudah pulang dari peternakan?"
"Sudah. Tapi jangan bahas itu sekarang, yang lebih penting di mana Ibu sekarang?"
"Hawaii. Oh, apa ibu lupa bilang padamu?"
"HAWAII!? Ibu ada di Hawaii?" Naruto menganga tak percaya dengan berita itu. Bagaimana bisa ibunya ke Hawaii tanpa membawanya? Kenapa wanita yang mengklaim melahirkannya itu begitu kejam padanya? Kenapa ibunya tega meninggalkannya bersama bajingan ini? Naruto hanya bisa meratap dalam hati.
"Iya, Naruto. Maaf ibu lupa memberitahumu, kemarin mendadak teman lama ayah dan ibu datang ke rumah. Karena kebetulan ayah ada urusan bisnis juga di sini jadi sekalian saja kami memutuskan untuk berlibur. Oh, ya. Apa Sasuke sudah ada di rumah?"
"Iya, dia ada di sini, tapi kenapa kau mengijinkannya menginap ibu!?"
"Tentu saja untuk menemanimu, memangnya ada alasan lain."
"Ibu tidak perlu melakukan itu, bukankah selama ini aku baik-baik saja selama kalian tidak ada."
"Jangan bilang begitu Naruto, Ibu tahu selama ini kau kesepian saat kami pergi. Jadi ibu meminta Sasuke untuk menemanimu."
"Tapi Ibu kan bisa meminta Kyuubi atau Deidara saja menemaniku."
"Naruto! Apa kau tidak kasihan pada sepupumu itu? Dia kan juga punya kehidupan sendiri, Naruto. Ibu tidak bisa memintanya terus-terusan mengasuhmu. Dan kakakmu juga sedang banyak kerjaan, jangan ganggu dia. Memangnya kenapa dengan Sasuke? Bukankah kalian teman, lagi pula ibu dengar Sasuke sedang terluka jadi kau juga harus membantunya, kasihan dia tidak punya siapa-siapa dikota itu selain kita."
"Tapi kan ada Itachi-san, bu!"
"Sudahlah kau tidak usah protes terus, itu tidak berguna. Ibu tidak akan berubah pikiran. Ingat, kau harus baik-baik dengannya Naruto. Have fun, baby. Bye."
Naruto mengerjap tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Yang benar saja… dia benar-benar akan menghabiskan seminggu ini bersama bajingan itu?
"Bagaimana? Aku tidak bohong kan?" kata Sasuke.
Untuk sesaat Naruto tak menggubris pemuda itu, ia masih mencerna apa yang dialaminya. Satu atap bersama bajingan itu selama seminggu. Lalu untuk apa usaha Kyuubi mengajaknya pulang dari peternakan secepat mungkin kemarin?
Melihat wajah penuh kekecewaan itu hati Sasuke jadi ikutan seperti diperas, ekspresi seperti itu tidak cocok untuk pemuda bermata biru itu. Tidak tega melihatnya, akhirnya ia membuka mulut, "Kau tidak perlu terkejut seperti itu. Ini hanya seminggu, Naruto. Bukankah aku sudah bilang aku tidak akan melakukan hal tidak kau suka. Well, jika itu yang kau khawatirkan. Lagi pula kita 'kan teman."
Teman. Kata itu lagi, Naruto membatin, rasanya kata itu terdengar semakin aneh ditelinganya ketika pemuda stoic itu yang mengucapkan.
Ditambah memikirkan mereka yang lagi-lagi akan tinggal satu atap. Belum lagi ia masih kepikiran tentang perbincangannya dengan Shikamaru. Naruto akui, perasaannya memang sedikit kacau jika menyangkut bajingan itu, tapi bukan berarti ia mengkategorikan persaannya itu sebagai rasa suka. Baginya ia harus benar-benar mengenal orang itu sebelum ia memutuskan ia memiliki rasa suka atau tidak. Jujur saja ia tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama itu ada.
Lalu Naruto beralih menatap Sasuke, tepat di bola hitam yang terkadang membuatnya merasa kurang nyaman. Bahkan hanya dengan menatap bola hitam itu alerginya bisa kambuh. Keadan yang sampai sekarang ia belum tahu jawabnnya. Jika di pikir lagi, mungkin dengan kehadiran Sasuke di rumahnya ia bisa menjawab pertanyaan itu. Walaupun begitu, bukan berarti ia senang dengan semua ini. Tapi apa yang bisa ia perbuat coba? Merengek pada ibunya pun sudah tidak mungkin. Apalagi ayahnya, yang pasti akan berada di pihak sang istri. Kyuubi? Bisa-bisa ia malah memicu perang. Merasa tidak ada pilihan lain, Naruto menyerah. Entah ini akan menjadi bencana atau anugerah, sepertinya tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali menjalaninya.
"… Yeah. Aku rasa kau ada benarnya."
"Tentu saja, aku benar." Kata Sasuke dengan nada sombong, "Rileks, Naruto. Aku tidak akan menggigitmu…" penyataan itu mendapat tatapan skeptis dari Naruto, yang ditanggapi dengan seringai main-main, "…keras-keras."
Naruto mendengus, tapi tidak bisa menahan sudut bibirnya yang tertarik.
"Kemarilah," Sasuke menepuk bagian sofa yang kosong di sampingnya. Dengan perlahan Naruto menurutinya. Dan untuk beberapa saat mereka hanya duduk dalam diam dan Naruto hanya bisa bergerak tak tentu di tempat.
"This is awkward," kata Naruto, sambil melihat ke segala arah kecuali Sasuke.
Sasuke merespon dengan anggukan kecil, lalu ia melihat stick player di tanggannya. "So, wanna play?" ujarnya seraya menyodorkan stick player itu pada Naruto.
Naruto mengambilnya, sekilas melirik layar kaca, lalu kembali berpandangan dengan mata hitam Sasuke.
Sudut bibirnya terangkat, tersenyum angkuh dengan mata berbinar semangat. "Taruhan, aku bisa membunuh zombie-zombie itu lebih banyak darimu." Yep. Begini lebih baik, daripada memikirkan bagian terburuk dari keadaan yang menimpanya, lebih baik ia berusaha menikmatinya. Setidaknya hal itu tidak akan membuatnya sakit kepala.
Positive thinking, sepertinya kalimat itu cocok untuk keadaannya saat ini.
Satu alis Sasuke terangkat, "Jangan terlalu yakin, Dobe."
Naruto merespon dengan cengiran lebar.
Dengan itu permainan dimulai.
Oh well, boys will be boys.
.
::A::C::SN::J::S::
.
Hawaii.
"Apa kau yakin mereka akan baik-baik saja?"
Kushina yang sedang berjemur di pasir pantai dengan posisi terlentang dengan dinaungi payung besar itu menoleh ke samping. Berpandangan dengan sahabatnya, Mikoto. Melihat raut khawatir dari wajah lembut sahabatnya itu, Kushina tersenyum menenangkan.
"Kau tenang saja Mikoto, mereka sudah besar. Aku yakin mereka bisa menjaga diri."
"Bukan itu maksudku, aku yakin mereka baik-baik saja. Masalahnya, apa kau yakin mereka tidak akan terlalu 'akrab'? Mereka hanya berdua saja di rumah, dan seminggu bukan waktu yang sebentar, banyak hal yang mungkin terjadi. Mereka masih terlalu muda untuk memiliki anak. Walaupun aku tidak akan keberatan."
Well, Kushina tidak menyangka akan mendengar Mikoto dapat bercanda tentang hubungan kedua anak mereka secepat ini, padahal kemarin dia terlihat sangat menentang. Dalam hati Kushina bersyukur, karena sepertinya sedikit demi sedikit Mikoto telah menerima keadaan mereka. Mungkin liburan ini membawa hal baik lebih dari yang ia kira.
Kushina menatap bola mata hitam sahabatnya yang memancarkan sorot jenaka, lalu menganga tak percaya, memilih menanggapi lelucon itu, "Astaga! Kenapa kau baru bilang sekarang. Aku tidak berpikir sampai kesitu." Senyum miring terukir dibibirnya, "menurutmu, apa kita perlu memberitahu mereka?" ia melihat kejauhan di tepi pantai, dimana kedua suami mereka sedang asyik bermain bersama seorang gadis kecil. Cucu dari Fugaku, Iva.
"Nah, aku rasa biarkan saja mereka. Satu-satunya hal yang membuat pak tua itu menyetujui rencana berlibur ini adalah karena Deidara yang memberi laporan bahwa anak-anak kita saling membenci."
"Uh-huh. Sepertinya mereka lupa dengan apa yang dinamakan 'hormon masa muda'. Benci atau tidak, itu bukan halangan untuk mendapatkan kenikmatan."
Mikoto memperlihatkan seringai terkenal ala Uchiha, "Kau benar-benar menikmati masa muda-mu, iya kan Kushi-chan?"
Kushina mengangkat satu alis, lalu mendengus, "Seperti kau tidak saja."
Mikoto tertawa. "Indeed, I am."
.
::A::C::SN::J::S::
.
Hari sudah petang, sudah dua jam lebih kedua pemuda itu bertahan hidup membunuh zombie. Sasuke yang merasakan perubahan waktu sudah berhenti bermain sejak sepuluh menit lalu karena merasa haus dan lapar, tapi tentu saja berhenti bermain bukan berarti ia berhenti mengamati gerak-gerik pemuda pirang yang sangat terfokus pada layar kaca, pandangannya benar-benar terfokus untuk menghabisi zombie-zombie yang hendak memakan pemainya.
"MATI KAU! Matimatimatimatimati…."
Ekspresi serius di wajah pemuda tan itu membuat Sasuke tersenyum tipis. Tapi hal itu hanya berlangsung sebentar saja saat tiba-tiba perut Sasuke berbunyi.
"Dobe, Apa kau punya sesuatu yang bisa di makan?"
"Cari di kulkas, Teme." Naruto menjawab tanpa mau mengalihkan pandangannya dari layar kaca dan terus bergumam penuh emosi saat menghabisi mayat-mayat hidup itu.
Sasuke memutar bola matanya, dan berjalan tertatih ke arah dapur, berusaha memberi sedikit tekanan pada kakinya yang terluka. Beberapa saat meneliti isi kulkas yang lumayan penuh. Lalu mengeluarkan beberapa bahan untuk menyiapkan makan malam. Dengan cekatan Sasuke memasak makan malam, walaupun merasa sedikit terganggu dengan kakinya yang terluka.
Selama setengah jam lebih Sasuke berkutat dengan kompor dan alat dapur. Hingga aroma makanan yang dia buat sampai terhirup hidung sensitif Naruto yang tiba-tiba saja langsung berhenti beramain game. Kakinya otomatis mengikuti arah aroma itu. Begitu sampai di meja makan, mata Naruto langsung berbinar cerah, dengan saliva yang nyaris menetes.
Di meja makan itu sudah tertata beberapa jenis makanan; seperti sop, tempura goreng, makarel, dan semuanya di hidangkan dengan cantik. Naruto langsung mengambil tempat di depan Sasuke yang berada di seberang meja.
"Kau benar-benar membuat ini semua?" Naruto memandang Sasuke dengan sorot kekaguman. Ia pikir tadi Sasuke hanya akan membuat makanan instan seperti yang biasa ia lakukan ketika sendirian di rumah.
Sasuke mengangkat bahu singkat, walaupun dalam hati ia menepuk dada bangga telah bisa membuat Naruto memandangnya seperti itu. Bukan penuh kecurigaan atau tidak suka seperti biasa.
"Nah, ini hanya makanan rumahan biasa," kata Sasuke, sok merendah. Padahal dia memang berniat membuat Naruto terkesan sejak awal, dilihat dari penataan makanan tersebut yang seperti ada di hotel berbintang.
"Tapi aku tidak tahu jika laki-laki seperti mu…" Naruto tidak menyelesaikan kalimatnya, melirik Sasuke, kali ini dengan kikuk.
"Seorang bajingan sepertiku maksudmu?" Sasuke mengangkat alis, tidak tersinggung dengan penuturan itu, "kau tidak menyangka bajingan seperti ku bisa memasak? Well, aku memang sudah lama menyiapkan diri untuk hidup sendiri, jadi hal seperti memasak aku rasa wajar kulakukan."
Naruto mengangguk, penjelasan itu benar-benar membuat Naruto membuka mata mengenai sisi lain Uchiha Sasuke. "Kau hebat, aku saja hanya bisa membuat ramen instan," pujinya tulus, tatapannya tidak lepas dari makanan yang tersaji. Ini luar biasa. (Sekedar informasi saja, bagi Naruto siapa pun yang bisa melakukan hal diluar keahliannya, maka akan Naruto menganggap orang itu hebat. Tidak peduli siapa orangnya.)
Tapi Sasuke tidak tahu itu, dan pujian Naruto itu benar-benar membuat Sasuke serasa melayang. Bisa dilihat dari dadanya yang membusung bangga. Seolah ia bisa menyuguhkan bulan di hadapan orang yang dicintainya.
"Selama aku tinggal di sini, jika kau mau, aku yang akan masak."
Dengan cepat Naruto beralih padanya, safir itu berbinar cemerlang, "Benarkah? Kau mau melakukannya?"
Jika tadi ia merasa melayang, maka sekarang ia sudah terbang, dengan menjaga ekspresinya Sasuke mengangguk, "Tentu saja, kenapa tidak."
Jawaban itu cukup membuat Naruto tersenyum lebar. Dan tanpa ragu langsung menancapkan garpu pada tempura goreng. Begitu merasakan tekstur makanan itu di mulutnya Naruto mengerang nikmat.
"Oh—mmhh, ini enak sekali…"
Sasuke yang awalnya ikut tersenyum karena antusias Naruto pada makanan yang ia buat, mendadak menjadi kaku. Senyumnya sirna. Matanya tidak lepas dari wajah Naruto.
Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan cara pemuda pirang itu makan, walaupun sedikit berantakan. Tapi juga bukan itu yang membuat Sasuke terdiam, melainkan suara-suara yang dibuat Naruto-lah yang membuat Sasuke harus menelan ludah paksa. Sasuke berusaha mengalihkan pikirannya dari bayang-bayang Naruto yang sedang mendesah di bawahnya—ia berdeham. "Thank you. Kalau kau begitu suka dengan masakanku, aku bisa membuatkanmu makanan bahkan jika aku sudah tidak tinggal di sini."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Kenapa tidak?"
"Wow, aku tidak menyangka kau sebaik ini."
Sasuke mengangguk, pandangannya masih tidak lepas memerhatikan lekat gerak-gerik Naruto, bola mata hitam itu seolah menyiratkan sesuatu, "Beruntung sekali orang yang akan menjadi istriku kelak, iya kan Naruto?"
"Iya, beruntung sekali." Naruto menjawab si sela-sela suapan makanannya.
"Tapi bagaimana denganmu? Bagaimana harapanmu mengenai pendamping mu kelak? Apa dia juga harus bisa memasak makanan enak?"
"Hum-hum! Tentu saja, Teme!"
"Seperti aku?"
Naruto mengangkat kepalanya yang sejak tadi hanya terpaku dengan makanan lezat di hadapannya, sedikit merasa aneh karena mendadak pemuda yang dikenal pendiam itu menjadi banyak bicara.
"Iya-iya seperti kau yang bisa masak Teme, memangnya kenapa sih kau tanya-tanya terus? Aku kan sedang ma—"
"…."
"Uuh…."
"…Apa?"
"…Tidak. Hanya saja… kau tersenyum."
Sasuke menatap Naruto dengan tatapan seolah mengatakan; Naruto berasal dari planet lain. "Aku tersenyum. Big deal."
"Ugh, tidak juga sih. Tapi kau tersenyum seperti serigala yang telah mendapatkan mangsa." Naruto deadpeaned.
Mulut Sasuke berubah kaku. Senyum 'serigala' yang di maksud Naruto masih terukir. Lalu dia membuka mulut, "A-ah, itu hanya perasaanmu saja," elaknya, mengedarkan mata ke segalah arah kecuali ke mata biru itu. "Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi, makan saja makananmu."
"Ooh… okay." Lalu Naruto mengangkat bahu, perhatiannya kembali tersita dengan kenikmatan di mulutnya.
Dan suasana makan malam tersebut pun dipenuhi keheningan. Setelah selesai Naruto menawarkan diri untuk mencuci piring yang mereka gunakan. Kemudian setelah merasa bosan karena tidak ada yang bisa di lakukan, Sasuke mengusulkan untuk menonton film bersama, Naruto menyetujuinya dengan syarat Naruto-lah yang memilih film apa yang mereka tonton.
Sasuke sudah menyamankan diri sofa panjang, kakinya yang terluka ia taruh di atas meja. Setelah menyalakan film yang dipilih Naruto ikut duduk di samping Sasuke. Tiga menit film di putar, kening Sasuke berkerut dalam.
"Naruto."
Mata Naruto masih fokus pada layar TV.
"Dobe."
"Hm…"
"Dobe!"
"Apa, Teme!" sungut Naruto, menatap pemuda pucat itu kesal.
Wajah Sasuke tak kalah kesal, dan menunjuk layar T.V. "That fucking cartoon, Dobe!"
Naruto mengernyit dalam, "Hei! Apa salahnya dengan kartun!"
"Aku tidak suka. Ganti Dobe."
"Enak saja! Jangan bilang tidak suka kalau belum menontonnya, Teme!"
"Ck, semua kartun itu sama saja. Pokonya aku tidak suka."
"Tapi yang ini beda—Hei! Apa yang kau lakukan! Temeeeee!" Naruto mencoba merebut remot dari tangan Sasuke yang tiba-tiba di rampas, tapi Sasuke menjauhkannya dari jangkauan tangan Naruto dan menekan tombol forward hingga film yang mereka putar nyaris sampai di bagian akhir.
"Itu coba kau lihat, semua kartun sama saja, Dobe," ujar Sasuke.
Naruto yang tadinya masih berusaha mencapai remot di tangan Sasuke, memutar kepalanya menatap layar T.V. Di sana sudah terdapat dua tokoh utama sedang berciuman di latar belakangi oleh sebuah danau yang jernih dan matahari terbenam.
"Kau lihat kan semua adegan ciuman di kartun itu sama. Membosankan."
Naruto mengerjap, lalu menoleh pada Sasuke. Rahang Naruto terjatuh dengan ekspresi tak percaya.
"Are you fucking serious right now?"
Alis Sasuke terangkat melihat tatapan Naruto padanya, seolah dia sedang melakukan dosa besar, "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Kau tidak suka menonton film kartun hanya karena adegan ciuman di film kartun itu membosankan?"
"Berhenti menatapku seperti itu."
"Astaga! Benar-benar tak bisa di percaya."
"Itu kenyataannya, adegan ciumannya mem-bo-san-kan. Aku tidak mengerti kenapa kita harus meributkan hal ini."
Naruto sepertinya tidak mau mendengar apa yang Sasuke katakan, "Jadi apa selama ini kau menilai sebuah film hanya dari apa adegan ciuman di film itu membosankan atau tidak?"
Sasuke terdiam cukup lama, "Memangnya ada yang salah dengan itu?" nada yang digunakanya seperti seorang anak kecil yang sedang bertanya bagaimana ia dilahirkan.
Naruto menggeram frustasi, "Tentu saja salah!"
"Kau tahu, aku tidak benar-benar mengerti mengapa kita harus memperdebatkan hal ini. Tapi mungkin aku bisa sedikit mengerti kalau kau merasa tersinggung."
Naruto mengerjap tak mengerti, "Aku? tersingung? Apa maksudmu, Teme?"
"Yah... melihat pilihan film mu barusan… mungkin kau merasa bahwa teknik yang kau miliki juga… membosankan? Ah, tapi kau jangan salah sangka aku tidak akan mengejekmu, karena aku yakin dengan latihan kau bisa memperbaikinya."
Naruto menatap kosong, "Teme, aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan."
"Ciuman itu… kau merasa bahwa ciumanmu juga… membosankan, bukan?"
Naruto hanya menatap Sasuke.
"Tenang saja Dobe, aku tidak ada masalah dengan itu." kata Sasuke tersenyum tipis, berusaha meyakinkan kata-katanya.
Seketika itu juga ekspresi Naruto berubah dingin, "Tarik kembali ucapanmu, Teme."
"Huh, kenapa?"
"Karena itu tidak benar! Ciumanku sama sekali tidak membosankan! Teme sialan!"
Sasuke memberikan tatapan skeptis.
"Aku bisa membuktikannya," kata Naruto sungguh-sungguh.
"Oh, tidak perlu sampai begitu Dobe, kau ingatkan kita pernah berciuman? Aku rasa itu semua sudah menjelaskan—hmph!"
Begitu tahu bibir Naruto sudah menempel pada bibir Sasuke. Tubuh Sasuke berubah kaku dan matanya membelalak lebar, tidak percaya jika Naruto benar-benar melakukannya. Padahal niat Sasuke hanyalah menggodanya, tidak benar-benar serius mengatakan bahwa ciuman Naruto membosankan. Hell, bagaimana bisa membosankan jika yang Sasuke inginkan adalah bisa mencium pemuda pirang itu setiap saat?
Tanpa sadar bibir Sasuke melengkung dalam ciuman itu, merasakan sapuan lembut Naruto pada bibir bawahnya. Tanpa ragu Sasuke tentu saja membalas semua itu, menangkup tengkuk Naruto untuk tidak menajuh darinya. Merengkuh tubuh ramping itu untuk lebih mendekat padanya, hingga tanpa sadar Naruto sudah berada dalam pangkuannya, melingkarkan ke dua lengannya pada leher Sasuke, memperdalam ciuman mereka. Sasuke mengerang senang. Oh God, dia sudah lama menantikan ini, berbeda dari ciuman yang mereka lakukan sebelumnya, kenyataan bahwa kali ini Naruto-lah yang memulainya membuat semua ini terasa dua kali lipat lebih memabukkan, Sasuke merasa melayang dibuatnya.
Ciuman itu dimulai dengan perlahan, bibir Naruto bergerak dengan lembut, seolah mencicipi dan yang ditemukannya membuat Naruto harus menahan diri agar tidak mengeluarkan suara-suara memalukan karena ia tidak akan pernah menyangka bahwa bibir Sasuke bisa terasa begitu hangat dan manis. Hot damn. Naruto bisa merasakan tubuhnya memanas, jantungnya berdentam begitu keras, reaksi yang tak pernah ia duga bisa di dapatkan hanya dengan mencium seorang laki-laki, ditambah lagi seorang bajingan. Tapi… oh ya ampun, ia tidak bisa berhenti.
Naruto sudah tidak bisa berpikir lagi ia mengerang begitu Sasuke memperdalam ciuman mereka. Tanpa sadar Naruto membalasnya dengan intensitas sama atau mungkin lebih, saat ini ia sudah benar-benar tidak dapat berpikir, terhanyut dengan buaian lumatan-lumatan memabukkan.
Satu hal yang pasti ciuman itu sama sekali tidak membosankan.
Jika saja oksigen tidak menjadi kebutuhan pasti dalam hidup sudah pasti mereka tidak akan berhenti. Perlahan Naruto terlebih dulu melepas ciuman tersebut, pikirannya masih diliputi kabut hasrat. Kedua bola mata berbeda itu hanya saling menatap beberapa saat. Kedua napas mereka saling bertaut. Dengan jarak sedekat itu Naruto bisa melihat bahwa ciuman barusan juga berpengaruh besar pada Sasuke, wajah pemuda pucat itu memerah dengan sorot mata yang membuat tubuh Naruto merinding. Lalu Naruto menelan ludah dan membuka mulut terlebih dulu.
"Kita teman."
"Jika itu yang kau mau." Entah bagaimana Sasuke bisa mempertahankan ekspresi datarnya, walaupun matanya menyiratkan hal sebaliknya.
Menyadari posisi mereka yang terlalu dekat, Naruto perlahan menyingkir dari pangkuan Sasuke, kemudian duduk di samping Sasuke dengan kepala menyadar pada punggung sofa dan memjamkan mata untuk beberapa saat ia terdiam merenungi tindakannya barusan. Bohong jika ia bilang ciuman barusan tidak merubah sesuatu dalam dirinya. Tapi bukan berarti ia juga siap menghadapi hasil dari tindakan spontannya itu. Selama ini ia yakin tidak pernah mempunyai ketertarikan lebih terhadap laki-laki. Hell, walaupun sahabat-sahabatnya gay, Naruto yakin dia straight seratus persen. Tapi semenjak bajingan ini datang ke dalam kehidupannya ia sudah tidak tahu lagi. Jika dipikirkan lagi, satu-satunya yang dia sukai selama ini hanyalah Sakura.… gadis itu, sudah berapa lama ia berharap gadis itu akan kembali padanya? Naruto menggelengkan kepalanya, tidak mau membuat kepalanya semakin terbebani.
"I'm straight."
"Begitu juga dengan sephageti sebelum di panaskan."
"Shut up, Teme."
Nada suara Naruto terdengar biasa nyaris bosan, tidak ada makna pedas saat ia mengatakannya. Hal itu tentu saja menangkap perhatian Sasuke, karena tidak biasanya Naruto menanggapinya tanpa berapi-api. Sejujurnya ia sama terkejutnya dengan tindakan Naruto untuk menciumnya, Sasuke pikir setelah menyadari tindakan spontannya barusan Naruto akan segera lari dan menghindarinya. Tapi lagi-lagi pemuda pirang itu bertindak di luar dugaanya.
"Kau tahu, aku rasa kau bisa tenang karena dengan ini aku tidak akan mengejekmu lagi."
Naruto hanya melirik pemuda pucat yang juga sedang menatapnya.
"Aku akui ciumanmu sama sekali tidak membosankan." Dan seringai menyebalkan itu kembali muncul. "Mau mencobanya lagi?"
Naruto ternganga lalu dengan cepat Naruto berdiri lalu mengambil bantalan sofa, dan melemparnya ke wajah Sasuke.
"Dasar mesum!" Lalu berlari menuju kamarnya, meninggalkan Sasuke yang hanya terdiam melihat tingkah absurd Naruto barusan.
Dia benar-benar lari, batin Sasuke kecewa. Ia menghela napas, lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, pandangannya menatap lurus ke langit-langit ruangan. Sejujurnya ia ingin sekali mengejar si pirang itu. Tapi satu kata yang membuatnya tidak bisa bergerak, satu kata yang akhir-akhir ini membuat ia mengutuki dirinya sendiri. Satu kata…
Teman.
Sejak beberapa hari lalu kata itulah yang terus menerus ia pikirkan. Ia menghela napas lagi dan mengusapkan telapak tangannya ke wajah. Ya ampun. Rasanya lelah sekali menjadi teman si Dobe itu. Kenapa juga dia harus mengusulkan hal itu? Kenapa dia harus mengajak si Dobe berteman denganya? Kenapa pula si Dobe itu langsung setuju? Ck, jika berurusan dengan si Dobe itu entah kenapa otak jeniusnya tidak berfungsi.
Astaga betapa bodohnya kau Sasuke, gerutu Sasuke dalam hati.
Tapi seandainya saja Sasuke tahu apa yang sedang dipikirkan Naruto saat itu mungkin ia akan berpikir dua kali untuk melepaskan Naruto begitu saja.
Shit. Shit. Shit.
Umpatan-umpatan itu terus memenuhi kepala Naruto, ia meremas dadanya seraya berlari, dan begitu sampai di balik pintu kamarnya ia terengah dan merosot jatuh. Selama beberapa saat ia hanya duduk sambil menormalkan napasnya, begitu merasa tenang ia mulai menangkup wajahnya dengan kedua tangan, jika ada yang melihatnya sekarang, ia yakin, pasti ia sudah terlihat seperti kepiting rebus.
Ya Tuhan… katakan bahwa yang barusan itu tidak terjadi. Katakan jika jantungnya tidak berdentam dua kali lipat lebih cepat dari biasanya ketika ia melihat ekspresi bajingan itu.
Dengan tangan gemetar ia mengecek dadanya, dan mengingat bagaimana ekspresi bajingan itu barusan. Dan wajahnya semakin memerah jika itu mungkin.
Rasanya ia mau mati saja.
.
::To Be Continued::
.
A/N :
Sebelumnya Ren Terimakasih sekali sama Reader yang setia menunggu ni fic ampe jamuran..
maaf Ren gak bisa balas review satu-satu. #Deepbow
Untuk update Ren gak bisa menetapkan waktu yg tetap,tapi Ren bakalan namatin ni fic kok.
Sekali lagi terimakasih untuk review dan yang udah mau mampir~ :)
salam,
Ren
