Orange Cat

Warning : YAOI, Typo(s)

Disclaimers : semua tokoh adalah milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Cerita ini asli milik author.

Main Cast : Xiumin, Chen

.

.

.

"Iya, aku akan kesana nanti."

Pip

Setelah menutup telfon nya, Lay segera meninggalkan supermarket dengan dua kantung plastik berisi belanjaan di tangannya. Saat akan menuju mobil, ia menabrak seorang yeoja yang sepertinya tengah terburu-buru. Nasib baik belanjaannya tidak ada yang terjatuh.

"Maaf maaf..." gumam Lay. "Eh, kau?" dan ia pun menyadari bahwa yeoja yang ia tabrak adalah Chaerin.

Chaerin tidak menjawab perkataan Lay. Ia juga agak kaget karena bertemu dengan Lay.

"Kau mau kemana?" tanya Lay.

Chaerin mendengus, "Bukan urusanmu." jawabnya ketus. Dengan cepat ia berlari menjauhi Lay.

"Tunggu! Bagaimana dengan—" Lay terdiam ketika Chaerin sudah berlari menjauh darinya, dan membuatnya dapat melihat sebuah tanda yang menyala di belakang leher Chaerin yang rambutnya diikat.

Seketika matanya membulat.

"D-dia? Membuat perjanjian dengan iblis?..."

.

.

.

.

Chapter 12

.

.

.

Lay menyetir mobilnya dengan gelisah. Ia memikirkan apa rencana Chaerin. Bodohnya ia tidak sempat menyentuh bagian tubuh Chaerin yang bisa membuatnya menerawang tentang apa saja yang Chaerin rencanakan. Dan tanda di leher Chaerin yang hanya bisa dilihat oleh orang berkemampuan khusus sepertinya itu membuatnya terus bertanya-tanya.

"Chaerin, bagaimana bisa ia membuat perjanjian dengan iblis..." gumam Lay.

"Apa yang ia rencanakan sebenarnya?"

Perjanjian dengan iblis dapat membuat siluman menjadi lebih kuat. Dan yang membuat Lay khawatir adalah, tidak mungkin seorang iblis mau melakukan perjanjian jika itu bukanlah untuk kejahatan.

.

"Tadi itu seru sekali ya, mereka sangat lucu." ujar Xiumin setelah mereka selesai menonton. Daritadi ia hanya terfokus dengan filmnya, ia bahkan melupakan Luhan yang entah masuk ke dalam teater atau tidak.

"Kau benar. Hahaha, kau pasti senang sekali ya?"

Xiumin mengangguk, "Tentu saja aku senang. Dan sepertinya kau selalu ada disaat aku senang. Terimakasih Chenchen!"

Chen tersenyum lalu mengusak rambut Xiumin lembut, "Entahlah, aku juga selalu ikut senang melihat senyummu."

"Eh? Maksudmu?"

"Apa ya? Aku juga tidak tahu."

.

Sementara itu Luhan terlihat depresi. Berlebihan memang. Tapi sekarang ia sedang di salah satu kedai eskrim dalam Mall. Sambil memakan seember besar eskrim dengan wajah stress bukan main.

"Ugh, aku mau muntah." ucapnya lemah, ia telah memakan hampir tiga perempat bagian eskrim itu. Wajar saja perutnya mulai terasa tidak beres. "Tapi eskrim ini enak," kemudian menyuapkan sesendok besar eskrim lagi ke mulutnya.

"Perutmu bisa buncit kalau memakan semua eskrim itu sendirian."

Luhan tersentak ketika seseorang mengambil sendok yang ada di tangannya kemudian memakan eskrim miliknya begitu saja.

"Kau?!" pekiknya ketika menyadari yang melakukannya itu Sehun.

"Kau seharusnya tidak perlu marah mengingat betapa seringnya kau membuatku rugi dengan menjatuhkan minumanku." ucap Sehun seenaknya.

Luhan diam, ucapan Sehun ada benarnya juga. "Uh, tapi kan hanya dua kali. Itu bukan termasuk sering!"

"Terserah padamu, tukang gerutu."

Luhan mendengus, "Kenapa kau memanggilku seperti itu? Aku punya nama tahu!"

"Siapa? Aku kan tidak tahu namamu."

"Luhan, aku Luhan."

"Oke kalau begitu Luhan, aku Sehun."

"Baiklah kalau begitu, Sehun. Aku mau pergi." Luhan mendorong ember eskrimnya kemudian bersiap untuk pergi. Tapi Sehun menahan tangannya.

"Kenapa?" tanya Luhan ketus.

"Jangan pergi dulu. Aku menuntut ganti rugi darimu."

"APA?"

.

.

.

Sekarang Chen mengerti makna dari kata bahagia itu sederhana, dan beruntungnya ia dapat merasakan hal itu setiap harinya.

"Hmmm, makanan ini begitu enak."

Seperti ini contohnya. Senyum Chen tak pernah berhenti terkembang saat sedang memperhatikan sosok di depannya ini. Siapa lagi kalau bukan Xiumin. Sebenarnya tidak ada yang menarik dengan cara makan Xiumin, pakai sendok, pakai tangan kanan, lalu sendoknya dimasukkan ke mulut. Sama seperti orang pada umumya. But, Chen find it's cute. Ketika Xiumin menelan makanannya kemudian mengatakan makanan itu enak, kemudian mengangkat kedua tangannya dan menggoyangkan kepalanya. Lalu melakukan itu lagi saat suapan selanjutnya.

Untuk saat ini Chen tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Xiumin. Dan ia harap Xiumin juga begitu.

"Chen? Chen?" Xiumin mengibaskan tangannya di hadapan Chen ketika menyadari namja itu melamunkan sesuatu.

"Ya?" sahut Chen setelah tersadar.

"Aku menghabiskannya." Xiumin memperlihatkan piringnya yang sudah kosong. "Bisa kau buatkan aku lagi?"

Dan dengan tatapan memelas dari wajah lapar Xiumin, Chen tidak bisa menolaknya.

.

"Kapan kau selesai kuliah? Apa tidak capek terus-terusan kuliah?" tanya Xiumin ketika Chen bersiap untuk pergi kuliah seperti biasanya.

"Kenapa kau menanyakan hal itu?"

Xiumin menggeleng, "Entahlah, aku benci menunggumu pulang."

"Maksudmu?"

"Aku tidak suka tanpamu, jadi jangan pergi lama-lama." Jujur Xiumin, entah mengapa ia langsung menunduk dan pipinya tiba-tiba merona.

.

Chen tidak berhenti tersenyum. Perkataan Xiumin tadi terngiang terus dikepalanya.

"Aku tidak suka tanpamu, jadi jangan pergi lama-lama."

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku juga. Dan aku tidak akan pergi lama-lama." Ujarnya seakan menjawab perkataan Xiumin barusan, yang tidak sempat ia jawab sebelumnya karena terlanjur salah tingkah.

.

Setelah selesai kuliah, Chen pergi ke restoran untuk mengambil kaosnya yang tertinggal di loker. Kebetulan ada Kris disana.

"Aku mengambil kaosku yang tertinggal, hyung." Ucap Chen seakan menjawab pertanyaan Kris yang bahkan belum sempat ia lontarkan. Kris mengangguk. "Baiklah, aku pulang dulu ya Kris hyung." Pamit Chen.

"Eh sebelumnya aku mau bertanya. Bagaimana kelanjutan hubunganmu?" tanya Kris sebelum Chen pergi.

"Hubungan apa maksudmu hyung?"

"Hubunganmu dengan Xiumin. Bagaimana?" tanya Kris lagi.

"Hubungan kami baik-baik saja kok, memangnya ada apa?" heran Chen.

Kris menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kau ini.. bukan itu maksudku, tapi apa kalian sudah pacaran?"

Chen tampak salah tingkah, "E-eh, maksudmu apa hyung?"

"Kenapa kau malah balik bertanya sih."

"A-ah, iya hyung.. kami tidak, ehm mungkin belum berpacaran hehehe.." Chen menggaruk tengkuknya sambil nyengir.

"Kenapa? Kau masih malu mengatakannya?" tanya Kris seolah-olah tengah mengintrogasi. "Apa kau ditolak olehnya?"

"Bukan begitu hyung, aku hanya bingung." Jawab Chen jujur.

"Apa yang kau bingungkan? Jangan terlalu lama berpikir, kalau tidak mau menyesal." Saran Kris.

"Kau benar juga.."

"Jadi kapan kau mau bicara padanya? Maksudku, kapan kau mau menembaknya?" Kris tertawa kecil.

"Menurutmu bagaimana hyung?"

Kris menepuk bahu Chen, "Bodoh! Kenapa kau bertanya padaku, lakukanlah secepatnya, kalau perlu sekarang juga kau pulang dan langsung melakukannya."

Chen nyengir kemudian mengangguk cepat, "Baiklah hyung, aku akan melakukannya sekarang juga. Doakan aku ya!" ia mengangkat kedua jempolnya, setelah itu segera berlari menuju parkiran.

"Hei! Jangan lupa belikan bunga untuknya!" teriak Kris. "Dasar bocah itu.." gumamnya kemudian sambil geleng-geleng kepala.

.

Sementara itu Xiumin tengah melakukan rutinitasnya, menonton TV. Kemudian konsentrasinya teralihkan saat handphone nya berdering.

Drrrtttt

"Chaerin?" gumam Xiumin setelah melihat nama yang terpampang di layar handphone nya. Ia pun segera mengangkatnya.

"Xiumin apa aku bisa bertemu denganmu?" sambar Chaerin di ujung sana.

"Ada apa?"

"A-aku butuh bantuanmu." Suara Chaerin terdengar parau.

"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Xiumin takut-takut.

"I-Iblis mengancam akan membunuhku.. X-Xiumin.. A-aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.." Chaerin mulai terisak.

"Iblis? Bagaimana bisa?"

"Aku membuat perjanjian dengan iblis.. tapi aku ingin mencabut perjanjian itu, aku sangat menyesal.."

"Perjanjian? Perjanjian apa maksudmu?" heran Xiumin.

"Kau tidak perlu mengetahuinya.. yang jelas aku butuh bantuanmu sekarang juga.. Xiumin.. hanya kaulah satu-satunya yang bisa aku harapkan.." pinta Chaerin dengan memelas.

Xiumin terdiam, sejujurnya ia ragu. Tapi ia juga merasa kasihan dengan Chaerin. "T-tapi.."

"Kenapa? Apa kau tidak mau membantuku?" suara Chaerin terdengar semakin parau. Kembali terdengar isakan-isakan kecil. "Sepertinya aku salah, tidak ada seorangpun yang mempedulikanku ya?"

"B-bukan begitu, Chaerin.. baiklah aku akan menemuimu.."

.

"Jadi? Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?" tanya Xiumin. Ia dan Chaerin sekarang berada di sebuah taman. Xiumin merasa begitu kasihan melihat Chaerin yang matanya sembab dan tampak menyedihkan.

"Begini Xiumin, kau bisa membantuku dengan cara—Oh, sialan! Dia disini! Kita harus segera pergi Xiumin." Tiba-tiba Chaerin menarik tangan Xiumin dan berlari dari taman itu. Ekspresi wajahnya begitu ketakutan.

"Chaerin?! Ada apa? Siapa 'dia' itu? Kenapa kita berlari?" heran Xiumin sambil terengah-engah. Mereka terus berlari, Xiumin tidak tahu Chaerin mau membawanya kemana. Yang jelas ia merasa kebingungan dan takut.

Chaerin tidak menjawab, genggaman tangannya pada Xiumin semakin kuat dan langkahnya semakin cepat. Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah gedung kosong.

"Kenapa kau membawaku kesini?!" tanya Xiumin ketika Chaerin melepaskan genggaman tangannya.

Bukan jawaban yang Xiumin dapat, tapi suara tawa menggelegar dari bibir Chaerin. "HAHAHAHAHAHA."

"C-Chaerin?"

"HAHAHAHAHA.. KAU MEMANG BODOH!" pekik Chaerin girang. "Aku sudah tahu kalau menipumu itu tidak akan sulit, tapi aku tidak menyangka kalau akan semudah ini."

Langkah Xiumin semakin mundur. "Apa maksudmu Chaerin?!" ucapnya, mencoba untuk tidak terlihat ketakutan. Padahal kenyataannya ia begitu kaget dan ketakutan.

"Kau fikir aku akan diam saja? Awalnya aku memang mau menghilangkan niat jahatku, tapi melihatmu bersama dengan Yifan. Kurasa aku tidak bisa tinggal diam." Chaerin menyeringai dan terus mendekat ke arah Xiumin. "Kau kan alasanku tidak bisa bersama dengan Yifan? Kau berpacaran dengannya kan?"

Xiumin membulatkan matanya, "Y-Yifan hyung? T-tidak! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya Chaerin! Apa maksudmu?!"

Chaerin tertawa lagi, semakin keras dan melengking. "HAHAHAHA.. kau fikir aku percaya? Mana ada maling yang mau mengaku, hah?"

Kaki-kaki Xiumin semakin melemas, aura kejahatan yang menguar dari tubuh Chaerin memberi efek yang tidak enak untuk tubuhnya. Chen, Chen, Chen. Hanya namja itu yang ia butuhkan saat ini.

"Sekarang biar kujelaskan saja tujuanku sekarang ya. Hm, masih sama seperti kemarin. Aku ingin menjadi manusia seutuhnya, dan ini cocok sekali untuk mengambil sebagian jiwamu. Well, aku tidak pernah membatalkan perjanjianku dengan iblis dan kali ini aku tidak akan gagal!"

Satu hentakan keras dari kaki Chaerin yang kemudian mengarahkan telunjuknya ke bahu Xiumin. Dan dengan cepat Xiumin terhantam ke dinding.

"Ugh.." Xiumin merintih sakit, ia mencoba untuk berdiri namun lagi-lagi Chaerin membuatnya terpental ke belakang.

.

"Auch.." pekik Chen ketika tangannya tertusuk duri mawar. Ia bermaksud untuk membelikan beberapa untuk Xiumin. Namun entah mengapa ia bisa menyentuh durinya dan membuat jarinya berdarah.

Drrrrt

Selagi ia menghisap jarinya—untuk memberhentikan darah yang mengalir—,handphone nya berbunyi. Ia pun segera mengangkatnya.

"Yobose—,"

"C-CHEN.. TOLONG A-AKHU.. UGH.."

"XIUMIN!"

Pip

Tiba-tiba saja sambungannya terputus. Chen sangat panik dan mencoba untuk menghubungi Xiumin kembali tapi tidak diangkat.

"Xiumin.. apa yang terjadi padamu?"

Chen terus mencoba mengubungi Xiumin berkali-kali tapi hasilnya tetap tidak diangkat. Ia pun mencoba untuk menelfon Lay.

"Chen! Aku baru saja ingin menelfonmu! Xiumin dalam bahaya!"

.

"Jangan banyak bergerak, bodoh!" umpat Chaerin, ia melangkah santai menuju tempat Xiumin berada saat ini sambil tertawa-tawa kecil. Mengerikan.

Xiumin segera mengambil handphonenya dan menekan asal angka nya. Beruntung segera tersambung.

"Yobose—,"

"C-CHEN.. TOLONG A-AKHU.. UGH.."

Prang

Belum sempat Xiumin berbicara, handphone nya telah terlempar ke samping dan membuat sebuah jendela pecah. Tentu saja Chaerin yang melakukannya.

"Apa yang kau lakukan?! Kau fikir bisa mendapat bantuan, hah?! Jangan harap!" kilatan-kilatan hitam meluncur dari telunjuk Chaerin dan menghantam tubuh Xiumin bertubi-tubi.

"C-CHAERIN.. UKHH.. HENTHIKAN.." Xiumin mencoba untuk terus berdiri dan mempertahankan diri. Ia berlari kemudian mencari perlindungan, matanya dengan cepat menangkap puluhan drum besar yang ada di bagian sisi gedung.

"KEMBALI KESINI!" pekik Chaerin.

Xiumin mulai menggelindingkan drum-drum besar itu untuk menghantam tubuh Chaerin. Tapi dengan mudah Chaerin menyingkirkannya.

"Jangan main-main denganku!" teriaknya lagi. Kini bola matanya berubah menjadi merah seperti api. Sekali lagi ia menghantamkan tubuh Xiumin ke dinding. "Sekarang, ucapkan selamat tinggal pada harapanmu. Kucing."

.

Tidak ada yang bisa Xiumin lakukan untuk melawan. Serangan Chaerin kali ini benar-benar menyakitkan. Puluhan kali lipat sakitnya daripada yang pernah ia rasakan pada serangan Chaerin sebelum-sebelumnya. Suara dari kilatan hitam itu seperti letusan meriam yang meledak-ledak, bercampur dengan suara tertawa Chaerin yang begitu menggelegar.

"Ya ampun! Sepertinya aku begitu mengulur waktu." Chaerin lagi-lagi mendekat ke arah Xiumin. Rasanya Xiumin ingin menendang wajah yang tersenyum licik padanya itu, tapi menyingkirkan tangan Chaerin yang kini tengah memegang wajahnya pun ia tak kuasa.

Ia kehilangan semua kekuatannya. Ia kehilangan semua tenaganya.

"HAHAHAHA." Chaerin kembali tertawa dan menghantam tubuh Xiumin ke dinding, kali ini hanya dengan dorongan tangannya.

Xiumin terpejam seiring dengan tubuhnya yang melanting. Tak bisa melihat bahwa kini tubuhnya diselimuti asap hitam yang membuatnya melayang hampir menyentuh langit-langit, lalu kembali jatuh ke lantai dengan bunyi bedebam yang keras. Cukup untuk meretakkan beberapa tulang punggungnya.

Tapi ia tidak bisa lagi merasakan apa-apa. Seakan disuntik penuh obat bius. Kesadarannya hampir hilang.

.

.

"Ahahahahaha... Kau gila, pergilah..".

.

"Dengan sangat terpaksa.. aku akan menerimamu tinggal disini."

.

"Kau fikir aku tidak peduli padamu? Aku mengkhawatirkanmu."

.

"Jangan. Kau disini saja."

.

"Xiumin? Apa yang terjadi padamu?"

.

"Aku bukannya kesal. Aku hanya khawatir."

.

"Xiumin."

.

"Xiumin."

.

"Ya, kalau ada juga aku akan melindungimu.. tenang saja."

.

"Xiumin."

.

"Xiumin!"

.

"XIUMIN!"

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

[Note : kutipan kata-kata bercetak miring yang ada di akhir adalah kata-kata yang diucapkan oleh Chen. Dan kata-kata itu terngiang—seperti kilas balik dan putaran kenangan-kenangan Xiumin bersama Chen—di pikiran dan telinga Xiumin ketika ia di ambang batas antara hidup dan mati.]

.

.

Maaf sebelumnya karena saya sulit menggambarkan kejadian di akhir chapter ini makanya saya nambahin note diatas.. saya harap bisa membayangkan adegannya gimana ya {semacam mimpi gitu lah}

Hehe btw emang saya kelamaan ngilang nya ya T,T jujur saya sendiri harus baca ulang karena agak lupa detail cerita /ampun/ wkwk

Makasih buat yang masih baca dan review. I love you~ kkk