Loving You Mo

"Chanyeol, jika aku mati minggu depan, kau akan datang ke pemakamanku atau tidak?,"

"Apa maksudmu? Jaga bicaramu Kim Jongdae,"

"Yak! Aku serius, aku ingin memastikan saja,"

"Minggu depan aku akan mengunjungimu, datang ke rumahmu bukan pemakamanmu,"

"Kau tidak tahu umur seseorang, bodoh,"

"Kau leboh bodoh merencanakan kematianmu,"

"Aku hanya bertanya dan memastikan,"

"Terserahlah."

Park Chanyeol dan Kim Jongdae, sepasang kekasih yang bertemu karena kejadian aneh, ya itu terjadi saat Park Chanyeol baru saja menginjakkan kakinya disebuah kota kecil di Siheung, saat itu Chanyeol sedang melihat-lihat keasrian kota kecil itu hingga akhirnya saat berjalan kesebuah pohon besar ia melihat seorang lelaki manis sedang mencoba menaiki pohon besar itu. Chanyeol sebenarnya ingin menghiraukannya tetapi aksi kedua dari lelaki manis itu cukup membuat Chanyeol tercengang karena nyatanya kini lelaki itu sedang menggantungkan tubuhnya di salah satu batang pohon besar itu. Heol. Kesan pertama yang buruk.

Tapi entah mengapa, sejak saat itu Park Chanyeol terus mengikuti lelaki itu hingga akhirnya lelaki manis itu bernama asli Kim Jongdae, seorang lelaki yang begitu ceria dan juga ramah, walaupun ia tidak begitu pintar tapi ia cukup dikenal banyak orang di sekolah, tentu saja tiap angkatan sekolah mereka hanya memiliki 3 kelas, itupun paling banyak.

Kejadian-kejadian bodoh terus dialami Chanyeol semenjak dekat dengan Jongdae, dan Chanyeol bersyukur akan itu, karena ia pindah ke kota kecil itu untuk menghilangkan kesedihannya karena sang kakak perempuannya baru saja meninggal dunia diakibatkan kecelakaan berantai, tapi tak apa kini ada Jongdae yang menghiburnya.

"Jongdae, kau bisa bernyanyi tidak?," Tanya Ryunjin, pada Jongdae yang sedang membuat wajah konyol dihadapan Chanyeol yang sedang tertidur,

"Menyanyi? Tentu saja! aku bisa!," jawab Jongdae dengan percaya diri,

"Jadi kau bisa menyanyi untuk kelas kamikan di acara amal nanti?,"

"Acara amal apa? Aku tidak tahu,"

"Kau kebanyakn berkencan dengan Chanyeol sih!,"

"Biar saja, Yolo bro Yolo,"

"yasudah, nanti pulang sekolah temui aku di ruang music,"

"Iya iya."

Nyatanya, pernyataan Jongdae yang mengatakan bahwa ia bisa menyanyi adalah salah besar karena kini Jongdae hanya bernyanyi tanpa ada nada yang benar, ia terus menyanyi sesukanya, membuat kesal Ryunjin yang sudah bersemangat karena berpikir telah mendapatkan seorang penyanyi tetapi yang kini ia dapat adalah bencana.

"Yak Kim Jongdae! Bernyanyilah dengan benar!,"

"Aku sudah bernyanyi dengan benar!,"

"Matilah kau sana Kim!,"

"Baiklah, tapi jika aku mati jangan pernah datang ke pemakamanku Jung Ryunjin!."

Itu adalah kenangan 5/6 tahun yang lalu, kini pasangan gila itu sudah tumbuh menjadi pasangan yang romantic, walaupun terkadang Jongdae masih bersikap bodoh dihadapan Chanyeol. Tapi, mereka sudah berubah banyak. Ya sangaaat banyak karena nyatanya kini Park Chanyeol adalah salah satu member dari group terkenal milik SM Ent., ia memiliki posisi sebagai Rapper kalau kata Jongdae orang yang berbicara dengan cepat dengan tujuan memaki, ah intinya Jongdae tidak suka aliran music Chanyeol, tapi Jongdae suka aliran music groupnya Chanyeol, bahkan ia sangat menyukai Do Kyungsoo, ah suaranya membuat hati Jongdae meleleh, senyumannya juga manis, Do Kyungsoo adalah definisi kebahagiaan Jongdae, selain Chanyeol tentunya.

Begitulah kehidupan Chanyeol, kehidupan Jongdae agak mirip dengan Chanyeol, tapi Jongdae hanya seorang model pakaian biasa, ia bisa menjadi model juga gara-gara Chanyeol, saat itu Chanyeol sedang menggunakn kamera baru miliknya, hasil foto Chanyeol biasa saja, tapi orang majalah itu bilang modelnya yang luar biasa, padahal itu adalah foto Candid yang diambil Chanyeol, karena jika ia berkata akan mengambil foto Jongdae, Jongdae dengan sengaja akan menampilkan wajah konyolnya, dan juga pose yang diluar batas orang normal lainnya.

Jongdae cukup menikmatinya, tapi ia tidak begitu suka karena ia jadi dikenal banyak orang, ia tidak mau jikau suatu saat ia mati, banyak orang akan bersedih karenanya.

Jika dipikir-pikir sering sekali kata kematian keluar dari mulut Jongdae, karena Jongdae sadar bahwa ia tidak akan memiliki umur yang panjang, ia sadar sang ayah dahulu meninggal karena sebuah kanker menyeramkan, dan ya tentu Jongdae akan mengidap penyakit yang sama.

"Chanyeol, ayo kita liburan selama satu minggu,"

Pinta Jongdae pada Chnayeol yang sibuk dengan pakaiannya, Chanyeol pun menghentikan kegiatannya, iapun berbalik dan memandang penuh arti pada Jongdae, kenapa? Karena tdak biasanya Jongdae meminta berlibur bersama.

"kenapa tiba-tiba?,"

"Ingin saja, yayayaya?,"

"Iya, nanti akan kuberitahu pada Manager,"

"baiklah."

Dan ya, permintaan jarang Kim Jongdae pun terkabul kini keduanya sedang berlibur dipulau Jeju, keduanya menghabiskan waktu bersama dengan sebaik-baiknya, kecuali saat cairan pekat berwarna merah itu mengucur dengan seenaknya dari hidung Jongdae.

"Kata-kataku benarkan Chan," seru Jongdae sambil memandang Chanyeol yang sedang sibuk membersihkan darah dari hidung Jongdae,

"Kata-kata apa?,"

"Yang tentang kematian, aku sudah tidak takut Chan,"

"Kenapa?,"

"Aku mendapat sebuah kutipan seperti ini,

Seorang anak lelaki yang nakal dengan gangguan mental dan orang tua yang terlalu sempurna. Dia tidak akan pernah sukses dihidupnya, dan ia sudah tahu itu dengan pasti. Jadi, tujuannya untuk hidup adalah hidup dengan penuh kebahayaan, Dia tidak pernah takut untuk mati, karena dia sudah siap

Bagaimana?,"

"Kau bukan anak nakal, kau juga tidak memiliki gangguan mental, itu sangat tidak cocok denganmu,"

"Tapi, aku sangat menyukainya, itukan mirip motto hidupku, YOLO,"

"Iya iya, sudahlah apa kau merasa baikan sekarang?,"

"Chanyeol, jika aku mati minggu depan, kau akan datang ke pemakamanku atau tidak?,"

"Apa maksudmu? Jaga bicaramu Kim Jongdae,"

"Yak! Aku serius, aku ingin memastikan saja,"

"Minggu depan aku akan mengunjungimu, datang ke rumahmu bukan pemakamanmu,"

"Kau tidak tahu umur seseorang, bodoh,"

"Kau leboh bodoh merencanakan kematianmu,"

"Aku hanya bertanya dan memastikan,"

"Terserahlah,"

"Kalau kau akan datang, pastikan Ryujin tidak masuk ke rumahku, okay?,"

"Kenapa?,"

"Aku sudah membuat perjanjian dengannya, pastikan saja,"

"Terserahlah, tapi besok kita kembali ke Seoul untuk memeriksa keadaanmu,"

"Iya, akan kulakukan segalanya untukmu,"

"berjanjilah, kau tidak akan apa-apa,"

"Siap."

Dengan cepat semua perkiraan Jongdae menjadi nyata, kini Jongdae dinyatakan positif mengidap penyakit yang sama seperti Ayahnya, atau Almarhum Ayahnya. Jongdae merasa baik-baik saja, tapi tidak dengan orang disekitarnya bahkan kini Chanyeol lebih sering menolak kegiatan solonya demi menunggu Jongdae di Rumah Sakit, tak apa asal Jongdae baik-baik saja.

Tapi, kegiatan solo bisa CHnayeol tolah tetapi kegiatan group tidak bisa, karena kini ia dan groupnya harus mengisi sebuah acara di Busan, sebuah Fansign dan Mini Konser, walaupun sudah menampilkan kesan bahagianya, kesedihan tidak bisa luntur dari tatapan Chanyeol. Dan semuanya berjalan sesuai rencana, kecuali saat kegiatan Fansign akan berakhir, ponsel Chanyeol bordering menandakan sbeuah pesan singkat masuk.

Dan kejadian setelahnya membuat semua penggemar yang datang menatap bingung Chanyeol yang blangsung berlari keluar arena, bahkan setetes air mata keluar dari wajah ceria itu. Tanpa pikir panjang, beberapa orang disitupun tahu apa yang terjadi.

"Saat itu, saat kami masih sekolah di kota kecil itu, ia selalu bersikap bodoh, bahkan ia selalu memakai wig berwarna-warni kesekolah yang berakhir dengan ia di hukum oleh guru kami.

Wajahnya selalu bersinar, dan saat itu ada kejadian lucu yang terjadi, saat itu aku dan dia sedang bercengkrama di pelataran sekolah, hingga salah satu teman kami datang untuk meminta Jongdae menyanyi, tapi Jongdae adalah penyanyi yang buruk, tapi karena itu keduanya menajadi dekat.

Jongdae juga selalu bertanya, jika ia mati minggu depan, aku akan datang ke pemakamannya atau tidak, jika iya ia berpesan padaku untuk tidak mengijinkan Jung RYunjin datang ke pemakamannya, Yak Jung Ryunjin, kau telah melanggar perjanjianmu dengan Jongdaeku.

Jongdae adalah sosok yang indah, ia begitu tenang dan juga pasrah, ia menikmati setiap harinya dengan pemikiran hidup hanya sekali, jadi mari lakukan apapun yang ingin kita lakukan. Aku pun tanpa sadar mengikuti gaya hidupnya itu, dan aku bersyukur pernha bertemu dengan lelaki sepertinya, karena ya ia adalah bagian terbesar dari hidupku.

Dan yang terkahir, dia tidak pernah takut untuk mati, karena dia sudah menyiapkannya dengan sangat baik.

Selamat tinggal, temanku, adikku, kekasihku, Kim Jongdae."

END