Ohayou, minna~ \\(^o^)/

Minal Aidzin Wal Faidzin semuaa~
Gimana liburan kalian?
Wuah pasti udh pada membusuk ya menunggu update-nya Fict ini~

~Thx For My Readers~

Princess Shara, map, flowerin, cella, savira, arisahagiwara chan, Azi-chan, Tamaki William Onyx, d3rin, Tomalova, Yonghee Lee, kilua akasuna, SunnyRain, Nikechaann, harusabaku, nekonade, salsabila, Annisa852, juju, Ichi Natsumi, ikalutfi97, kedebong ares, ichi Natsumi, Yoru no tsukiakari7, rikha-chan, Sakutira-chan, princelen02, usagi-cchi, Azira Hiko-chan, Ayuniejung, Aiko Asari, marlitayamato, SAAVro4th, animemangalover, uchiha della, Gue, EmikoRyuuzaki-chan, El21, sakura sweetpea, cherrytakumi08, Mitsuo Miharu, sami haruchi 2, hanazono yuri, HestyEclair, YOktf, Fiiyuki, Jade Angel of Death Daniels.

~Balasan Reviews~

Savira : Shera di tangerang perum total persada.. ha ha ^o^

Tomalova : kapan ya? enaknya kapan mempertemukan Sasu dan Karin?

Nikechaann : mohon maaf juga yaa~ ^^

Nekonade : ha ha iia mereka maen aman kok~ ^^

Juju : hmmm... misteri tentang Sasori ya? kita jelaskan pelan" yaa~

Rikha-chan : hmm? mungkin cinta dan nafsu sepaket~

~Enjoy Reading~


Disclaimer Characters © Masashi Kishimoto

Disclaimer Story © Shera Liuzaki

.

.


A story with a girl being loved by lot of guys (May be)

WARNING! OOC, GAJE, ABAL, TYPO, DAN KAWAN-KAWANNYA.


.

.

Shera Liuzaki, present :

.

.


"LOVE RECIPE"


.

.

Recipe 12

.

.

Enjoy Reading

.

.

Hari yang dinantikan telah tiba. Sejak pukul 4 dini hari Sakura dan kawan-kawan beserta para staff telah stand by di dapur. Mereka melakukan pemeriksaan ulang mengenai bahan-bahan dan desain yang telah mereka setujui. Beberapa diantaranya bahkan telah mulai membuat masakan.

Tepat pukul 1 siang acara dimulai. Sungguh pesta kelas atas memang berbeda, berbagai kalangan dengan gaya mewahnya nampak membanjiri aula pesta. Entah siapa yang sebenarnya merencanakan pesta ini, pastinya orang itu bukan pebisnis sembarangan. Sakura beberapa kali berdecak kagum atas kemeriahan di sana.

Mereka pun nampak puas dengan pesta yang telah mereka buat. Para tamu pun kelihatannya menikmati hidangan dan dekorasi itu. Selama acara dimulai, para Chef dan Trainee Chef dapat beristirahat. Kini giliran staff yang akan melayani dan mengedarkan hidangan itu. Bagaimanapun memang pekerjaan Chef hanyalah dibalik layar.

"Ahhh~" Sakura nampak merenggangkan otot-ototnya dan bersandar pada kursi.

"Kau sudah bekerja dengan baik." Sakura terkejut saat mendapati Gaara menyodorkan sebuah gelas beirikan juice kepadanya.

"A—arigatou, Chef." Sakura menerima gelas itu dan membiarkan Gaara duduk di sampingnya. Gadis itu meneguk juice yang dibawakan Gaara. "Em... bagaimana hasil kerjaku?"

"Hm?" Gaara terdiam dan melirik Sakura. "Bukankah sudah kubilang kau bekerja dengan baik?"

"A ha ha, iya kau benar."

Sepertinya Sakura masih merasa canggung dengan Chefnya itu. Beberapa menit dilalui dengan keheningan. Gaara memperhatikan Sakura. Jujur saja, pemuda itu belum bisa sepenuhnya menghilangkan sosok Sakura dari pikirannya, ia masih menyukai sikap gugup gadis itu ketika berhadapan dengannya.

Namun sebagai lelaki dewasa, ada kalanya ia menyadari hal yang tak seharusnya ia miliki.

"Nee, Sakura."

"Hm?"

"Berpestalah." mendengar sang chef, Sakura meliriknya. "Pekerjaan telah selesai, nikmatilah hasil yang telah kau capai." Gaara perlahan bangkit dari duduknya. "Yang lain pun sedang bersiap."

Dengan itu Gaara meninggalkan Sakura. Sedikit banyak Sakura menyadari bahwa Gaara mencoba bersikap selayaknya rekan kerja, tapi memang sangat disayangkan ia tak bisa membalas perasaan chef muda itu.

-ooOoo-

"Cheeerrss~"

Suara detingan gelas kaca dan sambutan Naruto membuka perayaan mereka. Terlihat para trainee serta chef merayakan keberhasilan event perdana mereka. Naruto dan Sasori nampak keren dengan setelan jas-nya. Sedangkan Gaara masih menggunakan pakaian chefnya. Ia mengatakan kalau ini adalah setelan terbaik yang pernah ia miliki.

Hinata, Ino, dan Sara pun nampak anggun dengan gaun malam mereka. Warna oranye dan merah yang menyatu membuat Ino bersinar. Hinata menggunakan gaun violetnya yang dibelikan oleh Naruto. Tak kalah menariknya, Sara menonjolkan kesexy-an tubuhnya dengan belahan di sisi gaunnya.

"Sugoiii~" berkali-kali Naruto memekik kagum. "Ini sungguh pesta terbaik yang pernah kuhadiri."

"Semua berkat kerja keras kalian selama ini, terima kasih." Gaara mengangkat gelasnya sebagai tanda penghormatan.

Saat semuanya nampak berbincang-bincang akan kemewahan pesta itu, mereka juga penasaran siapa sebenarnya 'pebisnis' misterius yang meng-order-nya. Diam-diam terlihat Sasori yang sepertinya mengedarkan pandangan mencari seseorang di sana. Seseorang yang diberikannya kartu VVIP untuk menghadiri pesta.

"Siapa yang sedang kau cari, Sasori?" Ino membisik di sampingnya. "Pacar kah?"

"Hm, semacam itu lah." senyumnya.

"Oh ya." tiba-tiba sepertinya Hinata menyadari ada anggota mereka yang tak datang. "Kemana Sakura-chan dan Sasuke-kun?"

Semua hanya terdiam, saling bertukar pandangan. Gaara meneguk habis wine di gelasnya, Sara yang melihatnya tak mencoba mencegah mantan kekasihnya itu. Pikiran dewasanya telah mengetahui bagaimana perasaan Gaara sekarang. Karena sedikit banyak ia pun sedang merasakan hal yang sama.

Tak ada yang menjawab pertanyaan itu. Sara hanya memancing suasana dengan mengatakan bahwa sebentar lagi mereka akan mengetahui siapa yang meng-order pesta meriah ini. Siapa pebisnis misterius yang mempekerjakan mereka dibalik layar. Beberapa diantaranya memiliki dugaan sendiri, beberapa lainnya sibuk mencari sosok yang mereka kenal.

Sementara itu, diluar bisingnya alunan lagu dan percakapan para pengunjung, terlihat seorang gadis dengan mata emerald-nya yang memantulkan cahaya bulan nampak berdiri di balkon Restaurant. Gadis itu memakai dress merah muda selutut dengan sebuah kain putih tipis melingkar di kedua siku tangannya. Rambutnya dihias dengan pernak-pernik berkilau membentuk garisnya tersendiri. Rambutnya setengah diikal, membuatnya terlihat anggun.

"Lama menunggu, tuan putri?"

Suara itu menginterupsinya, namun Sakura tersenyum menyambut kedatangan pangerannya. Pria dengan setelan jas dark blue dan dasi kupu-kupunya yang manis. Rambutnya diberi gel rapi dan mengkilat. Pantat ayamnya tentu saja tak dihilangkan, itu merupakan gaya favorite sekaligus kebanggaannya.

Sasuke menempatkan diri di sebelah Sakura, ia memberikan sebuah gelas berisi wine kepada gadis itu. Sakura menerimanya—meski ia sudah menghabiskan satu gelas saat Gaara memberikannya beberapa waktu yang lalu.

"Bulannya indah~" sahut Sakura.

Sasuke terdiam, ia melirik gadisnya. "Tapi tak seindah kau." Ia memberikan sedikit jeda pada kalimatnya. "Jangan berharap aku akan mengatakan hal semacam itu, nona Haruno!"

Ting

Seketika Sakura melirik, menatapnya sambil mengerutkan dahi. Ia hampir saja lupa, pemuda satu ini memang tak romantis. Ingat-ingat saja saat kencan mereka yang berakhir kacau. Sasuke memang unggul dalam hal yang mengutamakan otak, namun ia sangat lemah ketika hal itu sudah dicampuri perasaan. Dan yang mampu melemahkannya, hanyalah Sakura. Hanya gadis merah muda yang 'pernah' menjadi mantannya itu.

"Kau ini benar-benar. Ha ha ha." Sakura tertawa, menertawakan sikap Sasuke yang kini menatapnya dengan tajam.

"Yah, maaf saja kalau aku seperti ini. Kau seharusnya pacaran dengan Gaara."

Melihat kekasihnya itu merajuk, Sakura mendekat perlahan. "Kalau aku pacaran dengan Chef..." Sakura sengaja menggantung kalimatnya. "Aku sudah melakukannya sejak kita berada di Suna."

Sasuke mendengus, bisa saja gadisnya ini mengelak. Sebuah rengkuhan di pinggang Sakura dan ciuman manis di keningnya seakan menjelaskan kepada semua bahwa mereka tak terpisahkan kembali. Tuhan mempertemukan mereka untuk memberikan kesempatan ini, kesempatan kedua yang hanya memiliki kemungkinan 0,01% untuk berhasil.

Terkadang kita dipisahkan untuk dipertemukan kembali di waktu yang tepat. Mereka mungkin tidak berjodoh 8 tahun yang lalu, namun secara tak sadar mereka membuat jalannya untuk kembali bersatu. Makanya hanya karena tepisah sekarang, belum tentu tak akan bertemu kembali di masa depan.

Tapi kisah ini belum berakhir...

"Ini benar-benar pesta yang hebat, Sasori."

Terdengar suara wanita mendekat, Sasuke dan Sakura sontak menoleh. Mereka dapat melihat Sasori bersama seorang gadis yang sangat anggun dengan gaun merah darahnya yang menyala. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan sedikit keriting. Sakura mengerutkan dahi, sepertinya ia pernah melihat postur itu.

Sasori nampaknya sangat akrab dengan wanita berambut merah ini. Mungkin saja mereka adalah sepasang kekasih. Terlihat dengan Sasori yang berkali-kali memberikan senyumannya kepada wanita—yang kini memunggungi Sasuke dan Sakura—itu.

"Jarang sekali Sasori tersenyum seperti itu." komen Sasuke.

Oh, sepertinya pemuda raven ini tak sadar kalau dirinya bahkan lebih sulit lagi untuk membentuk senyuman di bibirnya kalau tidak dengan bantuan Sakura. Sasori dan wanita itu berjalan menuju balkon tempat Sasuke dan Sakura. Saat pintu terbuka, mereka pun berpapasan.

Seakan waktu yang mendadak berhenti. Baik Sasuke maupun Sakura sama-sama membulatkan mata tak percaya siapa yang ada di hadapannya. Senyum Sasori yang awalnya terlihat pun kini bersembunyi entah dimana. Wanita merah yang sedang bersamanya tak kalah kaget melihat Sasuke dan Sakura bersama di sana. Gelas yang dipegangnya bahkan sampai hampir terlepas dari tangannya sendiri.

"Karin... neechan."

-ooOoo-

Bruk

Tubuh Sakura terhempas di dinding, nampak Karin yang menatapnya dengan tatapan tajam. Gadis merah muda itu memegangi pundaknya, sementara Sasuke nampak menopang tubuhnya.

Terlihat sekali bahwa Karin sangat kesal. Sakura menunduk, ia tahu alasan yang membuat sang kakak marah padanya. Ia sudah menyembunyikan segalanya dari Karin, semua tentang Sasuke. Sakura tahu sekali, bahwa kakaknya itu sangat membenci Sasuke karna dulu ia pernah mengkhianatinya. Karin bahkan pernah mengatakan bahwa ia tak akan memaafkan Sasuke apapun yang terjadi.

Kini sang adik kembali berhubungan dengan pria itu, tentu saja sebagai seorang kakak, Karin sangat tak setuju. Sakura mengerti itu, ia sangat mengerti. Tapi apa yang harus dilakukannya agar sang kakak mengerti bahwa Sasuke yang sekarang sudah berbeda.

"Karin-nee..."

Seakan tak mampu lagi berkata-kata, Karin hanya terdiam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sasori yang disampingnya pun tak bisa membela Sakura, sepertinya pemuda itu sudah mengetahui hubungan Sasuke dan Sakura, namun ia sendiri tak memperkirakan kalau keadaannya akan seperti ini. Itu hanya sugesti, entahlah. Sasuke nampaknya ingin menarik pemuda merah itu dan mengintrogasinya.

Sementara Sakura ingin menjelaskan semuanya, terdengar suara ricuh dari arah ballroom. Sepertinya itu adalah pengusaha misterius yang selama ini mereka pertanyakan.

"Selamat Malam semua." terdengar suara berat dan berwibawa dari seorang pria paruh baya dengan setelah jas mahal dan sepatu yang mengkilat. "Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas kehadiran kalian, terutama atas kerja keras para staff Konoha Grand Restaurant yang turut andil dalam keberhasilan pesta malam ini."

Sasuke merasakan firasat yang tak enak. Ia sedikit melirik, melihat siapa yang sedang berdiri di atas panggung itu. Permata onyxnya membulat sempurna, pantas saja rasanya ia sangat familiar dengan suara ini.

"Saya atas nama keluarga Uchiha ingin menyampaikan sesuatu mengenai tujuan diadakannya pesta ini."

Kini pertanyaan mengenai siapa pengusaha yang meng-order pesta mewah ini terjawab sudah. Naruto dan Hinata tak hentinya mengagumi keluarga Chef Uchiha. Sedangkan Gaara, Sara, dan Ino sepertinya sudah tak asing dengan nama itu—berhubung Gaara dan Sara memang sudah lama menggeluti dunia kuliner sedangkan Ino tentu saja mengenal keluarga Uchiha.

Perhatian Karin pun sepertinya terbagi, ia sedikit melirik dimana Fugaku—kepala keluarga Uchiha—berdiri. Namun tentu saja perhatian utamanya masih pada sosok Sakura. Kontak mata mereka seakan memberikan aura panas diantara keduanya. Sasori beralih memperhatikan Fugaku berbicara.

"Pertama, saya ingin memperkenalkan putra semata wayang saya yang sedang menjalani Training di KGR." Fugaku memberikan jeda pada kalimatnya, ia bahkan sudah mengetahui dimana Sasuke dan melakukan kontak mata dengannya

"Uchiha Sasuke."

Mendapat panggilan seperti itu, mau tak mau seluruh pandangan mencari sosok Sasuke. Pemuda itu terdiam sejenak, ia memberikan kontak mata pada Sakura di sampingnya. Gadis merah muda itu menggerakkan matanya beberapa kali sebelum memberikan senyuman kepada Sasuke—sebagai pengganti bahwa ia meminta Sasuke naik ke atas panggung.

Sasuke melirik ke arah Karin, mata tajam itu menatapnya seakan memberikannya dorongan untuk menjauh dari Sakura. Namun Sasuke membalasnya, tanpa mengurangi rasa hormatnya, ia seakan mengatakan bahwa ia tak akan goyah.

"Sakura..." Sasuke meraih tangan Sakura. "Apapun yang terjadi aku pasti akan kembali padamu, aku berjanji."

Dengan itu, Sasuke melepaskan tangan Sakura dan perlahan berjalan menuju panggung. Seiring dengan sosoknya yang muncul, beberapa tepuk tangan menyambutnya. Kawan satu trainingnya pun nampak menatapnya berjalan naik.

Sesampainya di atas panggung, Sasuke berdiri diantara Kaasan dan Tousannya. Ia membungkukkan tubuhnya sebagai salam perkenalan. Mikoto Uchiha—Kaasannya—nampak mengelus punggung putranya itu dengan bangga.

"Aku yakin beberapa diantara kalian sudah mengenal putraku. Pria muda ini sebentar lagi akan meneruskan nama Uchiha setelah lulus dari training."

Plok Plok

Ucapan Fugaku kembali disambut. Sasuke masih memperhatikan sosok Sakura di belakang sana, betapa cemasnya ia. Namun bagaimanapun ia harus dapat mempertahankan wajah karismatiknya demi kelangsungan acara ini. Dari atas panggung ia juga dapat melihat kawan trainenya—seperti Naruto yang kini melambaikan tangan ke arahnya.

"Selain itu..." Fugaku menatap putranya, melempar senyum yang tak bisa diartikan. Dengan sebuah tepukan di bahu Sasuke, Fugaku melanjutkan kalimatnya.

Kelanjutan itu berhasil membuat seluruh traine, cheff, bahkan pihak Sakura melotot mendengarnya. Sambaran petir di tengah-tengah hujan badai, seakan Sakura mendapatkan 'cambukan' beberapa kali

"Pesta ini sekaligus sebagai peresmian pertunangan Sasuke."

-ooOoo-

Blam

Terdengar pintu yang tertutup, Sakura berjalan mendahului Karin yang kini sedang menutup pintu rumah mereka.

Pesta yang awalnya dibanjiri cahaya berkilau dan mengagumkan untuk Sakura berubah menjadi tragedi. Selain Karin—yang entah mengapa bisa berada di sana, ternyata pengusaha misterius yang mengadakan pesta itu adalah ayah Sasuke. Ditambah lagi sang kepala keluarga Uchiha itu mengumumkan mengenai pertunangan Sasuke kepada khalayak umum.

Dengan siapa Sasuke bertunangan? Bukankah ia telah menolak pertuangannya dengan Ino? Apa yang harus Sakura lakukan? Apa yang harus ia katakan kepada Karin? Pasti kakaknya ini akan menanyakan banyak hal, pasti ia marah akan banyak hal. Lalu penjelasan seperti apa yang harus Sakura katakan?

Perlahan Karin menghampiri Sakura sebelum gadis itu melangkah naik.

"Sakura apa kau—"

"Aku percaya padanya." ucap Sakura memotong kalimat Karin.

Karin terdiam, ia bisa melihat bahu Sakura yang bergetar. Namun ada keyakinan dalam tiap kata-katanya. Wanita merah itu hanya dapat melihat sang adik dari belakang. Sesaat sebelum Sakura melangkah naik, ia melirik sang kakak dengan tatapan percaya dirinya.

"Aku percaya pada Sasuke, Neechan."

Sakura memperlihatkan matanya yang penuh dengan keyakinan. Karin tahu, siapapun tahu, bahwa gadis mana yang tak terluka mendengar kekasihnya akan bertunangan—entah dengan siapa. Karin memang marah, tapi nalurinya sebagai seorang kakak bagi Sakura membuatnya tak mampu lagi mengeluarkan emosinya.

Karin menghela nafas, "Sebenarnya, Sakura..." Karin perlahan membuka jaket yang dipakainya. "Aku tak melarangmu berhubungan dengan siapapun, aku akan mendukung apapun pilihanmu. Hanya saja—"

"Aku tahu." kembali Sakura memotong ucapan Karin. "Aku tahu, neechan! Tapi Sasuke sudah berubah! Dia tak seperti yang dulu lagi!"

Dari suaranya, Karin dapat mengetahui bahwa Sakura pun sedang berusaha mengendalikan dirinya. Ia juga pasti memiliki banyak kata-kata yang tak bisa dikeluarkannya, atau mungkin ia tak tahu bagaimana cara mengeluarkannya.

Semalaman Sakura hanya mengunci dirinya di dalam kamar, Karin pun beberapa kali mengetuk pintu kamarnya dan menawarkan makanan, namun tak ada jawaban dari dalam sana. Meskipun berat, seperti apapun masalahnya, Sakura tetap memiliki kewajiban untuk bekerja seperti biasa besok.

Seperti biasa, seakan tak terjadi apapun.

-ooOoo-

Bruk

Mendengar sesuatu terjatuh, seluruh pandangan beralih ke Sakura. Saat ini mereka sedang bekerja di dapur utama. Gaara—yang sedang mengawasi di sana—melihat sosok Sakura dengan tepung menghiasi pakaian dan wajahnya. Pemuda merah itu menghela nafas, ia pun mendekati Sakura dan berniat membantunya.

"Ah Sakura-chan, kau menjatuhkan mixer-mu."

Belum sempat Gaara mengulurkan tangan, seorang pemuda nampaknya sedikit lebih cepat. Pemuda itu—Sasori—membantu Sakura memberesi adonan kue yang sedang dibuatnya. Sekilas Gaara dapat melihat Sasori menundukkan kepalanya kepada sang chef, seakan memberikan kode bahwa ia yang akan mengurus Sakura.

Mau tak mau Chef merah itu menghela nafas dan membiarkan Sasori mengurusnya. Ia pun kembali fokus kepada trainee lainnya.

Sementara itu Sasori membawa Sakura ke ruang istirahat. Didudukkannya gadis merah muda itu, Sasori mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. Sakura masih terdiam, ia bahkan tak menatap Sasori saat ia menerima gelas berisi air itu. Di sana Sasori tak menemukan adanya tanda-tanda kehidupan seperti Sakura pada umumnya. Mata emerladnya menyala tanpa cahaya.

Sedikit banyak Sasori paham akan posisi gadis itu. Tentu saja, jangan lupakan mengenai hubungannya dengan Karin. Sepertinya Sakura melupakan hal itu, momen ketika Karin memergokinya bersama Sasuke, Sasori pun berada di sana—tepatnya bersama Karin.

"Sakura-chan..."

Tak ada respon. Gelas yang diberikan Sasori pun hanya dipegangnya tanpa ia berniat untuk meminumnya.

"Aku ingin mengakuinya." Sasori menempatkan diri duduk di samping Sakura. "Kau ingat saat kita bertemu di depan greja tempatku dibesarkan?"

FlashBack-ON

"Aku tinggal di sini sejak kecil." Sasori mengalihkan pandangannya ke sungai. "Entah orang tuaku yang meninggalkanku di sini, atau aku memang tertinggal di sini, atau mungkin aku anak Tuhan? Ha ha." canda Sasori.

Sakura hanya terdiam, ia sendiri tak tahu harus menjawab apa. "Sasori-kun, apa yang membuatmu ingin menjadi seorang Chef?"

"Hm…Tak ada yang special, hanya saja setidaknya aku ingin berguna bagi gereja yang telah membesarkanku. Dan mungkin ini satu-satunya jalanku untuk bisa berguna." jawabnya sambil tersenyum. "Ah, tapi mungkin karena dia."

"Dia?"

Pemuda itu menganggukkan kepalanya, "Dia orang yang berharga untukku. Dia yang membuatku menyadari bahwa setiap makhluk yang bernafas memiliki hak untuk bahagia dan dilindungi."

"Dia pasti benar-benar sosok yang hebat ya."

"Ya."

FlashBack-OFF

Sakura akhirnya merespon akan ucapan Sasori, gadis itu menoleh menatapnya meskipun Sakura masih menatapnya tanpa ekspresi. Sasori memberikan senyumannya sebelum melanjutkan bercerita. Pemuda itu mengepalkan tangannya dan memasang wajah serius.

"Dulu... aku dibuang oleh orang tuaku." kalimat itu mengawali semuanya. "Sejak yang aku ingat, aku sudah berada di gereja itu bersama para biarawati dan pendeta lainnya. Aku bahkan tak bisa mengingat wajah orang tuaku."

Jeda di sela ceritanya membuat suasana menghening sejenak, namun Sasori cukup berhasil membuat Sakura tertarik pada ceritanya.

Sasori memejamkan mata, "Aku tak bisa membenci maupun mencintai, karena tak ada yang mengajarkanku akan hal itu. Meskipun para biarawati dan pendeta merawatku dengan baik, namun entah mengapa aku tak bisa merasakan perasaan mereka."

Sakura masih terdiam, ia mengalihkan perhatiannya kepada gelas yang dipegangnya—meski begitu ia masih mendengarkan cerita Sasori. Beberapa saat nampaknya berat bagi Sasori untuk bercerita, namun entah mengapa pemuda itu juga ingin Sakura mengetahuinya.

"Saat itu hujan lebat dan aku sedang duduk di sebuah ayunan kayu, lalu seseorang datang kehadapanku dan memayungiku."

Sakura menoleh, "Karin-neechan?"

Mendengar Sakura meresponnya dengan kata-kata, Sasori sempat terkejut, namun ia memberikan senyuman sembari menganggukkan kepalanya kepada gadis merah muda itu sebagai jawaban. Sepertinya ia berhasil menarik perhatian Sakura. Ia pun meneruskan bercerita.

"Rambut merahnya menyala terkena pantulan cahaya lampu taman, wajahnya nampak berseri. Ia yang lebih tua dariku itu memberikanku nasehat." Sasori terkekeh mengingatnya. "Ia mengatakan kalau kesehatan itu merupakan hal yang penting dan tak boleh disia-siakan. Dengan lagaknya yang sok dewasa itu ia memarahiku."

Memang benar, Sakura mengakuinya bahwa Karin sangatlah cerewet mengenai kesehatan. Itu semua karena ia paham bagaimana rasanya terbaring lama di rumah sakit, rasanya tiap hari ditusukkan jarum berisi serum, rasanya mencium bau obat-obatan dari bangun tidur hingga tidur lagi. Karena saat kecil daya tahan tubuh Karin sangat lemah, ia harus mengkonsumsi suplemen untuk menjaga kekebalan tubuhnya—bahkan sampai sekarang.

"Sejak saat itu kami sering bertemu, bahkan ia menceritakan banyak hal tentangmu." kembali Sasori menatap Sakura sambil tersenyum. "Saat awal kau mulai tinggal bersamanya, ia selalu menggerutu mengenai cara agar kau semangat kembali. Ia memintaku saran, meski pada akhirnya yang bisa kulakukan hanya mendengarkan keluhannya."

"Jadi... sejak awal kau tahu semuanya?"

Sasori menggeleng lemah, "Tidak semuanya, aku tak tahu kau secantik ini bila dilihat langsung." candaan Sasori memberikan senyuman di bibir Sakura. "Karin begitu menyayangimu, Sakura-chan. Ia marah karena takut kau akan terluka lagi, ia tak ingin melihatmu terpuruk lagi."

"Aku tahu, aku tahu Karin-nee tak bermaksud mengekangku. Hanya saja... aku tak tahu harus mengatakan apa padanya."

"Mudah saja, utarakan semua yang kau pikirkan sekarang. Keraguanmu, rasa takutmu, gelisahmu, utarakan semuanya. Karin akan menerimanya dengan senang hati."

Sakura membalas tatapan Sasori, "Kau benar, aku yang seharusnya lebih mengerti dia karena aku adalah adiknya. Sepertinya kalian sudah sangat dekat, heh?"

"Ah?" mendengar ucapan Sakura, tiba-tiba Sasori memerah. "A—apa yang kau katakan."

Sakura terkekeh melihatnya, "Kalau begitu, alasan kau ingin menjadi chef bukan karena kau ingin memata-mataiku kan?"

"Apa? Ha ha kau ini... tentu saja bukan." Sasori mengacak-acak rambut Sakura. "Saat ia menemuiku dan mengeluh, aku akan menghiburnya dengan menghidangkan kue-kue buatanku. Di gereja tugasku adalah memasak, entahlah mungkin itu sudah ada dalam gen-ku."

Klang!

Tiba-tiba saja terdengar suara kencang dari arah dapur, sontak Sakura dan Sasori pun menengok keluar ruangan. Di sana mereka menemukan Hinata yang keluar dari pintu dapur utama dengan kapulan asap mengikutinya. Gadis indigo itu terbatuk-batuk dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung.

"Uhuk!" Hinata melihat Sakura dan Sasori dari kejauhan. "Ah, Sakura-chan! Sasori! Kami butuh bantuan di sini~"

"Baiklah, aku datang~" Sakura menegak habis air yang diberikan Sasori dan meletakkan gelasnya di meja. "Ah, oh iya." Sebelum beranjak pergi Sakura melirik Sasori di belakangnya. "Aku sudah merasa baikan, ini berkat kau. Terima kasih, Ka-kak i-par."

Dheg!

Mendengar Sakura memberikan penegasan di kata terakhirnya membuat Sasori kembali terkejut malu. Ia hanya bisa menghela nafas panjang melihat gadis merah muda itu bergegas menuju dapur utama.

-ooOoo-

"Tadaimaa~"

Sakura memberikan salam saat memasuki rumah, namun tak ada yang membalas. Sepertinya Karin belum pulang, ia pun menuju dapur. Diletakannya tas dan jaket yang dipakainya, ia pun meneguk air dari kulkas untuk menyegarkan diri. Jam menunjukkan pukul 7 sore yang berarti sebentar lagi adalah jam makan malam.

Dikeluarkannya ponsel dari dalam saku celana, ada pesan masuk di sana. Namun itu bukanlah dari Sasuke—yang beberapa hari ini menghilang dan tak ada kabar. Sakura mendapati Gaara yang mengiriminya pesan.

From : Chef Gaara

Sakura, bagaimana keadaanmu? Kau terlihat sangat pucat tadi, apa semua baik-baik saja?

Sepertinya ia sudah membuat mentor chef-nya itu khawatir, Sakura tersenyum dan membalas pesan itu. Terlintas dipikirannya untuk menelpon Sasuke, namun ia ragu. Meski begitu, Sasuke tak memberikannya kabar apapun, apakah ia kembali ditinggalkan seperti 8 tahun yang lalu?

Akhirnya Sakura mengirimkan pemudanya itu sebuah pesan singkat, sangat singkat. Hanya sebuah sapaan berupa 'hai' kepada Sasuke. Lalu Sakura meletakkan ponselnya di meja makan, ia menghela nafas sebelum akhirnya memutuskan untuk memasak makan malam.

Tepat pukul 8.15 Sakura menyelesaikan masakannya, terdengar suara pintu terbuka. Saat itu Karin masuk dan melihat Sakura di dapur.

"Okaerinasai, Karin-nee." Sambut Sakura dengan senyumannya, ia pun meletakkan semangkuk penuh sup kentang ke meja.

Karin masih terdiam sejenak, namun ia menyadari perubahan Sakura. Wanita merah itu menempatkan dirinya duduk di kursi dan menggulung lengannya. Ia membantu Sakura menata makanan yang dibuatnya di meja.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu di KGR?"

"Hm, baik-baik saja seperti biasa." Sakura pun akhirnya ikut menempatkan diri duduk di kursi.

"Sakura..." Karin memberikan jeda pada kalimatnya. "Kudengar Sasuke sudah tak masuk kerja selama beberapa hari."

Mendengar hal itu, kegiatan Sakura terhenti. Tangannya yang hendak menyendok nasi ke piringnya membeku di sana. Pasti Sasori yang telah mengatakannya kepada sang kakak, namun Sakura tak bisa terus menutupinya, kenyataan bahwa ia pun gelisah karena hal itu.

"Ya, seperti yang kakak ketahui." Sakura memalingkan wajahnya.

"Sakura..."

"Aku bingung."

Ucapan Sakura memotong kalimat Karin. Dapat dilihatnya bahwa adik kesayangannya itu menundukkan kepala sambil gemetaran. Secara refleks Karin bangkit dan mendekatinya, ia memeluknya, memberikan kenyamanan kepada gadis merah muda yang rapuh ini. Karin tahu perasaannya.

"Aku ingin mempercayainya, Karin-nee... Aku ingin percaya~" ucap Sakura selagi sesenggukan. "Tapi aku takut~ aku takut Karin-nee~ Apa yang harus kulakukan?"

Saat ini yang dapat dilakukan Karin hanyalah memeluknya, membiarkannya menangis dan mendengarkan keluhannya. Setiap tetes dari air mata Sakura yang jatuh membuat hati Karin ikut sakit. Malam itu Sakura sama sekali tak menyentuh makanan yang dibuatnya dan pada akhirnya lelah karena menangis.

-ooOoo-

Di sebuah apartemen dengan interior super mahal dan gaya elegannya, nampak seorang pemuda terduduk di sofa panjang. Dasi merahnya dikendurkan, kemejanya basah oleh keringat dan nampak lusuh. Jasnya—yang bernilai jutaan yen itu—dibiarkan tergeletak di lantai seperti keset. Tangannya memegangi kepalanya yang mendongak ke atas.

Di hadapannya terlihat ponsel yang terbuka, membuka pesan dari gadis yang sangat dirindukannya. Kalau bisa, ia sudah berlari ke kediaman Sakura dan memeluknya. Membuat gadis itu menjerit nikmat semalaman karenanya. Namun sayang, ia tak bisa. Ada hal yang harus diselesaikannya lebih dulu sebelum ia bisa berdiri menghadap Sakura.

"Ahh~"

Sasuke mengeluarkan helaian nafasnya. Ia menatap pantulan cahaya kota dari jendela apartemennya. Sudah beberapa hari berlalu sejak ia terakhir bertemu Sakura, sejak sang Tousan mengumumkan mengenai pertunangannya. Sejak saat itu terjadi banyak hal di rumah, dan malam ini pun akhirnya ia dapat tidur di apartemennya kembali.

"Sakura..." gumamnya entah pada siapa. "Kuharap kau mau memaafkanku."

-ooOoo-

Ini sudah hari ke-5 sejak insiden pengumuman pertunangan Sasuke, Sakura sudah mencoba kembali membuka hatinya. Ia dan trainee lainnya nampak berjuang di dapur utama, pagi ini mereka mendapatkan pesanan besar dari sebuah hotel dalam rangka jamuan duta besar.

"Aaaaaaahhh~ punggungku!" Naruto nampak merebahkan dirinya di atas meja kerja.

Memang benar, setelah 12 jam bergulat di dapur utama, nampaknya mereka kehabisan tenaga. Hinata membawakan minuman segar kepada seluruh trainee di sana. Naruto dengan nikmatnya meneguk habis jus bawaan Hinata, Ino hampak mengibas-ngibaskan tangannya kagerahan, sedangkan Sasori sepertinya sedang mengendurkan otot-ototnya yang kaku.

"Arigatou, Hinata." ucap Sakura sambil menerima gelas dari Hinata.

Suasana menjadi tenang, setelah menghabiskan minumannya dan merenggangkan otot, mereka berniat untuk pulang. Sakura dan Hinata berjalan menuju ruang ganti, Ino sudah mendahului mereka karena tadi Sakura membantu Hinata memberesi gelas-gelas di meja kerja mereka.

Saat sampai di ruang ganti, mereka mendapati Ino—yang sudah berganti pakaian—sedang berbicara di telepon. Sakura mengecek ponselnya, namun sepertinya tak ada tanda-tanda Sasuke menelponnya. Ia pun segera mengelap keringatnya dengan handuk yang ia bawa, lalu ia pun mengganti pakaiannya. Sesaat sebelum Ino menutup teleponnya, Sakura mendengar sesuatu.

"Hmm... baiklah, sampai jumpa." Ino sedikit melirik ke arah Sakura. "Sasuke."

DHEG!

Apa itu tadi? Sakura langsung mematung, ia menoleh ke arah Ino yang memberikannya tatapan penuh arti. Mata Sakura membulat smpurna, mulutnya terbuka. Tanpa pikir panjang ia segera berlari ke arah Ino dan berdiri di hadapannya.

"Barusan... kau memanggil nama Sasuke?" tanya Sakura ragu-ragu.

Ino sempat kaget melihat reaksi Sakura, namun sepertinya ia memang sengaja melakukannya. Sebuah seringai terlihat di bibir ranumnya. "Ya, barusan Sasuke menelponku."

DHEG!

Sesuatu seperti menusuk hatinya, Sakura merasakan nyeri. Ia menunduk. Kenapa Sasuke malah menelpon Ino daripada dirinya? Padahal ia sudah mengirimkan pesan kepada Sasuke, dan Sasuke bahkan tak membalasnya. Apakah pertunangan mereka belum batal? Apakah Sasuke mencoba mempermainkannya lagi?

Sakura bergegas meninggalkan Ino dan Hinata—yang kebingungan melihatnya. Ia tak memedulikan lemarinya yang masih terbuka dan bahkan ia belum mengenakan jaketnya. Sesaat sebelum Sakura keluar dari ruang ganti, Ino mencegahnya.

"Kau tak ingin mengetahui apa yang ia katakan padaku?"

Teriakan Ino berhasil membuat Sakura mengerem langkahnya. Ia terdiam sesaat, menolehkan sedikit kepalanya untuk mendengar ucapan Ino. Sepertinya gadis pirang itu memang senang mengerjainya.

"Ia mengatakan padaku bahwa besok ia akan datang ke KGR."

-ooOoo-

Brak!

Pintu kamar Sakura terbanting kencang, ia menghempaskan dirinya di atas kasur. Dibiarkannya air mata itu mengalir—sekali lagi. Karin sedang tak ada di sana, tak ada yang menghiburnya. Hanya sinar bulan yang menyusup dari sela-sela jendelanya yang terbuka. Angin malam mencoba menggelitiknya, namun malah membuat tubuhnya semakin mendingin.

Sakura hanya bisa menangis, hatinya hancur. Masihkah ia mempercayainya? Haruskah ia bertahan dan disakiti lagi? Mungkinkah ini adalah sinyal Tuhan untuk menyerah? Kalau begitu kenapa harus dia? Kenapa harus Sasuke datang kembali ke Jepang? Kenapa mereka harus bertemu kembali.

Cinta seperti Coklat~

Lumer dan terasa manis menenangkan hatinya yang gelisah, namun dengan segala rasa manisnya ada zat yang membuatnya kecanduan. Hingga kalau ia tak memakannya hatinya akan kembali campur aduk. Dan setelah rasa manis itu menghilang, yang tersisa bukanlah rasa pahit, namun hambar. Hambar, lebih menyakitkan daripada harus mengecap pahit.

"Sasuke... hiks... kenapa... kenapa..."

Bantal Sakura telah basah oleh air matanya. Ia tak menyangka rasa sakit yang dirasakannya sekarang akan lebih parah daripada sakit yang dirasakannya 8 tahun yang lalu. Sasuke tak memberikannya kepastian, ia tak tahu lagi harus menyerah atau bertahan. Sesuatu yang tak pasti itu, benar-benar menyakitkan.

"Tadaimaa, Sakura...?"

Nampaknya Karin telah kembali, Sakura segera bangkit dari tempat tidurnya dan mengunci pintunya—tanpa mengeluarkan suara. Terdengar suara langkah kaki Karin menaiki tangga, Sakura juga dapat melihat bayangan kaki Karin dari celah pintunya.

Ia tak ingin membuat kakaknya itu cemas, ia juga tak ingin terlihat menyedihkan di mata sang kakak. Ia—yang dengan percaya diri mengatakan bahwa Sasuke sudah berubah, bahkan mengatakan bahwa ia mempercayainya—kini menangis sesenggukan karena Sasuke sudah mengkhianatinya.

"Sakura, kau di dalam? Apa kau sudah tidur?"

Sakura hanya terdiam mencoba menahan isakannya. Siapa yang menginginkan kisah yang berakhir tragis seperti ini, mungkinkah sudah saatnya Sakura melupakan Sasuke? Apakah ia mereka memang tak ditakdirkan untuk bersama?

Tak lama sepertinya Karin memutuskan untuk pergi dan meninggalkan kamarnya. Sakura menghela nafas, pancaran matanya mulai menghilang. Kegelapan menggerogoti hatinya menyisakan kebencian dan kekecewaan. Orang-orang yang mengatakan kalau kebencian dapat membuat seseorang buta dan bahkan melakukan hal nekat itu benar. Sakura bisa saja melakukan hal nekat saat ini.

TTrrrdd TTRRrrss

Terdengar suara telpon dari ruang tengah, Karin juga nampaknya bergegas menuju telepon itu. Sakura dapat mendengar samar-samar suara Karin yang kencang. Sepertinya telepon itu dari seseorang yang membuat Karin kesal. Namun Sakura tak penasaran, ia lebih memilih memejamkan matanya dan membiarkan rasa lelahnya mendominasi.

Tok Tok

Tak lama kembali terdengar ketukan dari luar pintu kamarnya.

"Sakura, kau di dalam? Ada telpon untukmu..."

Masih berusaha menyembunyikan isakannya, Sakura menjawab panggilan sang kakak. "Telpon dari siapa, Neechan?"

Karin memberikan sedikit jeda sebelum menjawab pertanyaan Sakura, "Dari Sasuke."

DHEG

Kenapa? Kenapa di saat seperti ini justru Sasuke menelponnya? Apa yang ingin dikatakannya? Sakura terlalu takut untuk mengetahui hal itu. Ia terlalu takut kalau Sasuke mengatakan ia telah memutuskan untuk berpisah. Ia takut mengetahui kenyataan bahwa Sasuke lebih memilih Ino daripada dirinya. Ia takut, sangat takut.

Begitu takutnya hingga ia bisa saja pura-pura mati dan mengatakan bahwa semua adalah kesalahan Sasuke. Akhirnya dengan sebuah tarikan nafas dalam, Sakura menjawab.

"Aku sedang tak ingin mendengar suaranya."

-ooOoo-

Pagi ini cuaca sangat mendung, hujan telah turun sejak tengah malam tadi. Pagi-pagi sekali Sakura sudah bersiap pergi, ia meninggalkan makanan dan selembar pesan di meja untuk Karin. Gadis itu memakai jaket dan sepatunya. Kejadian kemarin membuatnya mengabaikan beberapa hal, termasuk ponselnya. Ia meninggalkannya begitu saja di loker kerjanya dalam keadaan mati.

Bus pertama berhenti di depan Sakura, gadis itu menutup payungnya dan naik. Meskipun masih pagi, namun sepertinya banyak juga yang berangkat pagi-pagi sepertinya. Karena itu Sakura kini tak mendapatkan tempat duduk, ia pun terpaksa harus berdiri. Sakura meraih pegangan di atasnya.

Seperti De Javu, ini adalah kejadian saat ia dan Sasuke bertemu kembali setelah 8 tahun. Tak ingin mengingat hal yang akan membuatnya sakit, Sakura mencoba mengalihkan pandangan ke luar jendela. Namun ia malah melihat restoran tempat ia dan Sasuke pertama kali kencan setelah mereka mengakui perasaan satu sama lain.

Mengapa seakan dunia berpihak kepada rasa sakitnya?

20 menit ditempuhnya untuk sampai ke KGR, saat dini hari hanya ada beberapa pekerja yang sudah stand by di sana. Sakura melewati ruang kerja Gaara, ia sepertinya mendengar suara dari dalam sana. Mungkin Gaara sedang kedatangan tamu penting, karena didengar sekilas, nada bicara mereka serius sekali.

Saat akan menuju ruang ganti, Sakura berpapasan dengan Sara. Wanita merah itu melemparkan senyum kepada Sakura.

"Ohayou, Chef~"

"Ohayou mo, Sakura." mereka berbincang sejenak. "Tumben kau datang pagi sekali, apa ada sesuatu?"

Sakura mengguk lemah, "Ponselku tertinggal dan aku berniat mengambilnya." jawab Sakura ramah.

"Oh begitu~"

"Sara-chef sendiri apakah biasa datang sepagi ini?"

"Aku? Tidak juga~" Sara menjawabnya dengan senyuman canggung. "Hanya saja aku ingin menikmati waktuku yang tersisa dan bekerja sebaik mungkin."

Meski agak tak mengerti akan ucapan Sara, namun Sakura tak terlalu meikirikannya. Mereka pun berpisah dan Sakura pamit menuju ruang ganti. Ia melihat ponselnya masih tergeletak di dalam loker, baterainya telah habis, beruntung ia membawa kabel charger. Setelahnya Sakura mengganti pakaian, ia sudah sampai di sini—meskipun masih telalu pagi—mungkin ia bisa menggunakan ruang latihan untuk membuat sesuatu.

Saat Sakura keluar dari ruang ganti, ia kembali melewati ruangan Gaara. Saat itulah pintu ruang Gaara terbuka, menampilkan sosok pemuda yang tadi tengah berdebat panas dengan Chefnya. Sakura kembali membulatkan mata melihat siapa yang berada di depannya itu. Sosok yang sudah lama ingin ditemuinya, sosok yang kini menatapnya dengan wajah tak kalah terkejutnya.

Sasuke—pemuda itu—segera kembali memasang wajah stoic khasnya. Ia melangkahkan kaki menuju Sakura yang sedang mematung. Ia dapat melihat berbagai perasaan berkecambuk dalam hati gadisnya itu—ah, masihkah Sakura menjadi gadisnya?

Sampai di hadapan Sakura, Sasuke terhenti. "Tumben kau datang sepagi ini."

"Apa yang... kau lakukan di sini?"

Pertanyaan Sakura dibalas oleh keheningan. Sasuke membisu sejenak, matanya beralih seolah mencari alasan yang tepat. Sakura menatapnya serius, ia bahkan mengepalkan tangan mencoba menahan perasaannya.

"Aku ada sedikit urusan dengan Gaara-chef."

Seperti biasa, Sasuke sama sekali tak menunjukkan ketakutannya kepada sang chef. Menyebut namanya terdengar begitu mudah. Namun Sakura menemukan sesuatu yang ganjal dalam raut dan nada bicara Sasuke, sepertinya pemuda itu merencakan sesuatu.

"Jadi... kau sudah kembali." Sakura mencoba memahami situasinya dan berusaha bersikap seolah itu bukan masalah besar. Mungkin Sasuke berunding mengenai absensinya dan meminta pengertian dari Gaara.

"Tidak."

Jawaban Sasuke membuat Sakura kembali terdiam, ia menatap wajah Sasuke. Emeraldnya kini dibalas oleh tatapan tajam dari sang onyx. Sasuke memberikan penekanan dalam kata-katanya, seakan ia sudah membulatkan tekad dan tak ada yang mampu menahannya lagi.

"Aku sudah mengundurkan diri dari Konoha Grand Restaurant."


-TBC-


~Behind The Scene~

Sakura : Akhirnya selesaii~ baiklah tinggal final episode ya? Oke, kita bisa!

Sasuke : *menghela nafas* Pulang-pulang langsung ditarik untuk syuting~

Sasori : Aku mendapati kecurangan dalam liburan ini! Aku minta diulang! *protes*

Naruto : Menyenangkannya bisa berkumpul bersama lagi~

Hinata : Oh, benar. Besok sudah sampai final chaps ya~ cepat sekali~

Ino : yeah, menyenangkan kalau bisa melanjutkannya, tapi sepertinya kalau ditambah konflik baru, kasian SasuSaku juga.

Hinata : Ha ha benar! biarkan mereka bahagia.

Sara : sedih sekali, andai kisah kita diceritakan juga dalam Fict ini~ Nee, Gaara? *colek Gaara*

Gaara : . . . .

Author : Ehem! Konbanwa minna~
Wuah lihat ini kita sampai ngebut untuk melanjutkan Fict ini~

Bahkan semua yang berlibur pun dipaksa untuk datang menyelesaikannya.
Ha ha maaf ya ngaretnya ga ketolongan lama~
Abis Shera ga ada koneksi selama mudik, dan laptop pun ditinggal~

Gomenne~! Hontou!

Oh ya sekedar info ajaa~
Ini udah mencapai Semifinal Chap lho~
Artinya...
Besok adalah FINAL CHAP (T^T)

Sedih sihh... tapi Shera akan bikin ending yang cetar membadai ulala deh buat mengganti ngaret kemarin.
Okey?

See you next chap!
Leave A Mark (Review) Please?

Keep Trying My Best!

Shera Liuzaki.