One Week Girlfriend (HunSoo ver.)
*
Sehun x Kyungsoo (GS)
*
Disclaimer : cerita ini milik Monica Murphy, penulis asli novel One Week Girlfriend. Gw nulis ulang/remake dari blog READNOVELSBLOG dot WordPress dot COM Yang dimana cerita udah berupa translate Indonesia. Semua karakter yang ada di FF ini semua milik Tuhan YME, orang tua, keluarga, agensi, fans dll. Gw hanya pinjem nama mereka. Gak ada maksud apa - apa dalam penulisan FF ini kecuali hanya untuk hiburan semata. Kalo pengen baca versi asli yang sudah di translate bisa baca di blog yang udah gw tulis sebelumnya. Ganti tulisan (dot) dengan tanda (.)/titik.
*
Warn!OOC, GENDERSWITCH
*
( yang gw remake disini cuma nama tokoh dan beberapa kata/kalimat untuk menyesuaikan jalan cerita tetap sama ga ada yang gw rubah. Novel ini ada 2 seri, dan setiap seri dibagi jadi beberapa bab)
*
HAPPY READING
*
*
*
*
*
_
Hari ke-5 (Thanksgiving), 12.55 siang…
The more I push you away, the more I want you to push back.
-Oh Sehun.-
*
Kyungsoo pov.
"Ibu tidak memasak makan malam untuk Thanksgiving?"
Aku bertanya tak percaya, berkutat dengan keinginan kabur ke luar dan menghisap sebatang rokok. Ketegangan yang kurasakan membuatku letih dan tanganku masih saja gemetaran, tapi aku hanya punya dua batang rokok yang tersisa dalam bungkusan rahasiaku. Bungkusan itu masih penuh ketika aku tiba di tempat ini. Aku ingin menyimpan sisanya.
"Tidak. Dia biang padaku ada daging kalkun beku di freezer, daging itu katanya di beli di Marie Callender's, jika aku ingin makan itu. Sebaliknya, aku bisa mengurus diriku sendiri." Taeyong terdengar jijik dan aku tidak menyalahkannya.
"Taruhan dia sekarang pasti sedang ke luar kota bersama Henry. Henry punya seorang putri dan mereka mungkin saja sedang makan kalkun bersama dan sebagainya."
Sangat tak bisa dinpercaya, seharusnya tak jadi masalah jika ibuku membawa Taeyong bersamanya. Dia adalah putranya. Aku di cekam perasaan bersalah karena tak bersama Taeyong saat ini, tapi itu sudah biasa terjadi kan?
Aku mulai berpikir bahwa semua uang di dunia ini tak sepadan dengan kekacauan yang terjadi. Hatiku sedang compang camping, pikiran lamban dan sekarang adik lelakiku di telantarkan secara terang-terangan pada hari libur yang biasanya ibu kami akan sangat senang merayakannya bersama kami.
Walaupun kami hanya merayakannya bertiga sejak kakek nenekku meninggal hanya berselang beberapa bulan ketika aku berumur sebelas tahun, ibuku selalu memasak besar-besaran untuk merayakan Thanksgiving dan mengundang semua orang yang bisa di pikirnya. Kadang-kadang dia mengundang kekasihnya saat itu. Di waktu yang lain, teman-teman nongkrongnya di bar, orang-orang kesepian yang tak punya keluarga untuk merayakan hari itu bersama.
Ibuku mungkin punya banyak kesalahan—dan dia benar-benar punya berjuta kesalahan—tapi dia selalu mencoba membawa keceriaan pada hari raya. Dia sepertinya tak ingin melihat seseorang sedih dan kesepian pada hari itu.
Merengut, aku menggelengkan kepalaku. Sekarang dia menelantarkan putranya sendirian. Tak pernah bersusah payah menguhubungi putrinya. Terkadang aku berpikir dia lebih peduli pada teman-teman minumnya daripada orang-orang yang di lahirkannya.
"Kuharap aku ada disana."
Aku memelankan suaraku, terlebih aku kini berada di rumah utama dan siapa tahu ada mata-mata yang mencoba mengawasi tingkah lakuku. Aku tak akan heran jika memang ada.
"Tak seharusnya kau menghabiskan hari raya seorang diri."
"Aku akan baik-baik saja."
Ketegaran palsunya membunuhmu. Taeyong selalu saja bertingkah sok tangguh seperti itu. Aku menduga itu pasti melelahkannya, seperti hal itu membuatku lelah.
"Ibunya Jiyoung mengundangku makan bersama. Kupikir aku akan ke rumah mereka selama sejam atau lebih. Jiyoung mengatakan mereka akan makan sekitar jam tiga. Seharusnya ibunya pasti sudah memasak pie labu yang enaknya setengah mampus."
"Jangan mengumpat."
Hatiku sedikit lebih ringan dan aku berencana akan mengirimkan kartu ucapan terima kasih, hadiah atau apapun yang bisa kudapatkan kepada ibunya Jiyoung ketika aku pulang.
"Aku senang kau punya tempat untuk pergi."
"Aku juga," dia berhenti sejenak sebelum dia berujar dalam suara rendah, "Aku merindukanmu."
Aku bersusah payah menelan gumpalan yang menekan tenggorokanku. "Aku juga merindukanmu. Tapi aku akan pulang sabtu malam, aku janji. Ayo kita melakukan sesuatu yang seru hari minggu, ok? Mungkin kita bisa pergi nonton film."
Kami tak pernah nonton bersama, tiket bioskop luar biasa mahal, walaupun tiket pertunjukan siang, tapi aku tak peduli. Kami perlu pasokan kesenangan dalam kehidupan kami. Terlalu banyak pertunjukan kasih sayang di keluarga Kim dan kami berdua butuh menjauh dari itu semua ketika aku kembali.
"Aku akan suka itu, Kyung. Aku mencintaimu. Selamat hari Thanksgiving."
"Aku juga mencintaimu. Selamat hari Thanksgiving, sayang."
Aku menekan tombol untuk memutuskan percakapan dan berbalik dan mendapati Adele berdiri tak sampai lima kaki jauhnya dari tempatku, alisnya yang di lukis sempurna terangkat tinggi sekali hingga aku khawatir mereka akan terbang dari mukanya yang terlalu-cantik, sekaligus terlalu-angkuh itu.
"Well. Apakah suaramu tak terlalu terdengar dibuat-buat ketika kau berkicau di teleponmu betapa kau merindukan dan mencintai namja itu?"
Dia melangkah mendekatiku dan aku mundur menjauh seketika, rasa takut membuat punggungku gemetaran, walaupun aku tak tahu kenapa. Aku tak seharusnya takut pada wanita ini, walaupun dia selalu memasang ekpresinya yang seolah menggertak dan memandangku dengan sepasang matanya yang sedingin es. Dia tak berarti apa-apa bagiku.
Tapi aku tak ingin menciptakan riak permusuhan dengannya. Astaga, hari ini adalah hari Thanksgiving, yang benar saja! Bertengkar dan beradu argument dengan ibu tirinya akan cukup menyakiti dan merendahkan Sehun dan aku tak ingin bersikap seperti pacar yang seperti itu, pacar beneran atau bukan.
"Bukankah tidak sopan menguping percakapan orang lain?"
Aku bertanya, karena aku tak bisa menahan diri. Aku benar-benar marah dia mencuri dengar, dan lebih karena sejarang dia berpikir tadi aku berbicara dengan pacarku yang lain, kekasih lain, atau apapun. Aku juga tak perlu menjelaskan apapun kepadanya. Ini bukan urusan udelnya.
"Tidak jika percakapan itu berlangsung di dalam rumahku, dalam pengawasanku. Terlebih lagi ketika kau mencoba menjadi seorang pelacur gelandangan kecil yang berani-berani menyentuh Hunnieku."
Aku tersentak mendengar kata-kata berbisanya. Betapa gampang dia mengumpatku dengan kata-F(F-bomb) itu dan dengan posesif menyebutnya dengan kata 'Hunnie-ku'.
"Dia bukan milikmu," aku berbisik. Dia milikku.
Aku tak cukup punya keberanian mengucapkan kata itu dengan keras.
Senyumnya sangat tajam. "Di situlah kau salah. Kau hanya sementara. Kau hanya sesuatu yang baru. Dia membawamu pulang untuk mengejutkan kami, menakutkan kami, mencoba membuat kami percaya bahwa dia ingin bersama dengan seseorang yang sepertimu, tapi aku tahu kenyataan sebenarnya."
Aku melirik ke arah ruangan yang cekung, mencoba mencari cara untuk kabur, tapi satu-satunya jalan aku bisa keluar adalah dengan berjalan melewatinya dan aku tak ingin melakukan hal itu, dan dia mengetahuinya. Wanita jalang ini telah menjebakku.
"Bukankah kau harus mengoleskan mentega pada kalkun atau sebagainya?"
Yoona tertawa tapi tawanya terdengar rapuh. Tak ada lelucon apapun dalam tawanya.
"Mencoba mengalihkan perhatianku eh? Itu tak akan berhasil." Dia menyilangkan lengannya di dadanya.
"Hari raya ini, adalah saat paling berat dalam keluargaku, kau tahu. Sabtu ini adalah tepat dua tahun kematian putriku."
Aku terkejut luar biasa mendengar kata-katanya. Aku terbengong-bengong. Tak bisa kupercaya Sehun tak pernah menyebut-nyebut tentang saudara perempuannya dan bahwa dia telah meninggal. Mungkinkah masalahnya berhubungan erat dengan kematiannya? Tapi itu tak masuk akal, tak sesuai dengan kelakuannya yang kusaksikan sendiri.
"Aku sangat menyesal,"
Secara otomatis aku mengatakannya dan aku sungguh-sungguh. Kematian salah satu anggota keluarga benar-benar mengerikan dan aku tak mengharapkan hal itu terjadi pada siapapun, bahkan terhadap penyihir wanita kejam ini. Aku sangat trauma setelah kehilangan kakek nenekku. Hanya mereka berdua yang secara terus menerus ada untukku di dunia ini dari sejak aku masih sangat muda, terutama ketika aku tak benar-benar bisa mempertimbangkan keberadaan ibu kandungku, dulu maupun sekarang.
"Harusnya usia Yeri genap lima tahun sekarang. Pergi ke TK, menggambar kalkun dengan tangan mungilnya di kertas…" Suara Yoona terdengar jauh, begitupun matanya yang tak terfokus. Kesedihan yang terpancar darinya terlihat sangat nyata dan aku ikut prihatin, walaupun baru sesaat yang lalu dia memperlakukan aku dengan sangat buruk.
"Dulunya dia sangat cantik. Sangat mirip ayahnya.."
Adik perempuan Sehun meninggal di usia tiga tahun—bagaimana? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan dia meninggal tepat setelah perayaan Thanksgiving? Pantas saja dia begitu enggan kembali kemari pada hari raya. Pasti hal itu menjadi kenangan yang menyedihkan baginya, dan dia berpikir lebih baik melupakannya. Dan perbedaan usia diantara kedua kakak beradik itu sangat jauh. Sehun pastinya berumur sekitar enam belas atau tujuh belas ketika Yeri lahir. Aku penasaran apa yang menyebabkan Ayahnya dan Yoona begitu lama memutuskan untuk memiliki anak?
"Kuyakin dia pasti sangat cantik. Suamimu adalah laki-laki yang tampan." Aku tak tahu lagi akan bicara apa, selain melontarkan pernyataan basi itu, dan seketika menyesalinya. Terlebih ketika dia melempar pandang aneh kepadaku.
"Suamiku…" Suara Yoona seperti mengalun dan dia menggelengkan kepalanya. "Kau benar. Kris sangat tampan. Begitupun Hunnie."
Dia selalu memanggilnya Hunnie. Dan semalam ketika aku memanggilnya Hunnie, dia tak menyukainya. Sama sekali. Dia benar-benar murka, sebenarnya.
Apakah hal itu pemicu kemarahannya? Apakah wanita ini pemicunya?
"Makan malam Thanksgiving akan siap dalam tiga puluh menit," dia berujar ringan, tanda-tanda duka dan kesedihannya telah menguap.
"Setelah itu, kusarankan kau kembali ke Paviliun dan kemasi berang-barangmu. Aku akan menghubungi taksi yang akan membawamu ke stasiun bis petang ini."
Mulutku menganga karena syok. Dia tak mungkin serius.
"Oh ya, tentu saja aku punya rencana, Kyungsoo Kecil. Rencana yang sudah tentu tak menyertakanmu, terutama karena hal seperti ini hanya di lakukan antara anggota keluarga dan kau tak lebih dari seorang pengacau. Hal yang terbaik bagimu adalah pergi. Aku sudah berbicara dengan Hunnie dan dia sangat setuju denganku."
Tanpa berkata apa-apa lagi dia berbalik dengan hak sepatunya yang luar biasa tipis dan tinggi itu dan melangkah keluar ruangan, meninggalkanku yang merosot dan jatuh ke kursi di belakangku, begitu lemah seolah kakiku tak sanggup lagi menahan beban berat tubuhku lebih lama lagi.
Dia telah bicara dengan Sehun dan dia setuju aku harus pergi malam ini juga? Hal ini betul-betul tak masuk akal. Aku tak mengerti apa yang terjadi dan pikiranku kusut oleh informasi yang baru saja di bagi Yoona padaku.
Dia memiliki seorang adik perempuan berusia tiga tahun yang kini telah meninggal, apa yang terjadi pada saat itu? Bagaimana caranya meninggal? Apakah dia sakit, penyakitnyakah yang merenggut nyawanya, ataukah karena kecelakaan? Aku tak terbiasa membahas sesuatu yang benar-benar kabur seperti ini, jadi kurasa aku harus bersabar hingga dia bersedia bercerita sendiri padaku.
Dan karena dia tak pernah bercerita sejauh itu, aku tak benar-benar memahami masalah ini.
Benar-benar terdengar bodoh mengakui hal ini, tapi perasaanku sedikit terluka mengetahui kalau Sehun tak pernah bercerita tentang adiknya. Hal itu adalah pengalaman traumatiknya yang paling besar yang di sembunyikannya dariku. Tentu saja dia merahasiakan banyak hal. Dia penuh dengan rahasia. Aku masih tak merasa mengenalnya. Tidak benar-benar mengenalnya.
Pagi tadi dia sudah keluar rumah ketika aku meninggalkan kamarku, dan aku memang sengaja melakukannya. Mengunci diriku sepanjang waktu di kamar—mencoba seperti orang gila berusaha menghubungi ibuku walaupun dia tak pernah sekalipun menjawab panggilanku—apalagi yang baru? Ketika aku mencoba menghubungi dan mengirimkan pesan kepada Taeyong, tapi kupikir jam segitu dia masih tertidur dan aku yakin aku benar.
Faktanya, hingga kini aku belum melihat Sehun. Apakah dia marah padaku karena tak kembali ke tempat tidurnya semalam? Mungkin saja. Dan itu adalah jalan terbaik. Apapun yang kini ada diantara kami berdua, hal itu tak mungkin terjadi. Benar-benar tak akan terjadi. Tak peduli betapapun aku menginginkannya…
-o0o-
Sehun pov.
"Ada laki-laki lain dalam kehidupan gadis yang harusnya jadi pacarmu itu…"
Aku berbalik ketika mendengar suara Yoona dan menemukan dia mengikutiku ke taman yang terhubung dengan halaman belakang untuk berbicara denganku. Dan kami benar-benar hanya berdua.
Seluruh tubuhku di selimuti ketegangan dan aku menegakkan bahuku, bersiap menghadapi pertempuran. "Apa yang kau bicarakan?"
Yoona mengangkat bahunya, ekspresi wajahnya benar-benar tak terbaca.
"Aku mendengarnya bicara di telepon. Dia bilang kepada siapapun temannya berbicara bahwa dia merindukan laki-laki itu, berharap dia melewatkan Thanksgiving bersama dengannya dan merencanakan kencan dengan nonton film berdua ketika dia kembali nanti."
Dia benar-benar meyakinkan ketika menyampaikan kabar buruk ini padaku, dan aku bersusah payah menunjukkan bahwa segalanya baik-baik saja, bahwa kata-katanya yang keji dan menjijikkan itu tak mempengaruhiku sama sekali.
Tapi sebenarnya, kata-katanya berhasil mempengaruhiku. Kyungsoo benar-benar menjauhiku semalam setelah segala hal yang terjadi di antara kami. Keadaannya berbalik 180 derajat dan aku tak menyukai hal ini. Dia tak pernah kembali ke tempat tidurku. Dia telah membuatku terangsang, kemudian meninggalkanku, adrenalin masih membuncah di dalam sarafku dan membuatku bergairah, benar-benar berhasrat menjelajahi setiap inchi tubuhnya seperti yang di lakukannya padaku.
Dia meninggalkanku yang sedang melayang-layang dan kehausan. Akhirnya aku tertidur ketika aku menyadari bahwa dia tak akan kembali dan hingga kini aku belum menemuinya ataupun berbicara dengannya sejak pagi tadi.
Sepertinya dia memang sengaja bersembunyi dariku.
"Kyungsoo tak punya orang lain dalam hidupnya. Hanya aku." Aku bergumam, memandang ke arah pintu masuk yang langsung mengarah ke rumah utama.
Yoona bergerak cepat dari arah kiri, meraih lenganku hingga aku tak sempat mengelak, jemarinya menekan dagingku.
"Kau tak tahu pasti masalah itu, bodoh. Aku yakin si Jalang itu akan bersedia membuka lebar-lebar kakinya kepada siapapun yang memintanya."
Hampir saja tanganku menampar wajah Yoona yang menjijikkan, aku merasa sangat marah.
"Jangan berani-berani menyebutnya seperti itu," Aku berkata di selah gigiku yang gemetar menahan amarah.
"Jangan berani-berani."
"Aku mendengarnya. Dia menyebut laki-laki itu dengan sebutan sayang. Dia mengatakan dia mencintainya sebelum menutup telepon. Hadapi kenyataannya, Hunnie, dia menghianatimu dengan laki-laki lain." Yoona memandang mencela padaku, alisnya bertaut dan berkali-kali mengedipkan bulu matanya.
"Ada apa? Apa kau tak bisa memuaskannya? Aku tahu terkadang kau suka sekali mengendalikan semua nafsu binatang itu sekuat tenaga, tapi terkadang, seorang gadis menyukai ketika kau lepas kendali ketika bersamanya."
"Persetan denganmu. Jangan berani-berani mendekatiku, sialan. Dan berhentilah menjelek-jelekkan pacarku, kau wanita jalang!"
Aku menghentakkan tanganku dari pegangannya dan mendorongnya ketika melewatinya, berjalan terburu-buru ke dalam rumah. Aku ingin bertemu Kyungsoo. Aku butuh konfirmasi darinya sekali saja bahwa dia benar-benar tidak berbicara dengan laki-laki lain ketika dia bersama denganku.
Aku tahu aku tak punya hak apapun terhadapnya. Tapi setidaknya dia bisa menelepon laki-laki ini ketika tak ada seorangpun yang bisa mendengarnya. Maksudku, ayolah… Dia membuatku terlihat seperti orang bodoh dan memberikan Yoona senjata untuk menyerangku.
Dan gagasan bahwa Kyungsoo mungkin saja bicara dengan namja lain ketika dia sedang menghabiskan waktu disini bersamaku? Sialan, aku tak bisa menerimanya.
Darahku mendidih dan rasa cemburu menggerogotiku begitu rupa hingga kupikir aku telah berubah menjadi pecundang sebenarnya, aku berjalan dengan langkah panjang-panjang ke arah rumah, tidak menghiraukan Ayahku ketika dia memanggilku, juga Yoona ketika dia berhasil menyusulku dan menarik tanganku lagi. Aku tak menemukan Kyungsoo di dalam rumah, dan ketika akhirnya aku menemukannya, dia tengah berdiri di teras depan dan tengah menghisap sebatang rokok, dan pandanganku tiba-tiba memerah.
Tiba-tiba saja, aku ingin sekali menendang bokong seseorang, aku di liputi amarah yang membuatku tak bisa berpikir jernih.
Membuka pintu depan, aku melangkah ke luar, melangkah menuju ke arahnya. Pandangan kami bertemu dan aku melihat sekilas tatapan takut, kekhawatiran… dan amarah dalam tatapannya. Dia menghisap rokoknya dalam-dalam, menghembuskan asapnya ke arah wajahku ketika akhirnya aku berhenti di hadapannya dan aku sangat marah.
Kepadanya. Kepada Yoona. Kepada Ayahku.
Dan pada diriku sendiri yang berpikir aku memiliki semacam ikatan dengan gadis ini, gadis yang sama sekali tak berpikiran seperti itu terhadapku.
"Kau bersama orang lain," kataku, tak repot-repot menahan nada bicaraku.
Dia mencibir, rokoknya masih menggantung di jemarinya.
"Kulihat kau sudah bicara dengan ibu tirimu."
"Katakan apa yang terjadi."
"Memangnya itu urusanmu?" dia menjentikkan rokoknya ke rerumputan, dengan sol sepatunya dia menyapu debunya, menciptakan lubang kecil di halaman rumput asli orang tuaku. Ayahku akan sangat murka jika melihat kelakuannya.
"Aku sudah membayarmu dengan mahal agar kau berpura-pura menjadi pacarku selama seminggu. Jadi kupikir, tentu saja hal sialan itu menjadi urusanku."
Aku meraih lengannya dan menyentaknya mendekat, memandang langsung ke matanya yang hijau cerah. Aku ingin melihat jika dia berbohong padaku. Bahwa segala hal yang kami lakukan kemarin tak lebih dari sekedar sesuatu yang tak bermakna baginya.
Itu menyakitkan. Lebih dari yang bisa kuakui.
"Jadi kita kembali ke masalah itu, hah? Semua kata-kata manis dan percintaan kita kemarin itu menguap hanya karena aku membuatmu marah. Sekarang kita kembali ke awal lagi, ke masalah pacar sewaan itu lagi."
Dia marah. Tapi aku lebih marah darinya. "Katakan yang sebenarnya. Apakah ada namja lain?"
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya jika kau memberitahuku bagaimana adik perempuanmu meninggal." Dia membalas membentakku.
Rasa terkejut membuatku terdiam dan aku melepasnya, mundur beberapa langkah. Sialan. Aku tak memperhitungkan hal tersebut. Kupikir aku masih memiliki waktu sedikit lebih lama sebelum aku bisa menceritakan tentang Yerim.
"Tak ada yang perlu kuceritakan," aku bergumam, menolak menjelaskan detilnya, mengabaikan perasaan bersalah yang membekukan dadaku.
"Baik, kau lupa menyebutkan tentang adik-perempuan-tiga-tahunmu yang telah meninggal di rumah ini hampir dua tahun lalu. Maksudku, pantas saja jika kau enggan kembali kemari, akupun akan begitu. Aku yakin rumahmu penuh dengan kenangan mengerikan yang tak ingin kauingat."
"Kau benar sekali."
Dia berusaha mengalihkan perhatianku dan aku menjadi semakin marah karena hal itu. Kami tak sedang membicarakan adikku sekarang.
"Siapa laki-laki itu, Kyungsoo?"
Dia menggelengkan kepalanya. "Tak ada siapapun."
"Siapa. Laki-laki. Itu?" Aku menggeramkan kata demi kata, luar biasa lelah dengan omong kosongnya.
"Apa? Kau cemburu?"
"Tentu saja, sialan. Aku cemburu!" Aku meraung, tak sanggup lagi menahan kata-kataku.
"Setelah semua yang kita lalui, terlebih setelah kemarin, kau masih bertanya apa aku cemburu? Tentu saja aku cemburu! Bagiku ini bukan permainan, Kyungsoo. Ini adalah hidupku. Dan aku ingin kau menjadi bagian dari kehidupanku. Tapi jika kau lebih suka bergaul dengan laki-laki lain, maka aku tak bisa menerimanya. Aku ingin kau dan kau saja. Aku tak ingin membagimu dengan siapapun juga."
Nafasku memburu ketika aku selesai dengan pidatoku dan aku tak percaya apa yang baru saja kukatakan padanya. Dia memandangku seolah aku ini orang gila, dan mungkin saja aku sudah gila, tapi aku tak bisa lagi menahan perasaanku terhadapnya. Untuk alasan yang tak kumengerti, dia membuatku ingin mengungkapkan segala hal.
Semua hal sialan itu. Yang baik atau buruk.
"Kau dan aku, kita cuma pura-pura," dia berbisik. Air mata menggenang di matanya, bahkan mengalir di pipinya. Aku ingin menghapusnya dengan jemariku, aku ingin menciumi air matanya, tapi aku tak melakukannya, aku tak bisa, setelah mendengar apa yang di katakannya.
"Ini bukanlah kenyataan. Kau hanya terbawa suasana, padahal tak terjadi apa-apa."
"Itu tak benar," aku memulai namun dia memotongku, dengan menekankan jemarinya di antara bibirku sejenak sebelum dia menjatuhkan tangannya.
"Itulah kenyataannya. Kau tak menginginkanku, tak benar-benar menginginkanku. Aku tidak seperti yang kau pikirkan, dan kaupun tak seperti yang kupikirkan. Ada begitu banyak rahasia dan masalah diantara kita, dan kupikir akan muncul masalah dan kekacauan baru lagi jika kita mencoba bersama-sama. Dan itu tak boleh terjadi, kau tahu itu."
Aku tak mengatakan apapun. Aku tahu dia benar, walaupun aku berusaha berpikir dia tidak benar. Aku tak bisa mengharapkan apapun sekarang. dan aku patah hati karenanya.
"Dua hari lagi, Sehun." Dia berhenti, menggigit bibir bawahnya. "Atau jika kau lebih ingin aku pergi seperti yang di katakan Yoona. Dia bilang dia merencanakan sesuatu untuk kalian, mengenang dua tahun kematian adikmu. Dan dia jelas-jelas mengatakan aku tak di undang."
"Aku tak ingin kau pergi," aku menjawab otomatis. "Dua hari lagi, hanya hanya butuh dua hari lagi bersamamu."
"Baiklah," dia mengangguk, bibirnya menipis dan dia memandangku dengan tatapan memohon.
Dia ingin mengatakan lebih banyak hal, kuyakin itu, tapi kemudian Yoona membuka pintu dan mengumumkan kalau "Makan malam telah siap!" dengan nada dimanis-maniskan dan aku memberinya tatapan penuh kebencian dari atas bahuku, dan dia menutup pintu karenanya.
"Kita harus masuk," Kyungsoo berkata seraya memeluk dirinya sendiri dan berjalan ke arah pintu depan.
Aku mengikutinya, dan belakangan menyadari kalau aku tak benar-benar mengetahui apakah benar ada namja lain atau tidak.
-o0o-
Hari ke-6 (black Friday/hari setelah thanksgiving), 11.00 siang…
.
What lies behind us, and what lies before us are tiny matters compared to what lies within us.
-Ralph Waldo Emerson-
.
Sehun pov.
Makan malam Thanksgiving kemarin adalah bencana, bukannya aku mengharapkan sesuatu yang kurang. Ayahku mengundang beberapa rekan bisnisnya, dan sementara mereka membicarakan Wall Street dan kondisi perekonomian di salah satu ujung meja, sedang kami lebih banyak diam di ujung lain. Kyungsoo duduk di hadapanku, dengan gigih tetap diam ketika dia memenuhi piringnya dengan makanan.
Yoona tidak memasak dan aku yakin sekali dia tidak menyiapkan makanan untuk Thanksgiving. Aku tidak yakin apakah aku pernah punya kalkun yang di masak di rumah sejak terakhir kali kami menghabiskan liburan bersama kakek-nenekku di New York, dan itu beberapa tahun lalu.
Kebencian di dalam rumah meningkat drastis. Yoona mencoba sekuat tenaga berbicara denganku dan aku menolaknya. Taksi datang untuk membawa Kyungsoo pergi seperti yang dia bicarakan sore itu dan aku menyuruh orang itu pergi, menjejalkan dua puluh dolar ke tangannya sebagai imbalan untuk usahanya.
Kyungsoo tidak bicara padaku, saat dia bisa melarikan dri, dia sudah pergi, menuju kembali ke pavilion tamu tanpa ucapan selamat tinggal kepada siapapun dan mengunci dirinya di kamarnya. Tidak keluar sepanjang sisa malam.
Jadi aku melakukan hal yang sama, marah pada diriku sendiri karena membiarkan dia berada di bawah kulitku. Aku tidak tidur nyenyak, tidak benar-benar tidur dengan baik malam sebelumnya dan sekarang aku berdiri di luar pintu kamar Kyungsoo, tergoda akan payudaranya dan membuatnya bicara denganku.
Ini jelas bukan aku. Aku tidak konfrontatif. Aku benci menghadapi perasaanku. Tapi sialan, pertengkaran kami kemarin membuat aku keras dan kesakitan. Aku merasa cengeng karena berpikir seperti ini, tapi aku pikir apa yang kami lakukan telah berubah menjadi sesuatu yang istimewa.
Perkiraanku salah.
Tapi lihat, ini adalah tendangan untuk kekerasan hati untuk pertama kalinya dalam kehidupan pribadiku. Aku tidak ingin salah. Aku tidak berpikir aku salah. Untuk alasan apapun, dia lari ketakutan. Aku tidak bisa menyalahkannya. Aku melakukan hal yang sama, hari demi hari. Satu-satunya waktu aku merasa benar-benar mengendalikan hidupku di lapangan sepak bola. Terjebak disini selama beberapa hari terakhir, aku ingin segera kembali ke lapangan. Membuat pikiranku keluar dari omong kosong ini dan kembali bermain.
Kembali lagi ke mode robot tidak berperasaan dan melupakan yang lainnya.
Kesal dengan diriku sendiri, aku mengetuk pintu dan memutar kenop, terkejut karena itu tidak terkunci. Aku tidak repot-repot mengetuk lagi, aku melangkah masuk ke kamar yang gelap, berhenti di kaki tempat tidur untuk melihat dia tertidur, tidur dengan bulatan seperti bola di tengah kasur.
Rambut pirangnya bertebaran di bantal dengan berantakan, wajahnya lembut saat tertidur. Bibir merekahnya terbuka, selimut terdorong sampai pinggangnya dan dia memakai tanktop biru pucat tanpa bra, putingnya terlihat jelas di balik kain tipis itu.
Atasan tipis, puting mengeras di baliknya, aku terpesona, air liurku keluar. Kamar ini sangat dingin dan aku mendekatinya, meraih ujung selimut jadi aku bisa menariknya ke tubuhku. Buku-buku jariku menyenggol dadanya, aku sengaja melakukannya, aku tidak akan berbohong dan matanya terbuka pada sentuhan pertama. Dia duduk begitu cepat hampir membuat janggutku terluka dengan kukunya, aku segera mundur, menyelamatkan diri dari cedera.
"Apa yang kau lakukan?" dia menarik selimut sampai dagunya, menutupi semua kulit yang terbuka dan kekecewaan melandaku. "Menyelinap masuk ke kamarku?"
"Memastikan kau baik-baik saja." jawaban yang bodoh, tapi itu semua yang aku tahu.
"Jam berapa ini?" Dia membungkuk dan meraih telepon dari meja di samping tempat tidur sambil mengerang "Kenapa kau berpikir ada sesuatu yang salah denganku pagi ini?"
"Kau terkunci di sini selama dua belas jam. Semua yang kutahu kau bisa saja tidak sadarkan diri. Bagaimana aku bisa tahu?"
Aku merasa butuh membela diri. Reaksinya membuatku ingin membela diri, dan aku tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan jarak dan mengakhiri pertengkaran. Aku membencinya.
Aku ingin Kyungsoo yang baru kembali. Aku ingin kami yang baru kembali.
Tapi tidak pernah ada kami, sialan.
Mengatupkan bibirku, aku duduk di pinggir tempat tidur, sedih saat dia bergerak dengan cepat dariku seolah-olah dia membutuhkan ruang. Aku sudah punya pikiran tersembunyi di belakang kepalaku sejak jam tiga pagi dan aku berharap itu akan memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi pada hubungan tentatif kami. Jika dia tidak setuju…
Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.
"Well. Aku baik-baik saja," balasnya, meletakkan telepon kembali, tatapannya terkunci pada lutut yang tertekuk di depannya.
"Kau bisa pergi sekarang."
"Aku harap aku bisa memintamu pergi denganku ke suatu tempat."
Dia menggelengkan kepalanya untuk memberitahuku jangan-memberikan-aku-omongkosong-lagi.
"Aku tidak yakin apa kita harus keluar bersama lagi, Sehun. Aku tahu seharusnya kita berpura-pura pacaran, tapi minggu ini hampir berakhir dan aku tidak berpikir kita harus membuat pertunjukkan besar seperti itu."
Sial, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak punya ide, dan dia tidak mau ikut bersamaku kecuali jika aku menyeretnya keluar.
"Aku ingin kau ikut denganku ke pemakaman. Aku harus mengunjungi makam adikku."
Tatapannya akhirnya bertemu denganku, mata hijaunya penuh dengan rasa sakit dan kepedulian. Semuanya untukku. "Aku tidak taku apakah aku harus…"
"Aku ingin kau disana." Mengulurkan tangan, aku mengambil tangannya dan menggenggamnya. Jari-jarinya sedingin es dan dia mencoba menariknya kembali, tapi aku mengencangkan genggamanku.
"Aku ingin kau disana, Kyungsoo."
"Aku pikir Yoona punya rencana yang di peruntukkan hanya untuk keluarga." Dia mengangkat dagunya, tampak menantang. Rapuh. Indah.
Sangat cantik, aku tergoda untuk menariknya kepelukanku dan tidak pernah membiarkan dia pergi. Tapi tidak kulakukan.
"Aku tidak akan bersama mereka." Ini akan menjadi seperti setiap mimpi burukku. Yoona yang menangis, emosi yang kacau dan aku akan di harapkan berada di sisinya, penuh kepedulian dan menawarkan pelukanku.
Aku hampir tidak bisa tahan membayangkan dia menyentuhku, apalagi jika benar-benar terjadi.
Kyungsoo terdiam. Aku yakin dia sedang mempertimbangkan permintaanku, membuatku lega. Aku tidak ingin pergi sendiri, aku juga tidak ingin pergi dengan orang tuaku, tapi aku harus pergi dan memberi penghormatan pada adik bayiku. Bayangan dia pergi sendirian membuatku sedih luar biasa, aku tahu aku akan hancur berantakan di detik pertama aku memarkirkan trukku di tempat parkir pemakaman. Aku tidak akan bisa masuk kesana dan aku harus.
Memiliki Kyungsoo di sampingku akan memberiku kekuatan dari kepanikan akan keharusan mengunjungi makam adikku. Memohon maaf padanya di atas batu nisannya karena tidak merawatnya dan berharap dengan sangat saat aku memberitahu Kyungsoo kebenaran, dia tidak akan membenciku atas apa yang aku lakukan.
Dan mungkin, mungkin saja, penerimaannya akan membantu meringankan kebencianku untuk diriku sendiri.
"Aku akan ikut denganmu," katanya, suaranya pelan, tatapannya terlihat sedih sekali lagi. "Kapan kau ingin pergi?"
"Aku harus mandi. Aku yakin kau juga." Ketika dia mengangguk, aku meneruskan. "Beberapa jam lagi? Jam sepuluh?"
"Boleh."
Dia mengangguk lagi dan perlahan-lahan melepaskan genggaman tanganku, jari-jarinya melayang di sekitar milikku. Aku menggigil dari kontak lembut itu dan saat aku melihatnya, dia melihatku, bibirnya terbuka, matanya melebar. Sangat sialan cantik dalam keadaan berantakannya, dia masih terdiam, menyakitkan melihatnya terlalu lama.
"Terima kasih," bisikku. "Untuk mengatakan kau akan datang bersamaku."
"Terima kasih untuk percaya padaku dan bertanya." Dia menjilat bibirnya meninggalkan kilau basah pada mereka dan aku sangat ingin menciumnya, aku kesakitan karena itu.
"Itu sebabnya aku begitu marah, Sehun. Setelah apa yang terjadi kemarin, apa yang Yoona dan kau tuduhkan kepadaku. Rasanya seperti kau tidak mempercayaiku. Padahal aku selalu jujur padamu."
Dia benar, aku tahu itu. aku bereaksi berlebihan. Yoona menekan semua tombolku dan aku masuk ke permainannya. Sangat bodoh.
"Aku tidak seharusnya mendengarkan Yoona." Aku mengambil napas dalam-dalm dan mengeluarkannya. "Maafkan aku."
Senyum kecil bergelung di bibirnya dan jantungku berdebar. "Kau di maafkan. Dan asal kau tahu. Namja yang bicara denganku kemarin?"
Sekarang jantungku berdetak kencang. "Ya?"
"Itu Taeyong. Adikku."
Aku merasa seratus kali lebih brengsek. Tentu saja, dia sedang bicara dengan adiknya. Dia selalu khawatir padanya di sebagian besar waktu.
"Aku tidak seharusnya mempercayai Yoona."
"Tidak, kau seharusnya tidak percaya padanya."
"Aku merasa seperti seorang bajingan."
"Kemarin, kau memang seperti itu." Aku akan mengatakan sesuatu, tapi dia memotongnya. "Sesungguhnya? Aku suka melihat semua kemarahan itu. Itu berarti kau benar-benar merasakannya, kau tahu?"
Aku terdiam. Dia benar. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku seperti itu. Apa aku pernah seperti itu? Sekering menyala dalam diriku dan aku tidak mampu menampungnya.
"Aku akan mandi." Dia mengibaskan dagunya ke arahku. "Kau sebaiknya keluar. Aku tidak ingin kau melihatku. Bajuku hampir tembus pandang."
"Kyungsoo, aku benci memberitahumu, tapi aku sudah melihatmu," aku mengingatkannya, suaraku rendah.
Sekarang giliran dia terdiam dan sambil tersenyum, aku berdiri, menuju pintu. "Aku juga menyukai yang aku lihat," kataku dari atas bahuku.
Tawa lembutnya mengikutiku sepanjang jalan menyusuri lorong.
-o0o-
Kyungsoo pov.
Di luar dingin dan mendung, langit sepenuhnya gelap, awan mendung dan angin selalu berhembus. Aku menarik kencang mantel di sekitarku, membuntuti Sehun ketika kami berjalan melewati kuburan-kubran. Dia mengambil jalan berangin melewati batu nisan dan aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat mereka, tapi aku tidak bisa menahannya. Beberapa dari mereka indah, dengan foto, pesan memilukan dan bahkan patung-patung.
Dan bunga, bunga dimana-mana, asli dan buatan, cerah dan ceria, gelap dan muram. Bahkan beberapa bertemakan hiburan. Aku melihat sisa-sisa pita Halloween, banyak warna yang menggambarkan musim gugur, merah berkarat dan orange dan kuning musim panen.
Aku merasa lebih baik, melihat semua warna, bangku yang orang letakkan di luar sana untuk benar-benar menghabiskan waktu dengan orang yang sudah pergi. Kematian adalah hal yang mengerikan tapi juga seperti bagian dari kehidupan. Aku tidak suka berpikir tentang hal itu, diri kita yang fana.
Lebih mudah untuk berpura-pura bahwa kita akan hidup selamanya.
"Ini dua."
Suara Sehun yang dalam dan suram membuatku melirik ke atas dan aku melihat dia berhenti di depan sebuah batu nisan kecil yang berada dekat dengan tanah.
Perlahan aku mendekat, berhenti di sampingnya dan aku membiarkan tatapanku menyusuri kata-kata yang tertulis di batu.
Oh Yeri
Lahir 30 September 2007
Meninggal 27 November 2010
Selamanya ada di dalam hati kami…
Ada foto kecil Yeri di sudut kanan atas. Rambutnya gelap seperti Sehun, dia memiliki senyum lebar di wajahnya dan mata birunya berbinar.
Dia manis.
Aku melirik Sehun dan melihat dia menatap fotonya, tangan di saku jaketnya, ekspresinya suram. Penuh kesedihan. Aku ingin menghiburnya, ingin menarik dia ke dalam pelukanku dan berbisik bahwa semua akan baik-baik saja, tapi aku merasa itu bukanlah tempatku.
Di tambah, dia harus melakukan ini. Dia mengatakan kepadaku dalam perjalanan. Dia ingin beberapa saat tidak melakukan apapun kecuali melihat kuburannya dan memikirkannya. Bicara padanya dengan pikirannya.
Aku setuju, karena siapa sih aku yang boleh menghakiminya? Kita semua berduka dengan cara yang berbeda. Secara pribadi, aku tidak ingin datang kesini, terutama karena adiknya meninggal di usia muda.
Rasa panasaran merayap di kepalaku lagi dan aku mencoba mengabaikannya. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana dia meninggal. Aku tidak tahu kenapa itu benar-benar menggangguku, tapi semua orang di keluarga ini begitu merahasiakan segala hal. Detail hal kecil ini penting dan aku ingin tahu.
Aku harus tahu.
Sehun membuat napas gemetar dan aku tidak bisa tahan lagi. Mungkin lebih mendekat padanya, aku memegang lengannya dan meremasnya, ingin dia tahu bahwa aku ada untuknya jika dia membutuhkan sesuatu. Dia menarikku mendekat, lengannya melingkar di sekitar bahuku dan hal berikutnya yang aku tahu, dia merangkulku, wajahnya di benamkan di rambutku, lengannya bergulung sangat ketat di sekelilingku, aku hampir tidak bisa bernapas.
Tapi aku membiarkan dia melakukannya. Dia butuh kenyamanan. Begitupun aku.
"Ini salahku," aku mendengar dia berbisik terhadap rambutku. "Aku sedang mengawasinya di luar sementara ayahku mengangkat panggilan telepon. Lalu… lalu aku pergi."
Sebuah sensasi beduri berlari di tulang belakangku dan aku mencoba membuat diriku tenang sehingga dia tidak merasa apa yang dia katakan menggangguku. Tapi aku ingin dia terbuka padaku, tidak menutup dirinya.
"Itu kecelakaan." Aku tidak tahu karena tidak ada seorangpun yang memberitahuku, tapi sepertinya itu hal yang benar untuk di katakan.
"Itu bukan salah siapapun."
"Tidak." Dia menjauhkan aku darinya, mata birunya menyala saat dia menatap ke arahku. Tubuhnya bergetar dengan emosi dan dia mengusapkan tangannya yang gemetar ke rambutnya.
"Apa Yoona menceritakan apa yang terjadi? Apa dia melakukannya?"
"Aku—tidak." Aku menggeleng, terengah-engah ketika dia mencengkeram bahuku dan sedikit mengoyang-goyangkanku. "Dia tidak mengatakan apapun. Hanya bilang bahwa ia meninggal."
Dia mendorongku menjauh, mengutuk pelan, aku tersandung, terkejut bahwa dia akan memperlakukanku seperti itu. Dia berjalan pergi, kepala menunduk, langkahnya cepat dan aku mengikutinya, bingung dan marah dan tiba-tiba berharap aku tidak pernah datang bersamanya ke tempat mengerikan dan menyedihkan ini.
"Kemana kau mau pergi?" aku berteriak, terengah-engah melawan angin dan dingin, kesal karena kakinya yang panjang memberinya keuntungan untuk itu.
"Aku ingin sendirian."
"Berikan aku jeda," gumamku, meningkatkan kecepatanku. "Kau tidak bisa menghindari omong kosong menyakitkan selamanya, kau tahu," kataku.
Dia berpusar padaku, wajahnya berkerut dengan begitu banyak emosi yang saling bertentangan, seperti dia adalah orang yang berbeda.
"Kau tidak mengenalku. Aku tidak menghindari omong kosong yang buruk. Aku hidup dengan itu setiap hari dalam hidupku!"
Aku terkejut dengan ucapannya, sekali lagi dengan beberapa emosi. Meskipun dia mengeluarkan semua kemarahan dan pergolakan dirinya padaku, ini harus menjadi baik baginya, kan?
"Kau tidak harus melalui semua itu sendiri, kau tahu. Tidak apa-apa untuk berduka dan bercerita tentangnya."
"Aku berduka dan penuh rasa bersalah. Ini salahku adik bayiku sampai jatuh ke kolam renang dan tenggelam. Aku seharusnya tetap di luar dan mengawasinya, tapi aku—aku tidak melakukannya. Aku pikir gerbangnya di tutup." Dia mencengkeram kedua tangannya ke rambut, mencengkeram helai gelap itu saat dia menatap padaku. "Ini salahku dan kesalahan dia."
"Kesalahan dia? Apa yang kau maksud Yeri?" Dia masih bayi! Bagaimana dia bisa mengatakan itu?
"Bukan, sialan tentu saja bukan. Itu kesalahan dia. Oh Tuhan."
Suaranya bercampur dengan isakan dan aku menyadari air mata mengalir di pipinya. Melihat mereka, melihat dia begitu tertekan, membuat hatiku sakit, tapi aku takut mendekatinya. Takut dia akan mendorongku pergi dan aku tidak bisa tahan dengan hanya membayangkannya. Dia berduka sendirian, berpikir entah bagaimana bahwa itu semua kesalahannya dan seseorang yang lain.
Aku begitu bingung. Dan jujur saja?
Aku takut bertanya.
"Ceritakan apa yang terjadi," aku menuntut, memutuskan untuk menjadi berani dan mengangkat kepalaku. "Bagaimana adikmu meninggal?"
Sehun mengusap dengan marah wajahnya, mengenyahkan air mata saat kepala kami kembali ke kuburan Yerim. Aku memberinya waktu, duduk di bangku terdekat. Cabang-cabang pohon di kepalaku bergoyang karena angin, dan aku menggigil di balik mantelku yang terlalu tipis, mengawasinya saat dia mulai mondar-mandir di depanku.
"Aku sedang di luar. Berkumpul dengan ayahku dan menikmati matahari. Itu saat liburan Thanksgiving, udara lebih hangat dari biasanya, dan aku sedang sangat bahagia setelah melakukan yang terbaik di tahun pertamaku dalam tim."
Suaranya menghilang dan dia melamun. "Yoona keluar sepanjang hari itu, belanja untuk hadiah Natal. Dia meminta ayahku untuk menjaga Yerim dan kami bermain bersamanya. Dia berjalan bolak balik di teras belakang, tertawa tanpa henti. Dia butuh beberapa waktu untuk bersamaku, kau tahu? Karena aku tidak selalu berada di rumah, tapi aku selalu memintanya berkunjung."
Aku tidak mengatakan apapun, membiarkan dia mengambil waktu untuk menceritakan kisah ini. Dia harus mengeluarkannya, tidak peduli betapa menyakitkannya, harus baginya menghidupkan kembali hari itu. aku ingin menghiburnya dan bilang padanya kita akan membicarakannya di lain waktu, tapi kapan?
"Ayahku mendapat panggilan telepon. Dia sudah bekerja pada sebuah merger besar yang sudah mempekerjakannya beberapa bulan dan dia harus mengangkat panggilan itu. Dia bilang aku harus mengawasi Yeri, jangan pernah membiarkannya keluar dari pandanganku dan tentu saja aku bilang aku akan melakukannya."
Dia melepaskan napas gemetar dan menutup matanya. "Dia bermain petak umpet denganku dan kami tertawa, aku menggodanya. Aku tahu ayahku tidak terlalu jauh, aku bisa mendengar suaranya bicara di telepon. Yoona tiba-tiba muncul di pintu dan dia memintaku… dia memintaku masuk ke dalam bersamanya. Aku bilang aku tidak bisa, aku harus mengawasi Yeri dan dia meyakinkanku bahwa Yeri akan baik-baik saja. Ayahku ada disana. Dan dia memang disana, aku yakin dia ada disana. Jadi aku masuk dan… dan Yeri entah bagaimana masuk ke dalam pagar yang mengelilingi kolam renang dan dia jatuh. Ternyata ayahku sudah berjalan ke depan rumah tapi aku tidak tahu. Dia tidak menyadari aku meninggalkan Yeri sendirian. Aku pikir ayahku menjaganya dan ayahku pikir aku menjaganya…"
Sehun hancur berantakan. Secara harfiah jatuh ke tanah berlutut di makam adiknya, bahunya naik turun saat dia membungkuk di atas batu nisan seperti sedang berdoa.
"Maafkan aku. Aku mengacaukannya dan aku benar-benar menyesal."
Aku mendekatinya. Berlutut dan melingkarkan tanganku padanya sebaik mungkin. Dia berbalik padaku, melemparkan lengannya di leherku dan menekan wajahnya di dadaku. Aku bisa merasakan kelembaban air matanya di kulitku dan aku mengelus kepalanya, jari-jariku terpaut di rambutnya dan aku mencoba yang terbaik untuk menenangkannya,
Kami duduk seperti itu untuk waktu yang lama, menit-menit terdiam. Tubuhnya gemetar dengan emosi saat dia diam-diam menangis terhadapku. Aku membiarkannya, merasakan air mata dan kesedihan padaku juga, dan aku menangis bersamanya, air mata kesedihan yang mengaliriku, menghubungkan aku dengan Sehun seperti aku merasakan hatinya, semua kesedihan dan rasa sakitnya memenuhiku.
Bukan hanya ini yang mengganggunya, aku tahu. Aku bisa merasakan ada lagi, jauh lebih besar dan dia menyembunyikannya karena takut aku mungkin akan panik. Atau lebih buruk lagi, memandang rendah dirinya.
Ini ada hubungannya dengan Yoona. Dan aku pikir aku tahu apa itu.
Aku hanya belum siap menghadapinya.
-TBC-
.
A/N : konflik nya udah makin kerad yaa :v bakalan kebongkar nih hubungan Sehun - Yoona bentaran lagi. Sabar yeee.-MelliFlouse-
