Iam Not Angel

Summary :

Naruto jadi artis? Kok mendadak Naruto begitu terkenal seantero Konoha. Teroris? Masa sih cewek lemah nan miskin macam Naruto jadi begitu ditakuti semua gengster dan Yakuza. Sebenarnya siapa Naruto itu? Sorry summary rada gak nyambung and kurang OK. Maklum masih pupuk bawang.

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Hurt/Comfort and Friendship

WARNING

Cerita Pasaran, Typos, OOC, AU, Newbi, Republish, and many mores

Pair : Tebak sendiri ^-^

Don't Like Don't Read

Author Note:

Aku merasa gagal. Adegan fightingnya garing banget. Yo wislah. Moga-moga para reader gak merasa kecewa. He he he, mungkin rada aneh ya lihat Naruto di ch 11, gak kelihatan heroiknya beda dengan chap sebelum-sebelumnya. Maaf sekali lagi maaf. Gini nih kalo maksain ngetik padahal lagi gak mood. Ceritanya jadi rada hambar. Aku merasa itu chap paling payah, meski typo dah berkurang.

Don't Like Don't Read

Chapter 12

"Jadi begitu ceritanya. Kamu mau pindah?"

"Iya. Maaf, ya? Kamu gak apa-apa kan?"

"Gak kok. Justru aku senang akhirnya kamu berbaikan dengan ortumu. Kapan pindahnya?

"Hari ini soalnya ortuku maksa. Aku kesini mau pamitan. Terima kasih ya, kamu dah banyak nolong aku."

"Tak masalah. Itulah gunanya teman.

'tiiiiin tiiiiiiin tiiiiiiiiiiiiiiin' Ayahnya tak sabaran menunggu pamitan di mobil. Ia minta maaf soal ketidak sopanan ayahnya yang bahkan tak mau menemui Naruto terlebih dahulu. Naruto memakluminya.

Dengan berat hati Ino meninggalkan apartemen Naruto. Derai air mata mengiringi langkahnya begitu juga dengan Naruto. Ia tak bisa menahan air matanya. Ia merasa senang untuk kebahagiaan Ino, tapi juga sedih karena sendiri lagi. Kenangan indah saat mereka bersama bermunculan di benaknya. Saat mereka tertawa, saling bagi tugas, belajar bareng, bertukar cerita dan sebagainya. Itu kenangan indah yang tak akan pernah terlupakan.

Ia segera menutup pintu, tak mau melihat kepergiaan Ino karena itu hanya akan membuatnya tak rela melepas Ino. Ia pura-pura menyibukkan diri mencuci piring yang kotor, tapi sulit. Ia terus-menerus melamun memperhatikan setiap sudut ruangan, membayangkan Ino masih bersamanya. Ia dengan bodohnya memeluk barang-barang yang pernah dipakai Ino karena semua barang Ino sudah dikemas Ino semua. Rasa sakit menyesakkan dada.

Ia tahu ini bodoh. Mereka kan tak berpisah selamanya. Mereka masih bisa bertemu dengan Ino di sekolah, tapi ia tetap tak bisa menahan rasa sesak di dada. Beda benget rasanya antara tinggal bersama dengan hanya ketemu di sekolah. Ia merasa sangat kehilangan. Peristiwa menyedihkan yang pernah dialaminya beberapa bulan yang lalu teringat kembali. Ia pun menangis sesenggukan.

"Halo Nar? Ini aku Gaara."

"Hmm, ya ada apa?" Suaranya sedikit bindeng karena kebanyakan menangis. Ia mengigit bibirnya untuk meredam isak tangis, malu ketahuan Gaara.

"Kamu nangis?'"

"Iya abis lihat dorama. Ceritanya menyedihkan banget. Hik hik hik hiksss." Ujarnya tak sepenuhnya bohong. Ia memang lagi nonton dorama yang sialnya ada adegan perpisahan jadi tangisnya makin tak terbendung. "Ada apa?" Lanjutnya setelah bisa mengendalikan diri dan mengusap air mata di pipi.

"Bisa datang ke rumah sakit? Ada yang mau kami tanyakan."

"Bisa, kok. Tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu." Kata Naruto memutus telepon.

Ia menyambar kesempatan ini untuk keluar, merefresh otaknya akibat didera ingatan menyakitkan. Mendekam di rumah hanya akan membuatnya lebih merana dan mengasihani diri sendiri. Ia bergegas pergi ke rumah sakit, tempat Neji dirawat. Tak sampai sejam, ia sudah berada di kamar VIP. Di sana sudah berkumpul Sasuke cs.

"Halo, gimana kabarmu? Sudah lebih baik?" Sapa Naruto ramah.

"Oh yeah, sebaik orang yang habis terlindas sapi." Ujar Neji sinis. Udah jelas mukanya bonyok. Kedua tangan dan kakinya di gips kayak robot. Masih juga nanya gimana kabarmu? Cuekin aja muka Neji yang asem dan gak tahu terima kasih ini. Bisa-bisanya sama penyelamatnya ngomongnya nyolot banget.

"Kok Cuma Neji yang ditanyain? Kita gak?" komentar Sai genit.

Hiiii, dasar playboy cap badak. Berani banget godain temen ceweknya yang udah dibuatnya tek dung. Kalo gak ingat di rumah sakit dan kasihan ama Hinata yang ketiduran di sofa karena nungguin Neji, udah ditonjok tu orang. 'Sabar Nar sabar. Orang sabar disayang Tuhan' batin Naruto. "Kalian kan jelas baik-baik aja ngapain ditanyain lagi."

"Ya kan basa basi gitu."

"Kebanyakan basa basi nanti jadi basi."

"Elo gak ada manis-manisnya jadi cewek. Cewek itu lembut gak kayak elo nyolot."

"Emang harus gitu. Buat apa-apa aku bermanis muka ama orang macam kalian?"

"Ortumu gak pernah ngajarin kamu bersikap sopan ya?"

"Diajarin, tapi lihat sikon. Orang-orang seperti kalian tak pantas dilemah lembutin."

"Kalo gak mau, buat apa kamu nolongin kita?" kejar Sai mulai terpancing emosi. Heran deh, kenapa ya kalo sama Naruto ia gampang banget marah padahal sama orang lain yang ngomongnya kasar pun ia gak terpancing. Mungkin karena sikapnya yang like Sasuke angkuh dan ketus omongannya, gak pake disaring lagi.

"Karena aku manusia."

"Elo pikir kita bukan?"

"Emang elo merasa manusia? Kok gak kelihatan?"

Sai yang sudah terpancing emosinya hampir aja menabok Naruto, tapi tangannya ditelikung Gaara yang sejak tadi diam, sedangkan Sasuke cuek aja lihat temennya saling ledek. Ia malah asyik duduk manis sambil minum teh. "Damainya." Batinnya sinting gak lihat ada orang berantem di depannya.

"Fisik loe emang manusia, tapi mental binatang. Nyadar gak sih lo? Masalah ini bermula dari kalian. Aku gak akan heran kalo ternyata dalang semua ini orang yang pernah kalian sakiti atau bahkan orang yang paling dekat dengan kalian."

"Kau sudah tahu siapa orangnya?" Akhirnya Sasuke membuka suara.

"Hanya perkiraan."

"Alah gak usah dengerin Naruto. Paling ini ulah Pain atau Orochimaru. Orang yang menyerang Neji kemarin bukannya anak buah Pain sedangkan orang-orang yang membuat kecelakaan parah sehingga Ibiki, sopir Hinata pilih jalan alternatif sesuai rencana mereka anak buah Orochimaru." Ujar Sai meremehkan.

"Bukannn!" Kata Naruto lirih, namun masih bisa didengar semua orang yang ada di ruangan. "Pain sekarang buka cafe 'Akatsuki' yang lagi laris manis, kalo Orochimaru ..." Naruto menggantung kalimatnya dan menggigit bibirnya, ragu bilang apa gak.

"Orochimaru kenapa?" tanya Neji tak sabar sambil menahan rasa nyeri.

"Kau tahu Orochi sensei yang punya peliharaan Manda?"

"Iya tahu, kenapa? Kamu gak bilang kalo mereka orang yang sama kan?" sahut Neji.

"Orochi sensei itu saudara kembar Orochimaru. Aku pernah melihat beliau memutar film di kantor..."

"Terus apa hubungannya?" Potong Neji tak sabar.

"Sabar Ji, biarkan dia menyelesaikan ceritanya." Tegur Gaara.

"Itu film limited edition made in Orochimaru."

"Jadi Orochimaru beralih profesi jadi produser film." Kata Sasuke.

"Paling-paling film porno. Orochimaru gitu loh." Tukas Sai.

"Gak porno kok, hanya temanya saja tentang pelacuran. Tapi sumpeh dari awal sampai akhir gak ada adegan ranjang."

"Kok tahu?" Tanya Gaara heran.

"Aku jadi distributornya kok."

"Oh..." kata Gaara manggut-manggut, masih belum sadar. Lima kemudian mereka teriak histeris. "Apa?"

"Berisik. Emang kenapa? Itu pekerjaan halal kok. Ceritanya bagus, karakter kuat, akting pemainnya keren, dan yang lebih penting kualitasnya OK gak kalah ama film-film yang diputar di bioskop."

"Aku jadi penasaran kayak apa sih filmnya. Kamu bawa barangnya?" tanya Neji.

"Enggaklah, aku jual secara online kok. Hasilnya lebih gede daripada hasil part timeku selama ini. Kau bisa lihat thrillernya di you tube or webku. Kalian bawa laptop or tablet buat nonton?"

Sasuke tak menjawab, tapi memberikan tabletnya. Naruto searching di Google sebentar sebelum klik movie yang tadi dia ceritakan. Mereka termasuk Sai yang tadi meremehkan dengan khidmat nonton. Sumpah, keren abis. Film-film di bioskop sih lewat. Sayang gak bisa nonton secara utuh.

"Kok hanya segitu aja?" kata Sai tak puas

"Kan untuk promosi. Kalo mau ceritanya selengkapnya ya beli dong." Kata Naruto.

"OK, aku beli 10, sekalian buat hadiah untuk yang lain. Kenapa film sebagus itu gak ditayangin di bioskop?"

"Mahal cing. Dana buat promosinya gak ada. Jadi kami menjual secara underground dan internet. Kalian gak beli?"

"Mau." Jawab Sasuke, Gaara, dan Neji serempak. Masing-masing pesan 10 sama kayak Sai. Mereka juga penasaran dengan kelanjutan ceritanya.

"Elo bisa ngubungin Orochimaru?" kata Sasuke.

"Mau apa?"

"Aku mau investasi. Kelihatannya ini bakal jadi bisnis yang menjanjikan."

"OK, sip."

"Jadi kira-kira siapa pelakunya?" tanya Gaara mengembalikan ke topik utama. Ia agak jengah dengan teman-temannya yang omongannya pada melenceng. Terutama Sasuke. Di saat-saat begini masih aja ingat bisnis. Dasar Kapitalis tulen.

"Aku gak bisa ngasih tahu sekarang. Belum ada bukti. Mmm maaf sudah malam, aku pulang dulu." Ujar Naruto dengan sopan pamitan.

"Hati-hati di jalan." Kata Sai lembut membuat ketiga temannya menatapnya heran. Jampi apa yang dipake Naruto sampai bisa membuat seorang Sai berubah jadi lembut dan senyumnya itu loh. Itu senyum paling tulus yang pernah dia berikan. Sama mereka bertiga yang notabene teman akrabnya aja gak segitunya.

"Apa?" tanya Sai risih dilihatin kayak gitu.

"Gak apa-apa." Sahut mereka bertiga kompak.

"Menurut lo siapa pelakunya Sas?" tanya Gaara.

"Kita akan segera tahu, dalam waktu dekat ini. Sebaiknya lebih perhatikan sekitar Naruto. Kalo ada apa-apa, cepat hubungi yang lain jangan bertindak sendiri!"

"Cieh, suit suit Saskay. Elo naksir dia ya? Perhatian banget." Goda Sai

"Bukan begitu. Setelah Neji, giliran Naruto." Tukas Sasuke.

"Gawat, dia dalam masalah besar dong." Kata Sai panik. Gitu-gitu juga Sai udah nganggap Naruto layaknya saudara.

"Tenang. Naruto udah tahu kok. Ia pasti lebih hati-hati lagi. Untung Ino gak lagi tinggal bareng dia, jadi aman."

"Sepertinya kau sudah tahu identitasnya, Sas?" Tanya Neji.

"Ya. Aku sudah menyelidikinya. Ia orang biasa saja sama seperti kita. Dia bukan agen apalagi anggota geng dan yakuza. Dia tak semisterius yang kita duga."

"Gak mungkin. Orang dia kuat banget, cekatan, cerdik lagi. Dia kenal mantan Yakuza dan Gengster. Dan yang terpenting ia orang penting ayahmu. Dimana letak biasanya. Dia itu istimewa." Tukas Sai yang sudah berhadapan dengan naruto. Dia dikalahkan Naruto telak. Ia juga pintar menganalisis yang bahkan tak terpikirkan Sai.

"Kan mantan bukan Yakuza tulen. Dia itu bener hanya orang biasa. Yang membuatnya luar biasa itu ayahnya."

"Ayahnya sukarelawan kan? Apa hubungannya?" Ganti Gaara yang nanya.

"Ia sukarelawan di Timur Tengah yang lagi rusuh. Naruto biasa membantu ayahnya mengirim bantuan kemanusiaan untuk pengungsi. Ia bahkan pernah terjun ke medan perang untuk menyelamatkan korban perang yang masih hidup. Makanya jangan heran kalo dia jago banget, medannya berat Cing. Itu medan neraka bagi semua tentara di dunia. Mereka pasti bergidik hanya dengar namanya saja."

"Itu sih bukan biasa aja, Sas. Itu bahkan lebih hebat dari perkiraanku semula. Gila jadi sukarelawan di tempat neraka dunia gitu." Kata Neji yang diamini Sai dan Gaara takjub. Kok ada ya cewek seberani itu. Mereka aja belum tentu berani menginjakkan kaki ke situ. "Trus apa hubungannya dengan ayahmu?" lanjut Neji.

"Ayahnya pernah nolongin orang tuaku yang diculik para Mujahidin saat perjalanan dinas ke negara teluk. Makanya mereka langsung mengiyakan permintaan Minato san sebelum meninggal untuk menolong Naruto keluar dari Yaman yang sedang dilanda kudeta. Hanya itu saja satu-satunya yang bisa mereka lakukan karena Minato dan Kushina san menolong semua hadiah."

"Dia benar-benar hebat ya. Lebih hebat dari para agen. Agen-agen itu digaji dan dibantu saat situasi memburuk. Sedangkan keluarga Naruto menolong tanpa mengharap imbalan. Aku makin salut sama dia."

"Makanya itu kita harus jagain dia, DARI JAUH. Ingat itu. Kemungkinan ia bakal dituduh teroris. Jangan membantu dari dekat. Diam-diam saja."

"Kenapa begitu Sas?"

"Kalo gak gitu, kita gak bisa menangkap basah pelakunya. Sudah ah aku capek. Mo istirahat. Aku masih jet leg. Habis dari bandara langsung kesini." Kata Sasuke lalu ambil posisi tidur di sofa. Gak nyaman sih sebenarnya, tapi dari pada pulang. Dia sudah gak sanggup lagi buka mata. Naruto aja bisa tidur beralaskan tanah keras dan dinging, masa dia gak mampu.

Gaara dan Sai menghela nafas panjang, maklum. Mereka lalu berkutat dengan aktivitas masing-masing. Sai memantau Ino sedangkan Gaara memantau Naruto lewat radar yang mereka pasang di hp mereka berdua.

SKIP TIME

Persis seperti perkiraan Naruto. Bullynya semakin hebat dan parah. Ia tak hanya dibully di sekolah, tapi juga di lingkungan masyarakat. Secara halus para penghuni apartemen meminta pengurus mengusirnya atas tuduhan meresahkan dan ditolak secara tegas. Alasannya Naruto tak menyewa apartemen ini, tapi membelinya. Catat membelinya. Dia diberhentikan dari tempatnya part time selama ini. Ia tak mendapat pelayanan kesehatan dan transportasi umum. Mereka menolak melayaninya dengan alasan mengada-ada.

Apa itu saja? Gak ada yang lebih buruk lagi. Tak ada transaksi jual beli diantara mereka. Ia tak bisa membeli kebutuhannya sehari-hari di supermarket dekat rumah. Jadi kalo mau beli makanan dll, Naruto harus ke kota sebelah yang jaraknya ada sekitar 20 km pake sepeda. Tak jarang Naruto jalan kaki karena sepedanya sering dirusak sedangkan bengkel menolak menerimanya dan itu bisa memakan waktu sehari semalam untuk bolak-balik. Karena kesulitan mendapat makanan inilah, Naruto jadi terpaksa beberapa kali makan dua hari sekali dan memperbanyak minum air. Ia mengikat perutnya dan mengganjal perutnya dengan batu. Jika sudah tak tahan ia makan bunga yang tumbuh di halaman sekolah. Semua kesulitan diterimanya dengan sabar. Ino, Hinata, dan Big Four tak tinggal diam. Mereka secara diam-diam mengiriminya bahan makanan. Mereka dilarang menemui Naruto secara langsung oleh orang tuanya, kecuali Gaara dan Sasuke apalagi berteman.

Diantara yang terburuk masih ada yang lebih buruk lagi. Ia tak bisa mengirim pesanan pelanggan lewat jasa pengiriman. Naruto menggigit bibir bawahnya cemas, takut dipecat. Lalu gimana caranya ia mendapat uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Padahal tabungannya semakin menipis. Untung Kiba dengan berani membantunya mengirim semua stok barang. Ia jadi bisa bernafas lega. Masih ada yang bisa dipake menyambung hidup.

Tiap keluar rumah ia punya rutinitas sehari-hari. Ada penghuni apartemen yang tinggal di lantai 3 senang menyiramnya pake air bekas pel atau air kotor lainnya. Karena terbiasa ia selalu memakai jas hujan atau payung untuk mengurangi dampaknya. Semua diterimanya dengan senyum terkembang di bibirnya. Tak pernah sekalipun ia mengeluh apalagi marah.

"Gimana nih Sas? Kondisinya makin buruk. Aku kasihan pada Naruto." Kata Neji prihatin. Ia punya adik perempuan yang amat disayanginya jadi lebih mengerti penderitaan Naruto. Meski demikian ia salut dengan Naruto yang tabah banget. Kalo dia mungkin, ia bisa bunuh diri.

"Kamu pikir aku gak? Sabarlah, dua hari lagi kita bertindak."

"Kenapa nunggu dua hari?" tanya balik Neji.

"Dua hari lagi ada rapat POMG membahas di DO-nya Naruto. Saat itu kita bertindak sekaligus menangkap pelaku."

"Aku mengerti. Aku sudah siap untuk itu."

Mereka pun membubarkan diri abis rapat dadakan. Masing-masing mempersiapkan diri sambil memikirkan Naruto yang kondisinya makin memperihatinkan. Tubuhnya jadi makin kurus. Kurang gizi mungkin.

SKIP TIME

"Dua hari lagi, tamat riwayatmu. Selanjutnya kalian pun akan segera menyusul." Kata orang itu puas. Ia tak sabar menunggu bergantinya hari. Ia ingin melihat tangisan kekalahan Naruto. Selama ini ia sebal dengan sifat sok tangguh Naruto yang anti mengeluh, menangis apalagi putus asa. Rasanya batinnya belum puas kalo belum membuatnya menangis. Padahal hidupnya yang sudah sulit makin sulit. Namanya juga the mosleem. Mereka itu seperti kuman yang bisa hidup di mana saja, menyesuaikan diri di tempat yang bahkan kotor seperti tempat sampah.

TBC

Nah sekarang terjawab kan identitas Naruto juga hubungannya dengan Fugaku Uchiha. Biasa aja kan, gak ada yang istimewa.