proudly present :
An EXO Fanfiction
Ugly Love
Main Cast : Oh Sehun, Kim Jongin
Remake dari novel yang berjudul sama karya Colleen Hoover
Alih Bahasa : Shandy Tan
Credit : bacanovelonline
.
Happy Reading!
.
Oh Sehun.
Enam tahun sebelumnya…
.
Aturan nomor satu, yaitu tidak bermesraan ketika orangtua kami di rumah, akhirnya diubah.
Aturan nomor satu kini membolehkan kami bermesraan, tapi hanya jika kami di dalam ruangan yang pintunya dikunci.
Sayang sekali, aturan nomor dua tidak tergoyahkan. Tetap tidak boleh melakukan hubungan seks.
Dan baru-baru ini ada tambahan aturan nomor tiga: tidak boleh menyusup ke kamar diam-diam pada malam hari.
Kadang-kadang, Seohyun masih memeriksa Luhan di kamarnya pada tengah malam, hanya karena Seohyun ibu dari remaja putri dan tindakannya tepat.
Tetapi, aku benci Seohyun melakukan itu.
Kami tinggal sebulan penuh di satu rumah dengan lancar. Kami tidak membicarakan bahwa sisa waktu kami tinggal lima bulan lebih sedikit. Kami tidak membicarakan apa yang akan terjadi jika ayahku menikahi ibu Luhan. Kami tidak membicarakan bahwa jika pernikahan itu terjadi, kami akan terikat jauh lebih lama daripada hanya lima bulan.
Pada hari libur.
Pada kunjungan akhir pekan.
Pada acara reuni.
Luhan dan aku pasti harus ikut menghadiri setiap acara, tapi kami hadir sebagai keluarga.
Kami tidak membicarakan hal itu, karena membicarakannya membuat kami merasa seolah perbuatan kami salah.
Kami tidak membicarakannya juga karena itu topik sulit. Saat memikirkan hari ketika Luhan pindah ke Michigan dan aku tetap di San Fransisco, aku tidak bisa memikirkan setelah hari itu. Aku tidak bisa melihat apa pun ketika nanti Luhan takkan lagi menjadi segalanya bagiku.
"Kami pulang hari Minggu," kata Dad. "Kau bisa memiliki rumah ini untukmu sendiri. Luhan akan menginap di rumah teman. Kau boleh mengundang Chen menginap di sini."
"Sudah," dustaku.
Luhan juga berdusta. Luhan akan tetap di rumah ini sepanjang akhir pekan. Kami tidak ingin memberi alasan apa pun yang bisa membuat Seohyun dan Dad mencurigai kami. Berpura-pura mengabaikan Luhan di depan mereka sudah cukup berat bagiku. Berat rasanya berpura pura aku tak memiliki kesamaan dengan Luhan, padahal aku ingin tertawa mendengar apa pun yang dia katakan. Aku ingin melakukan tos untuk apa pun yang dilakukan Luhan. Aku ingin pamer pada ayahku tentang kecerdasan Luhan, nilai-nilainya yang bagus, kebaikan hatinya, dan betapa dia banyak akal. Aku ingin mengatakan pada Dad, aku memiliki kekasih yang ingin kuperkenalkan padanya karena Dad pasti akan menyukai gadis itu.
Dad memang menyukai gadis itu. Hanya saja bukan dengan cara yang kuharapkan.
Aku ingin Dad menyukai Luhan untuk aku.
Kami berpamitan pada orangtua kami. Seohyun menyuruh Luhan menjaga sopan santun, tapi Seohyun tidak perlu khawatir. Sejauh pengetahuan Seohyun, Luhan anak baik. Luhan anak sopan. Luhan takkan melanggar aturan.
Kecuali aturan nomor tiga. Luhan melanggar aturan nomor tiga pada akhir pekan ini.
Kami bermain rumah-rumahan.
Kami pura-pura ini rumah kami. Kami pura-pura ini dapur kami, dan Luhan memasak untukku. Aku pura-pura Luhan milikku, aku membuntuti dia ke mana-mana ketika dia memasak, menempel padanya. Menyentuhnya.
Mengecup lehernya. Menariknya dari pekerjaan yang harus dia selesaikan supaya aku bisa merasakan tubuhnya di tubuhku. Luhan menyukai itu, tapi pura-pura tidak suka. Setelah kami selesai makan, dia duduk bersamaku di sofa. Kami memutar film, tapi film itu tidak ditonton. Kami tidak bisa berhenti berciuman. Kami begitu sering berciuman hingga bibir kami perih. Tangan kami pegal. Perut kami melilit, karena tubuh kami begitu ingin melanggar aturan nomor dua.
Ini akan menjadi akhir pekan yang panjang.
Aku memutuskan aku perlu mandi, karena jika tidak, aku pasti memohon supaya kami membuat perubahan tentang aturan nomor dua.
Aku mandi di kamar mandi Luhan. Aku menyukai kamar mandi ini. Aku menyukainya lebih daripada rasa sukaku ketika kamar mandi ini masih hanya milikku. Aku suka melihat barang-barang Luhan di kamar mandiku. Aku suka melihat alat cukurnya dan membayangkan seperti apa Luhan ketika memakai alat cukurnya. Aku suka melihat botol-botol samponya dan memikirkan Luhan menengadah ke belakang di bawah guyuran air ketika membilas rambut.
Aku suka kamar mandiku menjadi kamar mandi Luhan juga.
"Sehun?" panggil Luhan. Dia mengetuk, tapi tahu-tahu sudah di dalam kamar mandi. Air panas mengguyur kulitku, tapi suara Luhan membuat kulitku semakin panas. Aku menyibak tirai pancuran. Mungkin aku sengaja menyibak terlalu lebar karena aku ingin Luhan merasakan keinginan melanggar aturan nomor dua. Luhan menghela napas lembut, tapi tatapannya turun ke tempat yang kuinginkan.
"Luhan," balasku, lalu tersenyum lebar ketika melihat ekspresi malu di wajahnya.
Luhan menatap mataku.
Dia ingin mandi bersamaku.
Dia hanya terlalu malu untuk meminta.
"Masuklah," panggilku.
Suaraku kasar, seperti orang yang sejak tadi berteriak teriak.
Suaraku biasa saja lima detik yang lalu.
Aku menutup tirai pancuran untuk menyembunyikan reaksi yang terjadi padaku karena kedatangan Luhan, sekaligus memberinya privasi ketika menanggalkan pakaian. Aku belum pernah melihat Luhan tanpa pakaian. Aku hanya pernah merasakan apa yang tersembunyi di balik pakaiannya.
Aku tiba-tiba gugup.
Luhan mematikan lampu.
"Apakah tidak apa-apa?" tanya Luhan dengan suara kaku. Aku menjawab tidak apa-apa, meskipun aku berharap dia lebih percaya diri. Aku ingin membuat Luhan lebih percaya diri. Luhan menyibak tirai pancuran, aku melihat dia memasukkan satu kaki dulu. Aku menelan ludah ketika bagian tubuhnya yang lain menyusul. Untung masih ada cukup cahaya dari lampu tidur sehingga menerangi tubuhnya dengan sinar lemah.
Aku bisa melihat Luhan cukup jelas.
Aku bisa melihat Luhan dengan sempurna.
Tatapan kami kembali saling mengunci. Luhan melangkah semakin mendekatiku. Aku penasaran apakah sebelum ini dia pernah mandi berdua dengan orang lain, tapi aku tak bertanya.
Kali ini aku yang maju selangkah ke arahnya, karena dia kelihatan takut. Aku tidak ingin Luhan takut.
Padahal, aku sendiri takut.
Aku memegang bahu Luhan dan memandunya supaya berdiri di bawah pancuran air. Aku tidak menempelkan tubuhku ke tubuhnya, meskipun aku ingin. Aku mempertahankan jarak di antara kami.
Aku terpaksa.
Satu-satunya yang menempel adalah bibir kami. Aku mencium Luhan dengan lembut, hampir seperti tidak menyentuh bibirnya, tapi ciuman ini sungguh menyakitkan. Jauh lebih menyakitkan daripada ciuman kami sebelum ini.
Ciuman ketika bibir kami saling melumat, gigi kami bergesekan, ciuman yang begitu tergesa-gesa sehingga berantakan. Ciuman yang berakhir dengan aku menggigit bibir Luhan atau Luhan menggigit bibirku.
Tidak satu pun dari semua ciuman itu terasa semenyakitkan ciuman kali ini, dan aku tidak tahu kenapa ciuman ini sangat menyakitkan.
Aku harus melepaskan ciumannya. Aku meminta Luhan memberiku waktu sebentar. Dia mengangguk, lalu menempelkan pipi di dadaku. Aku bersandar dan menarik Luhan bersamaku sambil tetap memejamkan mata rapat. Sekali lagi kata-kata seperti ingin meruntuhkan tembok penghalang yang kubangun untuk mengurung kata-kata itu. Setiap kali aku bersama Luhan, kata-kata itu berusaha mendobrak keluar, tapi aku terus berusaha menguatkan tembok yang mengurung kata kataku. Luhan tidak perlu mendengar kata-kata itu.
Aku juga tidak perlu mengucapkannya.
Tetapi, kata-kata itu terus menggedor tembok. Kata-kata itu selalu menggedor kuat-kuat tembok yang kubangun sehingga ciuman kami berakhir seperti ini. Sekarang keinginan kata-kata itu untuk keluar melebihi sebelumnya.
Kata-kata itu membutuhkan udara. Kata-kata itu menuntut didengarkan.
Kekuatanku untuk menahan gedoran kata-kata itu ada batasnya, sebelum tembok yang kubangun akhirnya runtuh.
Hanya sampai hari ini bibirku sanggup menyentuh bibir Luhan tanpa membuat kata-kata yang terpenjara itu tumpah ruah dari atas tembok, menerobos melalui retakan-retakan tembok, menjalar mendaki dadaku hingga aku memegang wajah Luhan, menatap matanya, membiarkan mata Luhan merobohkan semua penghalang di antara kami dan sakit hati yang tidak terhindarkan.
Kata-kata itu akhirnya terbebas.
"Aku tidak bisa melihat apa pun," kataku pada Luhan.
Aku tahu Luhan tidak mengerti maksudku. Aku tidak ingin menjelaskan panjang lebar, tapi kata-kata itu akhirnya terbebas.
Kata-kata itu mengambil alih. "Ketika nanti kau pindah ke Michigan dan aku tetap di San Fransisco-aku tidak bisa melihat apa pun setelah saat itu. Aku terbiasa melihat masa depan seperti apa pun yang kuinginkan, tapi saat ini aku tidak melihat apa-apa."
Aku mencium air mata yang menetes di pipi Luhan.
"Aku tidak bisa melakukan ini," lanjutku. "Satu-satunya yang ingin kulihat adalah dirimu, dan jika aku tidak mendapatkan itu… tidak ada lagi yang berharga. Kau membuat keadaan lebih baik, Luhan. Semuanya." Aku mencium bibir Luhan kuat-kuat, dan kali ini ciuman itu tidak menyakitkan, karena kata-kata yang terpenjara itu sudah bebas. "Aku mencintaimu," kataku, dan dengan itu membebaskan diriku sepenuhnya. Aku menciumnya lagi, tanpa memberinya kesempatan menanggapi.
Aku tidak butuh mendengar Luhan mengucapkan kata-kata itu padaku hingga dia benar-benar siap, dan aku tidak ingin mendengar Luhan mengatakan perasaanku keliru.
Tangan Luhan bergeser ke punggungku, mendorongku lebih rapat. Kakinya membelit kakiku seolah dia berusaha mematri tubuhnya di dalam tubuhku.
Dia sudah terpatri di dalamku.
Kami kembali dipenuhi ketergesaan. Gigi beradu, saling menggigit bibir, terburu buru, ingin cepat-cepat, napas tersengal, saling menyentuh.
Luhan mengerang, dan aku merasakan dia berusaha melepaskan bibir dariku, tapi tanganku menyusup di rambutnya, dan aku melumat bibirnya dengan putus asa, berharap dia tidak sesaat pun melepaskan ciuman kami untuk menghirup udara.
Luhan memaksaku melepasnya.
Aku menjatuhkan dahiku ke dahinya, tersengal menghimpun tenaga, mencegah emosiku agar jangan sampai tumpah tidak terkendali.
"Sehun," bisik Luhan. "Sehun, aku mencintaimu. Aku takut sekali. Aku tidak ingin hubungan kita berakhir."
Kau mencintaiku, Luhan.
Aku menjauhkan wajah dan menatap matanya. Luhan menangis.
Aku tidak ingin Luhan takut. Kukatakan padanya semua akan baik-baik saja. Kukatakan padanya kami akan menunggu hingga kami lulus, setelah itu memberitahu orangtua kami. Kukatakan padanya orangtua kami harus menerima. Setelah kami keluar dari rumah ini, semua akan berbeda. Semua akan membaik.
Orangtua kami akan terpaksa setuju.
Kukatakan pada Luhan, kami pasti bisa mengatasi ini.
Luhan mengangguk dengan gemetaran.
"Kita pasti bisa mengatasi ini," balas Luhan, menyetujui kata-kataku.
Aku menekan dahiku ke dahinya. "Kita pasti bisa mengatasi ini, Luhan," kataku padanya. "Aku tidak bisa melepasmu sekarang. Takkan."
Luhan memegang wajahku di antara telapak tangannya, lalu menciumku.
Kau jatuh cinta padaku, Luhan.
Ciuman Luhan menyingkirkan beban yang sangat berat dari dadaku sehingga aku merasa seperti melayang. Aku merasa seolah Luhan melayang bersamaku.
Aku membalik tubuh Luhan sehingga punggungnya menempel di dinding.
Aku mengangkat kedua tangan Luhan ke atas kepalanya dan menautkan jemari kami, lalu menekan tangannya ke ubin dinding di belakangnya.
Kami bertatapan… lalu kami melanggar aturan nomor dua.
.
End for This Chapter
