Hoi, Granger. Cepat katakan pada Hermione kalau pertengkaran kita di pemakaman Mrs. Granger waktu itu karena ulahmu yang memanas-manasi aku duluan.

Awas kau.

Maurice mengibaskan rambutnya dengan angkuh dan segera meremas surat tanpa nama yang dia temukan di loker sekolahnya. Setelah meremas surat tidak berdosa itu, Maurice memutuskan untuk merobek-robeknya sehingga menjadi serpihan kertas tak berarti.

Bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman yang tidak pernah Hermione Jean Granger lihat selama ini.

Inilah wujud asli Maurice Granger.

Disclaimer:Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC. Many pairing.

Enjoy!


.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19

.

Chapter 12: Draco dan Theo


"Jadi, Hermione—kapan kau memutuskan si Malfoy itu?"

Hermione menanggapinya sebagai angin lalu. Hari ini dia kembali bersekolah, tetapi dengan wajah yang 180 derajat berbeda dari biasanya. Hermione tidak memerdulikan fakta kalau dia tidak belajar untuk ulangan hari ini. Yang jelas, dia hanya ingin menghilangkan kepenatan yang berada dalam dirinya.

"Hermione?"

"Diam, Maurice," sahut Hermione dengan nada yang datar dan dingin. Maurice membelalakkan matanya—seolah tidak terima—dan baru saja mau balas membentak. Tetapi diurungkannya niat tersebut karena mengingat Mr. Granger masih tidur di kamarnya.

"Hermione, dengarkan aku—"

"Dad, Mom, aku berangkat," bisik Hermione dan menyambar tasnya. Dia meninggalkan Maurice yang terbengong-bengong di belakangnya.

Maurice mengangkat bahunya. Niatnya hanya iseng, sih. Memainkan perasaan sepupunya tersayang—yeah, tersayang. Siapa yang tidak iri dengan Hermione Granger, gadis menarik dengan kecerdasan di atas rata-rata? Apalagi mendapatkan Draco Malfoy—si tampan dari Hogwarts tanpa perlu bersusah payah.

Iri.

.


.

"Hermione?"

Draco hanya bisa tersenyum lebar melihat Hermione sudah mau menatap matanya dengan pandangan yang tidak kosong seperti tempo hari. Ada setitik harapan yang Draco lihat dari pandangan itu—

"Maafkan aku."

Hermione duduk di sebelah Draco tanpa bicara lebih banyak lagi. Yang lain belum datang. Draco menggenggam tangan Hermione erat-erat. Kantin masih sepi, hanya terdapat beberapa siswa dan siswi yang menghenyakkan diri di sana. Terdapat juga petugas kebersihan yang ke sana kemari untuk—ah, tidak penting. Hermionenya lebih penting.

"Maurice Granger tidak bicara apa-apa kepadamu?"

Rasanya aneh jika harus menyebut Granger—orang lain—kepada Granger lainnya. Jadi Draco memutuskan untuk memakai nama lengkap si brengsek itu saja.

"Dia bertanya, kapan aku memutuskan kau."

Draco hampir menggebrak meja.

"Dia bilang apa?"

"Dia bilang begini; Hermione, kapan kau memutuskan si Malfoy itu?"

Buru-buru Hermione berinisiatif untuk menenangkan Draco supaya tidak meledak-ledak di kantin sekolah. Dia melanjutkan ceritanya tentang kejadian tadi pagi.

"Lalu aku menyuruhnya diam."

"Bagus," ujar Draco sedikit lega.

"Aku memutuskan untuk tidak memercayai dia lagi, Draco. Kau tahu? Dari dulu dia memang penjilat. Aku baru ingat—yah, maaf kemarin aku mendiamimu seperti itu, kemarin aku sangat—"

"Tidak apa-apa."

Draco memeluk Hermione erat di kantin. Ada yang iseng bersiul-siul di sana. Mereka berdua mengabaikan siulan-siulan dan teriakan yang tiba-tiba terdengar di kantin.

"Aku ingin mengerjai dia sekali-sekali," kata Hermione di dalam pelukan Draco. Wangi maskulin tercium di indera penciumannya. "Nanti saat aku pulang, aku bilang kita sudah putus."

"Asal bukan kenyataan, tidak apa-apa."

Hermione memeluk Draco lebih erat.

"Aku pasti jahat sekali waktu itu."

"Tidak."

Kalau Draco tidak salah dengar, tadi ada salah satu siswi yang iseng nyeletuk; kapan ciumannya? yang membuat wajah Draco tiba-tiba panas. Hubungan mereka hampir runtuh kemarin, dan sekarang—

—yah, lebih baik dilakukan sekarang daripada tidak sama sekali—

"Ada cerita apa?"

Draco ingin mengutuk Blaise sekarang.

"Tidak apa-apa, Blaise."

Hermione melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Blaise Zabini yang baru datang. Blaise yang baru saja melempar tasnya asal di salah satu bangku, langsung cengo.

Dia berbisik-bisik pada Draco.

"Dia sudah normal?"

"Apanya yang normal, sialan?" balas Draco tanpa bisikan sama sekali. Hermione yang mendengarkannya langsung menaikkan alis.

"Kau bilang apa, Blaise?"

"Tidak." Blaise memutuskan untuk menunduk dan berbisik kepada pemuda berambut pirang-platina itu lagi. "Brengsek kau."

Draco mengabaikan Blaise.

"Mana yang lain?"

Sedetik kemudian, Harry dan Ron muncul di belakang Hermione dan membawakan dua buket bunga untuknya.

"Maaf, Hermione—"

"Tidak apa-apa. Thanks, guys."

Harry dan Ron duduk di tempat biasa mereka duduk. Ron buru-buru memesan makanan untuk perutnya yang tidak pernah kenyang. Blaise akhirnya mau memesan makanan juga—sementara Harry, Draco, dan Hermione membeli minuman untuk masing-masing.

"Theo mana?"

"Theo, ya …"

Hari Sabtu ini menjadi suram ketika nama Theo disebut. Bukan karena mereka semua membenci Theo, tetapi karena mereka semua tahu apa yang terjadi pada Theo di rumah Blaise kemarin—

"Theo kenapa?" tanya Hermione. Dia tidak tahu apa-apa tentang kejadian waktu itu.

"Greengrass berbuat ulah lagi," sahut Ron cepat. "Padahal aku yakin Daphne sudah berjanji pada Theo supaya tidak melakukan yang aneh-aneh lagi. Pasti Theo sebal sekali dengannya." Yang lain mengangguk setuju. Hermione mengangkat alisnya lagi, tertarik.

"Berbuat ulah apa?"

"Berbuat ulah dengan adikku, sebenarnya. Bukan hal penting," tandas Ron dengan mimik sebal. Dia melahap sandwich yang baru saja dihidangkan. "Hermione, kau benar-benar berubah drastis, ya. Padahal kemarin kau masih—"

Harry menginjak kaki Ron dengan cengiran yang tidak lepas dari wajahnya, dan berbisik kepada Ron tanpa menoleh. "Jangan bicara yang macam-macam, bodoh."

Ron meringis kesakitan.

"Menangis tidak akan membuat ibuku kembali …" gumam Hermione. "Aku akan belajar menjadi gadis yang kuat. Aku juga yakin ibuku tidak mau melihat aku menangis terus. Lagipula, pelukan dia—" Hermione menunjuk pemuda berkulit pucat di sebelahnya, "—menenangkanku."

Draco merasakan wajahnya memanas lagi.

"Baguslah. Akhirnya kau tidak menjadi gadis super melankolis dan menangis lalu menjadi pendiam terus menerus—"

Harry menginjak kaki Ron lagi.

"Maaf kalau begitu."

"Itu bukan masalah."

"Jadi, Ron, aku sudah melihat kau dan Fred serta George berada di sini—tapi kenapa tidak ada Ginny Weasley?" tanya Blaise dengan wajah berkerut. Kontan saja Ron menggerutu.

"Ginny tidak mau masuk hari ini. Katanya dia sedang merencanakan sesuatu untuk Parkinson dan Greengrass—"

"Ada apa dengan Greengrass?"

Lima kepala menoleh ke arah suara yang baru saja memotong. Theodore Nott, dengan wajah ditekuk dan pakaian berantakan, duduk di sebelah Hermione dan menepuk pundaknya. "Jangan bersedih lagi, Hermione."

"Never." Hermione tersenyum lagi. "Thanks."

"Pertanyaanku belum dijawab tadi," ujar Theo sambil memanggil salah satu penjual kantin. Dia memesan segelas air putih. Setelah si penjual pergi, Theo kembali menoleh kepada Ron. "Kenapa dia?"

"Tidak ada apa-apa, Theo. Tenang saja. Aku membicarakan adikku, bukan Greengrass—"

"Begitu."

Theo mengangguk dan bertumpuan pada meja. Wajahnya di antara suntuk, mengantuk, tidak mood, dan sebal.

"Tidur jam berapa kau, Theo?"

"Entah."

Draco Malfoy dengan cepat berdiri dari bangku, menghampiri Theo, dan menepuk pundak Theo keras-keras. Theo langsung duduk dengan tegak dan menatap Draco dengan pandangan sebal.

"Ayo kita bertarung—" kata Draco dengan seringai licik. Dia memukul pundak Theo lebih keras lagi. Pemuda itu menggulung seragamnya—lengan panjang—sampai ke siku.

Theo langsung menendang Draco di tempat. Semuanya langsung terkejut, apalagi Hermione. Dia mau menghampiri mereka berdua, tapi Draco sudah menonjok Theo di wajahnya. Theo meninju perut Draco, dan dibalas dengan tendangan di kaki.

Tubuh mereka langsung dipenuhi dengan memar-memar dan luka.

Mereka tidak berhenti sampai di situ.

Theo mencengkeram tubuh Draco erat-erat dan mulai memukulinya sampai dia puas. Tapi dia belum puas. Lalu dia menendang Draco, memukul, meninju, dan segala macamnya. Draco sendiri sudah mulai batuk-batuk, tapi dia tidak memberontak.

Theo menghentikan semua kekerasannya ketika Draco sudah mulai mengeluarkan darah.

"Sudah—" Draco mengelap kasar mulutnya yang dipenuhi darah dengan lengan, dan berdiri dengan dua kaki yang sudah lemas. "—puas?"

Theo duduk di bangku tanpa menjawab pertanyaan Draco. Draco menyusul untuk duduk di sebelah Hermione—dan kantin langsung hening. Sepi.

"Kalian ini apa-apaan sih?!"

Hermione mau berteriak, tapi dia terlalu terkejut dengan kejutan ini.

"Aku hanya ingin mengembalikan moodnya," jawab Draco dengan melemaskan otot-ototnya. "Theo itu tipe diam-diam menghanyutkan. Aku yakin dia sedang ingin memukul orang, atau membunuh malah—makanya aku minta dia untuk bertarung. Aku tahu dia tidak akan memukuli orang lain—dia akan menyakiti dirinya sendiri nanti saat pulang sekolah."

Yang lainnya speechless.

"Kalian harus ke UKS," perintah Hermione. Tapi tidak ada yang bergerak sama sekali dari tempatnya. "Aku bilang, kalian harus ke UKS, Draco, Theo."

"Kau saja yang mengobati aku, Hermione." Draco nyengir jahil. Hermione mencubitnya. "Cepat ke UKS!"

"Tidak mau."

"Draco—"

Percakapan dipotong karena suara berisik dari meja sebelah. Terdapat Pansy Parkinson, Astoria Greengrass, dan Daphne Greengrass yang berteriak-teriak di meja mereka sendiri, padahal jarak mereka bertiga tidak lebih dari satu meter.

Kata-kata bangkai tikus paling sering terdengar dari teriakan-teriakan mereka. Kantin yang tadinya hening, kini gaduh kembali. Padahal mereka bertiga baru datang ke kantin dan sudah membuat kehebohan—

"Bikin panas saja," desis Theo.

"Theo, jangan ke mana-mana dulu. Mungkin ada kesalahpahaman—"

Hermione berusaha untuk menahan Theo, tapi Theo menepisnya dengan kasar dan mengambil tasnya, lalu pergi dari kantin dengan langkah yang cepat. Seragamnya yang berantakan—sama seperti punya Draco—tidak dirapikan sama sekali.

"THEO!" Hermione berteriak, tapi diabaikan oleh pemuda itu. Hermione memijit-mijit pelipisnya pusing. Masalah apa lagi sih?

"Hei, Draco." Hermione menyikut Draco yang sedang menyeka darah yang mengalir dari bibirnya. "Ceritakan padaku, sebenarnya ada apa saat kalian berkumpul di rumah Blaise."

"Obati aku dulu, sayang~~"

Hermione menatap Draco sebal. "Jika kau tidak mau bilang padaku, aku tidak akan mau mengobati sama sekali—"

"Tega sekali."

"Memang."

Draco memasang wajah cemberut dan mulai menceritakan semuanya. Terdapat banyak hal-hal detail yang Draco ceritakan pada Hermione. Dari awal sampai akhir. Dari Roger Davies yang menelepon Ginny Weasley sampai Theo yang meninggalkan kediaman Blaise dengan suasana yang canggung.

"Jadi begitu…"

Tapi suara-suara berisik itu masih terdengar sampai ke tempat mereka. Harry, Ron, dan Blaise yang daritadi mendengar—atau menguping mereka bertiga—serempak menoleh ke Draco dan Hermione dan menceritakannya.

"Terdapat bangkai tikus di loker Pansy Parkinson, Astoria Greengrass, dan Daphne Greengrass," kata mereka bertiga bersamaan. Harry melanjutkan, "mereka semua yakin Ginny Weasley yang melakukannya, tetapi tidak ada bukti karena Ginny tidak masuk hari ini. Jadi yang kami simpulkan—"

"Roger Davies," kata Hermione yakin. "Roger Davies," ucapnya sekali lagi. Kali ini dengan tegas. "Pasti Ginny meminta tolong Roger Davies supaya melakukan itu untuknya."

"Untuk apa sih, balas dendam seperti itu?" Draco menatap Parkinson dan Greengrass kurang senang. "Adikmu juga, Ron. Kenapa dia mau balas dendam seperti itu juga? Yang ada masalahnya tambah panjang. Dan masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan minta maaf. Aku yakin Pansy dan kawan-kawannya pasti menginginkan lebih dari sekedar minta maaf."

"Misalnya, menyuruh Ginny supaya membujuk kau agar mau menjadi kekasih Parkinson, Draco."

Draco melotot kepada Blaise.

"Itu tidak penting, Zabini."

"Bagaimana kalau yang aku katakan itu benar?"

Draco mendiamkannya.

"Pokoknya, Ron—" Draco mengalihkan perhatiannya kepada Ron Weasley yang kepalanya sudah berasap. "Ajari adikmu supaya tidak menjadi seperti itu. Jika dia sudah keluar dari Pansy and The Gang, berarti dia memutuskan untuk berubah menjadi lebih baik."

"Ya ya," sahut Ron dengan malas-malasan. "Sebenarnya aku tidak peduli—"

"Dia itu adikmu."

"Terserah."

"Sekarang Theo tambah bete." Harry menatap Draco prihatin. "Percuma saja kau melakukan taktik-bertengkar-dan-tidak-jadi-menyakiti-diri-se ndiri itu, Draco."

Draco duduk dengan lemas.

"Aku akan mengobati Draco. Aku juga sekelas sama dia—" Hermione menatap mereka satu persatu. "Lebih baik kalian langsung ke kelas saja dulu."

"Bagaimana dengan Theo?"

"Aku yakin dia bisa mengatasinya. Aku percaya dengan dia." Hermione membuat tatapan mengusir. "Pergi sana."

"Memangnya kau mau mengobati Draco di sini?"

"Ya tidak, sih—"

Blaise menyeringai mesum dan Draco yang melihatnya langsung mendelik tidak senang. "Aku tidak akan berbuat yang macam-macam, Zabini."

"Benarkah?"

"Sudah, sudah!"

Blaise langsung kabur dan disusul oleh Harry dan Ron yang tertawa terbahak-bahak. Hermione tersenyum sedikit—antara geli dan lucu—sementara Draco memasang wajah bete.

"Blaise Zabini itu leluconnya tidak pernah lucu—"

"Bilang saja kau sirik karena kau tidak bisa melucu."

"Tidak. Nah, Hermione. Bawa aku ke UKS bagaimana pun caranya."

"Aku tidak kuat untuk menggendongmu, kalau itu yang kau maksud. Draco, seharusnya kau sadar kalau kau lebih berat daripada aku."

Draco memasang wajah cemberut lagi.

"Oh, kau mau Parkinson yang menggendongmu ke UKS?"

Draco langsung berdiri dari tempat duduknya, menyambar tasnya, dan mendahului Hermione menuju UKS. Hermione tertawa cekikikan.

.


.

Sesampainya di UKS, Hermione langsung mengambil kotak obat dan menghampiri Draco yang sudah duduk di pinggir ranjang. Hermione mengambil kapas dan obat, lalu mulai menekannya pelan-pelan pada luka-luka Draco.

"Theo sialan, aku tidak tahu kalau moodnya benar-benar jelek seperti itu…"

Draco meringis kesakitan.

"Sakit!"

"Oh, maaf—"

Beberapa menit berlalu dengan posisi yang hampir tidak berubah. Draco dengan wajah yang meringis kesakitan dan perih, sementara Hermione yang khawatir—takut-takut jika dia menyakiti Draco.

"Hermione."

Hermione mengoleskan obat lagi ke luka-luka Draco. Memeriksa memar-memarnya, membersihkan darah yang keluar dari hidung dan mulutnya, lalu menoleh.

"Apa?"

Draco mengingat adegan ciuman yang tidak jadi di kantin tadi—sungguh, itu menyebalkan, dengan Blaise Zabini yang tiba-tiba menginterupsi.

"Kalau luka yang di bibirku—"

Hermione menunggu perkataan yang akan dikatakan Draco selanjutnya. Dia mulai membereskan kotak obat dan meletakkan di tempat yang seharusnya dan duduk di sebelah Draco.

"Apa?"

"Kau sembuhkan dengan bibirmu, ya?"

Hermione mencubit lengan Draco dan menjitak kepalanya.

"Sakit, Hermione—"

"Biar."

"Kejam sekali."

"Habisnya kau—"

"Aku tidak mesum. Aku kan hanya minta ciuman—"

"Itu mesum, tahu."

"Tidak."

"Iya."

"Hermione, hentikan saja perdebatan ini dan segera cium aku."

"Draco, kau terdengar amat sangat mesum."

"Aku tidak mesum."

"Daritadi kau terus-terusan meminta ciuman."

"Itu karena tadi aku mau menciummu, tapi Blaise datang menginterupsi."

"Ciuman saja di depannya sekalian."

"Nah, kau juga mau, 'kan?"

Wajah Hermione merona seketika. Dia menggeleng kuat-kuat dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, asalkan bukan wajah Draco, atau mata Draco, atau semuanya—

Draco menyentuh sisi wajah Hermione dengan lembut, dan membuat kepala itu menoleh kepadanya. Dia tersenyum.

"Aku bercanda."

"Err—"

"Marah?"

"Tidak."

"Wajahmu memerah, Hermione."

Hermione melirik arloji dan menyambar tasnya. Tanpa tedeng aling-aling, dia mencium bibir Draco cepat dan meninggalkan UKS.

"Pelajaran sudah mau dimulai. Aku pergi dulu. Istirahat saja di sini, Draco."

Draco hanya tersenyum senang dan menatap kepergian Hermione dengan hati yang tenang dan lega. Akhirnya permasalahannya selesai ….

Tunggu, belum. Si brengsek itu belum kapok, dan masalah belum selesai.

.


.

Saat istirahat, tidak ada yang lebih ingin Theo hindari selain wajah Daphne Greengrass. Theo benar-benar sedang tidak mood, dan apalagi penyebabnya sedang berada di hadapannya, maka gadis itu harusnya siap dengan amukan Theo—

"Theo—"

"Diam."

Theo mendengar suara gigi Daphne Greengrass yang bergemeletuk, tapi dia seolah tidak peduli. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak bisa melangkahkan kakinya ke depan, karena ada Daphne di depannya, dan dia terlalu malas untuk berbalik arah.

"Minggir," ujar Theo dengan nada yang sinis. Daphne menggeleng takut-takut.

"Dengarkan dulu—"

"Minggir, Greengrass."

"Theo—"

"Minggir!"

"Theo, memar di tubuhmu belum—"

Terpaksa, Theo bermain kasar. Dia mendorong tubuh Daphne dan tubuh itu hampir terjatuh jika tidak ditopang oleh seseorang. Theo tidak peduli siapa yang menyelamatkan Daphne, hanya saja dia mengutuk dirinya sendiri karena memerlakukan Daphne seperti itu. Theo meninggalkan Daphne tanpa mengatakan apa-apa lagi.

"Kau tidak apa-apa?"

Daphne mengernyit dan berdiri tegak setelah menepuk tubuhnya beberapa kali. Dia menoleh ke belakang. Ada seseorang yang menolongnya tadi, dan seseorang itu kini berada di hadapannya.

"… Zabini?"

"Blaise saja."

Blaise mengulurkan tangannya kepada Daphne, mengajak salaman. Daphne bingung, tapi dia terima saja uluran tangan pemuda itu.

"Kita belum pernah berkenalan secara resmi," ujar Blaise sambil cengengesan. Dia menggenggam tangan Daphne erat-erat lalu mengayunkannya. "Salam kenal."

"Err—"

Daphne mengangguk pelan.

"Salam kenal. Daphne Greengrass."

"Daphne Greengrass, dengar."

Entah sejak kapan ekspresi Blaise Zabini menjadi seserius ini. Iya, Blaise Zabini yang terkenal bandel dan lebih sering bercanda daripada serius, kini menunjukkan keseriusannya di hadapan Daphne Greengrass.

"Apa?"

"Jangan sakiti Theodore Nott."

Butuh beberapa saat bagi Daphne untuk mencerna satu kalimat yang berisi empat kata tersebut. Dengan satu nama yang benar-benar dia ingat itu—dan akan selalu ingat—dan keluar dari mulut Blaise, Daphne tercengang.

"Apa?"

"Aku tahu, aku memang tidak tahu apa-apa tentang hubungan kalian," lanjut Blaise, kini sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya. "Tapi aku berharap semuanya baik-baik saja. Dan kau, Greengrass—harusnya kau tahu kalau bergaul dengan Parkinson itu bukan hal yang baik."

"Tunggu—"

"Jangan berkomentar apa-apa." Blaise menurunkan kedua tangannya dan memasukkan ke dalam saku celananya. Banyak kakak kelas perempuan yang memerhatikannya, tapi untuk saat ini, Blaise merasa tidak peduli. "Seseorang di antara kami berkata kalau kami harus bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada di antara kami."

Yeah, wajah pucat Draco Malfoy tercetak jelas di hadapan Blaise Zabini saat ini.

"Lupakan. Pokoknya, Greengrass, kau harus bisa tobat dan bahagiakan Theo untuk kau, dia, dan kami semua. Mengerti?"

"Itu—"

"Tidak usah banyak komentar."

Blaise meninggalkan Daphne dengan wajah yang masih terbengong-bengong. Daphne menatap kepergian Blaise dengan bingung, sampai kemudian dia teringat sesuatu—

"Zabini!"

Blaise menoleh.

"Terima kasih."

Seringaian seorang Zabini muncul. Dia mengacungkan kedua jempolnya, dan dari kedua matanya, Daphne tahu dia harus membalasnya dengan apa.

Membahagiakan Theodore Nott.

.


.

Sepulang sekolah, Hermione memutuskan untuk memberitahu Draco agar jangan dekat-dekat dengannya. Takutnya, Maurice Granger tiba-tiba muncul—

"Kau mengerti kan, Draco? Pokoknya, aku akan bilang kita sudah putus. Beberapa hari kemudian, aku bilang aku hanya bercanda supaya dia kapok."

"Ya ya," ujar Draco sambil melihat Hermione dengan malas. "Asalkan itu bukan kenyataan—"

"Kau sudah mengatakan itu dua kali," kata Hermione dan mengacungkan kedua jari di tangan kanannya, jari telunjuk dan jari tengah. "Aku tahu apa yang kulakukan, Draco Malfoy."

"Yeah, bagus—jadi aku tidak perlu banyak pikiran lagi. Ulangan matematika tadi benar-benar susah, padahal aku sudah menghafalkan rumus-rumusnya—"

"Aku tidak belajar sama sekali untuk ulangan hari ini." Hermione melangkahkan kakinya sejajar dengan Draco menuju ke gerbang sekolah. "Gara-gara Maurice."

"Aku ingin membunuhnya."

Hermione memelototi Draco. Draco cengengesan. "Bercanda."

"Nah, Draco. Aku pulang dulu."

"Tidak ada ciuman selamat tinggal?"

"Tidak ada."

"Kejamnya."

Di balik percakapan tersebut, di balik perjalanan singkat mereka dari sekolah sampai gerbang sekolah, di balik kedekatan dan kisah mereka, seorang Pansy Parkinson hanya bisa merengut iri di belakang mereka.

Selalu.

Entah sampai kapan semuanya akan berjalan seperti ini.

.xOx.

TO BE CONTINUE

A/N: Halo, semua! Maaf baru bisa update lagi;)

.:.:.balasanreview.:.

Shizyldrew: ah, really? Maaf banget ya kalau gitu, jadi keliatan berbelit-belit ya? Sekarang sudah dikurangi kok, konfliknya. Semoga memuaskan

AntliaMalfoy: ahaha, sangat diperbolehkan XD kalau bisa, hihi.

DeeMacmillan: really? Thank you so much! :D ini sudah update yaaa. Mind to RnR again? :D

Cacavvv92: wkwk, cekek aja Maurice nya XD yap, kemungkinan besar happy end, kok :D yang nabrak ibunya Hermy tidak diketahui, hihi.

Lala vanilla: wkwk, Maurice itu sepupunya Hermione Granger, sekian:p emang nyebelin yah dia XD wkwk, sadis2 gini kan cakep ;;) /apasih

BlueDiamond13: halooww hihi;"3 iyaaa amin yah. Really? Bagus dong kalau gitu:"D

Anyaaa: tapi masih nyebelin punya Pansy kayaknya, XD iya dong, kan setiap manusia mengalami perubahan XD /apasih

Gothicamylee: really? Thanks a lot! :D Maurice emang nyebelin, kak. Ayo bunuh bareng2 o_o wkwk, tebakannya bener ga ya:p ini emang pengen panjang2in chapter tapi kayanya gabisa deh:"D ini sudah update yaa. Mind to RnR again? :D

Ksatriabawangmerah: aaah, rae lebih kereeeen. Wahaha, bagus dong kalau gitu XD iyap, dia lumayan berpengaruh buat chapter yang belakangan ini. Sederhana, ya? :"D kalau rae itu kan diksinya dewa bejeuh dah XD waaaaa serius? :")) kalau Maurice penyihir dia dimasukkin ke Slytherin kali, ya. Kan ular licik, wekekek XD Malfoy lebih baik dari dia di sini :") drama? Apa kudu ganti genre ya… tidak diketahui ah X)

Widarsi: selera kita sama. Aku juga suka bagian TheoDaph entah kenapa :") hihi, ayolah bunuh bareng2. Iyaa kayanya sih gitu, ikutin aja terus ya chapternya :")
maaf yaa kalau kurang memuaskan, soalnya idenya cuma mentok di sini o_o itu karena Maurice itu sepupunya Hermy, ehehe. Thanks for your attention yaa :D

Pixie Porsche Yousaf: abosolutely love you, pixie /heh. Astaga pix imajinasi kamu terlalu melayang2 :"D ah, iya juga sih ya… ayok sambit bareng2 :"D

Adis: udah update buat adis:p mind to RnR again? :D dramione di sini udah berusaha di kok:")

Guest: terlalu cepat? Sorry sorry sorry /3 nggak gaje, kok. Thanks buat masukannya. Semoga saya bisa memperlambat alurnya lagi yaa:"D ini sudah update. Mind to RnR again?

Liana: aku juga bingung, makanya aku bikin file tersendiri tentang data-data sekolah mereka, hihi. Menarik? Thanks a lot! {} ga gampang ketebak? Syukurlah :")) ini sudah update. Mind to RnR again?:D

Ladyusa: ngebut-ngebut tapi ngerti, ga? Ehehe XD dimaafin lah, apalagi ladyusa RnR:"D seneng banget :"D wotsiya dong love at first sight ceritanya. Ayo sini jambak bareng2 :") tenang ga dipisahin kok :DD wah lady hargin shipper?o_o untuk urusan daphne… wooh really? :")) ini udah update. Mind to RnR again? Ga kok, aku suka review yang panjang2 /hehXD

Chapter 15, guys! Ternyata sudah sampai chapter 15 ya, haft. Pengennya sih cepet-cepet selesai. Doain yaaaaa :D

Oh iya, pembaca fic 'Love, Friendship, Hate?' ada yang bersedia mengikuti poll di profile saya? X))

Maafkan atas keterlambatan saya, kecerobohan saya dan kesalahan saya yang berada di fic ini. Masukan-masukan akan selalu saya dengarkan, bahkan saya tampung (kalau cocok). Sekali lagi, terima kasih banyak yang masih mengikuti fic ini. Maaf jika terlalu membosankan.

Last,

Review? :D