Number Nine

Kisah klasik mengenai kehidupan asrama siswa badung yang kemudian menjadi persahabatan yang indah. Ada cinta, harapan, tawa, kesedihan dan juga kebahagiaan.

YAOI, SMUT, PORNOGRAPHY a Little, OOC, and Typo.

Pairing : Chanbaek (Main Pair), Kaisoo, Hunhan, KrisTao, dll.

Main Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Mr. Han (OC).

Do Kyungsoo, Kim Jongin, Oh Sehun, Park Luhan (Marga saya ganti), Suho, Kris Wu, Kim Minseok, Chen, Tao, dan Lay.

Genre : Humor, Roman, drama.

Warning : Terinspirasi dari karya, Anthony Buckeridgeyang brilliant, tapi cerita sepenuhnya milik saya. No to Plagiator!

.

.

.

.

.

20. Percaya padaku

Chanyeol diam. Menatap Baekhyun yang dengan telatennya membantu Mr. Han mengobati luka-lukanya. Begitu terjadi keributan tadi siang, secara kebetulan Mr. Han datang bersama Mr. Choi. Memang, awalnya, baik Kyungsoo maupun Baekhyun tidak berniat memberitahukan kejadian ini pada Mr. Han.

Chanyeol juga begitu. Dia tidak sengaja memancing emosi Jongin. Anggap saja dia keterlaluan atau sedang frustasi. Intinya, sejahat apapun Park Chanyeol, dia tidak ada keinginan untuk menjatuhkan Jongin. Apalagi Mr. Han terkenal sebagai guru yang tegas. Apapun yang menyangkut dengan kekerasan—Mr. Han tidak akan tinggal diam. Beliau adalah guru yang memegang teguh prinsip mengajarnya.

"Apa yang membuat kalian bertengkar?" tanya Mr. Han pelan. Guru berkharisma itu meletakkan obat-obatnya dan menatap Chanyeol dengan pandangan teduh. Pandangan yang lain dari biasanya.

Chanyeol menatap Baekhyun sekilas sebelum menjawab, "Tidak ada masalah serius. Jangan hukum Jongin, sonsaengnim."

Mr. Han tahu sebenarnya Chanyeol adalah anak yang baik. Dia memang dingin dan terkadang bermulut pedas, tapi hatinya tidak sekaku kelihatannya. "Kau yakin? Apakah aku perlu memanggil kedua orangtuamu?"

Tubuh Chanyeol langsung menegang.

"Tidak perlu, Mr. Han. Aku sudah memaafkan Jongin." Mr. Han tahu mengapa Chanyeol keberatan saat dia menyebut orangtuanya. Mr. Han tahu soal latar belakang dan riwayat murid-muridnya. Termasuk soal kedua orangtua Chanyeol. Diam-diam, Mr. Han memang mencari tahu tentang Chanyeol. Bukan maksud apa-apa—Mr. Han hanya ingin tahu kondisi murid-murid kelasnya.

"Kau mungkin telah memaafkan Jongin, tapi peraturan tetaplah peraturan. Aku akan memanggil orangtua Jongin ke sekolah."

Chanyeol diam. Dia tidak tahu harus merespon apa. Dia hanya menatap Baekhyun yang dari jarak sedekat ini, pria cantik itu masih saja menangis. Meskipun sudah tidak sehisteris tadi, mata Baekhyun masih sembab dan sedikit berair.

"Kau perlu bicara berdua saja dengan Jongin, Chanyeol," tegur Mr. Han tegas. Dia mendapati Chanyeol hanya mengangguk tapi tatapan matanya masih ajeg tertuju pada Baekhyun. Mr. Han mengerti. Tadi Baekhyun menangis saat melihat wajah Chanyeol yang babak belur.

Mr. Han tahu bahwa mereka sangat dekat—jadi wajar kalau Baekhyun begitu mengkhawatirkan kondisi Chanyeol.

"Baek, kita tinggalkan mereka berdua disini."

"Hm... Tapi, Mr. Han," ucap Baekhyun ragu. Dia ingin berbicara sebentar pada Chanyeol. Baekhyun khawatir. Dia ingin menanyakan keadaan pria itu. Apakah dia baik-baik saja? Apa yang sedang terjadi? Kenapa Jongin sampai memukulnya? Dan Mr. Han yang pengertian langsung paham dengan keinginan Baekhyun itu. Dia menghela nafas dan mulai menyingkirkan kotak obat-obatannya.

"Baiklah. Kau boleh bicara dengan Chanyeol. Setelah itu, ajak Kyungsoo makan siang bersama yang lainnya. Aku akan memanggil Jongin."

Baekhyun mengangguk dan tersenyum pada Mr. Han. "Terima kasih, Mr. Han."

Mr. Han keluar dari bus. Meninggalkan mereka berdua. Tiba-tiba suasana menjadi hening. Chanyeol yang terbiasa diam juga tidak tahu harus berbicara apa. Sedangkan Baekhyun, dia terus memainkan ujung kausnya, gugup.

"Kau tidak apa-apa?"

"Hn."

"Kenapa Jongin memukulmu?"

Chanyeol tidak menjawab. Dia memejamkan mata sambil menahan perih di seluruh wajahnya. Obat-obatan itu mulai bekerja. Rasa dingin yang tadi dirasakannya mulai berubah menjadi rasa nyeri saat obat itu mulai merembes. Memar di wajahnya juga mulai ngilu.

"Apakah sakit sekali, Yeol?"

"Hn," jawab Chanyeol singkat. Matanya masih enggan menatap Baekhyun. Menatap apapun yang ada di dalam bus jauh lebih menarik ketimbang menatap wajah Baekhyun. Apapun, asal bukan wajah Baekhyun. Setidaknya, untuk saat ini.

"Maafkan aku, Yeol..."

Baekhyun fikir Chanyeol marah padanya. Bagaimanapun, yang memukul Chanyeol adalah teman baiknya. Apa mungkin Chanyeol marah? Bahkan hanya memikirkannya saja, membuat hati Baekhyun berdenyut sakit. Apakah dia begitu mencintai Chanyeol?

"Maafkan aku, Chanyeol."

"Untuk apa kau minta maaf?"

Baekhyun menunduk. Dia bingung. Kenapa suara Chanyeol tiba-tiba terdengar begitu dingin? Tadi semuanya masih baik-baik saja. Baekhyun sudah akan membuka mulutnya—meminta maaf tapi Chanyeol sudah keburu memotong. "Jangan bicara lagi. Mulutku sakit kalau bicara."

Baekhyun mengangguk dengan ragu.

Mungkin Chanyeol butuh sendiri, begitu yang ada di fikirannya. Maka, dengan sedikit canggung, Baekhyun memberanikan diri untuk menatap Chanyeol. Pria itu sekarang malah menatap tepat ke mata Baekhyun. Membuat Baekhyun tambah gugup ditatap seperti itu. "Hm... Kalau begitu, aku pergi dulu. Istirahat saja."

"Hn. Pergilah."

Baekhyun hanya mengangguk. Dia sudah berbalik tapi tiba-tiba dalam dua detik, Chanyeol sepertinya berubah fikiran. Dia malah mencekal tangan Baekhyun. Baekhyun terdiam. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat. Sesuatu yang tak lagi asing saat dia bersama dengan Chanyeol.

"Kau kan ingin istirahat. Jadi, lepaskan aku."

Baekhyun mencoba melepaskan tangan Chanyeol. Tapi susah. Tenaganya tak seberapa dibanding tenaga Chanyeol. Jadi, saat Chanyeol memeluknya, Baekhyun hanya diam. Dia sebenarnya memang ingin memeluk Chanyeol—menenangkan pria itu, mengelus punggungnya tapi sikap Chanyeol yang tadi dingin membuat Baekhyun mengurungkan niatannya.

Chanyeol mengelus rambut hitam Baekhyun. Dia tidak akan melupakan wangi sampo Baekhyun. Betapa lembut rambut hitamnya dan kenyataan bahwa rambut Baekhyun sudah mulai panjang. Semakin terlihat cantik.

"Kau akan mempercayaiku sampai akhir, kan?"

Baekhyun terdiam untuk sesaat tapi kemudian menjawab. Kali ini dengan usapan lembut di punggung Chanyeol. "Tentu. Kau kenapa?"

Baekhyun ingin melepas pelukan Chanyeol. Melihat wajah kekasihnya. Tapi, Chanyeol menahan pergerakan Baekhyun. Dia tidak ingin Baekhyun melihat wajah putus asanya. Atau bagaimana air mata itu mulai turun secara perlahan.

"Chan..."

Chanyeol adalah lelaki yang kuat. Dia tidak pernah menangis. Tangisan pertama lelaki itu adalah ketika ibunya mengalami depresi. Tangisan kedua ketika sang ibu dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Tangisan ketiga, ketika ayahnya menikahi wanita lain. Wanita yang sekarang masih dan akan selalu dibencinya.

"Kenapa kaosku basah. Kau menangis, Chan?"

Chanyeol bukan lelaki cengeng. Dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba dia menangis. Chanyeol tahu. Tahu bahwa sekarang, Baekhyun adalah orang yang spesial baginya. Chanyeol tidak bisa mengikari hal itu. Baekhyun adalah orang yang sangat berarti baginya. Karena pertama kali Chanyeol bisa menangis selain tentang ibunya.

"Kau tidak apa-apa, kan, Yeol?"

Baekhyun bingung. Kenapa Chanyeol tiba-tiba berkata seperti ini. Dan kenapa Chanyeol menangis? Kenapa hatinya tiba-tiba merasa cemas?

"Maaf kalau aku mengganggu kalian." Baekhyun melepas pelukannya. Dia bisa melihat Jongin yang menghampiri mereka berdua. Tatapannya masih penuh dengan emosi. Meskipun Baekhyun tidak tahu apa yang membuat mereka bertengkar tapi, Baekhyun tidak suka saat Jongin menatap Chanyeol dengan tatapan benci seperti itu.

Ada rasa tidak rela. Tentu saja, Chanyeol adalah kekasihnya. Orang yang dia cintai. "Jongin, kau itu kenapa? Jangan bersikap begitu pada Chanyeol!"

Jongin mendesis—menggerutu.

"Mr. Han menyuruhmu keluar."

Baekhyun menatap Chanyeol sebentar, seolah mengatakan, 'Tidak apa aku meninggalkanmu disini dengan Jongin?' Dan senyuman tipis Chanyeol adalah jawabannya.

"Aku pergi dulu, Chanyeol. Sampai jumpa."

Baekhyun mencium pipi Chanyeol. Meskipun rasanya malu karena ada Jongin tapi, Baekhyun ingin melakukannya. Tidak perduli dengan tatapan Jongin yang seakan memarahinya. Baekhyun tidak perduli.

"Jangan bersikap aneh-aneh lagi, Jongin! Chanyeol itu kekasihku! Bersikap baiklah padanya!" Tegur Baekhyun dengan muka yang tegas. Meskipun wajahnya sangat imut dan juga cantik—Jongin tidak akan tegoda aegyo temannya ini. Dia masih belum bisa bersikap baik pada Chanyeol.

"Jongin!" Baekhyun berteriak. Jongin tidak membalas perkataannya. Chanyeol menahan lengan Baekhyun yang sudah akan mendekati Jongin. Mengelus sedikit rambut hitam Baekhyun. "Kau pergi saja. Aku baik-baik saja disini."

Baekhyun tersenyum—mengiyakan perkataan Chanyeol. Baekyun langsung keluar dari bus. Sesuai perintah Mr. Han, dia mengajak Kyungsoo untuk makan siang bersama teman-temannya.

Keadaan hening setelah Baekhyun pergi. Chanyeol meringis beberapa kali; masih merasakan rasa nyeri di wajahnya. Jadi, dia tidak bisa berbicara banyak. Dan Jongin, dia masih terlalu marah pada Chanyeol.

"Aku tidak akan meminta maaf."

Jongin memecah keheningan. Dia fikir, Chanyeol tidak mungkin akan memulai pembicaraan. Jadi Jongin melupakan soal harga diri atau semacamnya.

"Aku tidak menyesal telah memukulmu."

Chanyeol tersenyum miring. Meskipun wajahnya sudah babak belur, tapi gayanya yang sombong masih belum berubah sama sekali. Dan Jongin tidak suka. Tidak suka dengan wajah sombong pria ini.

"Kau mencintai Baekhyun?"

Chanyeol tertawa dengan pertanyaan Jongin yang sama. "Kau masih saja bertanya pertanyaan konyol seperti itu?"

"Jawab saja, brengsek!"

Jongin mencengkram kerah Chanyeol. Dia bisa melihat tatapan datar dari pria itu. Bagi anak-anak kelas sembilan, itu sudah biasa. Tapi, kali ini yang berbeda adalah pandangan kosong Chanyeol. Pria itu menatapnya tanpa semangat sama sekali. Bukan lagi pandangan meremehkan atau semacamnya.

"Kenapa? Mau memukulku, kan? Pukul saja."

Jongin diam. Ada sesuatu yang salah disini. Dia bisa melihat dengan jelas kalau pandangan Chanyeol ke Baekhyun itu berbeda. Jika dengan anak-anak yang lain, Chanyeol tanpa ekspresi sama sekali. Tapi kalau dengan Baekhyun, Chanyeol berubah menjadi lembut. Matanya teduh dan dia memperlakukan Baekhyun dengan baik. Dia juga tidak pernah mengeluh. Apapun masalah konyol yang dihadapi Baekhyun, Chanyeol selalu berada di sampingnya.

"Kenapa diam?"

Jongin mendesah, kenapa tiba-tiba dia ragu?

"Jangan bertanya pertanyaan konyol itu lagi."

"Apakah kau mencintai Baekhyun?" Seolah tuli, Jongin justru mengulang pertanyaan yang sama. Chanyeol menggertakkan giginya. Dia marah sekali. Chanyeol berdiri dari duduknya. Dia mencengkram kerah Jongin. Mereka saling bertatapan. Menyelami pikiran masing-masing.

"Kenapa kau masih bertanya? Apakah aku harus menjawab pertanyaan yang jelas-jelas kau sudah tahu jawabannya?"

Jongin tersentak. Ya, sebenarnya dia tahu jawabannya. Chanyeol mencintai Baekhyun. Sangat mencintainya. Dilihat dari segi manapun, Jongin tahu betul perasaan Chanyeol. Pria itu tidak pernah mengeluh melakukan hal-hal konyol jika bersama dengan Baekhyun. Menerbangkan payung milik sekolah hanya karena penelitian konyol, memanjat atap hanya untuk mengambil bola bisbol yang tersangkut. Semua pernah dilakukan Chanyeol. Semua anak-anak kelas sembilan juga tahu hal itu. Jadi, kenapa Jongin meragukan Chanyeol?

"Kau masih bertanya, padahal jelas-jelas kau tahu jawabannya," ucap Chanyeol sinis. Jongin melepas cengkramannya. Menatap Chanyeol dengan pandangan bingung dan juga marah. "Kenapa kau membuatku salah paham kalau ternyata kau mencintai Baekhyun, brengsek!"

Chanyeol tersenyum miring. Dan Jongin bersumpah, dia bisa melihat wajah sedih Chanyeol barusan. Jongin sedikit demi sedikit mulai mengerti, bahwa Chanyeol tidak akan menampakkan wajah sedih secara terang-terangan. Dia akan menyembunyikan rasa sedihnya dengan bersikap menyebalkan atau bersikap angkuh.

"Apa maksudmu mengatakan hal menyebalkan seperti tadi? Mengatakan Baekhyun murahan, tidak memuaskanmu. Apa maksudmu sebenarnya?"

Wajah Chanyeol terlihat santai. Dia menunggu Jongin menuntaskan semua uneg-unegnya. Dan benar saja, Jongin masih terus bertanya pada Chanyeol. Meskipun, kali ini wajah Jongin mulai bersahabat.

"Aku tahu kau tidak tertarik dengan wanita. Pramugari cantik kemarin saja, jangankan menyukainya, kau bahkan tidak menoleh sama sekali. Kau gay, Chanyeol!"

Chanyeol menyeringai.

"Yes, I'am."

Jongin mendesis, marah.

"Lalu kenapa kau membuatku memukulmu? Kau sengaja mau menjatuhkan aku?"

Chanyeol diam selama lima detik sebelum menjawab. Kali ini, jawaban yang benar-benar jujur dari dalam hatinya.

"Kau adalah orang yang tepat untuk menjaga Baekhyun. Kau menyayanginya, tentu saja. Aku akan lebih tenang kalau kau yang menjaganya dibanding Daehyun ataupun yang lainnya."

"Apa?"

"Aku hanya mengetesmu tadi."

Chanyeol tertawa. Dan Jongin berani bersumpah, dia bisa melihat sisi hangat Chanyeol dari sini. Matanya yang menunjukkan kehangatan, Jongin suka dengan tatapan mata Chanyeol saat ini. Apalagi, kalau diingat-ingat lagi, bukankah ini pertama kalinya Chanyeol tertawa bersama dengannya?

"Bagaimana bisa kau mengetesku seperti itu dan..."

"Aku akan pergi ke London," potong Chanyeol cepat. Matanya beralih menatap Jongin yang kini hanya bisa melotot mendengar ucapan Chanyeol barusan. London? Apa maksud pria ini sebenarnya?

"Kau mau ke London? Kau bercanda, kan?"

Chanyeol diam, itu artinya dia serius.

"Hei, hei, bagaimana dengan Baekhyun?"

Chanyeol mengepalkan tangannya. Rasa marah, sedih, takut dan segalanya. Pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di kepalanya sampai saat inipun, Chanyeol belum bisa menemukan jawabannya.

Pertanyaan sederhana tapi tidak bisa dijawab. Pertanyaan seperti, 'Apa aku bisa meninggalkan Baekhyun sendirian?' Atau 'Apa aku bisa hidup tanpa Baekhyun di sisiku.

"Yeol! Katakan sesuatu!" Bentak Jongin marah. Dia bisa melihat wajah putus asa Chanyeol. Tapi karena Chanyeol hanya diam, justru membuat Jongin makin merasa kesal. Kenapa pria ini harus memendam semuanya sendirian? Kenapa Chanyeol tidak bercerita pada siapapun? Kenapa pria ini tidak mengatakannya pada Baekhyun?

"Ibuku memaksaku untuk pindah sekolah. Tadi ibuku yang menelpon. Dia itu monster."

"Ibumu monster?" tanya Jongin tidak percaya. Seburuk-buruknya seorang ibu, dia tidak mungkin seorang monster. "Dia ibu tiriku..."

Jongin terdiam. Kaget.

"Ibumu, bagaimana bisa?"

"Apa aku harus mengatakan semuanya padamu?" Jongin lupa kalau Chanyeol itu memang menyebalkan. "Aku ingin kau menjaga Baekhyun."

"Karena aku lolos tesmu, makanya kau menitipkan Baekhyun padaku, begitu?" Chanyeol mengangguk. Dia sudah mulai malas bicara. Jongin terlalu banyak tahu.

"Baekhyun belum tahu?"

"Belum."

"Kalau kau tidak mau mengatakannya, aku yang akan memberitahu Baekhyun. Setidaknya, kalian harus mengucapkan kata perpisahan. Jangan seperti ini."

Chanyeol tidak menjawab. Pandangannya masih tertuju pada layar ponselnya. Disana, ada gambar Baekhyun. Sedang tersenyum dengan eyes smilenya. Sangat cantik. Diam-diam, Chanyeol mengelus gambar walpapernya. Perasaannya tak menentu sekarang.

"Kapan kau akan pergi?"

"Dua minggu lagi."

"Secepat itu?" Jongin jelas saja kaget. Lagipula, kenapa Chanyeol tiba-tiba pindah. Dia tidak pernah ada masalah di sekolah. Chanyeol juga termasuk siswa yang pintar. Dia bahkan disukai oleh guru-guru karena sikap antengnya. Jadi, kenapa ibunya menyuruhnya untuk pindah?

"Aku ingin tidur, kau keluarlah."

Jongin menghela nafas panjang. Mungkin Chanyeol sedang banyak fikiran. "Aku minta kau mengatakannya pada Baekhyun. Meskipun, kau tidak begitu pandai berkata-kata, tapi setidaknya, Baekhyun harus tahu dulu."

"Hn."

Chanyeol tetaplah Chanyeol. Dia akan menjawab apapun dengan singkat. Jongin mulai maklum sekarang.

"Chanyeol!" Pekikan dan dorongan pintu bus yang keras, membuyarkan lamunan Chanyeol. Dia hanya menatap malas ke arah Yejin yang baru dua puluh detik yang lalu, mengiriminya pesan. Wanita itu sudah ada disini. Cepat sekali!

"Annyeong Haseyo."

Yejin tersenyum kikuk. Dia tidak tahu kalau Jongin ada disini. Tahu begitu tadi dia bersikap lebih anggun. Kan malu dilihat pria populer seperti Jongin. Yah, meskipun tipe ideal Kim Yejin adalah Lee Min Ho aktor drama itu.

"Ah. Annyeong, Yejin-ah."

Jongin tahu diri kalau dia akan jadi pajangan disini. Jadi, dia membiarkan Chanyeol berbicara dengan Yejin. Mungkin mereka memang ada sesuatu yang penting yang mau dibicarakan.

"Aku pergi dulu, Chanyeol. Istirahatlah."

"Hn."

Yejin menunggu Jongin benar-benar turun baru dia bisa bicara serius pada Chanyeol. "Kau serius kau akan pindah ke London?" Dengan gaya jauh dari anggun atau semacamnya, Yejin memegang kerah kemeja Chanyeol. Dia marah karena pria ini tidak memberitahunya.

"Tenanglah, Yejin..."

"Apa dia yang menyuruhmu?"

"Siapa lagi."

Yejin melepaskan cengkraman tangannya. Dia duduk di samping Chanyeol dengan tampang datar. Dia sedang berfikir sekarang. "Aku tidak bermaksud apa-apa. Tapi, aku merasa bahwa ada orang dalam yang menjadi mata-mata wanita itu."

"Mata-mata?"

Chanyeol terdiam, memikirkan ucapan Yejin. Benar. Tidak mungkin wanita itu tahu tentang segalanya. Tentang Baekhyun. Tentang teman-temannya dan tentang kamar asramanya.

"Kau benar. Iblis itu tidak mungkin tahu hubunganku dengan Baekhyun kalau tidak ada orang yang memberitahukannya."

"Aku sudah mengeceknya. Bahkan Paman Jung membantuku langsung. Dan aku mendapatkan satu nama."

Paman Jung adalah paman kandung Yejin. Dia bekerja di FBI dan dia termasuk orang yang bisa diandalkan.

"Satu nama? Sudah kau pastikan?"

"Sudah. Aku bahkan menyadap nomor ponselnya."

Yejin memberikan satu bandel kertas yang dari tadi dibawanya. Kertas itu sebelumnya di taruh di amplop bewarna coklat. Dan dari ekspresi Chanyeol barusan, Yejin langsung tahu kalau Chanyeol sedang marah sekarang.

"Kau terkejut?" tanya Yejin sambil menahan tawa. Chanyeol menatap Yejin sinis. "Ini bukan sesuatu yang lucu, Kim Yejin."

"Jangan bilang, kau mempercayainya?"

"Aku hanya tidak menyangka."

Chanyeol menyeringai. Dan jangan harap Yejin adalah tipikal wanita yang lemah lembut dan menenangkan emosi Chanyeol. Dia malah ikut-ikutan menyeringai. Sepertinya akan ada sesuatu yang menarik setelah ini.

"Kita perlu bekerja sedikit lebih keras, Chan. Berapa waktu yang kita punya?"

"Dua minggu. Hanya dua minggu. Tidak sulit, bukan?" Yejin tertawa mendengar keraguan Chanyeol. Dia bukan Yejin yang dulu. Yejin yang lemah yang hanya bisa ditindas dan dihancurkan. Yejin yang sekarang adalah Yejin yang berbeda dari dua tahun yang lalu.

"Bahkan meskipun itu hanya tiga hari, aku tidak masalah, Park!"

TBC

Kemarin aku dibash abis2an gegara chapter kemarin. Sampe2 Yu sayang nodong aku lewat BM dan minta happy ending. Ngga tahu apa kalau aku semakin dilarang, semakin pengen buat #digebuk masa.

Dan soal masa lalu Chanyeol dan Yejin; tenang, itu udah aku siapkan satu chapter full kok. Ini udah aku buat jauh sebelum aku memulai konflik jadi udah aku fikirin mateng2 konfliknya.

Dan yang merasa kemarin nebak kalau Chanyeol ngga sejahat itu, dia pasti punya alasan, Chanyeol mencintai Baekhyun, dll; yapp, kalian benar. Kalau dilihat dari chapter sebelumnya, emang Chanyeol langsung berubah sejak dia menerima telepon itu kan.

Yang terakhir, boleh minta review nya?

Bom syakalaka Bom syakalaka, EXO! Chukae borong 4 piala \(^^)/ Yeyyy! Dan saya mendapat banyak BM dari teman2 ELF yang langsung ngebash aku. Yang jadi pertanyaannya, bukan kenapa EXO yang menang, tapi, EXO yang menang, kenapa gw yang dibash? #tanya pada rumput yang bergoyang...

Oke dah, gw dengerin keluh kesah mereka. Tapi lama-lama gw eneg juga kan. Gw bash juga tuh dia. Dia langsung diam abis gw bilang, "Eh *tittt#nyebut nama# lo tahu ngga sih, kenapa EXO menang? Di MAMA itu voting hanya menentukan 20%, sisanya itu kewenangan juri.

Yang menang SUJU ataupun EXO, ngga ada bedanya. Mereka satu management woi!

Ya udahlah, fansnya seharusnya bisa kayak SUJU yang tetep adem ayem aja tuh EXO menang. Kenapa malah fansnya yang fanwar dimana-mana.

Mereka berteman baik, saling mendukung satu sama lain, kenapa fansnya yang malah merusak kesolidaritasan mereka. #Ini udah merusak namanya.

Yang jadi pemain utamanya aja santai2 tuh. Kenapa kalian yang repot? Saya suka Suju, bagaimanapun, saya dulu ELF. Dan waktu tahu SUJU polingnya ngalahin Exo, reaksi gw cuma, 'SUJU kan emang senior. ELF juga solid.'

Trs pas Winner yang menang, 'Ah... mereka beda genre sama EXO. Lagian lagunya juga bagus.'

Udah gitu doang.

Jadi, kenapa mesti ada fanwar kalau kita sama2 menikmati musik mereka. Please deh ini zaman globalisasi, semua orang bisa mengakses apapun, berhak menyukai apapun. Jadi, tinggal lihat, nikmatin dan hargai musik mereka aja. Selesai kan.

Dan di MAMA juga ada peraturan kalau yang ngga dateng, nilainya dipotong 50%, itu bentuk dari sikap profesionalitas.

Jadi, yang bilang EXO curang, EXO ngga pantes debut, please deh, siapa elu berhak nilai-nilai EXO. EXO ngga pantes debut? Hello, pernah lihat dance2nya EXO kan.

Suaranya mereka itu kece2, dan mereka (yang masih bertahan sampe sekarang) adalah kumpulan orang2 yang punya mental baja. Mereka sangat hebat menurutku. Terlepas dari banyak orang yang bilang ini tahun buruk buat EXO, mereka tetap melanjutkan konser, melanjutkan aktivitas mereka, tetep kuat demi fans, ngulang koreonya lagi, apa itu yang anda2 semua bilang, EXO ngga pantes debut?

Itu yang disebut ngga pantes jadi idola? Aku aja yg udah lama suka kpop ngga pernah tuh bilang, sebuah group ngga pantes debut, itu penghinaan banget menurutku.

Oke gw udah mulai emosi, aku akhirin aja deh ceramahnya. EXO JJANG!