Basyot di awal : bagian ini file nya sempet ilang dan akhirnya saya harus ketik ulang T.T semoga nyambung ya T,T

.

.

.

Baekhyun menangis; tertunduk sangat dalam ketika tubuh lemah yang kini tergelak di hadapannya itu tak menunjukkan reaksi yang berarti. Beberapa kali Baekhyun memanggil dengan nada sarat kekhawatiran, tapi tetap tidak ada reaksi. Dia juga sudah mengguncang tubuh itu sekuat tenaga tapi hasilnya sama.

"Chanyeol...bangun..."

Tangannya tergerak untuk memeluk lelaki lemah tak berdaya itu. Mungkin airmatanya bisa memberi keajaiban hingga kesadaran Chanyeol bisa di dapat kembali. Sesekali ia juga mencium kening lelaki itu, mengecap dinginnya si lelaki lemah yang seperti tak memiliki harapan untuk hidup.

"Jangan pergi..ku mohon.."

Pelukannya semakin erat dengan doa yang tidak henti terucap. Baekhyun berdoa atas apa saja yang bisa diberikan asalkan Chanyeol kembali. Dia memiliki penyesalan teramat dalam di waktu lalu yang banyak memberikan pengabaian. Jika ditinggal rasanya bisa sesakit ini, Baekhyun akan menebus waktu lalu yang sudah ia buang sia-sia.

"Chanyeol...maafkan aku..."

Kiranya Baekhyun merasa getar tubuhnya berakibat parah hingga rasanya dia tengah di cengkeram. Tubuhnya seperti terpenjara kuat-kuat kala tangisnya semakin pecah saat sedikit menjauhkan pelukan itu.

Matanya bertaut pandang dengan iris lemah yang berusaha terbangun di sela rasa sakitnya. Bahkan Baekhyun juga bisa melihat sebuah tarikan kecicil dari bibir berbekas noda darah yang kering itu.

"Ma..maafkan..a-aku..juga..ya.." suaranya terbata dengan sedikit erangan karena rasa sakit yang tiba-tiba datang.

Tanpa banyak berpikir, Baekhyun kembali memeluk lelaki itu dan berucap syukur banyak-banyak karena Chanyeolnya kembali. "Jangan seperti itu lagi. Aku takut."

Diam-diam Chanyeol mengulas senyum senang. Meski dia harus merelakan tubuhnya babak belur, setidaknya semua terbayar dengan Baekhyun yang sudah kembali melemah dengan hatinya.

"Aku hanya butuh istirahat karena sepertinya tubuhku melemah."

Baekhyun menjauhkan pelukan itu, mengusap airmata dengan punggung tangan, dan menatap haru pada lelaki yang sempat ia kira akan mati itu.

"Kau bertingkah seakan tadi adalah saat-saat terakhirmu."

"Untuk menguji seberapa besar rasa takutmu jika aku mati."

"Aku takut." Baekhyun kembali memeluk, "Takut sekali. Jangan pergi. Jangan lagi seperti itu."

"Sepertinya aku harus babak belur dulu supaya bisa mendapat maafmu."

Semesta mungkin sedang berbaik hati, meminjamkan seberkas cahaya bulan sebagai penerang kala dua kekerasan itu telah melembut. Ya, sejauh ini Baekhyun sudah benar-benar paham jika Chanyeol tidak seperti yang dibisikkan para setan pada telinganya. Logikanya sudah kembali normal. Bersamaan dengan itu hatinya menghangat, mengusak rindu pada lelaki babak belur yang kini sedang ia dekap kepalanya di atas pangkuan.

Di atas semua keegoisannya, Baekhyun mulai menyerah. Menjadi pendengar sebelah pihak hanya mengakibatkan banyak hal-hal buruk yang berkembang semakin parah. Kesemua itu membuatnya dengki untuk sebuah permintaan maafyang hampir saja mendarah daging.

"Nyaman." Gumam Chanyeol ketika surai basahnya dibelai oleh Baekhyun. Tubuhnya memang sudah tak memiliki banyak kekuatan, tapi sentuhan Baekhyun seakan memiliki kepekaan tersendiri disetiap inchi tubuh Chanyeol. "Sekarang aku bisa tidur dengan tenang."

"Ucapanmu tolong diperhatikan."

"Maksudku, aku akan tidur sampai Kai datang menjemput kita dan pulang."

"Ke rumah sakit." Baekhyun menyahut dengan nada tegas, membuat lelaki yang terbujur lemah itu tidak bisa menyangkal.

Beberapa menit lalu Baekhyun mengirim pesan pada Kai untuk di jemput di ruangan kecil di dalam perpustakaan kampus. Estimasinya, Kai akan datang sekitar 20 sampai 30 menit lagi.

.

Lebam diwajah Chanyeol sudah diobati dan pada akhirnya lelaki itu menyerah dibawah suntikan jarum infus. Dokter berkata, selain luka lebam di wajahnya, Chanyeol sedang dalam kondisi dehidrasi parah. Tubuhnya melemah karena terlalu banyak kegiatan yang dilakukan sedang masa istirahat dan jam makannya tidak teratur.

Baekhyun cukup bersyukur, mengingat beberapa waktu lalu pikirannya sudah dibayang-bayangi oleh sesuatu yang buruk dan beruntungnya tidak pernah terjadi pada Chanyeol.

"Pihak kepolisian sedang melakukan pencarian terhadap orang-orang yang melakukan penyerangan tadi." Kata Kai ketika dokter selesai melakukan pengobatan pada Chanyeol. "Keparat Byun—ah!" reflek Kai membungkam mulutnya dengan tangan. Salah-salah dia akan menyinggung Baekhyun dengan memanggil ayahnya sebagai 'keparat'.

"Tak apa, Kai. Dia memang keparat."Kata Baekhyun sambil menaikan selimut sebatas dada pada Chanyeol.

"Tuan Byun Taekwon sengaja mengirim orang untuk memata-matai Nona Baekhyun. CCTV sekitar kampus sudah saya periksa dan ternyata mereka sudah berada disekitar kampus sesaat sebelum Nona Baekhyun tiba."

Tuhan mungkin menyusun Byun Taekwon dari material yang berbeda hingga pikiran liciknya seperti tidak memiliki ujung. Segala macam cara dia lakukan demi sebuah harta, yang mana Baekhyun sendiri sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk memilikinya. Orang seperti Byun Taekwon memang sudah buntu lahir-batin fungsi otak dan hatinya. Sehingga makna klasik sebuah hati nurani saja tidak dia gantung lekat-lekat.

Seumur hidup baru kali ini Baekhyun menemui orang seperti itu. Well, meski di masa lalu sebelum masalah menjadi sepelik ini Baekhyun sudah tau kelakuan bejat ayahnya, tapi untuk saat ini ia merasa sudah melewati batas kemanusiaan.

Menipu, melakukan pemalsuan, penyerangan, dan entah hal gila apalagi yang sedang di susun lelaki itu.

"Tidurlah. Ini sudah malam."

Selimut itu kembali Baekhyun benarkan letaknya; menutupi hampir batas dagu si lelaki yang sedang terbujur dengan wajah babak belur. Setelah Kai selesai dengan laporannya, sepasang manusia yang sudah bertemu oleh rindu itu menikmati kembali bagaimana rasanya menjajaki perasaan tulus masing-masing.

"Jangan takutkan apapun. Byun Taekwon akan segera mendapat balasannya. Percaya padaku."

Satu senyum singkat Baekhyun tarik, memberitahukan pada Chanyeol jika dia tidak setakut itu.

"Yang buruk pada akhirnya akan kalah. Hanya menunggu waktu saja."

"Dan yang buruk akan mendapat balasan setimpal."

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tetesan infus yang mengalir dalam tubuh Chanyeol. Tapi mendadak rasanya seperti ada yang sedang membuat aliran darahnya terkoyak menyenangkan kala sentuhan lembut lentik jemari itu menyisir bagian wajahnya.

Chanyeol suka rasa ini, rasa ketika dia menjadi satu-satunya yang terperangkap oleh iris Baekhyun yang melembut.

"Ya, dia harus mendapat balasan yang setimpal karena telah merusak wajah ayah dari anakku."

Banyak penyesalan yang membuat Baekhyun hilang kata. Sebelumnya dia selalu berkeras hati dan lebih mementingkan ego daripada menggunakan otak untuk berpikir lebih rasional. Tapi sekarang, mau menyesal sampai lutut berdarahpun tidak akan pernah membuat semua itu sebanding dengan apa yang sudah Chanyeol berikan.

"Maaf.."

Kepalanya tertunduk, berucap dengan sangat lirih bersama getar suara yang menyakiti hati.

Keadaan kamar Chanyeol memang tidak terlalu terang, tapi Chanyeol bisa dengan jelas melihat bagaimana airmata itu menggenang dan turun secara teratur.

"Maaf.."

"Hei, sudah. Tidak apa."

"Aku yang egois. Aku..aku..."

"Sudah," Dengan gerak terbatas Chanyeol meraih Baekhyun dalam pelukan tubuhnya yang terbujur. Tak lupa usakan lembut juga ia berikan beserta senandung kalimat penuh keyakinan jika tidak ada yang perlu mendapat kata maaf dari kejadian ini. "Yang terpenting kau selamat. Itu sudah sangat cukup bagiku."

"Maaf..."

.

Ada banyak hal di dunia yang terkadang masih butuh penjelasan logis mengapa manusia kadang mengalah untuk sebuah perasaan. Jika saja rela, mungkin yang menyakitkan bisa dilepas begitu saja dan hiduplah sesuai apa yang ditakdirkan Tuhan. Tapi nyatanya, perasaan manusia jugalah sebuah takdir. Sakit atau tidak, bahagia atau tidak, hanya perlu menjalani dengan tulus. Apapun itu, yang terbebani sebagai hasil akhir adalah apa yang akan menjadi pelajaran.

Seperti sekarang, ketika di beberapa kesempatan Baekhyun pernah merasakan penyesalan terdalam mengapa Chanyeol yang menjadi cinta dalam perasaannya, kini dia justru merasakan hal sebaliknya; sebuah perasaan paling dalam dan tulus. Baekhyun mungkin baru berapa persen mengerti bagaimana seharusnya bertingkah selayaknya manusia berotak, tapi urusan hatinya pada Chanyeol nyatanya tidak pernah bisa ia tanggalkan.

Mungkin selama ini dia yang terlalu egois, tidak mengerti bagaimana orang lain berjuang untuknya dan merelakan banyak hal atas apa yang di sebut sebagai kebahagiaan. Sehingga Chanyeol yang mulanya bertopeng kejam itu dulu selalu memperoleh kepercayan sebesar ujung jari untuk menumpu kebahagiaan. Dan sekarang, ketika kartu AS telah terbuka dan dia paham betul sosok Chanyeol sebenarnya, Baekhyun memiliki hati selapang angkasa untuk bertaruh kepercayaan atas hatinya pada lelaki itu.

"Dulu aku pernah berpikir untuk meninggalkanmu dan mencari lelaki yang lebih kaya."Sembari mengupas apel untuk lelaki yang masih terkapar di ranjang rumah sakit, Baekhyun membuka pembicaraan di penghujung sore hari Minggu. "Banyak yang kaya dan aku yakin di bukaan pertama pahaku saja pasti mereka jatuh cinta padaku."

"Tolong koreksi kata 'bukaan pertama paha'. Aku tidak suka." Chanyeol menginterupsi dengan decihan kesal.

"Tapi ternyata aku tidak bisa. Terlalu sulit untuk membuka paha, karena pada tahap membuka hati saja aku terlalu kaku. Kau tau kenapa?" potongan pertama apel itu Baekhyun berikan pada Chanyeol.

Chanyeol menggeleng untuk pertanyaan Baekhyun.

"Karena aku hanya jatuh cinta padamu."Dan memberi si lelaki pengunyah apel itu sedikit kecupan di bibirnya yang sedang menggilas apel-apel manis. "Kau sedikit egois karena mengikatku terlalu kencang. Aku jadi tidak bisa mencintai lelaki lain."

"Kau tidak hanya ku ikat, tapi sudah ku beri hak paten."

"Lihat, kau semakin egois. Dan bagaimana bisa aku jatuh terlalu dalam pada lelaki seegois dirimu?"

"Karena aku tampan."

"Dengan wajah lebam itu?"

"Ini tanda cintaku padamu, sayang."Yang lebih tinggi mencoba untuk bangun dari tidurnya. "Kalau tidak begini, kau mana mau kembali padaku."

Lalu keduanya memulai tawa renyah padahal tidak ada hal lucu di sana.

Begitulah jika bahagia sudah merajai. Semua akan berakhir dengan sebuah senyum atau tawa hingga bercak hitam di masalah yang lalu mulai terlupakan. Entahlah, cinta seperti memiliki cara tersendiri meleburkan benci.

"Malam ini aku tidak bisa menemanimu di sini. Aku harus pulang ke rumah Luhan."Chanyeol mengernyit, tidak begitu suka ketika jarak yang terbentang antara dia dan Baekhyun semakin jauh."Hanya malam ini saja. Aku hanya ingin memberitahu Luhan jika keadaanku baik-baik saja. Lagipula aku sudah menemanimu di sini 24 nonstop selama kau di rawat. Masih kurang?"

"Sangat kurang."

"Jangan serakah." Baekhyun melerai kerutan di dahi Chanyeol dan mengelus lembut pipinya yang masih bersisa lebam biru. Di tatapnya sebentar dua iris itu lalu memberi kecupan singkat di bibir Chanyeol. "Hanya malam ini. Besok pagi aku akan kembali dan menemanimu sampai kau sembuh."

"Bagaimana jika besok pagi saja kau ke rumah Luhan? Malam ini temani aku tidur."

Baekhyun memutar dua bola matanya jenuh. Sedikit heran jika dia mau-mau saja mengangguk dalam waktu singkat atas nego yang Chanyeol lakukan.

"Oke. Besok pagi."

"Kau kembali, kan?"

"Pasti."

"Janji?"

Kelingking lentik itu Baekhyun acungkan. "Janji."

"Baiklah." Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan membawanya dalam sebuah pelukan. Menyesap dalam-dalam aroma manis Baekhyun yang sudah seperti candu dan menyamankan diri di tubuh wanitanya itu. "Aku seperti memiliki trauma jika berada jauh darimu. Rasanya akan sangat sakit dan aku hampir mati menahannya. Aku tidak masalah jika harus mendapat lebam ini sebanyak apapun itu asalkan aku bisa bertemu denganmu. Aku bukan lelaki yang memiliki banyak kata untuk merayu dan membujuk. Jadi maaf jika selama ini aku selalu menggunakan paksaan padamu. Ketahuilah karena itu adalah yang bisa ku lakukan setelah sejak lama aku..." Chanyeol menarik tubuhnya, menarik pelan dagu Baekhyun dan menempelkan hidungnya dengan milik Baekhyun, "...jatuh cinta padamu. Ya, jatuh cinta yang terlalu dalam dan aku terjebak tanpa tau bagaimana bisa pergi."

Kernyitan dahi Baekhyun membuatnya menjauhkan sedikit jarak mereka. "Sejak lama? Ku rasa kita baru bertemu beberapa bulan yang lalu."

"Secara nyata di depan matamu memang iya. Tapi di belakang itu, aku sudah sejak lama menemukanmu. Menguncimu rapat-rapat dan menjagamu dengan kehampaan di tanganku karena tidak bisa menyentuhmu secara fisik."

"Aku tidak mengerti."

"Mau ku ceritakan? Ini agak panjang, jadi ku rasa akan terasa lebih mendalami jika kita bercerita dengan keadaan seperti ini." seperti Chanyeol yang menarik Baekhyun untuk turut beraring di ranjang kecilnya dan menjadikan lengan sebagai bantalan wanita kesayangannya itu.

"Sekarang berceritalah."

"Aku akan bercerita dari awal. Aku akan bercerita mengapa aku amat sangat membenci ayahmu dan kenapa sampai detik ini kau bisa ada bersamaku."

Soojung dan Sooyoung adalah kembar dari seorang pengusaha kaya di Jeju. Keduanya berasal dari keluarga bergelimang harta yang bisa dipastikan tidak akan mengecap bagaimana rasanya menderita karena tidak ada harta. Soojung, sang kakak, memiliki sebuah pendirian yang sangat kuat. Seorang gadis penentang handal dan selalu memiliki argumen akurat untuk ketika sang ayah berkata dia akan dijodohkan dengan saudagar kaya berasal dari Jepang yang sudah memiliki 3 istri, Soojung begitu kokoh menentang.

Sang ayah sungguh tau tabiat dari Soojung yang tidak pernah gentar dalam pendiriannya. Untuk itu, ketika penolakan itu terang-terangan Soojung galakkan, ayahnya sudah memiliki rencana lain agar perjodohan tetap berlanjut.

Adalah Sooyoung yang memiliki sifat kontras dari kembarannya; begitu penurut dan tidak pernah ada penolakan jika orangtua menginginkan sesuatu darinya. Dan benar, gadis pemalu itu menerima meski jauh dalam lubuk hatinya dia tidak menginginkan hal itu.

Sifat penurut Sooyoung tentu membuat Soojung geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa dengan mudahnya dia setuju ketika fakta mengatakan jika perjodohan itu hanya bentuk penyaluran kepuasan kedua orangtua mereka agar masalah bisnis berjalan semakin lancar. Dan untuk itu, demi menyelamatkan nasib saudaranya, Soojung kembali melayangkan protes yang berakibat pertengkaran hebat antara dirinya dengan sang ayah. Ayahnya bahkan berkata jika perjodohan ini akan tetap dilakukan meski Soojung menolak sampai berdarah-darah. Tapi bukan Soojung namanya jika menyerah begitu saja, karena ketika pagi buta datang dan semua orang sudah bermain dengan alam mimpi, dia memutuskan untuk pergi dari kungkungan hidup orang tuanya.

Soojung mengajak Sooyoung juga. Dia tidak mau adik kembarnya itu menjadi buah santapan ayahnya yang sudah gila oleh pergi ke Seoul, membawa pakaian seadanya dan keberanian yang didapat dengan saling menguatkan.

Di Seoul sendiri bukan berarti mereka bisa semakin ringan menjalani hidup setelah kabur dari rumah. Butanya arah pada kota seluas Seoul membuat mereka beberapa kali terlempar kesana-kesini demi menyambung hidup. Meski pada akhirnya mereka cukup bersyukur bisa menyewa satu flat kecil dan mendapat pekerjaan di beberapa tempat. Soojung bekerja sebagai seorang office-girl di suatu perusahaan sedang Sooyoung diterima bekerja di sebuah bar gang sempit.

Susahnya mencari pekerjaan saat itu membuat keduanya tidak memiliki banyak pilihan. Dimanapun saja asal didapat dengan cara yang benar, semua mungkin akan baik-baik saja. Ya, mungkin.

Soojung kira dia sudah cukup baik dalam menjaga dan melindungi Sooyoung sehingga dia tidak perlu mengkhawatirkan adiknya yang bekerja di bar. Tapi pada suatu malam, ketika dia terlalu lelah dan menikmati alam mimpi, isak tangis Sooyoung memecah damainya malam itu.

Sooyoung hamil. Hasil perbuatan seorang pria di bar yang memaksanya meladeni nafsu di bawah kontrol alkohol. Sooyoung yang lemah tidak bisa melawan dengan banyak tenaga. Meski ia beberapa kali menendang dan meminta pertolongan pada siapapun, dia kalah oleh kebejatan alkohol yang mencacati pikiran logis manusia.

Sebagai seorang kakak, Soojung tentu menuntut pertanggungjawaban atas kehamilan adik kembarnya. Tapi lelaki bernama Byun Taekwon itu justru mengelak—menolak peduli dengan apa yang terjadi pada Sooyoung. Hingga pada akhirnya ketika Soojung murka mendengar kabar Byun Taekwon yang justru akan menikahi wanita lain, Soojung menjadi pengacau paling menakutkan.

Membeberkan bukti secara gamblang dan berkata jika Byun Taekwon itu tak ubahnya bajingan kelas kakap, maka pernikahan itupun di batalkan. Semua berantakan, rencana Byun Taekwon untuk menjadi menantu seorang jendral gagal total dan dia terpaksa menikahi Sooyoung yang sudah berbadan dua.

Seiring berjalannya waktu, Soojung kira semua akan berjalan lebih baik. Sooyoung sudah dipertanggungjawabkan dan kehidupan mereka akan baik-baik saja. Tapi ternyata salah, Soojung sempat lupa jika Byun Taekwon itu lelaki paling jahanam di muka bumi ini. Kebahagiaannya akan pertanggungjawaban atas kehamilan Sooyoung hanya berlangsung sekejap. Karena dibulan kesembilan, yang mana detik-detik menjelang kelahiran anak dalam kandungan Sooyoung, Soojung menemukan fakta jika selama ini adiknya diperlakukan tidak layak. Dan puncaknya, Sooyoung memiliki kelainan yang mana hanya bisa diselamatkan satu diantara dua; ibu atau anak.

Sebuah pukulan telak, dimana Baekhyun merasa kehidupan ibu dan bibinya dimasa lalu penuh derita. Rasanya seperti tercubit dengan sangat kuat hingga ulu hatinya terasa ngilu dan benteng pertahanan terakhir airmatanya mulai rapuh.

Dia menangis, menyebut dalam hati nama ibu dan bibinya yang mengalami banyak sekali penderitaan demi mempertahankan satu nyawa suci kala itu—Byun Baekhyun.

"Hingga suatu hari, saudara kembar ibumu bertemu dengan ayahku yang seorang duda. Saat itu aku masih berusia 4 tahun. Aku baru saja kehilangan ibu kandungku yang meninggal karena kecelakaan." Chanyeol mengusap derai airmata yang Baekhyun keluarkan. Tak lupa ia juga mengusak lembut kepala Baekhyun yang sepenuhnya sudah berada dalam rengkuhan di dadanya. "Mau ku ceritakan selanjutnya? Atau lain kali?"

"Tidak. Sekarang saja."

Tahun pertama setelah kematian Sooyoung, Soojung mulai menata diri untuk kehidupannya. Soojung memutuskan untuk kembali ke Jeju, mengabarkan pada orangtuanya jika Sooyoung sudah pergi. Kabar itu disambut derai air mata. Bahkan ayahnya yang sudah berusia itu mengalami serangan jantung dadakan dan dua hari kemudian pergi menyusul Sooyoung.

Tinggallah Soojung dengan sang ibu, yang mana keadaan ibunya saat itu tak lebih baik dari apapun. Ibunya sakit-sakitan, hanya bisa terbaring di kamar tanpa bisa melakukan apa-apa. Dan ketika dua bulan lamanya keadaan berangsur seperti itu, sang ibu mulai merasa jika waktunya sudah dekat.

Suaranya yang mulai melemah memberitahukan jika setelah ini hanya Soojung penerus seluruh usaha yang sudah di bangun sang ayah. Semua harta otomatis akan berpindah tangan pada Soojung tanpa terkecuali. Tapi Soojung sendiri tidak menginginkan semua itu. Untuk apa memiliki harta banyak tapi tak ada satupun yang bisa ia sebut sebagai keluarga.

Dihari ketika hujan deras turun dan ibunya juga memutuskan pergi untuk menyusul ayah juga Sooyoung, Soojung mulai menata diri untuk hidupnya. Dia bangkit, meneruskan apa yang menjadi tanggungjawabnya. Soojung juga memutuskan untuk menerima pinangan seorang pengusaha kaya yang pernah penjadi atasannya saat bertahan hidup di Seoul. Seorang pemilik perusahaan properti ternama dan juga duda beranak 1 yang baru ditinggal sang istri karena sebuah kecelakaan.

"Bibimu wanita yang baik. Meski aku hanya anak tiri, tapi tidak pernah satupun aku diperlakukan buruk. Dia sangat menyayangiku dan juga suatu hari, ada satu pengakuan yang membuatku juga ayah sangat terkejut. Bibimu berkata jika beliau adalah pewaris tunggal semua harta dari kakek nenekmu. Tapi Ibu..." Chanyeol menjeda sejenak, menangkup perasaan sedih yang sama dalamnya ketika mengingat sosok Soojung yang sudah sangat ia sayangi. "...tidak menginginkan semua itu. Ibu berkata jika ada satu orang yang berhak mewarisi semua itu. Yaitu kau, Baekhyun."

Soojung memutuskan untuk memberi semua warisan yang ia miliki pada anak Sooyoung yang dirawat oleh Byun Taekwon. Diawal perjumpaannya, Byun Taekwon masih sepicik dulu. Dia tau tentang latar belakang keluarga Sooyoung dan Soojung yang ada di Jeju. Dia menuntut hak waris atas apa saja yang diwariskan pada mendiang Sooyoung. Soojung jelas menolak, ia mengingkar jika semua harta warisan itu sudah di jual untuk melunasi hutang. Dan semua itu berakibat dengan ditutupnya akses Soojung bertemu dengan buah hati adik kembarnya.

Tahun terus berganti dan Soojung masih belum menemukan waktu yang pas untuk memberitahu perihal warisan yang sudah sepenuhnya dialihkan atas nama Byun Baekhyun. Semua itu karena Byun Taekwon yang masih gencar mencari sisa warisan istrinya yang bisa ia kuasai.

"Itulah kenapa kau tidak pernah dilepas. Karena ayah dan nenekmu yakin suatu saat warisan-warisan itu akan jatuh sepenuhnya padamu. Tapi sayangnya mereka salah perkiraan, karena aku sudah berjanji pada Ibu untuk menjaga semua yang sudah menjadi hakmu sampai kau sendiri yang menerimanya. Bukan orang lain." Chanyeol menengadah sedikit, merasa puas karena sampai detik ini dia mampu menjaga amanat Ibu tirinya. "Sekarang kau paham, kan, kenapa aku begitu mati-matian mempertahankanmu dan juga warisan itu? Aku sudah memperhitungkan sejak awal kemungkinan apa saja yang terjadi. Aku menyimpan banyak jalan untuk semua kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi."

"Seharusnya kau mengatakan semua itu dari awal. Bukan malah membuatku bingung dengan perlakuanmu."

"Itu kesalahanku. Aku yang terlalu menggebu pada dirimu dan kau yang ternyata punya kepala sekeras batu."

Pelukan mereka di pererat setelah bongkahan batu besar yang selama ini Chanyeol pikul

"Ibu sangat menyayangimu, Baekhyun. Ibu menjamin semua kebutuhanmu secara diam-diam. Itulah kenapa selama ini dimanapun kau bersekolah, kau tidak pernah terbebani untuk masalah pembayaran. Aku terkadang merasa iri atas semua rasa sayang itu. Tapi aku sadar, itu karena kau satu-satunya wujud nyata terakhir yang bisa Ibu jaga ketika dimasa lalu Ibu merasa gagal menjaga ibumu.

Dan ketika kau berusia 16 tahun, Ibu meninggal karena sebuah penyakit mematikan. Aku harus kehilangan sosok ibu dua kali, itu sangat menyakitkan untukku, Baekhyun."

Baekhyun mendongak, melihat wajah di atasnya yang tergambar sendu dengan gurat kesedihan yang mulai menyebar.

Kini giliran Baekhyun yang menyeka airmata Chanyeol. Lelaki itu benar-benar merasakah kesedihan yang mendalam, bahkan hanya dengan mengingatnya saja ia sudah berurai banyak air mata.

"Sebelum Ibu pergi, Ibu berpesan agar aku bisa menjagamu. Ibu memberitahu semua rahasia itu, tanpa ada satu hal yang di tutup-tutupi. Hingga dihembusan terakhir napasnya, Ibu masih berkata agar aku menjagamu. Apapun keadaannya."

"Chanyeol,"

"Ya?"

"Terima kasih."

"Untuk?

"Untuk menjagaku selama ini." Baekhyun mengeratkan pelukannya, mendekap erat tubuh tinggi yang semakin luas memiliki hatinya. "Dan untuk itu aku juga akan keadaannya."

.

Pagi setelah menyiapkan keperluan Chanyeol yang memaksa untuk pulang dari rumah sakit, Baekhyun bergegas menuju rumah Luhan dengan diantara Kai. Baekhyun akan mengambil beberapa pakainnya karena ia memutuskan untuk kembali ke rumah Chanyeol dan merawat lelaki itu sampai sembuh total. Lagipula Baekhyun juga merasa tidak enak jika terus-terusan menggantungkan diri pada Luhan.

Dan ketika mobil berhenti tepat di depan rumah Luhan, Baekhyun merasa ada yang tidak beres. Bukan karena Luhan yang menumpuk sampah di depan rumah, tapi keadaan buruk seperti terkena imbas puting beliung. Tanaman kesayangan Luhan hancur berantakan, pecahan kaca menyambut setapak kecil yang menuju ke pintu rumah, dan yang mengejutkan lagi adalah keadaan yang ada di dalam lebih memprihatinkan.

Baekhyun dan Kai sontak berlari dan mencari Luhan. Mereka menuntut jawaban atas kekacauan ini dan lebih dari itu mereka ingin memastikan keadaan Luhan. Dalam situasi ini Baekhyun mulai memiliki banyak spekulasi. Terburuknya adalah ini bentuk kekacauan lain yang timbul setelah dia di kejar oleh orang-orang tak di kenal di kampus yang menyebabkan Chanyeol babak belur.

"Ya Tuhan! Kau baik, Luhan?" Baekhyun menemukan Luhan sedang berkemas diantara kekacauan sekitarnya.

Luhan tersenyum, menarik resleting terakhir dari tas hitam besar yang ia leatakkan di kasur.

"Apa yang terjadi?!" Itu Kai, tak kalah terkejutnya karena isi kamar Luhan juga sama buruknya dengan keadaan di luar. "Siapa yang melakukan ini?"

Luhan hanya bergeming. Kemudian Luhan membawa kakinya melangkah untuk memeluk Baekhyun erat. "Aku akan pulang ke China. Maaf harus meninggalkanmu."

"Lu, katakan ada apa?!"

"Jaga dirimu baik-baik ya, Baek? Kalau si kecil dalam perutmu sudah lahir, kabari aku. Aku pasti akan datang menjenguk."

"Luhan! Katakan apa yang terjadi!"

Lagi-lagi Luhan hanya tersenyum. Kegetiran dari tarikan senyumnya, juga matanya yang berbingkai lingkar hitam, Baekhyun paham betul sesuatu yang mencekam telah Luhan alami. Dan bisa dipastikan siapa dalang dari semua kekacauan yang membuat sahabat terbaik Baekhyun hingga memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

.

Sepanjang perjalanan kembali ke rumah Chanyeol setelah mengantar Luhan ke bandara, baik Baekhyun maupun Kai tak banyak mengutarakan kata. Keduanya tampak sibuk—Kai dengan mobil yang ia kemudikan dan Baekhyun dengan bayangan terburuk atas apa yang Luhan ceritakan.

Beberapa malam belakangan, ketika Baekhyun sibuk merawat Chanyeol, Luhan mendapat sebuah teror. Mulanya hanya sebuah batu yang di lempar hingga memecahkan kaca jendela, tapi di hari-hari selanjutnya teror-teror terus terjadi. Puncaknya adalah semalam, ketika Luhan baru pulang bekerja, beberapa orang tak dikenal mulai merusak semua yang ada. Luhan tentu terkejut, dia sudah berteriak minta tolong tapi sebuah moncong pistol menjadi pembungkam sempurna.

Luhan dipojokkan ketika orang-orang itu merusak rumahnya. Luhan juga sempat menangkap satu pandangan pada seseorang yang ada di depan rumah dengan senyum penuh iblis. Siapa lagi jika bukan ayah Baekhyun dengan segala kehitaman yang melingkup. Tapi Luhan tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya pasrah ketika mereka merusak rumahnya.

"Nona.."

"Tolong jangan katakan apapun pada Chanyeol." kata Baekhyun ketika mereka sudah sampai di rumah.

Keadaan Baekhyun dan Chanyeol memang sudah lebih baik. Mereka sudah saling bertukar senyuman meski beberapa kali Chanyeol menangkap basah Baekhyun yang melamun setelah kepulangannya dari tempat Luhan.

Chanyeol bukannya tidak peduli. Dia sudah bertanya apa ada sesuatu yang mengganggu, tapi Baekhyun hanya menggelengkan kepada dan berkata semua baik-baik saja. Meski aneh, Chanyeol masih mencoba untuk tidak bertanya lagi. Apapun itu asal Baekhyun berada dalam jangkauan matanya, Chanyeol sudah cukup lega.

Hari-hari selanjutnya pun masih sama. Baekhyun masih tetap dalam keadaan yang –terkadang- murung. Saat malam tiba dan berada dalam selimut yang sama dengan Chanyeol, Baekhyun masih berkata jika tidak ada yang terjadi ketika Chanyeol menanyakan apa yang membuat Baekhyun kadang tak fokus.

"Apa yang mengganggumu, Baek?" tanya Chanyeol disuatu malam sebelum akhirnya mereka menjemput mimpi.

"Tidak ada."

"Aku memang tidak peka, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang sedang kau pikirkan."

Alih-alih menjawab, Baekhyun justru merapatkan tubuhnya pada Chanyeol dan memasukkan diri dalam dada lelaki itu. Ini lebih baik—bersembunyi sejenak agar keadaan tidak semakin buruk.

"Itu hanya perasaanmu saja."

"Baekhyun—"

"Mau menciumku?" Baekhyun mendongakkan kepalanya, mengangkup penuh rahang Chanyeol dan menyamakan posisi hingga kening mereka saling beradu.

"Ini bukan seperti dirimu, Baek."

"Mau tidak menciumku? Sebelum aku berubah pik—mmphh.."

Chanyeol memajukan diri terlebih dahulu hingga bibirnya bisa menyentuh bibir Baekhyun. Kecupannya terasa lembut, bahkan silatan lidahnya tak terasa menuntut hingga Baekhyun sepenuhnya terlarut dalam ciuman itu.

Keduanya beradu lumatan, ketika Chanyeol menikmati bibir bawah Baekhyun maka Baekhyun menikmati bibir atas Chanyeol. Dalam keadaan ini, Baekhyun merasa dirinya terlalu agresif hingga beberapa kali ia menggigit kecil bibir Chanyeol dan membuat lelaki itu mengerang tertahan.

"Santai saja, aku milikmu sepenuhnya."Kata Chanyeol ketika ia menjauhkan diri. Dilihatnya bibir Baekhyun yang sudah membengkak dan lelehan saliva yang segera ia sapu dengan ibu jari.

Tanpa membalas perkataan Chanyeol, Baekhyun kembali menyatukan kedua bibir mereka. Kali ini Chanyeol membiarkan Baekhyun mengambil dominasi. Dia membiarkan Baekhyun mengecap dalam kerakusan seluruh bibirnya bersama erangan-erangan kecil ketika Chanyeol memberi pijatan pada dua payudara Baekhyun yang semakin membesar.

Lalu ketika gemelitik tangan Chanyeol mulai turun, mengelus perut Baekhyun yang mulai membuncit dan melakukan gerak memutar teratur, Baekhyun mengerang lebih parah. Keningnya bertaut tidak beraturan dan sebelah tangannya memegang perutnya.

"Astaga, Baek! Apa aku menyakitimu?"

"Tidak. Hanya saja,"

"Hanya saja?"

"Hanya saja aku merasa ada yang melilit."

"Apa kita perlu ke rumah sakit?"

"Tidak perlu, Chanyeol. Tidak terlalu parah."

"Tapi aku takut terjadi sesuatu."

Baekhyun bisa melihat bagaimana Chanyeol memasang raut kekhawatiran yang parah dengan dua iris yang bergetar ketakutan. Salah-salah tangannya yang membentuk gerakan teratur diperut Baekhyun tadi adalah penyebab utama mengapa Baekhyun mengerang kesakitan.

"Tidak apa. Sekarang sudah lebih baik."

"Yakin?"

"Ya, tentu saja."

.

Usia kandungan Baekhyun semakin hari semakin bertambah dan perutnya semakin bervolume. Meski masih menginjak bulan kelima, tapi melihat dari besar perutnya saja sudah seperti hamil 7 bulan. Baekhyun sempat merasa khawatir, sesekali ia mengajak Chanyeol untuk berkunjung ke rumah sakit memeriksa keadaan kandungannya. Beruntung dokter berkata jika tidak ada yang perlu di khawatirkan. Itu semua karena memang bayi dalam kandungan Baekhyun berukuran lebih besar dan tidak ada sesuatu yang buruk.

Chanyeol memenuhi kebutuhan Baekhyun secara maksimal. Dia bahkan mendatang ahli gizi langsung untuk mengatur pola makan Baekhyun agar tetap terjaga meski sedang hamil. Baekhyun sendiri tidak terlalu mempermasalahkan, selama semua itu demi si kecil dalam kandungannya, dia bersedia melakukan apapun.

Baekhyun juga sudah tidak terlalu memikirkan bagaimana lanjutan keserakahan ayahnya. Chanyeol berkata jika Byun Taekwon sudah masuk dalam daftar buronan sehingga keberadaannya di dunia luar tidak bisa sebebas dulu. Perkiraannya, lelaki itu sedang berusaha kabur sejauh mungkin karena Chanyeol benar-benar meminta pihak kepolisian mengerahkan semua petugas untuk meringkus Byun Taekwon.

"Apa kabar kantor setelah aku cuti selama ini, Kai?" Pertanyaan pertama setelah Chanyeol melesakkan diri di kursi kerja ruang pribadinya. Dia masih dalam proses cuti setelah dinyatakan sembuh dari sakitnya dan memilih menangani masalah perusahaan di rumah saja. Itupun hanya sesuatu yang bersifat mendesak. Jika tidak, Chanyeol menyerahkannya pada Kai.

"Dua hari lagi kita akan ada pertemuan di Jepang tentang perusahaan cabang yang ada di Tokyo." Kai meletakkan beberapa dokumen di depan meja kerja Chanyeol. Lelaki kepercayaan Chanyeol itu memperbaiki penampilan, dia menjadi sedikit lebih bergaya dengan membuat tatanan rambut up dan mewarnainya dengan warna bright-brown; sedikit kontras dengan keadaan kulitnya yang eksotis.

"Pastikan tidak ada dokumen yang miss. Kantor cabang di Jepang rencananya akan menjadi yang terakhir sebelum kita beralih lapak ke Dubai."

"Nanti sore juga ada pertemuan dengan Tuan Jung untuk membahas sponsorship yang mereka ajukan. Saya sudah meneliti tentang hal itu dan saya rasa kita bisa bergabung dengan proyek Tuan Jung."

"Kau atur saja, Kai. Urusan itu ku percayakan padamu."Chanyeol menutup map terakhir yang sudah ia bubuhi tanda tangan."Siapkan mobil, kita ak—"

PRANG!

Suara pecahan itu terdengar cukup keras hingga membuat Kai dan Chanyeol sontak menoleh ke luar. Keduanya lalu berhambur keluar setelah mendengar Kyungsoo menjerit nyaring. Perempuan bersurai sebahu itu tampak terkejut dengan pecahan kaca yang berserakan di sekitarnya dan beberapa batu besar—tersangka utama mengapa kaca jendela itu bisa pecah.

"Kau baik, Soo?"

Kyungsoo hanya bergeming, telunjuknya menunjuk ke luar pintu dengan penuh getar dan mengatakan beberapa orang sengaja melempar jendela dengan batu-batuan besar. Kai dan Chanyeol segera menuju gerbang yang terbuka lebar dengan dua penjaga yang sudah terkapar lemah di tanah.

Salah seorang penjaga itu berkata jika ada sekelompok preman yang tiba-tiba menyerang dan melempar jendela dengan batu. Para penjaga juga berkata jika jumlah mereka lebih dari sepuluh orang sehingga untuk melawan saja penjaga-penjaga itu tak mampu.

"Brengsek!"

Emosi Chanyeol yang sudah turun dalam beberapa hari kebelakang, mendadak menguap ketika ia paham betul siapa dalang di balik penyerangan ini. Tangannya mengepal sempurna, mengumpat dengan kata terburuk pada satu nama yang ia kecam eksistensinya di dunia ini.

"Astaga, ada apa ini?!" Baekhyun yang saat itu sedang berada di kamar cukup terkejut melihat keadaan yang ada di lantai bawah. Dia akan mendekat tapi Chanyeol melarang karena pecahan kaca-kaca itu mungkin bisa mengenai kaki Baekhyun. "Ada apa, Chanyeol? Apa yang terjadi?"

"Byun Taekwon sialan itu sudah terlalu jauh bermain denganku!" geram Chanyeol. Kepalan tangannya mulai parah, bahkan urat-urat kemarahan di dahinya semakin memperjelas jika dia tidak akan menyesal jika harus menghilangkan nyawa pria itu.

.

Byun Taekwon memang simbol dari iblis berwujud manusia. Tindakannya sudah sangat jauh hingga membuat Chanyeol memiliki antisipasi berlebih. Dia memberikan tambahan pion-pion berbadan besar untuk menjaga rumah beserta siapa saja yang ada di sekitarnya. Tidaklah terlalu sulit menebak isi otak udang milik Byun Taekwon yang coba melakukan penekanan dengan teror-teror konyol ini.

Setelah kejadian yang membuat hancur kaca-kaca rumahnya, Chanyeol seperti kesetanan untuk memburu lelaki itu. Peduli setan dengan waktu yang terbuang karena baginya yang terpenting saat ini adalah mengenyahkan si keparat Byun Taekwon.

"Tuan,"

Malam itu Chanyeol baru saja melakukan pertemuan dengan petinggi polisi dan tentu saja yang mereka bahas adalah Byun Taekwon. Chanyeol menyerahkan semua urusan perusahaan pada orang-orang kepercayaannya sedang dirinya dengan dibantu Kai mulai memperluas pencarian pada Byun Taekwon.

"Ya, Kai?"

Kai meregangkan cengkeramannya pada setir mobil, menyingkirkan gelagat gugup dalam dirinya yang sedari tadi menghantui. Dia bukan akan melakukan pengakuan tentang hal buruk yang telah ia lakukan—Kai tidak pernah berkhianat dari Chanyeol.

"Sebenarnya, Tuan Byun tidak hanya menyerang rumah Tuan saja." berkata pada intinya telah Kai pilih. Bagaimanapun juga dia harus mengatakannya pada Chanyeol tentang insiden yang terjadi di rumah Luhan waktu itu.

"Maksudmu?"

Kai hanya perlu merinci bagian dimana malam itu ketika dia dan Baekhyun datang menemui Luhan. Garis merah dari itu semua adalah sosok yang Luhan lihat berdiri di depan dengan senyum sepihak ketika berhasil membuat Luhan takut setengah mati hingga memutuskan kembali ke China demi keadaan yang lebih aman.

Rahang tegas Chanyeol mulai terbentuk, menyelaraskan emosi dalam dirinya yang sudah tidak tau mau ia lanjutkan atau ia bungkus dan di buang ketika kepalan tangannya menghantam telak si keparat Byun Taekwon.

Kai juga menjelaskan jika Baekhyun menyalahkan dirinya karena Luhan dengan sangat terpaksa dilibatkan dalam masalah ini. Keterdiaman Baekhyun kala itu sudah menemui jawaban dan Chanyeol sudah tidak bisa berdiam diri dengan kemuakannya. Apapun itu, hidup atau mati, Chanyeol harus melihat Byun Taekwon menderita lahir-batin.

"Nona Baekhyun melarang saya bercerita karena saat itu keadaan Tuan masih belum membaik."

"Sialan! Aku benar-benar tidak sabar untuk menghabisi nyawa tua bangka itu!"

"Melihat kejadian belakangan ini, kita tidak boleh lengah, Tuan. Maksud saya, kita juga harus memiliki rencana. Tidak boleh gegabah dan yang terpenting lakukan dengan pelan tapi teliti."

Mobil mulai berbelok menuju jalanan lengang ketika Kai dan Chanyeol menyusun rencana. Rencana apalagi jika bukan rencana untuk menangkap basah Byun Taekwon dan membuat lelaki itu membayar semua yang telah dia lakukan. Mungkin dengan memberikan sedikit keringanan untuk bernego dan menggunakan berkas warisan Baekhyun sebagai umpan.

Itu baru rencana awal, yang mana untuk mengembangkan pada rencana lain yang lebih spesifik dan rapi, baik Chanyeol dan Kai akan menunggu hasil dari rencana awal terlebih dahulu.

Byun Taekwon bukan musuh yang mudah. Tindakannya yang blak-blakan justru terkesan keras dengan tidak ada pengendali yang bisa membuat rencana busuknya terhenti. Penyerangan ini tidak akan berhenti dalam sekejab, di lain waktu pasti akan ada hal gila lain yang akan dilakukan tua bangka itu.

Kai dan Chanyeol terlibat dalam sebuah pembicaraan serius. Mereka merencanakan banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjebak Byun Taekwon hingga tidak sadar ketika ada dua mobil di belakang yang membuntuti.

Mungkin benar dengan kesimpulan jika Byun Taekwon akan melakukan segala cara untuk menghancurkan Chanyeol. Bahkan tanpa sepengetahuan Chanyeol sendiri, Byun Taekwon sudah merencanakan hal-hal gila lainnya yang lebih berbaya. Seperti dengan menabrak mobil Chanyeol dari belakang dan membuat sedan hitam mengkilat itu harus mendecitkan rem secara kasar. Tapi sayang, ketika mobil yang Kai kemudikan sudah bisa mengendalikan keadaan, datang mobil lain dengan tabrakan yang sama kerasnya hingga membuat sedan hitam itu terbaik di tengah jalan.

Byun Taekwon tersenyum senang dengan kerja kerasnya kali ini. Dia seperti tertawa di atas nirwana saat memastikan dua orang di dalam mobil naas itu sudah bersimbah darah. Kematian segera mencatat nama Kai dan Chanyeol lalu membawa mereka enyah dari dunia ini. Byun Taekwon sepertinya harus berbangga diri karena dia bisa menghilangkan dua bedebah dalam satu tembakan.

"Pada akhirnya Byun Taekwon adalah pemenangnya!" tawanya menggelegar, mengejek kucuran darah yang sudah keluar dari tubuh Chanyeol juga Kai yang mulai hilang kesadaran.

.

Tidak ada hal yang lebih mencengangkan daripada panggilan Kyungsoo yang menggebu ketika Baekhyun baru saja terlelap dalam mimpi. Separuh nyawanya bahkan seperti terkumpul secara kilat mendengar tiap perkataan Kyungsoo yang juga bersama derai air mata.

Baekhyun merasa lututnya tak memiliki tenaga untuk membuatnya berdiri. Kunang-kunang seperti membawa serta para rombongannya yang berjumlah ribuan hingga memenuhi isi kepala Baekhyun dan membuatnya berputar-putar seketika.

Beruntung Kyungsoo secara sigap menahan dan meneriakkan nama Baekhyun yang hampir limbung karena mendengar kabar Kai dan Chanyeol terlibat kecelakaan parah.

Baekhyun meminta siapa saja untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Dia harus memastikan sendiri keadaan Chanyeol juga Kai yang Kyungsoo katakan menderita luka parah.

Setan seperti berkumpul untuk mengacaukan doktrin Baekhyun agar tidak ada pikiran buruk menyapa. Karena ketika ia berhasil sampai di pintu UGD dan menerjang siapa saja di hadapannya dengan kaki tak beralas apapun, dia benar-benar kesetanan dalam hal menangis.

Dua orang terkapar dengan perban melilit di kepala, tangan, dan kaki. Yang berkemeja merah mendapat lilitan parah dan beberapa orang berbaju putih setengah tergesa membawa masuk kedalam ruang operasi. Itu Kai, dengan tubuh melemah dan kemeja yang bersimbah darah, lelaki itu mendapat kerubungan dokter dan perawat paling banyak sebelum akhirnya masuk ke ruang operasi.

Sedang yang berkemaja hitam memiliki keadaan yang tak jauh berbeda tapi sedikit lebih baik dari Kai. Perban sudah melilit di beberapa sudut tubuhnya, meninggalkan bercak darah yang menempel secara menakutkan.

"Ya Tuhan! Chanyeol!" Baekhyun terguncang melihat Chanyeol dalam keadaan separah itu dan kesadaran yang sepertinya mulai bergantung pada sebuah alat pemacu detak jantung.

Kyungsoo yang baru sampai ke ruang perawatan UGD segera menarik Baekhyun menjauh ketika dokter memberi tindakan pada tubuh terkapar Chanyeol.

Tangis Baekhyun pecah seketika. Hatinya teriris sakit ketika Chanyeol tak kunjung memiliki kesadaran setelah beberapa kali tubuhnya tersentak karena alat pemacu jantung. Tubuhnya tak sanggup lagi menopang dirinya yang sedang memiliki banyak duka. Dalam pelukan Kyungsoo yang juga berurai air mata, Baekhyun memanjatkan satu doa kecil. Berharap Tuhan akan mendengar segala tangis pilu karena kesadaran Chanyeol yang sepertinya sudah mencapai puncaknya.

.

"Sebenarnya apa maumu?!"

Pada akhirnya Baekhyun memilih jalan berlainan dari apa yang sudah ia ikat rapat-rapat sebagai sebuah keputusan. Bukan saatnya berkokoh hati jika yang menjadi taruhan adalah nyawa Chanyeol yang hampir melayang.

Dua jam yang lalu Chanyeol berhasil melewati masa kritis setelah mengalami luka parah. Meski belum membuka mata dan bercerita kronologis kecelakaan yang menimpanya, Baekhyun sudah bisa memutuskan ulah siapa semua ini. Tidak mungkin Kai seceroboh itu kehilangan kendali dalam mengemudikan mobil. Terlebih pihak kepolisian yang menangani kecelakaan ini sudah memastikan jika yang terjadi pada Chanyeol dan Kai adalah sebuah kesengajaan. Bukti-bukti sudah terkumpul, hanya saja TKP merupakan jalanan lengang yang remang, terlalu sulit mencari tau siapa yang sudah membuat kecelakaan ini.

Tapi Baekhyun sudah bisa memastikan 100% kepada siapa ia akan datang dan menantang dengan keberaniannya. Siapa lagi jika bukan Byun Taekwon.

"Tidakkah kau puas dengan membuat Luhan ketakutan?!"

"Temanmu itu hanya gertakan kecil." Lelaki itu menjentik kelingkingnya dengan senyum terlaknat seluruh dunia. "Dan yang baru dialami oleh kekasihmu itu berada pada tingkat gertakan sedang!"

"Dasar manusia tak berhati!"

"Astaga anakku sayang," Byun Taekwon mendekat dan memutari tubuh Baekhyun yang sudah naik turun karena nafasnya yang penuh emosi. "Hidup zaman sekarang tidak perlu hati. Kau tidak akan bisa makan kenyang jika hanya dengan hati. Benar, kan?"

Baekhyun hanya mendecih. Keberaniannya belum surut meski sekarang ia berada di kubangan Byun Taekwon bersama anak buahnya. "Berhenti melukai orang di sekitarku!"

"Ya, ayah akan berhenti melakukan itu semua, sayang. Tapi setelah kau menyerahkan semua yang menjadi hak warismu."

Tebakan Baekhyun benar, alasan dibalik semua tindakan keji Byun Taekwon adalah masih seputar harta yang berusaha direbut.

"Aku akan memberikannya padamu, tapi tolong, berhenti menyakiti Chanyeol dan juga siapapun yang ada di sekitarku."

"Negosiasi yang sangat mudah." Senyum sepihak itu muncul dari bibir Byun Taekwon dan membuat Baekhyun benar-benar muak. "Tentu, putriku yang cantik. Ayah akan melakukannya asal kau tidak hanya bermanis mulut memberikan semua yang ayah inginkan."

Byun Taekwon di ambang kemenangan. Usahanya selama ini serasa mendapat hasil yang memuaskan, padahal ia baru melakukan sebagian kecil rencananya tapi Baekhyun sudah datang dan menawarkan sesuatu yang ia buru selama ini.

"Jadi, kapan aku bisa mendapatkan semua itu?" kilatan mata pria berusia menjelang 60 tahun itu berubah menjadi runcing. Bahkan seperti tidak ada hal apapun yang bisa mematahkannya meski dengan batu seberat ribuan ton.

"Akan ku bawakan semua padamu. Tapi beri aku waktu."

"Berapa lama?"

"Satu bulan."

"Itu terlalu lama, putriku sayang. Bagaimana jika dua minggu?"

Baekhyun ingin menolak, tapi melihat bagaimana kejamnya rencana lelaki itu jika Baekhyun terlalu lama meminta waktu, ia terpaksa menyetujui. "Baik. Dua minggu."

.

Ada waktu dimana Baekhyun mulai terlihat padam ketika banyak pikiran berkecamuk. Sesuatu memaksanya untuk tetap berdiri padahal dilain hati dia ingin pergi. Bukan berdasar alasan seperti yang dulu, melainkan karena dirinya sendiri merasa sebagai pembawa aura kesialan.

Ya, apapun itu sebutannya, Baekhyun merasa kehadirannya hanya akan membuat banyak pihak rugi. Dia ingin pergi, sangat jauh hingga Chanyeol yang selalu berkata bisa mencari kemanapun Baekhyun pergi dengan kekuasaannya yang meluas, tidak bisa menemukannya. Tapi ternyata itu terlalu sulit.

Melepas dan dilepas bukan pekara mudah. Sekalipun hal itu berdasar pada kesepakatan, yang namanya kehilangan adalah penyakit hati yang akan menimbuskan bekas permanen. Dan berdasar pada itu semua akhirnya Baekhyun menyerah untuk niatan pergi.

Dia akan tetap disini, menapakkan kaki pada dunia yang ia harap akan berakhir bahagia. Baekhyun percaya jika pada akhirnya dia akan bahagia. Meski waktu untuk bahagia itu masih menjadi misteri, setidaknya ada harapan yang tergantung dan Baekhyun hanya perlu bersabar menunggu.

"Baek.." suaranya parau, di antara beberapa perban yang membungkus tangan dan kakinya, Chanyeol mencoba menyerukan panggilan pada Baekhyun yang duduk menangkup wajah di samping ranjangnya.

Baekhyun menoleh, mengusap cepat air mata yang menggenang, dan memanggil Chanyeol banyak-banyak setelah hampir dua hari lelaki itu tidak sadarkan diri.

"Sebentar aku panggil dokter." Tapi tangan Baekhyun di tahan. Meski tidak sekeras biasanya, setidaknya setiap inchi tubuhnya bisa menerjemahkan jika itu adalah milik Chanyeol.

"Tidak..usah. Tetaplah di sini."

Baekhyun kembali duduk, menangkup penuh jemari Chanyeol dan memberinya banyak kecupan atas rasa syukur karena ia telah tersadar. "Apa kau butuh sesuatu? Katakan, aku akan memberikannya."

Lelaki itu menggeleng. Satu senyum ia paksa agar tersaji secara hangat untuk Baekhyun. "Dirimu. Aku cuma butuh dirimu."

"Aku disini. Aku tidak akan kemana-mana."

"Ya, tetaplah disini." Sebanyak waktu yang kita perlu.

Kesadaran Chanyeol lebih cepat dari yang diperkirakan. Kondisi fisiknya perlahan mulai menunjukkan kabar baik hingga tepat di hari kesepuluh pasca kesadarannya, Chanyeol kembali memaksa untuk pulang. Dokter masih melarang mengingat proses penyembuhan dirinya belum seratus persen. Tapi siapa yang bisa menahan kehendak si arogan Park itu, meski Baekhyun turun tangan untuk membujuk, keinginan Park Chanyeol tetaplah yang harus dilakukan.

Hingga akhirnya di hari kesebelas, Chanyeol bisa tersenyum lebar setelah kembali ke singgasananya bersama sang ratu. Meski masih harus menggunakan kursi roda, Chanyeol tidak mempermasalahkannya. Asalkan dia pulang dan bebas dari acara suntik-menyuntik yang dilakukan para dokter itu.

"Kau sudah keluar paksa dari rumah sakit dan kembali ke rumah." Baekhyun menaikkan selimut sebatas dada pada Chanyeol yang sudah berbaring di ranjang. "Sekarang giliranku untuk memaksamu menuruti semua yang aku perintahkan."

"Apapun untukmu, sayang."

"Jadi tolong letakkan ponselmu di atas nakas, Chanyeol."

"Sebentar saja."

"Aku sedang tidak suka di tolak. Jadi letakkan sekarang atau aku akan menyeretmu kembali ke rumah sakit." Matanya melotot dan itu cukup membuat Chanyeol ciut seperti anak kecil yang ketahuan mematahkan lipstik ibunya. "Dan siapa yang menyuruhmu mengganti ponsel dengan remot televisi."

Benda hitam panjang itu Baekhyun ambil paksa dan ia lempar ke sofa. Sifat kejamnya mulai keluar, mirip ibu tiri yang ada dalam dongeng anak-anak.

"Kejam sekali." Gerutu Chanyeol sambil membelakangi Baekhyun yang sudah berkacak pinggang.

"Demi kebaikanmu."

"..."

"Sekarang tidur. Istirahat."

"..."

"Chanyeol?"

"..."

"Chanyeol?" Baekhyun memutar sekitar ranjang untuk memastikan alasan mengapa lelaki itu tidak menjawab. "Chanyeol..."

"Katanya suruh tidur. Kalau kau terus memanggilku seperti itu, kapan aku tidurnya?"

"Tapi jawab dulu kalau kau belum benar-benar tidur."

"Astaga. Jika aku tidak sedang sakit, kau pasti sudah ku tiduri."

"Mulutmu!"

"Sini, temai aku tidur." Chanyeol menepuk sisi ranjangnya yang kosong.

"Aku harus membereskan pakaianmu dulu."

"Aku mempekerjakan banyak orang di rumah ini bukan untuk menganggur. Jadi biar mereka saja yang melakukan."

Belum sempat Baekhyun membuat jarak di antara bibirnya, ia sudah lebih dulu di tarik dan mendapat kungkungan kuat dari Chanyeol. Nafas mereka sudah beradu dalam jarak dekat, berontak sedikit saja pasti sentuhan bibir akan Baekhyun dapatkan. Untuk itu dia hanya bergeming—menanti Chanyeol yang memulai terlebih dahulu dan dia akan kembali menjadi pihak yang mengimbangi.

Sebelah pipinya di tangkup lembut olehh tangan Chanyeol, mengusaknya dengan banyak cinta hingga Baekhyun mulai terpejam dengan kesadaran yang tidak bisa di kondisikan.

"Kau jadi semakin cerewet belakangan ini." suaranya terdengar lembut.

"Itu karena kau yang tidak bisa diatur."

"Tapi aku suka kau yang cerewet seperti ini."

"Sebenarnya ini bukan cerewet, tapi bentuk perhatianku pada calon ayah dari anakku."

Keduanya tersenyum. Pembahasan tentang anak selalu menjadi hal utama yang membuat keduanya berbahagia dengan kadar yang banyak. Beberapa bulan lagi mereka akan menjadi orangtua, menimang si kecil berwajah malaikat dan membesarkannya dengan cinta. Baik Chanyeol maupun Baekhyun sudah tidak sabar menanti hari dimana mereka akan berstatus baru; orangtua.

"Nona, bahan masakannya sudah siap." Adalah sesuatu yang membuat Chanyeol mengerang kesal ketika ia akan sampai menggapai bibir Baekhyun. Siapapun itu pegawainya yang ada di balik pintu, dipastikan akan mendapat omelan panjang karena berani mengganggu waktu Chanyeol yang akan menyesap kenikmatan di bibir Baekhyun.

.

Chanyeol melempar gelas berisi air yang ada di atas meja kerjanya ketika Kai datang membawa banyak laporan yang membuatnya marah. Kai yang juga belum sepenuhnya sembuh harus tergopoh-gopoh berjalan ke ruang kerja Chanyeol yang ada di rumah dan melaporkan semua yang ia dapat dari beberapa orang di kantor.

"Pabrik di Bucheon mengalami kerusakan parah setelah ada penyusup membakar ruang produksi. Beruntungnya tidak ada korban, tapi bisa dipastikan kita mengalami kerugian hampir 10 juta won. Semua bahan mentah tidak ada yang bisa diselamatkan."

"Brengsek!"

"Taemin baru saja menghubungi saya dan mengatakan jika kantor di Seoul hampir saja di rusak oleh seorang penyusup. Targetnya adalah ruangan Anda, Tuan. Tapi pihak keamanan bergerak cepat sehingga bisa segera ditindak lanjuti ke kantor Polisi."

"Kau sudah memeriksa CCTV sekitar?"

"Sudah, Tuan. Saya sudah menghubungi pemantau di kantor dan..."

"Dan?" Chanyeol menaikkan sebelah alis ketika Kai menggantung kalimatnya.

"Mereka adalah anak buah Tuan Byun Taekwon."

"Keparat!" kali ini yang menjadi sasaran adalah tumpukan map yang bertebaran karena Chanyeol melemparnya secara kasar ke lantai.

"Polisi sudah meringkusnya, tapi karena dia memberontak dan berusaha kabur sehingga pihak kepolisian terpaksa memberinya tembakan hingga tewas."

Senyum sepihak Chanyeol sedikit muncul meski harapannya yang bisa ditembak hingga tewas adalah Byun Taekwon. Tapi setidaknya satu orang tidak berguna yang mendeklarasikan diri sebagai bawahan Byun Taekwon itu sudah enyah dan bertemu maut.

"Baiklah, hubungi Taemin dan katakan pada siapa saja yang ada di kantor untuk waspada. Katakan juga pada pihak keamanan untuk lebih perketat siapa saja yang masuk akan masuk ke dalam kantor."

"Ya, Tuan."

.

Sepertiga malam sudah tiba dan Baekhyun masih belum bisa memejamkan matanya. Sebenarnya Baekhyun sedang dalam masa gelisah mengingat besok pagi adalah hari keempatbelas yang ia janjikan. Byun Taekwon sudah memberikan peringatan-peringatan lewat kekacauan yang dibuat dipabrik dan kantor yang Chanyeol pimpin.

Baekhyun mendengarnya, semua yang Kai laporkan pada Chanyeol tadi sore. Sejak saat itu kegelisahan Baekhyun bertambah parah karena bisa saja Byun Taekwon kembali menyerang Chanyeol. Sudah cukup lelaki itu memberi penderitaan pada Chanyeol hanya untuk sebuah warisan.

Untuk itu, ketika Chanyeol sudah benar-benar terlelap dan tidak memberikan reaksi saat Baekhyun melepas pelukan dalam tidurnya, dia bergerak dengan langkah kecil-kecil menuju ruang kerja Chanyeol.

Baekhyun merasa dirinya teramat hina. Setelah semua yang Chanyeol lakukan untuk melindunginya dan juga menjaga amanah yang diberikan oleh bibinya, Baekhyun justru bertindak sebagai pengkhianat paling hina. Baekhyun sama sekali tidak menginginkan keadaan ini. Hanya saja jika nyawa Chanyeol dan siapa saja yang ada di sekitarnya kembali menjadi ancaman, Baekhyun tidak bisa diam.

Setelah ini jika Chanyeol akan murka dan marah secara besar-besaran dengan apa yang sudah Baekhyun lakukan, dia akan terima. Sudah sepantasnya seorang pengkhianat mendapat hukuman dan mengharap ampunan tidak pernah Baekhyun pikirkan. Dibencipun Baekhyun akan terima. Terlalu banyak hal buruk yang sudah ia lakukan sedang Chanyeol selalu menutupinya dengan sebuah pengorbanan.

Berkas-berkas itu tersimpan di lemari pribadi yang ada di ruang kerja Chanyeol. Dengan langkah dan tangan bergetar, Baekhyun mengambil berkas yang ia yakini bisa menghentikan tindakan brutal Byun Taekwon.

Langkahnya masih mengendap-endap ketika keluar gerbang dan menemui Byun Taekwon di sebuah gudang kosong. Kemuakannya kembali menyala, membuat Baekhyun ingin menghunus pria di depannya itu dengan apapun yang mematikan.

Byun Taekwon bertepuk tangan girang melihat Baekhyun yang tidak main-main dengan janji mereka. "Ku kira kau tidak akan datang."

"Aku bukan seorang pengecut!"

"Ya, ayah akui itu, sayang."

"Langsung saja." Baekhyun maju mendekat dan mendorong berkas-berkas itu di depan dada Byun Taekwon dengan kasar. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau jadi berhenti mengacau apapun yang berhubungan tentang Chanyeol."

"Sayangnya ayah seperti kecanduan menyiksa si Park sialan itu. Jadi, akan ku pikirkan hal itu."

"KAU SUDAH BERJANJI, KEPARAT!"

"Berteriak seperti itu pada ayahmu bukanlah tindakan yang sopan, putriku sayang."

"SIAPA YANG PEDULI DENGAN BEDEBAH SEPERTIMU!"

Lengan Baekhyun ditarik paksa dan dicengkeram dengan keras. Kilat mata Byun Taekwon mendadak penuh api, tapi Baekhyun tak gentar dengan menunjukkan sorot mata menantang.

"Aku masih harus membalas Park Chanyeol karena salah satu anak buahku tewas. Dia harus membayar atas semuanya! Termasuk membuatku menunggu lama untuk mendapatkan berkas warisan ini!"

"Jangan..jangan sentuh Chanyeol!"

"Tergantung bagaimana kesepakatan baru yang harus kita buat." Cengkeraman itu dilepas, Baekhyun merasa lengannya hampir patas setelah mendapat perasan menyakitkan. "Itupun jika kau menyetujuinya."

"Katakan! Katakan apa yang kau inginkan!"

Byun Taekwon suka cara Baekhyun yang cepat menyerah hanya karena satu nama. Tidak disangka semua akan semudah ini pada akhirnya. "Serahkan dirimu sebagai ganti dari nyawa Park Chanyeol."

"Baiklah." Baekhyun menelan ludah sedikit kasar. Anggap saja ini adalah tebusan untuk semua pengorbanan yang Chanyeol berikan. Entah apa yang akan ia dapatkan ketika mengikuti tawaran Byun Taekwon, setidaknya di detik terakhir jika Tuhan akan menarik nyawanya, Baekhyun memiliki satu tindakan untuk membalas kebaikan Chanyeol.

.

.

Chanyeol merasa tubuhnya benar-benar bugar dibukaan pertama matanya. Kamarnya masih dalam keadaan remang karena tirai-tirai masih senantiasa menghalangi matahari dari luar. Tangannya mencoba meraba tempat di sampingnya tapi sudah kosong. Di jam seperti ini Baekhyun pasti sudah berkutat di dapur dan tak lama setelah itu dia akan datang dengan kicau bibirnya beserta tangan yang bersendekap kesal di dada karena Chanyeol malas bangun pagi.

Rencananya hari ini Chanyeol akan menikmati waktu sedikit lama untuk bersama Baekhyun dan mengelus manja si kecil yang terbungkus di rahim Baekhyun. Waktu berkualitas ini akan ia gunakan untuk mencetak banyak kenangan yang nantinya akan ia ingat sebagai hari paling membahagiakan. Tapi rencana hanyalah rencana. Saat Chanyeol mencoba untuk menyingkap selimut dan seseorang menerobos paksa pintu kamarnya, lelaki itu hanya tidak tau jika kiamat kecil dalam hidupnya sudah menanti.

Jika itu Baekhyun, Chanyeol mungkin akan menggodanya dengan ujaran-ujaran yang membuat si wanita kembali menyenandungkan kecerewetannya. Tapi ternyata itu Kai, dengan tongkat yang mengapit di tangan dan seraut wajah serius yang tak terbaca apa artinya, lelaki itu memberikan satu amplop pada Chanyeol yang siap memberinya umpatan.

"Apa ini?" tanyanya.

Kai tidak menjawab. Kepalanya ia tundukkan sehingga Chanyeol tidak tau jika Kai sedang menyembunyikan sesuatu yang mengecewakan. Mungkin tidak akan lebih mengecewakan dari reaksi Chanyeol setelah barisan tulisan di kertas itu terbaca sendiri oleh matanya.

Teruntuk lelaki yang kukasihi.

Jika kau membuka mata dan membaca ini, mungkin aku sudah tidak berada didekatmu. Percayalah jika aku dalam keadaan yang baik dan jangan khawatirkan apapun karena aku bisa menjaga diriku.

Yang ingin kukatakan hanya sebuah maaf. Ini akan sangat mengecewakan dan membuatmu marah. Aku pergi dengan cara yang tidak berhati. Percayalah, meninggalkanmu bukanlah hal yang mudah. Sulit dan berat, tapi aku harus pergi. Tidak seharusnya kau dibebani oleh wanita sepertiku, wanita yang dengan congkaknya mencintaimu dalam kadar berlebih. Untuk itu, setelah ini berbahagialah. Kau tidak akan lagi menanggung beban berat yang selalu membuatmu lelah. Kau sudah bebas.

Lelaki yang ku kasihi, sekali lagi percayalah jika meninggalkanmu bukanlah hal yang mudah. Dimanapun nanti aku akan hidup, aku akan tetap dengan perasaanku. Maaf jika ini terasa egois, tapi ijinkan aku terus menyimpan perasaan ini.

Aku pergi. Bukan karena aku bosan denganmu tapi karena aku memang harus pergi untuk kebaikanmu. Kau pantas bahagia, berhentilah berkorban banyak demi kehidupanku. Aku terlalu hina jika harus menerima banyak cinta darimu.

Setelah ini kau akan mendapat yang lebih baik, yang bisa menjagamu dan membahagiakanmu. Maaf jika ada perasaanku yang menyakitimu.

Aku pergi. Terima kasih untuk semuanya.

Aku mencintaimu.

-Baekhyun-

.

.

Basyot : author juga manusia, punya rasa punya hati :D