Disclaimer: Death Note punya TO kuadrat. Saya? Hanya seorang anak setengah jeruk setengah kalong yang bela-belain nonton detnot dini hari.
-26 Januari 2010-
Matt memacu camaronya secepat mungkin. Di belakangnya beberapa mobil hitam milik para pengawal Takada yang mengejarnya tampak semakin memperpendek jarak.
"Cih, ada berapa sih, sebenarnya pengawal Takada itu?" keluhnya sambil melirik mobil-mobil dibelakangnya yang tak jengah mengejarnya dari kaca spion. Tapi dengan begitu, ia berharap pemiliknya yang kini tengah memboncengi Takada bisa aman. Memang sudah tugasnya untuk menjadi umpan bagi para pengawal Takada itu.
Mata Matt terbelalak, dengan sigap ia mengerem Camaro merahnya begitu melihat beberapa mobil pengawal Takada menghadang didepannya. Matt memejamkan matanya sesaat. 'Berakhir sudah, huh?'.
Memori komputernya membuka kembali ingatan sebelum ia berangkat pagi tadi...
"Matt, prioritaskan keselamatanmu sendiri, mengerti?" kata Mello sambil memakai helmnya. Matt hanya mengangguk singkat seraya membuka pintu mobilnya. Tapi ia berbeda dengan persocon lainnya. Ia memiliki kemauan sendiri, ia bisa berbohong.
"Ne, Mihael,"
"Kenapa, Matt?"
Sang persocon tersenyum, "Jika ada sesuatu yang muncul, akan ada sesuatu yang menghilang, begitu saja sebaliknya. Itu yang dikatakan 'Matt' padaku."
Mello terhenyak. "Ma…"
Namun sebelum Mello sempat memanggil persoconnya, ia sudah memacu mobilnya ke jalan raya.
Matt keluar dari mobilnya dengan tangan terangkat.
"Oi, oi, sejak kapan orang sipil Jepang diperbolehkan membawa senjata api? Aku salah satu dari gerombolan penculik Takada, pasti banyak yang ingin kalian tanyakan padaku. Tidak mungkin kalian akan menem..."
Namun omongannya terputus begitu para pria berjas hitam menarik pelatuk pistol mereka yang terarah ke arah Matt. Suara peluru yang dimuntahkan mendesing berkali-kali, menciptakan belasan kerusakan pada tubuh artificiall Matt.
"Jangan bercanda, hukuman yang pantas bagi orang yang menentang KIRA hanyalah kematian," ujar salah satu dari mereka dengan dingin.
Belasan peluru panas menembus tubuh mekanik Matt, menggerogoti perangkat kerasnya dan membuat sistemnya error. Semuanya menjadi gelap bagi sang persocon, sistem penglihatannya telah rusak. Hal terakhir yang bisa diolah CPUnya hanyalah sosok pemiliknya.
'Mihael…'.
Dan semuanya menjadi gelap.
ERROR; itulah kata yang diteriakkan sistemnya pada CPU-nya. Dan entah kenapa secara otomatis, memori Matt memutar kembali mengenai jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan pada pemiliknya…
"Apa sebelumnya… Mihael mengenal seseorang yang bernama sama denganku?"
Mello terhenyak. "Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?"
"Jawab saja," balas Matt pendek.
"… Dia… seniorku yang beda beberapa tahun. Dia punya postur tubuh yang bagus, meskipun tiap hari kerjanya hanya berkutat dengan komputer dan video game."
Matt adalah sebuah bisa dengan mudah mendeteksi wajah Mello yang sedikit merona merah namun tidak bisa dilihat sepintas oleh mata manusia.
Mello melanjutkan keterangannya, "Nama aslinya berinisial A, kandidat nomor satu dalam calon penerus L yang juga dikenal sebagai Matt. Entah kenapa dia memakai nama samaran yang inisialnya berbeda itu."
"Tapi dia bunuh diri, mungkin karena tidak tahan akan tekanan sebagai penerus L. Tapi ada desas-desus yang mengatakan sebelum meninggal Matt mengerjakan sebuah proyek rahasia. Tapi aku tidak pernah mebongkar lebih jauh mengenai itu," tutur Mello.
"Apa Mihael… menyukainya?" Matt bertanya ragu-ragu, seakan takut dimarahi seandaninya ia salah mengeluarkan kata-kata.
Mello terdiam sejenak sebelum menjawab, "Ya. Sebagai seorang kakak, tentunya."
Ada sedikit kepalsuan dalam kalimat itu; sang perocon bisa menyadarinya berkat salah satu perangkat rahasia pendeteksi suaranya yang bekerja.
Dan salam sekejap memorinya mengabur, sistemnya tak bisa lagi mengolah apapun.
Dan semuanya menjadi hampa...
Mello menyetir truk curiannya, sesekali matanya teralih ke layar sebuah televisi kecil yang tengah menyiarkan berita mengenai dibunuhnya salah satu pelaku aksi penculikan Takada.
Mello menggigit bibir bawahnya. "Matt terbunuh… Maaf Matt…".
Pikirannya jadi kacau hingga begitu tersadar hantaman keras terjadi akibat truknya menabrak sebuah reruntuhan gereja.
Ia melirik ke arah kaca spion yang memantulkan jendela kecil yang menghubungkan truk dengan bagian pemuatannya. Dengan segera ia menyadari Takada Kiyomi yang diculiknya sedang menuliskan sesuatu. Secara reflek Mello menarik pelatuk pistolnya.
BANG!
Sebuah peluru panas bersarang di kepala wanita yang tubuhnya hanya dilapisi selimut itu.
Saat Mello memastikannya, Takada benar-benar telah meninggal. Tangannya masih terlihat menggenggam sebuah sobekan kertas kecil bertuliskan Mihael Kee-.
Salah.
Ini salah.
Seharusnya Mello membiarkan wanita itu menuliskan namanya, dan kematiannya akan membuat Near mengkoreksi kesalahannya dalam penyelidikan kasus Kira.
Ya, hanya itu satu-satunya jalan untuk menyelesaikan kasus ini. Mengorbankan nyawanya. Tapi…
"Ternyata aku masih sayang nyawa, huh?" gumamnya sambil tertawa hambar. Padahal ia tidak lagi punya alasan untuk tetap mempertahankan hidupnya...
-28 Januari 2010-
Near dengan mulus berhasil menyelesaikan kasus Kira dengan bukti yang kuat berupa sobekan Death Note bertuliskan Mihael Kee- yang dikirimkan padanya. Meskipun pada akhirnya ia tetap tak bisa menyeret Light Yagami ke penjara karena laki-laki tersebut sudah keburu meregang nyawa setelah namanya dituliskan seorang (atau seekor?) shinigami.
Mello? Dia terus menerus berpindah tempat tanpa tujuan yang pasti. Ada perasaan janggal yang membuatnya enggan kembali ke rumah kostnya.
"Maaf, Matt…" gumamnya untuk ke sekian puluh kalinya dalam seminggu terakhir. Ia sendiri tidak mengerti, dan tidak menyangka akan menjadi begitu hampa hanya karena sesuatu yang awalnya hanya ia anggap seonggok mesin, sebuah alat yang ia harapkan berguna untuk penyelidikannya.
Tapi jika dipikir lagi, kenapa saat itu ia harus menyuruh Matt? Kenapa tidak menyewa orang lain yang cukup bodoh untuk melakukan hal itu saja? Hal-hal semacam ini terus berkelibat dalam benak Mello.
Tapi bagaimanapun, ia harus kembali ke rumah kost-nya untuk mengambil kembali barang-barangnya.
'Ya, hanya mengambil barang-barang yang diperlukan, lalu pergi. Begitu saja,' pikirnya, berusaha menenangkan diri saat membuka pintu rumah kostnya. Semuanya tampak sama seperti terakhir ia meninggalkannya beberapa hari yang lalu, hanya saja jauh lebih berdebu.
Sayup-sayup, ia mendengar suara dari game yang dimainkan Matt dari pintu kamarnya.
'Tidak mungkin…' batinnya, berlawanan dengan kakinya yang langsung melangkah ke arah kamarnya.
Tampak sesosok pemuda berambut merah memainkan salah satu game yang sering Matt mainkan. Rokok terselip di bibirnya dan pakaiannya yang berpola zebra mengingatkan Mello pada…
"Matt?" panggilnya dengan suara lirih.
Pemuda itu menolehkan kepalanya, matanya beradu dengan mata Mello. Ia tersenyum. "Kupikir satu-satunya cara untuk bisa bertemu denganmu hanya menunggu disini, habis aku tak punya petunjuk lain mengenai keberadaanmu."
Mello masih membeku di tempat, terlalu kaget untuk bisa bereaksi.
Pemuda itu bangkit berdiri, membelai rambut pirang Mello yang kini sedikit berantakan. Tangannya terasa hangat... berbeda dengan dinginnya tangan persoconnya saat ia menyentuhnya. "Kau sudah besar sekarang. Aku selalu menunggu saat ini, dimana aku bisa menunjukkan diri lagi, hanya padamu, Mels".
"… Matt…" Mello merasa begitu sesak, hingga tenggorokannya terasa sulit mengatur suaranya untuk keluar. Ia tidak pernah menangis samasekali sepanjang yang ia bisa ingat, namun saat itu, matanya terasa panas dan sedikit berair.
Matt (A) menciptakan sebuah android, yang kemudian dipatenkan oleh orang lain sebagai 'persocon', sebelum akhirnya menciptakan keadaan 'bunuh diri' yang ia rencanakan sedemikian rupa hingga memang terlihat demikian. Aku sebenarnya tahu ia tidak benar-benar meninggal, namun aku sengaja membiarkan keadaan itu dan membuatnya bisa berkeliaran dalam 'dunia luar', mengecap kebebasan yang sesungguhnya sebagai individu biasa. Mengingat mungkin hal itulah yang terbaik baginya, dan itu juga tidak merugikanku.
Kelihatannya ia akan membawa Mihael juga jika ada kesempatan, namun kenyataannya anak itu masih mendekam di Wammy House hingga saat aku menuliskan hal ini. Jadi kurasa Matt masih harus menuggu saat yang tepat untuk bisa menemui anak yang entah kenapa selalu ia beri perhatian khusus itu.
Android yang diciptakan Matt adalah sesuatu yang sangat 'spesial' dibandingkan semua persocon yang sekarang beredar. Selain karena perangkat dan sistemnya, android yang diberi code name 'Mail Jeevas' itu adalah copy dari dirinya. Ia sudah memprogram sang perocon untuk bisa berkembang sendiri saat diaktifkan nanti, namun program dasarnya tetaplah sesuai dengan kepribadian yang ia tanamkan sejak awal.
Mungkin android itu memang berperan sebagai pengganti dirinya yang dianggap tiada, meskipun pada akhirnya 'Mail Jeevas' menghilang entah kemana, meninggalkan berbagai perangkat tambahannya tersisa pada lab di Wammy House yang pada akhirnya kusimpan sendiri.
Kurasa akan tiba saatnya, dimana Matt (A) yang sesungguhnya menunjukan diri pada dunia.
B.B.
5 April 1993
Begitulah yang tertulis di salah satu document dalam komputer Beyond yang ditelusuri Mello saat ini.
"Mell, ayo cepat! Kau mau ketinggalan pesawat?" seru Matt dari dalam camaro milik Mello yang bagian luarnya kini sudah dipenuhi puluhan bekas peluru.
"Sebentar!" Mello segera mematikan sekering, tidak khawatir akan menyebabkan kerusakan pada komputer Beyond. Toh itu juga terakhir kalinya ia akan berada disitu.
"Mell, kau kesini sekarang juga atau mau kutinggal ke L.A.?" ancam Matt.
"Iya,iya~ Tidak sabaran banget sih," gerutu Mello sambil membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang bagian depan.
Mobil itu pun melaju, membuat rumah kost yang kini tak berpenghuni di belakangnya tampak semakin menjauh.
Mello menolehkan kepalanya ke belakang untuk terakir kalinya.
'Selamat tinggal, Matt….'
'Jika ada sesuatu yang muncul, akan ada sesuatu yang menghilang, begitu saja sebaliknya. Itu yang dikatakan 'Matt' padaku,' sosok sang persocon yang tersenyum saat mengucapkan hal itu terlintas dalam kepala Mello.
Sesuatu yang muncul… Sesuatu yang menghilang…
"Kenapa melihatku seperti itu, Mel?"
"Tidak… bukan apa-apa…"
Kisah Mello dan persoconnya telah berakhir, menimbulkan bekas luka yang cukup dalam. Namun kisahnya dan 'Matt' baru saja dimulai…
-The End-
Yey~! Akhirnya kelar! XD (nabur bunga kamboja -lho?-). Gak nyangka fic yang (awalnya) humor semata malah berakhir seperti ini. Pada akhirnya endingnya gak ada hubungannya samasekali ama chobits~ =w= Tapi saya rasa inilah yang terbaik...(?)
I've hardly made this final chapter, so... REVIEW PLEASE~? :3
