~ I'm Sorry, I Can't Be Perfect ~

.

.

.

.

Ikatan tali yang seharusnya kuat pun mulai merenggang

Nampaknya, sejak awal ...

Perahu ini tak dapat berhenti untuk berlabuh

(Aimer - Polaris)

.

.

.

.

Ada sebuah keheningan mencekam dan terpecah dengan suara yang begitu berat. "Shixun." Sehun memberi jeda lama, ekpressi wajahnya berubah menjadi semakin serius dengan pandangan tajam. "Apa? .. Dia anakku?"

Zitao, wanita itu tidak mengerjapkan matanya sama sekali. Menatap lurus wajah yang selalu ia puja dari dulu sampai sekarang dengan bibir tidak mengatup rapat. Perasaan aneh menjalar ke setiap inci tubuhnya, lebih dominan pada perasaan terguncang.

"A-apa?" gumamnya memastikan dan mencoba terlihat baik – baik saja di hadapan Sehun.

"Shixun. Dia anakku bukan?"

"B-bagaimana kau tahu?" tenggorokannya terasa kelu sekali mengucapkannya.

"Kalau begitu dia anakku?" Mata milik pria itu bersinar penuh harap, membuatnya semakin tersudut tanpa sebab. Ia menggeleng pelan mencoba mengelak fakta yang menyakitkan itu, walaupun bukan sepenuhnya seperti itu, ada sedikit kebahagiaan karena Shixun adalah anak Sehun.

"Tidak, ma-maksudku.. bagaimana kau menyimpulkannya?" mencoba memberikan ekpressi terbaiknya untuk mendukung kebohongan besar perdananya.

Pandangan pria itu melembut, "Aku hanya merasa."

"Lucu sekali." Untuk pertama kalinya ia mencoba bersikap sinis pada seseorang dengan ketus, walaupun dengan suara yang pelan. Tapi sepertinya ia berhasil melakukannya.

"Lalu anak siapa itu? Kalau bukan aku?" tanya Sehun tak ingin menyerah dan mendesak Zitao.

Bibirnya terkatup rapat, menatap nanar pria itu dengan dada yang bergemuruh. Tak ingin menjawab dan memang tak bisa menjawab.

"Hari ini aku mengajaknya membeli es krim. Aku membelikannya es krim rasa coklat dengan campuran kacang tanah." Mata Zitao melebar dalam sekejap. Bibirnya bergetar menahan perasaan tidak suka dan khawatir sekaligus.

"Kupikir tidak apa – apa, tapi kau tahu betul apa yang terjadi?" Sehun mendengus meremehkan. "Dia alergi kacang. Kulitnya memerah dan ia mengeluh gatal – gatal." Pria itu menatap dirinya dengan tersenyum tipis. "Mirip sepertiku ya?" sebuah lengkungan senyuman pahit terpahat dalam wajah tegas Sehun.

"Kau tahu yang kupikirkan kan?"

"Kalau begitu kenapa dia bukan anakku? Katakan padaku Zi." Sehun mendesak hingga dirinya yang sedari tadi diam, langsung memutar otak dengan gelisah dan cepat.

"K-kau hanya menyimpulkan karena alergi. Semua orang bisa saja mempunyai alergi yang sama. Kenapa kau begitu yakin?" Pada awal kalimat terdengar nada keraguan dalam suaranya, namun dengan baik ia bisa mengontrol untuk kalimat selanjutnya.

"Kami mempunyai banyak kesukaan yang sama. Kami sama – sama menyukai daging dan sushi, kami juga sama – sama tidak menyukai makanan yang sudah dingin. Dan aku tidak ragu lagi jika kami masih mempunyai banyak kesamaan yang lain." Dengan kepercayaan diri yang tak pernah Zitao lihat, pria itu menatapnya dengan berkkilat.

"Itu hanya sebuah ketidaksengajaan." Ia benar – benar sudah kehabisan akal lagi untuk membantah semua perkataan pria itu. Sudah cukup, jangan teruskan lagi. Ia takut tak bisa berbohong lebih dari ini.

Sehun mendengus tak habis pikir lagi, bahkan suara dengusannya benar – benar keras hingga menohok perasaan perempuan itu dalam – dalam.

"Kalau begitu, bagaimana dengan tes dna? Bukankah itu begitu meyakinkan untuk semua ketidaksengajaan yang ada?" pria itu menekankan kata 'ketidaksengajaan' dengan benar – benar jelas hingga membuatnya tak bisa membendung perasaan kalut dan takut miliknya.

"Tidak. Berhenti disana!"

Sehun menatap tak percaya, ia bingung dengan sikap yang diberikan oleh mantan istrinya ini. "Apa maksudmu?" Sehun mencoba mendekatinya tapi ia menahannya dengan mengangkat satu tangan kanannya menghalangi dada pria itu.

"Sudah cukup." Suaranya begitu dalam dan penuh emosi yang tertahan. "Kau tidak bisa melakukannya."

"Kau ingin tahu yang sebenarnya bukan?" lanjut Tao dengan mata penuh kilatan luka.

Ingin membuka suara, lagi – lagi Tao mengejutkannya. "Tidak!" wanita itu mengatakannya dengan lantang dan tangan kiri yang mengepal erat dipangkuannya.

Mata hitam itu beradu dengan mata coklat, dengan pandangan yang berbeda tentunya. "Kau!" mata itu menatapnya dengan pandangan yang tak bisa Sehun artikan sama sekali. "Kau bukan ayahnya." Suara itu memelan di akhir kalimat, tangan kanannya yang menahan dada pria itu mulai turun pelan – pelan.

Bola mata pria itu mengikuti tangan kurus itu sampai berada disamping tubuh pemiliknya, kemudian menatap wajah muram wanita didepannya ini.

"Apa kau tahu apa yang sudah kulalui setelah berpisah denganmu? Itu hari – hari yang sulit."

Sehun terdiam, bibirnya terkatup rapat. Benar, itu hari – hari yang sulit. Ia bahkan tak bisa membayangkannya, bagaimana wanita itu dapat melalui hidupnya yang mungkin tidak semua orang merasakannya. Ia jadi teringat perkataan pemilik bar dahulu dan cerita dari tetangga Zitao dulu. Bagaimana ia begitu yakin Shixun anaknya? Ia bahkan hanya melakukannya dengan Zitao satu kali. Kenapa begitu yakin? Wanita itu mempunyai hari – hari yang sulit dan bekerja di bar. Dan itu karena dirinya, apa yang bisa ia katakan sekarang?

"Aku pernah berpikir, mungkin lebih baik aku mati saja." Matanya memanas, kali ini dia tidak berbohong. Ia benar – benar jujur mengatakannya. "Ketika aku tahu aku mengandung Shixun. Aku hampir frustasi memikirkannya, tapi aku sadar. Kenapa aku tidak hidup untuk bayi ini? Shixun tidak tahu apa – apa, dia hanya seorang bayi yang bahkan tak tahu siapa ayahnya. Ia datang di dunia ini karena kesalahan orang tuanya. Kenapa aku harus membencinya? Pada akhirnya ia menjadi anak yang baik. Shixun, dia selalu menemaniku dan memberiku semangat pada setiap waktunya. Dia tumbuh dengan baik walaupun tanpa ayahnya. Aku membesarkannya dengan baik. Dan aku melihat semua pertumbuhannya, dulu ia hanya setengah panjang lenganku kau tahu.. dan sekarang ia sudah sepinggangku. Dia tumbuh dengan baik kan? Karena aku ibunya, satu – satunya orang tuanya. Hanya aku."

Mereka berdua terdiam, melayang – layang dengan pikiran masing – masing.

"Tolong keluar dari sini sekarang juga. Kau sudah mengetahui yang ingin kau ketahui." Suara itu terdengar lemah dan putus asa.

Sehun terdiam, menimang – nimang apakah ia harus melakukan permintaan Tao sekarang.

"Aku mohon." Tao benar – benar meminta dengan putus asa, ia tak tahu lagi mana yang baik sekarang. Berbohong lebih jauh lagi hanya akan menyakitinya dan juga melukai prinsip hidupnya yang mengutamakan kejujuran. Tapi memilih jujur, itu hanya akan menyakiti harga dirinya. Dia bukan wanita yang harus meminta – minta belas kasihan dari siapapun. Ia hanya tak ingin setelah Sehun tahu tentang kebenarannya, pria itu akan merebut Shixun darinya karena melihat kondisinya. Tidak akan. Tidak akan ia biarkan walau berbohong akan menjadi poin utama.

"Aku mohon, aku mohon." Ia tak kuasa menahan air mata yang ia tahan sedari tadi. Biarlah air matanya mengalir di hadapan Sehun walaupun dulu ia sudah berjanji bahwa ia tak akan menunjukkan air matanya lagi. Ia harap pria itu dapat berbelas kasih sedikit untuknya.

Tak ada pilihan lain, akhirnya Sehun keluar dengan segala kebingungan dikepalanya. Menghembuskan nafas kasar dengan mengacak – acak rambutnya kesal. Kesal dengan dirinya sendiri dan keadaan ini semua.

Menyandarkan punggung kokohnya di pintu apartemen Zitao. Ia melirik sekilas pintu kayu berwarna coklat itu dengan berkaca – kaca.

"Uljima .. Jangan menangis lagi"

.

.

.

.

Lagi dan lagi ...

Air matanya mengalir lagi ...

Mengingkari janjinya untuk tidak menangis lagi karena laki – laki itu. Selalu saja menghabiskan air matanya dengan sia – sia. Benar – benar tak bisa memegang janjinya sendiri. Menjengkelkan sekali.

Memeluk dirinya sendiri, ia tenggelamkan kepalanya ke kedua lututnya dengan tenaga yang lemah.

Kenapa?

Dan kenapa?

Hanya itu yang ia bisa pikirkan sekarang. Pertanyaan yang selalu sama ketika ia bersedih.

Tidak adakah cara untuk menghentikan air mata ini? Kesedihan ini? Penderitaan ini? Tidak adakah cara lagi selain selalu bersembunyi pada senyuman naif miliknya? Pada kebahagiaan anaknya? Tidak adakah cara lain untuk lari dari semua itu walaupun hanya beberapa waktu saja? Ia ingin mati, namun itu bukan pilihan yang baik. Shixun masih membutuhkannya dan lagipula ia masih ingin bersama dengan Shixun. Melihat setiap perkembangannya, melihatnya lulus dari sekolah, mendapatkan pekerjaan dan melihat wanita beruntung yang akan mendampingi anaknya sampai nafas terakhir.

Dirinya benar – benar payah. Wanita yang benar – benar payah. Untuk kesekian kalinya ia membenci dirinya sendiri. Tak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.

Bagaimana ia terus saja hidup pada masa lalunya? Padahal ia tidak berada disana lagi, ia sudah tidak berada di cerita yang sama, bahkan buku yang sama! Tapi, kenapa?

Tidak bisakah cukup hentikan disini?

Hanya disini. Jangan lagi. Jangan lagi. Dan jangan lagi.

Cukup disini.

Ia benar – benar sudah lelah dengan semua ini.

~ I'm Sorry, I Can't Be Perfect ~

Sehun menerawang langit malam yang cerah, ah apakah langit tengah mengoloknya sekarang? Dirinya sedang dirundung kesenduan dalam dan langit seperti tengah mengoloknya dengan memperlihatkan banyak bintang yang bersinar terang untuknya.

"Kalian senang?" gumamnya tak habis pikir dengan tersenyum getir, kemudian meneguk bir kaleng yang ia beli tadi dari kotak minum.

Merasakan rasa pahit bir yang melewati tenggorokannya, ia memejamkan matanya sebentar.

"Apa yang harus kukatakan?" sindirnya sendiri.

"Aku merasakannya."

"Aku merasakan apa yang kau rasakan Zi. Menyakitkan sekali." Senyuman pahit melengkung dibibirnya. "Menyebalkan sekali. Kenapa aku baru menyadarinya?"

"Sudah berapa banyak air mata yang kau keluar Zi?"

"Bisakah.." ia mengambil jeda sebentar, menggantungkan kalimatnya karena matanya tiba – tiba saja memanas memikirkan apa yang akan ia ingin katakan.

"kata maaf membuatmu berhenti menangis?"

"Aku tahu aku seorang pecundang sejati, tapi aku tak tahu harus berbuat apa lagi selain minta maaf."

"Kenapa.. kenapa ..."

Ia benar – benar merasa menjadi orang paling bodoh di dunia ini. "Kenapa?!" ia tak bisa mengontrol emosinya lagi. Air mata keluar begitu saja dengan teriakan lantang darinya. Mempertanyakan dirinya sendiri dengan apa yang telah ia lakukan pada wanita manis itu selama ini.

"Kenapa baru sekarang aku menemukanmu?! Dan menyadari arti dirimu yang sebenarnya untukku?!"

"Kenapa?!"

"Bagaimana bisa selalu saja aku menjadi alasan air matamu keluar? Maafkan aku Zi. Aku benar – benar minta maaf."

"Tidak ada yang ingin kukatakan padamu selain kata maaf. Aku minta maaf. Tolong maafkan aku."

.

.

.

.

"Kau terlihat tidak baik." Chanyeol menatapnya khawatir.

Tersenyum kecut, Zitao meremas – remas tangannya. "Ah tidak, aku hanya .. aku benar – benar gugup oppa." Tuturnya setengah jujur dan bohong. Jujur di bagian 'gugup' dan bohong di bagian 'tidak'.

Chanyeol mengulurkan tangannya dengan senang hati. "Kau bisa menggunakan tanganku." Senyuman lebar nan hangat milik pria itu membuat kedua sudut bibirnya tertarik malu – malu.

Ia sambut uluran tangan itu, dan saat telapak tangannya menyentuh telapak besar yang hangat itu ia merasakan tangannya digenggam erat – erat. Mata hitamnya beradu dengan mata hitam milik pria itu. Chanyeol tersenyum lebar seperti biasa. "Genggam erat tanganku ketika kau gugup seperti biasa. Jangan pernah lepaskan. Kau mengerti itu kan?"

"Kalau aku ingin ke kamar mandi?" canda Tao.

"Kau ingin aku ikut?" tanya Chanyeol sambil tersenyum mesum.

"Jangan harap." Sembari tertawa malu Tao memukul pelan dada pria itu.

"Kenapa?! Saat menikahpun kau juga tidak ingin menunjukkannya padaku?!" Tao melotot lucu mendengar kalimat candaan pria itu yang menurutnya melewati batas. "Kau itu ahli sekali membuatku kecewa." Pria itu berpura – pura bersedih.

"Oppa!"

"Iya, baik. Kita masuk sekarang." Chanyeol akhirnya menghentikan candaannya dan menarik Tao untuk masuk.

"Jangan lupa genggam erat tanganku." Pria itu berbisik menggodanya kembali saat mereka berdua benar – benar masuk ke dalam rumah. Tao merengut tak suka, pasalnya ia benar – benar gugup. Dadanya terus saja bergemuruh setelah ia masuk ke dalam rumah.

Ia tak begitu mengerti sebenarnya Chanyeol membawanya kemana, rumah milik orang tua pria itu benar – benar besar. Ia bahkan tidak bisa membedakan mana ruang keluarga atau dimana ruang tamu sebenarnya. Semua terlihat sama dan mewah, benar – benar mewah. Ia yakin semua perabotan disini melebihi gaji satu bulannya. Bahkan lantai yang ia pijak dapat memantulkan wajahnya.

Jantungnya semakin berdetak kencang ketika ia melihat siluet orang tua Chanyeol yang tengah duduk di meja makan dengan banyaknya makanan mewah terhidang. Entah kenapa ia merasa tangannya begitu dingin walaupun berada di genggaman tangan lebar milik Chanyeol. Ia melirik sekilas Chanyeol, pria itu terlihat santai sekali. Ah iya, tentu saja. Orang tua yang ada di depan sana adalah orang tuanya, kenapa harus gugup seperti dirinya, pikirnya konyol.

Ia kembali melirik pria disampingnya ketika ia rasakan genggaman tangan mereka semakin kuat. "Kalau kau terus berkeringat dingin seperti ini, aku takut genggaman tangan kita akan terlepas." Bisik Chanyeol santai, yang entah kenapa membuat hatinya terasa hangat dalam sekejap. Rasa gugup mulai bisa berkurang dengan sendirinya. Dalam hati ia benar – benar berterima kasih pada Chanyeol yang selalu tahu apa yang ia perlukan di setiap waktunya. Kedua sudutnya tertarik perlahan memikirkannya.

"Anyeong.." ia mencoba memberi salam sebaik dan sesopan mungkin, membungkuk dalam dan tersenyum semanis mungkin.

Tuan Park memberikan senyuman balik yang menyenagkan, ah sepertinya sekarang ia tahu darimana senyuman lebar milik Chanyeol didapatkan. Mengarahkan pandangan ke wanita setengah abad di samping tuan Park, ia meilihat cerminan wajah Chanyeol dalam bentuk wanita. Mata itu begitu mirip dengan mata Chanyeol.

"Nama saya Huang Zitao."

Dengan menahan segala kegugupannya, ia mencoba memperkenalkan diri sebaik mungkin.

"Senang bertemu dengan kalian, saya benar – benar tersanjung." Akhirnya ia dapat bernafas lega ketika dengan lancar ia mengucapkannya.

"Oh lihatlah, dia begitu sopan istriku." Komentar tuan Park dengan diiringi tawa sambil menyentuh istrinya.

"Kau itu apa – apaan suamiku? Biarkan mereka duduk terlebih dahulu." Nyonya Park mengingatkan.

"Ah benar. Maafkan aku ya. Ayo duduk, ajak wanita manismu itu duduk nak."

Baiklah. Sekarang ia juga tahu darimana sifat suka menggoda milik Chanyeol. Ini benar – benar membuatnya tersenyum geli. Hatinya yang bergemuruh mulai berganti dengan perasaan hangat lagi. Ia melirik Chanyeol sebentar dan tatapan mereka bertemu. Laki – laki itu dengan sigap memberikan tempat duduk padanya, ia mengangguk dan segera duduk dengan tenang. Genggaman mereka terlepas dan entah kenapa membuatnya untuk beberapa saat resah. Laki – laki itu bahkan tidak duduk sebelum ia duduk sepenuhnya.

"Darimana kau mendapatkan wanita manis ini, nak?" tuan Park kembali menggoda dan berhasil membuat keduanya tersenyum malu tertahan.

"Di tempat yang tak pernah terpikirkan." Jawab Chanyeol sambil menatapnya dengan senyuman menggoda hingga membuat pipinya memanas menahan malu. Satu tendangan pelan ia berikan pada kaki Chanyeol yang tidak begitu jauh dari kakinya di bawah meja. Pria itu malah semakin tersenyum penuh kemenangan karena ulahnya dan membuat pipinya semakin memanas saja.

"Kalian berdua, berhenti disana. Kalian pikir aku memasak ini semua hanya untuk pajangan saja huh?!" Tatapan sebal nyonya Park layangkan pada makhluk berjenis kelamin laki – laki disana.

Zitao menahan tawanya, entah kenapa rasa gugupnya menguap begitu saja, menghilang layaknya kabut yang tertiup angin. Wanita setengah abad itu menatapnya dengan senyuman manis, "Hiraukan saja mereka sayang, makan yang banyak. Ini spesial untukmu."

"Terima kasih banyak. Pasti merepotkan Anda." Ia sedikit tidak enak hati dibuatkan makanan sebanyak ini oleh nyonya Park.

"Kau bicara apa? Untuk orang yang dicintai oleh anakku, itu bukan apa – apa sama sekali."

Ia tersentak, hatinya bergemuruh secepat kilat. Tak terasa kedua sudutnya terangkat perlahan dengan pasti.

.

.

.

.

"Bagaimana?" tanya Eunsoo dengan mata bulatnya yang berbinar penuh harap.

"Ibuku tentu saja mengijinkan, ibuku itu baik sekali." Ujar Shixun dengan tersenyum riang. "Ibuku membawakanku uang untuk bibimu juga." Ia mengeluarkan beberapa won dari sakunya.

Dahi Eunsoo berkerut heran, "Kau mau memberikan uang untuk bibiku? Bibiku tidak begitu menyukai uang."

"Bukan, ibuku menyuruhku untuk membelikan bibimu bunga. Bibimu suka bunga apa?"

"Dia memelihara banyak bunga mawar di rumah, katanya baunya enak."

"Benarkah? Mawar apa?"

Eunsoo terlihat berpikir sebentar, kemudian berkata, "semua warna."

Shixun menatap uang yang ada di dalam genggamannya, diam untuk sesaat hingga kemudian berujar dengan tersenyum, "baiklah."

.

.

.

.

Sesi makan sudah berakhir, Zitao dan keluarga Chanyeol sekarang tengah berbincang – bincang, masih di tempat yang sama. Mereka tampak begitu ceria dan juga santai, tidak begitu kaku dan tampak begitu akrab satu sama lain.

"Chanyeol itu cengeng sekali."

"Benarkah?" tanya Tao penasaran.

"Saat sekolah dulu, dia pernah membuat 1000 angsa kertas kecil dan memasukkannya ke toples." Tuan Park dengan sengaja membeberkan rahasia anaknya hingga membuat nyonya Park tertawa mengiyakan. Chanyeol melotot lucu pada ayahnya, kesal karena ayahnya malah mengatakan yang buruk – buruk saja tentang dirinya sedari tadi.

"Ayah.." Chanyeol menggeram tak suka.

"Huh? Untuk apa?" ia semakin penasaran dan pria disampingnya semakin menekuk wajahnya dan merengut tak suka.

Tuan Park melirik anaknya sebentar dan dihadiahi tatapan mematikan milik anaknya hingga membuat pria yang lebih dari setengah abad itu semakin bersemangat menjelaskan.

"Untuk pacarnya."

"Ayah! Hentikan!" Chanyeol kesal bukan main.

"Saat angsa kertasnya sudah mencapai seribu. Pacarnya memutuskannya." Tuan Park menjelaskannya dengan suara menahan tawa, bahkan hampir menangis saking lucunya mengingatnya.

"Dan dia selalu menangis melihat toples itu." Ibunya ikut menjelaskan dengan diiringi tawa tak habis pikir.

"Benarkah?" Zitao tak mampu untuk tidak menahan tawanya juga.

Kedua orang tuanya mengiyakan dengan gelak tawa tak berkesudahan, membuatnya mendesis tak suka. Hilang sudah image keren miliknya di hadapan wanita kesayangannya ini. Ia tak henti - hentinya menggerutu dalam hati.

"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melahirkan anak secengeng itu." Komentar ibunya sambil menahan tawanya.

"Ibu!" ia tak tahan lagi, bisakah topiknya diganti saja?!

"Baik.. baik.. Ibu minta maaf." Chanyeol semakin merengut tak suka, lihat? Ibunya saja santai – santai saja mengatakannya dan masih menahan tawanya bersama dengan ayahnya. Itu pasti bukan permintaan maaf yang tulus. Bagaimana bisa mereka sebagai orang tua malah membuka aib anaknya pada calon menantunya?! Apalagi dalam acara perkenalan pertama kali seperti ini! Ingin sekali menarik Zitao dari tempat terkutuk ini dan mengatakan bahwa yang berbicara tadi bukan orang tuanya. Tapi tentu saja ia tak akan melakukannya, ia masih sayang nyawanya dan status sebagai anak dari tuan dan nyonya Park.

"Bagaimana denganmu nak? Ceritakan tentang dirimu." Ujar tuan Park mengalihkan topik dengan menarik senyum padanya hingga membuatnya tersentak, ia harus mulai darimana? Melirik pada Chanyeol, berharap pria itu dapat memberikan saran yang baik tapi yang ia temui malah kedikan bahu dengan senyum menawan pria itu. Ia menggigit bibirnya, bingung dan juga gelisah karena tidak tahu harus memulai cerita darimana serta khawatir karena telah membuat kedua orang tua Chanyeol menunggu lama.

Gumaman pelan ia lontarkan sebagai permulaan, ia harap itu tidak termasuk dalam sikap yang tidak sopan.

"Ehm... aku tidak terlalu bagus dalam bercerita." Senyum canggung tersemat pada wajahnya, namun mereka hanya menanggapinya dengan tersenyum dan menyuruhnya untuk melanjutkan, bahkan Chanyeol malah menopangkan kepalanya pada telapak besarnya dengan tatapan yang membuat hatinya berdentum dengan keras berkali - kali. Dalam sekejap ia tahu kenapa pria disampingnya ini sering kali disebut sebagai pria penyerang hati wanita. Untung saja dia dapat mengontrol perasaannya, kalau tidak sekarang ia sudah akan meninju pelan dada milik pria itu dengan malu – malu.

"Aku hanya wanita biasa, tidak ada yang spesial dariku. Aku tidak begitu berprestasi seperti Chanyeol atau memiliki banyak uang."

"Kau terlalu merendah nak, semua orang mempunyai prestasinya masing – masing." Tuan Park menyuarakan pendapatnya dengan tatapan mata yang lembut seperti seorang ayah yang sedang menasehatinya hingga membuatnya tersenyum tipis. Ah sudah lama sekali, ia bahkan sudah tidak terlalu ingat bagaimana ayahnya dulu berbicara dengannya.

"Kurasa begitu juga, aku tidak begitu sedih dengan keadaanku itu. Aku terbiasa hidup mandiri sedari kecil, ayahku meninggal saat aku masih kecil dulu. Aku bahkan hampir lupa kenangan – kenangan bersamanya, tapi aku masih mengingat baik wajah, suara dan senyumannya. Itu membuatku bahagia sekali, setidaknya tidak sepenuhnya ayahku pergi. Dan kemudian ketika aku beranjak dewasa, ibuku~" ia menggantung kalimatnya dengan tawa pelan.

Ketika semua orang menatapnya khawatir, ia dengan hati yang lapang tersenyum, "menyusul ayah. Aku diam – diam menangis saat tidak ada orang disekelilingku, aku khawatir jika mereka tahu aku menangis. Aku ingin orang yang berada didekatku bersikap biasa saja, seolah – olah tidak ada yang terjadi sehingga aku lupa dengan apa yang tengah terjadi. Dan itu berhasil."

Tuan Park tersenyum lembut dan berujar, "Harus kukatakan nak, kau wanita yang kuat." dan nyonya Park menyutujuinya juga dengan mengangguk pelan.

"Itu tidak seperti yang kalian pikirkan, aku tetap seorang wanita yang cengeng. Aku bisa bertahan karena banyak yang menguatkanku." Dengan sengaja ia tabrakan pandangan matanya dengan mata Chanyeol, mereka berdua saling tersenyum dalam diam dan penuh cinta.

"Sama – sama, aku tahu kau akan mengatakan terima kasih." Ujar Chanyeol hingga membuat semua orang disana tertawa geli.

"Ada teman – teman, Chanyeol dan juga~" ia menggantung kalimatnya sebentar, menatap kedua orang tua Chanyeol dengan tersenyum tulus. "..anakku."

Kesunyian tiba – tiba melanda tempat itu, kedua orang tua Chanyeol menatapnya kaget. Ia memang sudah memprekdisikan ini semua, tentu mereka akan sangat kaget mendengar kejujurannya ini. Ia memang khawatir mungkin mereka akan tidak suka, namun ia dan Chanyeol sudah berjanji untuk tidak menutupi keadaannya. Pria itu malah sangat mendukungnya, ia berjanji akan bertanggung jawab dengan semua konsekuensinya. Dan pria itu juga meyakinkannya bahwa orang tuanya akan mengerti dengan keadannya ini.

"Kau seorang janda?" tanya nyonya Park pelan.

Ia mengangguk mantap, "ya, aku seorang janda nyonya."

"Aku dijodohkan dan hubungan kami tidak berjalan baik. Sehingga kami memutuskan untuk berpisah. Itu sudah lama sekali."

"Berapa umur anakmu nak?" tanya tuan Park penasaran.

"Dia baru berusia 6 tahun, dia masih duduk di bangku taman kanak – kanak. Tahun depan dia akan masuk ke sekolah dasar. Dia laki – laki, namanya Shixun."

"Shixun suka sekali membantu ibunya, dia anak yang baik dan juga tampan. Ia bahkan termasuk salah satu murid yang pintar dikelasnya." Chanyeol dengan penuh semangat ikut menceritakan Shixun, membuat ayahnya tersenyum menggoda, "Kedengarannya kau begitu menyukainya nak." Dan Chanyeol hanya tersenyum malu – malu mengakuinya.

"Kau terlihat masih muda, mungkin dibawah umur Chanyeol. Berapa usiamu saat menikah?" tanya nona Park dengan raut wajah tidak percaya.

Tao tersenyum tipis dan mengangguk membenarkan, "aku berusia 27 tahun. Aku memang menikah muda, saat itu aku berumur 21 tahun. Mungkin itulah kenapa hubungan kami tidak berjalan dengan baik."

"Itulah kenapa kami tidak menjodohkan dan memaksa Chanyeol menikah ketika lulus, lebih baik memilih dengan benar untuk selamanya." Tuan Park menggenggam tangan istrinya yang berada di meja dengan penuh senyum hingga membuat istrinya melirik sebal. Ah dia memang benar – benar ayah dari Chanyeol. Tak heran kalau sisi romantis pria paruh baya itu menurun ke anaknya ini.

Mengabaikan godaan suaminya, nyonya Park kembali bertanya, "bagaimana kau bisa mengenal anakku?"

"Semua orang mengenalnya, dia dikenal sebagai dokter yang ramah. Tiba – tiba saja suatu hari dia menyapaku, menanyakan namaku dan menyuruhku untuk membersihkan ruangannya."

"Apa?" kedua orang tua Chanyeol kaget bukan main hingga memotong penjelasannya. Chanyeol tertawa lepas mengingat perkenalan mereka pertama kali. Dia memang sudah lama tahu tentang Zitao, mengingat wanita itu sering berlalu lalang di depan ruangannya. Hanya saja, ia memang tidak pernah membersihkan ruangannya, karena bukan bagiannya. Dia sebenarnya penasaran saja dengan Tao, wanita itu sering sekali terlihat murung ketika tidak ada orang yang memperhatikan dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya disaat pekerja yang lain beristirahat sebentar atau berbincang – bincang dengan pekerja yang lain. Ia hanya ingin tahu, apalagi ditambah ia sering melihat Tao pulang dengan seorang anak kecil. Ia pikir Shixun dulu adalah keponakan Tao, ia pikir wanita itu belum menikah karena tidak ada cincin yang tersemat di jari manisnya.

"Kau gila ya nak? Aku tidak pernah mengajarimu untuk memperlakukan wanita seperti itu." Ujar tuan Park tidak terima dan hanya dibalas dengan ringisan anaknya.

"Bukan begitu, hanya saja itu memang pekerjaanku." Jawab Tao dengan senyum malu – malu.

Nyonya Park mengerutkan dahinya hingga kedua alisnya hampir bertautan, "apa maksudmu?"

Zitao melirik Chanyeol sebentar dan mendapati pria itu tersenyum tulus padanya sambil mengangguk hingga membuatnya ikut tersenyum pasti.

"Pekerjaanku adalah sebagai cleaning service di rumah sakit Anda."

.

.

.

.

"Hai bibi, aku datang." Eunsoo berhambur memeluk bibinya yang duduk di tempat tidur dengan selang infus terpasang ditangannya. Ibu Eunsoo tersenyum maklum sambil menaruh beberapa buah yang ia bawa dari rumah ke meja. Kemudian duduk di sofa sambil mengupas beberapa apel.

Wanita berambut lurus sebahu itu tersenyum manis. "Tapi aku tidak datang sendirian. Aku bersama Shixun, kau masih ingat dia kan, bi?" tanya Eunsoo dengan semangat setelah melepas pelukannya pada bibinya.

Bibinya mengangguk pelan tanpa melepaskan senyumannya.

"Bibi, Shixunnie membawakanmu bunga yang indah. Itu bunga kesukaanmu, bunga mawar."

"Benarkah itu?"

"Iya, ibuku yang menyuruhku membelinya karena tidak bisa ikut kemari. Ia menitipkan salam dan permohonan maaf untukmu bibi." Ujar Shixun sambil menyerahkan sebuket bunga mawar kecil yang terdiri setangkai bunga mawar putih, setangkai bunga mawar kuning, setangkai bunga mawar merah muda dan setangkai bunga mawar merah darah.

"Terima kasih banyak ya. Ini harum sekali. Kelihatannya sangat indah. Kau dan ibumu baik sekali." Wanita itu dengan tulus mengatakannya.

Shixun tersenyum senang, "aku senang bibi menyukainya. Eunsoo bilang bibi suka bunga mawar semua warna." Dan wanita itu mengangguk mengiyakan.

"Apakah Shixun mau memberikan bibi ini sebuah pelukan?"

"Dengan senang hati!" dengan perasaan gembira ia berhambur memeluk wanita yang hampir mirip ibunya itu, entahlah ia rasa bibi Eunsoo begitu keibuan sama seperti ibunya. Kalau masalah wajah sih mereka berdua tidak mirip, bibinya Eunsoo ini lebih pendek dari ibunya dan lebih gemuk sedikit, walaupun tidak gemuk – gemuk benar.

Ia melepas pelukannya sambil menatap wanita itu khawatir ketika teringat sesuatu. "Kapan bibi akan operasi?"

Wanita itu tak pernah kehilangan senyumannya, "entahlah, mungkin besok. Itu tergantung dokternya dan kapan donor mata untuk bibi datang.

"Bibi, apa kau takut? Aku dengar, teman – temanku bilang operasi itu sakit sekali." Tanya Eunsoo dengan mata membulat penasaran.

"Siapa bilang? Operasi itu tidak sakit sama sekali." Ujar bibinya meyakinkan.

"Benarkah?" tanya Eunsoo tidak percaya. "Bagaimana dengan dokternya? Paman Kim bilang dokter itu jahat."

Shixun dengan sigap menolak penjelasan Eunsoo, "tidak, dokter yang kukenal baik sekali. Dia suka memberiku permen dan cokelat. Dia bilang dokter itu baik sekali, mereka menolong orang yang sakit."

Ibu Eunsoo datang mendekat dengan sebuah piring berisi potongan – potongan apel, kemudian memberikannya pada mereka bertiga dan berkomentar, "Benar yang dikatakan Shixun, Eunsoo. Tidak ada dokter yang jahat, mereka semua membantu orang yang sakit seperti bibimu. Dokter akan menolongnya agar bisa melihat lagi."

.

.

.

.

Ini seperti... aku tidak membutuhkan apapun, jika ini adalah cinta

Aku tidak menginginkan apapun selain dirimu

(Flower – Taiyo to Himawari)

.

.

.

.

"Kau sudah mengantarnya pulang?" ibunya mengagetkannya ketika akan menaiki tangga menuju kamarnya.

Chanyeol mengangguk pelan. "Iya. Memangnya ada apa?" bertanya dengan santai sambil memainkan kunci mobil yang ada pada tangannya.

"Ibu rasa.." ibunya memberi jeda sebentar dan menatapnya serius. "kita harus bicara."

Ia terhenyak sebentar, entah kenapa perasaannya mengatakan pembicaraan ini akan tidak begitu baik. "Tentang apa? Bicara saja bu." Ia mencoba berpikir positif dan tersenyum seperti biasanya.

"Ayo bicara sambil minum teh. Ibu sudah membuatkannya untukmu."

Tanpa mengeluarkan suara, ia menuruti ibunya dan berjalan mengikuti ibunya hingga sampai di ruang tengah. Ia mengerutkan dahinya bingung mendapati hanya ada dua cangkir teh panas di atas meja. "Hanya kita berdua saja bu? Ayah?" tanyanya heran.

"Dia sudah tidur." Jawab ibunya pendek sambil membawa salah satu cangkir ditangannya, kemudian menepuk – nepuk sofa yang ada disampingnya, menyuruhnya untuk duduk berdampingan dengan meniup – niup teh yang masih mengeluarkan sedikit asap.

Ia ambil secangkir teh yang tersisa dan membawanya ke sofa, ikut meniup – niup teh sembari menunggu ibunya membuka pembicaraan.

"Bagaimana rasanya? Ibu menambahkan bunga melati dan sedikit jahe." tanya ibunya sambil meletakkan cangkirnya di meja dekat sofa.

"Enak seperti biasa." Jawabnya setelah menurunkan cangkirnya. "Apa yang ingin kau bicarakan bu?" tanyanya tanpa basa – basi lagi.

Ibunya kembali meminum tehnya, menyesap begitu pelan dan menikmati setiap aliran teh hangat yang masuk ketenggorokannya. Entah kenapa dadanya bergemuruh, sesuatu yang tidak enak menelusup dihatinya. Kira – kira apa yang ingin ibunya bicarakan? Apakah masalah Zitao? Atau yang lain?

"Bagaimana menurutmu tentang anak keluarga Jung?"

"Hah? Yang mana? Bukankah keluarga Jung mempunyai dua putri?" tanya Chanyeol bingung dengan arah pembicaraan ibunya.

"Keduanya." Ibunya mengatakannya dengan santai sambil mengangkat cangkirnya.

"Mereka baik dan cukup ramah." Hanya itu yang terlintas dalam pikirannya, lagipula dia hanya beberapa kali bertemu dengan mereka. Itu saja di acara yang formal, mana dia tahu sifat mereka yang asli?

Cangkir teh diletakkan dan ibunya menatap serius padanya, "apa.." ibunya menggantung sebentar perkataannya, mungkin berpikir.

"Apa kau tertarik dengan salah satu dari mereka?"

"Apa?" ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak meninggikan sedikit suaranya saking terkejutnya. Ia letakkan cangkirnya dan menatap marah dan kecewa pada ibunya. "Ibu. Jangan bilang, kau~" ia tak sanggup melanjutkan perkataannya ketika ibunya dengan pasti mengiyakan dengan nada lantang dan tatapan tajam.

Ia memejamkan matanya kecewa, "aku pikir ibu merestui kami."

"Aku pikir aku akan baik – baik saja ketika aku mendengar dia mempunyai anak dan seorang janda. Ibu mencoba baik – baik saja dengan itu. Kita mungkin bisa mengendalikan gosip yang beredar karena anaknya sudah cukup besar." Ibunya tak terima anaknya seperti menyalahkannya. "Tapi mendengar dia seorang~"

"Lalu kenapa?! Memangnya kenapa kalau dia hanya seorang tukang bersih – bersih bu?!" ia benar – benar kecewa dan marah pada ibunya sendiri.

"Aku masih ingat betul ibu dulu mengajariku untuk tidak melihat seseorang dari kastanya, semua orang harus diperlakukan sama. Apa itu benar?"

Ibunya terdiam sebentar, merasa tersudut namun tak ingin mengalah. "Ya, itu benar. Tapi apa kau tak berpikir bagaimana kau akan dicemooh? Sadarlah! Kau seorang dokter ternama dan anak pemilik rumah sakit terkenal!"

"Memangnya aku peduli? Yang terpenting adalah dia bukan seorang pelacur! Ini hubungan kami, dan kami lah yang akan menjalaninya. Kenapa aku harus peduli?" dengan pandangan terluka ia tatap ibunya yang menatapnya marah dan kecewa.

"Maafkan aku bu, aku selalu menuruti apa mau ibu dari kecil sampai sekarang. Tapi tidak kali ini, dengan atau tanpa restu ibu aku akan tetap menikahi Zitao. Itulah keputusanku!" ia benar – benar yakin mengatakannya, ia memang paham betul kalau ini akan menyakiti ibunya tapi ia tidak akan mundur. Ia ingin Zitao lah yang mendampinginya untuk seumur hidupnya, sebagai tokoh utama di dalam buku ceritanya bersama dengan dirinya sampai halaman terakhir mengakihiri cerita mereka.

~ TBC ~

.

.

.

joah: syuuuuuuuudaaaaaaah :v

RLike: weeeh.. lu komen dua kali *menangis haru .. thanks banget yak *salim peluk cium .. tetep ane lanjut sampai akhir donk *kibas mukena

1313: lu juga komen dua kali pan? maafkah dakuuuh ini yang nista *nangis gelindingan .. duuh lhah gimana? ane juga bingung mo gimana :v

ririn: tolong jangan teror saya! *ambil pemes ... kkkk~ masak ane mo bocorin endingnya :v kan gak greget

ahnexolsasa: aku juga berat! T.T berat badan maksudnya :v kkkk~ yah mau begimana mereka berdua emang berat untuk ditinggalin :3 makasih yak

.

.

.

Yang laen nanti silahkan tunggu pemberitahuan inbox masuk :v belon kesampean soalnya mo beli nasi goreng ulala di pertigaan :v author pun butuh makan buat nginbox kalian *ditampol reader

Okay ane tahu banyak oknum yang pengen bunuh ane gegara kagak ngelanjut lanjut ini cerita... but hellooww... ane mati nanti siape yang mo nerusin ini cerita gaeees *kedip manja

kkkkk~

Maaf banget yak gantungin ini cerita dan perasaan kalian jugah *plaakk

Tapi ane yakinkan pada kalian ane bakalan nerusin ep ep ini sampai akhir! *menggebu gebu

Oke! Akhri kata...

Wassalamamu'alaimum

*nyemplung kali