Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 11

enjoy

.

.

.

.

Sakura mensedah pelan sambil terus menatap ke luar jendela kaca mobil. Pagi ini mendung dan berkabut. Mungkin beberapa pesawat yang akan terbang pagi ini akan delay, pikir Sakura. Pagi ini juga, Sasuke akan pulang ke London, tapi ia sendiri setidaknya tidak mengartar pria itu ke bandara. Bukan ia yang tidak ingin, tapi Sasuke yang menolaknya. Kata Sasuke dalam pesannya semalam, ia akan berangkat tanpa Sakura. Mungkin saat Sasuke kembali lagi, ia wajib menjemputnya. Tiba-tiba terlintas sesuatu di benak Sakura. Bukankah ini kedengarannya ganjil? Kenapa sekalian pergi dan kembali? Bagaimana kalau Sasuke berbohong? Bagaimana jika Sasuke tidak akan kembali seperti kejadian beberapa tahun lalu itu? Sakura langsung menggeleng pelan untuk mengusir rasa curiganya.

Naruto berdeham.

Sakura langsung menoleh. Ia merasa tidak enak hati karena telah menghabiskan waktu dengan memikirkan Sasuke tanpa ingat Naruto yang ada di sampingnya. Naruto menatap gadis itu ringan. "Kau kenapa?" tanyanya.

Sakura mengerucutkan bibirnya, lalu menggeleng pelan. Seperti biasa, Naruto tidak puas dengan jawaban itu. "Kau seperti sedang kehilangan sesuatu."

Naruto benar. Sakura kehilangan, dia kehilangan Sasuke yang akan pulang ke London pagi ini. Apa Naruto tidak tahu?

Sakura tersenyum kecil. "Sasuke." jawabnya pelan.

"Teme? Ada apa dengan teme?"

"Pagi ini, dia berangkat ke London." jawab Sakura lalu melanjutkan. "Apa dia tidak memberitahu mu?"

Alis Naruto bertautan lalu menggeleng. "Haaah.. Teman pria, terkadang selalu di duakan dengan teman wanitanya." guraunya.

Sakura mendengarnya. Ia hanya tersenyum kecil. "Akhir-akhir ini, dia sering bepergian." lanjut Naruto.

Sakura mengangguk setuju. Obrolan mereka berhenti sampai disana. Sakura sudah sampai di restoran tempat kerjanya. Ia segera turun dan mengucapkan terima kasih pada Naruto yang telah mengantarnya.

Naruto kembali mengemudikan mobilnya untuk segera pergi ke kantor. 'Sasuke pergi lagi..' pikirnya sambil memutar kemudi. Ia menghela nafas perlahan sambil masih memikirkan sesuatu. 'Lalu bagaimana dengan Hinata? Apa dia juga ikut pulang?' Jika jawabannya iya, maka Naruto akan lebih bersyukur. Kau yakin eh? Naruto? Dengan begitu, ia tidak akan khawatir. Jika jawabannya tidak, Naruto merasa harus menjaganya, dan memastikan Hinata baik-baik saja.

~~~oOo~~~

Sasuke menepuk-nepuk punggung Hinata lembut saat gadis itu memeluknya. Saat ini keduanya sedang ada di bandara. Ada banyak sekali pesan yang Hinata titipkan untuk di sampaikan pada kenalan-kenalannya di London. Ayah, kakaknya Neji, manajernya, penata busananya, dan masih banyak lagi. Tapi Sasuke hanya mencatat Ayah dan Ibunya saja. Neji juga, itupun jika bertemu dengannya mengingat pria itu sibuk untuk menjadi penerus perusahaan ayahnya, Hyuga Corp.

"Hati-hati." pesan Hinata.

Sasuke mengangguk "Kau sudah berulangkali mengatakannya." Ia tersenyum sembari membelai kepala gadis itu lembut. "Kau yakin tidak mau ikut?" tanya Sasuke.

"Kau juga sudah berulang kali menanyakan itu." kata Hinata. Ia tidak ikut untuk pergi ke London bersama Sasuke. Entah kenapa, Hinata merasa lebih nyaman disini, tidak banyak paparazi itu alasan utamanya yang ia katakan. Hinata tidak peduli dengan waktu berlibur yang di berikan oleh manajernya. Hinata berjanji akan pulang jika sudah waktunya. Ia tidak mau melewatkan sesuatu disini. Melewatkan apa? Memangnya apa yang akan terjadi?

Sasuke mengangguk. "Baiklah, hubungi aku jika ada apa-apa." Ia tidak bisa memaksa Hinata untuk ikut pulang bersamanya. Itu kemauannya, dan Sasuke hanya bisa menurutinya. Hanya saja, pada saat dirinya tiba di London, ia harus menyiapkan alasan yang benar-benar jelas agar kedua orang tua mereka tidak mencurigai.

Detik itu juga, panggilan dari pengeras suara terdengar. Pesawat yang akan Sasuke tumpangi akan lepas landas. Sasuke tersenyum sekali lagi pada Hinata, sebelum berbalik dan bergegas menghilang di keramaian para penumpang lainnya. Hinata hanya tersenyum simpul saat melihat Sasuke mulai menjauh dan menghilang dari pandangannya. Ia masih berdiri hingga Sasuke tidak terlihat lagi. Hinata menghela nafas perlahan. "Sasuke.. Cepat kembali." gumamnya.

Hinata menatap majalah-majalah milik Sasuke yang berserakan di atas meja. Ia mengambil salah satu majalah yang ada di hadapannya. Ia duduk di sofa, lalu membuka majalah itu halaman demi halaman yang membuatnya tercengang. Kolom-kolom itu, banyak menampilkan lowongan kerja. Tapi kenapa Sasuke menandai beberapa lowongan kerja itu dengan tinta merah?

Hinata menyipitkan mata membaca lowongan yang sudah di tandai itu. Sekolah tinggi fashion yang ingin menampilkan beberapa karya mereka dalam peragaan busana membutuhkan model profesional juga. Hinata menyimpulkan sesuatu. "Aku harus bekerja." katanya. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam tasnya. Sai, untungnya ia bertemu dengannya bersama Naruto waktu itu. Mendadak ponselnya berdering. Cepat-cepat ia mengeluarkan ponsel itu dari dalam tasnya. Satu pesan pendek masuk dari Naruto. Ia pun lekas membukanya.

Naruto : 'Aku akan menemanimu makan sampai sasuke kembali.'

Selesai membacanya, Hinata tersenyum. Hinata mulai mengetik membalas pesan itu.

To Naruto : 'Terimakasih..'

Tapi itu berlebihan, sejenak ia menatap tulisannya. Karena ragu ia menghapus dan mengetik ulang.

To Naruto : 'Terimakasih. Tapi jangan lupa dengan urusanmu sendiri.'

Ia mengoreksinya sekali lagi. Matanya menyipit. Kalimatnya terasa aneh. Karena terlihat aneh lagi-lagi, Hinata menghapus dan mengetiknya ulang.

To Naruto : 'Terimakasih banyak. Maaf selalu merepotkanmu.'

Kali ini Hinata benar-benar mengirimkan pesan itu. Setelah tidak langsung mengabaikan ponselnya. Ia menunggu balasan. Ia menatap ponsel lama dengan pandangan kosong. Beberapa detik kemudian, ponselnya berdering. Akhirnya. Satu pesan masuk dan Hinata langsung membuka pesan itu.

Naruto : 'Tidak masalah.'

Hati Hinata seperti bunga yang mendadak mekar di malam buta. Ia tidak dapat menahan senyumnya, sampai harus menutupi mulutnya dengan satu tangan karena merasa ingin berteriak dan berjingkat di atas sofa. 'Seperti anak sma saja..' pikirnya.

~~~oOo~~~

Sakura melirik jam tangannya sekali lagi, lalu menoleh ke arah kanan menatap jalanan. Sama sekali tidak terlihat mobil Ini melintas. 'Apa dia lupa?' pikirnya.

Ino sudah berjanji menjemputnya sore ini. Menjemput dan membawa Sakura pulang ke rumahnya. Tapi sampai sekarang, mobil Ini belum muncul dan terlihat sama sekali. Apa mobilnya di tilang polisi? Sakura menggeleng kepala kuat-kuat. Itu berlebihan. Tidak lama kemudian, mobil putih yang tiba-tiba berhenti di hadapannya nyaris membuatnya tersentak. Mata emerland Sakura berkedip-kedip untuk meredakan keterkejutannya.

Seseorang dari dalam membuka kaca mobil. "Sakura!" panggil Ino riang, sambil meringis lebar tanpa rasa berdosa. Buru-buru Sakura berputar, berjalan mendekat dan masuk dari pintu penumpang di sebelah Ino. Setelah Sakura berada di dalam, barulah ia melancarkan aksinya menjitak Ino dengan kesal. Apa-apaan tenaganya itu?

Ino mengusap kepalanya dan mengaduh kesakitan. "Kenapa pakai kekerasan?" gumam Ino.

"Aku menunggumu lama sekali. Datang-datang malah mengejutkan seperti hantu di film horor." jawab Sakura kesal.

"Dasar anarkis." balas Ino. Ia mengerucutkan bibirnya.

"Ngomong-ngomong, mobil siapa ini?" tanya Sakura.

Ino memutar kemudinya untuk memutar balikkan arah, sambil melihat kanan-kiri, ia menjawab, "Menurutmu?" tanyanya. Ia mengira Sakura sudah tau mobil ini milik siapa. Teman pink-nya ini ternyata tidak mengamati keadaan sekitar. "Tentu saja milik Sai." katanya.

"Sa.. Sai?"

Ini mengangguk sambil mengemudi dengan tenang. "Iya. Kekasih pertama dan terakhir." jelasnya

Sakura menghela nafas dalam-dalam. Sepertinya loading beberapa detik. Tiba-tiba mulutnya menganga, juga dengan mata terbelalak. "Akhirnya..." katanya, masih dengan wajah terkejut dan berseri-seri. Sama sekali tidak menyangka, setelah sekian lama menjalin hubungan akhirnya mereka berdua berfikir untuk lebih serius ke jenjang pernikahan. "Apa kalian akan menikah?" tanya Sakura.

Ino menoleh dan tersenyum simpul lalu mengangguk mantap. Ia menyetir mobilnya dengan tenang. Tidak sadar bila sedang di perhatikan dengan seksama oleh Sakura.

"Ino?" tanyanya.

"Hm...?"

"Lalu kenapa kau menyuruhku menginap?"

Ino menoleh, lalu menatap kembali pada jalanan yang ramai. "Aku menjemputmu dan memintamu menginap di rumahku, karena aku akan menikah tiga hari lagi. Maaf karena baru memberi tahu." kata Ino dengan nada menyesal dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

"APA?!"

'Sial. Kenapa suaranya berisik sekali?' pikir Ino dalam hati sambil menutup telinganya dengan tangan kanannya.

"Jadi—"

"Aku kan sudah minta maaf. Lagi pula ini mendadak. Kau tidak tahu posisiku sekarang. Ini sangat membingungkan." katanya menyesal.

Sakura menghela nafas sambil menggeleng pelan. "Tidak masalah. Tapi bukan itu maksudku," ia terdiam sejenak seperi sedang mengatur katanya dengan hati-hati. "Hm.. Apa maksudnya dengan membingungkan seperti yang kau bilang tadi?" Sakura yakin Ino mengerti dengan sifatnya yang over penasaran.

"Baiklah aku akan menjelaskan ini hanya sekali. Jadi dengarkan baik-baik." katanya. Ino menghela nafas, dan mulai mengatur kata-kata. "Sai akan melanjutkan kuliahnya di LA, itu pasti akan sangat lama. Aku kurang setuju dengan hal itu mengingat jauhnya Amerika dengan Jepang. Aku juga tidak bisa menjalin hubungan jarak jauh seperti itu. Akhirnya Sai memilih untuk menikahiku secepatnya. Aku tidak tahu apa tujuannya. Tapi mungkin saja dia akan tetap melanjutkan kuliahnya setelah kita menikah. Aku benar-benar bingung sekarang." jelasnya panjang lebar. Wajahnya cantiknya terlihat lebih muram.

"Kau mencintainya kan?" tanya Sakura.

"Tentu. Memangnya untuk apa aku menjalin hubungan selama hampir lima tahun kalau tidak mencintainya."

"Lalu apa kau bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Sakura lagi.

"Aku.. aku bingung."

"Jadi kau tidak mau di tinggal Sai ke LA?" tanyanya. "Kenapa tidak ikut saja dengan calon suamimu, pasti menyenangkan bisa tinggal dan bertetanggaan dengan deretan artis hollywood." katanya.

"Kau mau aku pergi? Jika aku pergi, kau akan kehilangan seorang sahabat yang paling pengertian di dunia."

Sakura tertawa kecil. "Opini yang kau buat sama sekali tidak bagus."

"Tentu aku tidak mau kau pergi, pig. Jika kau pergi, aku tidak tahu harus merepotkan siapa." Sakura menepuk pundak gadis itu pelan, Ino pun menoleh. "Aku tahu kau mencintainya. Kalian berdua saling mencintai. Yang kalian lakukan hanya saling percaya saja satu sama lain."

Sakura tersenyum mencoba meyakinkan sahabat pirang yang satu ini, bahwa serumit apapun perjalanannya pasti semua akan menemukan kebahagiaannya. Segala jawaban atas perjuangan yang mereka berdua lewati selama bertahun-tahun menjalin hubungan. "Kau harus percaya bahwa semua ini adalah jalan terbaik untuk kalian berdua. Bahagia sudah ada di depan mata, kau tidak perlu memikirkan apapun lagi. Aku yakin semuanya akan berjalan sesuai rencana." jelas Sakura.

Sakura hanya terdiam sambil menatap Ino yang mulai mengemudikan mobilnya kembali tanpa minat. Alis merah muda Sakura berkerut heran, ia jelas melihat Ino meneteskan air mata.

Ino menoleh. "Kenapa kau begitu yakin?" tanyanya. Air mata jelas terlihat mengalir sekarang.

"Karena aku sangat yakin bahwa hanya kaulah yang tahu jawabannya." kata Sakura lembut. Dan yang terjadi adalah Ino kini mendadak menginjak pedal rem mobilnya begitu saja. Sakura nyaris terlonjak ke depan. Satu hal penting bahwa pentingnya sabuk pengaman saat naik mobil. Sakura tidak mengerti apa yang di lakukan sahabatnya ini, mereka berdua menoleh dan terdiam sejenak. Sakura berharap semoga perkataannya tadi tidak menyinggung Ino.

"Terimakasih, Sakura." katanya masih dengan air mata yang menetes di pipinya.

Sakura tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia hanya membalas dengan tersenyum lembut.

"Kau tahu? Aku ingin memelukmu sekarang." katanya dengan air mata yang mengalir.

"Lalu apa yang membuatmu tidak melakukannya?" tanya Sakura.

"Kau tidak lihat? Aku sedang menyetir." jawab Ino dengan nada sendu.

"Ah ya.. Aku lupa." kata Sakura tersenyum dan menampilkan deretan giginya. Saat Sakura melirik dashboard mobil, ia melihat ada secarik undangan pernikahan tergeletak cantik disana.

Ino mengikuti arah pandangan Sakura sambil mengusap bekas sisa-sia air mata di pipinya. "Ah, ini.." ia mengambil surat undangan itu, lalu menyerahkannya pada Sakura. "Ini untukmu. Untuk sahabat tercinta."

Sakura mengambil dan langsung membukanya. Undangan berwarna putih dengan tulisan berwarna emas di atasnya.

Shimura Sai

Ino Yamanaka

Tulisan emas itu melambangkan kebahagiaan mereka berdua. Pernikahan adalah pintu menuju kebahagiaan, harapan, dan juga angan-angan. Mereka berdua pantas mendapatkan kebahagiaan atas segala momen indah hubungan yang mereka jalankan selama menjadi pasangan kekasih. Berakhir menuju pada sebuah kebahagiaan yang tak ternilaikan yaitu pernikahan. Dimana adalah hari yang paling di tunggu oleh para pasangan kekasih di seluruh dunia. Menjadi pasangan suami istri dalam ikatan sah. Semua itu sudah di depan mata. Sakura berharap semoga semuanya berjalan sesuai rencana dan keinginan mereka berdua.

"Kau sendiri bagaimana?" tanya Ino tiba-tiba.

Sakura mengerutkan keningnya heran. Tampaknya Ino ingin mengganti topik pembicaraan. "Aku?" katanya sambil menunjuk diri sendiri.

Ino mengangguk pelan. "Kau bilang, pria itu datang dan membawa suasana yang sangat berbeda dari sebelumnya."

Sakura tertawa. "Oh ya, dia Sasuke." jawab Sakura jujur.

"Kau suka?" tanya Ino datar.

Sakura mengangguk pelan, tanpa menoleh. Ia hanya memandang ke arah luar jendela kaca.

"Kau juga mencintainya?"

Ia menoleh. Kali ini, Sakura benar-benar memikirkan jawaban sahabatnya ini. Pandangannya kembali menerawang ke arah depan. Sakura tidak tahu apa yang akan ia jawab. Dulu Sakura hanya mencintai Naruto, dan Sasuke pun tahu akan hal itu sejak lama, sejak mereka berempat bersahabat. Ia tidak tahu pasal perasaannya pada Sasuke. Di samping itu, Sakura juga berfikir kenapa perasaan cintanya pada Naruto seakan memudar, atau mungkin menghilang. Jika hal itu benar, tapi sejak kapan? Kenapa hal itu bisa terjadi? Apa Sasuke ada hubungannya dengan hal itu? Yang jelas hanya Sakura lah yang tahu semua jawaban pertanyaan itu. Selama ini, kenapa hal itu sama sekali tidak terpikirkan oleh Sakura?

"Kalau begitu, pastikan dia juga menyukai dan mencintaimu," kata Ino menasehati seperti orang yang sudah berpengalaman tentang urusan cinta. "Karena cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan." lanjut Ino sambil tertawa.

"Apa seperti ini?" tanya Sakura sambil bertepuk tangan tepat di sebelah telinga kanan Ino. "Tidak sakit kan?"

Ino tersenyum lembut. Ia tidak menanggapi Sakura dan hanya terdiam seraya menyetir dengan tenang.

"Apa sakitnya seperti di cubit? Atau di tampar?" tanyanya lagi.

Ino hanya tertawa kecil. "Sama sekali tidak lucu, Sakura.." jawabnya acuh.

Sakura tersenyum lalu kembali menatap ke luar jendela. Seakan pemandangan yang menarik perhatiannya sejak tadi. Padahal, semua pandangan itu hanya omong kosong, karena pandangan itu hanya tersirat pandangan kosong dengan yang arti mendalam. 'Kau pikir aku tidak pernah mengalaminya? Bahkan aku mengalami hal yang lebih sakit di bandingkan dengan sekedar di cubit ataupun di tampar. Lebih tepatnya, aku melihat Naruto—pria yang ku cintai, menikah dengan sahabatku sekaligus orang yang sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri..' kata Sakura dalam hati. Oh..

~~~oOo~~~

"Mungkin pemotretannya akan di tunda." kata Naruto sambil menatap Hinata yang hanya berekspresi datar.

"Tidak jadi juga tidak apa-apa. Lagipula masih banyak pekerjaan lain kan?" katanya santai. Hari ini, Naruto mengajak makan siang bersama di sebuah restoran. Mulai sekarang, mungkin tidak hanya hari ini saja mereka makan bersama. Mengingat pesan yang Naruto kirim waktu itu, Hinata jadi merasa tidak enak pada pria yang satu ini. Tapi kenapa di sisi lain ia merasa... Senang. Tentu, karena jika tidak ada pria itu Hinata bisa merasa bosan.

"Ya, tentu." jawab Naruto. Ia memberitahu tentang Sai yang akan menikah beberapa hari lagi. Akibatnya, tawaran pemotretan untuk Hinata yang Sai tawarkan mungkin akan di cancel. Apalagi setelah mengetahui jika teman SMA-nya itu akan melanjutkan kuliahnya di LA. Tentunya ia harus mencari solusi lain.

Hinata menyesap minumannya pelan. Ia tidak terlalu menikmati minuman itu, karena pikirannya sedang melayang entah kemana. Ia sedang sibuk memikirkan tentang pekerjaan yang dipilihkan oleh Sasuke untuknya. Masalah gaji, mungkin Sasuke tidak mempertimbangkannya, asal dapat bekerja sambil menunggunya pulang.

Di seberang meja, Naruto mengamati. "Sedang memikirkan apa?"

Hinata mendongak, ia menggumam, sedikit terkejut karena Naruto membuyarkan lamunannya. "Tentang pekerjaan. Sasuke tidak akan pulang kemari dalam waktu dekat. Aku harus mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang."

Naruto sudah yakin akan jawaban gadis di depannya ini. Ia sedang memikirkan tentang pekerjaannya di sini. Sebenarnya ia tidak tahu lagi mencari pekerjaan dimana. Ia tidak terlalu mengerti apalagi tentang pekerjaan wanita. Pikirannya bekerja keras mencari jalan keluar. Sampai akhirnya ia mengeluarkan dompet dari saku celananya, lalu mengambil sebuah kartu kredit miliknya. "Kau bisa menggunakan ini untuk sementara, sampai Sasuke kembali."

Hinata menyipitkan matanya. Cepat-cepat ia mengangkat tangannya untuk menolak. "Tidak perlu. Kau tahu aku sudah banyak sekali merepotkanmu. Aku akan berusaha sendiri." Lagi-lagi Hinata merasa di repot kan oleh Naruto.

"Aku tidak keberatan." kata Naruto.

"Tidak Naruto, kau tidak perlu membantuku sejauh itu. Kali ini, biarkan aku berusaha." ujarnya sambil kembali mengesap minumannya.

"Apa kau yakin?" tanyanya kurang yakin dengan perkataan gadis itu.

"Tentu. Kau sudah banyak membantuku sejauh ini." Hinata menatap pria di depannya.

"Baiklah, tapi kau tidak perlu segan jika ingin meminta tolong."

Hinata hanya membalas dengan senyumannya. Bersamaan dengan itu seorang pelayan restoran membawakan makanan yang mereka pesan. Setelah itu mereka berdua makan bersama dengan hening tanpa pembicaraan. Lalu, Naruto menunjuk dengan garpu di tangannya ke arah piring Hinata yang masih penuh dengan makanannya. Hinata sama sekali belum mencicipi makanan itu. Sedangkan Naruto sendiri sudah menghabiskan setengah dari makanannya.

Hinata mengangguk mengerti, lalu segera meraih sendok untuk memakannya. Tanpa sadar, Hinata begitu menuruti keinginan Naruto. Mungkin sekarang Sasuke sudah menjadi nomor dua sekarang.

.

.

"Terima kasih Naruto." kata Hinata yang masih berada di dalam mobil Naruto. Setelah makan siang bersama, mereka berdua tidak pergi kemana-mana lagi. Lagi pula mungkin juga Naruto sibuk dan banyak urusan, dia kan seorang pengusaha. Pikir Hinata.

"Sama-sama." kata Naruto menatap Hinata. Setelah itu keheningan selama sepuluh detik menyelimuti mereka.

"Naruto?" tanya Hinata memecah keheningan.

"Ya?"

Hinata menyusun kalimatnya. Sudah lama ia ingin menanyakan ini, hanya saja belum ada waktu yang tepat. "Kenapa kau selalu ingin bertanggung jawab terhadapku?"

Naruto mengerutkan dahi. "Maksudmu?" tanyanya kurang mengerti.

Hinata menghela nafas. "Kenapa kau selalu ingin melindungi dan menjagaku?"

Naruto terdiam sesaat. Ia melihat Hinata yang menunduk tak lagi menatapnya. "Karena Ibu Sasuke menyuruhku begitu."

Hinata tersentak, detak jantungnya seakan berhenti. Ia terdiam sesaat.

Naruto mendongak dan mengamati Hinata yang terdiam, sambil bertanya pada diri sendiri. 'Apa aku salah bicara?'

Hinata memaksakan tawa kecil. "Ah, ya. Jadi karena... Itu." katanya gugup. Sekarang ia mengerti mengapa pria ini begitu perhatian dan peduli padanya. Memangnya apa yang ia harapkan dari jawaban Naruto? Seharusnya ia tahu akan hal itu.

"Hinata?" panggil Naruto.

"Ya?" jawabnya dengan sebuah senyuman yang sedikit aneh di mata Naruto.

"Apa ada yang salah?"

"Tidak." Hinata tersenyum lagi sambil membuka pintu mobil untuk beranjak ke luar. Tapi sebelum itu i berkata, "Mungkin lain kali aku harus membalas semua kebaikanmu." setelah itu ia keluar lalu menutup pintu mobil Naruto.

"Sampai jumpa. Ah hati-hati." katanya sebelum berlalu menuju apartemen milik Sasuke meninggalkan Naruto di dalam mobilnya dengan perasaan aneh dan sedikit kebingungan.

.

.

Sampai di dalam apartemen, Hinata langsung merebahkan diri di ranjang milik Sasuke. Ada apa dengan hari ini? Kenapa dirinya merasa sedikit kecewa saat pembicaraannya di mobil bersama Naruto? Seharusnya ia sudah tahu. Naruto sudah di beri amanat dari ibu Sasuke untuk menjaganya selama di sini. Kenapa ia tidak mengerti juga. Pikirannya langsung menuju dimana pada hari-hari saat dirinya bersama Naruto. Pria itu yang sudah membantunya, menemaninya, menjaganya selama ia disini. Tapi kenapa Hinata merasa bukan hanya sebuah tanggung jawab pria itu. Tapi sebuah perasaan akan se—tidak! Tidak. Hinata menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran membingungkannya.

Ia menghela nafas panjang. Hinata meraih ponsel miliknya, membuka galeri yang menampilkan koleksi foto-foto dirinya, teman, maupun keluarganya. Tidak bisa di pungkiri bahwa ia merindukan keluarganya. Ia menyentuh satu foto yang menampilkan foto keluarganya. Ayahnya terlihat gagah dan berwibawa mengenakan setelan tuxedo biru dongker senada dengan dasi dan celananya. Dirinya juga nampak menggunakan dress model pensil tanpa lengan berwarna hitam dengan taburan kristal berkilau pada bagian bawahnya. Lalu ia juga melihat kakak laki-lakinya yang menggunakan tuxedo sama seperti yang di pakai ayahnya. Rambut cokelat gelap yang panjang dan lurus dan mata lavender seperti miliknya. Semuanya terbingkai rapih menunjukan sebuah keluarga hangat dan terpandang bernama Hyuga. Hal itu, membuat rasa rindu di dalam hatinya bertambah.

Ia tersenyum memandang foto tersebut. Tiba-tiba sebuah pikiran tepat melintas di otaknya, membuat dirinya semakin melebarkan senyumannya.

~~~oOo~~~

to be continue..

Baru muncul lagi. Kalo kalian mau tau, waktu itu saya fokus UNBK, dan sekarang bingung cari pekerjaan. Di samping itu saya juga lagi bingung perguruan tinggi. Kalo kalian ngga mau tau juga gapapa ko. Tapi saya udah terlanjur ngasih tau. Jadi harap maklumkan aja orang seperti saya mah. :') maafkan diri saya juga yang tidak berpengalaman soal bikin cerita. :') terakhir saya berterimakasih banget buat yang udah review, fav, follow. Itu membuat saya semakin semangat untuk melanjutkan cerita ini. Makasih juga buat yang udah mampir di cerita absurd ini. See ya * 3

Review? Kritikan selalu saya terima dengan senang hati.