POLARIS (Northern Star)

.

.

.

"Kau tau Polaris?"

"Aku pernah mendengarnya."

"Sebuah bintang di langit Kutub Utara. Sebuah bintang yang tidak akan pernah berpindah dari tempatnya."

"Lalu?"

"Aku telah menemukan Polaris-ku."

.

.

.


Tubuh Baekhyun di angkatnya, ia bawa ke ruang kesehatan yang memang disediakan oleh pihak Universitas. Si mungil masih tak sadarkan diri saat Dokter yang saat itu tengah bertugas memeriksa keadaannya.

Ketidaksadarannya yang tiba-tiba tadi sedikit banyak membuat Chanyeol panik juga khawatir, "Maaf, aku akan keluar sebentar."

Ruang kesehatan yang terletak di belakang Universitas langsung menghadap ke taman yang terletak di tengah-tengah bangunan. Chanyeol memutuskan untuk keluar dan sekedar menenangkan diri dengan sebatang rokok.

Tak banyak mahasiswa maupun mahasiswi yang lalu-lalang disana, dikarenakan telah masuk jam mata kuliah siang. Hanya beberapa saja yang mungkin telah menyelesaikan jam kuliahnya atau bahkan menunggu kawan yang belum menyelesaikannya.

Ia duduk di sebuah kursi, sendirian. Merogoh saku jaketnya, mengluarkan sebatang rokok yang telah ia pilin kemudian menyalakannya dengan pematik.

Siang itu udara memang turun beberapa derajat dari hari sebelumnya, pertanda musim dingin telah di depan mata.

Menghisap rokoknya, merasakan hangat yang seketika menjalar ke seluruh tubuhnya sebelum ia menghembuskannya. Memangku kedua sikunya diatas paha, pikirannya kembali pada keanehan yang ia lihat dari Baekhyun.

Mulai dari Baekhyun yang nampaknya kurang berselera saat menyantap makan siangnya pun dengan dia yang memuntahkan isi perutnya sesaat setelah mereka kembali ke dalam kelas.

Ia khawatir, jujur ia memang khawatir. Bagaimana tidak, bayangan akan Baekhyun yang tergolek lemah tak berdaya tadi menghantuinya. Si mata biru tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kekasih mungilnya.

Memilih untuk tetap berada di ruang terbuka dengan sebatang rokok ditangan kanannya, ketimbang menemani Baekhyun yang masih tak kunjung sadarkan diri.

Chanyeol hanya tak ingin pikiran-pikiran aneh itu mengganggu kepalanya.

Sementara itu, Dokter telah selesai melakukan pemeriksaan pada Baekhyun. Tak berselang lama, akhirnya ia tersadar. Mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.

Baekhyun mendapati seorang wanita 40 tahunan tengah duduk tak jauh darinya, dibalik meja kerja, "Oh, kau sudah sadar?"

Dia bangkit dari kursinya, mendekati Baekhyun yang masih dalam kebingungannya, "Kenapa bisa aku disini?"

"Teman priamu yang membawaku kemari, tak sadarkan diri." jawabnya seraya menarik sebuah kursi dan duduk tepat disamping ranjang dimana Baekhyun berusaha untuk merubah posisinya, untuk duduk.

"Oh, okay."

"Tidakkah kau ingin tahu kenapa kau bisa berakhir disini?" Dokter itu berkata selembut mungkin, ia tahu apa yang akan terjadi saat lelaki manis itu mendengar hasil diagnosanya.

Ia hanya menggeleng.

Wanita itu punya seorang anak perempuan yang sayangnya harus meregang nyawa lantaran kekasihnya dulu tak mau bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat. Ia melihat mendiang anaknya kini ada didepan matanya. Kembali teringat dengan rasa sakit yang sampai saat ini belum benar-benar pulih, dan mungkin, memang tak akan pernah pulih.

Jujur, ia iba. Lelaki mungil dihadapannya ini masih begitu muda, ia tak yakin lelaki muda ini akan sanggup mendengarnya, "Saat kau tak sadarkan diri, aku telah melakukan beberapa pemeriksaan padamu. Termasuk tes darah untuk meyakinkan dugaanku, nak."

Entah mengapa setiap kalimat yang ia dengar semakin membuat kepalanya terasa semakin berat, "Apakah kau punya hubungan dengan teman pria yang membawamu kemari?"

"Kenapa?" dan sejujurnya, Baekhyun tak mau mendengar apapaun lagi dari wanita didepannya. Firasatnya buruk, dan ia tahu ia tak akan menyukainya.

Dokter itu meragu, ia sadar raut wajah lelaki muda itu perlahan mulai berubah. Beberapa kali ia dapati keningnya berkerut, ia terlihat tak siap dengan apa yang akan ia dengar nanti, "Okay,begini. Mungkin ini akan terdengar asing untukmu, tapi untukku tidak,okay? Dokter di seluruh dunia pun sama, ini bukan kasus pertama di dunia, pun di kota ini. Kau adalah lelaki kesekian yang memiliki kondisi semacam ini."

"Yang ingin ku katakan adalah, jangan dulu panik dan tenang. Mungkin kau akan terkejut, which is fine. Jadi –"

"Ada apa denganku?" nada suaranya sedikit meninggi. Ia tak suka perkataan yang berbelit-belit, namun di sisi lain, ia pun tak siapa pada hal yang akan membuatnya, katakanlah, terkejut dan takut.

Dokter itu melepas kaca matanya, menyimpannya diantara kedua tangan diatas pangkuan kemudian menghembuskan nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaan lelaki muda berwajah manis yang tengah dalam kondisi yang tak baik, "Kau hamil."

Ia diam, kelopak matanya tak berkedip. Pikirannya seketika kosong, seakan lupa untuk bernafas. Yang ia rasakan, hanyalah bola mata yang kian memanas.

Setitik air mata turun dari matanya, diikuti beberapa titik lainnya, "Apakah dia tau?"

"Teman priamu?" Baekhyun mengangguk.

"Dia diluar sedari tadi, dan belum kembali. Dia belum tau apapun."

Baekhyun tak tahu, apakah dirinya harus senang ataukah sedih, atau bahkan marah ? pada siapa ?

Haruskah pada takdir, Chanyeol atau marah pada dirinya sendiri ?

Dan bagaimana dia akan mengatakannya pada Chanyeol? Apakah pria itu akan menerimanya?

"Kemungkinan besar usia kandunganmu adalah 2 minggu, masih sangat lemah. Ku harap kau akan menjaga kandunganmu, jangan buat dirimu stress. Ku sarankan kau untuk mengatakannya, dia berhak dan harus tahu tentang keadaanmu."

"Ia ayah dari bayi yang kau kandung, nak." lanjutnya.

Tak menghiraukan perkataan sang Dokter ia lebih memilih untuk menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang, "Terima kasih. Apakah aku sudah boleh pulang?"

"Kau yakin?'

"Ya."

"Okay. Akan ku berikan kau obat yang sekiranya bisa membuatmu merasa lebih baik, dan agar kandunganmu lebih kuat."

Setelah menerima obat yang dimaksud, serta ucapan terima kasih, Baekhyun keluar dari ruang kesehatan. Jam di dinding lorong menujukkan angka 4, kelas terakhirnya telah usai setengah jam yang lalu. Maka ia putuskan untuk langsung pulang ke rumah.

Sayangnya, di tengah lorong, ia bertemu Chanyeol.

Keadaan telah benar sepi, tak ada orang lain selain mereka berdua.

Debaran jantungnya semakin cepat, keringat dingin perlahan mulai muncul di keningnya, dan nafasnya memburu seiring langkah Chanyeol yang semakin dekat dengannya, "Baekhyun, apa yang dikatakannya? Ada apa denganmu?"

Dilema, haruskah ia mengatakan yang sebenarnya ? Tepatkah waktunya ? Haruskah saat ini ?

"Tidak ada, dia hanya mengatakan kalau aku hanya terlalu lelah dan kurang tidur."

"Hanya itu? Apa kau yakin?"

"Ya."

"Syukurlah, ku kira kau sakit parah, terdengar konyol memang, tapi syukurlah kau baik-baik saja."

No...

Aku, tidak baik-baik saja, Chanyeol.

.

Hari itu Chanyeol memastikan Baekhyun aman dengan mengantarkannya pulang dengan selamat. Sebuah ciuman di bibir sebagai salam perpisahan hari itu, serta pelukan hangat yang begitu erat.

Pukul 10.17 malam, Baekhyun telah masuk dalam dunia mimpinya.

Tempat dimana begitu banyak kemungkinan serta angan yang sekiranya dapat terwujud dalam lautan mimpi malamnya, tak terkecuali, hidup bahagia dengan keluarga kecilnya sendiri.

Kamis berjalan seperti biasa, dimana pagi hari Baekhyun akan datang sedikit lebih awal untuk membantu Bibi Maria membuka cafe, kemudian bekerja hingga siang hari sebelum melanjutkan kegiatan perkuliahannya.

Sehari penuh ia tak mendapati sosok Chanyeol, pun dengan telepon genggamnya yang mati. Sementara tak ada satupun mahasiswa atau mahasiswi yang sekiranya tahu keberadaan si Demaury, termasuk teman satu kelasnya, Jason.

Kesehatannya yang masih belum pulih benar membuatnya harus sesering mungkin mendudukkan diri, jika tidak, kepalanya akan berputar-putar dan ia tak ingin kehilangan kesadarannya kembali seperti kemarin.

Pengunjung café pagi itu memang terhitung cukup banyak, tak memberikan waktu untuknya untuk sekedar duduk barang 5 menit. Namun tak apa, itu adalah resiko yang harus ia terima.

Mungkin memang hari itu Baekhyun terlalu lelah, jadi ia putuskan hanya mengirimkan sebuah pesan singkat pada Chanyeol sebelum ia akhiri harinya dengan tidur malam dalam perasaan yang tak tenang.

To : Chanyeol 3

Apa kabarmu hari ini ?

Seharian ini aku tidak melihatmu, apa kau baik-baik saja ?

Kau tahu ? Aku sangat merindukanmu.

Selamat malam.

Dan masih sama.

Di hari Jumat, Chanyeol masih tak ia temui dimanapun. Teleponnya tidak aktif, ia coba menanyakan keberadaan Chanyeol pada teman kelasnya lagi namun nihil. Tak seorang pun tahu dimana Chanyeol.

Panik tiba-tiba menyerang.

Kekhawatiran akan sesuatu yang buruk terjadi pada Chanyeol memenuhi kepalanya, nafasnya mulai tak beraturan. Dan jika nafasnya mulai tak karuan, itu adalah pertanda buruk.

Ketika kesadaran masih dalam genggaman, ia percepat langkahnya. Mendudukkan diri di salah satu kursi di luar gedung, bersandar dengan sesak yang semakin menjadi-jadi. Tangannya merogoh kantung bagian depan tasnya, mencari obat penenangnya.

Meminumnya sebelum keadaan semakin memburuk.

Beberapa menit sebelum akhirnya ia rasakan efek dari obat yang ia minum, tanpa sadar kedua tangannya memeluk perutnya. Belum nampak memang, tapi ia dapat merasakan kehadiran bayinya. Bukan, bukan hanya bayinya, namun bayi mereka. Chanyeol dan dirinya.

"Baekhyun?"

"Enzo? Astaga, kau mengagetkanku." teman baiknnya telah duduk disampingnya. Pria Perancis keturunan Turki itu memandang aneh gelagat Baekhyun yang tiba-tiba berubah. Pasalnya, belakangan ini, tak ia temukan lagi Baekhyun yang dulu ia kenal.

"Sejak kemarin kau diam, ada apa?" Enzo membuka percakapan, ia ingin tahu apa yang sebenarnya tengah temannya pikirkan. Mengenal Baekhyun cukup baik membuatnya tahu benar bila teman mungilnya ini tengah dirundung masalah.

Baekhyun memilih diam, memainkan jari-jemarinya. Ia tujukan pandangannya ke objek lain, asal bukan pada Enzo. Ia tak mau teman baiknya tahu, terlebih tahu akan kondisinya sebelum Chanyeol, "Baekhyun?"

"Tidak ada, Enzo. Aku, baik-baik saja. Tak perlu khawatir."

"Wajahmu pucat seperti itu, dan aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja." sungguh Baekhyun tak mau siapapun tahu akan kehamilannya, kecuali Chanyeol. Tapi pria itu tak ia temukan sejak kemarin, pun dengan hari ini.

"Apa ada hubungannya dengan, Chanyeol?" tebakannya sangat benar, Enzo melihat perubahan raut wajah si mungil.

Ia balik menghadap Enzo, "Kau tahu dimana dia? Apa kau tahu?"

"Tidak, Baekhyun. Ku kira selama ini dia terus bersamamu, kau kekasihnya, bukan?"

Seperti sebuah tamparan keras.

Ia kekasihnya, tapi ia tak tahu dimana Chanyeol sekarang.

"Aku harus pergi."

"Hei, Baekhyun!"

Memutuskan untuk pergi ke apartemen milik Chanyeol, ia pun menunggu bus datang. Sesekali mencoba menghubungi nomor pria bermata biru itu, namun tetap tak ada jawaban.

Dalam perjalanannya ia membeli makanan siap saji dengan rencana untuk menyantapnya bersama dengan Chanyeol.

Baekhyun masih berusaha menghubungi nomor si pria Demaury, hingga ia sampai di depan pintu apartemennya. Jangankan jawaban, nada tersambung pun tak ia dengar.

Sekali dua kali ia ketuk pintu apartemennya, tak ada jawaban, "Chanyeol? Chanyeol apa kau ada di dalam?"

Dan masih tak ada jawaban. Hampir putus asa sebelum akhirnya ia mendengar kunci tengah dibuka, disusul dengan pintu yang terbuka.

Chanyeol.

Ia berdiri di ambang pintu dengan keadaan yang tak bisa dibilang baik. Rambut hitamnya berantakan, kantung mata yang nampak jelas semakin menghitam, wajahnya yang pasi, serta tatapanya yang hampir kosong.

"C-Chanyeol..." tangan kanannya meraih wajah kekasihnya. Keduanya bertemu dalam tatap, si mata biru dengan si mungil.

Rasa hangat seketika memenuhi dadanya, pun dengan rasa lega, "Baekhyun, mau apa kau kemari?"

Nadanya tak begitu bersahabat. Dan sedikit banyak membuat Baekhyun terlonjak, ia tak mengira akan disambut seperti itu.

Ia mengambil nafas panjang, berusaha untuk tetap tenang. Mungkin, Chanyeol tengah dalam keadaan yang tidak baik, dan ia harus memahaminya. Mungkin saja, dia sedang dirundung masalah.

"Sejak kemarin kau tak masuk, aku khawatir."

"Kau datang untuk mengasihaniku?"

"Bukan seperti itu. Chanyeol, boleh aku masuk? Kita bicarakan ini di dalam, okay?" pria tinggi itu menyingkir, memberikan akses untuk Baekhyun masuk. Ia melepas sepatunya, dan meletakkannya di rak sepatu, parka yang ia kenakan ia lepas dan ia gantung dibalik pintu.

Chanyeol hanya mengekor dibelakang sementara Baekhyun masuk semakin dalam, menaruh tasnya diatas sofa ruang tengah kemudian berjalan menuju dapur dan Chanyeol masih mengikutinya dari belakang.

"Apa kau sudah makan?" tanya Baekhyun.

"No." Baekhyun membuka makanan take-away yang ia bawa dari sebuah restoran, menyiapkannya diatas piring dan menyusunnya diatas meja makan.

Mengisi dua gelas dengan air mineral, menaruhnya diatas meja, "Ayo, kemarilah. Tidak kah kau lapar, eum?"

Si mata biru masih diam, titik fokusnya masih tertuju pada Baekhyun. Namun tak ada pergerakan yang berarti darinya, memilih bersandar pada dinding dapur. Raut wajahnya masih suram, ditambah dengan rambut halus di area dagu dan atas bibir yang mulai menebal.

Tak ada yang bersuara untuk beberapa menit, alih-alih menyantap makan yang ia bawa rasa mual malah datang. Baekhyun dengan cepat bangun dari kursinya, berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya di toilet.

Pikiran Chanyeol dapat dikatakan masih cukup berantakan, menggaruk kepalanya dan menyusul Baekhyun yang masih berusaha mengeluarkan isi perutnya, masih mencoba setidaknya menghilangkan mual yang hampir setiap hari harus ia alami.

Bibirnya mengatup, enggan untuk buka suara, sekedar menanyakan keadaan Baekhyun. Matanya melihat betul keadaan Baekhyun yang tidak baik, namun tak ada niatan untuknya berbuat lebih.

Pun dengan dirinya yang tak bergeming melihat si mungil yang kesusahan untuk berdiri, dengan rasa mual yang masih tersisa dan pening yang semakin buruk, "Chan…"

Sedikit rasa iba akhirnya muncul dalam dirinya, melangkah maju untuk memapah si mungil dan membantunya duduk di sofa ruang tengah.

Ia bersandar, mengatur nafasnya yang masih tak beraturan. Keringat dingin mengalir turun melewati kening, terlihat betul di mata Chanyeol.

"Sebaiknya kau pulang setelah kau merasa lebih baik."

Cukup terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Tersirat nada bahwa si mata biru tidak suka akan kehadirannya, dan memintanya untuk pergi.

"Chan, sebenarnya ada apa denganmu?"

"Aku sedang tidak ingin diganggu." memilih berdiri dan malah sibuk mencari rokok yang sekiranya masih tersisa di atas meja, diantara tumpukan botol-botol beer.

Dengan terpaksa, Baekhyun meninggalkan apartemennya. Kekecewaan menumpuk ditambah sakit yang tak kunjung sembuh akibat kehamilan yang baru memasuki trimester pertama, memperburuk keadaan.

Sekuat tenaga ia paksakan dirinya untuk berjalan menuju halte terdekat, merapatkan parka lantaran udara yang kian mendekati titik beku seiring bulan November yang tak lama lagi berganti, pertanda puncak musim dingin telah didepan mata.

Butuh waktu lebih dari satu jam untuknya sampai di flat, tepat saat senja telah berganti malam.

Sepanjang malam ia tak mampu untuk sekedar memejamkan mata, pikirannya bercabang.

Antara kehamilan yang masih harus ia rahasiakan dan keadaan Chanyeol yang tiba-tiba berubah, seakan-akan pria yang baru saja ia temui itu bukanlah Chanyeol yang ia kenal, melainkan orang asing yang benar-benar tak ia kenal.

Tidak berhenti dengan pikiran dan kekhawatirannya, rasa mual dan pusing semakin menjadi-jadi, membuatnya harus beberapa kali keluar-masuk kamar mandi.

Sendirian di tengah malam, ia menangis. Meratapi nasib, meratapi pikiran-pikirannya yang tak terkendali. Kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi, memenuhi kepalanya.

Julia terbangun mendengar tangisan pilu dari arah kamar mandi, perlahan ia bangun dari tidurnya. Berjalan pelan ke sumber suara, mendapati Baekhyun bersimpuh didepan toilet. Menangis dengan wajah memerah.

"Baekhyun…"

"J-Julia…" ratapannya terdengar pilu. Julia tak sampai hati meninggalkan Baekhyun, dan pada akhirnya memutuskan untuk menemaninya sepanjang malam.

Di tengah tangisannya, dengan terbata-bata ia pada akhirnya menceritakan apa yang terjadi, termasuk soal kehamilannya.

"Apa dia tahu? Maksudku, Chanyeol?"

"D-Dia tidak tahu, dan … aku tak tahu apakah aku harus mengatakan ini padanya."

"Sejak kemarin dia tidak masuk ke kelasnya, dan aku coba datang ke apartemennya,"

"Dia disana, tapi… dia. Dia memintaku untuk pulang, Julia. Aku tak tahu harus bagaimana." air matanya kembali menetes.

Rasa-rasanya Julia pun ingin menangis mendengar apa yang Baekhyun ceritakan padanya, tapi ia tidak dalam posisi yang seperti itu. Ia harus tetap tenang, agar si mungil setidaknya bisa sedikit lebih tenang bersamanya.

"Istirahatlah dulu, okay? Kau butuh istirahat, demi bayimu."

Untuk beberapa hari setelahnya, Baekhyun memutuskan untuk beristirahat. Tak pergi kemanapun, termasuk kuliah.

Dan tak ada kabar apapun pula dari kekasihnya, Chanyeol.

.

Jumat pukul 10 pagi, ketika Minseok, Julia, dan Cecilia telah pergi terdengar ketukan dari arah pintu depan. Baekhyun yang saat itu tengah bergumul dalam selimut dengan langkah yang berat terpaksa keluar untuk membuka pintu.

Masih dengan pakaian tidur berwarna biru laut, rambut kecokelatannya yang berantakan dan kantung mata yang memerah ia buka pintu flatshared.

Matanya membola, mulutnya sedikit terbuka mendapati tamu yang datang sepagi ini.

"Chanyeol." lirih terdengar, namun dapat si mata biru itu dengar.

Kedua tangannya ia sembunyikan didalam saku mantel hitamnya, rambut hitam legamnya tertata rapi. Wajahnya tak lagi sesuram pekan lalu.

Chanyeol telah kembali.

Chanyeol yang ia kenal akhirnya kembali.

Ia maju selangkah, tepat berdiri didepan Baekhyun yang masih tak bergeming, "I'm sorry."

Tak ada lagi yang perlu ia pikirkan lagi, ia hanya merindukan Chanyeol. Sangat.

Tanpa memperdulikan keadaannya yang baru terbangun dari tidurnya, ia menghamburkan diri dalam pelukan si mata biru yang dengan sigap memeluk tubuh yang lebih mungil.

Rasa bersalah seketika luntur dari benaknya seiring pelukan keduanya yang kian erat. Chanyeol meraih wajah Baekhyun dengan tangan kanannya, memandang lamat-lamat wajah manis dengan semburat kemerahan di pipi dan hidungnya.

"Hm!"

Baekhyun lemah, dalam pelukan dan pagutan bibirnya. Rasa dahaga yang akhirnya hilang dengan lumatan si mata biru yang kian intens.

Chanyeol menutup pintu dengan kakinya, membawa Baekhyun semakin masuk kedalam flat.

Kedua tangannya kini beralih mengangkat kedua kaki Baekhyun yang kemudian ia lingkarkan di tubuhnya, sementara lengan si mungil memeluk lehernya. Meremas rambut bagian belakangnya, mengalirkan rasa rindu yang terpaksa ia tahan seminggu kebelakang.

Chanyeol mendudukkan diri diatas matras di kamar tidur Baekhyun, dengan si mungil yang duduk diatas pangkuannya.

Ia rindu bukan main, sangat rindu.

Baekhyun lupakan perihal Chanyeol yang minggu lalu menyuruhnya untuk pulang walau ia tengah dalam keadaan yang tidak baik. Hal terpenting baginya kini adalah Chanyeol yang telah kembali.

"I'm sorry, Baekhyun. Maaf minggu lalu –"

"Hey, sudah. Aku tidak apa-apa sekarang, kau lihat? Aku hanya benar-benar merindukanmu." Si mungil kembali memeluk Chanyeol. Masih belum terpuaskan rasa rindunya.

"I'm sorry, I'm so sorry. Aku benar-benar tak bermaksud mengusirmu minggu lalu. Maaf aku menyakitimu."

"Chanyeol, dengarkan aku. Tidak apa, mungkin memang minggu lalu waktunya tidak tepat, aku mengerti. Jadi sudah tak perlu meminta maaf lagi, satu kali saja cukup. Okay ?"

Dalam kesadaran penuhnya Chanyeol rasa-rasanya ingin menangis. Entah apa yang telah ia lakukan di kehidupan terdahulunya sehingga Tuhan menghadirkan Baekhyun dalam hidupnya, "Kau sudah makan? Mau ku buatkan sarapan?"

"Ya."

Hari dimana seharusnya Baekhyun mengutarakan fakta dimana ia tengah mengandung buah cintanya bersama Chanyeol harus ia urungkan, dengan alasan, ia tak mau sampai membuat Chanyeol terganggu dan pergi meninggalkannya.

Masih ada waktu lain, pikirnya.

Si mata biru pulang setengah jam sebelum ketiga temannya pulang. Dengan makanan siap saji yang mereka bawa pulang, Baekhyun menyantap makan malamnya dalam sukacita. Dalam rasa bahagia yang memenuhi hatinya.

.

Sabtu pagi ketika mentari belum menampakkan sinarnya, telepon genggam miliknya bordering. Tertera nama kekasihnya, si Demaury.

"Hi!"

"Chanyeol? Ada apa?"

"Pukul 8 aku jemput, bersiaplah. Oh, dan bawa juga pakaian untuk menginap satu malam. Sampai nanti, manis." sambungan terputus.

Si mungil membangunkan sepenuhnya kesadarannya, sebelum ia bangkit dari matrasnya dan melihat jam di dinding yang masih menunjukkan angka 5.

Tak butuh waktu lama baginya untukmenyiapkan pakaian, dan sedikit cemilan, kalau-kalau perjalan yang si Demaury maksud itu makan waktu cukup lama.

Dengan menu sarapan sederhana dan secangkir teh hangat, ia telah siap.

Cecilia yang lebih dulu bangun, mendapati Baekhyun telah rapi dengan tas punggung di sisi kirinya, "Kau mau kemana?"

"Chanyeol akan menjemputku nanti."

"Really? Wow, hati-hati, okay? Kalau ada apa-apa, telepon aku atau Minseok atau Julia, mengerti?"

"Ya."

Sedikit mengobrol dengan Cecilia, membunuh waktu sampai tiba waktunya ia harus pergi sesaat setelah ia terima sebuah pesan singkat dari si pria Demaury.

"Kalau begitu, aku pergi dulu. Salut!"

Setiap langkahnya terasa ringan pun dengan perasaannya yang seringan kapas, tak ada beban. Terlepas dari kesedihannya tempo hari.

Tepat di depan unit, Chanyeol telah menunggunya. Bersandar pada sedannya, ia nampak tampan seperti biasanya.

Mantel hitam sepanjang lutut, dengan hoodie berwarna senada lengkap dengan washed out jeans, bak model papan atas tengah dalam sesi pemotretan. Dan entah berapa kali Baekhyun harus menarik nafas panjang dan menghembuskannya, setiap kali ia tak henti-hentinya memuji pria tampannya dalam diam.

"Kau tak akan mungkin berdiri disana seharian, kan?" disadarkan dari lamunannya, Baekhyun bergegas mendekat. Ia kalungkan kedua lengannya di pundak kokoh si mata biru, mengecup lama belah bibirnya.

Ia mengambil alih tas punggung aai mungil kemudian membukakan pintu sedannya, namun belum sempat Baekhyun masuk, telepon genggamnya bordering.

"Hallo?"

Air mukanya berubah, senyumnya perlahan hilang, keningnya berkerut dengan mata yang memandang tajam si pria Demaury, "Lucille." ucapnya sembari menyerahkan telepon genggamnya pada Chanyeol.

"Putain, you're really... Sudah ku katakan padamu, jangan menghubunginya, Lucille. Please?" tanpa tunggu jawaban dari wanita itu, ia langsung memutus panggilan dan mengembalikan telepon genggam itu pada Baekhyun.

"Kenapa dia menghubungiku?" tanya Baekhyun.

"Aku tidak tahu. Hanya untuk bicara omong kosong, mungkin." si mungil memiringkan kepalanya ke kiri, memberikan gesture bahwa ia butuh penjelasan karena tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Hey, jangan khawatir."

"Sebenarnya karena dia sudah tidak bisa lagi mengontrolku, jadi dia pikir bisa melakukannya lagi dengan mencoba mengubungimu. Itu saja, okay?" lanjutnya.

Si mungil masih dengan ekspresi yang sama, diam. Antara mempercayai kekasihnya ini atau tidak, "Hey, aku sudah tidak punya hubungan apapun lagi dengannya. Kau yang paling penting untukku, Baekhyun." menangkup wajah kekasih mungilnya, dan mendaratkan sebuah ciuman tepat diatas bibir tipis merah mudanya.

"C'mon."

Ia tahu betul, hari itu adalah hari ulang tahun Chanyeol, kekasihnya.

Mungkin hari itu adalah momen terbaik baginya untuk mengatakan pada si Demaury tentangnya yang tengah berbadan dua, ditambah dengan fakta bahwa Chanyeol tengah dalam keadaan baik dimana telah jauh bertolak-belakang dengan pria yang minggu lalu ia temui.

Mungkin pemikiran itulah yang akan mengantarkan hubungan keduanya ke jenjang yang lebih serius.

Mungkin dengan kehadiran buah hati akan membuat keadaan keduanya membaik.

Kemungkinan-kemungkinan yang ia harapkan berputar di kepalanya, hingga membuat senyum dan tawa bahagia tak lepas dari wajah manisnya.

Pagi itu, katakanlah keadaan seperti layaknya musim semi dimana bunga dengan berbagai macam rupa dan warna bermekaran, berhias kupu-kupu dan kumbang yang hilir-mudik mencari nektar.

Begitu indah untuk dipandang pula dinikmati suasananya.

Namun, ia telah lupakan satu hal.

Harus ada musim dingin atau bahkan badai salju sebelum ia dapat menikmati indahnya musim semi.

.

.

.

- - to be continued- -

.

.

Note : * tolong di baca sampai bawah, karena ada sedikit info tentang chapter 13 *

Ini chapter 12, maaf kalau masih ada typo di chapter ini

I've had so much trouble with myself, there were things that makes me want to stop writing but then I thought that I have to finish this story first.

Di saat yang bersamaan, aku pun sudah punya cukup banyak draft cerita dengan background yang beda-beda, tapi aku mau selesaikan ini dulu sebelum lanjut buat story yang lain, I guess...

.

Btw, aku cukup sedih liat review chapter minggu lalu yang masuk cuma 4 :''

Mungkin ceritaku udah mulai ngebosenin ya? atau udah ga menarik lagi, I guess. Tapi gapapa, makasih banyak yang masih mau baca kelanjutan FF ini dan super makasih banget buat yang masih mau kasih review-nya. I love you!

.

Thanks to :

- sehuniesehun : Thank you reviewnya ^^

- Chiecy11 : Sudah dikonfirmasi di chapter ini ya ^^ hehe

- ChanBaek09 : Yeay! Akhirnya baek isi eh... yup! Too much tears will hurt ma lovely readers, but honestly, I like making many tears ;)

- pecandu cerita : Yeheeet! XD

.

Perihal chapter 13, bisa aku katakan ini klimaksnya. Akan ada adegan Rated (again) tapi lebih ++ , dan Chanyeol yang seorang penderita MI ini akan benar-benar, apa ya, ku harap bisa buat kalian geleng-geleng kepala.

.

Review lebih dari 10, aku post benar-benar Selasa minggu depan, tapi kalau kurang? Mungkin baru bisa aku post akhir minggu depan atau bahkan 2 minggu dari sekarang ^^

Jadi, jangan lupa reviewnya ya~

Dan terimakasih juga buat kalian yang sudah menyempatkan diri untuk baca cerita ini dan follow cerita ini.

Buat siders silent readers T_T bolehlah sepatah – dua patah kata di kolom review gituyaa :'))

.

Okay, see you next time!

Janganlupa Follow & Review.

.

Salut!