Lama tak jumpa!
Ika ga desuka?
Makasih ya buat yang udah ngeripyu chap kemaren… ada: Chancha-Flower, levina-rukaruka, Raiha Laf Qyaza, Iin cka you-nii, Natsuno Yurie Uchiha, UchihaSakura97, Hana Jenibelle Chrysantemum, Phanter black, Yuki Kawamuri, Aoihoshi a.k.a Fiqih, Ai Kireina Maharanii, Mayou Fietry, mozzarella cheese, roronoalolu youichi sudah kubalas lewat PM ya!
Juga:
ToscaTurqoise: hehe. Iya, dia lari sambil bawa hape. Makasih!
Ayu-chan: hai! Nggak kok, allstarnya cukup sampe disitu saja. Kalo pertarungan rame-rame cukup di GoD aja ya! Hehehe. Thanks reviewnya :D
Nee-ounomiya: chap depan fighting! Janji! Hehe. Makasih pujiannya, dan reviewnya! Salam dari kiseki!
DarkAngelYouichi: hahaha, iya, aku bikin pair-nya YamaKarin. Maaf ya. Gapapa, Taka mau2 aja*seenaknya. Terima kaseeeeeh!
Just reader 'Monta: itu maksudnya ribut. Typo, maaf ya. Hahaha, masato emang begitu. Musashi kan pecinta kayu ya? Hehehe*kicked* um, tanya aja sama monta! Mungkin ada nangka n durian hehee. Makasih ya!
Orang numpang lewat yg kebetulan bc: hai! Makasih sudah menyempatkan membaca. Oke, makasih dukungannya! xD
CieCieYeaDinoHiba4ever: hahaha…. Kiseki emang bikin iri, ahaha. Makasih banyak! Ya, agon lari sambil bawa hape, trus twitteran deh! Yap yap! XD
Demonicola: hehehehe. Makasih banyak ya... makasih! :D
ShiroNeko: haha, sudah sekian readers iri sama kiseki. Ampuun, kiseki hanya anak-anak, hahaha… wahwah, kalau begitu salam ya buat kakakmu! Aku dan chopiezu mengucapkan terima kasih banyak untuk kalian! ^^v
Bulan depan saya sudah ujian praktek dan ujian sekolah. Pendaftaran universitas lewat jalur prestasi, lalu UNAS.
Saya mohon doanya boleh 'kan? Doakan ya supaya sukses dan lancar ya? :D
Makasih! Sekarang, ayo kita baca fic yang sudah berganti judul ini! ingat polling kapan dulu itu? Hehe.
Grow Up, Flowers!
Aku menatap mereka semua dengan tenang.
Mengamati setiap gerakan dan ekspresi yang mereka buat.
Para orang dewasa yang sering terlihat gelisah dan susah.
Namun jarang air mata menyapa mereka, katanya menangis itu hanya untuk anak kecil.
Kucoba menjemput mereka pergi dari kesedihan dengan memanggil nama mereka.
Meskipun lidahku tak begitu jelas mengucap.
Tapi senyuman akhirnya muncul di bibir mereka. Lalu mereka akan menggendongku dan memelukku dengan sayang.
Orang dewasa itu aneh.
Lihat saja Papa dan Mama.
Kadang mereka ribut dan berteriak,
Kadang mereka saling memandang dengan cinta.
Aku jadi penasaran,
Akan jadi orang dewasa seperti apakah aku nanti?
-Aoihoshi Kiseki
The Second Sequel of Flowers
Grow Up, Flowers!
Chapter 12: Sleeping Kiseki
Written by: undine-yaha
Story by: undine-yaha and chopiezu
Disclaimer: Inagaki Riichiro and Murata Yuusuke
Disclaimer for Aikuza Hana: Demonicola
Disclaimer song: Sleeping Child by Michael Learns to Rock
Hana's POV
"Uuumm!"
"Eeeh?" aku mengangkat Kiseki dari keretanya dan menggendongnya menghadapku, "kamu kenapa? Kok wajahmu gemas begitu?"
Aku mencoba menerka apa yang sedang dilihat dan dipikirkan Kiseki. Oh, mata biru langitnya tertuju pada Hiruma dan Mamori.
"Aku memang bilang kita mau hanami! Tapi tidak perlu sampai seperti itu, Hiruma-kun!" omel Mamori.
"Terserah aku, manajer sialan! Aku hanya ingin kita dapat tempat terbaik untuk hanami sialan! Maka itu aku menyuruh budak-budak sialanku untuk mencari tempat yang bagus dan berjaga di sana! Kalau perlu menginap semalaman!" sentak Hiruma.
"Tidak perlu! Tidak usah tempat yang bagus juga nggak pa-pa!" balas Mamori.
Aku cengengesan sambil mengambil susu untuk Kiseki yang baru saja dibuatkan Kurita.
Hari ini giliran Kurita jaga. Ia sangat senang.
"Kiseki-chan, enak tidaaak?" tanyanya penuh harap saat aku memberikan botol itu untuk diminum Kiseki.
"Sepertinya enak. Tuh lihat, semangat sekali ia meminumnya," jawabku.
"Hana-chan, aku yang gendong ya!" pintanya. Akhirnya kuserahkan Kiseki padanya.
"Tch! Pokoknya aku sudah mengurus semuanya! Sekarang pulang!"
Hiruma menyambar tasnya dari sofa dan berjalan keluar sambil bersungut-sungut. Hari sudah sore, Hiruma memang datang untuk menjemput Mamori yang terus berkicau soal hanami besok sejak tadi pagi.
"Hanami apaan sih?" tanya Masato ketika aku duduk di sebelahnya. Ia sedang menonton… seperti biasa, berita politik.
"Hanami itu piknik di bawah bunga sakura yang bermekaran… kira-kira seperti itu. Biasa dilakukan di musim semi," jelasku.
"Oh…," Masato mengangguk.
"Hana-chan, Masato-kun, pulang dulu ya," pamit Mamori terburu-buru, mungkin sudah nggak sabar mau mengomeli Hiruma lagi di dalam mobil.
"Hati-hati Kak! Makasih sudah datang!" sahutku.
"Sampai jumpa, Mamori-chan!" Kurita melambaikan tangan.
Tak lama suara mobil terdengar menjauh. Sekarang di rumah tinggal aku, Masato, Kurita, dan Kiseki. Monta lagi sibuk di toko, tapi menolak waktu Masato mau menawarkan bantuan.
"Kak Kurita mau di sini sampai jam berapa?" tanya Masato.
"Sampai jam berapa ya? Aku juga tidak tahu…," jawabnya sambil menimang Kiseki yang sudah menghabiskan susunya.
"Jam delapan saja ya?" Masato menawarkan, "aku juga akan pulang jam segitu."
Kurita mengangguk. Dilihatnya Kiseki menguap.
"Kuyii… hoaaahm…," ia bergelung pada Kurita. Asal tidak ketiduran di situ saja. Habis mirip kasur, hehe.
"Kiseki, tidur sama Kak Hana ya?" aku mengambil Kiseki dari Kurita dan meninabobokannya sebentar.
"Duduk, Kak!" ajak Masato pada Kurita. Kurita mengangguk dan duduk di sebelahnya.
Aku membawa Kiseki ke kamar, menepuk punggung atasnya dan ia bersendawa.
"Tidur ya… tadi seharian main dengan Kak Kurita, capek 'kan…?" kataku.
"Mm-mm…," gumamnya.
"Right here in my arms… tonight…."
Baris terakhir lagu Right Here in My Arms kusenandungkan pelan. Kiseki memejamkan matanya dan bernafas tenang.
"Oyasumi," bisikku dan membaringkannya di dalam boks.
The Milky Way upon the heaven
Is twinkling just for you
Kiseki memeluk guling kecilnya dengan wajah damai, membuatku tersenyum. Kalau sudah besar, Kiseki pasti cantik sekali.
Beberapa tahun yang lalu, aku masih bisa mengasuh adik-adik sepupuku yang masih bayi. Sekarang, mereka semua sudah bersekolah. Sudah besar.
Habisnya, aku tidak punya adik kandung. Jadi sepupu saja yang kuasuh.
Andaikan masa-masa itu kembali…
And Mr. Moon, he came by
To say good night to you…
"Hei!"
Masato memanggil dari pintu kamar dengan wajah heran, "Ngapain di situ?"
"Ah? Nggak," aku mengusap wajahku yang muram, "cuma lagi sentimentil."
I'll sing for you
I'll sing for mother
We're praying for the world
"Jadi sedih karena kamu anak tunggal?" tanyanya lagi.
Aku tertawa kecil, "Iya sih. Kalau kamu 'kan punya adik ya…," sahutku.
"Tapi aku tinggal terpisah dengannya. Adikku ikut orang tuaku yang bekerja di luar kota, sedangkan aku tinggal bersama nenekku. Waktu itu aku harus mengurus semuanya sendirian," jawab Masato.
"Iya juga sih…," aku membelai rambut pirang tipis Kiseki.
"Karena itu… kalau punya anak nanti, aku janji dia nggak akan kesepian sepertiku atau sepertimu. Aku akan memberinya perhatian yang cukup," ujar Masato sambil kembali ke depan TV.
Aku tersenyum.
"Tentu."
Aku bisa melihat Kiseki tersenyum samar dalam tidurnya, mungkin ia sedang bermimpi indah. Kuharap ia dapat memeluk kedua orang tuanya dalam mimpinya…
And all the people everywhere
Gonna show them all we care…
-GrowUp!-
Normal POV
Mamori menghela nafas sambil mengusap wajahnya. Kelihatannya lelah.
"Kekeke. Kau capek?" kata Hiruma santai padanya, "sebentar lagi juga sampai ke rumah sialanmu."
Hiruma menaikkan kecepatan sedannya yang ia dapatkan entah dari mana. Dia bilang army jeep yang biasa digunakannya sedang di upgrade oleh Musashi.
Tukang kayu dan jeep? Ah, sudahlah.
"Yah, aku tidak sekuat kau, Hiruma-kun," sahut Mamori dengan senyum manisnya. Meskipun Hiruma hanya melirik malas, tapi senyuman itulah yang ia tunggu.
"Makanya, jangan keranjingan mengasuh bayi sialan itu! Gara-gara kita terlalu sering menemuinya, suara sialannya berputar terus di kepalaku, cih!" omel Hiruma.
Mamori mengerjapkan mata biru safirnya, lalu berkata lembut, "Rupanya kau mulai sayang dengan Kiseki-chan, ya?"
Bola mata hijau zamrud itu menatap tajam jalanan di depannya, "Jangan mengatakan hal bodoh, manajer sialan."
Mamori terkikik pelan. Ia lalu memejamkan matanya, menenangkan sedikit sarafnya yang lelah.
"Kiseki-chan pasti kesepian…," ucap malaikat itu pelan, "meskipun ia terlihat ceria, tapi ia pasti merasa ada sesuatu yang hilang. Orang tuanya…"
Oh my sleeping child, the world so wild
But you build your own paradise
Hiruma tak berkomentar. Sesekali ia meletuskan gelembung permen karetnya yang tidak manis itu.
"Kuharap ia bisa segera kembali pada orang tuanya," Mamori memandang ke luar lewat jendela mobil, "jangan sampai ia mengalami masa kecil yang pahit. Sementara ini kita harus merawatnya dengan kasih sayang…"
"Hentikan pidatomu sampai di situ," kaki Hiruma menginjak pedal rem, berhenti di depan sebuah rumah—rumah Mamori.
"Eh, sudah sampai. Terima kasih Hiruma-kun," ujar Mamori sambil bersiap turun. Tak ketinggalan ia mengecup sekilas pipi setan tampan yang mengantarnya.
"Ckkk! Sana-sana!" usir Hiruma kasar walaupun senang karena dapat ciuman.
Mamori tersenyum lagi, lebih lembut.
"Aku tahu kau akan melindunginya, Youichi-kun," satu kalimat terakhir dari Mamori sebelum ia menutup pintu mobil.
Hiruma mengangkat alis, membuka kaca jendela secara otomatis dan menatap kekasih malaikatnya cuek, "Whatever."
Tapi tak lama setelah ia berlalu dari rumah itu, Hiruma menyeringai, berkata pada dirinya sendiri.
"Kau harus tetap hidup, bayi sialan."
That's one reason why
I'll cover you sleeping child
-GrowUp!-
Markas black magic
Viola mengetuk-ngetukkan jarinya di meja panjang dari kayu eboni itu, menunggu. Nero sedang pergi ke tempat pasukan kegelapan, memberikan koordinasi terakhir pada mereka sebelum berangkat besok.
Pertempuran terakhir, itulah harapannya. Satu sisi ia merasa Nero benar, bahwa mereka tak perlu bertarung sampai mati. Satu sisi lagi ia tetap ingin menghabisi semua yang terlibat dalam 'pembunuhan' Pimpinannya waktu itu.
If all the people around the world
They had a mind like yours
Aikuza Hana memasuki ruangan tempat Viola berada. Tatapannya yang dingin tak berubah ketika melihat Viola.
"Nero belum kembali?" tanyanya sambil duduk rapi.
Viola menggeleng.
Hana menatap wanita yang sudah seperti keluarganya itu. Tetap dingin. Tapi sedikit sendu.
"Aku rindu Ayah," terucap sebuah kalimat dari bibirnya. Mata merahnya beralih pada pemandangan ranting-ranting kering pepohonan di luar.
Viola berkedip kaget, tak menyangka Hana akan berkata seperti itu.
"Kau?" suara Viola hampir tak terdengar. Ia meyakinkan diri bahwa Hana benar-benar menyebut Ayah. Ya, Ayah. Diggz, Pimpinan black magic.
"Aku akan membunuh Hiruma Youichi yang sudah membunuh Ayah," katanya dengan aura kegelapan menguar dari tubuhnya. Wajahnya menatap Viola lagi, datar.
Viola mengernyit takut. Hana menyimpan kekuatan yang besar—ia tahu itu. Kini amarah dan dendam gadis itu telah menjadi satu dalam kekuatannya.
Wanita itu akhirnya menjawab, "Ya."
We'll have no fighting and no wars
There would be lasting peace on earth…
-GrowUp!-
Kerajaan white magic
"Sound… check. Screen… check. Connecting…"
Suara seorang teknisi terdengar agak gugup. Pimpinannya, Zach, berdiri di sebelahnya bersama sang istri, menunggu gambar muncul di layar besar itu.
If all the kings and all the leaders
Could see you here this way
"Still connecting…," gumam Zach. Mata biru langitnya terlihat fokus dari balik kacamatanya.
Hampir semenit berlalu. Ratu meremas kedua tangannya yang dingin. Namun ia tetap percaya. Gambar akan muncul di layar. Ia akan melihat putrinya.
Mata teknisi berjas putih itu berbinar, "Conne—"
"CONNECTED!" Zach berseru penuh semangat, sontak merangkul istrinya dan tersenyum padanya.
Layar itu buram pada awalnya, lalu gambar dan suara mulai muncul.
Seorang wanita berambut cokelat kehitaman muncul di layar, wajahnya memerah dengan mata hitamnya yang mengeluarkan air mata.
Seorang lelaki berdiri di belakangnya, menyisir rambut hitamnya dengan tangan sambil tersenyum.
"Di sini Agen no.8!" seru wanita itu, Aoihoshi Hana, gembira.
"Di sini Agen no.5," sahut Masato, mendekat ke layar.
"Oh… astaga… maafkan saya…," kata Hana lagi, "sebelumnya saya memberi hormat pada Pimpinan yang baru… Yang Mulia… itukah Anda? Itu sungguh-sungguh Anda? Yang Mulia Ratu?"
Zach dan Cahaya hanya bisa tersenyum dan tertawa melihat mereka berdua. Tampaknya tak ada kata yang sanggup menggambarkan kebahagiaan mereka saat ini. Kedua dunia sudah terhubung. Meskipun perpindahan dimensi belum bisa dilakukan, tapi jaringan komunikasi telah berhasil diperbaiki.
"Ya… ya, ini aku," jawab Ratu, "ini aku, Agen no.8. Ini kami!"
They will hold the Earth with their arms
They would learn to watch you play
"Oh, aku benar-benar kaget ketika VAIO-ku mengeluarkan cahaya dan layarnya terbuka dengean sendirinya. Ada tulisan connected berwarna emas, dan tak lama muncullah Anda berdua!" cerita Hana.
"Ya, kami memang membuat koneksi ke laptop Anda, Agen no.8," jawab Zach.
Hana mengangguk-angguk, lalu teringat sesuatu.
"Masato, Kiseki-chan!" ia menoleh pada Masato lalu berdiri. Gambar mereka berdua di layar terlihat bergoyang-goyang. Sepertinya Hana sedang membawa laptop itu ke suatu tempat.
"Dia masih tidur," seorang lelaki bertubuh gemuk berkata pada Hana.
"Siapa itu?" tanya Zach.
"Itu Kurita Ryokan. Pahlawan bertameng emas," jawab Ratu sambil tersenyum.
Layar memperlihatkan sebuah kamar dengan nuansa biru. Sebuah boks bayi dengan seorang malaikat kecil tertidur di dalamnya terpampang dengan jelas.
"Itu Putri Mahkota!" teknisi yang dari tadi diam berseru senang. Ia sendiri kaget bisa berseru seperti itu sampai menutup mulutnya sendiri.
"Putriku… dia selamat…," ujar Zach.
"Dia sedang tertidur dengan damai…," Ratu mulai menitikkan air mata, "ia aman dan terlindungi. Ia tak tahu apa yang sedang orang-orang lakukan di sini ataupun di sana…"
Oh my sleeping child, the world so wild
But you build your own paradise
"Ia hanya akan mendapatkan kasih sayang dan kebahagiaan. Ia bahkan memberi kebahagiaan buat kami, Yang Mulia," ujar Hana pelan, tak mau membangunkan Kiseki.
"Putri Mahkota adalah keajaiban," tambah Masato.
"Syukurlah…," Ratu menghela nafasnya. Tapi wanita itu tahu bahaya yang lebih besar tengah mengancam mereka semua.
"Aku tahu para pemberontak black magic sudah dekat..," kata Zach, "aku akan mengumumkan misi kalian sekarang."
"Siap," jawab Hana dan Masato kompak.
"Agen no.5 dan Agen no.8, aku perintahkan kalian untuk menjaga Putri Mahkota negeri ini, selama gerbang masih belum bisa terbuka. Apapun yang terjadi, ia harus selamat. Mengerti?" jelas Zach.
"Siap, Pimpinan!" jawab kedua agen itu, tetap pelan.
That's one reason why
I'll cover you sleeping child
"Aku akan melindungi Putri!" tambah Kurita membara.
"Terima kasih banyak," kata Ratu pada mereka, "bisakah aku melihat wajah putriku sekali lagi?"
Wajah Kiseki muncul lagi di layar. Kalungnya bersinar. Ia tersenyum bahagia. Sang Ibunda juga tersenyum lega melihatnya.
"Aku akan menghubungi kalian lagi secepatnya," kata Zach. Hana, Masato, dan Kurita mengangguk.
-GrowUp!-
Hana's house
Hana's POV
Aku menutup layar VAIO putihku perlahan. Tanganku dingin karena tegang dan terlalu senang.
"That's it," ujarku setelah percakapan dan pertemuan singkat dengan Raja dan Ratu tadi.
"Ya. Segalanya akan menjadi lebih baik, sekaligus lebih berbahaya," sahut Masato, "black magic akan beraksi, segera."
"Kita harus tetap bersama," kata Kurita, "Hana-chan, tidak apa kalau malam ini kami tinggal?"
"Hei hei… kalian jangan khawatir begitu," aku mencoba tersenyum, "kalau ada apa-apa, gelang Heart Weapon itu akan memberi tanda. Sekarang kalian pulang dan istirahatlah, ya? Besok 'kan kita mau hanami…"
Masato menghela nafas. Aku tahu dia pasti sangat khawatir akan ada yang menyerangku lagi malam ini, dan nggak mau 'kecolongan' kalau nanti ada orang lain menolongku.
Gawd, cemburuan sekali sih… tapi nggak sesederhana itu juga, pokoknya aku tahu dia khawatir!
"Percayalah," pintaku.
"Ya sudah," akhirnya Masato mengambil cardigan abu-abunya dan bersiap pulang, "jaga dirimu."
"Tentu," aku mengangguk, "hati-hati di jalan!"
"Pulang dulu ya," pamit Kurita. Lalu kedua orang itu keluar dari rumah.
Aku merapal mantra, memasang kekkai di sekeliling rumah. Setelah itu aku masuk lagi ke kamar, melihat Kiseki.
Ia masih tertidur. Ia bernafas, dan aku tahu kami harus mempertahankan nafas itu.
"Kau akan baik-baik saja, adikku," ujarku yakin.
"Hihi!"
Lho? Ini anak kok ketawa sendiri?
"Ya-ha...," ucap Kiseki pelan, tapi jelas sekali kalau itu 'ya-ha'.
Plak! Aku menepuk dahi. Semoga dia nggak meniru sifat Hiruma. Lebih baik ikut sifat malaikat Mamori saja.
Sementara itu….
Hiruma sedang berada di apartemennya, mengirim mail pada Mamori untuk segera menyelesaikan mandi air panasnya dan membawakan Hiruma makanan.
Sebetulnya dia bisa beli sendiri, tapi makanan dari Mamori pasti jauh lebih enak…
'Ya-ha!'
Hiruma sontak kaget. Suara apa itu tadi?
Ia menoleh ke segala arah. Tak ada siapapun kecuali dia di ruangan itu.
Lalu tadi itu suara… siapa?
"Bayi sialan itu benar-benar sialan. Sampai-sampai aku merasa dia berteriak di telingaku," Hiruma menggerutu kesal.
Tapi ia tidak bisa menyembunyikan segaris senyum yang muncul tak lama setelah ia mengomel tadi.
[bersambung…]
-POJOK KENANGAN HANA-
Keesokan sorenya kami kembali berkumpul karena Hiruma sudah menyiapkan latihan nerakanya. Besok adalah hari yang sangat penting.
"Latihan spesial hari ini adalah…," Hiruma mengambil nafas sambil mengacungkan bazookanya,"LARI MENYUSURI SUNGAI! YA-HAAAA!"
Suara menggelegar mengawali penderitaan anak-anak sore ini. Sena berlari paling depan, disusul Monta, Suzuna, dan semuanya hingga yang terakhir adalah Kurita. Hiruma menembaki mereka dari belakang, sementara aku mengikuti dengan sepatu rodaku dan Mamori dengan sepedanya.
"Lebih cepat, Senaaaaaa!" teriak Suzuna semangat, menyusul Sena dengan inline skatenya,"Ayooo balapaaaan!"
"Haduuu…iyaaa!" teriak Sena.
"WOOOY! TUNGGUIN MAX!" teriak Monta nggak kalah semangat. Ha-ha Brothers balapan dengan Daikichi karena dia memasang tampang menghina.
"Wah wah…," aku meluncur disamping Mamori, Hiruma di depan kami,"Latihannya ramai seperti biasa ya! Mmm…Kak Hiruma!" aku memanggilnya. Hiruma menoleh setelah membentak Musashi yang kelewat santai.
"Apa, anak baru banyak tanya?"
Aku nyengir,"Apakah, apakah ada alasan khusus memilih model latihan berlari menyusuri sungai seperti ini? Apakah jaraknya sesuai untuk meningkatkan ketahanan fisik atau bagaimana?" tanyaku semangat ala Yukimitsu, yang sekarang lagi ngos-ngosan.
"Hmmm…," Hiruma berpikir,"Mungkin benar, tapi bukan itu alasannya."
Aku menoleh ke Mamori. Ia juga terlihat penasaran.
"Jadi apa dong Kak?" tanyaku polos.
"Itu karena…," Hiruma menjawab dengan tampang serius, namun tiba-tiba ia berbelok,"Itu karena aku ingin beli soda dingin di situ," jawabnya dengan nada tanpa dosa sambil ngacir ke swalayan di seberang sana.
Hampir saja aku terguling dari sepatu rodaku kalau Kak Mamori tidak memegang lenganku.
…
Kok pendek? Ampun, ampun….ampuni saya…
SPOILER ALERT! Next chap: aku mengharap akhir yang indah, ketika kami bertarung di tengah indahnya bunga sakura.
Terima kasih sudah membaca. Mohon maaf karena pendek dan maaf kalau ada kesalahan. Review yah? *puppy eyes*
Buat teman-teman yang punya akun Ffn, sudah berpartisipasi di polling IFA-kah? Dukung fandom Eyeshield 21 ya untuk jadi Most Favorite Fandom ya! Hehe.
Kalau boleh promosi, dukung The Montarou Tales di kategori Humor/Parody, juga Hana dkk di Flowers untuk menjadi Most Favorite Fanfiction for Multichapter.
Akhir kata, sampai berjumpa secepatnya! xD
