THELOVEBETWEENUS

Pairing : KyuMin, and the other member (For me SuJu is always 13)

Genre : Romance, Sad, Friendship? (Gak tau lagi ah..=,=)

Rating : Untuk saat ini, T

Warning : YAOI, BL, gaje, gak sesuai EYD, TYPOS,OCC,banyak lah pokoknya. DON'T LIKE - DON'T READ!

Disclaimer : All Characters are belonging to themselves, SuJu is belonging to SM-E and this FF is mine

Summary :

This is the last chapter.. as I said it's happy ending.. sory for the long time waiting… ^^

Happy reading!


#SUNGMIN POV#

Los Angeles, udara yang cukup dingin menyambut begitu aku menjejakan kakiku disini. Orang-orang baru, lingkungan yang tidak kukenal, membuatku makin merasa terasing di kota yang hiruk pikuk ini.

"Sungmin-ah, kau bisa menempati kamar ini." Ujar Oemma sambil tersenyum senang.

"Wuuaaahhh,Hyung! Kamar ini punya pemandangan yang paling bagus loh!" seru dongsaengku bersemangat.

Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih walau sesungguhnya aku tidak benar-benar mendengarkan apa yang Oemma dan Sungjin katakan. Yang kurasakan adalah pikiranku tidak ada disini bersamaku.

Malam tiba terlalu cepat. L.A kota yang gemerlap dan Sungjin benar, pemandangan disini begitu cantik, seolah mereka semua memulai kehidupan lain saat malam tiba.

Aku berdiri sendiri di balkon kamarku, memandang ribuan cahaya di bawah sana. Ratusan lampu mobil yang melintas cepat di jalanan utama kota. Gedung-gedung yang berjajar abstrak seolah berlomba memancarkan warna-warni cahaya mereka. Sangat indah, namun sekaligus tampak menakutkan dalam kungkungan pekatnya latar hitam yang membayangi. Begitu terasa sepi karena dicengkram kegelapan malam.

Here I stand empty hands,wishing my wrist bleeding to stop the pain from the hurt beat.

Sakit, tidak ada yang bisa menolong, perasaan ini terluka terlalu parah. Aku hanya ingin membiarkannya membeku hingga aku tak perlu merasakan lagi sakitnya penderitaan ini. Seandainya hidup ini bisa berjalan seperti apa yang kuinginkan, tentu akan lebih mudah untuk dijalani.

-0o0-

# POV#

'Ceklek!'

Aku mengawasinya saat ia keluar dari kamar dan mengambil segelas air putih, "Sungmin-ah?" panggilku.

"Ne, oemma?" ia tersenyum. Ah, tidak. Ia tidak pernah tersenyum lagi saat itu.

"Ani.. " aku bahkan lupa apa yang ingin kubicarakan. Tanpa sepatah kata lagi terucap dari bibirnya, ia meninggalkanku untuk masuk lagi ke dalam kamarnya, menemui kesendirian yang mugkin membuatnya nyaman.

Aku menghela nafas pajang, mau sampai kapan ia terus begini. Sesak, sedih, rasa itu terus merambati perasaanku kian parah setiap harinya. Seminggu, tidak, bahkan sejak lama perdebatan itu justru dimulai dalam diriku, sejak aku melihat air matanya jatuh menetes saat itu. 'Haruskah aku membirkannya bersama kyuhyun?' pertanyaan itu terus mengusik pikiranku, membuatku tidak tenang setiap harinya.

"Maafkan oemma, Sungmin-ah.." bisikku lirih. "Maafkan Oemma."

-0o0-

#SUNGMIN POV#

Satu minggu sudah dan udara LA masih saja terasa asing bagiku. Tubuhku boleh berada disini, tapi tidak dengan hatiku. Aku sudah memberikannya pada namja yang kucintai dan kyuhyun membawa hatiku tidur bersamanya. Sedangkan aku hanya membawa lukaku, perasaanku yang tersayat pilu.

Sampai saat ini aku dapat memainkan peranku denagn baik, aku bersemangat saat menata kamar baruku, kali ini aku mendekornya dengan warna broken white, karena pink terlalu banyak memiliki kenangan. Aku berusaha excited saat Oemma bilang aku bisa memulai studiku 2 minggu lagi, dan yang paling penting adalah bibirku selalu mengukir sebuah senyuman yang bisa membuat Oemma bernafas lega. Setidaknya begitu menurutku.

Aku memandang sebuah kotak coklat berukuran sedang yang tergeletak di pojok kamarku. Kotak yang berisi kenanganku bersamanya. Kotak yang kuharap suatu hari nantu mampu kubuka kembali.

Namun harapanku tampak masih jauh dari kenyataan, semakin bertambahnya hari, justru semakin takut aku untuk membuka kotak itu, seolah kenangan yang disimpannya akan menyakitiku, membuat lukaku kembali berdarah.

'TOK! TOK!' seseorang mengetuk pintu kamarku. Kau mendongak, tak lama kemudian sesosok wajah cantik yang kukenal baik muncul dari balik pintu.

"Oemma?"

"Sungmin-ah, boleh Oemma bicara?"

Sesuai janjiku, aku tersenyum padanya. "Tentu saja, Oemma. " Oemma masuk ke kamarku dan duduk diatas ranjang , disampingku. Sedangkan aku duduk dibawah seraya memeluk kedua lututku.

"Apa kau baik-baik saja?" taya Oemma aneh.

"Tentu saja,Oemma. Aku sehat-sehat saja kok." jawabku tanpa ragu. Aku dapat melihat raut cemas diwajahnya memalui cermin besar dihadapanku.

Oemma memegang pundakku, pandangannya terarah pada cermin di depan kami. "Cermin ini lebih jujur, sungmin-ah."

DEG! Aku memandang cermin itu, mencoba mencari tahu. Yang kulihat hanyalah bayangan Oemma yang tampak khawatir dan bayangan.. ku ? aku ?

Entah sejak kapan, sepertinya aku kehilangan beberapa kilo dari tubuhku. Tulang pipiku kini dapat terlihat jelas. Mataku tampak lelah, dihiasi noda kehitaman pada kantung mataku, tidak dapat menyembunyukan bukti atas beberapa malam yang kuhabiskan tanpa memejamkan mata. Begitu juga dengan kulitku yang menjadi pucat, dan bibirku yang selalu melengkungkan senyuman, senyuman yang aneh.

Setiap orang yang melihatnya akan tahu bahwa senyum ini tidak tulus, karena berbanding terbalik dengan kesedihnan yang justru terpancar dalam sorot mataku, bukannya rasa bahagia. Perlahan senyum itu memudar, Oemma benar. Cermin ini mengatakan yang sesungguhnya.

"Menangislah kalau kau merasa sedih." bisik Oemma lembut. DEG! 'Tidak! Aku tidak bisa menangis.' Aku memberikan Oemma sebuah senyuman, kali ini kucoba untuk membuat senyuman senatural mungkin.

"Anii, oemma. Aku senang disini."

"Kau boleh menangis,Sungmin-ah. Meraung, marah, apa saja." tampak raut kesedihan pada waah oemma.

"Aku sudah melupakannya oemma." senyum itu masih dapat kupertahankan, ucapanku barusan lebih kutunjukan pada diriku sendiri. 'aku sudah melupakannya.' Walau hati kecilku berontak menolaknya.

Oemma beranjak duduk tepat disampingku, kulihat matanya yang berkaca-kaca sebelum ia memelukku erat. "Jangan tersenyum kalau hatimu sakit, sungmin-ah." oemma berbisik lirih.

Jantungku berdegup lebih cepat. Ada sesuatu yang merembes keluar di dalam dadaku, sesuatu yang tidak mengenakkan, sesuatu yang sedih, sesuatu yang selama ini berusaha kutahan mati-matian, beruaha kutekan dalam-dalam, saat rasa itu mengusaiku, tanpa kusadari air mataku akhirnya jatuh juga, membuat benteng yang kubangun selama ini runtuh dalam sekejap mata.

Bayangan dirinya kontan bermunculan dalam benakku, kenangan-kenangan yang telah coba kulupakan kini justru menjadi lebih jelas. Tingkah jenakanya, senyumannya yang nakal, sentuhan lembutnya, rasa cintanya padaku, semua memori itu kembali begitu cepat, membuatku tak mampu lagi bertahan diatas segala kepalsuan yang kubangun.

"Huhuhuhu.. hiks,, huuu..." bahkan tangisku tak dapat lagi kutahan, semuanya habis sudah. Aku menyerah mempertahankan segalanya, aku ingin kembali.

"Maafkan oemma, membuatmu begitu menderita." kurasakan bahuku yang basah dan senyuhan kasih sayang pada punggungku. "Temuilah Kyuhyun." ucap oemma lagi saat ia melepaskan pelukannya. Ia memberikan pasporku, beserta tiket penerbangan ke korea.

"Oemma..?" benarkah ini? Aku boleh menemuinya?

"Pergilah,Sungmin-ah." Oemma tersenyum, senyuman tulus seorang ibu. "Kau harus berbahagia dengannya." ia membelai kepalaku lembut.

"O-oemma.. gomawo Oemma.." aku memeluknya erat, wanita yang telah melahirkanku, wanita yang telah berjuang untukku selama ini. Wanita yang memberiku kasih sayang tulus tanpa batas. 'Terima kasih,Oemma.'

-0o0-

#AUTHOR POV#

Seorang wanita cantik berhenti di depan sebuah batu nisan berpelitur indah.

"Anyeong." Ia memandangi foto pria yang tertera disitu. " Sudah lama aku tidak kemari." Lanjutnya seraya meletakkan rangkaian bunga pada vas yang kosong di depan nisan itu.

Ya, ini lah tempat peristirahatan suaminya, nama yang tertulis di nisan itu. Ia sengaja membawa abu suaminya ke L.A agar bisa tetap bersamanya, karena sampai kapan pun sesungguhnya, ia tak pernah menghendaki sang suami untuk pergi dari sisinya. Cinta itu terlalu dalam untuk dilepas begitu saja.

"Aku datang untuk mengobrol denganmu." mulai bersimpuh di depan makam suaminya.

"Aku tahu, kau pasti mengawasi kami dari atas sana... tapi sepertinya aku masih tetap harus bercerita padamu."

"Anak-anak kita sudah beranjak dewasa, kau tahu? Sungjin belajar dengan baik, begitu juga dengan Sungmin. Aku sedikit menyesali keputusanku waktu itu, untuk meninggalkannya di korea sendirian. Aku tidak bisa mengawasinya dengan baik, yeobo."

terdiam sejenak, "Sungmin jatuh cinta.. dengan seorang namja."

"Aku menolak pada awalnya. Aku ingin putera kita menikah dengan seorang yeoja, memiliki sebuah keluarga yang bahagia, kemudian aku teringat padamu."

"Kita tidak bisa memilih saat cinta datang mengahmpiri. Itu yang selalu kau katakan bukan?"

" Itu lah yang membuat aku menyerah, aku meyadari kalau sungmin tidak punya pilihan lain."

Matanya tampak mulai basah, berair. "Aku lupa,yeobo.. aku hampir membuatnya merasakan sakit yang dulu kurasakan saat aku kehilangan dirimu."

Akhirnya air mata itu menetes juga, "Aku menghalanginya, aku membuatnya tersenyum saat hatinya terluka, aku membuatnya menelan kembali semua isak tangis yang ingin dikeluarkannya, aku menutup telingaku saat aku tahu hatinya menjerit perih.."

"A-aku merasa buruk,y-yebo.. S-sangat buruk.. " Bahunya berguncang keras, wanita ini menangis tersedu-sedu di depan makam suaminya, menyesali apa yang sudah diperbuatnya.

"Namun akhirnya aku melepaskannya, aku tidak ingin hatinya terluka lagi." Lanjutnya setelah berhasil menguasai diri. "Aku tidak mau ia merasakan bagaimana perihnya kehilangan orang yang ia cintai." menghapus air matanya yang jatuh di pipi.

"Aku hanya berharap putera kita bahagia, yeobo."

Lama ia hanya memandangi fotonya yang tidak bergerak, sambil sesekali mengelus batu nisan itu.' Rindu, aku rindu sekali padanya. Namun pahit kenyataan yang harus ku telan, karena sampai kapanpun, aku tak akan bisa menemuinya lagi, menyentuhnya lagi, atau melihat nya tersenyum kepadaku. Entah mengapa Cinta kadang begitu menyakitkan.'

"Apa kau setuju dengan semua ini, Yeobo?" sayang nya tak akan pernah ada jawaban atas pertanyaannya.

"Kau pasti setuju, pastikan lah agar putera kita bahagia." Pada akhirnya, wanita ini bisa tersenyum lega.

-0o0-

#KYUHYUN POV#

Aku memandangi wanita di depanku. Padang rumput ini begitu luas, namun entah mengapa hanya ada aku dan dirinya disini. Wajahnya tampak familiar, walau sampai saat ini aku tak bisa mengingat apakah aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu yang kuhabiskan dengannya di tempat ini, tapi itu tak masalah buatku. Aku merasa nyaman dengannya, bercerita dari waktu ke waktu.

Atau tepatnya ia mendengarkan ceritaku, karena ia bilang ia tak bisa mengingat apapun. "Noona ingat sesuatu?" tanyaku saat kami bertemu pandang.

Ia menggeleng pelan. "Anio.."

"Hmmhh.. "aku menghela nafas dalam. "Mau sampai kapan,noona begini?" tanyaku lagi. Terus terang saja sepertinya hanya aku yang mencemaskan keadaannya ini, sementara ia sendiri tampak tenang-tenang saja.

"Nanti juga ingat,Kyu." Ia tersenyum lebar. Selalu saja seperti ini, bahkan sejak aku bertemu dengannya, noona hanya selalu tersenyum dan bergembira. Sepertinya ia bahkan tidak mengenal rasa cemas atau takut.

"Ayo lah, noona. Aku kan tak bisa terus menemani noona di sini terus." Bujukku agar dia sedikit berusaha.

"Aiish.. tenang sajalah." Ucapnya menggampangkan. "Sebaiknya kau cerita tentang siwon-hyung mu itu. Kau bilang dia tampan kan?"

"Andwae, andwae. Siwon hyung itu sudah punya kekasih, noona tidak boleh tertarik padanya." Jawabku tegas.

'Kyu..'

"Noona dengar itu?" suara itu lagi, entah kenapa aku sangat merindukannya.

"Dengar apa?" tanyanya bingung.

"Suara itu." Noona menelengkan kepalanya, mungkin ia memang tidak mendengar apapun. "Suata itu datang lagi."

"Lagi?" noona mulai mengiterogasiku.

"Ya, aku sering mendengarnya belakangan ini. Suara yang begitu lembut dan merdu, membuatku lega saat mendedngarnya. Rasanya seperti rasa rindu yang terobati seketika." Jelasku panjang lebar.

"Apa suara temanmu?"

"Bukan. Ini bukan Siwon-hyung, atau Kibum-hyung, atau Donghae-hyung, apa lagi Kangin-hyung." Aku mengabsen satu-persatu nama sahabatku.

'Kyu.. ireona, jebal..'

Suara itu terdengar lagi, makin lama suaranya makin jelas. Kebanyakan suara itu hanya memanggil-manggil namaku, menyuruhku bangun, bercerita tentang orang-orang yang tidak ku kenal, eunhyuk? Ryeowook? Kisah yang tidak aku mengerti. Kadang suaranya terdengar terisak, apakah orang itu sedang menangis? Hal itu membuat persaanku tidak nyaman. Aku tidak tahu, Namun aku selalu ingin mendengar suara ini, mencarinya. Seperti sesuatu yang sedang kutunggu-tunggu.

"Mungkin sudah saatnya dia menjemputmu, kyu." Noona tersenyum lembut.

"Menjemputku? Apa maksud noona?" tanyaku bingung. Tiba-tiba saja keadaan di sekelilingku menjadi kabur, padang rumput nan indah itu berganti menjadi cahaya putih yang melingkupiku.

Noona tampak lembut dalam balutan cahaya,"Sungmin-shi, kau ingat?"

"Sung-min?" aku mengernyit, nama itu tampak familiar. Nama itu menimbulkan perasaan aneh di hatiku.

"Minnie-mu." Kata noona lagi.

"Minnie-ku? Min.. Lee Sungmin?" entah kenapa aku bisa mengingat marganya. Lee sungmin.

"Ia sudah datang untukmu,Kyu." Tiba-tiba saja bayangan namja manis itu merangsek ke dalam pikiranku. mata beningnya, gigi kelincinya, bibir plump nya. Aku bisa mengingatnya, senyumnya yang selalu membuatku terpesona, atau air matanya yang membuatku hancur. Aku bahkan bisa mengingat bagaimana manisnya ciuman pertama kami. Yang paling jelas terbayang adalah tatapan matanya saat itu, saat aku memutuskan untuk meninggalkannya dan memilih menjemput kematian.

"Sungmin-hyung?"

"Ne. pergilah,Kyu." Bayangan noona tampak kabur, berubah menjadi kabut dan berganti menjadi sebuah lorong yang beujung terang.

"Gomawo, noona." Bisikku singkat sebelum aku melangkahkan kaki dengan mantap menelusuri lorong itu, menjemput cintaku kembali.

-0o0-

#SUNGMIN POV#

(Backsound 'Insa' from Hero Jaejoong)

Beberapa hari berlalu sejak aku kembali ke korea. Menyenangkan mengingat aku disambut senyuman hangat para sahabatku dan anggota keluarga Cho. Walau sebuah senyuman yag sangat kuinginkan belun juga dapat kulihat. Senyuman namja yang terbaring tidak sadar di depanku ini.

Cho kyuhyun, entah sampai kapan ia mau terus begini. Bukannya aku lelah, tidak. Sampai kapan pun aku tak akan pernah menyerah untuk membawanya kembali ke dunia nyata bersamaku. Aku hanya takut. Takut kalau akhirnya ia tak pernah membuka matanya kembali.

"Kyu.." ribuan kali sudah aku mengucapkan namanya.

Aku duduk di sisinya, kemudian menggenggam telapak tangannya erat. Memberinya kehangatanku. Dari hari ke hari aku selalu mengobrol dengannya, menceritakan L.A padanya atau tentang wookie dan hyukkie. Tentunya tanpa sepatah kata pun balasan darinya.

'Kyu, Hari-hari yang kulalui masih sama, dibawah atap yang sama, dibawah langit yang sama. Satu-satunya yang berbeda adalah karena kau tidak lagi tersenyum disampingku. Mata ini sudah lelah menangis, aku hanya ingin tersenyum seperti tidak ada apapun yang terjadi. Tapi aku tidak bisa, melihatmu seperti ini membuatku hancur. Aku merindukanmu,kyu.. sangat rindu..'

"Kyu.. ireona, jebal.." ratusan kali permintaan itu keluar dari mulutku.

Genggaman tanganku makin erat kala pemikiran itu datang melintas di benakku. Bagaimana seandainya jika meninggalkanku? Apakah hari-hariku akan baik-baik saja tanpanya? Aku tidak bisa, bahkan hanya dengan memikirkannya membuat hatiku sakit. 'jika kau ingin pergi, tak bisakah membawaku bersamamu,kyu?' air mata yang kutahan-tahan akhirya jatuh menetes diatas genggaman tangan kami.

"S-saranghae,kyuu.." aku mencintaimu.

DEG! Tiba-tiba kurasakan gerakan jemarinya dalam genggamanku. Ya Tuhan apa ini nyata? "K-kyu.. ireona,kyu.." ucapku lagi. 'serrtt.' Lagi, jari-jari itu bergerak lagi, kualihkan pandangan mataku pada alat perekam jantung yang terpasang disitu. Alat itu menunjukan kenaikan detak jantungnya.

"Kyu.. " kini kulihat bola matanya bergerak-gerak di dalam kelopak yang masih tertutup itu. Bolehkah aku berharap banyak kali ini?

"Kyu.. jebal.. saranghae.."

Perlahan, kelopak mata itu terbuka sedikit demi sedikit, memperlihatkan pupil onyx yang kurindukan, mata cemerlang yang membuatku jatuh kedalamnya.

Ia memandangku, tatapan yang sama yang selalu ku ingat darinya, tatapan yang kurindukan. "K-Kyu.." Kristal bening itu jatuh lagi dari kedua kelopak mataku, bahagia. Perasaan itu membuncah keluar dari dalam dadaku saat senyum itu akhirnya terukir lagi diatas bibirnya yang sempurnna.

"N-neomu bogoshipo,Kyu..hiks-s.." aku tak kuasa menahan isak halus dalam suaraku.

"Na-do, Min."ucapnya pelan, bahkan hampir tidak terdengar. Suaranya terdengar serak. Namun dibalik itu, aku masih merasakan kehangatan yang sama pada nada suaranya. Melodi cintanya untukku.

"Akhirnya kau kembali padaku,kyu." Kali ini, walau pipiku masih basah oleh air mata bahagia, aku tersenyum untuknya. Semberikan lengkungan bibir yang paling ia senangi dariku. Berharap ia tak akan pernah pergi lagi dariku, berharap cinta kami akan abadi setelah ini.

"Saranghae.."


FIN


Yihhhaaaaaa… fin juga akhirnya.. kkkkkk.

Gomawo buat semua readers yang udah baca.. #Deep bow

and mianhe, karena sampe akhir saya gak sempet bales reviewan disini.. T_T mian..

seperti biasa saya berencana bikin sekuel yang nantinya ditaro di rate M..

hahahahha.. (tapi gak tau publish nya kapan yah..) #taboked!

udah ah.. thank you all.. ^^

special thanks to : Ms. Lee Hyuk-en, my partner in crime, my great editor,my bestfriend. Thanks for always comment on my story! ^^