Wonwoo hanya tertawa menanggapinya, Wonwoo kembali memutar – mutar tubuh mungil yang ada didalam pelukannya

Wonwoo tersenyum mengingat itu, bagaimana lucunya Mingoo saat itu yang membuat Wonwoo sangat gemas ingin membawa Mingoo pulang.

Wonwoo masih memejamkan matanya, menikmati udara sejuk yang mengalir masuk kedalam paru – parunya

Wonwoo mengingat perkataan Mingoo

"Kalau nanti Hyung kecini saat ulangtahun Mingoo, hyung tinggal memejamkan mata saja dan panggil Mingoo. Cling! Pasti Mingoo langsung ada dihadapan hyung."

"Apa salahnya dicoba. Aku akan mencobanya." Batin Wonwoo iseng

"Mingoo" ucap Wonwoo lirih, dengan perlahan Wonwoo membuka matanya.

Dihadapannya ada seseorang, tapi Wonwoo belum bisa melihatnya dengan jelas karena pandangannya masih membiasakan dengan cahaya sekitar.

Saat pandangannya sudah jelas, Wonwoo membelalakkan matanya terkejut begitu pula dengan seseorang yang ada dihadapannya sekarang.

"Mingyu"

"Wonwoo hyung"

SOONWOO TWINS

Author : Jung Minwoo96

Nilai: ? (Dinilai sendiri saja ya... karena Author pun ndak tahu berapa yang harus dinilai untuk FF ini. hehehehehehe)

Cast:

Wonwoo

Soonyoung

Mingyu

Seokmin

Kibum

Donghae

Jun

Woozi

Cast yang lain menyusul tergantung jalan cerita!

Disclaimer : Semua Cast hanya milik Tuhan YME dan orang tua mereka. saya hanya menggunakan nama mereka karena saya sangat menyukai mereka. Cerita murni dari saya pribadi, tapi Inspirasinya dari berbagai macam – macam Author favorit, ff favorit saya, manga jepang favorite, Drakor, Drama jepang dan lain - lain.

Genre: Romantis, Brothership, Friendship, Family

Warning : BL/YAOI, jika ada Typo's atau GJ mohon dimakhlumi karena ini karya pertama saya sebagai penulis, hehehehehe.

Happy Reading!

Chapter11

Soonyoung sedang menanam bibit bunga didalam pot. Dengan telaten memberikan pupuk dan menambahkan tanah liat ketika dirasa tanahnya masih kurang.

Walaupun bahunya masih sakit tapi hanya untuk sekedar menamam bibit bunga tidak akan membuatnya patah tulang kan. Itulah yang dipikirkan Soonyoung.

"Sudah selesai?" suara Donghae yang tiba – tiba membuat Soonyoung sedikit terkejut

"Eomma mengagetkanku" ucap Soonyoung sedikit kesal, Donghae hanya tersenyum menanggapi kekesalan Soonyoung.

"Kau sedang menanam apa?" tanya Donghae setelah mencium pipi chuby Soonyoung

"Aku sedang menanam bibit mawar putih, Eomma. Untuk Wonwoo."

"Untuk Wonwoo?" tanya Donghae sambil mengerutkan keningnya

"Ne, Eomma. Mawar Putih untuk Wonwoo"

"Kenapa mawar putih? Kenapa bukan mawar merah?"

Soonyoung tersenyum sambil terus memberikan pupuk pada pot.

"Karena mawar putih memiliki arti kemurnian, kesucian dan ketulusan. Eomma tahu kan Wonwoo seperti apa, dia sangat murni dan tulus ketika menyayangi seseorang. Cintanya sangat suci, sesuci hatinya. Dia tidak membeda – bedakan kan siapapun. karena itu aku ingin menanam ini untuk Wonwoo."

Donghae tersenyum menanggapinya

"Eomma tidak bekerja?" tanya Soonyoung heran melihat Eommanya masih ada dirumah.

Donghae menggelengkan kepalanya lalu memeluk Soonyoung dari belakang

"Eomma ingin menemanimu hari ini, Eomma ingin bersamaamu. Jadi Eomma meliburkan karyawan Eomma, agar mereka juga bisa bersama dengan keluarga mereka."

Soonyoung tersenyum

"Eomma memang baik."

"Memang kapan Eomma tidak baik?" tanya Donghae tersinggung yang dibuat - buat, hal itu membuat Soonyoung terkekeh pelan

"Ketika Eomma marah" jawab Soonyoung, yang ditanggapi Donghae dengan mencubit pipi Soonyoung gemas.

"Perlu Eomma bantu?" tanya Donghae sambil melepaskan pelukannya pada Soonyoung

"Tidak, Eomma. Masih tersisa satu pot lagi. Aku ingin menanamnya sendiri." Jawab Soonyoung sambil mengambil Pot beserta bibitnya.

"Apa sekarang yang akan kau tanam?"

"Bunga Edelweiss " jawab Soonyoung sambil tersenyum

"Bunga Edelweiss? Apa itu memiliki arti juga sehingga kau ingin menanamnya?"

"Ne, Eomma. Bunga Edelweiss memiliki arti lambang keabadian. Contohnya jika mencintai, aku ingin cintaku abadi. Selain itu, ini juga menunjukkan bahwa aku adalah orang yang berani dalam mencintainya."

"Kau ingin memberikan pada seseorang yang kau cintai hingga kau menanam bunga itu?" tanya Donghae ingin tahu Soonyoung terdiam, dia memandang pot dan bibit itu dengan pandangan sendu

"Aku ingin sekali memberikan ini padanya, Eomma. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya. Aku hanya berani mencintainya saja tanpa mengharapkan sesuatu yang lebih darinya. Karena aku tau bagaimana akhir dari kisah cintaku. Aku ingin cintaku abadi sampai aku mati nanti" Batin Soonyoung sedih

Donghae memandang Soonyoung, menunggu jawaban apa yang akan dikeluarkan oleh anak sulungnya itu. Tapi yang Donghae dapat hanya wajah sedih yang Soonyoung tunjukkan. Hal ini menyakinkan Donghae akan satu hal bahwa anaknya memang sedang jatuh cinta.

Tiba – tiba Soonyoung merasakan sakit dipinggangnya dan merasakan gatal dipunggungnya, hingga tanpa sadar dia menjatuhkan pot itu hingga pecah.

"Soonyoung-ah" panggil Donghae panik ketika Soonyoung limbung kebelakang, tapi Donghae berhasil menahannya.

"Eom..ma" rintih Soonyoung

"Soonyoung-ah, kau harus bertahan" ucap Donghae panik sambil mengambil Handphone yang ada didalam sakunya, menghubungi Zhoumi.

"Sa...kit, Eo..mma" rintih Soonyoung sambil memeluk pinggang Donghae, menahan sakit.

Donghae memeluk Soonyoung dengan erat.

"Bertahanlah sebantar lagi." Seketika tubuh Soonyoung menjadi panas, seperti orang terkena demam.

Hal itu semakin membuat Donghae panik, karena Zhoumi tidak mengangkat telponnya.

"Zhoumi, ayo angkat telponnya." Ucap Donghae gusar Soonyoung semakin merintih kesakitan, membuat Donghae dengan sigap mematikan sambungan telponnya dan menggendong Soonyoung menuju mobil.

Dalam perjalanan menuju mobil, Soonyoung tidak sadarkan diri dalam gendongan Donghae.

"Soonyoung-ah, bangun. Soonyoung." teriak Donghae panik, Donghae dengan segera mempercepat langkahnya menuju mobil.

Setelah memasukkan Soonyoung kedalam mobil, Donghae dengan cepat menancapkan gas nya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi.

***SOONWOO TWINS***

Wonwoo masih membelalakkan matanya terkejut melihat Mingyu ada dihadapannya sekarang, sedangkan Mingyu hanya menatapnya lebih tepatnya menatap gelang yang sedang dipakai oleh Wonwoo.

"Beanie hyung" ucap Mingyu lirih, walaupun lirih tapi masih bisa didengar oleh Wonwoo.

Wonwoo semakin membelalakkan matanya tidak percaya mendengar ucapan Mingyu.

"Beanie hyung" ucap Mingyu semakin jelas.

"Tidak Mungkin." Ucap Wonwoo semakin tidak percaya dengan pendengarannya

"Wonwoo hyung adalah Beanie hyung?" tanya Mingyu memastikan pikirannya. Wonwoo berdiri dari duduknya dan menatap Mingyu dengan pandangan tidak percaya.

Pandangannya semakin tidak percaya melihat Mingyu mengenakan gelang yang sama seperti yang dia pakai sekarang.

"Minggoo" Wonwoo mencoba memastikan penglihatannya akan apa yang dia lihat sekarang, bahwa Mingyu mengenakan gelang milik Minggoo-nya. Dongsaeng kecilnya.

"Beanie hyung" ucap Mingyu sekali lagi sambil melangkah menghampiri Wonwoo.

"Kau... Beanie hyung-ku kan. Wonie hyung?" tanya Mingyu memastikan sambil menatap Wonwoo

"Tidak Mungkin" ucap Wonwoo masih tidak percaya. Mingyu memberanikan diri menyentuh pipi Wonwoo dengan lembut

"Beanie hyung, Ini Minggoo." Ucap Mingyu dengan senyum haru menatap Wonwoo

"Aku sudah besar, Hyung. Aku sudah lebih tinggi dari mu" Mingyu membenahi poni yang keluar dari Beanie yang dikenakan Wonwoo.

"Nanti Minggoo pasti akan lebih tinggi dari hyung. Dan bisa memeluk Beanie Hyung."

Wonwoo tiba – tiba teringat ucapan Mingoo, lalu dengan perlahan melepaskan tangan Mingyu dari pipinya dan menggenggamnya erat. Memastikan jika seseorang yang ada dihadapannya adalah nyata dan bukan khayalan. Bahwa Mingoo nya adalah Mingyu, bukan orang lain.

Tapi perasanaan Wonwoo masih Syok menerima kebenaran ini. Menerima jika orang yang selama ini ingin dia temui sudah dia temui terlebih dahulu. Bahwa dongsaeng kecil yang selama ini dia rindukan ternyata ada dihadapannya selama ini. Ada disampingnya. Ada disekitanya.

"Kenapa aku tidak mengenalinya?" batin Wonwoo sambil menatap Mingyu sendu

"Hyung jahat! Hyung tidak mengenaliku! Hyung jahat"

Tiba – tiba Wonwoo teringat dengan Mimpinya dulu, saat tiba – tiba Mingoo hadir dimimpinya dan mengatakan jika dia jahat. Saat itu Wonwoo sudah mengenal Mingyu dan sedikit dekat dengan Mingyu.

"Jadi ini kah arti Mimpi itu? Mimpi dimana Mingoo mengatakan aku jahat dan tidak mengenalinya. Karena aku tidak mengenalinya yang sudah besar. Aku tidak mengenali dia yang sudah berdiri dihadapanku waktu itu. Tidak mengenalinya yang sudah hadir didepanku. Karena aku menganggap bahwa dia adalah orang lain. Bukan Mingoo-ku." Batin Wonwoo menatap Mingyu dengan tatapan rasa bersalahnya.

Dari kejauhan Wonwoo dapat melihat Jun yang sedang berjalan kearah mereka berdua. Wonwoo melepas tangan Mingyu dan segera berlari kearah Jun. Membuat Mingyu sedikit bingung kenapa Wonwoo menghampiri Jun.

Jun yang sedang membawa sarapan untuk mereka berdua sedikit terkejut melihat Wonwoo berlari kearahnya.

Dan dengan tiba – tiba memeluknya. "Waeyo, Wonie?" tanya Jun heran merasakan Wonwoo semakin memeluk punggungnya erat.

"Mingoo adalah Mingyu. Dongsaeng kecilku adalah Mingyu" ucap Wonwoo sambil terisak Ucapan Wonwoo membuat Jun terkejut.

Karena sedikitnya dia sudah tahu cerita Mingyu yang memang sedang mencari Beanie hyung nya yang dia temui ketika dia berumur 5 tahun.

"Jadi, Kau... adalah... Beanie hyung-nya Mingyu?" tanya Jun tidak percaya

"Apa yang harus aku lakukan Jun? Bagaimana mungkin Mingyu adalah Mingoo" suara Wonwoo teredam pundak Jun, karena memang Wonwoo menyembunyikan wajahnya dibahu Jun.

Jun hanya mengelus punggung Wonwoo pelan. Menenangkan Wonwoo yang masih shock dengan kebenaran yang baru saja dia ketahui. Jun sebenarnya juga sangat terkejut, dia tidak menyangka bahwa dua orang yang saling mencari sudah dipertemukan Tuhan terlebih dahulu tanpa mereka sadari. Mingyu menghampiri Jun dan Wonwoo, menantap sendu kearah Wonwoo yang ada dipelukan Jun.

"Ini lah yang disebut takdir, Wonie. Orang yang selalu kau rindungkan, orang yang selalu ingin kau temui ternyata sudah ada dihadapanmu selama ini. Tuhan sudah mempertemukanmu dengan dongsaeng kecilmu sejak lama, hanya saja Kau maupun Mingyu tidak pernah tahu akan hal itu." Jun mengelus lembut beanie yang dikenakan Wonwoo dan juga Punggung Wonwoo lembut.

Lalu melepaskan pelukan Wonwoo dan membalikkan badan Wonwoo agar berhadapan dengan Mingyu.

"Lihat dia sekarang, bahwa dongsaeng kecilmu sudah besar dan kau memang sudah menemuinya sejak lama. Kau mengenalnya, kau dekat dengannya. Kau harus mempercayai bahwa takdir Tuhan itu memang ada." Wonwoo menatap Mingyu begitu pula sebaliknya. Mingyu menghapiri Wonwoo dan berdiri dihadapannya.

"Aku sudah menepati janjiku, Hyung. Aku sudah datang. Aku sudah lebih tinggi darimu. Aku bisa memelukmu tanpa harus menjijitkan kaki ku lagi." Ucap Mingyu tercekat, karena Mingyu berusaha menahan tangisan bahagianya karena bertemu dengan Beanie Hyungnya.

Baenie hyungnya yang selama ini tanpa sadar dia cintai sebagai orang lain. Tapi ternyata cinta dan hatinya tidak salah untuk mencintai orang itu karena mungkin orang itu adalah takdirnya.

Dengan gerakan perlahan, Mingyu memeluk Wonwoo. Memastikan jika orang yang ada dihadapannya adalah Beanie hyungnya, orang yang sekaligus ia cintai tanpa sadar. Jun tersenyum melihat bahagianya Mingyu bertemu dengan Beanie hyungnya yang tidak lain adalah Wonwoo. Orang yang selama ini Mingyu perhatikan dan Mingyu dekati.

"Bogoshippeo, Beanie hyung" ucap Mingyu semakin mengeratkan pelukannya pada Wonwoo, hingga Wonwoo menjijitkan kakinya.

"Nado Bogoshippeo, Mingoo" ucap Wonwoo sambil membalas pelukan Mingyu. Wonwoo mengeratkan cengkraman tangannya pada pungung Mingyu, untuk menyalurkan perasaan bahagianya karena dia telah lama bertemu dengan dongsaeng kecilnya.

"Semoga kalian bahagia" batin Jun sambil tersenyum

***SOONWOO TWINS***

"Bagaimana keadaannya?" tanya Donghae ketika melihat Zhoumi keluar dari ruangan tempat Soonyoung dirawat.

Zhoumi menggelengkan kepalanya, hal itu membuat Donghae sedikit geram

"Apa maksudmu? Kau harus melakukan sesuatu untuk Soonyoung" ucap Donghae sambil mencengram baju dokter Zhoumi

"Hae-ah, Soonyoung sudah bertahan. Aku sudah pernah bilang pada Kibum, Jika Soonyoung harus mendapat donor ginjal yang cocok. Dan aku sudah melihat gejala gagal ginjal dari Soonyoung."

"Gejala?"

"Muncul bercak kulit gatal di punggung Soonyoung. itu adalah gejala umum yang diperlihatkan seorang gagal Ginjal. Karena Ginjal juga mengambil partikel limbah dari darah, sehingga ketika ginjal tidak berfungsi dengan baik pada seseorang, hasilnya limbah tubuh akan keluar melalui darah dan menyebar ke kulit. Dengan begitu, maka terjadilah gejala gagal ginjal berupa kulit kering, bercak kulit gatal di seluruh tubuh yang sering muncul pada tungkai, punggung, kepala, dan dada. Tapi pada kasus Soonyoung aku masih menemukannya di punggungnya." Zhoumi menjelaskan tentang kondisi Soonyoung kepada Donghae dengan penuh pengertian.

"Apa gatal itu tidak bisa disembuhkan dengan krim penghilang rasa gatal?" tanya Donghae memastikan, Zhoumi menggeleng

"Tidak bisa hae, krim itu tidak akan bisa menghilangkan rasa gatalnya. Jalan satu – satunya Soonyoung harus cuci darah setiap dua minggu sekali, untuk membuang Limbah ditubuhnya. Itu akan sedikit menguranginya"

"Sedikit? Kau bilang sedikit?" Donghae meninggikan suara mendengar penjelasan Zhoumi.

"SELAMATKAN ANAKKU, ZHOUMI. SELAMATKAN SOONYOUNG-KU" teriak Donghae frustasi

"Kita sudah berusaha Hae, aku sudah berusaha mencarikan donor untuk Soonyoung. tapi belum ada donor yang cocok dengan Soonyoung. Kita harus bersabar." Jelas Zhoumi

"Bersabar? BERSABAR KATAMU. MELIHAT ANAKKU MENDERITA SEPERTI ITU KAU MENYURUHKU UNTUK BERSABAR?" Donghae benar – benar berteriak dengan keras kepada Zhoumi sambil menguncang – guncangkan tubuh Zhoumi.

"Aku sudah berusaha, Hae. Kita semua sudah berusaha untuk Soonyoung." Zhoumi mencoba untuk menenangkan Donghae

"KAU BISA BERKATA SEPERTI ITU KARENA YANG ADA DIDALAM SANA BUKAN JUN, BUKAN ANAKMU YANG ADA DIDALAM SANA. DIDALAM SANA ADALAH SOONYOUNG. SOONYOUNG-KU"

Donghae jatuh terduduk sambil menangis keras

"Kumohon Zhoumi, selamatkan Soonyoung-ku. Aku sudah hampir kehilangan Wonwoo waktu itu, sekarang apa aku akan kehilangan Soonyoung?" Donghae menutup wajahnya dengan kedua tangannya

"Aku sudah tidak sanggup lagi menyimpan semua ini dari Wonwoo. Bagaimana jika dia menanyakan tentang Soonyoung. aku tidak sanggup melihat Wonwoo menderita melihat penderitaan Soonyoung."

Zhoumi mensejajarkan tingginya pada Donghae, mengelus lembut rambut Donghae. Tiba – tiba dari belakang Donghae merasakan sebuah pelukan hangat yang menenangkan. Donghae sudah hafal dengan pelukan ini, pelukan suaminya. Jeon Kibum.

"Tapi aku yakin Soonyoung pasti jauh menderita melihat Wonwoo yang mengalami hal ini. Soonyoung melakukan ini karena Wonwoo, dia berkorban untuk Wonwoo. Apakah kita kan menghacurkan pengorbanan itu, Hae." Ucap Kibum lembut.

"Tapi aku juga tidak ingin melihat Soonyoung menderita, Kibum-ah." Ucap Donghae sambil terisak.

"Itulah tugas kita sebagai orang tua, hae. Kita akan membuat Soonyoung melupakan penderitaan yang dialaminya, karena kita ada disampingnya. Kita harus ada untuknya. Karena kita adalah Appa dan Eommanya."

Ucapan Kibum membuat Donghae kembali menangis. Kibum memeluk Donghae dengan erat, menenangkan seorang Eomma yang menderita karena penderitaan anaknya.

"Kita harus melakukan cuci darah pada Soonyoung, Kibum-ah." Ucap Zhoumi pada Kibum yang masih sibuk menenangkan Donghae

"Lalukan apapun yang terbaik untuk Soonyoung, Hyung. Aku menyerahkan semuanya padamu."

"Tapi cuci darah ini membuat Soonyoung mudah kelelahan dan kondisi fisik yang lemah. Karena kondisi Soonyoung belum terlalu parah, jadi cuci darah ini bisa dilakukan 2 minggu sekali."

"Lakukan apapun yang terbaik, hyung. Karena kau lah yang tahu."

"Baiklah. Aku akan melakukan cuci darah pada Soonyoung."

Zhoumi masuk lagi keruangan Soonyoung dan menyiapakan semuanya.

Sedangkan Kibum dan Donghae hanya bisa berdoa dari luar ruangan tempat Soonyoung berada.

***SOONWOO TWINS***

Zelo yang berada dirumahnya bersama dengan pelayan – pelayan merasa bosan dan sedih. Selalu seperti ini dihari libur, Zelo tidak bisa menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga terutama Hyungnya.

Zelo melihat JongUp berjalan menuju bagasi mobilnya, hal itu membuat Zelo menyusul hyungnya.

"Hyung!" panggil Zelo, hal ini menghentikan langkah JongUp.

"Hyung, ingin kemana?" tanya Zelo

"Bukan urusanmu" jawab JongUp singkat

"Boleh aku ikut? Aku ingin bersamamu hyung."

"Aku tidak sedang piknik untuk anak kecil, jadi kau tidak bisa ikut kemanampun aku pergi." Jawab JongUp sambil membuka pintu mobilnya

"Apa Hyung akan menyakiti Soonyoung Sunbae dan Wonwoo Sunbae lagi?"

Ucapan Zelo menghentikan gerakan JongUp seketika. JongUp sedikit terkejut mendengar perkataan Zelo, lalu menatap Zelo dengan pandangan terkejut.

"Aku melihat semuanya hyung. Aku melihat kau memberikan uang pada petugas minuman kemarin. Dan tatapan kebencian yang kau tunjukkan untuk mereka. Ucapanmu tentang mereka. Aku melihat semuanya." Zelo menatap JongUp sedih

"Kau tidak boleh menyakiti orang lain, hyung. Mereka tidak pernah mengganggu hidupmu, kenapa kau ingin menyakiti mereka?"

Pertanyaan Zelo membuat JongUp geram, lalu dengan langkah yang lebar JongUp berjalan kearah Zelo dan mencengkram bajunya dengan sangat kasar.

"Itu bukan urusanmu. Kau anak kecil yang tidak tahu apa – apa. Diam saja. Dan lihat apa yang bisa aku lakukan untuk mereka. Ini adalah balasan apa yang sudah mereka lakukan untukku. Kau bilang mereka tidak mengganggu hidupku? Kau salah besar. Mereka sangat mengganggu. Gara – gara Soonyoung aku ditendang dari Klub Taekwondo. Gara – gara Soonyoung juga aku gagal terpilih menjadi ketua klub dance. Gara – gara Wonwoo, Rena. Yeoja yang ku cintai dipermalukan dan keluarkan dari sekolah. Kemarin Kibum Sajangnim menolak keinginan Appa untuk menanamkan saham dan donasi disekolah. Dan apa kau pikir aku diam saja diperlakukan seperti itu?" ucap JongUp panjang lebar sambil mendorong dengan kuat tubuh Zelo hingga terjatuh. Zelo berdiri sambil menatap kakaknya terluka.

"Itu semua bukan gara – gara mereka hyung. Tapi itu semua adalah kesalahanmu sendiri. Kau tau alasan kau dikeluarkan dari klub Taekwondo, karena kau membuat teman satu klub mu masuk rumah sakit. Kau tidak terpilih menjadi ketua dance karena reputasimu jelek, sifat mu yang pemarah, tidak sabaran, dan juga egois. Walaupun kau punya potensi menjadi dance handal tapi sifatmu tidak mendukungmu untuk menjadi seorang pemimpin. Masalah Rena, dia lah yang bersalah karena hampir membuat kakak kelas melecehkan Wonwoo Sunbae. Itu adalah kesalahannya sendiri. Sedangkan masalah Appa, Kibum Sajangnim pasti sudah mempertimbangkannya dengan baik demi kebaikan dimasa depan. Kau tahu bagaimana reputasi Appa, Appa yang suka menggunakan kekuasaan dan kewenangannya dengan seenaknya tanpa memikirkan akibatnya. Jika Appa menanamkan saham disekolah dan donasi. Aku berani jamin, Appa pasti selalu dan akan ingin menguasi sekolah, seolah – olah dialah pemilik sekolahnya. Dan hyung pasti menggunakan itu untuk menindas siswa Pledis."

PLAK!

Dengan keras JongUp menampar Zelo

"Berani sekali kau bicara seperti itu tentang keluargamu." Ucap JongUp geram

"Keluarga?" ucap Zelo sambil tersenyum sinis

"Hyung, bilang keluarga? Jika ada hal seperti ini hyung baru bilang keluarga. Tapi beberapa detik yang lalu hyung tidak menganggapku seperti itu. Kau hanya menganggapku sebagai benalu dikeluarga, jika aku ingin ikut menyelesaikan masalah keluarga. Hyung tidak mengizinkanmu untuk ikut dalam masalah keluarga."

JongUp sudah kehabisan kata – kata menghadapi Zelo, dengan penuh amarah JongUp menuju mobilnya,

"Aku tidak pernah merasakan kasih sayang Eomma, Hyung. Hanya kau dan Appa yang aku miliki. Tapi aku tidak pernah merasakan memiliki hyung dan Appa yang ada disampingku. Kalian sibuk dengan urusan kalian masing – masing tanpa mempedulikanku." Ucap Zelo sebelum JongUp masuk kedalam mobil dan menancapkan gasnya dengan kecepatan tinggi.

"Eomma, apa yang harus aku lakukan untuk mereka. Kenapa kau meninggalkan aku sendirian menghadapi mereka? Kenapa kau tidak membawaku bersamamu Eomma?" ujar Zelo lirih sambil menatap langit, seolah – olah dia melihat wajah Eommanya yang sedang sedih.

"Aku akan melakukan sesuatu untuk JongUp hyung, sesuatu yang membuat hyung sadar akan kesalahannya. Bantu aku Eomma. Aku mohon." Ujar Zelo sambil menahan tangisnya.

***SOONWOO TWINS***

Wonwoo, Jun dan Mingyu sedang duduk dibangku taman. Wonwoo sedang melamun, sedangkan Mingyu sedang sibuk menatap Wonwoo. Jun yag duduk diantara mereka merasa bosan dengan keheningan ini. Sebenarnya dia ingin meninggalkan kedua orang ini, agar mereka bisa berbicara satu sama lain, tapi Wonwoo menahannya agar mereka tidak ditinggalkan, duduk pun Wonwoo tidak ingin bersebelahan dengan Mingyu, entah alasannya apa. Tapi yang pasti Wonwoo tidak membiarkan Jun pergi meninggalkan mereka.

"Wonwoo, aku ingin membeli sesuatu yang bisa dimakan di supermarket untuk kita bertiga. Aku akan segera kembali." Ucap Jun cepat sambil berdiri, tapi sebelum benar – benar pergi Wonwoo menggenggam tangan Jun sangat erat.

"Hanya sebentar!" ucap Jun tegas, tapi tidak digubris oleh Wonwoo sama sekali

"Wonu, apa sebenarnya mau mu?" tanya Jun penasaran

"Kau ingi bertemu dengan Mingoo kan. Dan sekarang kau sudah bertemu dengannya. Maka kau bisa menikmati waktumu dengannya. Aku disini hanya diminta Soonyoung untuk mengantarmu saja, bukan untuk menengahi kalian seperti ini." Jun mencoba membuat Wonwoo mengerti, sedangkan Mingyu hanya menatap Wonwoo dengan pandangan sendu.

"Kau menyesal bertemu denganku hyung?" suara Mingyu yang tiba- tiba membuat Wonwoo dan Jun menatapnya

"Ani" jawab Wonwoo singkat

"Lalu apa masalahmu?" tanya Jun gemas pada Wonwoo

"Aku hanya belum siap menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini aku rindukan ada disekitaku selama ini." Ucap Wonwoo sambil menundukkan kepalanya, Wonwoo semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Jun. Jun menghelai nafasnya pelan. Lalu berlutut dihadapan Wonwoo

"Siap tidak Siap kau harus menerimanya Wonu-ya. Ini takdir. Kau sudah dipertemukan dengannya sejak lama. Kau harus menerimanya, kau tidak bisa menolak kenyataan bahwa Mingyu adalah dongsaeng kecilmu yang dulu, Mingoo."

Jun berdiri lalu menepuk tangan Wonwoo yang masih ada diatas tangannya.

"Biarkan aku pergi sebentar dan bicaralah pada Mingyu, Apa yang ingin kau bicarakan, bicarakan dengannya. Kau sudah berjanji pada Soonyoung, akan memastikan sesuatu jika sudah bertemu dengan Mingoo kan. Kau harus menepatinya." Jun mengingatkan Wonwoo akan perasaannya.

Jun sudah tahu tentang perasaan Wonwoo terhadap Mingyu, Soonyounglah yang menceritakannya. Agar jika ada kejadian seperti ini, Jun bisa memberikan pengertian pada Wonwoo.

Jun perlahan melepaskan tangan Wonwoo .

"Mingyu, bicaralah sesuatu yang ingin kau bicarakan dengan Wonwoo. Aku akan meninggalkan kalian. aku tidak akan pergi jauh." Jun perlahan menjauh dari mereka berdua dan pergi ke supermarket dekat dengan taman.

"Beanie hyung...Ani... Wonwoo hyung, aku ingin bertanya sekali lagi, apa kau menyesal bertemu denganku?"

Wonwoo seketika menatap Mingyu, Wonwoo dapat melihat kekecewaan dimata Mingyu ketika menatap tepat dimata Mingyu

Wonwoo tersenyum lembut

"Ani, aku tidak menyesal sama sekali." Jawab Wonwoo

"Lalu kenapa kau seperti ini? Apa kau kecewa jika Mingoo adalah aku?"

"Ani, Mingyu-ah."

"Lalu kenapa?"

"Aku hanya sedang berfikir, tujuanku kesini menemui dongsaeng kecilku untuk memastikan sesuatu, tapi ternyata semua itu hancur berantakan dan aku semakin bingung."

"Memastikan sesuatu? Memastikan apa?" tanya Mingyu bingung dengan penjelasan dari Wonwoo, Wonwoo hanya diam dan menjawab dengan senyuman saja.

"Kau akan tahu nanti, tapi tidak sekarang."

"Hyung, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Hm. Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Kau masih marah padaku? Soal foto yang ku rusak waktu itu?" tanya Mingyu takut

Wonwoo tersenyum mengingat hal itu, mengingat ucapan Appa-nya tentang kesalah pahaman Mingyu

"Ani, aku tidak marah. Hanya sedikit kecewa saja. Kau bisa berfikiran seperti itu tentang aku dan Soonyoung. tapi aku sadar jika hal seperti itu bukan sepenuhnya salahmu."

"Kau masih kecewa padaku?"

"Ani, karena aku sudah mengerti semuanya. Aku sudah paham. Jadi untuk apa berlama – lama dengan perasaan seperti itu."

Perkataan Wonwoo membuat Mingyu sedikit lega,

"Mianhae, Hyung. Aku memang salah, aku kekanakan." Mingyu menunduk sedih, meminta maaf pada Wonwoo

Dengan gerakan lembut Wonwoo mengusap kepala Mingyu

"Kau tidak perlu minta maaf, karena memang bukan sepenuhnya salahmu. Aku paham, kau bukan Jun atau Woozi yang akan bisa mengerti tentang kedekatanku dengan Soonyoung. karena kau tidak mengenalku dan Soonyoung dari kecil, jadi tidak salah kau bisa salah paham pada kedekatan kami."

Mingyu tersenyum mendengar penjelasan Wonwoo, Mingyu benar – benar bersyukur Wonwoo mau memaafkan kesalahannya. Mingyu menggenggam tangan Wonwoo yang sedang mengusap kepalanya. Menggenggamnya dengan lembut. Perlakuan Mingyu yang seperti itu mampu membuat Wonwoo tanpa sadar tersipu malu.

"Hyung, tentang pernyataanku waktu itu, apa kau bisa menjawabnya?" tanya Mingyu penuh keberanian, Wonwoo mengerutkan keningnya bingung

"Pernyataan? Pernyataan yang mana?" tanya Wonwoo berusaha mengingat – ingat kembali

Hal itu mampu membuat Mingyu menelan ludahnya paksa. Jujur saja Mingyu gugup.

"Aku..." ucap Mingyu terputus

"Hm?" tanya Wonwoo menunggu ucapan selanjutnya yang diucapkan Mingyu

"Aku..." Mingyu menghembuskan nafasnya pelan

"Aku menyukaimu hyung. Aku mencintaimu" ujar Mingyu sekali tarikan nafas

Wonwoo membelalakkan matanya terkejut, dengan spontan Wonwoo melepaskan genggaman tangan Mingyu, hal itu membuat Mingyu sedikit terkejut dengan pergerakan Wonwoo.

Wonwoo memutuskan kontak mata dengan Mingyu, Wonwoo masih bingung harus menjawab apa, karena dia masih bingung dengan perasaannya sendiri.

"Waeyo, hyung? Aku salah lagi?" tanya Mingyu dengan nada sedikit kecewa

"Ani, tidak apa – apa. Kau tidak salah. Aku hanya terkejut saja." Ucap Wonwoo gugup

"Jadi apa jawabanmu?" tanya Mingyu penasaran,

Wonwoo gusar tidak tahu harus bagaimana menjawab pernyataan dari Mingyu, dia benar – benar masih bingung

"Soonyoung-ah, apa yang harus aku lakukan" ucap Wonwoo dalam hati sambil memainkan jemarinya gugup

"Kau menolakku hyung?"

"Bisakah kau memberiku waktu. Aku benar – benar harus berfikir untuk itu. Aku tidak bisa memutuskan begitu saja." Ucap Wonwoo sambil menatap Mingyu

Mingyu sebenarnya sedikit kecewa dengan jawaban Wonwoo, dia berfikir Wonwoo akan menerima pernyataan cintanya. Tapi memang tidak mudah bagi Wonwoo menjawab secara spontan apa lagi ini masalah perasaan dua orang. Jadi Mingyu dengan penuh kedewasaan memakhluminya

"Ne, Hyung. Aku akan menunggu jawaban darimu" ucap Mingyu sambil tersenyum, hal itu membuat Wonwoo sedikit lega karena Mingyu mengerti dengan keadaannya.

"Hyung ingin jalan – jalan?" tanya Mingyu mengalihkan pembicaraan, agar suasananya disekitar mereka tidak canggung.

Wonwoo sedikit berfikir, lalu menganggukkan kepalanya.

Aku ingin jalan – jalan sebentar dengan Mingyu

Itulah pesan singkat yang dikirimkan Wonwoo pada Jun, Wonwoo tidak ingin Jun khawatir dan mencarinya.

Wonwoo hanya butuh waktu sebentar bersama dengan Mingyu, maka dari itu Jun memberikan kesempatan ini pada Wonwoo dan Mingyu agar mereka bisa memastikan perasaan masing – masing

***SOONWOO TWINS***

Soonyoung tengah tertidur ketika dibawa pulang dari rumah sakit. Soonyoung terus merengek minta untuk pulang kerumah. Karena takut jika Wonwoo pulang dari changwon dan mendapati dirinya ada dirumah sakit. Dirinya tidak dapat memberikan alasan yang masuk akal pada Wonwoo.

Kibum dan Donghae hanya bisa pasrah menuruti permintaan Soonyoung, jika sudah memiliki keinginan, Soonyoung tidak bisa dibantah. Soonyoung begitu keras kepala. Dia akan sangat nekad jika permintaannya tidak dituruti.

Kibum yang tengah menggedongnya –bridal style- hanya bisa tersenyum miris melihat bagaimana tenangnya Soonyoung tidur. Kibum hanya takut Soonyoung tidak bisa bangun lagi. Setelah sampai dikamar, Kibum membaringkan Soonyoung secara perlahan.

"Soonyoung terlihat lemah sekali, kibum-ah" ucap Donghae lirih

"Aku takut melihatnya tidur seperti itu." Donghae begitu khawatir melihat Soonyoung begitu tenang dalam tidurnya

"Kita harus optimis, Soonyoung hanya tidur. Tidak akan terjadi apa – apa dengannya. Dia anak yang kuat. Dia pasti kuat. Dia akan pertahan demi kita dan demi Wonwoo. kau juga dengar tadi dari Zhoumi Hyung kan, Soonyoung akan menjadi lemah ketika dia menjalani cuci darah ini. Tapi ini memang efek dari cuci darah itu. Kita harus terus mendukung dan memberinya semangat agar dia tetap bertahan." Ujar Kibum sambil memeluk bahu Donghae.

Donghae tersenyum mendengar ucapan Kibum

"Kau benar, dia anak yang kuat. Dia pasti bertahan."

"Biarkan Soonyoung istirahat." Ucap Kibum sambil membawa Donghae keluar dari kamar anak kembarnya.

"Eomma" suara panggilan lemah itu menghentikan langkah Donghae dan Kibum yang ingin keluar dari kamar.

Donghae dan Kibum menghampiri Soonyoung yang tengah berusaha untuk bangun

"Kau harus istirahat, Soonyoung-ah. Jangan banyak bergerak." Perintah Kibum menahan Soonyoung agar dia tidak bangun.

"Aku sudah cukup berbaring dirumah sakit tadi, Appa. Aku lelah tidur terus." Ucap Soonyoung lirih

Kibum akhirnya mengalah dan membantu Soonyoung untuk duduk bersandar. Donghae memberikan bantal dipunggung Soonyoung agar punggungnya tidak sakit.

"Kau baik – baik saja, Soonyoung-ah?" tanya Donghae khawatir

"Aku baik – baik saja, Eomma. Jauh lebih baik." Jawab Soonyoung sambil tersenyum lemah

Donghae mengusap lembut rambut dan wajah Soonyoung.

"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Donghae sambil tersenyum, Soonyoung menggelengkan kepalanya pelan

"Minum sesuatu? Eomma akan membuatkannya untukmu"

Kembali Soonyoung menggelengkan kepalanya.

"Jika ingin sesuatu, bilang pada Eomma, Eoh. Eomma pasti membuatkannya untukmu."

Soonyoung tersenyum melihat Eomma dan Appanya.

"Eomma, Appa, Mianhae" ucap Soonyoung

"Kenapa kau minta maaf?" tanya Kibum heran

"Maaf karena aku merepotkan kalian."

"Kenapa kau berbicara seperti itu? Kau sama sekali tidak merepotkan, Soonyoungie. Eomma dan Appa sangat menyanyangimu. Kami mencintaimu." ucap Donghae menahan tangisnya

"Seharusnya aku membahagiakan kalian, membanggakan kalian. Tapi aku hanya bisa menyusahkan kalian dengan keadaanku sekarang. Mianhae. Jeongmal Mianhae." Soonyoung sudah menangis sekarang.

Hal itu membuat Donghae miris, Donghae memeluk Soonyoung sambil menangis

"Kami bangga padamu. Kami sangat bangga karena kau mau berkorban untuk Wonwoo. berkorban demi saudara kembarmu. Kami sangat bahagia karena kau begitu menyayangi Wonwoo. sangat menyayanginya. Sekarang giliran Eomma dan Appa yang akan berkorban demi dirimu"

Donghae terisak pelan, melihat bahu Soonyoung bergetar.

"Kau kuat Soonyoung. Kau sangat kuat. Kau pasti tidak akan apa – apa. Karena kau anak Eomma dan Appa" Kibum ikut memeluk Soonyoung dan Donghae

"Aku harus kuat. Aku harus kuat demi Appa, Eomma dan Wonwoo." batin Soonyoung sambil mengeratkan pelukannya pada Donghae.

***SOONWOO TWINS***

"Aku akan pulang dengan Jun. Kau akan pulang atau masih ingin tetap disini?" tanya Wonwoo pada Mingyu yang sedang berada di hadapannya.

"Aku juga akan pulang hyung. Karena tujuanku sudah terpenuhi ketika melihatmu. Hanya aku menunggu jawabmu saja." Jawab Mingyu sambil tersenyum tipis. Wonwoo hanya menunduk mendengar ucap Mingyu.

"Aku menunggu hyung, menunggu jawabanmu." Ucap Mingyu sambil mengangkat dagu Wonwoo agar Wonwoo menatapnya.

Wonwoo tersenyum tipis menanggapinya, Wonwoo teringat sesuatu dan membuka tasnya. Mencari sesuatu untuk diberikan pada Mingyu.

Mingyu tersenyum lembut ketika melihat gantungan boneka Eddy tergantung ditas Wonwoo

"Kau memakai gantungan itu hyung. Aku sangat senang. Terimakasih. Bolehkan aku berharap lebih, jika kau juga mencintaiku?" batin Mingyu menatap Wonwoo yang sedang mencari sesuatu didalam tasnya.

Wonwoo mengelurkan gulungan kertas dan memberikannya pada Mingyu.

"Apa ini hyung?" tanya Mingyu sambil mengerutkan keningnya

"Hadiah dariku, hari ini ulangtahunmu kan." Jawab Wonwoo sambil tersenyum

"Boleh ku lihat?" tanya Mingyu penasaran, Wonwoo mengangguk pelan

Mingyu membuka kertas gulungan itu secara perlahan, ketika dibuka Mingyu melihat lukisan anak kecil yang sedang menangis.

"Ini aku?" tanya Mingyu heran, Wonwoo tersenyum sambil mengangguk

"Kau ingat waktu dibawah pohon, ketika pulang sekolah kau menghampiriku. Aku sedang menunggu Soonyoung pulang dari latihan. Kau melihat ku sedang membuat sketsa anak kecil yang menangiskan?" tanya Wonwoo kembali mengingatkan Mingyu

"Apa yang sedang kau lukis?"

"Hanya Sketsa, aku hanya iseng saja untuk mengisi kekosongan waktu. Ini sketsa seorang anak kecil yang sedang menangis. Bukankah ini lucu?"

"Ah... aku ingat. Jadi yang kau lukis waktu itu adalah..." ucap Mingyu ketika ingat kejadian waktu itu

"Aku?" sambung Mingyu sambil menunjuk dirinya sendiri

"Lebih tepatnya Mingoo. Aku sedang melukis Mingoo. Aku tidak tahu jika Mingoo adalah kau" jawab Wonwoo sambil tersenyum.

Mingyu tersenyum melihat Wonwoo tersenyum

"Terimakasih hyung. Ini adalah kado terbaik selama aku berulang tahun. Dan kado paling indah adalah bertemu denganmu."

Wonwoo kembali tersenyum mendengar ucapan Mingyu.

Tin Tin

Jun membunyikan klakson mobilnya

"Wonie, jika tidak cepat maka kita kan kemalaman sampai dirumah" teriak Jun dari dalam mobil

"Masuklah hyung. Aku tidak ingin kau sampai dirumah terlalu malam. Karena perjalanannya jauh." ujar Mingyu sambil membuka pintu mobil untuk Wonwoo

"Hati – hati dijalan." Ucap Mingyu

Sebelum masuk kedalam mobil, Wonwoo mengisyaratkan agar Mingyu mendekatkan diri, seolah – olah ingin membisikkan sesuatu. Mingyu secara reflek mendekatkan dirinya pada Wonwoo yang sepertinya ingin berkata sesuatu tapi ternyata...

CUP!

Satu kecupan Wonwoo berikan pada Mingyu

Hal itu membuat Mingyu terdiam karena terkejut dengan tindakan Wonwoo.

"Selamat ulang tahun." Ucap Wonwoo tersenyum sambil masuk kedalam Mobil.

Ketika Jun menjalankan mobilnya, Mingyu baru sadar dari keterkejutannya.

Dengan perlahan Mingyu memegang pipinya yang baru saja dicium Wonwoo, Mingyu tersenyum dibuatnya. Tersipu malu diperlakukan Wonwoo seperti itu.

"Bolehkan aku berharap lebih hyung" ucap Mingyu lirih sambil tersenyum tidak jelas.

SKIP TIME

Menjelang malam, Wonwoo dan Jun tiba di kediaman Jeon. Dengan langkah pelan Wonwoo memasuki rumahnya. Jun yang melihat itu hanya bisa menatap bingung.

"Apa yang kau fikirkan, Wonu-ya?" tanya Jun ketika mereka sudah masuk kedalam rumah.

Wonwoo hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.

"Kau tidak bicara sama sekali padaku selama perjalanan. Kau juga tidak menceritakan apapun kepadaku. Tadi kau hanya tersenyum – senyum bahagia, lalu terlihat murung lagi. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jun semakin penasaran, karena dari tadi Wonwoo hanya melamun saja

"Sekarang aku hanya butuh Soonyoung" jawab Wonwoo apa adanya.

Jun memakhluminya, bagaimanapun juga sekarang Wonwoo hanya membutuhkan saudara kembarnya itu.

"Baiklah, aku akan pulang. Tolong bilang pada Eomma dan Appa, aku tidak bisa lama – lama. Aku harus segera pulang" ujar Jun sambil berlalu meninggalkan Wonwoo. Sebelum Jun benar – benar pergi, Wonwoo menahannya

"Waeyo?" tanya Jun bingung

"Gomawo, sudah menemaniku."

Jun hanya tersenyum mendengar ucapan Wonwoo

"Ne, kita adalah sahabat. jadi jangan pernah ada kata – kata seperti ini. Aku hanya membantu sahabatku yang tidak bisa mengantar saudara kembarnya untuk bertemu dengan dongsaeng kecilnya." Goda Jun, Wonwoo hanya tersenyum menanggapinya

"Dan maaf, sudah merepotkanmu."

Jun hanya memasang wajah jailnya pada Wonwoo

"Kau selalu merepotkanku. Kapan kau tidak pernah merepotkanku?" goda Jun, hal itu membuat Wonwoo melayangkan pukulan kerasnya dilengan Jun

"Aww. Sakit." Rintih Jun

"Pulang sana!" usir Wonwoo sambil mendorong punggung Jun keluar dari rumahnya

"Ya. Baru hitungan detik kau berterimakasih padaku. Sekarang kau mengusirku." Ucap Jun dengan nada jahilnya

"Pulang! Dasar Wen Junhui menyebalkan!" ucap Wonwoo sambil menutup Pintunya dengan wajah kesal karena dijaili oleh Jun

BRAK!

Jun bukannya marah malah tertawa dengan keras. Hal yang menyenangkan bagi Jun, salah satunya adalah menggoda Wonwoo. Kalau Wonwoo sudah menunjukkan wajah kesalnya, hal itu sangat menyenangkan dimata Jun.

Setelah Jun keluar dari rumah Wonwoo, Jun segera pulang kerumahnya.

"Dasar menyebalkan!" gerutu Wonwoo

Suara bantingan Pintu membuat Donghae melihat siapa yang datang. Wonwoo yang melihat Donghae menuju pintu depan segera berlari kearahnya dan memeluknya

"Aku pulang Eomma"

"Selamat datang" sambut Donghae "Dimana Jun?" tanya Donghae ketika tidak melihat Jun masuk rumah

"Pulang. Aku mengusirnya" jawab Wonwoo sambil cemberut,

"Waeyo?" tanya Donghae heran

"Dia menyebalkan Eomma. Suka sekali menjahili ku. Aku berterimakasih malah aku dibilang merepotkan" adu Wonwoo sambil mempout bibirnya lucu, Donghae terkekeh

"Kau seperti tidak kenal dengan Jun saja. Sudah berapa lama kau mengenalnya? Kenapa tidak paham juga dengan sifat Jun yang satu itu"

"Akh... pokoknya dia menyebalkan!" teriak Wonwoo frustasi, dengan langkah besar Wonwoo menuju kekamarnya

"Wonwoo" panggil Kibum saat Wonwoo hendak membuka pintu kamarnya

"Ne, Appa." Jawab Wonwoo, Wonwoo melihat Kibum menghampirinya

Kibum tersenyum sambil mengusap lembut rambut hitam Wonwoo

"Soonyoung sedang istirahat, jadi jangan membangunkannya ya" pinta Kibum

Wonwoo mengerutkan keningnya bingung.

"Waeyo, Appa? Apa Soonyoung sakit?" tanya Wonwoo

"Tadi dia sedikit demam karena kelelahan, jadi biarkan dia istirahat agar lekas sembuh. Baru saja dia minum obatnya dan tertidur." Kibum berbohong kepada Wonwoo. Wonwoo yang tidak tahu apapun hanya menganggukkan kepalanya mengerti.

"Ne" Wonwoo masuk kedalam kamarnya, dan melihat Soonyoung tengah tertidur pulas. Wonwoo menghapiri Soonyoung dan menatapnya.

Wonwoo melihat wajah Soonyoung memang sedikit pucat

"Apa kau baik – baik saja?" batin Wonwoo sambil meletakkan tangannya dikening dan leher Soonyoung. Wonwoo memang merasakan badan itu sedikit hangat.

"Padahal aku ingin bercerita dengan mu. Tapi sepertinya tidak sekarang. Kau perlu istirahat." Wonwoo menghelai nafasnya pelan, lalu tersenyum

"Selamat tidur." Ucap Wonwoo lirih sambil mencium kening Soonyoung.

Setelah itu Wonwoo pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.

***SOONWOO TWINS***

"Selamat pagi" sapa Soonyoung setelah sampai diruang makan.

"Pagi" balas Donghae dan Kibum bersamaan

"Kau masuk sekolah hari ini?" tanya Donghae sedikit khawatir

"Ne, Eomma. Aku akan masuk sekolah." Jawab Soonyoung sambil tersenyum

"Kau baik – baik saja?"

"Aku baik – baik saja Appa. Sangat baik. Appa tidak perlu khawatir."

"Soonyoung-ah, Kenapa kau tidak membangunkanku?" teriak Wonwoo dari dalam kamar

Mendengar teriakan Wonwoo membuat Soonyoung terkekeh pelan, Donghae dan Kibum hanya menatap Soonyoung dengan pandangan –kau menjailinya lagi –. Melihat tatapan Appa dan Eommanya, Soonyoung hanya terkekeh pelan sambil mengerdikkan bahunya.

"Kau suka sekali menjailinya?" tanya Kibum

"Itu balasanku Appa. Dia memelukku terlalu erat ketika tidur, membuatku tidak bisa bergerak sama sekali."

Donghae dan Kibum hanya terkekeh pelan mendengar jawaban Soonyoung.

10 menit kemudian, ketiga orang itu melihat Wonwoo buru – buru menuruni tangga dengan tergesa – gesa. Sambil cemberut.

"Kau jahat sekali, tidak membangunku." Gerutu Wonwoo, yang ditanggapi dengan senyuman oleh Soonyoung.

"Aku tidak sarapan lagi" keluh Wonwoo,

"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, kau sarapan saja disekolah." Ujar Soonyoung smabil menyerahkan kotak bekal pada Wonwoo. Hal itu membuat Wonwoo tersenyum dengan manis, dan sengan spontan memeluk leher Soonyoung dari belakang

"Gomawo. Kau memang yang terbaik. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Soonyoung-ah" ucap Wonwoo riang sambil mencium pipi Soonyoung dengan gemas.

Tapi ucapan Wonwoo membuat Kibum dan Donghae menatap sedih kearah Soonyoung. Mereka bisa melihat jika Soonyoung berusaha tegar didepan Wonwoo.

"Ayo berangkat. Appa akan mengantar kalian kesekolah. Nanti kalian akan dijemput oleh Kim Ahjushi." Ucap Kibum sambil mengalihkan pandangannya dari wajah riang Wonwoo dan wajah tegar Soonyoung.

"Memangnya kita tidak naik sepeda seperti biasa?" tanya Wonwoo heran.

"Soonyoung masih sakit, Wonie. Dan lengannya juga masih terluka. Kau tega membiarkan dia membonceng sampai kesekolah?" tanya Donghae memberikan pengertian.

"Ah, mianhae. Aku lupa." Ucap Wonwoo sambil menepuk keningnya.

Soonyoung tersenyum melihat tingkah Wonwoo

"Jja. Nanti kalian bisa terlambat." Ucap Kibum sambil berlalu. Namun sebelumnya menyempatkan diri mencium kening Donghae

***SOONWOO TWINS***

SKIP TIME**Jam Istirahat**

BRAK!

JongUp mengejutkan teman – temannya karena dia menendang meja dengan sangat keras

"Ada apa? Kenapa kau sepertinya sedang kesal?" tanya Hwayoung yang melihat wajah JongUp penuh dengan amarah

"Si Brengsek itu meremehkanku" ucap JongUp sambil meremas kertas yang sedang dia genggam

"Si Brengsek? Nugu?" tanya Hyeonjin bingung

"Jeon Soonyoung. siapa lagi memangnya." Jawab JongUp kesal

"Apa lagi yang dia lakukan padamu?" tanya Jingyu, dengan kasar JongUp melempar kertas yang diremasnya kearah Jingyu. Yang membuat Jingyu secara spontan menangkapnya.

"Apa ini?" tanya Hyeonji

"Baca sendiri!"

Hwayoung, Hyeonjin. Jingyu dan Jihyo berkumpul menjadi satu dan membaca kertas yang dilempar oleh JongUp. Mereka sedikit mengerutkan keningnya melihat tulisan yang tertulis dikertas itu

"Surat pengunduran diri?" tanya Jihyo penasaran "Apa maksudnya surat ini?"

JongUp yang mendengar pertanyaan Jihyo memandang penuh amarah kearah Yeoja itu

"Apa kau bodoh? Apa kau buta huruf? Apa kau tidak bisa membaca tulisan itu?" Sentak JongUp

"Si Brengsek itu mengundurkan diri dari klub dance. Sebagai ketua maupun sebagai bagian dari klub dance itu. Dan dengan sok baiknya, dia memberikan jabatan ketua klub dance padaku" ucap JongUp dengan penuh amarah

"Kalau begitu bukannya bagus. Kau menginginkan jabatan itu kan?" tanya Hwayoung heran

"Apa kau bodoh? Dia memang memberikan itu padaku, tapi Eunhyuk Ssaem dan juga para anggota hanya diam saja, tidak memberikan jawab Iya padaku. Mereka hanya bilang akan mendiskusikan lagi mengenai ketua klub dance. Itu berarti mereka tidak setuju aku menjadi ketua klub dance. Hal itu membuatku marah dan juga kesal. Si Brengsek itu sedang mengejekku. Dia tahu aku tidak akan dijadikan ketua klub dance. Tapi dia tetap memberikan jabatan itu padaku."

JongUp dengan kesal menendang kursi yang ada disampingnya dengan penuh amarah, sedangkan keempat temannya yang lain hanya bisa menghelai nafasnya.

"Aku pasti akan membalas perbuatanmu, Jeon Soonyoung" ucap JongUp geram

***KORIDOR SEKOLAH

Soonyoung dan Woozi berjalan dikoridor sekolah, karena Soonyoung baru saja memberikan surat pengunduran diri di Klub Taekwondo

"Kau mengundurkan diri dari Klub dance dan Klub Taekwondo?" tanya Woozi tidak percaya

"Hm" jawab Soonyoung singkat,

"Waeyo? Bukankan kau senang dengan dance, tapi kenapa kau mengundurkan diri?" tanya Woozi penasaran

"Aku hanya lelah, Woozi-ya. Aku ingin fokus pada pelajaran aja"

"Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tebak Woozi tepat, Soonyoung hanya tersenyum menjawabnya.

"Lalu kau memberikan jabatan ketua dance pada siapa?"

"Kata Eunhyuk ssaem, mereka akan mendiskusikannya lagi. Tapi aku ingin JongUp yang menerima jabatan itu."

"Waeyo?"

"Walaupun dia pemarah, egois dan seenaknya sendiri, tapi aku dapat melihat jika sudah diberi sebuah tanggung jawab, Dia akan melaksanakannya dengan sungguh – sungguh. Itulah yang aku lihat selama ini. tapi sepertinya anggota yang lain dan Eunhyuk ssaem tidak bisa melihat itu, mereka ragu memberikan jabatan itu karena reputasi yang dimiliki JongUp. Aku memberikan jabatan itu agar mereka mengubah pandangan mereka terhadap JongUp." jawab Soonyoung sambil tersenyum.

Woozi ikut tersenyum mendengar jawaban Soonyoung.

"Kau sekarang ingin kemana?" tanya Woozi, karena melihat arah mereka bukan menuju kekelas, tapi keperpustakaan lantai tiga.

"Aku ingin menemui Wonwoo. Dia sedang diperpustakaan mengerjakan tugas. Aku ingin mengajaknya makan siang"

Saat berjalan, mereka melihat Seokmin dan Mingyu berjalan didepan. Soonyoung berusaha untuk tidak melihat Seokmin yang berjalan didepannya, tapi sepertinya tidak dengan Woozi. Woozi memanggil keduanya dan membuat keduanya menoleh kebelakang. Hal itu secara otomatis membuat Seokmin bertatapan dengan Soonyoung, sedangkan Soonyoung mengalihkan padangannya kearah lain.

"Ah.. itu Wonwoo." Ucap Woozi ketika melihat Wonwoo terlihat berjalan di lantai Tiga, sepertinya Wonwoo sudah selesai dengan tugasnya. Ketika diujung tangga lantai Tiga, langkah Wonwoo berhenti ketika melihat Mingyu tengah menatapnya sambil tersenyum.

Sepertinya Wonwoo lupa bercerita pada Soonyoung tentang perasaannya, sekarang dia bingung harus bagaimana jika bertemu dengan Mingyu. Karena Wonwoo masih bingung dengan perasaannya. Wonwoo masih menatap Mingyu dalam diam, sedangkan Seokmin masih menatap Soonyoung dengan pandangan sendu.

"YA.. JANGAN DORONG - DORONG" teriakan melengking dari siswa Pledis itu membuyarkan lamunan Wonwoo, Wonwoo menoleh dan melihat Taeyang dan Minho sedang bermain dorong – dorongan.

Mereka berdua tertawa bersama – sama dengan saling mendorong hingga tanpa sengaja Taeyang mendorong Minho terlalu keras hingga Minho menyenggol bahu Wonwoo. Minho berhasil berpegangan pada pegangan tangga sedangkan Wonwoo yang sedang tidak fokus, terkejut akan gerakan itu. Membuatnya Wonwoo tidak bisa mempertahankan keseimbangannya dan Wonwoo dengan gerakan bebas akan jatuh dari tangga.

Mingyu dan Soonyoung yang melihat itu terkejut begitu pula dengan Seokmin dan Woozi, dengan gerakan cepat Mingyu berlari kearah Wonwoo, dan menangkap tubuh itu agar tidak berguling ditangga. Mingyu memeluk Wonwoo dan melindungi kepala Wonwoo agar tidak terbentur.

Tapi sialnya, keseimbangan Mingyu hilang karena posisi mereka yang ada diatas tangga lantai tiga. Hal itu membuat Mingyu maupun Wonwoo jatuh dari lantai tiga, dan berguling – guling ditangga.

KYAAAA

BRUK

Teriakan histeris para siswi yang menyaksikan itu membuat suasana semakin mencekam, mereka melihat Mingyu tengah melindungi Tubuh Wonwoo agar tidak terluka.

"Wonwoo" teriak Soonyoung

"Mingyu" teriak Seokmin

Soonyoung, Seokmin, Woozi menghampiri Mingyu dan Wonwoo yang sudah jatuh didasar tangga. Mereka melihat Wonwoo menindih tubuh Mingyu.

Wonwoo berusaha bangun dari tubuh Mingyu, tapi gerakan itu terhenti ketika merasakan telapak tangannya yang ada dibelakang kepala Mingyu dan merasakan sesuatu yang hangat.

Wonwoo membelalakkan matanya terkejut ketika melihat darah ditelapak tangannya

"Mi... Mingyu." Panggil Wonwoo lirih dengan nada ketakutan

"Ya, Mingyu. Bangun." Ucap Wonwoo sedikit keras

"Ya, Mingyu. Bangun. Bangun Mingyu" Wonwoo berusaha membangunkan Mingyu yang sudah tidak sadarkan diri sejak mereka sudah jatuh didasar tangga.

"Ya, Mingyu. Bangun, Jebal. Bangunlah. Jebal. Mingyu. Mingyu, bangun." Wonwoo semakin gusar melihat Mingyu tidak bergerak sama sekali. Wonwoo mulai menangis

Seokmin yang melihat itu segera menghubungi ambulans

"YA.. KIM MINGYU. BANGUN. JEBAL. MINGYU-AH" teriak Wonwoo histeris sambil menangis

"JEBAL. BANGUN. MINGYU. JANGAN MEMBUATKU TAKUT. " Wonwoo semakin Histeris berusaha membangunkan Mingyu

"BANGUN MINGGOO." Teriak Wonwoo histeris

TBC

HEHEHEHEHEHHE

Apakah Mingyu akan baik – baik saja? Ataukah terjadi sesuatu yang lain?

Bagaimana nanti Wonwoo memberikan jawabannya pada Mingyu?

Penasaran? Sama aku juga... hehehehheheeh

Tambah galaukah? Sama aku juga... heheheheh

Chapter ini kepanjangan ya? Kayaknya iya ya... wkwkkwkwkw. Mianhae jika kepanjangan.

Bagaimana chapter 11 ini? Memuaskan kah?

Bagaimana Brothershipnya?

Moment Meanienya?

Seoksoonnya?

Author kembali lagiiiiii...#lambai2tangan#

meaniemeanie, Babychickjojang, reminie, hasniyah nia, Nakamichan, Park RinHyun-Uchiha, Guest dari Malaysia, Guest 2, alwayztora, XiayuweLiu, Khe, Salsha6104 : Sebelumnya aku Minta maaf pada Reader tercinta karena Update terlalu lama. Hampir satu bulan kurang 3hari. Aku baru Update chapter 11. Jujur saja aku sedikit down dengan reviewnya. Review untuk chapter ini hanya sedikit. Aku terus bertanya – tanya, apakah ceritanya kurang menarik atau apa aku ndak tau, hingga bnyak yang memutuskan untuk menjadi silence reader saja. Tapi berkat dorongan salah satu dongsaeng reader q, q bangkit sedikit demi sedikit hingga memantap kan hatiku untuk update chapter 11 ini.

Di awal aku sudah mengatakan jika aku adalah author baru, aku tidak tahu bagaimana cara menulis yang benar, karena aku hanya tahu dan hanya ingin menuangkan isi kepala ku dalam cerita saja tanpa tau titik dan komanya. Jika ada kesalahan seperti itu aku berharap para reader memakhlumi kekurangaku ini. aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaikinya, tapi jika ada kesalahan lagi itu semua diluar perkiraanku. Maaf, jika sedikitnya ada yang kecewa.

Tapi aku berterimakasih banyak pada para reader q tercinta. Aku mencintai kalian yang sudah mendukungku dari awal chapter 1 sampai sekarang, aku berterimkasih sekali. Sangat amat berterimakasih sekali.

Untuk para reader aku menunggu review dari kalian semuanya. Terimakasih.

Pemberitahuan : Untuk Updatenya mungkin sekitar 1 Bulan. Jika aku berubah pikiran bisa juga ndak sampai 1 Bulan dah Update tapi itupun tergantung Sikonnya dan review yang masuk.

Untuk para reader yang sudah review chapter 10, makasih banget yaaaaa...responnya.

Di chapter 11 ini aku berusaha untuk memperbaikinya. Kalau masih ada Typo/GJ tolong dimaklumi karena author hanya manusia biasa. hehehehehe

Dan mohon para pembaca tercinta tolong tinggalkan review nya ya untuk chapter 11 ini, untuk perbaikan di next chapter.

Sekali lagi terimakasih buat reader yang sudah mau review. Makasih banyak. Gomawo. Kamsahamida. Arigato. Thank You.

Terimakasih yang sudah baca cerita saya dan meluangkan waktunya untuk membaca! #Tebar kiss bye#

PPYONG!