Damnation: Hannibal

Genre: Crime, School, Advent, Survive

Summary: It just, Boy With A Damnation.

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

Chap 12

Arc. Class Excursion Chaos (End)

Bolt-Action, adalah sistem manual yang digunakan untuk oleh senapan di masa lalu. Bolt-Action mengacu pada gerakan penembak untuk mengeluarkan peluru kosong, gerakan ini sekaligus memasukkan selongsong peluru baru dari magasin. Otomatis senapan Bolt-Action akan memiliki firing rate yang rendah dan lebih cocok digunakan oleh penembak runduk.

Meskipun begitu, rata-rata senapan yang menggunakan sistem Bolt-Action adalah senapan yang digunakan untuk berperang. Alasannya adalah karena pada masa itu manusia belum bisa mengakali masalah pembuangan selongsong peluru secara otomatis, jadi Bolt-Action dan penggunaan magasin adalah sistem revolusioner pada masa itu.

Dor...

Namikaze menembakkan peluru pertamanya, sensasi menembakkan peluru dari senapan legendaris Mosin Nagant terasa sangat memuaskan bagi dirinya yang lahir di era senapan canggih, tembakan yang penuh recoil, tanpa peredam, dengan magasin permanen, hanya dibantu alat bidik laser sebagai untuk membidik di kegelapan malam. Tembakan pertama itu menyasar tepat ke wajah seorang penembak yang sedang mengganti magasin dan mendinginkan moncong senjatanya, membuat penjaga itu menjerit kesakitan dan mati dengan luka menganga. Kematian satu dari empat penjaga yang menembaki Namikaze bukannya membuat mereka takut, malahan tak lama kemudian suara tembakan kembali terdengar.

Kali ini tembakan itu semakin terdengar dekat dari pohon tempat Namikaze bersembunyi. Pembidik laser yang terpasang di Mosin Nagant memberitahukan tempat Namikaze bersembunyi secara jelas. Nasib Namikaze sekarang tergantung pada kemampuannya mengambil keputusan secara instan, ketiga penjaga yang tersisa sangat mungkin untuk bersiasat dan menyergap Namikaze.

Sudah cukup lama sejak berondongan peluru menghujani area di sekitar Namikaze namun tidak kunjung reda. Seolah-olah ketiga penjaga yang menembaki Namikaze mempunyai sebuah senjata dengan amunisi tidak terbatas dan senapan yang tidak bisa overheat. Sibuk mengawasi suara yang ada di depannya, Namikaze dikejutkan sengan sebuah sinar laser yang bergerak melewati matanya. Tidak menunggu tembakan, Namikaze langsung melompat mundur ke belakang. Tekstur tanah yang tidak rata membuat Namikaze jatuh dengan posisi telentang.

Saat Namikaze jatuh, dia bisa mendengar suara tembakan dari arah samping. Tidak salah lagi, Namikaze telah disergap oleh salah satu dari ketiga penjaga itu, dua diantara mereka sibuk menembaki area luas secara bergantian untuk membuat Namikaze bertahan di tempatnya dalam waktu yang lama. Sedangkan salah satunya bergerak maju memutari area yang menjadi sasaran tembak kedua temannya, lalu mengeksekusi Namikaze dari belakang. Sayangnya strategi itu gagal karena pembidik laser yang digunakan seorang eksekutor malah menjadi pengingat bahaya oleh Namikaze.

Dengan mengikuti sumber suara tembakan dan melihat cahaya pembidik laser dari tembakan di depannya, Namikaze berhasil menemukan keberadaan satu penjaga yang menyergapnya. Di posisinya yang telentang, dia mencoba membidiknya selagi penjaga itu terlihat kebingungan karena Namikaze tiba-tiba menghilang dari bidikannya.

Dor... crack...

Tembakan Namikaze meleset, tembakan itu tidak berhasil mengeksekusi penjaga yang menyergap Namikaze melainkan meleset ke arah senjatanya. Meski begitu, tembakan Mosin Nagant milik Namikaze cukup kuat hingga merusak senjata penjaga sampai tidak dapat digunakan lagi. Sadar akan kecerobohannya, Namikaze langsung memperbaiki posisinya menjadi tengkurap. Matanya tidak pernah lepas dari posisi satu penjaga yang baru saja menyergapnya, meski penjaga itu bersembunyi dibalik pohon.

Tidak lama kemudian, dari spot yang selalu diawasi Namikaze muncul gerakan aneh diikuti oleh sesosok tubuh yang merayap. Namikaze yang sudah menunggu kesempatan itu langsung membidiknya, tekanan yang dia terima kali jauh berkali-kali lipat daripada tembakan sebelumnya dan pertama. Karena Namikaze telah menghabiskan jatah margin kesalahannya maka tiga peluru yang tersisa di magasin Mosin Nagant harus tepat sasaran.

Dor...

Crack...!

Tembakan Namikaze kali ini menggema di hutan itu, berondongan peluru yang ditembakkan secara brutal di area sekitarnya juga sampai berhenti karena suara gemanya yang menakutkan. Namikaze menembak manusia yang sedang merayap di depannya, sangat sulit menembak titik vital seperti kepala dari posisi seperti itu. Makanya saat membidik, Namikaze memilih tempat yang paling mudah dibidik. Tempat yang dimaksud adalah bagian belakang tubuh manusia, bokong.

Suara seperti retakan tadi menandakan bahwa tembakan Namikaze tidak hanya menembus tubuh musuhnya dan menancap di daging tetapi juga sampai melubangi tubuhnya. Melubangi, menembus, hingga akhirnya peluru itu memecahkan sebuah tulang yang sangat keras. Dilihat dari posisi Namikaze dan bidikannya, kemungkinan besar suara retakan tadi berasal dari pelurunya yang menembus dari bokong sampai akhirnya berhenti saat menghantam tengkorak dan memecahkannya.

Melihat dua penjaga yang lain masih tercengang, Namikaze memanfaatkan momen singkat itu untuk membidiknya. Kali ini Namikaze memilih untuk membidik tubuh bagian bawah, terlalu beresiko ketahuan jika dia membidik tubuh bagian atas. Bagaimanapun juga Namikaze masih mengandalkan pembidik laser untuk alat bantu, di malam hari pembidik berbasis cahaya seperti itu bagaikan pedang bermata dua.

Dor...

Tembakan Namikaze yang keempat sukses melumpuhkan penjaga ketiga tepat di lututnya. Melihat rekannya kembali terkapar tak berdaya, penjaga keempat sekaligus yang terakhir kembali bersembunyi dengan bertiarap. Siasat mereka untuk menyergap penyusup itu gagal, ditambah lagi suara retakan yang bergema di hutan tadi berhasil mendistraksi perhatiannya. Hasilnya harus dibayar mahal, satu-satunya rekannya yang tersisa tak lama kemudian ikut tumbang.

Kini hanya tinggal dia sendiri, amunisi bukan persoalan baginya. Dia bisa memberondong penyusup itu dengan peluru di sekujur tubuhnya. Masalahnya adalah persembunyian penyusup itu yang tidak terdeteksi dari posisinya bersembunyi. Butuh beberapa waktu dan pengalihan perhatian untuk menemukannya, tapi meski sudah mencoba kedua hal tadi mereka bertiga pun masih gagal hingga menyisakan dirinya seorang.

Setelah berhasil menenangkan dirinya, penjaga terakhir itu mulai menaikkan badannya guna kembali membidik tempat penyusup yang membunuh rekannya. Namun baru saja mulai membidik, penjaga itu dikejutkan dengan laras Mosin Nagant yang terlihat gagah mengarah padanya. Meski jarinya sudah siap menekan pelatuk assault riffe yang dia pakai, tapi hal itu tidak pernah terjadi. Tubuhnya membatu saat melihat moncong senjata yang dipakai oleh musuhnya mengarah kepadanya.

Dor...

Tembakan terakhir dari Mosin Nagant yang dipakai oleh Namikaze berjarak kurang lebih 1 meter dari target. Memberikan kepastian bahwa semua penjaga telah berhasil dieksekusi setelah melewati baku tembak yang cukup panjang hingga bisa mentulikan sesaat telinga siapapun yang tidak terbiasa dengan suara tembakan.

Setelah memastikan letak kelima mayat penjaga di area ini, Namikaze mulai merogoh saku, rompi, dan semua tempat penyimpanan benda yang dibawa oleh mayat di depannya. Bukannya ingin merampok, menjarah, dan sebagainya, Namikaze hanya ingin mencari senjata yang senyap. Bahkan dia membiarkan begitu saja sebuah assault riffle dan sekotak penuh magasin disamping mayat yang ada di depannya.

Namikaze langsung mempercepat pencariannya ketika sebuah cahaya dengan cakupan yang cukup besar masuk ke penglihatannya. Cahaya itu berasal dari arah bangunan tujuannya, total ada dua sumber cahaya yang mulai bergerak ke arah Namikaze.

"Bingo!"

Disisi lain Namikaze menemukan apa yang dia cari, sebuah pisau militer dari mayat penjaga di depannya. Setelah mengambil pisau itu Namikaze juga membawa Mosin Nagant dan menancapkannya di tanah tempat dia merebut Mosin Nagant dari penjaga pertama yang dia lihat, Namikaze juga kembali bersembunyi di semak-semak yang ada disana.

Kedua sumber cahaya itu berjalan semakin mendekat ke arah Namikaze, kali ini mereka membentuk formasi dengan menempelkan punggung masing-masing dan keduanya berjalan sembari berotasi pada porosnya. Formasi saling menjaga punggung itu dimaksudkan untuk menghindari segala jenis sergapan musuh dari segala arah.

Ketika sampai disana, kedua penjaga bersenjata shotgun dilengkapi alat bantu penerangan itu dikejutkan dengan mayat rekan-rekannya. Padahal tujuan mereka kemari adalah membantu rekan-rekannya dalam mengambil mayat si penyusup ataupun memberi bantuan kekuatan tempur jika diperlukan. Namun kenyataan yang mereka berdua lihat adalah mayat rekan-rekannya tergeletak di beberapa tempat terpisah.

"Bersiap." Tidak ada waktu untuk berduka, itulah yang harus segera dipahami oleh kedua penjaga yang baru datang. Total ada lima penjaga sebelum mereka, dan mereka berlima sudah mati. Artinya giliran mereka berdualah yang akan berhadapan dengan si penyusup.

"Tunggu sebentar. Aku akan memeriksa senapan yang berdiri itu."

"Hati-hati." Setelah mengatakan itu, salah satu dari dua penjaga memeriksa Mosin Nagant yang terlihat menancap di atas tanah. Matanya terlihat jeli mengamati Mosin Nagant dari jarak dekat, dia berpikir jika ada semacam petunjuk dari Mosin Nagant yang kehabisan peluru dan ditancapkan di tanah.

Ketika penjaga itu mengamati bagian bawah Mosin Nagant, dia dikejutkan dengan sebuah tangan yang memegang lehernya. Setelah itu semua terasa berlalu begitu cepat bagi si penjaga, awalnya hanya sebuah genggaman agar dia tidak bisa bersuara, kemudian dilanjutkan dengan sebuah tikaman ke pangkal tenggorokannya yang memutus seluruh uratnya. Terakhir penjaga itu merasa tubuhnya diatur sedemikian rupa, entah seperti apa jadinya hanya saja dia merasa jika pinggulnya tertancap di ujung laras Mosin Nagant sehingga membuat tubuhnya tetap berdiri meski dia sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

"Bagaimana kondisinya? Apa ada petun... cih, jangan arahkan sentermu padaku!"

"..."

"Sudah kubilang jangan arahkan sentermu padaku, bodoh."

"..."

Tidak mendapat jawaban untuk kedua kalinya, penjaga itu mengarahkan senternya balik ke arah rekannya. Namun pemandangan yang dia lihat tidak seperti yang dia harapkan, awalnya dia berharap jika sorotan balik senternya akan menunjukkan wajah menggelikan milik rekannya. Kenyataannya penjaga itu dihadapkan sebuah pemandangan mengerikan dimana rekannya dalam posisi berdiri dan bersimbah darah yang berasal dari lehernya.

Terkejut, panik, takut, marah, dan dendam, semuanya bercampur menjadi satu. Namun sebelum penjaga itu sempat berteriak dan menembakkan shotgunnya secara membabi buta, sebuah tangan sudah membekap mulutnya terlebih dulu. Secara insting, penjaga itu berusaha melepaskan bekapan itu dari mulutnya dengan menyikut seseorang di belakangnya. Namun tak lama kemudian usaha itu dia urungkan saat merasakan benda tajam dingin yang bersentuhan dengan lehernya.

"Dimana mereka?" Ujar sebuah suara berat di belakang penjaga itu.

"Me-mereka aman di markas, bos kami sedang keluar untuk bernegosiasi mengenai tebusan dengan Kuoh Gakuen."

Setelah puas mendengar informasi yang dia mau, Namikaze menggorok leher penjaga di depannya. Membiarkan penjaga itu hidup sama saja mengundang bala bagi pencapaian objektifnya. Dia tidak mau informasi bagus seperti bos mereka sedang keluar dihancurkan begitu saja dengan ulah seorang penjaga yang menyebar kabar kedatangannya.

Tidak kurang tujuh orang penjaga telah dieliminasi oleh Namikaze, jumlah yang wajar sebagai penjaga sandera. Menurut informasi, bos dari kelompok yang mengacaukan studi ekskursinya sedang pergi keluar untuk bernegosiasi dengan Kuoh Gakuen, jadi tidak ada penjahat lagi di dalam bangunan itu. Namikaze sendiri tidak mau percaya begitu saja, dia punya keberuntungan yang buruk jika sudah terlanjur percaya dengan sesuatu.

Oleh karena itu Namikaze mulai memainkan bagian tersulitnya, Espionage. Mengamati, mendekati target, dan mengantisipasi jebakan selama perjalanan. Semua itu dilakukan Namikaze tanpa mengeluarkan suara berisik, meski harus dibayar dengan waktu tempuhnya menjadi lama. Setelah lama melakukan Espionage saat mendekati bangunan yang dijaga, Namikaze tidak menemukan apapun yang berarti.

Tidak ada lagi penjaga, tidak ada jebakan, tidak ada ancaman, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang sadar. Dengan bukti yang meyakinkan tempat itu steril, Namikaze memutuskan untuk masuk ke dalam bangunan itu lewat pintu depan. Ketika masuk, pemandangan yang dilihat Namikaze tidak seperti yang dia harapkan.

Awalnya dia berharap akan langsung melihat 20'an teman sekelasnya yang disekap dalam kondisi pingsan, namun kini pemandangan yang dia lihat adalah sesosok perempuan berambut pendek warna biru dan sedikit hijau di beberapa bagian, tengah mengacungkan sebilah pedang ke arahnya. Dari ekspresinya, Namikaze tahu jika perempuan itu kesal.

"Apanya yang menunggu polisi hutan? Dasar pembohong." Setelah mengatakan itu, Xenovia menyarungkan kembali pedangnya.

"Perubahan rencana, selalu terjadi di tiap misi yang terburu-buru disiapkan." Jawab Namikaze seadanya, Xenovia yang hanya mendengar penjelasan singkat itu tentu merasa tidak puas. Seolah-olah semua reaksi kesal, kecewa dan sebagainya yang dia tujukan kepada pemuda di depannya ini memang sudah dipikirkan baik-baik.

Tapi kalaupun memang pemuda itu telah mempersiapkan semuanya sejak mengamati lokasi musuh dari atas menara komunikasi, bukankah itu artinya...

'I am your soldier.'

Blush...

"Bagaimana dengan objektifmu? Sudah dapat?"

Dengan muka yang sedikit memerah, Xenovia hanya menunjukkan sebuah kotak berwarna hitam ke arah Namikaze. Xenovia merasa jika dia berbicara saat ini, intonasinya akan menjadi aneh. Namun suasana canggung bagi Xenovia itu tidak bertahan lama, sebab terdengar suara mekanik diikuti dengan cahaya yang teramat terang yang menyorot dia dan Namikaze.

Xenovia yang berhadapan dengan sumber cahaya itu karena posisinya yang menghadap keluar langsung menempatkan tangannya di sekitar wajah guna menghalau cahaya menyilaukan dari lampu sorot yang diarahkan menuju bangunan ini. Namun beberapa saat kemudian, Xenovia merasa jika cahaya lampu sorot itu dihalau oleh sesuatu. Ketika dia mengintip, Xenovia melihat Namikaze sudah berbalik dari posisinya dan menutupi Xenovia.

Beberapa saat kemudian, lampu sorot itu dinonaktifkan. Pemandangan silau yang menyelimuti pandangan Xenovia dan Namikaze kini telah berganti dengan pemandangan malam yang seharusnya. Namun ada objek tambahan berupa sepasang pria dan wanita yang berdiri di depan mereka berdua.

Mereka berdua adalah Grafiya dan Sirzechs, Namikaze cukup mengenal sosok mereka berdua sebagai kakak, dan calon kakak ipar teman sekamar barunya, Rias Gremory. Kedatangan mereka berdua sebenarnya sudah sedikit-banyak diprediksi oleh Namikaze.

Menurut penjaga terakhir yang dia bunuh, bos mereka sedang keluar untuk bernegosiasi dengan Kuoh Gakuen. Secara administratif, posisi Okutama masih termasuk ke dalam daerah Tokyo, artinya mereka masih masuk ke dalam wilayah kekuasaan yakuza Gremory. Ditambah lagi, Kuoh Gakuen adalah aset milik Gremory diluar kota Tokyo. Dengan sederet fakta itu, menurut Namikaze sangat memungkinkan jika yakuza Gremory bergerak lebih dulu tanpa memberikan bos kelompok ini kesempatan bernegosiasi.

Meski sejauh ini semuanya berjalan lancar, namun Namikaze merasakan jika bagian punggung pakaiannya dipegang erat oleh Xenovia yang ada di belakangnya. Entah apa yang terjadi antara Xenovia dan Sirzechs atau mungkin antara Quarta dan Gremory, Namikaze sama sekali tidak tahu menahu.

"Namikaze-sama, saya mohon untuk berhenti melindungi gadis Quarta itu. Anda bisa membahayakan posisi anda sendiri sebagai tunangan Rias Gremory-sama." Percakapan antara mereka berempat dibuka dengan cukup pedas oleh Grafiya. Sementara itu Namikaze merasa jika cengkeraman Xenovia pada bajunya semakin kencang.

"Namikaze-kun, kau tidak boleh seenaknya berhubungan dengan keluarga Yakuza lain. Keluarga Gremory punya banyak daftar, mulai dari daftar teman hingga daftar musuh, harusnya kau tahu akan hal itu." Kali ini giliran Sirzechs yang berbicara, mereka berdua pada dasarnya membicarakan satu konteks yang sama.

Quarta dan Gremory tidak punya hubungan yang baik.

"Sebenarnya akulah yang memintanya bekerja sama. Kejadian ini diluar kapasitasku, terlalu banyak korban potensial dari kalangan sipil." Ujar Namikaze mengutarakan alasan kenapa dia bisa bersama dengan Xenovia. Meskipun sudah memberi alasan paling masuk akal, Namikaze yakin jika semuanya tidak akan berakhir mulus. Apalagi setelah dia mengamati perubahan gestur dari Sirzechs dan Grafiya.

Menanggapi itu, dengan tangan kirinya Namikaze mengotak atik kamera yang masih setia menggantung di lehernya, di sisi lain tangan kanan Namikaze dia biarkan menggantung di sisi tubuhnya.

3

2

1

Flash...

Sebuah cahaya keluar dari kamera yang menggantung di leher Namikaze, intensitas cahaya flash kamera Namikaze memang tidak bisa dibandingkan dengan lampu sorot raksasa yang menyoroti bangunan ini beberapa saat yang lalu. Namun cahaya flash kamera Namikaze mampu mendistrak perhatian Sirzechs, Grafiya, dan yakuza Gremory yang ada di belakangnya selama sepersekian detik.

Setelah membuat Sirzechs, Grafiya, dan yakuza bawahannya kalap, Namikaze langsung menutup pintu di masuk ke bangunan ini dengan kasar, kemudian dia menggenggam tangan Xenovia dan menuntun kepala keluarga Quarta itu berlari.

Berlari kemana?

Tentu saja keluar dari bangunan ini lewat pintu belakang lalu pergi ke utara, menuju kediaman keluarga yakuza Quarta. Namikaze yang sama sekali tidak mendengar suara Xenovia sejak mereka berdua disorot dengan lampu sorot yakuza Gremory, melihat ke arah belakang untuk melihat keadaan Xenovia.

Xenovia sendiri saat ini sudah tidak berada dalam kondisi terbaiknya, dalam hati kecilnya dia ingin menangis sekencang-kencangnya hingga puas. Namun di sisi lain tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga tidak membolehkannya memperlihatkan keadaan menyedihkan seperti itu.

"Tolong kami, selamatkan keluarga Quarta."

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

A.N:

Ada banyak review yang ingin saya balas lewat jalur PM. Alasannya? Karena diskusinya bisa berkelanjutan dan tidak hanya mengarah ke 1 topik bahasan. Saya suka, tapi mungkin lebih banyak yang tidak suka, makanya reviewnya pake akun Guest.

Sedikit saya tekankan, cerita ini menceritakan manusia murni. Tidak punya darah iblis, ataupun yang berhubungan soal supranatural. Jadi saya memastikan bahwa tingkah laku karakter yang saya tulis juga bisa salah, apatis, bebal, benci, keren, pemalu, nanggung, bahkan sering berubah. Manusia banget kan?

Untuk masalah irasional, saya sendiri mengakui kalau ada cacat logika di cerita ini, tapi setiap saya sadar disitu ada cacat, saya selalu mendefens argumen cacat itu. Paling tidak agar reader tahu kenapa cacat logika dan irasional itu bisa terpikirkan oleh otak saya lalu saya masukan ke cerita. Mungkin ada yang terlewat?

Too much roman picisan? Too much? Ya... gimana ya, saya sendiri bingung masalahnya. Apa saya lupa nulis kalo saya lebih prefer no pair di A/N sebelum ini?

Roman picisan yang anda lihat mungkin adalah salah satu cara yang saya gunakan untuk membuat hubungan antar karakter jadi semakin akrab. Sadar gak sadar sih, saya itu jarang banget pake time skip yang membuat hubungan antar karakter itu instan terbentuk tanpa memperlihatkan atau menjelaskan interaksinya secara rinci? Mereka jadi teman sekamar karena biar mudah aja interaksinya setelah arc mereka abis.

Well... sadar gak sadar sih ya, saya udah ngasih HINT tentang Minato di chapter 11. Saya pikir setelah sekian lama mengaburkan identitas Naruto/Menma/Minato bakal banyak yang mempertanyakan itu di review ataupun PM. Tapi nihil, jelas saya kecewa. Saya perlu berulang kali trial and error untuk ngebuat Lore mereka yang cukup rumit. Mungkin saya juga yang salah soalnya... *sebagian teks hilang*

Ada yang ngerasa alur Sitri dan Gremory itu repetitive? Just wait. I will make The Greatest, Largest, Latest arc "*** ******** ** ********".