Chapter 11 : Escape to the South
"Tuan tahu saya ada perasaan kurang enak terhadapnya, kenapa malah memasangkan dia bersama saya?" protes Ma Dai kala ia sedang berduaan dengan Zhuge Liang.
"Kurang enak karena auranya cukup kuat sehingga membuatmu waspada. Cobalah kenali dia." Jawab Zhuge Liang, santai.
"Bukan kuat, tuan." Ma Dai mengernyitkan kedua alisnya, mencoba untuk menterjemahkan presepsinya ke dalam bentuk bahasa yang sesuai. "Ia seperti … ada sesuatu yang jahat darinya yang kurasa."
Tentu saja Zhuge Liang tertawa keras mendengar ucapan Ma Dai. "Hahahaha… kau terlalu memikirkannya, Ma Dai. Harimau Hitam sejatinya bukan penjahat, mereka hanya memiliki hidup terkutuk sehingga auranya terasa kelam. Sudahlah, biarkan dia menjagamu."
"Ma Dai tidak butuh penjaga! Ma Dai adalah penjaga!" katanya. "Sekiranya tuan ingin membuat saya resah sehingga tidak bisa berkonsentrasi dalam pertempuran nanti. Lagipula, coba jelaskan menurut alasan diluar takhayul-takhayul, saya merasa ragu dengan penjelasan tuan dari kemarin."
Zhuge Liang paling menyukai Ma Dai di antara anak buahnya yang lain, namun sayangnya Ma Dai sangat kritis dan selalu mempertanyakan ini itu. Semua harus jelas dulu baru dia bisa tenang, atau dia akan terus penasaran dan protes.
"Mengenai dia putra Guan Yunchang? Aku percaya. Aku pernah menengoknya ketika ia masih belajar merangkak. Hanya saja aku dengar dia sudah tewas bersama ayah dan kakaknya di Maicheng. Mengenai ingin kubawa dia ke selatan? Tentu saja karena aku ingin tahu seberapa baik kekuatannya itu. Dan kenapa kupasangkan dia denganmu, karena kau yang menemukan dia, aku ingin kau menilai seperti apa orang ini." Jawab Zhuge Liang.
Sekalipun masih tidak mengerti, Ma Dai tetap menerima Guan Suo di dalam regunya.
Guan Suo beberapa kali melindungi Ma Dai seperti pada saat ia sedang dikejar-kejar Meng Huo, dan mereka bertukar jurus beberapa saat. Menerima serangan Meng Huo yang kuat, Guan Suo menjadi kesal karena merasa tertekan. Maka ia menghantamkan tombaknya berkali-kali dengan cepat ke tombak Meng Huo. Tidak fatal, namun Guan Suo menusuk bokong kuda Meng Huo sehingga kuda itu lari tunggang langgang. Membuat Meng Huo terjatuh dari kudanya sehingga Wang Ping bisa menangkapnya untuk pertama kali.
Pertempuran demi pertempuran untuk menakhlukkan Nanman seakan tidak berakhir. Meng Huo terus mengelak mengakui kekurangannya, padahal ia selalu terdesak hingga mundur jauh dari tempat kekuasaannya yang awal.
Bahkan pada perang selanjutnya, istrinya, Zhu Rong sampai harus ikut campur. Ketika Zhu Rong menahan Ma Dai, Guan Suo gagal menyelamatkan Ma Dai karena jebakan Zhu Rong yang mengakibatkan dirinya jatuh ke bawah lubang jebakan.
Meninggalkan kudanya di bawah lubang, Guan Suo memanjat lubang itu dan berlari mengejar Zhu Rong yang sudah menghilang di telan pepohonan Yunnan.
Guan Suo enggan kembali ke perkemahan inti untuk melaporkan kekalahannya. Ia merasa tindakan itu sangat pengecut dan tidak bertanggung jawab. Karena kelalaiannya-lah Ma Dai tertangkap. Akhirnya setelah menelusuri jejak kuda yang tampak pada permukaan tanah yang becek, Guan Suo menemukan juga markas utama Meng Huo.
Namun selagi ia mengintip ke dalam, beberapa prajurit mendapatinya sedang berkeliaran sehingga ia terpaksa melawan. Terjadi pertempuran sengit, sendirian, Guan Suo harus menahan prajurit Nanman yang terus berdatangan.
Melihat Guan Suo, Meng Huo mengambil tombaknya, bersiap untuk menghadapinya. Namun Hua Man, siap dengan tombak dan perisai, menghadang ayahnya. "Ayah! Beristirahatlah, biar aku yang mengurus masalah ini."
Hua Man, putri Meng Huo, bertubuh padat dengan kulit sawo matang. Kedua matanya besar dan indah, bibirnya tebal dan wajahnya melekuk cantik. Ia tidak berbeda dari tipikal gadis-gadis pendekar amazon.
Hua Man yang tidak sengaja melihat bagaimana Guan Suo berkelahi melawan anak buah ayahnya sendirian itu merasa tertarik dan ingin menjajal kemampuannya. Dengan pakaian perangnya yang minim, ia memacu kudanya keluar gerbang untuk menghadapi Guan Suo dengan rasa penasaran.
"Kau kah si licik yang mencurangi ayahku berkali-kali?" tuding Hua Man dengan tombaknya ketika Guan Suo hendak membunuh seorang prajurit yang berhasil dibekuknya.
Guan Suo menatapnya sekilas dan ia yakin bahwa wanita ini bukan Zhu Rong. Ketika dilihatnya perempuan ini untuk pertama kali, pemuda itu terpana. Kulit hitamnya dan rambutnya yang bergelombang bagaikan ombak emas terlihat begitu eksotis. Prajurit Nanman yang sedang ditekuk tangannya itu dilepaskan begitu saja sementara Guan Suo berjalan mendekati Hua Man dengan percaya diri.
Dua orang tentara Nanman menghadang untuk berusaha membacok lehernya. Tanpa menatap mereka berdua, Guan Suo berhasil membuat keduanya terjatuh seketika dan pingsan.
Melihat cara Guan Suo mengalahkan dua orang temannya, Hua Man agak terkejut. Namun ia menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu. Hua Man sambil tersenyum menantang pemuda di hadapannya, memerintahkan tiga orang prajuritnya untuk menyerang Guan Suo.
Sambil memukul tiga orang yang menerjangnya, mata Guan Suo sama sekali tidak berpaling dari Hua Man. Bahkan ia berkata dengan wajar seakan tidak ada orang-orang yang hendak mengeroyoknya sekarang, "Ayahmu Meng Huo. Dikalahkan berkali-kali masih berani mencoba terus. Kiranya dia pantang menyerah."
Mendengar ayahnya disanjung, Hua Man semakin menyukai pemuda ini. "Kelihatannya orang-orang Nanman bagimu tidak berbeda dengan anak-anak kecil."
"Kenapa pimpinannya tidak berani maju?"
"Siapa namamu?" tanya Hua Man.
"Guan Suo, alias Weizhi. Anda?"
"Maaf, aku tidak memberikan namaku pada orang asing." Kata Hua Man yang mempersiapkan tombaknya. Ia maju menerjang Guan Suo dengan tombak di tangan kanan dan perisai di tangan kiri.
Begitu jarak di antara mereka sudah cukup dekat, Hua Man mengarahkan serangannya ke arah bahu Guan Suo, daerah yang tidak terlalu vital. Guan Suo tentu saja bisa menghindari serangan ringan itu. Namun ia berkelit dengan cara sedemikian rupa sehingga ia malah lengan kanannya menggaet lengan kiri Hua Man, kemudian menempelkan punggungnya pada punggung Hua Man, lalu tangan kirinya menangkap tangan kanan Hua Man. Gadis itu terbekuk secara pungung dan punggung, tidak bisa membebaskan diri.
"Aih sombong sekali. Aku hanya ingin tahu namamu, bukan mengajakmu pergi." Ledeknya.
Kini senyum sudah menghilang di wajah Hua Man yang terjebak. Ia sibuk melepaskan diri namun jelas ia kalah tenaga dan tidak bisa berkutik.
Melihat putri pimpinan mereka dibekuk lawan, prajurit Nanman kembali menyerang untuk menolong. Guan Suo memutar punggungnya sehingga kaki Hua Man tanpa sengaja menendang kedua prajurit Nanman itu.
"Ah, maaf!" seru Hua Man. Kemudian ia mulai kesal. "Lepaskan aku!"
"Bukankah kau prajurit? Kenapa kau memohon pada lawanmu?" ledek Guan Suo lagi.
Kini Hua Man benar-benar terjebak dan kehabisan kata-kata. Ia beberapa kali berusaha melepaskan diri, namun Guan Suo malah mempermainkannya. Ia melepaskan tangan kanannya yang menggenggam tangan kiri Hua Man kemudian menariknya lagi sehingga tubuh Hua Man menabrak dadanya yang bidang. Dengan cepat Guan Suo menunduk sehingga Hua Man jadi setengah berbaring. Seperti orang barat berdansa.
"Ah, kurang ajar!" Hua Man hendak protes lagi, tapi wajah Guan Suo begitu dekat dengan wajahnya.
"Maaf, apakah gerakan tadi menyakitimu?" ledek pemuda itu lagi.
"…tidak, tapi…"
Belum selesai Hua Man bicara, Guan Suo segera bergerak lagi. Kali ini dilepaskannya Hua Man ke seberang sehingga tubuhnya berputar-putar sebentar. Sewaktu prajurit wanita itu sudah berhasil mendapatkan keseimbangannya lagi, Guan Suo sudah memeluk pinggangnya dan menyandarkannya pada sebuah batang pohon.
"Ayolah, cuma nama." Ia menagih lagi.
Hua Man merasa kesal bukan main. "Kita sedang berduel! Berhentilah main-main!"
"Ya, kita memang sedang berduel."
"Aku tidak merasa seperti sedang berduel." Hua Man mencoba menyerang Guan Suo dengan tendangan lututnya. Tapi Guan Suo menangkap kakinya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Sebelum Hua Man terjungkal jatuh, tangan kirinya sudah menangkap tubuh gadis itu dan membopongnya.
Kedua tangan Hua Man masih bebas, ia mengayunkan tangannya untuk menyerang Guan Suo. Serangan itu telak mengenai kepalanya dan membuat Guan Suo terjatuh pingsan rebah ke tanah.
Hua Man, kesal, sebal, dan merasa dilecehkan, berdecak kesal dan menyuruh anak buahnya mengikat Guan Suo dan menggabungkannya dengan Ma Dai di dalam penjara.
Ketika tersadar dari pingsannya, Ma Dai mengajaknya berbicara. "Bagaimana? Kau baik-baik saja?"
"Uh…" agak pening masih terasa di kepalanya. "Sepertinya."
"Para prajurit wanita itu bertarung jauh lebih baik daripada prajurit prianya. Heran aku.." gumam Ma Dai yang memiliki luka memar di wajahnya.
"Ah .. gadis itu hanya beruntung tadi." Gerutu Guan Suo setengah mengerang.
"Masih saja gengsi. Aku saja mengakui kehebatan Zhu Rong." Kata Ma Dai.
Guan Suo tersenyum cukup lebar. "Kau merencanakan akan tinggal di sini menunggu Zhuge Liang?"
"Mau bagaimana lagi?" jawab Ma Dai sambil mengais-ais tanah.
Guan Suo mengintip keluar jeruji kayu. Setelah memperhatikan keadaan di sekitar kerangkeng kayu itu, ia melihat Meng Huo dan pasukannya bersiap untuk pergi. Hua Man pamit dengan ayahnya dan kembali ke benteng. Ketika kembali, ia sempat menatap kurungan yang memenjara Guan Suo dan Ma Dai.
Saat mata mereka bertemu, Guan Suo tersenyum manis sambil melambaikan tangannya pada Hua Man. Gadis itu langsung cemberut dan melangkah pergi dengan angkuh.
"Genitnya…" ujar Ma Dai tanpa semangat.
"Aku jarang terpikat pada perempuan." Kata Guan Suo sambil terus mengikuti Hua Man yang menutup pintu benteng dengan keras. "Dia suka padaku."
"Yah, mimpi saja terus."
Guan Suo melihat-lihat keadaan perkemahan, kemudian ia mengguncang bahu Ma Dai dengan sedikit bersemangat. "Hei, aku ada rencana."
Hua Man masih bersungut-sungut ketika ia duduk bersama teman-teman perempuannya. "Menyebalkan. Orang yang baru saja kutangkap tadi, sudah kalah masih saja percaya diri. Aku ingin sekali membuatnya bertekuk lutut ketakutan dan memohon ampun!"
"Ikat saja dia, kita cambuk dia ramai-ramai, biar dia tahu rasa."
Hua Man mendengus. "Hmph. Jangan-jangan dia malah suka diperlakukan seperti itu. Orang itu kelihatannya mata keranjang."
"Kita masukkan ke kandang harimau saja biar dia mati di makan macan."
"Sadis sekali. Aku hanya ingin menghapuskan senyum menyebalkan di wajahnya itu saja, bukan membunuhnya." Gerutu Hua Man.
"Tapi, Hua Man.." salah seorang dari mereka kini tersenyum-senyum. "Aku lihat tadi cara dia menanganimu. Kelihatannya dia sedang merayumu. Kalian romantis sekali tadi."
Hua Man pun meledak amarahnya. "Hei! Sudah jangan ungkit kejadian tadi! Aku benar-benar kesal setiap kali mengingatnya. Orang itu sungguh kurang ajar!"
Mendadak terdengar suara panik dari bawah benteng. Pada saat yang sama, asap keluar dari lantai yang menyala. Hua Man merasa curiga dan mengintip ke bawah. Ternyata benteng kebakaran. Dan dengan cepat api menyebar karena saat ini sedang musim panas. Hua Man dan ketiga orang temannya terjebak di lantai dua.
"Apa yang kita lakukan?" teman-temannya panik.
"Uhh…lompatlah dari jendela. Cepat!" seru Hua Man.
"Tidak mau. Aku takut." Kata mereka.
Selagi kebingungan cara untuk menyelamatkan diri dan berada dalam keadaan panik, seseorang melempar tambang ke atap benteng yang pasaknya agak maju. Tambang itu terlilit di sana. Setelah itu seseorang berayun dari tempat lain yang sudah terbakar hebat juga ke benteng tempat Hua Man berada. Ia mendarat persis di sebelah jendela tempat Hua Man dan teman-temannya panik ketakutan.
"Selamat malam, nona-nona." Sapa Guan Suo dengan sopan.
"Tolong kami! Kebakaraann..!"
"Tenang, tenang…" Guan Suo mengulurkan tangannya. Satu orang gadis meraihnya dan Guan Suo membimbingnya agar gadis itu turun dengan selamat. Di bawah Ma Dai sudah menumpuk jerami sesuai dengan siasat mereka sehingga para gadis bisa turun dengan selamat.
Setelah hanya tinggal Hua Man di sana, Guan Suo mengulurkan tangannya. "Bagaimana? Takut?"
Ditantang seperti itu, Hua Man dengan kesal berjalan keluar jendela untuk merosot turun seperti teman-temannya. Namun Guan Suo kembali mendekap pinggangnya dengan erat, tidak mengijinkan dia untuk menggengam tambang.
"Ah, lepaskan aku!" Hua Man kembali merasa dipermalukan.
"Untuk tuan putri pedalaman, caranya harus spesial." Kata Guan Suo. Kemudian sambil merangkul pinggang Hua Man erat-erat, Guan Suo berlari sambil memegang tambang di tangannya dan melompat turun.
Hua Man sudah membayangkan dirinya akan terjatuh ke tanah dijadikan pijakan Guan Suo agar ia bisa selamat. Ia bahkan sampai menjerit karena ketakutan. Namun ternyata mereka mendarat di atas kuda yang sudah disiapkan Ma Dai.
"Wow! Pas sekali mendaratnya!" Ma Dai terkagum-kagum. Bila ia tidak melihat dengan mata dan kepala sendiri, ia tidak akan percaya.
"Aku juga heran." Ujar Guan Suo sambil segera memacu kudanya berlari kencang menuju pintu gerbang benteng yang juga sudah terbakar. Di kanan kiri prajurit Nanman yang tidak ikut Meng Huo menyerang Zhuge Liang, kalang kabut mencari air untuk memadamkan api. Ma Dai sudah mempersiapkan tiang di tangannya, dengan itu ia mendobrak pintu benteng sehingga ia dan Guan Suo bisa menyeruak keluar dari benteng terbakar itu.
Malam itu rupanya Meng Huo dan anak buahnya mendapat salah informasi sehingga Zhuge Liang sudah berpindah benteng dan mereka hanya mendapati benteng kosong saja. Karena sudah terlalu malam, mereka tidak melakukan pengejaran dan memilih untuk pulang. Betapa terkejut mereka ketika melihat benteng sedang terbakar.
Sementara itu Guan Suo dan Ma Dai sudah sampai pada perkemahan yang telah dikosongkan, mereka sudah tahu kemana Zhuge Liang mengungsi. Sambil membawa tahanan yang kini sedang dipangku Guan Suo, mereka berkuda ke perkemahan baru Zhuge Liang.
Di perkemahan itu, Hua Man di tahan dan diawasi ketat sebagai sandera. Guan Suo yang masih penasaran padanya, seringkali datang untuk membawakannya makanan enak dan minuman. Lama kelamaan mereka berdua saling jatuh cinta dan semakin akrab dari hari ke hari.
"Tidak hanya menjauhkan harimau hitam dari phoenix hitam, tapi juga memiliki kartu as untuk menakhlukkan Meng Huo. Sungguh tidak salah membawa serta Guan Suo ke Nanman." Zhuge Liang tertawa puas.
Persahabatan antara Ma Dai dan Guan Suo pun mulai tumbuh. Ma Dai menghampiri Guan Suo dan menawarinya arak.
Guan Suo menolaknya. "Aku tidak minum."
Ma Dai masih membujuknya. "Sekali saja."
Guan Suo akhirnya menurut. Namun begitu dicicip, rasanya sangat manis, ia jadi ketagihan juga. Ditemani arak, mereka berdua mengobrol sambil tertawa-tawa ketika Guan Suo menceritakan tentang perkelahiannya dengan Hua Man sehingga membuat gadis itu kesal bukan main.
Kemudian mereka mengambil tombak dan Ma Dai mengajari gerakan-gerakan Ma Chao yang dahulu diajarkan padanya. Untuk pertama kalinya Guan Suo mau diajari silat.
Rupanya Meng Huo sangat khawatir pada putrinya dan setelah mengetahui anaknya selamat dan diperlakukan dengan baik, Meng Huo merasa sudah cukup dengan semua ini, dan akhirnya ia menyerah.
Di salah satu obrolan, akhirnya Meng Huo memerintahkan semua anak buahnya untuk berdamai dengan tentara Shu. "Mulai sekarang kita bersaudara! Ayo berpelukan!"
Para tentara dengan canggung saling berpelukan dan berdamai. Meng Huo menghampiri Zhuge Liang dan memeluknya. Pinggang Zhuge Liang serasa mau patah.
Zhu Rong menghampiri Ma Dai dan memeluknya dengan rasa persahabatan.
Ketika kedua belah pihak yang telah berdamai itu saling berpelukan dengan mantan musuh masing-masing, Hua Man berjalan menghampiri Guan Suo. Sekali lagi Guan Suo kembali terpikat pada tatapan mata yang bening itu. Dan senyum Hua Man benar-benar enak dilihat. Sejenak Guan Suo tidak percaya bahwa gadis eksotik ini memiliki ayah sangar.
Keduanya hanya berbasa-basi tanpa arti sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Jadi, kau mau beritahu aku siapa namamu?" tanya Guan Suo.
"Hua Man. Itu namaku." Jawabnya. Kemudian ia memeluk Guan Suo dan mendekapnya erat.
Karena cukup lelah, tentara Shu beristirahat beberapa hari di Nanman.
Ma Dai menghampiri Guan Suo yang sedang duduk di atas atap sebuah bangunan di Nanman. "Hei, kucari kau kemana-mana rupanya di sini."
Guan Suo hanya menoleh padanya kemudian ia kembali menatap ke arah utara. Ma Dai duduk di sebelahnya. Ia membawa dua botol arak lokal. Satu diberikan untuk Guan Suo, satu lagi untuknya. Keduanya minum-minum di malam hari yang saat itu cukup dingin karena angin bertiup kencang.
Ma Dai membuka percakapan. "Rindu kampung halaman? Sejak kemarin kau merenung menatap utara."
Guan Suo agak bingung menjawabnya. Rumahnya telah diduduki musuh, dan ia tidak memiliki satu tempatpun untuk pulang. Dimana rumah Guan Xing pun ia tidak tahu. "Aku tidak punya rumah."
"Punya." Jawab Ma Dai. "Shu adalah rumah kita."
Guan Suo menoleh padanya sambil tersenyum pahit. "Langit Shu adalah atap rumah sementara tanah Shu adalah lantainya? Kedengarannya aku memang seorang gembel."
Ma Dai pun tertawa. "Pada dasarnya … rumah adalah tempat dimana hatimu berada. Saat kau pergi jauh, kemudian kau teringat pada satu tempat yang kau rindukan. Tempat yang ingin kau datangi ketika kau sudah tidak ingin apapun lagi. Itulah rumah."
Rumah …?
"Burung elang terbang tinggi, mengembara langit sesuka hati. Namun segagah apapun, kelak ia merasa lelah juga. Bila kelak kau sudah lelah dan tidak ada lagi yang bisa menjadi tempatmu kembali, pintuku masih terbuka untukmu."
Guan Suo menegak tuak nya.
Taman yang luas, tempat ia dihukum mengelilinginya selama tiga kali. Ada satu pohon yang selalu dipanjatnya. Xing Cai akan ada di bawah penuh kekesalan karena ia tidak bisa memanjat pohon.
Rumah …
Dimanapun ia berada, Guan Suo akan mendatanginya. Hanya ingin bersamanya. "Rasanya … aku tetap tidak bisa pulang."
Ma Dai berdehem satu kali, kemudian berkata, "Tadi siang kudengar Meng Huo berbincang-bincang dengan perdana mentri. Keliatannya si raja Nanman menyukaimu. Ia bermaksud menikahkanmu dengan putrinya."
Guan Suo tertawa ringan. Ma Dai menyikutnya lagi. "Kau pernah cerita padaku bagaimana kau mengerjai Hua Man. Menurutku itu keren sekali. Tidakkah kau sungguh-sungguh dengan rayuanmu saat itu?"
Menikah lagi. Apa yang akan dikatakan Meng Huo bila ia menyatakan bahwa ia sudah menikah? Rasanya tidak adil juga. Hatinya sangat terpukul mendengar cinta pertamanya telah menikah dengan seorang kaisar muda, padahal dirinya sendiri juga sudah menikah dengan seseorang.
Sulit sekali untuk melupakan Xing Cai. Apalagi setiap kali mengingat betapa cantiknya Hua Man yang memiliki ayah sangar, membuatnya kembali teringat pada Xing Cai yang juga memiliki ayah seram seperti Zhang Fei.
Kenapa Zhang Fei tidak pernah mengumandangkan sayembara untuk menikahkan siapapun dengan Xing Cai bila bisa mengalahkannya dalam perang?
"Menikah dengan Hua Man bisa mengikat kesetiaan Nanman secara politik. Ini bisa lebih menjamin keamanan di selatan sementara kita akan menggempur Wei di utara. Lagipula kau anak Guan Yu, Guan Yu adalah jendral terhormat di Shu. Pikirkanlah." Ujar Ma Dai.
Apakah aku begitu tidak berguna di utara sehingga aku harus tertinggal di sini?
Ataukah Kongming mengetahui perasaanku terhadap permaisuri sehingga ia merencanakan ini untuk mencegahku menemui permaisuri?
Beberapa lama Guan Suo tidak berbicara apapun, sibuk dalam dunianya sendiri. Memikirkan perasaannya yang semakin terpuruk terhadap sang pujaan hati, dan juga memikirkan negara dan dendam ayah yang ingin ia balas.
Ia tidak mendiskusikan pergolakan batinnya kepada siapapun, tidak pada Kongming, tidak pada Ma Dai.
Ketika Guan Suo akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Hua Man, sekaligus menganggapnya sebagai waktu untuk menjernihkan pikiran dan perasaan, Kongming dan rombongannya kembali ke utara, meninggalkan Guan Suo di Nanman.
Guan Suo berpisah dengan Ma Dai, satu-satunya teman baik yang baru didapatkannya.
"Padahal aku berharap kau menolak pernikahan itu, aku ingin bertempur bersamamu di utara, teman." Kata Ma Dai.
"Aku juga. Tapi aku masih butuh waktu untuk berpikir. Kurasa tempat ini cukup jauh dari keramaian perang di utara." Kata Guan Suo.
Setelah menikah, Guan Suo menjadi merasa begitu hampa dan kosong. Cinta yang kemarin terasa membara di antara mereka, padam dengan cepatnya, seakan ia hanya penasaran dan bermain-main saja. Sebaliknya, ia semakin merindukan Xing Cai dan menyesali pernikahannya dengan Liu Shan.
Padahal Hua Man cukup dewasa dan bijak, ia tidak memaksa, tidak emosional dan menerimanya apa adanya. Sekalipun tidak pernah mengucapkan apapun tentang masa lalunya, Hua Man tahu bahwa hati suaminya tidak ada di dalam tubuhnya. Hatinya ada di suatu tempat yang tidak diketahuinya.
Hua Man melahirkan seorang putri bagi Guan Suo dan diberi nama Guan Yinping. Guan Suo mengajari putrinya membaca dan menulis, sesekali ia bepergian ke tempat yang jauh, lalu kembali sambil membawa buku. Guan Yinping sangat cerdas dan pintar. Kelak di masa depan, ia dan suaminya, Li Wei, menjadi legenda kecil bagi masyarakat Yunnan dan kuburannya dihormati.
