"Kau tidak bisa tidur ya hyung?" Tanya Mingyu lagi, kali ini Wonwoo hanya bergumam menjawab pertanyaan Wonwoo. Tiba-tiba Wonwoo merubah posisinya menjadi terlentang seperti Mingyu, menatap langit-langit. "Aku juga tidak bisa tidur hyung." Lanjut Mingyu. Suasana kamar kembali hening, hanya terdengar suara hujan dan petir dari luar apartemen. Mingyu memutar kepalanya kesamping, menatap Wonwoo dalam diam.

"Hyung, aku mencintaimu."

The Sign

Main cast : Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo

Cast : Seventeen, BTS, EXO and others

Genre : Romance Mystery

Warning : Cerita ini mengandung unsur gay, kekerasan, sadisme, serta kata-kata yang masih banyak typo, dan cerita yang masih acak-acakan. Jika kalian tidak suka jangan maksa buat cerita oke? Cerita ini murni buatan Ken sendiri, Ken hanya meminjam nama dan tempatnya saja.

Summary : Angka. Pola. Surat. Tanda teror kematian. Kepolisian berusaha memecahkan misteri ketiganya. Tidak ada bukti yang bisa mempermudah kerja mereka. "mereka" akan hilang pada tanggal yang sama dan ditemukan pada tanggal yang sama. Namun itu belum cukup untuk membuka simpul benang misteri ketiganya.

...

...

...

"..." : Percakapan langsung

'Italic' : Inner/ suara pikiran

Italic : Flashback

"italic" : Percakapan dalam telefon/ dalam video.

...Happy Reading's...

Chapter 11

"Hyung, aku mencintaimu." Ucap Mingyu. Wonwoo tersentak mendengarnya lalu menoleh menatap Mingyu yang juga sedang menatapnya.

"K-kau bilang apa?" Tanya Wonwoo memastikan telinganya tadi tidak salah dengar.

"Aku mencintaimu hyung. Sudah sangat lama, tapi aku tak berani mengatakannya. Aku terlalu takut. Tapi sepertinya ini sudah saatnya aku mengungkapkan perasaanku padamu. Aku bisa mati jika terus-terusan seperti ini. Selalu didekatmu tapi tak bisa memilikimu. Mungki setelah ini kau akan menjauhiku, tapi aku merasa lega karena sudah mengatakan apa yang aku rasakan selama ini. Aku sungguh sungguh mencintai-"

"Nado. Nado saranghae." Ucapan dari Wonwoo menghentikan kata-kata cinta dari Mingyu.

"Hah? Kau bilang apa hyung?" Tanya Mingyu, dia rasa pendengarannya bermasalah. Kalau tak salah dia mendengar Wonwoo mengucapkan-.

"Aku juga mencintaimu Mingyu-ya." Ucap Wonwoo, Mingyu melebarkan matanya. Pendengarannya tidak salah. Wonwoo benar-benar mengatakan kalau dia juga mencintainya. "Sama sepertimu, aku sudah lama merasakannya. Mungkin sejak awal kita bertemu. Awalnya aku kira itu perasaan cinta pada seorang adik. Tapi lambat laun aku menyadari kalau itu adalah cinta antar pria. Aku takut kau akan membenciku, jadi aku berusaha menyembunyikannya dibalik raut datarku." Lanjut Wonwoo sambil tersenyum lembut pada Mingyu. Mingyu tertegun beberapa saat, lalu menatap mata Wonwoo penuh perasaan. Mingyu mengangkat tangannya mengelus pelan permukaan halus wajah Wonwoo, perlahan memberanikan diri untuk mendekati Wonwoo. Wonwoo hanya diam menatap Mingyu yang mulai mendekat. Wajah mereka hanya berjarak kurang dari 5 cm itu perlahan-lahan mendekat. Mingyu mengikis jarak wajah mereka.

CUP

Kedua bibir tersebut bertemu, Wonwoo dan Mingyu menutup mata saat merasakan kehangatan bibir masing-masing. Cuaca yang dingin membuat Mingyu dan Wonwoo mencari kehangatan. Mingyu memeluk pinggang Wonwoo dengan sebelah tangannya sedangkan tangan satunya digunakan untuk mengelus permukaan wajah Wonwoo. Wonwoo meletakkan masing-masing kedua tangannya dibahu dan dada Mingyu. Mingyu mulai menggerakan bibirnya untuk menghisap bibir bawah Wonwoo dan Wonwoo mulai menghisap bibir atas milik Miingyu. Ciuman lembut itu berubah menjadi kasar. Mingyu menciuman Wonwoo dengan liar begitu pula Wonwoo. Wonwoo meremas rambut Mingyu kasar, dan memukul pelan dada pria bertaring tersebut. Memberitahukan bahwa dia sudah mulai kehabisan napas. Mingyu yang mengerti memutuskan ciuman mereka dan beralih kearah leher pucat Wonwoo. Mengecupnya dan menggigit pelan leher jenjang tersebut.

"Hyung, kau harus menghentikan aku sebelum aku melakukan hal yang lebih dari ini." Ucap Mingyu ditengah-tengah kecupannya pada leher Wonwoo.

"Lakukanlah. Aku menginginkanmu Mimgyu-ya." Ujar Wonwoo disertai desahan, menggoda iman Mingyu. Mingyu sedikit tersentak mendengarnya, namun kemudian menyeringai. Mingyu dengan cepat menyerang Wonwoo. Suasana dingin disertai hujan menjadi alunan lagu membangkitkan hasrat keduanya.

Ditengah suara hujan dan angin terdengar desahan sahut menyahut didalam kamar apartemen milik Kim Mingyu. Menjadi saksi terikatnya hubungan keduanya. Suara-suara tersebut terdengar hingga beberapa jam setelahnya. Mingyu berhenti menggerakan pinggulnya saat orgasme ketiga, dia juga melihat wajah Wonwoo yang mulai pucat karena kelelahan. Setelah bergumul 4 jam non-stop mereka tidur dengan tubuh lengket karena peluh dan cairan cinta mereka. Meskipun lelah melanda senyuman dan kehangatan mengiringi tidur lelap kedua insan yang sudah menjadi satu tersebut.

Flashback Off

Dan semenjak kejadian itu Mingyu akan mencari kesempatan untuk bercinta dengan Wonwoo. Membuat Wonwoo harus menahan sakit pada holenya saat berjalan karena Mingyu tak akan berhenti saat Wonwoo sudah pucat karena kelelahan.

"Hyung, kau melamunkan apa?" Tanya Mingyu penasaran.

"Tidak ada." Jawab Wonwoo. "Lanjutkan saja pekerjaanmu dan jangan ganggu aku. Aku akan melihat-lihat kembali berkas-berkas dari Eagle Kill dari awal. Aku rasa aku melewatkan sesuatu disini." Lanjut Wonwoo lalu mulai memeriksa dengan seksama berkas-berkas ditangannya. Mingyu mengangkat bahunya cuek lalu kembali memeriksa beberapa CCTV yang dijadikan bukti. Pintu terbuka menampilkan ketua kepolisian kota Nakdong, Kim Namjoon. Mingyu dan Wonwoo berdiri lalu sedikit membukuk melihat atasannya.

"Aku dengar kalian diterror oleh Eagle Kill." Ucap Namjoon. Mingyu dan Wonwoo mengernyitkan dahinya bingung. Bertanya-tanya dari mana ketua kepolisian tersebut tahu. "Aku punya banyak telinga ingat." Ucap Namjoon melihat kernyitan bingung dari anak buahnya itu. Mingyu dan Wonwoo lalu menganggukkan kepalanya setelah mendengar ucapan Namjoon.

"Seperti yang anda dengar pak. Kami memang diterror dengan bola mata milik korban." Ujar Mingyu pada atasannya itu.

"Apa ada hubungan diantara kedua korban?" Tanya Namjoon. Saat Mingyu ingin membuka mulut, Seongcheol dkk masuk dengan wajah segar. Mereka membukuk sopan pada Namjoon. "Jadi?" Tanya Namjoon.

"Tidak ada pak. Seperti korban yang lain. Tidak ada hubungan darah, bahkan korban berasal dari negara yang berbeda. Saya baru melihat berkas-berkas kedua korban ini, kesamaan yang mereka miliki hanyalah mereka pencandu alkohol. Kemungkinan korban memang sudah diincar sebelumnya. Kali ini Eagle Kill hanya mengambil satu mata korban dan mengirimkannya pada divisi kami. Dan juga sebuah surat." Jelas Wonwoo sambil menyerahkan surat pada Namjoon. Namjoon menganggukkan kepalanya saat membaca surat itu.

"Baiklah. Jika ada sesuatu segera lapor padaku dan kita akan mengadakan rapat, tanpa kepolisian khusus dari Seoul. Sebentar lagi tanggal 17 aku tak ingin korban ketujuh kehilangannya nyawanya lagi" Ucap Namjoon tegas, mereka mengangguk menanggapi ucapan Namjoon. Namjoon berlalu dari ruangan divisi tersebut. Kepolisian khusus berkumpul kembali ditengah ruangan untuk meninjau ulang setiap jejak dan bukti yang sengaja ditinggalkan Eagle Kill.

"Sepertinya aku melewatkan satu bagian penting. Aku merasa ada yang salah dengan setiap bukti ini. Ada satu potongan bukti yang hilang, aku yakin itu." Ucap Wonwoo sambil membolak-balikkan berkas ditangannya.

"Aku setuju denganmu Wonu-ya. Haruskah kita berpencar dan mencari bukti lain disekitaran rumah korban sekali lagi?" Tanya Junhui.

"Aku rasa iya. Bagaimana menurutmu hyung?" Tanya Wonwoo pada sang ketua.

"Baiklah. Sepertinya kita harus mengulang kasus ini, kita akan mencari potongan bukti yang hilang itu." Ucap Seongcheol. Mereka bertujuh bersiap. "Kita bagi 3 kelompok. Mingyu dan Soonyoung kalian ketempat Park Seojeon dan Song Jongki. Vernon dan Junhui ke tempat Son Jihyo dan Kim Soohyun, lalu aku Seokmin dan Wonwoo akan ke tempat Lee Kwang Soo dan Lee Boo Young." Jelas Seongcheol lalu mereka semua berangkat ketujuan masing-masing.

Seomgcheol-Wonwoo-Seokmin side.

Mereka sampai kerumah Lee Kwang Soo, rumah tempat dia diculik. Lee Kwangsoo hanya tinggal sendiri dan sekarang rumah tersebut kosong. Mereka masuk dengan mudah karena rumah tersebut memang tidak terkunci. Keadaan rumah sangat bersih, tidak ada kekacauan lagi. Seongcheol, Seokmin, dan Wonwoo berpencar mencari hal-hal kecil yang kiranya bisa melengkapi potongan bukti yang hilang. Wonwoo berada diruang tamu melihat sekeliling, lalu matanya menatap tempat perapian lama. Dirinya merasa tertarik dengan perapian tersebut. Wonwoo mendekati tempat perapian tersebut lalu mulai memperhatikan dengan teliti, tangannya iseng meraba dinding bagian dalam tempat perapian tersebut. Wonwoo membulatkan matanya saat tangannya merasakan sesuatu. Untung saja tangannya sudah dilapisi dengan sarung tangan warna hitam, dia menarik benda yang ditemukkannya dengan perlahan. Setangkai bunga yang tampak masih segar berwarna orange digenggamannya.

"Lily orange." Gumamnya. "Hyung-deul cepat kemari." Teriak Wonwoo. Suara tapak kaki berlari terdengar mendekati ruang tamu. Seongcheol dan Seokmin terkejut melihat bunga yang berada ditangan Wonwoo.

"Apa itu? Dimana kau menemukannya?" Tanya Seongcheol lalu menyentuh bunga tersebut dan memperhatikan dengan seksama bunga Lily tersebut.

"Bunga Lily orange. Aku menemukannya didekat bagian perapian, tertempel didindingnya. Aku rasa itu adalah potongan yang hilang hyung." Jelas Wonwoo.

"Hubungi yang lain. Katakan untuk mencari dengan seksama didekat tempat perapian kalau ada. Tanyakan apakah mereka juga menemukan Bungan Lily ini." Perintah Seongcheol. Wonwoo dan Seokmin bergerak untuk menelpon Mingyu dan Junhui yang berada ditempat berbeda. "Kita pergi ketempat Lee Boo Young. Jika ini memang bukti yang hilang, maka kita akan menemukan bunga yang sama." Ucap Seongcheol lalu keluar dengan membawa bunga yang sudah dia masukkan kedalam plastik diikuti oleh Seokmin dan Wonwoo.

Team detektif datang hampir bersamaan. Mereka mencari bukti tersebut hampir 2 jam dan kembali dengan 6 kantong berisikan bunga Lily didalam plastik.

"Ini adalah bukti yang hilang itu. Tapi aku penasaran bunga ini tetap tampak segar meskipun sudah berbulan-bulan berada disana." Ucap Soonyoung sambil melihat-lihat bunga tersebut. "Apa ini?" Tanya Soonyoung saat melihat ada yang aneh dibagian dalam bunga tersebut. Keenam namja yang lain memperhatikan Soonyoung yang memasukkan jarinya kedalam bunga tersebut. Soonyoung mengeluarkan bulatan kecil berwarna putih. Soonyoung menyerahkannya pada sang ketua. Seongcheol membukanya dengan perlahan, itu sebuah kertas kecil.

"Surat?" Tanya Wonwoo, Seongcheol menangguk lalu membacakannya.

Jadi kalian sudah menemukan potongan yang hilang? Aku terkesan salah satu dari kalian bisa mengetahui kalau ada bukti yang hilang, ahahahaha... kenapa bunga Lily orange? Karena maknanya. Kenapa masih segar? Karena aku tahu kalian akan sangat terlambat untuk menyadar potongan yang hilang itu, jadi aku melumurinya dengan cairan lilin. Jadi apa kalian menikmati game yang aku buat?

Isi surat tersebut membuat team detektif kesal. Selama ini mereka hanya dipermainkan. Eagle Kill menganggap nyawa yang melayang itu hanyalah sebuah permainan.

"Bunga Lily adalah bunga musim panas berasal dari Asia Barat dan Mediterania memiliki berbagai macam warna. Bunga Lily putih melambangkan kesucian, kemurnian dan ketulusan. Lily Kuning melambangkan perasaan bahagia. Lily merah melambangkan Kemakmuran. Sedangkan Lily Orange melambangkan kebencian, kesombongan, kebohongan dan Penghinaan." Ucap Vernon sambil memperhatikan handphone-nya. Sejak Seongcheol membacakan surat dari Eagle Kill, dia penasaran dan mencari mengenai makna dari bunga Lily.

"Artinya Eagle Kill meletakkan bunga ini sebagai penghinaan terhadap korban atau penghinaan pada kepolisian yang akan menangkapnya, begitu? Atau bunga itu menunjukkan kebenciannya pada korban. Begitukah?" Tanya Mingyu.

"Bisa jadi itu artinya. Tapi untuk apa dia membenci orang yang tak dikenalnya?" Tanya Junhui sambil memperhatikan bunga Lily tersebut.

"Aku rasa dia bukan membenci pada orangnya. Tapi dia membenci apa yang dilakukan orang tersebut. Pecandu alkohol, rokok, narkoba, dan Pelacur. Eagle Kill meletakkan surat itu pada organ korban yang sudah rusak. Seperti Lee Boo Young dia meletakkan surat itu dirahimnya karena dia seorang pelacur. Atau pada Park Seojeon yang meletakkan surat dijantungnya karena dia pecandu rokok. Satu per satu alasan dia meletakkan dan membunuh korban mulai terkuak. Dia sangat membenci 4 hal tersebut dan membunuh siapapun yang melakukannya." Jelas Seokmin. "Tapi aku masih penasaran, dia pernah bercerita kalau Eagle Kill itu menderita. Dia juga menyebutkan kata 'Dia' dan 'Mereka'. Aku rasa dia menjadi psikopat karena masa lalunya." Lanjut Seokmin. Keenam namja itu mendengarkan dengan baik.

"Aku juga penasaran dari mana dia bisa tahu semua tentang kita secara detail. Apakah dia bekerja sama dengan salah satu kepolisian disini atau mungkinkah salah satu kepolisian disini adalah Eagle Kill?" Pertanyaan Soonyoung membuat mereka termenung dan memikirkannya.

"Eyy... Hyung. Kau bercanda. Semua orang disini bekerja mati-matian untuk menangkapnya. Lalu untuk apa bekerja sama dengan pembunuh itu." Sangkal Vernon sambil menepuk bahu Sooyoung. "Oh ya, hari sudah semakin larut, dan sekarang aku lapar. Bagaimana kalau kita membeli Jjajangmyeon dan ayam goreng?" Tanya Vernon sambil menatap para Hyungnya.

"Call." Teriak mereka karena memang sudah menahan lapar sejak tadi.

"Baiklah. Aku akan menemani Vernon. Sekalian mau pulang mengambil beberapa baju." Ucap Junhui lalu berjalan bersama Vernon.

Junhui-Vernon side.

"Hyung kau tunggu dimobil, biar aku yang mengambil baju itu." Bisik Vernon. Junhui mengangguk menanggapi Vernon, lalu mereka berpisah. Vernon berjalan santai sambil memperhatikan sekitarnya. Untungnya hari sudah larut sehingga ruang loker tersebut kosong. Vernon berhenti diloker targetnya, lalu membuka dengan pelan. Vernon menggunakan sarung tangannya lalu mengambil baju tersebut dan memasukkannya kedalam plastik hitam. Vernon menghela napas pelan saat berhasil mengambil baju tersebut dan berjalan keluar. Tanpa dia sadari sejak tadi ada yang mengawasinya dengan mata tajam lalu menyeringai dan menghilang dikegelapan.

Vernon berjalan santai sambil menenteng plastik hitam menjuju parkiran tempat Junhui menunggu didalam mobil.

"Kau dapat bajunya?" Tanya Junhui saat Vernon sudah masuk kedalam mobil.

"Aman. Ayo kita pergi sekarang. Kita langsung ketempat Jihoon hyung." Ucap Vernon. Junhui menjalankan mobil tersebut dengan kecepatan sedang.

"Aku sudah menelpon Jihoon dan dia mengatakan untuk langsung keruangannya saja." Ujar Junhui. Mereka berkendara selama 15 menit, lalu berajalan dilobby rumah sakit sambil menenteng plastik tersebut. Junhui dan Vernon berada dirumah sakit selama 30 menit lalu keluar setelah Jihoon mengambil sampel dari baju dan mengatakan hasilnya akan dia kirim melalui Email. Sementara itu kelima namja yang berada dikantor kepolisian Andong terlihat mencocokan setiap bukti yang ada.

"Hyung, menurutku angka-angka ini mengartikan sesuatu. Seperti nomor kependudukan atau nomor rumah." Ucap Soonyoung mulai menganalisa.

"Yak, kau kira dia akan sebodoh itu untuk memberikan nomor rumah atau nomor kependudukannya. Kita akan sangat mudah menemukannya kalau seperti itu." Ucap Seokmin.

"Tapi itu bisa saja terjadi." Ucap Seongcheol. "Kumpulkan semuanya disini. Dan panggilkan Seungkwan aku butuh dia untuk melacak semua nomor-nomor ini." Perintah Seongcheol. Mingyu bergerak memanggil Seungkwan.

"Korban hilang tanggal 17, ditemukan tanggal 24, terhitung 7 hari setelahnya. Terdapat angka 96 dikeningnya. Dibuang antara pukul 1-3 pagi. Jika digabungkan 1724796123." Jelas Seokmin. "Tapi apa ada nomor kependudukan seperti itu?" Tanya Seokmin. Bingung melihat angka-angka tersebut. Mingyu masuk bersama dengan Seungkwan sambil menenteng laptopnya. Seungkwan masuk dengan ekspresi bingung melihat para anggota detektif duduk dilantai dengan kertas-kertas mengelilinginya.

"Ahh.. Seungkwan-ah. Sini duduklah." Panggil Seokmin ramah. Seungkwan mengangguk lalu duduk disamping Wonwoo.

"Aku dengar kalian membutuhkan aku untuk melacak sesuatu." Ujar Seungkwan sambil memperhatikan Wonwoo yang sedang berkerut bingung dengan angka-angka didepannya.

"Kami baru saja membuat beberapa kombinasi angka-angka, dan kami membutuhkanmu untuk melacak angka-angka itu. Aku ingin kau melacak nomor kependudukan atau nomor rumah. Ini semua angka-angkanya." Jelas Wonwoo sambil menyerahkan angka-angka yang tadi dipegangnya.

"Aku rasa untuk nomor kependudukan tidak seperti ini hyung. Tapi aku akan coba melacak beberapa angka dulu." Ucap Seungkwan lalu mulai berkutat pada laptopnya. Tak lama kemudian Vernon dan Junhui masuk sambil menenteng box makanan. Untungnya Seongcheol sempat menelpon Vernon untuk menambah 1 porsi lagi, jadi Seungkwan bisa makan. Vernon meletakkan makanan tersebut dimeja lalu bergabung dengan yang lainnya begitu juga dengan Junhui.

"Hyung, tidak ada angka-angka ini tidak masuk dalam nomor kependudukan bahkan dinegara mana saja. Aku sudah mencoba 7 angka-angka ini, tapi hasilnya nihil. Aku rasa ini bukan tentang nomor kependudukan hyung." Lapor Seungkwan. "Oh Junhui hyung dan Vernon kapan sampai?" Tanya Seungkwan saat melihat Vernon dan Junhui ada dihadapannya.

"Saat kau sedang mengotak-atik laptopmu. Sepertinya kau sangat serius." Jawab Junhui, Vernon hanya tersenyum canggung.

"Haahh... Kalau begitu mungkin kita mencari untuk nomor rumah. Mungkin kita bisa dapat sesuatu." Ucap Seongcheol, yang lainnya mengangguk menanggapi ucapan atasannya itu.

"Tak bisakah kita makan dulu sebelum lanjut bekerja? Aku lapar." Rengek Soonyoung sambil mengelus perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi.

"Baiklah. Kita makan dulu." Putus Seongcheol lalu mulai membagikan makanan satu persatu. Mereka makan dengan santai, sesekali terdengar teriakan dari Soonyoung karena berebut ayam dengan Mingyu maupun dengan Vernon dan Seungkwan. 30 menit kemudian mereka kembali mengerjakan tugas masing-masing.

"Seungkwan-ah, aku ada tugas untukmu." Bisik Seongcheol pelan. Seongcheol melirik kearah rekan-rekannya, mereka masih mengerjakan tugas masing-masing. "Tolong kau cari informasi lengkap anggota kepolisian khusus yang menyelidiki kasus ini. Untuk berjaga-jaga." Lanjut Seongcheol masih dengan suara pelan. Seungkwan sebenarnya bingung dengan permintaan Seongcheol namun dia hanya bisa mengangguk.

"Aku tak menemukan alamat rumah yang cocok dengan angka-angka ini." Ucap Seungkwan terdengar kesal, karena dari tadi dia pusing melihat angka-angka itu. "Hyung kau yakin kalau angka-angka ini berarti sesuatu?" Tanya Seungkwan pada Seongcheol.

"Entahlah. Aku hanya penasaran pada angka-angka itu. Menurutku mereka tak mungkin meninggalkan angka-angka ini jika tak ada maknanya. Jadi mangkanya aku memintamu untuk melacaknya." Jelas Seongcheol, Seungkwan mangut-mangut mendengarnya. Lalu matanya menatap sekeliling ruangan divisi detektif. Matanya memicing saat melihat ada hal yang aneh.

"Hyung, kau ingat tidak Eagle Kill pernah mengetahui sesuatu yang kita jaga bahkam mediapun tak tahu tentang hal itu." Ujar Seungkwan tiba-tiba membuat ketujuh pasang mata menatapnya heran.

"Ya, kenapa?" Tanya Junhui.

"Aku baru memikirkannya. Aku rasa ruangan kita sudah disadap olehnya, mungkin bukan hanya ruangan kita saja tapi seluruh ruangan dikepolisian ini." Ucap Seungkwan.

"Wae? Kenapa kau berucap dengan yakin begitu?" Tanya Soonyoung.

"Karena aku rasa menemukan salah satu penyadap itu diruangan ini." Jelas Seungkwan, ketujuh mata tersebut membelalakkan matanya kaget. "Diatas pintu, diantara celah dinding itu." Tunjuk Seungkwan. Mereka mengikuti arah tangan Seungkwan, jika diperhatikan dengan baik-baik maka kau akan melihat ada tonjolan kecil berwarna seperti dinding tersebut. Mingyu bergerak mengambil kursi, dan mencoba mengambil benda tersebut dengan hati-hati. Mingyu turun setelah mengambil benda tersebut lalu membawanya kedepan rekan-rekannya.

"Sialan.!" Umpat Seongcheol. "Cari diseluruh ruangan. Kita harus membersihkan seluruh alat penyadap itu." Perintah Seongcheol. Mereka bergerak mencari-cari alat penyadap tersebut. Seungkwan bergerak keluar menuju ruangannya, memberi tahukan kemungkinan ada alat penyadap diruangan mereka. Team detektif menemukan 5 alat penyadap tersebar diruangan tersebut.

"Brengsek. Pantas saja dia tahu semua tentang kita." Seongcheol yang biasanya santai terdengar sangat marah. "Kita bakar semua ini." Perintah Seongcheol. Mereka bertujuh keluar sambil membawa alat penyedap tersebut. Seongcheol juga memberi tahukan perihal tersebut lalu kantor kepolisian tersebut mulai sibuk mencari keseluruh kantor. Setelah 30 menit mencari mereka menemukan 96 alat penyadap. Mereka membakar seluruh akat tersebut dibelakang kantor. Kim Namjoon terlihat sangat marah dan memperhatikan seluruh personil untuk bersikap hati-hati. Mereka bekerja penuh mengingat sudah tanggal 13 artinya 4 hari Eagle Kill akan beraksi.

17 Juni XXXX

Tepat pukul 07.45 waktu setempat, kantor kepolisian heboh karena seorang ibu-ibu menangis histeris mengatakan kalau anaknya hilang. Kim Jong Dae, hilang saat dia pulang dari bekerja. Ibu tersebut mengatakan anaknya bekerja dibar dan biasanya pulang pukul 2 malam. Namun malam tadi Jong Dae tidak pulang, ibu tersebut hanya tinggal berdua dengan anaknya tersebut. Lalu pagi ini dia menemukan sebuah surat. Team detektif merasa bersalah setelah membaca surat tersebut. 'Aku akan mengembalikkan anakmu setelah 7 hari.' Dari isi surat tersebut itu sudah pasti adalah Eagle Kill. Seongcheol meminta maaf karena tak bisa berbuat apapun dan meminta ibu tersebut bersabar. Meminta ibu tersebut menunggu sampai tanggal 24 nanti.

"Kau mau memintaku menunggu sampai kalian menemukan mayat anakku, Huh? Lakukan sesuatu. Bukankah kalian pasukan terbaik. Kembalikan anakku!" Raungan dari ibu tersebut semakin menjadi-jadi. Dia menarik kerah Seongcheol dengan kasar, Seongcheol hanya bisa pasrah karena ketidakmampuannya. Mereka sekarang hanya bisa menunggu. Meskipun mereka menemukan bukti namun itu tak berarti, mereka masih saja seperti mengejar hantu.

24 Juni XXXX

Waktu terasa sangat cepat berlalu dan hingga saat ini keberadaan Kim Jong Dae tidak bisa ditemukan. Tekanan yang dirasakan team kepolisian khusus semakin berat. Ny. Kim ternyata bekerja sebagai tukang bersih-bersih jalan. Hampir tiap hari mereka melihat Ny. Kim, dan tiap hari pula mereka melihat kesedihan mendalam dari seorang ibu. Ny. Kim tetap melakukan tugasnya namun air mata terus membasahi matanya. Mingyu pernah mendekatinya dan mengatakan untuk cuti sementara sampai Kim Jong Dae ditemukan namun langsung ditolak olehnya. 'aku harus tetap bekerja. Setidaknya jika Jong Dae ditemukan aku bisa membuatkan makanan kesukaannya. Iya, jika dia kembali.' Ucapan Ny. Kim membuat Mingyu merasa sangat bersalah begitu juga dengan yang lainnya. Ny. Kim akan menunggu dikantor polisi setelah bekerja, menunggu hingga pukul 9 malam, dan kembali dengan wajah sembab karena tidak mendapatkan kabar baik. Dan sekarang adalah puncaknya, Ny. Kim sengaja tidak pulang dan menginap dikantor. Pihak kepolisian berusaha membujuknya untuk pulang namun dengan keras kepala Ny. Kim menolaknya. Hingga pagi tadi teriakan histeris Ny. Kim menjadi alarm mengerikan dikantor kepolisian tersebut.

Pagi ini Ny. Kim bangun lebih awal dibandingkan yang lainnya, dia berjalan keluar dan menemukan kardus besar didepan pintu. Tak lama kemudian teriakan mengerikan terdengar. Mingyu, Seokmin dan Seongcheol yang pertama kali sampai didepan pintu, dan melihat adegan mengerikan sekaligus menyedihkan tersebut. Ny. Kim sedang terduduk menangis meraung sambil memeluk kepala anaknya Kim Jong Dae yang sudah lepas dari badannya. Bau busuk dan anyir darah tak diperdulikan wanita paruh baya tersebut, dia hanya bisa menangis meratapi anaknya yang sudah tak bernyawa, sungguh pemandangan yang mengiris hati. Ny. Kim menangis hingga jatuh pingsan tak kuasa menahan kesedihan. Setelahnya Ny. Kim dibawa kedalam kantor dan team forensik yang sudah ditelpon Junhui datang dan membawa kardus tersebut. Keadaan kembali menjadi tegang saat Jeonghan yang sedang memasang cairan infus pada tangan Ny. Kim yang sudah sangat lemah tersebut bergerak dan isakkan pilu mulai terdengar ditelinga Jeonghan dan yang lain.

"A-anakku. Anakku benar-benar pergi.. hikss.. Kalian. Ini semua salah kalian. Kenapa tidak kalian temukan anakku lebih dulu sebelum dia mati? Kenapa kalian hanya diam saja, huh? Kenapa? KENAPA?" Teriakan Ny. Kim kembali terdengar. Kali ini dia menyerang Seongcheol, memukul dadanya kuat. Meminta pertanggung jawaban pada semua orang disana. Jeonghan sudah meneteskan air matanya melihat betapa rapuhnya ibu tersebut. Infus ditangan Ny. Kim lepas membuat darah menetes dari pergelangan tangannya. Sakit kehilangan anaknya tidak sebanding dengan sakit ditangannya. Ny. Kim berhenti didepan Mingyu, menangis sejadi-jadinya lalu merosot jatuh namun ditahan oleh Mingyu karena Ny. Kim nampak limbung dan kembali pingsan. Tak lama kemudian ambulance datang dan membawa Ny. Kim, mereka menatapnya nanar. Seungkwan datang dengan wajah kusut saat Ny. Kim diangkat oleh tandu.

"Bagaimana dengan CCTV nya?" Tanya Junhui saat melihat Seungkwan datang. Seungkwan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"CCTVnya rusak. Dari pukul 12 sampai pukul 4." Ucap Seungkwan dengan helaan napas kasar.

"Bagaimana mungkin?" Tanya Seongcheol pelan.

"Eagle Kill mematikan CCTV itu. Lalu menghidupkannya lagi, karena saat CCTV itu mulai menyala kardus itu sudah ada disana." Jelas Seungkwan.

"Lalu bagaimana dengan penjaga didepan? Apa yang mereka lakukan hingga Eagle Kill bisa dengan mudah meletakkan kardus itu?" Tanya Seokmin emosi.

"Petugas penjaga tidur atau mungkin aku menyebutnya mereka dibuat tidur. Aku dan Soonyoung sudah mengintrogasi mereka berdua. Aku sudah meminta Jeonghan hyung untuk memeriksa kopi kaleng yang mereka minum malam tadi, karena hanya ada itu yang tergeletak didekat mereka." Sambung Wonwoo dibelakang mereka bersama Soonyoung.

"Bagaimana mereka bisa dapat kopi kalengan itu? Mereka pasti dapat dari seseorang? Bisakah kita melihatnya di CCTV?" Tanya Vernon.

"Tidak ada, aku sudah memasukkan kemungkinan itu, tapi seperti yang aku katakan tadi rekaman CCTV itu mati sejak pukul 12." Jelas Seungkwan frustasi. "Aku rasa aku harus cepat menyelesaikan tugas darimu hyung." Bisik Seungkwan pelan pada Seongcheol.

"Aku harus keruanganku. Aku dan Chanyeol hyung akan mencari rekaman yang hilang itu." Ucap Seungkwan undur diri. Team detektif dibagi menjadi dua. Seongcheol, Seokmin dan Wonwoo pergi kerumah sakit untuk autopsi Jong Dae dan mengambil bukti yang ditinggalkan. Sedangkan sisanya membantu team cyber mencari rekaman CCTV disekitar kantor tersebut. Vernon dan Junhui berlari-lari mencari rekaman CCTV tersebut kearah kanan kantor sedangkan Soonyoung dan Mingyu mencari diseberang kantor polisi. Vernon berhenti berlari saat merasa ponselnya bergetar, Junhui juga ikut berhenti lalu berbalik melihat Vernon diam mematung menatap layar ponselnya terkejut. Junhui berjalan mendekat dan mencoba melihat ponsel Vernon lalu ikut melebarkan matanya saat melihat beberapa kalimat diponsel tersebut.

"Hasilnya positif."

...

...

...

==TBC==

Wuahh.. Ken is back Readers... Hehehehe..

Terima kasih untuk readers yang masih setia membaca dan menunggu the sign update, dan maafkan untuk typo yang masih menyebar disetiap jalan cerita..

Review Juseyooooo

=BYE-BYE=