.
CONFESSION (고백)
.
.
CHAPTER 12
.
A few months later...
Seorang pemuda manis tengah menatap kosong keluar jendela kamarnya. Ini hari libur dan ia tak ingin kemana pun. Memang masih terlalu pagi untuk melamun, namun ia merasa sangat hangat dengan udara pagi yang menyapa kulitnya. Semilir angin pagi yang dingin membuat sensasi nyaman tersendiri untuknya. Ia merasa pikirannya mulai tenang sedikit demi sedikit. Tiba−tiba sebuah tangan menepuk−nepuk puncak kepalanya. Ia tersentak kecil dan membalikkan kepalanya. Ia tersenyum simpul melihat suaminya. Tak lama, tangan sang suami terulur dan melingkari leher istrinya. Meletakkan dagunya pada puncak kepala sang istri, menghirup aroma tubuhnya yang selalu menjadi favoritnya di pagi hari.
"Kenapa melamun, hum? Bahkan ini masih terlalu pagi untuk itu." Kekeh suaminya. Luhan tersenyum kecil dan mengusap−usap tangan yang melingkari lehernya dan kembali mengedarkan pandangannya kearah taman di belakang rumahnya. Ia terdiam, memikirkan beberapa hal yang hampir membuatnya frustasi. Ia bahkan sempat drop dan masuk rumah sakit karenanya. "Kau merindukannya?" Luhan dapat merasakan dadanya perlahan terasa sesak, namun lingkaran hangat Sehun membuatnya merasakan kehangatan. Luhan mengangguk perlahan.
"Dimana Baekhyun? Aku merindukan adik kecilku..." Bahkan jawaban yang di dapat Sehun seperti jawaban seseorang yang putus asa dan terdengar sangat menyakitkan baginya. Bisa dikatakan, Luhan hampir depresi karenanya. "Dia kemana, kenapa dia tak menemuiku saat aku menyiapkan strawberry ice cup berukuran raksasa kemarin? Dia sangat menyukainya, Sehun−ah. Tapi kenapa dia tak mengambilnya kemarin?" Sehun mencium puncak kepala istrinya berkali−kali.
"Jangan seperti ini Lu, ini sudah empat bulan berlalu. Kau tak boleh terus−terusan bersedih." Sehun membalikkan tubuh Luhan yang duduk di kursi kayu putih. Hatinya ikut sakit saat melihat lelehan liquid di pipi Luhan. Ia mengusap lelehan liquid itu dan mengenggam tangan Luhan hangat. "Kita akan terus mencarinya. Dia akan baik−baik saja, Lu." Luhan mengigit bibir bawahnya saat isakan kecil mulai keluar dari mulutnya. Tanpa babibu, Sehun langsung memeluknya erat. "Kalau kau seperti ini, bagaimana dengan eomonim, hum? Ibumu sedang berada dirumah sakit, Lu. Kau tidak boleh selemah ini. Kau mau sakit ibumu makin parah karena memikirkanmu yang seperti ini?" Luhan menggeleng dalam pelukan Sehun.
"Aku...hh, aku bingung Sehun−ah. Aku belum menemukan Baekhyun, dan eomma... hiks. Kesehatan eomma semakin menurun. Appa juga frustasi karenanya. Kami.. hiks.. sampai merepotkan keluargamu karena perusahaan kami down kembali." Sehun mengusap−usap punggung Luhan.
"Tidak apa−apa, Lu. Kita keluarga kan? Keluargamu sudah menjadi bagian dari keluargaku juga. Perusahaan itu pun juga tanggung jawab kita semua. Kalian takkan merepotkan kami. Jadi tenanglah. Tak perlu memikirkan semuanya sampai kau seperti ini." Sehun melepaskan pelukannya dan menatap ke dalam mata rusa Luhan. Mata yang selalu membuatnya nyaman, dan merasakan kehangatan. Mata yang kini sinarnya mulai redup dan dingin. Ia mencium kedua mata Luhan dengan lembut, sekedar menghentikan tangis kecil Luhan. "Jja, sebentar lagi kau ulang tahun. Kau ingin kado apa?" tanya Sehun mencoba mengalihkan pembicaraan mereka yang mungkin akan semakin membuat Luhan bersedih. Melihat usaha Sehun, mau tak mau Luhan harus tersenyum. Ia juga sadar, ia tak mungkin terus bersikap lemah seperti ini. Sehun sudah melakukan banyak hal untuknya selama ini. Ia tak boleh membuatnya lebih khawatir lagi karena sikap egoisnya.
"Aku ingin anak kecil yang imut di dalam keluarga kita." Melihat senyuman manis Luhan, Sehun pun ikut tersenyum. Ia mengerti maksud Luhan. Istrinya ingin mereka memiliki momongan, yang artinya mereka akan mengadopsi seorang anak. Tak mungkin Sehun menolaknya karena ia justru sangat menginginkannya. Meskipun mereka masih SMA, siapa yang peduli. Sehun pun mendaratkan kecupan kecil di bibir plump Luhan.
"Permintaan dikabulkan..." Dan dengan itu Sehun kembali mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirnya, ia lalu memberikan lumatan−lumatan kecil pada bibir tipis Luhan. Luhan memejamkan matanya saat kehangatan mulai menyusup ke dalam hatinya. Membuatnya sedikit melupakan masalah yang sedang dihadapinya ini. Lumatan itu berubah menjadi hisapan dan gigitan kecil yang menimbulkan erangan sensual dari bibir Luhan. Ia melingkarkan lengannya pada Sehun yang mulai mengimbangi permainan Sehun yang mulai memanas. Tangan Sehun tak hanya diam, ia mulai mengerayangi titik−titik sensitif Luhan, membuat desahan sang istri memenuhi ruangan pribadi itu. Seks di pagi hari, tak terlalu buruk.
Confession © ChanBaek
Kyungsoo menghela nafas, dia baru saja keluar dari kantor polisi untuk menanyakan keberadaan Baekhyun. Dia juga sudah mengecek semua bandara dan stasiun kereta api, namun tak ada informasi satu pun yang didapatkannya. Baekhyun seolah menghilang di telan bumi. Kemana dia? Ke tempat terpencilkah? Kutub utara? Oh, yang benar saja. Baekhyun tidak akan sebodoh itu untuk membunuh dirinya sendiri karena berada dalam hawa ekstrim di kutub utara. Lagipula mana mungkin ada yang tinggal disana? Ah, kau semakin mengada−ada Kyungsoo. Tangan mungilnya mencengkeram kertas ditangannya. Sungguh, dia sedang bingung dan kalut sekarang.
"Kau perlu istirahat, Kyungsoo−ya. Kita bisa melanjutkannya besok." Kyungsoo langsung memeluk Kai dengan erat. Tak lama setelahnya, ia mengisak kecil. Kai hanya bisa menghela nafas dan mengusap−usap punggung kekasihnya dengan sayang. "Shhh, jangan menangis lagi Soo−ya. Dia pasti akan ketemu."
"Aku—aku khawatir, Kai. Aku takut terjadi sesuatu dengannya. Dia tiba−tiba saja menghilang setelah pindah sekolah. Dan pindah pun ia secara diam−diam. Ini sangat aneh, Kai. Pihak sekolah juga bungkam dan tak mengatakan kemana Baekhyun pergi, bahkan kepada orang tuanya sekalipun."
"Sshhh, kita akan menemukannya." Kai mengecupi puncak kepala Kyungsoo. Dia juga tak tahu harus mencari kemana lagi. Mereka bahkan mengabaikan waktu sekolah hanya untuk mencari Baekhyun. Kai tidak tahu, kalau ucapan Baekhyun waktu itu adalah ucapan terakhir sebelum dia menghilang. 'Jagalah Kyungsoo, Kai. Dia sudah seperti adikku sendiri. Sekarang dia adalah tanggung jawabmu. Aku sangat berharap padamu.' katanya waktu itu. Kai membuang nafas. Rasanya ia ingin memukul kepala Baekhyun yang berpikiran dangkal itu. Kenapa kau justru lari dari masalah dan memilih pergi, Baek. Kau sungguh bodoh, umpatnya dalam hati. Setelah melepaskan pelukan itu, Kai segera menghapus jejak−jejak airmata Kyungsoo. Ia tersenyum hangat, membuat Kyungsoo juga menunggingkan senyum simpul, meski masih terlihat kesedihan di dalamnya. "Nah, sebaiknya sekarang kita harus ke rumah sakit."
"Apa yang harus kukatakan pada Byun ahjumma, Kai?" Kai mengusap puncak kepalanya sayang.
"Katakan saja yang sebenarnya. Jangan memberikan harapan palsu pada Byun ahjumma. Kasihan beliau." Kyungsoo mengangguk mengerti. Tak lama kemudian, Kai mendapat telefon dari Sehun. Ia pun segera mengangkatnya. "Halo, Sehun−ah!"
"Cepat ke rumah sakit! Abeoji terkena serangan jantung!" pip. Bersamaan dengan matinya telefon itu, Kai membulatkan matanya kaget.
"Astaga, apalagi ini." keluhnya frustasi. Kyungsoo menatapnya bingung.
"Ada apa, Kai?"
"Kita harus ke rumah sakit sekarang, Byun ahjussi terkena serangan jantung." Kyungsoo pun membulatkan matanya dan mulai melangkah mengimbangi Kai yang tergesa di depannya. Drrt...drrtt... Kai membuka pesan yang baru masuk di smartphonenya dan mengerang frustasi. Kyungsoo berhenti disamping Kai. "Aku harus mencari Chanyeol di club malam. Sepertinya dia akan melakukan hal bodoh lagi." Kyungsoo masih tampak bingung. "Kau tidak apa kan naik taksi ke rumah sakit sendiri? Aku harus menjemput Chanyeol. Si gila itu bisa saja mengamuk di club lagi dan berakhir di kantor polisi seperti minggu lalu. Aku akan menyusulmu nanti."
"Baiklah, aku mengerti." Kai dan Kyungsoo pun melangkahkan kakinya berlawan arah dengan kepanikan yang sama.
Confession © ChanBaek
Seoul, 12:05 A.M
Seorang pemuda tinggi tampak tengah menengak minuman beralkohol di depannya. Beberapa wanita tampak mengelilingi dan menggoda dua pemuda itu namun tak ada yang menggubris mereka sama sekali. Pemuda berkulit tan tampak melipat kedua tangannya dan memandang tajam temannya. Sedangkan pemuda jangkung itu mengabaikannya dan justru sibuk dengan gelas−gelas alkoholnya. Meski pun kepalanya sudah mulai pening, namun ia tak menghentikan aksi minumnya yang semakin membuat seorang Kim Jongin emosi ditempat. Kai mengacak rambutnya frustasi sebelum akhirnya merebut gelas minuman Chanyeol yang masih setengah. Chanyeol mendesis dan menatap Kai tajam. Ia pun meraih botol didepannya namun Kai dengan cepat meraih botol itu dan membuat Chanyeol semakin emosi.
"Brengsek!" umpatnya. Kai masih menahan emosinya untuk tidak memukul temannya ini. Dia tahu Chanyeol frustasi, tapi bisakah dia melakukan hal yang benar dan tidak merepotkan orang lain seperti ini? "Hey kau! Berikan aku sebotol lagi!" teriak Chanyeol pada salah satu bartender disana.
"Hentikan bodoh!"
"Apa masalahmu?!" Kai mengatupkan rahangnya yang mulai mengeras. Sungguh menghadapi sifat keras Chanyeol memang harus penuh dengan kesabaran.
"Berhenti bersikap kekanakan, Yeol! Yoora noona menunggumu di rumah. Kau itu senang sekali membuatnya khawatir!" bentak Kai cukup teredam oleh suara bising club malam yang dikunjungi mereka. Gadis−gadis yang semula mengerubungi mereka tampak menjauhkan diri masing−masing, takut kalau kedua pemuda di depan mereka akan berkelahi. Kai langsung mengusap wajahnya kasar saat Chanyeol mengabaikannya dan kembali menenggak minumannya.
"Pulanglah, Kai."
"Mwo? Kau—" Chanyeol menatapnya dingin.
"Aku akan segera pulang setelah ini. Bilang pada Yoora aku akan pulang sejam lagi. Aku ingin sendiri, Kai. Kumohon mengertilah." Helaan nafas keluar dari bibir tebal Kai. Sungguh, dia bingung harus menghadapi Chanyeol seperti apa. Dia bahkan lebih parah dari dulu. Empat bulan berlalu dan dia semakin bersikap aneh. Tak pernah pulang ke rumahnya dan menginap di hotel bersama beberapa gadis. Ia seolah menjadi makhluk malam dan bahkan melupakan sekolahnya.
"Baiklah, aku akan pulang dulu. Hentikan minummu itu, kau masih harus menyetir mobil nanti." Kai membalikkan badannya, namun sebelum ia benar−benar pergi, ia membalikkan wajahnya dan menatap Chanyeol dari samping. "Sebaiknya hentikan kebiasaan burukmu itu. Kau semakin terlihat brengsek sekarang." Chanyeol menahan nafas saat dadanya kembali tertekan benda berat tak kasat mata. "Kalau kau benar−benar mencintai Baekhyun, harusnya kau berubah menjadi lebih baik. Dia pasti sangat sedih dengan sikapmu yang berandalan itu. Jika kau ingin dia kembali, jadilah Chanyeol yang pantas untuknya, dan tinggalkan sosok brengsek Chanyeol sebelumnya. Tak akan ada yang tahu jika suatu saat nanti kau akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengannya kembali." Chanyeol menunduk, meremas gelas wine di tangannya. Kai pun berbalik, dan berjalan pergi meninggalkan sosok Chanyeol yang rapuh.
Confession © ChanBaek
Chanyeol berjalan terhuyung kearah tempat dimana ia memarkirkan mobilnya. Tangannya setia memegangi kepalanya yang terasa pening, dan berputar−putar. Beruntung ia tidak merasa mual setelah menghabiskan beberapa botol wine disana. Ia ingin segera pulang dan tidur di ranjang empuknya. Ia sudah mengirim pesan pada Yoora kalau ia akan pulang sendiri, sementara Kai pergi ke rumah sakit dimana ibu dan ayah Luhan dirawat. Chanyeol sedikit meruntuki dirinya yang justru berada di club malam dan bukannya menjenguk orang tua orang yang dikasihinya itu.
Setelah memasuki mobilnya, ia segera melajukannya dengan kecepatan sedang. Kepalanya sungguh sakit dan semua seakan bergoyang−goyang. Jalanan terlihat seperti lautan. Entah mengapa, kakinya justru menginjak pedal gasnya dan menambah kecepatan laju mobilnya. Pikirannya sedikit tidak waras kali ini. Ia merasa ia melihat Baekhyun dihadapannya. Ia mempercepat laju mobilnya karena ingin mengejar bayangan Baekhyun yang menurutnya semakin jauh dan jauh.
"Baekhyun−ah..." lirihnya. "Berhentilah... aku mohon." Lagi, dia menambah kecepatan mobilnya hingga melebihi batas kecepatan normal. Bisa saja polisi mengejarnya dan menilangnya, namun ia tak peduli. Bayangan Baekhyun semakin jauh darinya, dan ia hanya ingin menggapainya. Mobilnya bahkan berjalan berlawanan arah dari jalan yang seharusnya di laluinya. Dia mengendarai mobilnya dengan tidak seimbang dan melawan arus dari arah depan. Membuat klakson−klakson mobil lain seolah meneriakinya. Ia mengumpat di tengah−tengah rasa sakit di kepalanya. Ia pun tak peduli jika ini akan membuatnya celaka. Bahkan ia tak sadar jika sebuah truk pengangkut barang melaju tepat di depannya.
Chanyeol memejamkan matanya. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang saat mobil besar itu mengklaksonnya berkali−kali memintanya untuk menyingkir. Ia mengabaikannya. Tak ada gunanya toh jarak mereka sangatlah dekat. Bibirnya tertarik keatas, menunggingkan senyuman pahit yang menyakitkan. Baekhyun hilang, ia sudah pergi. Lalu untuk siapa ia disini? Ia hanya ingin menatapnya setiap harinya. Tak bolehkah? Ia tak kan memilikinya, ia hanya ingin melihatnya. Masih tak pantaskah dia? Mati mungkin lebih baik. Biarlah ini menjadi saat terakhir ia melihat dunia ini.
Tiiin... tiiinnn...
'Chanyeol−ah... Chanyeol... jangan.'
Deg.
Tiiin... tiiinn...
BRAAAAKKKK!
Confession © ChanBaek
Kanada, 12:05 PM.
"BAIXIAN!"
"Ya, Tao?" Seorang pemuda mungil terkekeh dan segera kabur dari bantal yang baru saja dilemparkan Tao padanya. Dan beruntung benda empuk itu tak berhasil mendarat di kepalanya. Ia menjulurkan lidahnya mengejek Tao. Wajah Tao memerah menahan amarah dan malu yang bercampur jadi satu. Ini memang sudah menjadi kegiatan rutin mereka, saling ejek dan bercanda satu sama lain. Seperti Baekhyun yang baru saja menggodanya. "Oh jadi alasan kalian tinggal berdua memang 'itu' yaaaa~ ayo mengaku Tao." goda Baekhyun lagi. Tao yang kesal segera bangkit dan mengejar sosok kecil Baekhyun yang berlari mengelilingi kursi.
"SHUT UP, DASAR BACON!" Baekhyun kembali tertawa keras membuat Tao semakin merengut kesal dan mengejar kakak angkatnya itu. "BAIXIAN!" Baekhyun menyerah, ia pun berhenti dan berjalan kearah Tao, tanpa tahu kalau pemuda yang memberenggut kesal itu menunggingkan seringaian liciknya.
Greb.
"Kena kau, Huang Baixian!" Baekhyun menjerit dengan saat keras saat Tao mencengkeram kedua tangannya dan menggelitiki pinggangnya. Baekhyun tergelak dan tertawa keras dengan airmata yang sudah menetes di sudut matanya. Sungguh, ini sangat geli. Dan Baekhyun sangat sensitif dengan gelitikan itu.
"Ampun Tao! Ahhhaha... Maafkan gege. Hentikan! Aduh, perutku... Ya Tuhan!." Baekhyun mengguling−gulingkan badannya menghindari jemari nakal Tao yang terus−terusan menyentuh bagian sensitifnya. Di tengkuk, leher, telapak kaki dan pinggangnya. "Tao−ya..." Baekhyun mulai merengek. Akhirnya Tao melepaskan kungkungannya dan mengusap peluh di dahinya. Ia menatap Baekhyun yang terbaring di lantai dengan senyuman yang mengejek.
"Berani menantangku lagi, huh?" Tao menggulingkan tubuh Baekhyun hingga tubuh itu terbungkus selimut dengan rapi. Yah, saat bermain tadi seluruh isi rumah berantakan. Entah itu selimut, pakaian, snack, dan barang−barang lain terlempar jauh dari tempatnya. Mereka hanya tinggal bersiap−siap untuk mendapat amukan naga yang sebentar lagi akan pulang. Kris memang selalu pulang saat jam 12 siang, dia ingin makan siang dirumah katanya.
"Astaga! Baixian, Tao! Apa yang kalian lakukan dengan rumahku!" Nah, suara sang naga pun menggema di seluruh sudut ruangan. Baekhyun dan Tao saling merapatkan diri dan menunduk menyesal. Kris sendiri melipat kedua tangannya dan menatap kesal. TaoBaek sudah seperti anak nakal yang dimarahi ibu mereka.
"Maaf ge, tapi Baibai gege yang mengajakku perang duluan."
"Kenapa aku? Kau kan melempariku dengan bantal dan barang−barang lainnya tadi." TaoBaek saling melempar tatapan membunuh membuat Kris berteriak kembali. Mereka sontak menutup kedua telinga mereka. Sudah siap untuk ceramah panjang kali lebar yang akan diucapkan Kris.
"Aduh, kalian membuatku pusing." Kris menatap Tao. "Huang Zitao, berhenti melempar barang−barang itu. Kalau rusak kau bisa menggantinya?" Tao menunduk dalam, lalu mengangguk−angguk mengerti. Kris kemudian menatap Baekhyun. "Huang Baixian, kau yang tertua, jadi berhenti mengejek adikmu dan membuatnya mengacau seperti ini." Bibir Baekhyun melengkung ke bawah. "Sekarang kalian bereskan semua ini!" Mereka pun segera mematuhi perintah Kris sebelum ia kembali menyemburkan api dari dalam mulutnya.
Ddrrtt...ddrrrttt...
Kris yang baru saja bersandar pada sofanya langsung dikagetkan oleh getaran dari ponselnya. Ia merogoh sakunya dan menemukan ID Yoora di layar smartphonenya. Ia menyerngitkan dahi. Tumben noonanya itu menghubunginya. Segera saja ia menyetuh tombol hijau dan meletakkan ponselnya di telinga.
"Yeob—"
"Pulang ke Korea sekarang, Chanyeol kecelakaan!" Mata Kris membulat. Ia sempat melirik Baekhyun sebelum akhirnya menanyakan keadaan Chanyeol dengan suara yang setengah berbisik. Ia pun mematikan sambungan telefonnya beberapa menit kemudian. Bukankah ini masih malam di Korea? Butuh delapan jam lebih untuk sampai disana. Setelah berbincang dengan Yoora dengan penuh kepanikan tadi, akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke Korea hari ini juga. Ia menyimpan smartphonenya ke dalam sakunya dan menatap TaoBaek yang kembali bercanda dan saling tertawa. Ia menghela nafas dan memanggil Tao. Tao pun segera menghampirinya.
"Aku akan pulang ke Korea sekarang juga." Kris berbisik pada Tao. Sesekali ia melirik Baekhyun yang sibuk melipat selimutnya. "Dan jangan katakan apapun pada Baekhyun." tambahnya lagi. Alis Tao terangkat sebelah. Dan saat melihat tatapan memohon Kris mau tidak mau ia menganggukkan kepalanya. "Kau harus menjaga rahasia ini." Oke, Tao benar−benar bingung sekarang.
"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya.
"Chanyeol kecelakaan."
"Mwo?!" Tao memekik kecil dan menutup mulutnya saat menyadari Baekhyun tengah melirik mereka. "Lalu bagaimana keadaan Chanyeol?" Tao pun berbisik pada Kris.
"Yoora noona tadi bilang dia masih ditangani dokter karena mengalami benturan keras di kepalanya, dan matanya juga terkena serpihan kaca. Mungkin ia akan melewati beberapa kali operasi." Wajah Tao tampak memucat, dia memang takut sekali dengan darah atau adegan seram seperti tabrakan, pembunuhan, operasi dan sebagainya. Ia tak bisa membayangkan seperti apa keadaan Chanyeol yang mungkin wajahnya penuh dengan darah. "Abeoji dan eomma sudah pulang ke Korea lima belas menit yang lalu, sekarang aku harus menyusul mereka juga." Tao mengangguk. Kris ingin memasuki kamarnya saat Tao kembali memegang lengannya dengan erat.
"Tunggu ge, bagaimana itu bisa terjadi?"
"Chanyeol mengendarai mobil pada saat ia mabuk." Kris mengusap wajahnya kasar. Dia juga bingung sekarang. Matanya tampak tak tenang karena selalu melirik ke arah Baekhyun. Dia tak mungkin memberitahu Baekhyun. Pemuda kecil itu pasti akan panik. Jika ia membawa Baekhyun dan tiba−tiba muncul disana, orang−orang pasti akan mencekiknya saat itu juga karena dianggap telah menculik Baekhyun. Ia menghela nafas lagi. Ia lagi−lagi memandang Baekhyun yang kini tengah menatap keluar jendela dengan pandangan sendu, entah apa yang dipikirkan pemuda mungil itu. Ia lalu beralih pada Tao lagi. "Jaga dia Tao, katakan saja gege sedang ada bisnis di luar negeri." Tao mengangguk paham. "Aku akan mengabari lagi nanti."
"Semoga Chanyeol tidak apa−apa."
"Yeah, semoga saja."
Confession © ChanBaek
"Bagaimana keadaan Chanyeol?" Yoora yang tengah menunduk mulai mengangkat kepalanya dan menatap Kris.
"Kau langsung kemari tadi?" Kris mengangguk. "Dokter Lee sedang menanganinya lagi, Kris. Kondisinya sempat down tadi." Kakak perempuannya menunduk dalam, membuat Kris pun ikut merasakan kesedihannya. Ia duduk disamping Yoora dan memeluk kakaknya itu. Memberikan sedikit kenyaman untuknya. Ibu Chanyeol tampak menangis di dekapan suaminya sedangkan KaiSoo duduk berdua disamping Yoora dan Kris. Mereka hanya menatap bingung kearah Kris karena mereka memang tak mengenalnya.
"Kris hyung?" Kris mendongak dan menemukan Sehun yang tersenyum kecil padanya. "Lama tak bertemu. Dan sayang sekali kita bertemu dalam keadaan yang seperti ini." Kris tersenyum paksa. Benar, sudah lama sekali ia tak bertemu dengan cinta pertamanya, Oh Sehun. Sebenarnya ia dulu menyanggupi ajakan Tuan Park ke Kanada karena sosok Sehun. Dia pernah menyukai Sehun dulu, bahkan sangat mencintainya. Namun ia tak bisa memilikinya karena Sehun adalah sepupu Chanyeol, meskipun mereka tak sedarah, tetap saja Sehun bagian dari keluarganya. Ia pun mengikuti Tuan dan Nyonya Park ke Kanada, mengurusi perusahaan serta melanjutkan sekolah disana. Melupakan perasaan terpendamnya dan bertemu secara tak sengaja dengan Tao.
"Kau bersama suamimu?" Sehun mengangguk, menarik lengan Luhan dibelakangnya dan mengenalkan mereka berdua.
"Orang tua Luhan juga dirawat disini. Setelah kami melihat keadaan Chanyeol, kami akan kembali kesana. Jika kau membutuhkanku dan tak bisa menghubungi ponselku, kau bisa ke kamar rawat keluarga Byun." Oke, mungkin ini adalah saat pertama Kris bertemu Luhan. Tapi dia tahu betul siapa Luhan. Byun Luhan, kakak Byun Baekhyun. Salah satu orang yang juga membuat Baekhyun memilih pergi dari Korea. Jadi, orang tua Baekhyun masuk rumah sakit? Dia sedikit tertegun mendengarnya, haruskah dia memberi tahu Baekhyun? Ia menggeleng pelan dan mencoba mengalihkan pikirannya dengan mengobrol bersama Sehun. Sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan masalah Baekhyun. Setelah obrolan kecil mereka, dokter yang memeriksa Chanyeol pun keluar, semua orang segera menanyakan keadaan Chanyeol. Sang dokter hanya menghela nafas dan tersenyum kecil.
"Hhh, maafkan saya sebelumnya. Tapi... saya harus mengatakan hal ini. Kondisi Park Chanyeol benar−benar kurang menguntungkan. Ia kehilangan banyak darah dan luka−luka di tubuhnya cukup serius. Dia juga terlihat dalam kondisi tertekan apalagi dia sempat menenggak banyak alkohol sebelumnya. Itu mungkin akan membuatnya tertidur cukup lama. Semua tergantung pada Chanyeol−sshi sekarang. Dia ingin membuka matanya atau justru sebaliknya." ucapan terakhir sang dokter benar−benar membuat tangis Yoora dan ibunya pecah. "Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik dan semampu kami."
.
Disisi lain...
"Baibai gege, kenapa kau melamun?" Baekhyun tersentak saat tangan Tao menyentuh pundaknya. Ia tersenyum paksa dan menggeleng pelan. "Aku harus ke mini market dulu. Ingin membeli snack. Kau ingin menitip ice cream?" Baekhyun hanya mengangguk kecil. "Baiklah, aku tinggal dulu, ge." Tao pun segera melesat pergi dari rumahnya. Baekhyun kembali menopang dagunya. Ia menatap hamparan kebun bunga di samping rumahnya dengan pandangan kosong. Ia menghela nafas. Kenapa perasaannya tidak enak semenjak tadi? Entah kenapa dia ingin melihat Chanyeol. Ia sangat merindukannya.
"Astaga, sebenarnya apa yang telah kupikirkan?" Ia memukul−mukul kepalanya, mencoba menghilangkan sosok Chanyeol dari ingatannya. "Chanyeol−ah, apa yang sebenarnya terjadi denganmu?" Ia meremas kemejanya saat merasa dadanya mulai berdenyut sakit. "Jangan... jangan pergi..." Ia menggumam tidak jelas dan mengigit bibir bawahnya saat setetes airmata tak sengaja jatuh dari pelupuknya. Ia sendiri bahkan tidak tahu apa yang dirasakannya kini. Ia seolah tak ingin kehilangan Chanyeol. Jantungnya berdegup tak tenang dan sakit. Ia ingin bertemu Chanyeol sekarang juga. Perasaan itu sungguh meluap−luap dan membuatnya tak tenang. "Jangan pergi..." Ia semakin terisak karena tak bisa menemukan jawaban atas perasaan kalutnya ini.
Ya Tuhan... sebenarnya apa yang terjadi?
.
"Eomma, ada apa dengan Chanyeol?"
"Astaga, Chanyeol..."
"Kenapa badannya mengejang?"
"CHANYEOL! CHANYEOL−AH!"
"PARK CHANYEOL!"
"Eomma..."
"Kai, Kris! Cepat panggilkan Dokter Lee!"
"Baik... baik... tunggu sebentar!"
"Dokter Lee!"
"Tolong dia dokter! Cepat!"
"Dokter Lee, tolong Chanyeol! Dia... Dia..."
"ANDWAE CHANYEOL!"
.
"To be continued—"
.
Special Thanks For ::
[ sayakanoicinoe ][ ayuluhannie ][ vitCB9 ][ exindira ][ Luhaan Gege ][ Cho Sungkyu ][ Lee Hyuk Nara ][ Meriska-Lim ][ fufuXOXO ][ nuranibyun ][ deerlohan ][ baekkam ][ Blacknancho ][ RLR14 ][ ChanBaekLuv ][ shantyy9411 ][ your flower ][ Thiiya ][ YeWon3407 ][ stitchun ][ SyJessi22 ][ LDee ][ indaaaaaahhh ][ niShiners ][ baek'yeonra ][ rizqibilla ][ HeppyERpy ][ Saki 137 ][ ReaderFF BabySoo ][ soshialisasi ][ choHunHan ][ rima'ristina ][ rachel suliss ][ ajib4ff ][ Earthlings ][ Kurosaki eRen ][ realkkeh ][ hldjmsbkr ][ Yeollbaekk ][ Dhita ][ baby baekkie ][ shaniamathelda1 ][ babyyming ][ ChanLoveBaek ][ HyunRa ][ AnjarW ][ Dororong ][ mpok'pea ][ Minny Kpopers Fujoshi ][ yesbyunbaekhee12 ][ mayumi'sheena ][ chanbaekssi ][ KyungMiie ][ Lai Shi Xun ][ miraiocha ][ Yo Yong ][ jungmarry ][ parkbyun0627 ][ baekiii ][ ferina'refina ][ TrinCloudSparkyu ][ ywhkim411 ][ kris's ace ][ i-BAEK ][ wufanstyle ][ rianyoktaviani ][ 10100Virus ][ dobidiot ][ parklili ][ piyopoyo ][ ryanryu ][ amoebbang ][ Keyz ][ Jung Eunhee ][ Park CinYeol ][ Masya and the bear ][ chanbaek ][ krismi ][ Byun hye yoo ][ ttttttttt ][ Guest ][ bigo ][ charliemartinbewley ][ nafra99 ][ Guest 2 ][ miyuk ][ Baekhyun92 ][ yeyechacha ][ byuniebaek88 ][ Kheyzha ][ Chanbaek shipper ][ seanhae ][ LuBaekShipper ][ cindy ][ chanbaekshipper ][ anon ][ asyilla ][ nanditaptr ][ Huangzi ][ chanyeollliiiii ][ unknown ][ Exogurlzz ][ ][ AuraKim ][ xxxx ][ Kira yagami ][ chanbaekshipper 2x ][ byun baekri ][ Kim byun ][ nur991fah ][ deyna ][ Guest 3 ][ Guest 4 ][ Sulvss ][ alysasparkyuelfshawol ][ arr ][ Nameriza'nafa'9 ][ Yuyuchan EXO ][ exo kiddos ][ Bacon ExoStan ][ BLUEFIRE0805 ][ DaeKim ][ inggit ][ rapbyeon ][ rizki'zelinskaya ][ Kwon Yeonhee ]
