Love Is Never Wrong
.
.
.
12
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
"Sudah kukatakan jangan mendekatiku, aku membencimu Park Chanyeol!"
Chanyeol menggenggam erat tangan Baekhyun. Setelah meluapkan kekesalannya, gadis itu pingsan.
Mendengar kalimat itu, sebenarnya sangat menyakitkan baginya. Di dunia ini, tak ada yang diinginkan Chanyeol, lebih besar dari keinginannya memiliki Baekhyun. Baginya, Baekhyun bukan hanya kekasih, tapi juga nafas hidupnya. Cintanya tumbuh besar dengan cepat pasa gadis mungil itu.
Namun, rasa sakit yang dia rasakan saat ini, tentu tak sebanding dengan kesulitan yang dihadapi kekasihnya itu.
Siapapun kalian, tentu akan melakukan hal yang sama, bila dihadapkan pada situasi seperti yang dihadapi Baekhyun saat ini.
Sahabat baiknya jatuh tersungkur diatas tanah dengan bersimbah darah dihadapannya, dan penyebab dari kejadian itu adalah dia. Merasa bersalah, sudah pasti, bahkan kalau bisa, Chanyeol yakin Baekhyun ingin mengganti posisinya dengan Luhan saat ini. Dan masalah ini terjadi, semua berawal darinya, seorang Park Chanyeol.
Chanyeol tak bisa menyalahkan orang lain begitu saja, dua bodyguard yang dia pekerjakan untuk menjaga gadisnya itu, sudah bekerja dengan sangat baik. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Dan tanpa di ketahui dua pengawalnya, Baekhyun bertukar peran dengan Luhan tadi.
Sebenarnya, kalau boleh melakukannya, Chanyeol patut bersyukur karena yang menjadi korban penembakan itu bukan Baekhyun. Tapi disitu letak masalahnya, karena bukan Baekhyun korbannya, kekasihnya itu mengamuk dan histeris setelah dokter memberitahu keadaan Luhan.
Baekhyun tak akan berhenti menyalahkan dirinya kalau sampai terjadi hal yang lebih buruk pada Luhan.
"Maafkan aku Bee. Maafkan kekasih bodohmu ini sayang." Bisik Chanyeol. Dia tak bisa menahan tetes airmatanya.
Membayangkan Baekhyun bangun dan mengusirnya lagi, membuat hatinya kembali berdenyut nyeri. Sangat sakit.
Benar kata orang, kekalahan pada diri seorang pria, tidak terjadi karena apapun kecuali dibenci oleh wanita yang sangat dicintainya.
Chanyeol mampu berdiri tegar, meski ayah dan saudaranya yang lain menyerangnya. Dia masih tegak berdiri meski banyak rekan bisnis yang mencuranginya, tapi dibentak Baekhyun dengan tatapan penuh kebencian, dia goyah dan nyaris patah.
.
.
.
Sret
Chanyeol keluar dari kamar Baekhyun dengan kondisi yang jauh dari kata baik. Beberapa orang yang ada di lorong itu, memperhatikan dengan tatapan prihatin.
Pria tinggi itu duduk di kursi tak jauh darinya. Punggungnya disandarkan di dinding, nafasnya dia buang berat dan kedua tangannya terkepal erat sedangkan matanya dia pejamkan perlahan.
Yunho yang sejak tadi juga berada diantara beberapa orang itu, menghampiri Chanyeol, berdiri di hadapan putra sahabatnya itu.
"Aku tak melihatmu baik-baik saja Chanyeol-ah."
Satu titik air keluar dari sudut mata terpejamnya.
"Aku sanggup kehilangan semuanya ahjussi. Aku yakin bisa kehilangan semua yang ku miliki. Tapi... Dibenci dia, ini menyakitkan ahjussi. Bahkan di dunia ini, tak ada hal lain yang ingin kumiliki selain dia. Bagiku, dia segalanya. Aku mencintainya, apa itu salah? Dia satu-satunya orang yang tak pernah menganggapku lebih darinya. Dia menatapku tak hanya sebagai seseorang yang dicintainya tapi juga teman. Aku membutuhkannya lebih dari pernah kubayangkan ahjussi."
Yunho maju selangkah lebih dekat pada Chanyeol, lalu dengan lembut dia mengusap kepala Chanyeol, layaknya seorang ayah.
"Siapapun akan melakukan hal yang sama, kalau ada di posisi Baekhyun-ssi saat ini, Chanyeol-ah. Aku tak bisa mengatakan kau harus tenang, yang harus kau lakukan hanya bertahan mendengar segala luapan kemarahannya."
Chanyeol membuka matanya, menatap Yunho dengan mata berairnya. Lalu menatap ke sisi lain lorong itu. Ada ayah dan ibunya disana, ada Jaejoong, istri Yunho, ada Irene juga.
"Dimana Jongdae?"
"Aku memintanya mengurus kepindahan Luhan-ssi ke ruang isolasi."
"Kris hyung dan Zhoumi hyung? Jackson?"
"Kris dan Zhoumi sedang memburu si penembak itu, setelah mendapatkan informasi dari Soo Jung tadi. Mereka merasa bersalah atas insiden ini. Kalau Jackson, dia pergi ke bawah, membeli makanan untuk kita." Jawab Yunho selanjutnya.
Chanyeol mengangguk mengerti. Dia kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Setelah itu, dia mendial nomor Soo Jung.
"Yeoboseyo!"
"Soo Jung-ah! Apa yang kau dapatkan?"
"Penembak itu, Kris oppa dan Zhoumi oppa sedang menuju ke tempat yang saya tunjukkan Tuan Muda."
"Apalagi?"
"Saya menemukan bukti salinan percakapan Nona Kang dengan si penembak itu."
"Dengarkan aku baik-baik. Obrak abrik semua server Kang Building. Dalam bidang apapun, jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun. Setelah itu, lempar bukti percakapan itu ke media."
"Bagaimana dengan saham anda disana?"
"Kau tak perlu memikirkan hal itu, fokus saja pada tugasmu. Aku punya rencana sendiri akan hal itu."
"Baik Tuan muda."
"Pastikan mereka merangkak dibawah kakiku."
"Nde."
"Chanyeol-ah!" desah Yunho.
"Aku tak pernah main-main dalam melakukan segala sesuatu ahjussi. Mereka tak mengenal baik Park Chanyeol."
"Tapi haruskah dengan cara seperti ini? kita bisa bicara dan menyelesaikan masalah ini dengan cara jauh lebih baik."
"Ahjussi pikir aku masih bisa bicara baik-baik dengan orang yang mengancam keselamatan Baekhyun?"
"Dengarkan aku, keluarga Kang menjadi mitra bisnis keluargamu sudah sangat lama, kalau terjadi sesuatu dengan mereka, sedikit banyak, usaha keluargamu akan terganggu, kau tak berpikir bagaimana appa dan eommamu? Baekhyun penting untukmu, tapi keluargamu..."
"Apa aku penting untuk mereka?" suara Chanyeol terdengar dingin menusuk. Matanya menyiratkan luka mendalam. Dia menatap Yunho sejenak hingga pria itu tak lagi sanggup berujar.
"Chanyeol-ah!" kali ini Yoochun berdiri dari duduknya dan menghampiri Yunho dan Chanyeol. ingin rasanya memeluk tubuh putranya itu, namun...
"Jangan khawatir ahjussi. Pekerjaanku tak pernah mengecewakan kalian. Aku akan mengembalikan semuanya pada keluargaku. Aku tak membutuhkan apapun untuk kebahagiaanku selain Byun Baekhyun."
Chanyeol berdiri dari duduknya, kemudian melangkah pergi dari hadapan kedua pria paruh baya yang berdiri di hadapannya itu.
.
.
.
Sehun berdiri dengan tatapan sendu, dibalik kaca yang memisahkannya dari Luhan. Bagaimana perasaannya saat ini? hancur. Dia tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi pada kekasih hatinya.
"Tuhan sangat menyayangimu Deer. Hingga ketika kau mengatakan lelah dengan semua ini, dia menggariskanmu untuk beristirahat sejenak dari lelahmu itu. Deer...aku menunggumu disini."
"Sehunie! Bagaimana kalau kita putus saja?"
"Apa maksudmu Deer?"
"Aku lelah. Keadaan ini benar-benar menyulitkanku. Aku tertekan dengan semua peringatan dari agencymu."
"Bertahanlah sedikit lagi, setelah comeback nanti, aku akan mengundurkan diri dari grup. Aku janji setelah itu kita akan bahagia Deer."
"Tapi..."
"Aku mohon Deer. Aku menyayangimu, bahkan sejak aku melihatmu muncul di TV."
"Gombal."
"Aku serius. Alasan aku mendatangimu saat itu, karena perasaan itu tak mampu ku bendung sendiri Deer. Jadi... berjanjilah kau akan tetap bersamaku sampai nanti maut memisahkan kita. Aku mencintaimu Xiou Luhan."
Sehun menyusut airmatanya yang menetes tanpa peringatan saat dia mengingat beberapa hari yang lalu, ketika Luhan mengeluh lelah dengan hubungan yang mereka jalani saat ini. kalau boleh jujur, dia juga lelah dengan campur tangan agencynya terhadap hubungannya dengan Luhan. Dia ingin jujur pada dunia, kalau dia sudah memiliki seorang kekasih yang teramat sangat di cintainya, yaitu Xiou Luhan.
Setelah airmatanya kering, Sehun mengeluarkan ponselnya, kemudian mendial nomor ibunya.
"Yeoboseyo nae adeul."
"Eomma. Aku sangat lelah, bolehkah aku berhenti sekarang?"
"Sehunie. Kau kenapa sayang?"
"Sore tadi, ada kejadian tak mengenakkan eomma."
"Tentang Luhanie? Eomma melihat beritanya di Tv sayang, bagaimana keadaannya saat ini?"
"Tidak baik, kondisinya masih di pantau dan aku masih menungguinya. Eomma! Aku mencintainya, bolehkah aku mengatakan hal itu pada dunia?"
"Sehunie! Eomma tahu ini berat untukmu dan dia. Eomma mengijinkanmu berhenti sekarang sayang, katakan pada seluruh dunia, kau mencintanya. Eomma dan appa serta kakakmu, akan selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanmu. Kalau seseorang sudah sangat lelah, bukankah seharusnya dia beristirahat?"
"Gomawo eomma. Aku menyayangi kalian semua."
Sehun mengakhiri panggilan telponnya. Setelah itu, dia kembali mendial satu nomor. Menghubungi seseorang yang menjadi pimpinan di grupnya.
"Suho hyung!" sapanya saat si penerima menyapanya.
"Ada apa? Kenapa suaramu aneh. Kau menangis maknae?"
"Hyung! Maafkan aku kalau selama ini aku sering kurang ajar pada kalian semua. Sampaikan maafku pada manager hyung juga. Selama ini aku banyak merepotkan kalian."
"Ya! Kau ini kenapa? Mengatakan hal itu seolah-olah kita tak akan bertemu lagi setelah ini. kalau kau ingin meminta maaf, datanglah pada kami."
"Aku pasti datang pada kalian nanti. Hyung... mianhae. Aku akan keluar dari grup setelah ini."
"Mwo!"
"Aku menyayangi kalian hyung. Kalian harus lebih sukses tanpa aku. Sekali lagi, Jeosonghamnida."
"Ya! Se..."
Pip.
Sehun mematikan sambungan telponnya. Dia kemudian mengarahkan ponselnya yang sudah dalam mode kamera ke arah ruangan Luhan. Sekali 'klik', foto Luhan sudah tersimpan di ponselnya.
Sehun kemudian mengunggah foto itu ke akun IG miliknya. Tak lupa, sebuah caption panjang dia sematkan untuk keterangan foto itu.
OohSehun Masih kuingat dengan jelas debaran yang kurasakan saat tangan kita saling berjabat. Xiou Luhan... nama itu tak pernah putus aku ucapkan dalam setiap doa-doaku. Harapan dan impianku hanya satu, bahagia bersamamu.
#MyANGEL #MyDEER #MyWorld #MyHappinies XiouDeer
"Aku mohon, bertahanlah untukku sayang." Lirih Sehun di sela airmata yang terus menentes membasahi pipinya.
"Ehm!"
Sehun menghapus kasar airmatanya, lalu menoleh pada pria yang berdiri tak jauh darinya, tatapan pria itu lurus ke dalam ruang perawatan Luhan saat ini.
"Saya Park Chanyeol, kekasih Byun Baekhyun, sahabat Luhan-ssi." Chanyeol memperkenalkan dirinya, segaris senyum tipis tergambar saat dia melihat Sehun.
"Oh Sehun imnida." Sambut Sehun. Dia tahu orang di sampingnya itu, tadi mereka sempat bertemu, hanya saja karena situasi cukup kacau, mereka belum sempat saling sapa.
"Maaf membuat Luhan-ssi menjadi seperti ini."
Sehun menunduk sejenak. Kata maaf saja tak akan cukup membuat Luhan bangun bukan, dia ingin marah, tapi marah pun akan percuma. Tak ada yang tahu bagaimana musibah akan datang, dan kejadian yang menimpa Luhan adalah bagian dari musibah yang tak terduga itu.
"Jujur saja, saat tahu dia tertembak saya sangat terkejut. Banyak pertanyaan yang menghampiri saya, apakah dia punya musuh? Apakah sasaeng fansnya senekad itu, hingga berniat membunuhnya? Pertanyaan itu kemudian terjawab dengan keterangan yang di berikan Jongdae-ssi. Mereka bertukar pakaian, saling menyamar satu sama lain demi mengelabui fans Luhan, tapi... kemudian justru dia yang menjadi korban penembakan."
"Semua salah saya."
Sehun menatap Chanyeol.
"Kenapa ini menjadi salah anda?"
Chanyeol terlihat menghembuskan nafasnya perlahan.
"Si penembak itu sengaja di sewa oleh seseorang yang nyaris menjadi istri saya untuk membunuh Baekhyunie."
Sehun menatap Chanyeol tak percaya.
"Awalnya, saya memang akan menikah dengannya sebelum bertemu Baekhyunie, semua masih berjalan baik-baik saja sampai saya bertemu Baekhyun dan mengenalnya lalu kemudian jatuh cinta padanya."
Sehun tersenyum tipis.
"Cinta anda pada Baekhyun-ssi mengubah segalanya."
"Saya rasa begitu. Meski kami baru sekitar satu bulan ini berkencan, cinta yang saya rasakan sangatlah besar saat ini." Chanyeol menatap Sehun sesaat.
"Kalau saya berbeda, saya mengaguminya sejak melihatnya di sebuah acara Tv. Saat itu saya masih baru debut di dunia hiburan. Saya sempat berpikir kalau yang saya rasakan hanya kekaguman semata, tapi nyatanya, ketika saya beranikan diri menjabat tangannya satu setengah tahun yang lau, saya menyadari satu hal, yang saya rasakan tak hanya rasa kagum, tapi juga cinta."
Keduanya saling diam setelah itu, masing-masing larut dalam pikiran masing-masing dengan tatapan lurus pada sosok Luhan yang terlihat tenang dengan mata terpejamnya.
"Dia sangat mencintai Baekhyun-sii. Bahkan jika saya ada di rumahnya dan saat itu Baekhyun-ssi datang, dia pasti langsung mengusir saya. Tempo hari, dia menceritakan pada saya tentang keinginannya pergi berlibur ke Santorini, berdua saja dengan Baekhyun-ssi."
Chanyeol mendekati Sehun, lalu menepuk pelan pundak kekasih Luhan itu.
"Aku bukan Tuhan yang bisa menyembuhkan Luhan-ssi dengan cepat, tapi aku berjanji akan mengusahakan yang terbaik demi kesembuhannya. Santorini bukan hanya akan menjadi tujuan liburan mereka berdua saja, tapi juga kita."
.
.
.
"KENAPA KAU BERTINDAK SEBODOH INI KANG SEULGI! KAU PIKIR SIAPA YANG KITA HADAPI SAAT INI, KENAPA KAU TAK MEMIKIRKAN KELANGSUNGAN KELUARGA INI SAAT MELAKUKAN TINDAKAN BODOHMU ITU!"
Tuan Besar Kang berteriak nyaring di hadapan putri bungsunya, yang baru diketahuinya melakukan tindakan percobaan pembunuhan terhadap orang yang paling dekat dengan Chanyeol saat ini.
Imbas dari perbuatan Seulgi mulai dapat dia rasakan malam ini, saham perusahaannya menukik tajam setelah berita itu tak terkontrol di media online. Hal ini pukulan telak baginya, selama ini dia berusaha hati-hati menjaga hubungan bisnisnya dengan Keluarga Park, terutama setelah Cloud 9 di bawah kendali Chanyeol. Pemuda itu sangat berbeda dari ayahnya dalam pola kepemimpinan, hingga langkahnya kadang terhalang sikap Chanyeol yang meski masih muda, tapi dia sangatlah tegas dalam kepemimpinannya di Cloud 9.
Bahkan dia harus menahan diri untuk tak bertindak terlampau jauh ketika tiba-tiba Chanyeol membatalkan pertunangan dengan putrinya, karena dia tahu resiko yang harus dia terima kalau berani bertindak melewati batasnya.
Tapi hari ini, usahanya untuk bertahan terasa percuma setelah salinan percakapan antara putrinya dan si penembak yang berhasil menyarangkan pelurunya di dada kiri Luhan itu terkuak di media.
Kecaman langsung dia dan keluarganya dapatkan dari pengemar berat artis kelahiran China itu. Bahkan sejak satu jam yang lalu, lebih dari seratus penggemar Luhan berdiri di luar pagar mansion keluarga Kang, menuntut agar Seulgi segera menyerahkan diri ke kantor polisi atau bila tidak maka mereka akan mendatangkan massa jauh lebih banyak lagi.
"Abeoji. Mianhae, neomu mianhae." Seulgi yang duduk bersimpuh di lantai, memohon ampunan pada ayahnya dengan airmata yang menetes deras membasahi kedua pipinya.
Dia bodoh dan di butakan cintanya pada Chanyeol. Tadi pagi dia cukup percaya diri dengan mengatakan tak peduli akan reaksi Chanyeol, tapi yang terjadi di luar dugaannya. Tembakan yang dilesakkan penembak itu, salah sasaran. Bukannya Baekhyun, pelurunya justru bersarang di dada kiri seorang artis berdarah China bernama Xiou Luhan.
Yang terjadi selanjutnya di luar kendalinya, karena tak hanya Chanyeol yang mengamuk akibat ancaman itu, tapi juga penggemar Luhan yang jumlahnya tak bisa dikatakan sedikit.
"Yeobo! Kita harus bicara pada Yoochun-ssi. Kita bisa meminta bantuannya untuk meredam amarah Chanyeol. Atau kalau perlu kita minta bantuan pada Yunho-ssi. Yeobo! Aku benar-benar tak ingin Seulgi masuk ke dalam penjara karena masalah ini."
"Kau ingin aku bicara pada Yoochun atau Yunho? Tanpa kau minta aku sudah melakukannya, tapi semua yang terjadi saat ini diluar kendali mereka. Bahkan beberapa rekan bisnisku juga tak bersedia mengulurkan bantuannya karena masalah ini berhubungan dengan Chanyeol. Hah!" Tuan Kang mendudukkan dirinya di sofa, kepalanya tertunduk lesu.
Kalau Chanyeol melepas begitu saja sahamnya, bisnisnya akan benar-benar hancur. Tak ada cara lain selain memohon pada pemuda itu. Ya! Benar! Itu adalah cara terbaik yang dapat dia pikirkan saat ini.
"Jimin-ah! Panggilanmu sudah di angkat oleh Jongdae-ssi?" tanya Tuan Besar Kang. Sebelum mengamuk pada putrinya, dia sempat meminta pada asisten pribadinya untuk menghubungi Chanyeol melalui Jongdae.
Tapi dia harus kecewa karena jawaban Jimin adalah sebuah gelengan kepala.
"Mereka menutup pintu perundingan?"
"Apakah saya harus kesana menemui mereka Tuan?"
Tuan Besar Kang menghela nafas panjang. Tak lama kemudian, dia memijat pelan pelipisnya. Kepalanya benar-benar sakit dengan semua yang dihadapinya saat ini.
"Jimin-ah! Hubungi kantor polisi, katakan pada mereka Seulgi akan menyerahkan dirinya."
"ABEOJI/YEOBO!" Pekik Seulgi dan ibunya bersamaan.
"Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Semua pintu seolah tertutup, kita tak dapat dengan mudah keluar dari masalah ini. Jalan satu-satunya, kau harus menyerahkan diri pada polisi, itu sebagai konsekuensi yang harus kau terima karena perbuatanmu, Seulgi-ah."
"Yeobo! Ijinkan aku bicara pada mereka, aku akan bicara pada mereka sebagai seorang ibu. Tidak! Jangan biarkan Seulgi masuk penjara. Aku mohon."
"Ibu dari anak itu juga tak akan terima anaknya dilukai seperti ini Yuri-ah. Apa kau tahu kesalahan yang dia lakukan itu fatal. Menyangkut hidup orang lain dan dia berusaha mempermainkannya. Kau ingin melindunginya? Lakukan kalau kau mampu." Tuan Besar Kang berdiri dari duduknya, lalu melangkah pergi dari ruang keluarga itu, namun belum sampai lima langkah, dia berhenti dan menarik nafas panjang sebelum kemudian ambruk dengan memegangi dadanya.
"TUAN/YEOBO/ABEOJI!"
.
.
.
"Hai cantik!" sapa Chanyeol saat dilihatnya Baekhyun membuka matanya, berusaha menyesuaikan pandangannya sebelum kemudian mata itu benar-benar terbuka dengan lebar.
Mendengar sapaan manis itu, Baekhyun mengalihkan tatapannya pada Chanyeol. Lalu dengan tenaga yang tersisa, dia mencoba bangun dari tidurnya.
Chanyeol langsung mendekati Baekhyun, membantu kekasihnya itu untuk duduk senyaman mungkin. Tumpukan bantal dia letakkan di balik punggung Baekhyun.
"Bagaimana kondisi Luhanie?"
Chanyeol menatap lembut Baekhyun, lalu dengan tak kalah lembut, dia membelai pelan pipi kekasihnya itu. Yang Sehun katakan semalam sepertinya memang benar, dua perempuan itu memiliki rasa sayang luar biasa terhadap satu sama lainnya.
"Sudah jauh lebih baik. Dia sudah di pindah ke ruang perawatan sejak semalam."
"Dia sudah sadar?"
Chanyeol menggeleng lemah. Mata Baekhyun berkaca-kaca kemudian.
"Kondisi Luhan sangat parah pasti, sampai-sampai..." suara Baekhyun tercekat, tak berapa lama kemudian lelehan airmata membasahi kedua pipinya. Rasa bersalahnya semakin menebal.
Chanyeol mendekati Baekhyun, duduk di sisi ranjang gadis itu, kemudian memeluknya dengan begitu erat.
"Maafkan aku sayang. Semua yang terjadi, pemicunya adalah aku."
Tanpa Chanyeol duga sebelumnya, Baekhyun membalas pelukannya, tangan ramping kekasihnya itu melingkar dengan erat di punggungnya, isakan kecil masih bisa di dengarnya.
"Maaf karena kemarin sudah marah padamu." Lirih Baekhyun di antara isakannya. "Aku ingin bertemu Luhanie." Lanjutnya sambil melonggarkan pelukannya pada Chanyeol.
"Iya. Aku akan mengantarmu kesana."
Baekhyun mengangguk, Chanyeol melepaskan pelukannya dan kemudian membantu Baekhyun turun dari ranjangnya. Dengan melingkarkan lengannya di pinggang sang kekasih, pria tinggi berambut ikal itu membimbing Baekhyun keluar dari kamar.
Begitu kaki mereka menginjak lorong, Baekhyun menatap ke sekiling lorong. Banyak orang berjas hitam dan beberapa polisi berjaga disana. Ada apa?
"Kenapa banyak penjaga disini?"
"Yang terjadi di luar kendali sayang. Penggemar Luhan-ssi dan Sehun-ssi berkumpul di depan rumah sakit, bahkan semalam ada yang berusaha menyusup. Jadi aku meminta pihak rumah sakit untuk menyiapkan satu lantai khusus untuk perawatanmu dan Luhan."
"Pe-pengemar Luhanie dan Sehun-ssi?"
"Kau ingin melihatnya?" tawar Chanyeol pada Baekhyun yang masih terlihat tak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Tak mendapat jawaban dari Baekhyun, Chanyeol berinisiatif menggiring Baekhyun ke dekat jendela kaca, lalu menyingkap sedikit jendela itu.
Di bawah, di halaman rumah sakit dan sepanjang jalan di depan rumah sakit, suasana tampak ramai dengan ratusan orang berdiri disana dengan membawa tulisan-tulisan berisi doa-doa untuk kesembuhan Luhan.
"Pagi ini, agency Luhan-ssi akan memberikan keterangan terkait kondisi Luhan-ssi. Dan mereka juga akan meminta pada penggemar Luhan untuk meninggalkan rumah sakit. Banyak yang merasa terganggu dengan banyaknya orang di depan rumah sakit dan untuk Sehun-ssi, dia juga akan mengklarifikasi hubungannya dengan Luhan-ssi."
Baekhyun mengalihkan tatapannya pada Chanyeol, dia tak mengerti apa yang terjadi setelah dia berteriak keras kemarin pada Chanyeol. dalam waktu semalam, sepertinya banyak hal yang terjadi.
"Semalam, Sehun-ssi memutuskan untuk mengungkap semuanya, tentang hubungannya dengan Luhan-ssi. Dari tengah malam tadi, banyak awak media yang menunggu Sehun-ssi di luar rumah sakit."
Baekhyun diam sejenak, lalu mengangguk mengerti.
"Aku ingin melihat Luhanie sekarang."
"Baiklah. Ayo!"
Chanyeol kembali membimbing Baekhyun dalam langkahnya. Menuju ke sebuah ruangan kaca. di pintu ruangan itu, ada Kris yang berdiri disana.
Ada perkembangan cukup signifikan yang terjadi semalam pada diri Luhan, gadis itu memberi respon yang baik, meski belum sadar, tapi jantungnya sudah dapat mempompa oksigen sendiri, makanya ketika Chanyeol meminta pemindahan ruangan semalam, dokter tak keberatan, karena Luhan sudah melewati masa kritisnya. Dan lebih dari itu, Luhan sudah boleh di temani di ruangannya setelah sebelumnya dokter melarang siapapun masuk ke ruang isolasi Luhan.
"Sehun-ssi ada di dalam?" tanya Chanyeol pada Kris.
"Tidak. Beberapa menit yang lalu dia keluar dari ruangan. Katanya akan menemui seseorang di lantai bawah."
Chanyeol mengangguk kecil. "Kau mau masuk sekarang?" Baekhyun mengangguk.
Kris membantu Chanyeol membuka pintu ruang perawatan Luhan. Dengan langkah bergetar, Baekhyun masuk ke dalam ruangan itu. Tangisnya kembali pecah saat matanya menangkap sosok Luhan yang berbaring di ranjang dengan kondisi dada di perban dan jarum infus menancap di pergelangan tangannya.
Baekhyun melepas rangkulan Chanyeol pada tubuhnya, lalu dia melangkah sendiri mendekati Luhan.
"Luhanie!" desisnya lirih, diraihnya tangan Luhan, di genggamnya dengan sangat erat. Dia ingin memberitahu pada sahabatnya itu, kalau saat ini dia ada di sampingnya.
"Duduklah sayang." Chanyeol menggeser sebuah kursi untuk di duduki Baekhyun.
Baekhyun duduk di kursi itu, masih dengan lelehan airmatanya, di mengecup pelan punggung tangan Luhan lalu merebahkan kepalanya di ranjang Luhan dan memeluk tangan sahabatnya itu dengan sangat erat.
"Maafkan aku yang tak bisa menjadi sahabat terbaik untukmu Luhanie. Maaf membuatmu menjadi seperti ini." lirih Baekhyun di sela isakannya.
"Apa kau ingat Luhanie, kau mengatakan padaku, kita berdua...huks... huks... kita berdua akan pergi berlibur ke Santorini. Hanya kita berdua, hiks...hiks... bangunlah sayang, aku ingin melihatmu tertawa. Hiks... hiks..." tangis Baekhyun semakin terdengar keras. Dia tak mampu menahan dirinya untuk tak menangis. Baekhyun tak pernah membayangkan, Luhan akan terbaring lemah dengan luka tembak di dadanya.
"Sayang!" Chanyeol yang duduk di samping Baekhyun, tak mampu mengatakan apapun, dengan lembut tangannya membelai kepala kekasihnya itu.
Sedikit banyak, dia dapat merasakan kesedihan yang di rasakan Baekhyun, dia pernah merasakan hal itu sekali, saat dia melihat Jongdae pertama kali di pemakaman Minseok. Entah dorongan dari mana, saat dia melihat Jongdae yang sedang menangis dalam diamnya, dia langsung menghampiri pemuda itu dan langsung memeluk tubuh kecil pria itu.
"Kalau Luhanie bangun nanti, apakah dia akan membenciku?" Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Chanyeol dengan mata berairnya.
Chanyeol tersenyum lembut, lalu mengusap dengan pelan airmata yang membasahi pipi kekasihnya itu.
"Tentu saja tidak. Yang terjadi saat ini, tak ada satu orang pun yang menyangkanya. Luhan-ssi pasti sangat mengerti sayang."
"Benarkah?" Chanyeol mengangguk pelan sambil tangannya merapikan anak rambut Baekhyun yang berantakan.
"Aku yakin dia sangat mengerti sayang."
"Sebegitu bencikah orang itu padaku, hingga dia merencanakan semua ini?"
Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan sendunya.
"Apa mencintaimu adalah kesalahanku?"
"Jangan memikirkan apapun saat ini Bee. Semua masalah ini, akan kuselesaikan, setelah itu kita menikah."
Baekhyun menatap Chanyeol, tak ada keraguan di mata kekasihnya itu, dia bisa meyakini apa yang dikatakan Chanyeol memang tulus dari dasar hati pria itu.
Baekhyun kemudian menggenggam erat tangan Chanyeol dengan tangannya yang lain yang bebas.
"Mianhae. Karena aku, kalian berdua mengalami kesulitan saat ini. Aku mencintaimu Bee, itu yang harus kau yakini."
.
.
.
"Apa kau gila Sehun-ah? Kau tak berpikir dulu sebelum melakukan semua ini? kau tahu, karena ulahmu, saham perusahaan kita turun!"
Sehun hanya diam mendengar ocehan panjang managernya. Kehebohan tentu saja tak dapat dihindari pasca postingannya tentang Luhan semalam. Dia tahu akan hal itu dan dia siap dengan konsekuensi yang harus di hadapinya.
"Hyung!" Suho menegur managernya dengan suara tegasnya. Dengan lembut dia menatap Sehun.
"Aku tahu resiko dari apa yang sudah ku lakukan ini hyung. Dan asal kalian tahu, aku tak akan menghapus postingan itu."
"Kau gila ya? Direktur memerintahkan untuk menghapusnya Sehun-ah! Berikan ponselmu, biar aku yang melakukannya!" seru sang manager sambil menyodorkan tangannya ke arah Sehun. Meminta ponsel Sehun, tapi personil termuda di grupnya itu bergeming di tempatnya.
Sehun menatap managernya datar.
"Kau tahu aku tak akan melakukannya hyung. Setelah ini aku akan bicara ke media tentang semuanya."
"Jangan gila Oh Sehun!"
"Aku sudah gila dengan semua yang kujalani selama ini. Apalagi yang kalian harapkan dariku? Aku harus melakukan media play dengan orang lain dan kembali menutupi hubunganku dan Luhan dengan hubungan lainnya. SHIRREO! Aku sudah lelah dengan permainan yang kalian atur untukku."
Manager Sehun mengambil nafas sebanyak yang dia bisa. Kepalanya berdenyut sakit mendengar bantahan Sehun.
"Kau tahu dampak dari keegoisanmu ini? Akan banyak penggemar yang memprotesmu dan grupmu, lalu comeback kalian..."
"Comeback? Apa hatimu terbuat dari batu hyung? Apa menurutmu aku tak pantas merasakan cinta? Aku manusia biasa hyung, aku perlu mengingatkanmu akan hal itu."
"Sehun-ah!" Suho menepuk pelan paha Sehun. "Kita bisa bicarakan hal ini dengan kepala dingin. Aku mengerti bagaimana perasaanmu, tapi disini, di grup kita, tak hanya ada dirimu. Ada aku, Jongin dan Yixing. Tidakkah kau memikirkan kami sebelum melakukan tindakan konyol itu?"
Sehun melirik Suho tajam, kemudian senyumnya terkembang tipis, terkesan mengejek.
"Konyol? Jadi selama ini, kalian pikir perasaanku padanya itu hanya sebuah kekonyolan? Hyung! Asal kau tahu saja, demi dia, aku bisa meninggalkan semuanya. Kalau kau berpikir apa yang kukatakan semalam hanya bercanda, mian hyung, sepertinya kau harus kecewa. Yang kukatakan semalam itu benar dan aku akan melakukannya." Ujar Sehun dingin.
"Haruskah kau bertindak sejauh ini, Sehun-ah?"
"Kenapa tidak? Selama ini aku sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk perusahaan, tapi kau lihat timbal balik yang aku terima. Aku hanya ingin mencintainya dengan tenang tanpa tekanan. Tapi kau tahu yang dilakukan perusahaan, direktur tak hanya menekanku hyung, tapi dia juga melakukannya pada Luhan. Selama ini aku diam saja, tapi kali ini tidak lagi, aku tak ingin kehilangan dia hyung. Mian."
Sehun berdiri dari duduknya, lalu melangkah pergi dari tempat itu.
Dan bukannya kembali ke ruang perawatan Luhan, Sehun justru melangkah ke arah pelataran depan rumah sakit. Dimana disana, sekumpulan awak media dan penggemarnya serta penggemar Luhan berkumpul.
Begitu sosok Sehun muncul, para kuli tinta itu berusaha mendekatinya.
"Sehun-ssi! Apakah benar yang anda posting itu Luhan-ssi?"
"Nde."
"Whooooooaaaaaaaa..."
"Anda memiliki hubungan khusus dengannya?"
"Foto yang di rilis dispatch beberapa waktu lalu, berarti foto anda dan dia?"
"Sehun-ssi! Berapa lama kalian berkencan?"
Sehun diam sesaat, mendengar semua pertanyaan yang dilemparkan wartawan-wartawan itu padanya. Setelah di rasa cukup, Sehun kemudian membungkukkan badannya.
"Jeongmal jeosonghamnida. Saya mungkin membuat kalian kecewa, tapi saya harus tetap mengatakan kebenarannya. Saya dan Luhan sudah berkencan selama satu tahun. Dan benar, foto yang di rilis dispatch saat itu adalah foto saya dan dia. Sekali lagi, maaf yang sebesar-besarnya untuk kalian yang sudah mendukung saya selama ini, maaf karena membuat kalian kecewa dengan pengakuan saya ini. Saya tahu, seharusnya saya lebih bisa menahan diri, tapi... perasaan cinta yang saya miliki untuknya, tak bisa membuat saya terus diam. Saya..."
"Sehun-ah! SARANGHAE! Kami mencintaimu, kadang aku berpikir, aku tak akan sanggup melihatmu dimiliki yang lain. Tapi... cintamu pada nona Xiou terlihat begitu besar. Kami bisa apa kalau kau memilih bahagia bersamanya?"
Sehun menatap penggemar wanita yang sedang bicara padanya dengan lelehan airmatanya.
"Maknae kami ini, sudah cukup dewasa saat ini. Sehun-ah! Apa bersama dengannya kau tertawa bahagia?"
"Nde."
Jawaban Sehun membuat penggemarnya itu tersenyum. Tanpa di duga oleha Sehun, mereka kemudian mengangkat kertas yang bertuliskan beberapa kalimat semangat untuknya dan juga dukungan atas hubungannya dengan Luhan.
We Are One, Sehun-ah! Kami mencintimu lebih dari cinta Luhan-ssi padamu.
Saranghae Oh Sehun 3 Xiou Luhan.
KALIAN HARUS BAHAGIA
Meski aku menangis melihatmu memposting fotonya, tapi aku juga bahagia, kau peduli padanya. Kami sangat mencintai kalian.
SEHUN-AH! JJANG!
XIOU LUHAN! HWAITING
Sehun tersenyum haru melihat semua itu, kekhawatirannya tak terjadi. Hampir semua yang hadir disana mendukungnya dan Luhan. Sehun kembali membungkuk di hadapan penggemarnya dan penggemar Luhan.
"Gomapta."
.
.
.
Sementara itu
Kegaduhan terjadi di ruang rawat Luhan sesaat setelah Baekhyun menjerit karena tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan Luhan tiba-tiba merasakan tekanan dari tangan ramping sahabatnya itu. Beberapa dokter masuk ke ruangan itu, melakukan beberapa pemeriksaan. Sedangkan Baekhyun berdiri sambil memeluk Chanyeol di sudut ruangan.
Raut cemas terlihat jelas di wajah cantik itu. Doa panjang tak putuh di lafalkan dalam hati demi kesembuhan Luhan. Dan keajaiban itu benar-benar datang, perlahan tapi pasti, Luhan mulai membuka matanya.
Baekhyun tak bisa menyembunyikan tangisnya. Gadis itu melepas pelukannya dari Chanyeol, lalu mendekati ranjang Luhan.
Dapat dilihatnya, sahabatnya itu berusaha tersenyum diantara ringisan kesakitannya.
"Luhanie!" desis Baekhyun pelan.
.
.
.
TBC
.
.
.
NOTE : Terimakasih banyak atas semua cinta dan perhatian kalian semua terhadap cerita ini.
Saya tak bisa mengatakan apapun selain maaf yang sebesar-besarnya karena lamanya kalian menunggu kelanjutan cerita ini. maaf kalau part ini mengecewakan kalian. #Bow
Terimakasih yang sudah PM, mengingatkan saya akan untuk segera update. Ehehheehehe...
Yang PM sudah dibalas semuanya...
Maaf terlalu sibuk di real dan masih terserang flu,jadi menghambat kelanjutan cerita ini.
Big Love For You Guys 3
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
