=Two Worlds=

"Kita tidak pernah sendirian di dunia ini, mereka yang terpilih tidak akan bisa lari dari takdir"

Story & Cover by:

Zanas-kun

Genre:

Fantasy, Friendship, Humor, Action

Disclaimer:

Kuroko no Basuke character by Fujimaki-sensei

Warning:

[Insert all, just for save]

If you like it click Next, if you hate it click close/back

DON'T LIKE DON'T READ!

Enjoy!

Chap 12

Dan mereka sampai di tempat tujuan, lalu Iichira mengeluarkan bola kristal yang menampilkan wajah seorang kakek tua yang dekat dengan image sosok 'Merlin', kakek itu tersenyum hangat "Yo! anak anakku, lama tak bertemu daam wujud kalian saat ini ya? terutama Sanada, aku selalu pangling melihatmu dalam wujud ini! ahahaha" dalam hati semua orang yang di sana menyetujui

"Halo juga kek" sapa balik Sanada singkat, mewakili Takao, Nijimura dan Mayuzumi yang menundukkan kepala singkat, dan Takao menambahkan sebuah lambaian dan senyum lebar

"...Ooh! kakek tuh, apa yang kau lakukan tua bangka?" tanya Haizaki tanpa rasa hormat sama sekali.

"... Haizaki-kun, seharusnya kamu lebih menghormati yang tua" Kuroko menasehati.

"Kuroko, percuma menasehati Baboon" kata Sanada dengan muka datar dan tetap menggendong Shiori. Kuroko, Kise, dan 4 orang Ryuugazaki lainnya sweatdrop.

"Nice, Sanada/-kun/Ryuu-chan" Nijimura, Mayuzumi, Shiori dan Takao mengacungkan jempol.

Haizaki mendengar hal itu berbalik dengan muka seram dan akan memukulnya dengan gagang Naginata miliknya sekeras-kerasnya, saat dia sudah ada beberapa langkah dari Sanada, semuanya mendadak gelap.

Dia tak bisa melihat apapun, mendengar apapun, bersuara, atau merasakan apapun di dekatnya. Haizaki lupa kalau kekuatan Sanada adalah memanipulasi kegelapan. Dan kalau dia mau jujur, itu sangat menakutkan.

"Sialan kau Sanada!" dia merasakan benar bahwa pita suara dan mulutnya mengucapkan kata-kata itu, tapi dia tak mendengar apapun, tubuhnya berkeringat deras, pupilnya mengecil, nafasnya memendek, dia menggertakan giginya. Mau dia guling guling dan mencak mencak tidak akan ada hasilnya, kekuatan 'saudara'nya itu seperti menciptakan dimensi lain.

Lalu menit selanjutnya semuanya kembali seperti semula dan kegelapan itu kembali ke tubuh Sanada. Haizaki melirik tajam pemuda bermata satu itu.

"Ehem, bocah-bocah, kembali ke misi. Sekarang, kalian sudah melihat ke atas langit?" kata si kakek dalam bola kristal mengalihkan pembicaraan.

Mareka semua melihat keatas, Sanada dan kawan-kawan hanya bisa melebarkan mata

Di langit, terdapat sebuah lubang yang di dalamnya mengarah langsung di atas sebuah kota, sepertinya lubang itu juga ada di langit, posisinya sama seperti disini. Lubang itu tidak menyerap apapun, hanya saja, bisa dilihat bahwa 'itu' membebaskan apapun untuk menembusnya. Karena ada seekor burung walet yang barusan menembus lubang itu, seperti tercebur ke kolam, dan sekarang terbang jauh di langit merah itu.

"Kok-Kok bisa-ssu?!" Kise HeRi (Heboh Sendiri)

"Pa-padahal lubang ini besar sekali, tapi kenapa tak ada satupun dari kita yang menyadarinya?" tanya Mayuzumi sedikit tergagap.

"Sepertinya, lubang ini bisa dilihat hanya dari 'sisi' ini, disana tidak bisa." Hayato menjelaskan

"Dan kenapa bisa begitu?" Tanya Takao

Hayato menggeleng pelan "Aku tidak tau, di dunia seberang di sana itu seperti masih ada pelindung untuk menyamarkannya, entah siapa, tapi syukurlah berkat itu kita bisa menghindari kepanikan yang tidak perlu" katanya sambil terus menatap 'lubang' yang cukup besar di langit itu.

Keempat orang tadi berdiri di bawah lubang itu, tepat di keempat arah mata angin. Lalu mereka merentangkan tangan dan membaca mantra-mantra tertentu. Dari tubuh mereka memancar cahaya lembut yang naik ke angkasa, menyelimuti lubang ternganga lebar itu, Lalu perlahan lubang itu menutup dalam waktu yang cukup lama, mengingat ukurannya yang sangat besar.

Mereka terlihat kelelahan, Nijimura dan mayuzumi membawakan mereka minum dan handuk.

"Bisa bisa suatu saat kita mati duluan" keluh Kanato disela kegiatannya.

Kuroko berjalan mendekat kearah Sanada "Ryuugazaki-kun, apa ada yang harus kami lakukan? Maksudku... sebagai Gate Guardians, apa yang harus kami perbuat?"

Sanada menunjukkan pose berpikir "Aah, sekarang kau menyebutkannya. Di legenda, masing-masing mempunyai senjata legenda yang hanya untuk mereka. Hanya mereka yang bisa menggunakan, dan hanya mereka yang bisa mengeluarkan kekuatan asli senjata-senjata itu" kata Sanada.

"Dan... apakah kau tau dimana senjata-senjata itu?" tanya Kuroko lagi. Sanada mengendikkan bahu.

"Bisa jadi senjata senjata itu tertidur, di segel, atau tengah di gunakan orang lain" katanya dengan ringan. Kuroko menghela nafas.

"Jadi karena itu! Disamping membereskan kekacauan kecil ini, mencari tau siapa yang menyebabkan semua ini-yah, karena lapisan pelindung tidak akan pernah melemah kecuali ada sebab tertentu- Kita juga akan mencari senjata kalian, bagian dari diri kalian! Yaah~ banyak yang harus dilakukan!" sambung Takao sambil meregangkan lengannya.

"Kekuatanmu akan melekat hanya pada dirimu sampai kau mati. Setelah itu kekuatan itu dan senjatanya akan berpencar kembali, kekuatan akan memasuki tubuh baru yang dia pilih, dan senjata akan menunggu orang itu, menguji pantas tidaknya orang itu untuk menggunakannya" Sambung Nijimura.

"Dunia ini luas, bagaimana caranya kita bisa menemukannya? Itu yang biasa dipikirkan. Apa kau tidak merasakan sedikitpun Kuroko? Atau... Kise?" tanya Sanada secara bergatian melihat kearah kedua pemuda itu. Mereka menggeleng

"Kenapa kau menanyakannya?" tanya Mayuzumi

Sanada mengendikkan bahu "Yah, mungkin saja para pemilik, senjata dan kekuatannya saling memanggil? Atau sensor... yah, semacam hal itu"

"Kau terlalu mengkhayal" . "Aku tau" . "AH!" teriak Takao tiba tiba, semua menoleh

"Saatnya aku bekerja! Shin-chan pasti sudah ngamuk sekarang!" Kata Takao sambil membereskan barang-barangnya dan memanggil Kuda miliknya. Kuda itu hitam dengan rambut yang berkibar seperti api. Dan dia bisa melaju di udara.

"Shin-chan?" tanya Haizaki sambil mengerutkan dahi "Satu-satunya orang yang kau panggil 'Shin-chan' yang kutau..."

"Jangan-jangan!" Mayuzumi membelalakkan matanya. Sedangkan Takao memutarnya

"Tadi aku mau bilang, aku bekerja dengan MIDORIMA SHINTAROU di perpustakaan kota para Sorcerer, kalian yang seenak jidat memotong! Terutama Niji-nii!" Kata Takao dengan wajah dibuat ngambek sambil dia menunggangi kudanya.

"Ah, kami ada urusan lain. Jadi kita berpisah sampai sini ya" Kata Hayato setelah pulih, diikuti ketiga orang lainnya.

"Aku ikut kalian!" kata Shiori, dan diapun berganti di gendong oleh Hayato.

"Kapan kapan aku akan mencarikan suatu kendaraan untukmu agar bisa bebas di darat, Shiori" Kata Ume mengambil pose berpikir. Shiori bersorak kegirangan.

"Terima kasih atas kerja kerasnya" kata Nijimura. Hayato tersenyum, lalu mereka berempat melangkah ke arah lain.

Jeda sejenak selagi mereka melihat yang lain melangkah menjauh "Tunggu apa lagi! Ayo cepat kita lihat Midorimacchi-ssu!" kata Kise antusias sambil memanggil Rubah peliharaannya.

Rubah itu berwarna keemasan dan sangat besar, dari langit dia mendarat dengan elegan, matanya berwarna kuning jernih dan bulunya benar-benar halus, tipikal Rubah 'peliharaan' yang tenang dan kuat. Buktinya dia bisa mengangkut 6 orang di punggungnya di udara dalam jarak yang cukup jauh.

Sesampainya di Kota Wizard. Kota para Sorcerer.

Kota itu didominasi oleh bangunan klasik abad pertengahan, pakaian mereka juga tidak simple sama sekali, gaun para wanita berjumbai-jumbai dan berenda, dan baju para lelaki ketat dan ada 'balon'nya di bagian tertentu. Kise dan Haizaki harus berjuang keras untuk tidak tertawa terbahak-bahak di tempat umum seperti alun-alun kota tempat mereka berdiri sekarang.

Saat pintu perpustakaan yang berada di dekat alun-alun itu, mereka dikejutkan oleh teriakan menggelegar seorang pemuda.

"KAU! TER-LAM-BAT! BAAAKAAAOOOO!" sungguh, sangat menakutkan apalagi suhu ruangan entah kenapa mendadak jadi turun drastis.

"Ehehehe, maaf Shin-chan, aku ada-TUNG! TUNGGU! JANGAN LEMPAR BUKU!" satu buku dengan tebal 6 senti berhasil dihindari. Dan terkena Haizaki "Duh! Apa yang kau lakukan Shin-chan! Buku itu sebuah aset lho!" katanya sambil berkacak pinggang dan keluar suara 'pft' saat melihat muka Haizaki yang memerah dan empunya misuh-misuh. sementara yang lain hanya melongo dengan gaya masing masing

Midorima menaikkan kacamatanya "Hmph! Satu-satunya aset bagiku adalah buku rasi bintang dan horoscope dari Oha-Asa-nanodayo!"

'DIA BENERAN MIDORIMA!' batin yang lainnya terkejut dan baru percaya. memangnya di sini ada ramalan Oha-Asa? Ya ada-adain aja dah.

"Ah, syukurlah kau datang, Takao, dia benar-benar kacau tanpa kau disini, bisa kau bayangkan dia mondar-mandir di hadapanmu yang sedang membaca 'sesuatu' dengan serius dan butuh konsentrasi?" tanya seseorang dari balik salah satu rak.

Pemuda jangkung dengan telinga dan ekor serigala, memiliki cakar dan taring yang keluar sedikit, rambutnya berwarna biru tua dengan warna mata yang senada, kulitnya cokelat tersengat matahari (padahal disini gak ada matahari) tatapannya tajam dan tegas. Sosok yang mereka kenal, sangat.

'AOMINE?!' sungguh, banyak sekali kejutan untuk mereka hari ini.

.

.

.

TBC


Setelah ku teruskan, petualangan di dunia lain kali ini akan bersambung hingga 2-3 chapter kedepan. Karena ada adegan pertarungannya~

Alohaaaa~ apa kabar? baik? aku tidak/heh

maaf kalau chap ini sedikit pendek, tapi memang porsi chapternya segini *lol*

maaf jika ada typo, dan kawan kawan, aku tak sempurna/ciee yang puitis ciee

Aku tak punya hal lain yang dibicarakan, jadi please leave a review on your way out

and See you next chap!