FIRST KISS
Main pair:
Levi Ackerman x Eren Jaeger
Erwin Smith x Armin Arlert
Slight:
Hanji Zoe x Mikasa Ackerman
Jean Kirschtein x Mikasa Ackerman
Petra Ral x Mikasa Ackerman
Disclaimer:
SNK (c) Hajime Isayama
WARN! YAOI, YURI, Slash straight, OOC, TYPO, AU!
I hope you enjoy this story~
.
.
.
.
Erwin mendobrak pintu ketika mendengar teriakan dari kakek Arlert. Armin terlihat sangat panik, kakinya melangkah lebih cepat menuju halaman belakang. Dilihat ada parit serta pacul yang tergeletak di lantai. Hatinya semakin resah, takut kakek tersayang terluka. "KAKEK!"
"Armin, kenapa kau berteriak? Dan--HEI ALIS TEBAL! SUDAH KU KATAKAN JANGAN DEKATI CUCU KU!"
Kakek Arlert yang semula terlihat tenang (habis membersihkan halaman belakang dari rumput liar) berubah menjadi agresif. Membawa cangkul yang siap mencongkel mata Erwin kapan saja. Armin terlihat panik, menenangkan sang kakek agar tak berbuat hal negatif. "Kakek, lebih baik lepaskan cangkul itu sekarang!"
"TIDAK MAU!"
"NANTI KALAU KENA MATA ERWIN-SAMA BAGAIMANA?!"
"BIARKAN, KAKEK INGIN MENCUKUR ALISNYA YANG LEBAT!"
Armin kalang kabut. Kakeknya begitu keras kepala. Sedangkan Erwin menatap takut-takut, "O-oke Armin, Aku pulang ya? S-sampai jumpa!"
Kakek Arlert berteriak senang karena telah mengusir Erwin dari rumah. Ia lantas menatap sang cucu yang menundukkan wajah, "Armin, ada apa?"
Bocah pirang tak menjawab. Ia masih menunduk. Membuat kakek Arlert bingung sendiri, "Apa si alis tebal itu membuatmu sedih? Kurang ajar sekali!"
Mata biru safir menengadah. Menatap kakek Arlert yang sibuk mengoceh. Kristal bening mulai membasahi pipi mulusnya. Suara isak tangis sesegukan terdengar di halaman belakang rumah. Kakek menatap, ia semakin terlihat panik, "A-armin?"
"Kenapa kakek selalu mengusir Erwin-sama? Dia pria yang baik, kek."
Suasana menjadi tegang. Armin masih mengeluarkan air mata. Suaranya serak, "Maaf kek, Aku mau tidur."
Kakek Arlert diam di tempat. Menatap punggung Armin yang semakin lama menghilang. Kakek menunduk, melepas cangkul, lalu berdesis, "Maaf, Armin. Kakek hanya belum siap menerima kenyataan."
.
.
.
.
Perabotan dalam apartement Levi berserakan dimana-mana. Panci di dekat televisi, kain pel diatas kasur, saus berceceran di lantai, sempak Eren dengan motif bunga-bunga pun tergelak begitu saja di gagang pintu.
Sungguh, ketimbang apartement, tempat ini lebih cocok disebut pembuangan sampah.
Si pelaku pemberantak barang; Eren Jaeger dengan santai menggoyang-goyang kaki sembari memakan camilan. Ia tertawa lebar; menatap komedian yang tengah melawak di sebuah acara stasiun televisi. Perut yang masih rata diusap lembut.
"Sayang, apa kau masih lapar?"
Tak ada jawaban, tapi Eren seakan merasakan sesuatu. "Masih lapar? Oke, Mamah akan pesankan makanan—tunggu, Mamah?! Aku kan laki-laki! Tidak, tidak. Jangan panggil Eren Mamah! Panggil saja Papah—ya, Papah Eren! Inget itu Nak, Papah Eren!"
Eren berceloteh, memperingati sang jabang bayi agar tak lupa.
Bocah berkulit coklat susu berjalan mengambil ponsel, ditekan beberapa digit nomor disana, 1-2-3-4, pesan makanan secara delivery. Eren memesan banyak makanan; mulai dari junk food, stik burger, dan lain-lain. Oh, tak lupa juga ia memesan burger keju.
Semenjak dirinya hamil, Levi melarangnya untuk bersekolah. Pria eboni itu tak mau Eren kelelahan. Bocah Jaeger menurut saja (sejujurnya, ia sangat malas sekolah—katanya melelahkan dan merepotkan).
Mikasa dan Armin jadi sering datang ke apartement Levi (tentu saja untuk menemani Eren). Membuatkan susu untuk ibu hamil, memberi sayuran dan buah-buahan, tak lupa menyuruh Eren untuk olahraga teratur.
"Eren, Aku bawakan kau—"
Levi datang dengan dua kantung belanja besar. Dirinya terdiam menatap ruang apartement yang sudah berpindah haluan menjadi kapal pecah. Eren yang tengah asyik makan pun menoleh, "Oh, Sir! Selamat datang."
Demi kelakuan Hanji yang mirip monyet, apa yang terjadi?!
Eren sendiri adalah bocah yang tidak peka. Ia santai saja dengan camilannya. Tak memperdulikan perubahan ekspresi wajah Levi (ya, kalau diperhatikan lagi sebenarnya tak ada ekspresi di wajah lelaki Perancis itu).
Lingkungan kotor adalah musuh terbesar Levi Ackerman. Dan penyebabnya tengah asyik tertawa di depan televisi. Sungguh luar biasa dirimu, Eren Jaeger.
"Eren, apa yang kau lakukan pada ruangan ini?!"
Suara bariton menggema di ruang tamu. Televisi di matikan secara mendadak oleh si tuan rumah. Eren melotot; tak terima tontonannya di matikan. "Yak, Levi-san, apa yang kau lakukan?!"
"Seharusnya Aku yang bertanya begitu, bocah. Apa yang kau lakukan pada apartement ku?!"
Eren lantas menatap sekitar; barang-barang berserakan di lantai. Tak tertata, tak berbentuk simetris maupun geometris. Macam kapal laut baru di rombak habis oleh bajak laut. Namun bocah bermata hijau zambrud hanya menjawab santai, "Aku hanya ingin mengeluarkan barang-barang itu."
Apa katanya? Hanya? Hanya?! Levi geram. Seumur hidup, tak ada yang berani menentang perintahnya. Dan sesosok bocah umur 15 tahun dengan santai melanggar aturan di apartementnya?!
Eren hendak memakan camilan, namun makanan lezat itu keburu diambil tuan Ackerman. "Levi-san!"
BRAK!
Meja kaca dipukul keras, menyebabkan retak yang lumayan parah. Tangannya sedikit mengeluarkan darah. Eren tertegun; takut menatap sosok Levi dalam mode begini.
Ibu Carla, Eren takut sekarang.
Mata hijau berbinar takut. Gelisah, tatapan tajam Levi semakin menyayat.
Tapi, bukan Eren Jaeger namanya kalau tak punya banyak akal.
"Akhh... Levi-san."
Eren memegangi perut, wajah berlagak kesakitan. Merintih penuh drama; membuat Levi yang tadinya marah besar menjadi panik.
"Eren?! Kau tidak apa-apa?"
Levi datang menghampiri bocahnya. Ia terduduk lemas diatas lantai. Perut rata di pegang erat, wajahnya berkeringat. "S-sakit."
'Lebih baik Anda lebih memperhatikan kondisi Eren untuk saat ini, karena jika sang Ibu hamil baik, maka keadaan sang jabang bayi juga baik.'
Sekelebat ucapan Petra terngiang-ngiang di kepala Levi. Hah, tentu saja. Orang hamil pasti jadi lebih sensitif. "Duduklah, akan ku buatkan susu."
Lelaki dengan tinggi 160 cm berjalan menuju dapur—yang luar biasa berantakannya—lalu membuat susu. Eren sedikit mengintip, lalu terkikik sejenak, "Hihi, maafkan Aku, Levi-san. Jika tidak begitu, kau pasti marah."
Tapi yang pasti, Eren senang ketika menatap punggung lebar nan kokoh Levi. Benar-benar menggambarkan sosok ayah yang penyayang.
Mata hijaunya menatap lembut perut yang tertutup kaus, lalu mengusapnya, "Lain kali, jangan memberantakan rumah lagi, ya. Daddy mu pasti akan marah."
.
.
.
.
Hari ini, kelas 10-A terlihat ramai.
Jelas saja ramai, karena si plontos Connie dan Jean berteriak dengan sangat gaduh; membuat Marco harus menambah sumpalan pada telinga.
"Hei, kawan. Bagaimana kalau hari ini kita berkunjung ke apartement Sir Levi?" usul Jean dengan cengiran lebar.
Armin menyahut, "Aku dan Mikasa selalu berkunjung setiap pulang sekolah."
"Kenapa kau tak bilang padaku, kepala jamur?!"
Jean berteriak keras, membuat Armin meringkuk dibalik punggung Mikasa. "Memang ada urusan apa kau dengan Eren?"
Mikasa bertanya dengan tampang datar—tapi di mata Jean, gadis oriental itu tetaplah cantik dan mempesona. Membuat hati berdebar tak karuan rasanya. Duh, Jean jadi malu. "Tidak, hanya ingin menjenguknya saja. Ah, bagaimana keadaan janinnya?"
"Baik. Aku dan Armin selalu merawatnya." ucap Mikasa.
Jean kembali membatin, 'Merawat orang yang sedang hamil saja dia telaten. Apalagi jika dirinya yang sedang hamil? Duh, calon istriku.'
Bel berbunyi; pertanda jam istirahat telah usai.
Semua kembali duduk di meja masing-masing. Membuka buku lalu menyiapkan pulpen untuk menulis. Mikasa menatap buku pelajaran (tertera matematika disana).
Itu tandanya, guru Oluo Bozado akan mengajar.
Pikirannya melayang—mengingat kejadian beberapa hari lalu di dekat trotoar. Guru dengan wajah boros itu mengecup kening Petra. Sangat manis dan lembut. Mikasa menggelengkan kepala.
Jean yang melihat pun hanya menatap bingung.
"Nah, anak-anak. Jawab pertanyaan nomor lima." Oluo memberi titah. Menatap seluruh murid yang terlihat ketakutan (terlebih Sasha dan Connie).
"Bagaimana? Ada yang mau menulis jawaban beserta caranya di papan tulis?"
Semuanya menunduk; berdoa agar Tuhan menyelamatkan mereka dari ancaman ini.
"Tidak ada? Baiklah, akan ku panggil melalui absen." Oluo membuka buku absen. Mencari nama murid yang akan di panggil maju.
Jantung semakin berdebar.
"Jean Kirschtein."
Semua bernafas lega (kecuali si muka kuda). Connie hanya memberi semangat dengan sedikit senyum meledek. 'Semoga berhasil, bung!'
Kalau saja sedang istirahat, sudah pasti si plontos akan di hajar habis-habisan.
'Ampas banget hidupku.' Jean membatin.
Pemuda itu maju kedepan, menggenggam kapur lalu menatap papan tulis.
Hanya ditatap, dengan segenap hati. Jean benar-benar terpuruk, ia tak mengerti apa yang harus di jawab. Guru tua itu... benar-benar menyebalkan.
"Kenapa hanya di tatap? Jawablah, Kirschtein!" nada suara Oluo sedikit meninggi. Semua murid tertegun.
'Tuhan, tolong kirimkan malaikat penyelamat.'
"Sir Oluo."
Suara dingin menggema di kelas. Mikasa Ackerman; berdiri tegak dengan tatapan tajam. Bagai pahlawan yang ingin mulai bertarung. Obidisidan hitam memincing sinis pada guru matematika.
Oluo menatap, ah. Dia kenal gadis itu; yang pernah membantingnya ketika ia memarahi salah satu murid bermata hijau zambrud karena tak bisa menjawab soal.
Kalau di ingat-ingat, gadis itu seram juga.
"Aku saja yang menjawab." ucap Mikasa—masih memasang wajah pembunuh.
Oluo bersikap biasa (tapi dalam hati ia ketakutan setengah mati—bisa encok dia kalau kena banting lagi). "Baiklah, Jean. Kau duduk."
Jean mengangguk, lalu memberi kapur pada Mikasa, "Sayang, semoga berhasil." bisiknya lembut.
Dan, tentu saja ia mendapat hadiah sebuah bogem mentah di pipi kirinya. Tinju Mikasa kuat sekali, bung. Jean sampai terjungkal. Bahkan Oluo terlihat tahan nafas.
Namun yang pasti, rasa sakit Jean tak seberapa dengan rasa bahagianya. Sungguh, itu tandanya, Mikasa mulai perhatian dengannya, kan?
Ya, mungkin kali ini biarkan sosok Jean Kirschtein berbahagia sejenak.
.
.
.
.
Eren Jaeger—15 tahun, seorang ibu hamil (atau mungkin papah hamil?). Tengah merajuk pada sang seme.
Menurutnya, Levi sangatlah menyebalkan dan bau. Eren ingin mual jika dekat-dekat dengannya. Ingin meninju wajah teflon nya dengan setrika. Entah kenapa, hanya saja Eren memang tengah sensitif.
"MENJAUHLAH, DASAR PENDEK!"
Sruk.
Seperti ada panah yang menancap tepat di hati. Apa katanya tadi? Pendek?!
Levi ambil nafas, lalu di keluarkan kembali.
"Kalau mau ambil nafas, ya jangan di keluarkan lagi!"
Ya Tuhan, apa salah Levi.
Kring kring.
"SIAPA YANG MENELEPON LEVI-SAN, HAH?!" Eren berteriak. Menunjuk-nujuk handphone Levi yang berbunyi.
Sungguh sensitif benar Eren. Levi lantas menatap layar handphone. Tertera nama Hanji Monyet Gila disana. Oh, ternyata Hanji.
"Tenanglah, Eren. Hanji yang menelepon."
Mendengar nama Hanji disebut, mata hijau berbinar-binar, "Hanji-san? Huaaa Aku ingin berbicara dengannya!"
Handphone genggam diberikan, Eren lantas mengembangkan senyum manis. "Halo, Hanji-san!"
"Eren, tumben sekali kau menjawab. Apa kabar?"
"Tentu saja baik. Hanji-san sendiri bagaimana?"
"Aku? Hahaha tidak usah ditanya. Tentu saja selalu sehat dan bahagia! Oh ya, omong-omong, dimana Levi?"
Mata hijau memincing si tuan rumah, lalu kembali berbicara. "Ada, tapi Aku sedang kesal dengannya."
"Eh? Tapi kenapa Eren?"
"Tidak tahu. Pokoknya menyebalkan!"
Levi hanya diam melihat gelagat sang uke. Benar-benar berbeda. Terkadang senang—tapi terkadang marah-marah dan cerewet. Seperti orang yang terkena bipolar.
"Kenapa menatapku begitu, hah?!" Eren menatap sinis. Levi hanya menghela nafas panjang.
'Jika saja kau sedang tidak mengandung, akan kubuat kau tak bisa berjalan selama seminggu.'
.
.
.
.
Jam pelajaran telah usai. Para murid lantas segera keluar dari kelas.
Tapi, murid kelas 10-A masih bertahan di dalam kelas; mereka tengah merencanakan akan pergi menjenguk Eren dan jabang bayi.
Marco Bodt; selaku ketua kelas bersikap sangat adil pada seluruh teman-teman. Beramai-ramai mengumpulkan uang untuk sekadar membeli buah tangan untuk Eren.
"Nah, kalian pergi saja dulu ke apartement Sir Levi. Biar Aku dan Reiner yang membeli makanan di supermarket." ucap Marco.
Semua mengangguk setuju, lalu berjalan pergi meninggalkan kelas. Sasha yang tak tahan pun mulai berceloteh, "Ah, nanti Marco dan Reiner membeli apa ya? Buah-buahan? Daging? Susu? Atau—"
"Sasha, kita membeli makanan hanya untuk Eren," ucap Annie mengingatkan.
Kalau tak di ingatkan, Sasha mana ingat. Alhasil gadis kentang itu menghela nafas kecewa.
Mikasa hanya menggelengkan kepala. Ia berjalan santai di sebelah Ymir—yang sibuk menjauhi Historia dari lelaki manapun (kecuali Armin; mereka terlihat bak pinang dibelah dua).
Namun, obidisidan gelap itu menangkap sosok wanita berambut oranye sebahu. Siapa lagi kalau bukan Petra Ral. Mikasa mendadak diam; jantung berdetak dengan kencang. Membuat Ymir sedikit bingung, "Mikasa, ada apa?"
Wajah gadis oriental itu mendadak merona. Ia berjalan lebih cepat—meninggalkan Ymir yang meneriaki namanya berulang kali. Mikasa dengan cepat berucap, "Petra-san!"
Yang di panggil pun menoleh. Menatap wajah Mikasa dengan senyum indah, "Ah, Mikasa. Kau belum pulang?"
"Belum. Aku ingin ke apartement Sir Levi, menjenguk Eren. Anda ingin ikut?" tawar Mikasa.
Petra berpikir sejenak, lalu kembali tersenyum. "Boleh. Tapi Aku taruh berkas-berkas ini dulu, ya."
Ucapannya begitu lembut. Mikasa benar-benar sudah jatuh hati pada guru yang satu itu. Wajahnya manis, tutur bahasanya baik, tubuh mungil namun proposional, rambut oranye sebahu di gerai dengan indah, matanya selalu terlihat berbinar. Hah, benar-benar idaman.
"Biar kubantu, Petra-san." Mikasa berucap, lalu mengambil berkas yang dibawa Petra.
Petra hanya tersenyum manis, "Terima kasih, Mikasa." lalu mereka pergi ke ruang guru bersama.
"Apa mereka memiliki hubungan?" Connie menyipitkan mata tatkala Mikasa berbincang akrab dengan Petra.
Jean yang kebetulan berada di sampingnya pun menatap, "Mana mungkin!"
"Tapi kudengar, Miss Petra sudah memiliki tunangan kan?" ucap Historia.
Bertholdt yang penasaran pun lantas bertanya, "Siapa?"
"Sir Oluo." sahut Historia.
"HAH?!"
.
.
.
.
Semua tengah berkumpul di ruang tengah apartement Levi (Hanji dan Erwin datang karena ingin melihat keadaan Eren). Ruangan begitu ramai, semua tertawa bahagia (minus Levi yang masih di cuekin oleh Eren).
"Hei, Levi. Wajahmu itu kenapa? Seperti cucian bau." ledek Hanji.
Tangan terkepal, tinju melayang ke wajah si wanita jadi-jadian. "Diam kau, kacamata sialan."
"Apa Eren marah padamu?" tanya Erwin. Levi hanya mengangguk, "Ya, padahal Aku tak salah apa-apa. Dia bilang Aku bau—padahal Aku wangi begini."
"Itu tandanya, Eren sedang mengalami ngidam. Biasanya kalau ibu hamil membenci sesuatu, anaknya nanti mirip dengan yang di benci." ucap Petra.
Mikasa hanya mendengarkan—itu tandanya anak yang di kandung Eren akan memiliki wajah sedatar teflon?!
"Tapi, jika ibu yang hamil sedang menyukai sesuatu, anaknya akan mirip juga dengan yang di suka." lanjut Petra.
Levi berpikir sejenak; Eren sangat senang dan suka ketika berbicara dengan Hanji. Jangan katakan jika nanti anaknya akan memiliki sikap amat hiperaktif seperti Hanji Zoe?!
Tidak boleh dibiarkan; batin Levi.
Erwin menunduk—mendengar ucapan yang di lontarkan Petra barusan. Ia berpikir sejenak; kalau Levi bisa membuat Eren hamil, apa dirinya bisa membuat Armin hamil nanti?
Tapi, lelaki jangkung itu segera menggelengkan kepala. Tidak tidak, dirinya bukan Levi yang dengan seenak jidat bisa meniduri beberapa wanita maupun laki-laki berstatus uke!
"Jadi, Eren. Bagaimana rasanya mengandung?" tanya Historia. Tangan lentik itu mengusap lembut perut Eren yang masih rata.
Eren pun tersenyum, "Ya, terkadang Aku merasa sangat lemah. Tapi, terkadang juga Aku merasa emosional."
"Wah, berat sekali. Apa bayi sering menendang-nendang perut di dalam sana?" tanya Reiner.
"Bayi siapa yang sering menendang-nendang?"
Suara berat terdengar jelas di depan pintu apartement (pintunya lupa di tutup!). Sepasang suami-istri berdiri disana dengan membawa koper besar. Mata hijau Eren mendadak melebar. Jantungnya berdegup keras. Keringat mulai mengucur deras.
Grisha dan Carla, ada di depan pintu dengan wajah suram!
"Siapa yang hamil?"
.
.
.
.
TBC
A/N:
Halo semua, ada yang kangen? /gak.
Akhirnya bisa mendapatkan mood mengetik setelah mengalami writer block yang berkepanjangan xD Maaf membuat menunggu hehe.
Semoga tidak membosankan :D
Terima kasih sudah membaca; Diva Dizuka, Ay03sunny, Izumi-H, ritsu29, ererigado, Alvia dinda, Keylaudya, Guest, Celyn Ackerman, Pinnachan.
-levieren225
