Okay guuuyyss, I got a little confession to make! *Tebar confetti*

So, you know, I'm pretty much busy in my real life and I've got something important to do. I'm not going to write very often. Aaaannnddd, you didn't know this, but I actually running this account with my friend. So these stories are our stories. :''D She's the one that going to publish some new stories for y' guys *grins*

[Hey ^^v I'll be writing new stories for you guys, if I have time between my studies. ~]

Yup, I'm going to continue this story, but I'm not gonna make any one-shots. So yeaaaayyy!

Informasi: Grammar dan EYD saya anjlok kalau lagi bad mood :''''D Kalau ingin ngobrol dengan saya, FB aja yak xD Saya selalu siap sedia! Oke, cerita 'Falling Tears' masih panjaaaaaang banget. Plotnya memang beralur lambat. Saya mendadak jadi fans drama Amerika, jadi ceritanya agak kedrama-dramaan (?) Jadi I'm sorreehhh! Pweaasseeee forgive me! Untuk my buddies yang di FFN, I'm going to miss you guys! (Padahal sebenarnya punya contact di FB sih, lol)

Rasanya confession-nya itu saja. Kalau saya sudah membereskan segala tetek-bengek di duta dan mengembalikan mood saya untuk menulis dengan EYD dan Grammar yang benar, here I am~

[Nggak bohong. EYD saya anjlok. Lagi nggak mood grammar pun tambah buruk lagi. Ya ampun. Penghinaan terbesar dalam hidup saya. I'm humiliated. I'm drowned. Hiks. Hiks. Why. Why. Why. Why. Why. Why. *please ignore*]

That's it, guys. I'm hoping that I'll be back for you guys *winks*

Kia ora everybodehh~~~


Apodolan: Maaf ._. Habis, aku nggak sempat bikin cepet sih~ I'm sorry!

Regina: Pfffttt, Mirajane bener-bener dicurigain ya? Tenang kok, dia support Graylu *eh*

Himiki-chan: THANK YOU REVIEWNYA :* *sksd*

bjatihowo: *capslock mode on* Kamu tahu nggak sih? AKU JUGAA! *eaa* Nunggu waktu update nih, jadi saya dimaafkan dong? Iya kan? Iya dong?

Anonymous girl 888: MARI KITA BUAT SQUAD YANG TIDAK SUKA DENGAN PAIRING ITU! *demoo* Oke oke. Pasti kukabulin deh siiip *winks*

Fujisaki Eja: Sankyuu, I'll try.

Sisanya yang belum direview nanti aja lagi yak. *ngelunjak nih anak*


Lucy terlihat salah tingkah ketika pandangannya terpaku pada lelaki berambut merah muda yang berdiri mematung. Gray yang menyangka akan bertemu Mirajane jelas-jelas terkejut karena yang datang bukannya perempuan dengan iris mata biru, tetapi lelaki yang memiliki nama belakang Dragneel.

"Apa-Apa…" Natsu kehabisan kata-kata saat ia menatap keduanya bergantian.

"Natsu, aku bisa jelaskan," Gray berkata dengan nada tenangnya seperti biasa.

Natsu mendelik marah. "Jelaskan apa, hah? Kau berdua-duaan dengan perempuan ini!" Dia langsung datang mendekat ke Gray dan menonjoknya tepat di perut lelaki itu. Gray mengeluarkan suara yang tertahan di tenggorokannya. Natsu menyipitkan matanya kepada Lucy. "Dan kau—" Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi pemuda itu menutup kembali mulutnya. Dia berbalik dan pergi dari rumah Gray.

Perempuan berambut pirang itu langsung mendatangi Gray. Dia agak sedikit membungkukan tubuhnya dan menepuk punggung Gray dengan lembut. "G-Gray, kau tidak apa-apa kan?"

Gray menyeringai. "Hanya begitu saja." Natsu tahu bahwa dia telah menjadi milikku, secara tidak langsung tentunya.

"Sudahlah, setelah ini kau akan pergi ke kantor bersamaku, kan?" Gray berjalan pelan ke ruang makan.

Lucy yang masih menatap Gray dengan cemas mengangguk. "Y-Ya. Tentu saja aku akan ikut bersamamu, Gray." Dia menambahkan sambil kembali duduk di kursinya. Gray memberikan gerakan kepala yang singkat sebelum dia menghabiskan seluruh makanannya.

Pemuda itu bangkit dari kursinya dan mengambil ransel hitam besar dari kamarnya. Pandangannya beralih pada Lucy untuk memastikan bahwa perempuan itu sudah siap, segera saja lelaki itu berjalan menuju mobilnya dan menyalakan mesin.

"Gray, hari ini kita akan berdiskusi lagi, ya?" Tanya Lucy penasaran. Dia membuka pintu sendiri dan duduk. Tidak lupa, perempuan itu memakai seatbelt.

Gray mengangguk. "Benar sekali. Kita akan bertemu dengan Sting dan Yukino. Lagi. Mereka adalah partner dalam festival kali ini. Temanya…"

"Ya?" Lucy memotong perkataan Gray sebelum dia selesai. Gray melirik Lucy dari ekor matanya, lalu tersenyum maklum. Memang, ini kali pertama Lucy mengikuti festival besar seperti ini.

"Sebaiknya kita bicarakan nanti saja, hm? Kita santai-santai dulu. Sekarang bukan jam kerja."

Lucy menunduk dengan lemas. Dia sudah penasaran sekali.

Pemuda di samping Lucy itu menahan tawanya. "Kau sebegitu penasarannya, ya?"

"Bukan!" Lucy mencoba membantah pernyataan Gray.

Dia tersenyum akan jawaban Lucy. "Memang, kalau kita tertarik dengan pekerjaaan kita, segalanya akan menjadi menyenangkan, ya?" Goda Gray. Lucy terkikik kecil. Rasanya ironis mendengarnya karena alasannya bergabung adalah Levy yang naksir seseorang.

"Ironis," gumam Lucy, menyuarakan apa yang sedang ia pikirkan.

Gray menjalankan mobilnya, menoleh pada Lucy. "Ironis?" Dia mengerutkan alisnya, bingung dengan gumaman Lucy yang menyerupai bisikan.

Lucy terlonjak karena Gray mendengar gumamannya. Dia dengan panik mencoba menutupi apa yang sedang ia pikirkan. Iris mata cokelatnya melebar karena panik dan dengan gugup ia mengepalkan tangan, berharap bahwa waktu bisa diputar kembali dan Gray tidak mendengar apa yang tadi ia gumamkan.

"Tidak! Apa maksudmu dengan 'ironis,' Gray? Aneh-aneh saja!" Lucy tertawa canggung. Kau bodoh, Lucy. Mana ada yang percaya dengan tawa anehmu itu!? Omel Lucy dalam hatinya sendiri.

Gray memiringkan wajahnya dengan gaya yang lucu. Dia memutuskan untuk tidak menanggapi sikap Lucy yang kadang-kadang suka bersikap canggung itu. Dengan gayanya yang santai, pemuda itu tetap fokus untuk menyetir. Lucy yang melihat Gray tidak begitu peduli, menghela napas lega. At least Gray tidak menganggapnya aneh kali ini. Gray itu memang orang yang aneh tapi… entah kenapa Lucy suka berada di dekatnya!

Setelah menit-menit kecanggungan yang dilewati mereka berdua, akhirnya mereka sampai di Fairy Art. Gray menghentikan mesin mobil dan membuka pintunya. Tanpa disuruh lagi, Lucy membuka pintunya sendiri. Perempuan itu menutup matanya dan menghirup udara bersih di sana.

"Yap. Ayo masuk," ajak Gray kepada Lucy. Lucy mengangguk padanya, mengikuti langkah kaki Gray yang mengarah pada pintu Fairy Art.

"Selamat datang," sapa Laki dengan ramah. Gray mengangguk singkat. Lucy yang baru pertama kali itu melihat Laki agak sedikit linglung. Dia mengerjapkan matanya dan berusaha mengingat nama perempuan berambut ungu itu.

Iris mata Laki tiba-tiba bersinar. Dia menunjuk Lucy dengan jari telunjuknya. "Ah, Ruu, bukan? Senang bertemu denganmu, namaku Laki!" Laki mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Lucy mengangguk-angguk dan menyambut tangan Laki.

"Salam kenal, Laki-san." Lucy tersenyum ramah. Iris mata cokelatnya bertemu dengan mata Laki yang bersinar-sinar senang. Lalu Lucy mengingat sesuatu. "Erza-san ke mana ya? Kenapa aku tidak melihatnya hari ini?" Lucy memiringkan kepalanya.

Laki menggigit bibirnya. "Erza kembali ke posnya. Membuat pedang."

Lucy tercenung. "Kukira dia sekretaris…?"

Perempuan berambut ungu itu menepis pertanyaan Lucy. "Bukan, bukan!" Dia melambaikan tangannya dengan cepat. "Nona Erza tidak mungkin mempunyai pekerjaan rendahan sepertiku. Oke, kalau begitu, selamat bekerja ya! Orang-orang yang akan jadi rekan bisnis kalian mungkin akan datang sebentar lagi."

"Sampai jumpa!" Lucy berjalan mengikuti Gray yang sudah mendahuluinya. Mereka memasuki ruangan yang kemarin mereka tempati. Setelah memastikan bahwa berkas-berkas telah disiapkan, mereka duduk di sofa. Tinggal menunggu Sting dan Yukino untuk datang.

Gray bangkit dari sofa dan berjalan ke arah kulkas. Dia membukanya dan mengeluarkan segelas limun dingin. Setelah meneguknya beberapa kali, pemuda itu membawa gelas itu ke meja terdekat. Sambil membolak-balik kertas, dia menghirup isi air limun itu.

Sedangkan Lucy dengan gugup menggaruk-garuk kepalanya. Gray sampai pada halaman kelima dari kertas-kertas itu. Pemuda itu bangkit secara tiba-tiba. Diapun dengan gelisah meninggalkan Lucy di ruangan itu.

"Maaf, ada yang salah dengan ini, Lucy. Kau tunggu saja di sini. Aku tidak akan lama." Gray cepat-cepat menutup pintu.

Lucy duduk sendirian. Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Lucy dengan semangat langsung menyerukan nama Gray.

"Gray!" Panggilnya.

Tetapi yang muncul bukanlah lelaki berambut hitam itu. Melainkan lelaki berambut pirang dengan seringai aneh. Dia terlihat marah setiap saat. Sting.

Wajah Lucy langsung memerah. Dia tidak menyangka yang masuk ternyata Sting Eucliffe. Pemuda yang dipanggil Gray oleh Lucy. Sting mengangkat alisnya sebelum mengangguk singkat. Dia berjalan dengan cepat ke arah sofa dan duduk. Lucy menjadi salah tingkah. Dia buru-buru membuka kulkas dan mengeluarkan segelas limun dingin—persis seperti yang diambil Gray.

"Erm, tuan, anda ingin minum…?"

"Apakah kau pelayan?" Sela Sting. Dia tidak menjawab pertanyaan Lucy. Lucy dengan gugup menggeleng.

Dia membuka bibirnya, "Aku asisten Gray."

Sting memutar matanya bosan. "Kau tidak usah memanggilku dengan tuan. Orang jadi mengira kau pelayan, kan! Panggil aku Sting. Setelah itu, duduklah di sampingku. Kita ini rekan bisnis, harusnya membicarakan bisnis. Bukannya terdiam dalam kecanggungan seperti ini."

Perempuan berambut pirang itu mengangguk lalu duduk di samping Sting. Sting menyeringai. Dia menguap lebar sembari memperhatikan wajah Lucy yang cantik.

"Jadi, namamu…?"

"R-Ruu," jawab Lucy gagap. Iris matanya bertemu dengan mata Sting. Dia jadi gugup begini, sebenarnya ada apa? Tangan Sting menyentuh dagu Lucy dan menariknya mendekat ke arah wajahnya sendiri. Wajah Lucy tambah memerah.

"Aku Sting. Kita bisa bertemu kapan-kapan kan, Ruu?" Sting memperlihatkan seringaiannya yang menggoda. [1]

Lucy menggigit bibirnya. Dia tidak sadar Sting membisikkan kata-kata di telinganya. Yang dirasakannya hanya napas hangat Sting di telinganya. Mendaratlah bibir Sting di pipi Lucy sebelum mereka berdua menarik diri karena terdengar suara langkah kaki di depan pintu. Lucy melihat ke bawah dan ada kartu nama Sting. Buru-buru ia menyimpannya.

"Maaf aku terlambat!" Yukino terengah-engah. Dia mengelap peluh yang bercucuran dari pelipisnya. Gray yang sedang memegang berkas juga mengikuti Yukino dari belakang. Dia melayangkan pandangan 'Maafkan-aku-ya' pada Lucy. Rapat kembali dimulai. Tapi kali ini, Lucy tidak fokus pada rapat. Pikirannya terganggu oleh… Sting.

Falling Tears~

Gray berdehem. "Rapat kali ini selesai."

Perempuan berambut pirang itu segera saja bangkit dan keluar dari ruangan rapat. Sting melihatnya dari jauh. Sinar di matanya belum saja menghilang. Gray yang berjalan pelan keluar mengikuti Lucy meninggalkan Yukino dan Sting di dalam ruangan rapat.

Yukino menarik gelas limun mendekat. Dia meneguknya perlahan-lahan. "Tuan Sting, ada apa? Anda tidak terlihat fokus."

Sting menarik salah satu ujung bibirnya. "Oh ya? Apakah terlihat jelas?"

"Tentu." Yukino memandang Sting dengan khawatir. "Apakah anda sakit? Saya dapat memanggil dokter khusus untuk anda. Anda asset penting Sabertooth Entertainment."

Pemuda itu menggeleng tegas. "Tidak perlu, Yukino. Jangan berani-berani kau mengendus hidungmu ke dalam urusanku. Toh nantinya aku bisa menyelesaikannya dengan baik, kan? Kerja. Hanya itulah yang kita pikirkan sekarang. Kerja untuk kesuksesan." Sting berdiri dan berjalan pergi.

Yukino menatap punggung Sting dengan terluka.

Sedangkan Lucy menggumamkan lagu sambil berjalan keluar. Dia melihat Mirajane sedang berbicara dengan seseorang. Melihat kedatangan Lucy, Mirajane berbisik sesuatu pada lawan bicaranya. Setelah itu dia menunduk dan menghampiri Lucy.

"Lucy! Sudah selesai rapatnya? Bagaimana? Sukses?" Sapa Mirajane. Dia tersenyum ramah, sampai Lucy mengira dia menutup matanya.

Perempuan itu mengangguk. "Eh.. iya…"

"Kau tidak fokus, ya?" Mira menebak dengan tepat. DEG! Lucy bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnyua.

Dia melambaikan tangannya dengan cepat. "Apa maksudmu sih, Mira-san?" Dia menggaruk rambut pirangnya.

"Aaah~ Ada apa sih?" Mira tersenyum penasaran. Lucy bisa merasakan wajahnya memerah ketika dia melihat Sting dan Yukino berjalan melewati mereka. Mirajane yang menyadari Lucy tidak memperhatikannya lalu menyenggol Lucy.

Lucy tersentak. "Eh, iya?" Dia menoleh pada Mirajane.

Mirajane melipat tangannya. Dia menyipitkan matanya curiga. "Gini deh! Bagaimana kalau malam ini aku menginap di rumah Lucy? Sekalian kan! Aku ingin menjelaskan segalanya pada keluargamu."

Lawan bicara Mirajane itu mengerjapkan mata. Dia terlihat berpikir sebentar sebelum menyetujui usul Mirajane. "Baiklah. Mira-san juga sekalian belikan karcis bus ya?" Lucy menggoda Mirajane.

Tidak ia sangka, Mirajane menyanggupi.

Mereka berdua kemudian menunggu di bus stop. Mirajane bersenandung dan menceritakan harinya pada Lucy. Iris matanya berbinar-binar saat menatap iris mata cokelat milik Lucy.

"Festival sudah 40 persen rampung, lho!" Seru Mirajane memberitahu. "Sting, Yukino, Gray dan kau kan bertugas dalam departemen display, apa yang akan dipamerkan di festival itu. Ini tugas berat! Berbangga lah! Kalau berhasil, kau akan lulus sebagai trainee dan langsung naik pangkat!" Perempuan itu mengedipkan sebelah matanya.

Wajah Lucy memanas. Dia membayangkan bila dia naik pangkat—eh, tunggu. Naik pangkat? Maksudnya? Alis Lucy berkerut.

"Naik pangkat?"

"Iya!" Mirajane mengangguk. "Ada tiga tingkat dalam Fairy Productions. Satu, Freshmen. Ini adalah orang-orang yang baru lulus sebagai trainee. Gajinya sekitar lima ratus ribu yen. Lalu Sophomore, yang sudah lebih experience dan menghasilkan untuk cukup banyak untuk perusahaan. Gaiinya sekitar tiga ratus ribu yen. Yang terakhir, Expert. Bisa sampai lima ratus ribu yen ke atas," jelas Mirajane.

Lucy mengangguk. Dia mendengarkan Mirajane dengan seksama. Mereka membicarakan festival untuk waktu yang lama sembari menunggu bus datang. Akhirnya, transportasi berwarna hijau[2] itu datang juga. Pintu hitam bus terbuka secara otomatis, memperlihatkan pria bertubuh tambun berambut pirang.

Mereka duduk berdampingan. Sepertinya Lucy cukup senang mengobrol dengan Mirajane kali itu. Bus berwarna hijau itu berhenti juga di bus stop terdekat. Mirajane dan Lucy turun bersamaan setelah bayar. Pria yang menyupir bus itu memberikan cengiran yang terkesan lugu sebelum pintu otomatis itu tertutup.

Perempuan berambut putih dan pirang itu berbincang sambil berjalan pelan ke arah rumah Lucy. Mereka baru saja sampai di depan pintu rumah ketika pintu itu dibuka dan menampilkan wajah Lyon yang kelewat cemas.

"Ruu, kau ke mana saja aku—" kepala pemuda itu berbalik dan iris matanya melebar melihat Mirajane. "M-Mira…"


[1] Uhuk, menggoda. Uhuk.

[2] Warnanya terlalu mainstream? Maaf deh -_-" Kenapa jadi kayak Kopaja ya? Satu-satunya bus di Auck yang warnanya hijau :") ß padahal dia yang jarang naik bus (Iya dong, punya mobil sendiri /plak)

DAAAN JREEENNNGGG! Words nya berkurang lagi! *pundung* Entar deh, kalau mood nulis kubanyakin :""D /mood nulisnya kapan/

APA HUBUNGAN MIRAJANE DAN LYON!? Sfx: JENG JENG JENG!

JANGAN-JANGAN—*pffft*

Ada yang udah nge-guess-kah apa plotnya ke depan? Nggak ada? Bagus deh XP Ini setengah dari ceritanya pun belum -_-'' Tiga bulan lagi setahunnya Falling Tears lho :) *bangga ceritanya* *author yang terlalu lambat nulis*

Karakter Laki kumunculin di sini :) Ada yang tahu untuk apa~~?

Oh ya, no comment lagi deh. Can you please review~?