THE PORCELAIN DOLLS (Indo Trans)
by: sweetUKISSfan (asianfanfics)
Hunhan, Taoris, Baekyeol, Kaisoo, Xiuchen, Sulay
Romance
Rated M
.
translated by: exoblackpepper
.
Read the original story!
www asianfanfics com /story/ view/564488/ the-porcelain-dolls-exo-hunhan-taoris-baekyeol-kaisoo-xiuchen-sulay
(ganti spasi dengan tanda titik / hilangkan spasi)
.
.
.
[!]
BACA DENGAN PERLAHAN; DINIKMATI, DIMENGERTI, DAN DIHAYATI
.
.
Chapter 20: Bare, Naked, and Exposed
.
.
.
Suho berjalan mondar-mandir di dalam kantornya, kedua tangan saling bersedekap di depan dada, jemarinya mengetuk tulang sikunya. Kris dulu sering mengejeknya karena ia terlalu sering mondar-mandir mengelilingi ruangan kantornya, bisa-bisa ia membuat lubang di tengah-tengah lantai. Namun Suho memiliki alasan hingga ia mondar-mandir dengan gugup seperti saat ini, terutama setelah pertemuannya dengan Xingie kesayangannya kemarin malam.
"Sayang, apa kau yakin dengan yang kau katakan?"
"Sangat yakin! Ada sebuah lampu hias mewas yang besar di galeri itu dan sebuah air mancur indah di depannya dengan sebuah patung Dewa Roma. Ada juga air mancur yang sangat jelek dan seram dengan patung wanita telanjang yang berlumuran darah di seluruh wajahnya." Yixing bergidik ngeri.
"Wanita telanjang berlumuran darah?" Suho merasa tubuhnya menegang.
"Ya. Air mancur itu menyeramkan. Maksudku, aku bukan seorang peminat seni namun serius itu adalah sesuatu yang paling aneh yang pernah kau lihat. Bisa-bisa itu membuatmu mimpi buruk."
Suho tak bisa tidur malam itu. Tiga ronde bercinta tak cukup membuatnya tenang. Itu membuat Yixing tenang karena ia tertidur dengan begitu pulasnya, namun sama sekali tak ada pengaruh bagi Suho. Deskripsi air mancur yang sebelumnya diutarakan itu menggentayanginya karena ia tahu jelas apa yang pria itu maksud.
Tidak hanya itu, ia tahu jelas dimana letak galeri itu dan siapa pemiliknya.
"Tuan," Taemin memasuki ruangan untuk yang kesekian kali, kali ini bersama dengan Minho. "Kami telah selesai menganalisis berkas yang diberikan oleh Kris."
"Coba kulihat." Suho mengambil berkas itu dan membaca segalanya. Banyak informasi baik dari riwayat detil aktivitas kantor hingga riwayat finansial.
"Ada 4 akun bank berbeda di daftar itu."
"Ya tuan, dan bisa dilihat kita memiliki dua akun Swiss Bank, satu di Bank Industri Korea dan yang satunya adalah sebuah akun bank KfW, bank teraman di dunia." Minho menghela nafas. "Butuh waktu untuk mengecek yang satu itu. Untungnya salah satu dari akun-akun itu dimiliki oleh seseorang yang sama seperti yang pernah kita lacak sebelumnya."
"Tolong katakan kau tahu siapa itu Lee Jinyoung."
"Tidak, tuan."
"Semua akun ini aman. Mr. X tidak menganggap remeh keamanan finansialnya. Ia sangat tahu dengan apa yang sedang ia lakukan." ucap Suho. "Bagaimana dengan rekaman pesan suara yang Kris bawa?"
"Kami sedang melacak asal nomor ini." Minho menunjukkan tabletnya yang memperlihatkan detil nomor seorang wanita.
"Suruh Kris lacak wanita ini."
"Siap." Minho mengapit tabletnya pada lengannya dan beranjak. Ia memberi Taemin kecupan kecil pada pipinya. "Aku akan kembali." Suho serasa ingin muntah melihat pemandangan di hadapannya namun ia memilih untuk mengabaikan mereka. Pikirannya berlayar mengingat wajah malaikat yang menghabiskan malam bersamanya tetapi kemudian ia mengusir pemikiran itu. Ayolah Suho, fokus.
"Menurut riwayat aktivitas belakangan ini, tampaknya tak ada sesuatu yang signifikan. Sepertinya mereka sedang melunak sejenak." Kemudian Taemin sedikit tersenyum. "Kami juga punya sesuatu yang akan membuat anda tertarik."
"Apa itu?" Suho mengambil kertas lain dari Taemin.
"Buku kas. Coba lihat nama-nama yang terdaftar disana."
"Gubernur Seoul? Jendral Angkatan Laut Korea? Milyarder? Politisi?" Mata Suho semakin membola seakan ingin keluar dari kelopak matanya. Mr. X telah berbisnis dengan para politisi penting dan pebisnis ini? Kenapa ada beberapa orang paling berpengaruh di negara ini! Darahnya mendidih. Jadi inilah cara dia membiayai bisnis kecilnya. Dasar brengsek dan tak punya akal sehat.
"Lihat ke bawah sedikit lagi tuan." ucap Taemin. Suho melihat Taemin menelan liurnya gugup. Ia menurunkan pandangannya.
Mr. Philip Wu
.
.
Beberapa hari telah berlalu dan masih tak ada kabar dari Zelo. Menurut Jackson, Zelo pernah muncul satu kali di sekolah, namun ia hanya singgah selama beberapa jam sebelum bolos lagi. Zelo tidak muncul untuk latihan dan Tao sangatlah cemas. Apa yang terjadi dengan murid kesayangannya? Dimana dia?
Sebuah siang menjelang sore pada hari Selasa. Tao baru saja mengantar Jenny ke rumah teman bermainnya untuk bermain. Tao berpikir untuk mampir ke tempat kursusnya sebentar untuk mengurus beberapa hal ditemani oleh secangkir kopi. Ia berbelok dan berjalan di gang sempit di belakang toko-toko. Tiba-tiba, ia mencium sesuatu. Ia bersin dan hidungnya gatal. Yuck, asap rokok.
"Kau pikir kau bermain-main dengan siapa?"
"Apa?" Tao mendengar suara sangar seseorang. Tampaknya ada beberapa orang di depannya, namun ia tak yakin. Biasanya, ia akan berbalik dan mencari jalan lain dan pergi, namun kali ini instinglah yang membawanya berjalan ke sumber suara.
"Kubilang 25,000."
"Mana bisa begitu. Aku bahkan tak mau membayar 3000 untuk sampah ini."
"Sampah ini? Kau pikir ini sampah?" Salah satu dari pria kekar dengan tato di sekujur lengannya berdiri di hadapan pria lainnya dan menghajarnya. "Aku tidak menjual sampah, sekarang lebih baik kau ambil itu atau tinggalkan saja. Masih banyak orang lain di Korea yang menginginkan benda yang kau sebut sampah ini."
"Sialan."
Pria bertato itu menyeringai. Seorang lelaki muda di sebelahnya menyodorkan sebuah koper yang kemudian ia buka dan menunjukkan isinya pada pria di hadapannya, Tao mengira ini hanyalah bisnis gelap. Lelaki muda itu, entah mengapa terlihat familiar. Ia memiliki surai merah muda.
"Rambut merah muda...Zelo!" Tao hampir meneriakkan nama Zelo namun ia tak mau persembunyiannya terbongkar. Apa yang muridnya tengah lakukan dengan pria bertato itu?
"Dimanakah para Boneka?"
"Apa?" Si pria bertato mendongak. Ia menggenggam setumpuk uang di tangannya sambil sibuk menghitung. Kedua tangannya lebam dan buku-buku jemarinya bengkak.
"Kau tahu apa yang aku bicarakan. Dimana para Boneka? Sudah lama aku tidak melihat para kesayanganku." Pria lainnya tertawa atas pernyataan itu, bukan karena hal itu lucu, namun karena mereka setuju dengannya. Tao merunduk dan bersembunyi di balik satu rak botol bir kosong. Mengapa percakapan ini begitu familiar?
"Ada masalah dengan mereka."
"Masalah? Masalah apa? Kau berjanji akan membawa mereka padaku dalam 2 minggu!"
"Aku tidak menjanjikan apapun!"
"Bajingan kau. Kau menipuku?" Seketika, ia mengeluarkan sebuah pistol. Sebuah tembakan terdengar dan suara teriakan terdengar. Tao meloncat keluar dari pesembunyiannya menuju para penjahat itu. Ia hanya memikirkan Zelo. Ia harus menyelamatkan muridnya.
Reflek cepat Tao-lah yang menyelamatkannya. Ia mendorong para gangster itu dan menghajar mereka. Zelo sedang berhadapan dengan salah satu gangster dari grup lain yang sialnya lebih besar dan kuat. Tao menghajar pria itu dan menarik muridnya.
"Huang Shifu!" Zelo terkejut bukan main ketika melihat orang yang menyelamatkannya.
"Ayo. Ikuti aku!"
"Huang Shifu!" Zelo dibawa Tao keluar dari gang itu. Tao berlari secepat yang ia bisa seraya membawa muridnya. Ia berbelok dan berhenti di depan toko cinderamata lokal. Ia terengah-engah, kehabisan nafas dan otot-ototnya linu. Ia menatap Zelo, yang keadaannya juga sama seperti dirinya.
"Huang Shifu..."
"Ayo Zelo."
"Tidak, tunggu Shifu." Zelo berhenti. Ada banyak lebam dan luka pada wajahnya. Tak peduli seberapa sering ia berlatih wushu, ia masih belum siap untuk bertarung sungguhan.
"Apa yang salah denganmu? Ayo keluar dari sini dan bersihkan dirimu." Tao mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Zelo tetapi Zelo menangkis tangannya, dengan ekspresi marah bercampur dengki.
"Shifu kumohon, tinggalkan aku sendiri."
"Meninggalkanmu sendiri? Kau gila? Kau baru saja bertarung dengan geng! Kau bisa saja mati di sana!"
"Namun teman-temanku masih di dalam sana!"
"Teman-temanmu?" Tao mendengus. "Mereka adalah teman-temanmu?! Apa yang terjadi padamu, mengapa kau bersikap seperti ini?!"
"Shifu, kau tak'kan mengerti..."
"Apa kau bilang?" Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia mencoba menggenggam tangannya sekali lagi tetapi Zelo menangkisnya. Sakit. Mengapa murid terbaiknya melakukan ini? Zelo sudah bagai anak sendiri. Ia hanya ingin membantu, namun kenapa ia mendorongnya menjauh?
"Shifu kumohon... Kau akan terluka jika terus melakukan ini."
"Zelo bukan aku yang akan terluka tapi—"
"Aku tak apa. Jangan khawatirkan aku dan kumohon jangan mencariku."
"Bagaimana dengan orangtuamu? Apa yang akan kau katakan pada mereka?" Tiba-tiba manik Zelo berubah mendingin. Ia menatap Tao seakan ia adalah makhluk paling menjijikkan yang ada di muka bumi ini.
"Tak ada." Ia berlari dan kali ini Tao tidak mencoba mengejarnya.
Zelo... Apa yang terjadi denganmu?
.
.
Sebuah malam yang damai nan sunyi di apartemen mereka. Xiumin dan Jongdae sudah kembali ke kediaman mereka di sebelah. Sehun masih sibuk bercengkrama dengan buku untuk tes remedialnya. Sementara Kai, Kyungsoo, dan Luhan memutuskan untuk menonton film bersama. Kyungsoo menyukai Frozen. Ia sudah menonton film itu 6 kali sekarang namun ia masih belum bosan. Belum.
Baekhyun hanya sedang membaca, sementara Chanyeol merebahkan diri di sebelahnya, mengetik sesuatu di ponselnya. Mereka berdua berada di dalam kamar Chanyeol, saling bermalas-malasan di bawah selimut. Setelah beberapa menit, Chanyeol meletakkan ponselnya dan menguap. Baekhyun mendongakkan kepalanya dan tersenyum lembut.
"Lelah?"
"Sedikit. Hari yang cukup melelahkan." Ia duduk dan melingkarkan tangannya di sekeliling Baekhyun, menciumnya lembut di kening. Baekhyun menyandarkan dirinya dalam pelukan Chanyeol. Ia mencium raksasa manis itu. Bibir Chanyeol meraup bibir Baekhyun. Tangannya membungkus sempurna tubuh mungil Baekhyun. Kemudian, sesuatu mengagetkannya. Dari luar kaus berbahan tipis Baekhyun, ia merasakan sebuah garis menonjol di sekitar pinggang Baekhyun. Seperti luka.
"Yeollie? Ada apa?" tanya Baekhyun.
"Itu uh... Tidak apa-apa." Bukanlah sebuah rahasia, namun Chanyeol tidak suka membicarakan masa lalu kelam Baekhyun di klub malam itu. Ia tak suka membicarakan hal menyedihkan, itu membuatnya tidak nyaman, dan selama beberapa bulan ia telah menghindari membicarakan hal itu dengan Baekhyun. Hatinya bak retak setiap kali membayangkan Baekkie-nya yang cantik disakiti dan disiksa. Ia tidak suka akan hal itu. Malah, ia membencinya.
"Kau yakin? Tampaknya ada sesuatu yang mengganjal."
"Tak apa Baekkie, ayo kita tidur saja."
"Tidak," Baekhyun menghentikan Chanyeol yang sedang mencoba mengalihkan topik. Baekhyun cukup peka, atau mungkin Chanyeol-lah yang kurang ahli berbohong. Ia tahu ada sesuatu. Sesuatu yang membebani Chanyeol.
"Baekkie please..."
"Katakan padaku apa yang salah. Please?"
Chanyeol menghela nafas. Ia tak tahu harus mulai dari mana. Seperti membuka Pandora's Box. Bagaimana caraku memberitahumu? Aku tahu kau disiksa habis-habisan saat di klub dulu jadi aku tidak mau memikirkannya dan menghindari segala macam kontak fisik intim karena aku tidak mau menyakitimu. Atau apakah karena aku sedikit terhantui oleh fakta bahwa dulu kau adalah penjaja prostitusi dibawah umur?
"Ini tentangku, bukan?" ucap Baekhyun. "Tentang masa laluku. Apa kau tidak nyaman dengan hal itu?"
"Well itu memang sesuatu yang membuat semua orang tidak nyaman..." Itu adalah jawaban yang sangat buruk, karena air wajah Baekhyun sedikit mengkeruh.
"Apa kau jijik denganku? Itukah mengapa kau berhenti menciumku?"
"Tidak tidak tidak!" Chanyeol dengan keras membantah. "Tidak, tentu saja tidak! Bagaimana bisa aku jijik padamu? Kau adalah makhluk paling indah yang pernah kulihat. Hanya saja..."
"Hanya saja apa?"
"Aku tak mau menyakitimu." terang Chanyeol. Langsung ke inti dari semuanya.
"Menyakitiku?"
"Ya. Baekkie, aku akan jujur padamu, oke?" mula Chanyeol. "Aku tahu dulu kau adalah pelacur dibawah umur. Aku tahu kau telah menderita selama bertahun-tahun. Sebut aku gila; sebut aku paranoid tapi setiap kali aku memikirkan itu, aku takut. Aku memikirkanmu dan itu membuatku cemas. Aku merasa bersalah dan malu. Aku benci diriku yang merasa seperti ini. Diriku yang...tertarik secara seksual padamu."
"Chanyeol..."
"Aku tak mau menyakitimu. Aku ingin melindungimu agar kau tak disakiti lagi, namun ketakutan terbesarku adalah bagaimana jika aku jadi seperti mereka yang menyakitimu? Aku juga bisa menyakitimu. Bagaimana jika sesuatu terjadi dan itu adalah karenaku? Aku tak mau membuatmu menderita lagi."
"Chanyeol..." Baekhyun mengangkat kepala Chanyeol untuk saling bertatapan. "Kau tak'kan menyakitiku."
"Seyakin apa kau? Bagaimana jika aku—"
"Kau tak akan melakukan itu. Aku mengenalmu. Semua pria yang menyakitiku, aku takut pada mereka. Tetapi aku tidak takut padamu. Jika kau mau menyakitiku, atau memanfaatkanku, kau pasti sudah melakukannya sejak berbulan-bulan lalu. Jangan menahan dirimu, jangan merasa bersalah untuk tertarik padaku secara seksual, dan jangan takut untuk menyentuhku." Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol. "Aku mempercayaimu. Kau mengubah duniaku, Chanyeol. Kau membantuku melihat cahaya, menunjukkan bahwa tidak semua pria dan wanita di dunia ini kejam. Kau membantuku melihat cinta yang bukanlah sebuah kemustahilan jika kau mempercayainya. Dan aku percaya itu, terutama dalam dirimu."
"Baek..." Baekhyun beranjak dari kasurnya dan berdiri. Kemudian, ia melepas seluruh pakaiannya dan juga celananya. Ia berdiri di hadapan Chanyeol, polos dan tanpa busana, dengan luka-luka yang terpampang jelas. Tangan Chanyeol menutup mulutnya seraya menatap tubuh telanjang Baekhyun untuk pertama kalinya. Baekhyun menunggu sebuah respon.
Nihil.
Chanyeol mendekat untuk menggapai tangan Baekhyun. Kedua maniknya berkaca-kaca. Hatinya sakit melihat pemandangan pilu dimana banyak luka yang menodai tubuh indah itu. Dasar monster! Iblis! Baekkie-ku, Baekkie-ku yang cantik.
"Mengapa... Mengapa kau melakukan ini?" tanyanya setengah berbisik, mencoba menahan airmatanya.
"Aku tak mau kau taku akan masa laluku, Yeollie. Ya, luka-luka ini sangat jelek, namun sekarang kau telah melihat mereka dan kau tidak pergi." Ia kembali duduk ke atas kasur dan menggenggam erat tangan Chanyeol. Luka memanglah tak dapat dielakkan, namun menderita adalah sebuah pilihan. Baekhyun tak ingin menderita lagi. Ia ingin bahagia. Berada bersama Chanyeol membuatnya bahagia. Chanyeol, membuatnya bahagia.
"Baekkie..."
"Sentuh aku Chanyeol, kumohon."
Chanyeol menyentuh kulit dada polos Baekhyun. Yang lebih mungil menarik lengan Chanyeol hingga mereka berpelukan dan mereka hanya terdiam seperti itu. Tak ada kata yang terucap, namun hening begitu menenangkan. Tak ada pergerakan, namun mereka merasa nafas mereka bak terengah. Tak ada ciuman, namun mereka merasakan cinta. Baekhyun mempercayai Chanyeol. Keberanian adalah sebuah pilihan. Ia tak pernah merasa seaman ini sebelumnya.
"Cium aku."
Dan mereka berciuman. Chanyeol mencium Baekhyun, hatinya dilanda berbagai emosi. Ciuman itu panas, dipenuhi oleh kata-kata yang belum terucap dan perasaan campur aduk. Baekhyun dapat merasakan kesedihan, kedengkian, kelembutan, dan rasa cinta yang Chanyeol simpan selama berbulan-bulan. Namun ia masih disini. Baekhyun tidak takut, faktanya, ia merasa lebih berani. Sekarang ia semakin mencintai Chanyeol.
Chanyeol berhenti dan terengah-engah, menatap lelaki yang berada di bawahnya. Ia merasa berbeda. Ia tak lagi merasa cemas, takut, atau marah. Ia merasa kuat, dengan segumpal perasaan tak terdefinisi yang memenuhi sekitar perutnya.
Rasa ingin memiliki.
Malam itu adalah permulaan perjalanan baru dalam hidup mereka. Malam yang mampu mengubah hidup mereka selamanya.
.
.
Chapter 21: Touch, Kiss, Intimacy, and... a Bracelet
.
.
.
Baekhyun mengeratkan pelukannya pada leher Chanyeol, merasakan hangatnya kulit sang pria di atasnya dari ujung jemarinya. Ia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Telanjang dan terbuka. Seakan hati dan emosinya dipertontonkan. Tak ada lagi rahasia, tak ada lagi privasi.
Akan tetapi, ia belum pernah merasa seaman ini.
Chanyeol mencium lehernya dengan lembut, sentuhan-sentuhan halus itu membuat tubuh Baekhyun bereaksi. Tidak terburu-buru. Setiap momen bersama Baekhyun seakan membuat waktu berhenti berjalan. Ia ingin menikmati ini, menikmati setiap inci tubuh molek bak porselen ini, menciumi setiap lukanya, mengusap setiap airmatanya, dan mencintai seluruhnya.
"Channie..." Baekhyun memejamkan matanya dan bernafas dengan sedikit bersusah-payah, menyentuh turun menuju dada Chanyeol. Ia ingin merasakan lebih. Ia membuka kancing pakaian Chanyeol dan tangan dinginnya menyelinap ke dalam. Kulit Chanyeol begitu lembut dan hangat, tidak seperti dirinya, dingin dan penuh luka. Ia begitu menyukai perasaan ini.
Hawa panas dari nafas Chanyeol menuruni tubuh lelaki yang satunya. Baekhyun merasakan sesuatu yang kenyal dan basah pada puting sebelah kirinya hingga tubuhnya membusur, menginginkan lebih. Sudah lama ia tidak melakukan ini. Dan tidak, ia tidak lupa bagaimana cara melakukannya, namun ini adalah kali pertamanya dengan Chanyeol, dan sejauh ini pria itu terus memberi sensasi baru.
"Ah..." Sebersit desahan menyelinap keluar dari belah bibirnya ketika Chanyeol mencubit puting sebelah kanannya. Tangan lain Chanyeol memegang pinggangnya, menarik dirinya lebih dekat. Bibir Chanyeol seakan menyapu kulit nan lembut itu dengan sendirinya. Terasa begitu ajaib, sampai Chanyeol dapat merasakan sejarah kelam melalui sekujur tubuh Baekhyun. Sejarah penuh kekejaman dan penyiksaan, penuh keserakahan dan kehilangan.
"Chanyeol—"
"Maaf, apa itu sakit?"
"Tidak, malah terasa enak."
"Benarkah?"
"Ya, lanjutkan."
Memang benar. Baekhyun belum pernah merasa sehidup ini. Tubuhnya merespon, juga pikirannya. Yang ia pikirkan hanyalah Chanyeol. Bibir Chanyeol, hawa tubuh Chanyeol, sentuhan Chanyeol...ia menginginkan lebih. Ia ingin Chanyeol berada sedekat mungkin dengannya, bahkan jika bisa bertukar jiwa ia pun mau. Ia terlalu fokus pada api yang semakin membara dalam dirinya sampai-sampai ia tak menyadari selangkangannya semakin mengeras.
Bibir Chanyeol menyapu turun menuju pinggang Baekhyun. Ia sedikit mendongak untuk berhadapan dengan ereksi Baekhyun yang meminta untuk dimanja. Ia menerawang wajah Baekhyun, tangannya menyentuh kedua paha lembut itu, memijat mereka perlahan.
"Baekhyun?"
"Ya?" bisiknya.
"Bolehkan aku menyentuhmu?"
"Please." Chanyeol belum pernah mendengar Baekhyun yang seyakin ini. Ia mengulum kepala ereksi hingga Baekhyun kembali terengah. Ia berhenti. Apa ia melakukan kesalahan?
"Bergeraklah..." Chanyeol menurut. Ia memasukkan seluruh ereksi Baekhyun ke dala mulutnya perlahan, menghisapnya hingga pipinya melekuk ke dalam. Baekhyun menggenggam rambutnya dan mendorongnya untuk menghisap lebih dalam. Melihat respon positif itu, Chanyeol melanjutkan aksinya.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali Baekhyun melakukan hal seintim ini dan tubuhnya langsung menegang, sensasi-sensasi ini meski familiar, tetap memacu kerja jantungnya. Ia tak pernah menyadari dirinya yang sesensitif ini. Kalian mungkin berpikir bertahun-tahun di dalam klub akan membuat Baekhyun sulit menegang, namun tidak. Ia hanyalah mainan, objek pemuas. Orang-orang menggunakan dirinya sebagai pemuas.
"Chan..." Baekhyun merasakan tubuh bagian bawahnya semakin memanas. Jemari kakinya ia tekuk seraya menikmati perlakuan yang memuaskan seluruh sistem sarafnya. Otot-ototnya serasa lemas setelah pelepasan itu. Ia mendongak untuk menatap Chanyeol, mengusap bibirnya. Cairan putih sedikit menetes dari mulutnya, mengalir hingga ke dadanya dan ia terbatuk.
"Oh astaga, Chanyeol maafkan aku." Baekhyun mengulurkan tangan untuk mengusap wajah kotot Chanyeol namun aksinya terinterupsi oleh sebuah ciuman. Ciuman yang kuat dan percaya diri. Baekhyun dapat merasakan dirinya sendiri dari dalam mulut Chanyeol seraya tubuh polos mereka saling bersentuhan satu sama lain sekali lagi. Api kembali membara dalam dada Baekhyun.
"Chanyeol, maafkan aku. Seharusnya aku tidak melakukan itu."
"Aku mencintaimu Baekhyun." ucap Chanyeol, terengah-engah akibat ciuman tadi. "Aku sangat mencintaimu. Sejak pertama kali kita bertemu."
"Benarkah?"
"Ya." Ia menyisir surai Baekhyun ke satu sisi dan menciumnya. "Kau adalah orang terindah yang pernah kutemui, bahkan dengan luka-luka dan masa lalu kelammu. Aku tak takut lagi."
"Chanyeol... Aku membutuhkanmu."
"Ap—"
"Tunjukkan bahwa kau mencintaiku. Tunjukkan bahwa kau akan melindungiku. Tunjukkan bahwa kau bisa seperti ini tanpa menyakitiku. Hapuskan semua memori buruk itu dan gantikan dengan memori baru yang lebih baik. Tandai aku, agar aku tahu aku milikmu dan hanya milikmu seorang."
"Baekkie—"
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku."
Ia tak mengatakan apapun. Ia tidak perlu melakukan itu, karena Baekhyun sudah tahu jawabannya. Bibir mereka kembali bertautan, membiarkan lengan mereka mendekap satu sama lain, membiarkan kaki mereka menari di atas permukaan cinta. Ciuman itu panas dan berani. Tubuh mereka berapi-api, merasakan hasrat mereka yang kembali membuncah dalam tubuh mereka.
Jari pertama tidak terasa nyaman; jari kedua terasa sangat menyakitkan. Chanyeol bergeming, menatap wajah Baekhyun, yang terpapar cahaya rembulan yang mengintip masuk. Baekhyun merengek dan mencengkeram punggung Chanyeol, menyuruhnya untuk lanjut.
"Baek—"
"Lakukan saja Chanyeol."
"Kau akan merasa nikmat nanti Baek, aku janji." Dengan jemari lainnya yang tertaut dengan milik Baekhyun, ia bergerak maju mundur, perlahan dan hati-hati. Baekhyun memejamkan matanya, merasakan rasa sakit yang seakan membelah dua tubuhnya, yang setelah itu menghilang. Ia menggenggam tangan Chanyeol lebih erat sebagai respon, tak lama, kehangatan itu kembali memasuki tubuhnya dan Baekhyun mendesah, merasakan kepuasan melanda seluruh tubuhnya.
Chanyeol memasukinya perlahan, masih menggenggam tangan Baekhyun erat. Baekhyun mendesah ketika ereksinya berhasil masuk. Chanyeol merunduk untuk menciumnya lagi.
Ciuman itu seakan membawa pergi seluruh rasa sakit dan keraguan. Chanyeol mencintainya, dan ia tak akan pernah menyakitinya. Ia mulai bergerak, menyodok perlahan sebelum mempercepatnya. Baekhyun kembali mendesah, membusurkan punggungnya dan menarik Chanyeol mendekat, ingin merasakan sentuhannya sebisa mungkin.
"Baek—" Chanyeol kehabisan kata-kata. Ia telah membayangkan ini beratus-ratus kali sebelumnya (bahkan sampai solo) namun ini jauh dari yang ia bayangkan. Ini adalah sesuatu yang baru diantara mereka berdua. Jiwa dan raga mereka meleleh menjadi satu.
Ketika mereka klimaks, ruangan dipenuhi oleh teriakan nama, peluh dan sperma memenuhi seluruh tubuh mereka. Baekhyun kembali merebah ke atas kasur, jelas kelelahan. Sepasang insan itu terengah-engah, mencoba mengisi kembali pasokan oksigen ke dalam paru-paru. Kedua tangan mereka masih bertautan, Chanyeol hampir terjatuh di atas Baekhyun, namun dengan sisa energinya, ia menahannya. Ia merunduk dan mencium Baekhyun lagi, kali ini lebih santai dan asal.
"Chan.." Baekhyun meringis, wajahnya basah akibat ciuman itu. "Kau seperti anak anjing yang kebasahan."
"Maaf. Kadang aku memang begitu."
"Ketika kau kelelahan?"
"Ya," bisiknya. "Lagipula, aku mau jadi anak anjingmu."
"Cheesy." Baekhyun tersenyum, akhirnya melepas tautan tangan berkeringat mereka. Baekhyun melingkarkan tangannya pada leher Chanyeol kemudian bergerumul. Chanyeol menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka dan mengusap surai lembut Baekhyun.
"Kau baik saja?"
"Ya." jawabnya lembut.
"Apa aku—"
"Tak apa." senyumnya. "I'm okay."
Chanyeol menghela nafas bahagia juga lega. Ia menciumi surai Baekhyun dan meskipun aktivitas mereka tadi begitu intens dan panas, Byun Baekhyun masih tercium seperti bunga mawar dan peach.
"Aku mencintaimu Baekhyun." Baekhyun tersenyum, memejamkan matanya. Ia tak'kan pernah bosan mendengar pengakuan itu.
"Aku juga mencintaimu Chanyeol."
.
.
Mr. X marah besar, bisa dibilang begitu. Bukan hanya karena para Boneka masih belum ditemukan, namun perdagangan narkobanya dengan grup gangster Triple Threat juga gagal telak. Semua itu karena ulah anak buahnya, tentu saja.
"Kalian benar-benar sedang menguji kesabaranku, hah?"
"Maafkan kami, bos." Yongguk meminta maaf.
Pria adikuasa itu kembali duduk di atas kursinya yang terbuat dari kulit, menghisap cerutunya. Hilangnya para Boneka tidak hanya menghancurkan bisnisnya, tetapi juga membawa bahaya untuknya. Jika para Boneka ditemukan dan mereka mengungkap semua yang terjadi pada mereka, tuntaslah riwayat bisnis dan dirinya. Aku tak akan membiarkan ini terjadi. Aku sudah bersusah-payah membangun semua ini. Aku tak akan tunduk begitu saja.
"Ada juga yang perlu anda ketahui tuan." ucap Himchan.
"Apa itu?"
"Ada seseorang yang melihat kami saat bertransaksi tadi."
"Siapa?" Ia berdiri. "Siapa? Siapa dia?"
"Kami tidak tahu tuan tetapi ia ikut campur di tengah-tengah perkelahian kami. Kurasa ia menarik keluar salah satu dari kami."
"Apa? Siapa yang ia bawa?"
"Saya yakin ia membawa Zelo." ucap Youngjae.
"Zelo? Siapa dia?"
"Anak buah baru kami tuan. Ia baru bergabung beberapa minggu lalu."
"Bawa dia masuk."
Seorang lelaki kurus bersurai merah muda yang adalah Zelo memasuki ruangan Mr. X. Terdapat goresan pada pipi kirinya dan ia terlihat terlalu muda dan lembek untuk menjadi gangster. Mungkin angin saja bisa membuatnya terbang dalam sekali tiup.
"Tuan." sapanya, membungkuk dalam-dalam.
"Siapa yang menyelamatkanmu?"
"Huh?"
"Siapa yang menarikmu keluar dari perkelahian hari ini? Siapa?"
Zelo terkesiap; ia tidak menyangka Mr. X akan menanyakan itu padanya. Ia terdiam sejenak, menimbang apakah ia harus membuka identitas penyelamatnya. Ini berbahaya, aku tak mau membawa dia atau siapapun ke dalam semua ini!
"Jawab aku."
"Jawab saja dasar bodoh!" Yongguk menempeleng kepala si lelaki kurus. Zelo meringis kesakitan. Ia menatap wajah Mr. X yang datar sebelum menelan keberaniannya.
"Tidak tahu."
"Tidak tahu?" tanya Mr. X, menyadari kejanggalan dalam suaranya.
"Dia orang asing, aku tidak kenal dia."
"Tapi dia ikut campur dalam perkelahian, mengorbankan nyawanya sendiri, demi menyelamatkanmu?"
"Ya tuan." Bahkan Zelo sendiri merasa ragu.
"Mungkin karena dia terlihat terlalu kurus dan lemah tuan." jawab Youngjae santai. Himchan menendang pahanya hingga pria itu meringis.
"Kau memang kurus." Mr. X setuju. Ia berjalan menghampiri anak lelaki itu dan dalam sekejap menekan kedua jarinya pada pangkal tenggorokan Zelo. "Kau yakin kau tidak berbohong padaku?" Ia semakin menekan jarinya, nyaris mencekik mati Zelo. Zelo terjatuh ke atas lantai, terbatuk dan termegap. Dengan cepat ia kembali berdiri.
"Ya tuan."
"Aku tidak suka pembohong. Jika aku bisa membuatmu kehabisan nafas hanya dengan dua jari, bayangkan apa yang bisa kulakukan dengan seluruh tanganku." Ia menepuk pundak Zelo sebelum berbisik. "Kau tak mau itu terjadi 'kan?"
Zelo menggeleng. "Keluar." Dengan begitu, Zelo berlari keluar dengan kecepatan cahaya.
"Cek semua sistem keamanan di sekitar area tempat kalian berkelahi. Ambil tape-nya dan bawa padaku."
"K...Kau tak percaya pada dia bos?" tanya Himchan.
"Dia berbohong. Aku bisa menciumnya. Dia jelas-jelas sedang melindungi seseorang. Cari tahu siapa orang itu."
"Baik, tuan."
"Tuan, jika saya boleh berpendapat, lebih baik kita lebih berhati-hati mulai sekarang."
Mr. X melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Yongguk. Yongguk adalah tangan kanannya yang paling setia sejauh yang ia bisa ingat. Dulu Yongguk adalah pecandu narkoba, luntang-lantung di jalanan dan makan sisa-sisa makanan dari tempat sampah selama bertahun-tahun sampai akhirnya Mr. X membawanya. Semenjak itulah, ia langsung berdedikasi tinggi kepada bosnya.
"Apa maksudmu Yongguk?"
"Tak ada salahnya untuk berhati-hati tuan."
Mr. X menghela nafas. Ia memerintahkan orang-orangnya untuk meninggalkan kantornya. Hari yang melelahkan. Dengan segumpal asap dari cerutu yang ia hisap, ia duduk seraya menikmati pemandangan malam kota Seoul yang indah, ia mengeluarkan sesuatu dari kantungnya, sebuah gelang kepang kecil yang jatuh ke karpet kantornya beberapa saat yang lalu. Anak kurus itu bahkan tidak menyadarinya, mungkin karena ia terlalu ketakutan. Di ujung kepangan itu, tertulis sebuah kata kecil berwarna hitam.
Dragon's Cave Martial Arts Center.
Saatnya bersenang-senang.
.
.
to be continued.
Chingchongs:
Maaf chapter kali ini pendek, ga sampe 4k bahkan :") ya saya cuma ikutin dari sananya aja, aslinya emang sependek ini hehehe
.
Curhat bentar ya :")
Jadi dulu exoblackpepper itu 2 orang, saya sm temen saya. Tapi sekarang dia mengikuti jejak KrisLuTao aka keluar krn dia ud ga nge-feel buat nulis lagi... jadi saya minta maaf kalo misanya update lama or update-an ga memuaskan. Jujur saya kurang pede kalo ga ada dia mengingat kemampuan saya buat deskrisi ga sejago dia :")
Maaf juga saya uda janji mau bikin ff ini itu tapi ujung2nya ga di publish2. Kenapa? Satu, saya mulai ga pede buat nulis lagi, kyknya kemampuan nulis saya mulai ilang gr2 kebanyakan hiatus ;_; Dua, saya lone wolf skrg :") Tiga, saya uda mau mulai kuliah dan disibukkan dgn tetekbengeknya ;_; #maapbanyakalasan #ampunisaya/?
Taaapiii.. saya akan coba bangkit lagi, perlahan tapi pasti. Saya ga mau kecewain kalian yg uda nunggu karya saya TT #pedegila #emangadayangtungguin? /?
.
udah cukup ah curcolnya
.
REVIEW please?
.
saranghaja,
exoblackpepper
