Chanyeol berlari seperti angin memasuki rumah sakit. Matanya menatap awas—memperhatikan jeli tiap orang-orang yang berlalu lalang disana. Langkahnya ia percepat, menuju lift dan menekan angka 5 seperti yang Jinyi katakan.
Koridor lantai 5 sepi, hanya dilalui oleh beberapa orang saja. Pada lorong sebelah kanan dari lift, ruang operasi terlihat berikut dengan seorang pria paruh baya menanti resah di depan pintu itu.
"Paman Jang." Chanyeol menggumankan nama pria itu dengan pelan. Langkah kakinya mendekat dengan senyum kelegaan yang tak mampu Chanyeol bending terukir pada sudut bibirnya.
Jang Jonghoon mengadah, di antara resah raut wajahnya ia membelalak terkejut. "Tuan Muda…" Gumannya setengah tak percaya. Ia bangkit bersamaan dari tempat duduknya dengan degupan jantung berbaur satu di dalam rongga dadanya.
"Akhirnya aku menemukanmu, Paman." Ungkap Chanyeol bahagia.
"Tuan Muda mencariku?" Tergagap ia bertanya.
"Aku mencari Baekhyun," Chanyeol menegaskan tujuannya.. Raut tegang wajah tua itu tercetak jelas, sorot matanya berubah tak tenang dan Chanyeol menanggapi dengan tenang. Ia sudah cukup bersenang hati menemukan Jonghoon dan ia tak ingin menghancurkannya dalam tindak kekalutan yang sama.
"Bisakah Paman memberitahuku dimana Baekhyun?"
"Mengapa Tuan Muda bertanya padaku, saya… tidak tau apapun."
"Paman tau," ucap Chanyeol. "Ibu memberitau semuanya."
Pria tua itu terkejut lagi dan mengatupkan rahangnya seketika. Ia tak berucap apapun dan perlahan menempatkan dirinya duduk pada bangku tunggu kembali. Matanya mengarah pada pintu operasi, lalu turun menghadap lantai di bawah kakinya.
Chanyeol memperhatikan dalam diam yang sama. Ia sedikit mulai tak sabar namun lagi menahan diri akan hal itu.
"Apa Mirae baik?" berat suaranya mengalun pelan akhirnya.
Jonghoon menatap Chanyeol dalam keterkejutan yang sama kembali, sedang dalam hati bertanya dari mana anak mantan majikannya itu tau mengenai putrinya. Chanyeol mengulas senyum tipis dan menempatkan dirinya duduk di sebelah pria itu.
"Mirae berharga bagi Paman, benar?" itu bukan sebuah lontaran pertanyaan, lebih kepada gumanan Chanyeol seorang diri. "Paman akan melakukan apapun untuk Mirae," sambungnya lagi.
Jonghoon tak memberi sahutan.
"Baekhyun juga seperti itu bagiku, dia berharga bagiku." Chanyeol mengalihkan pandangannya kepada Jonghoon kemudian dengan sejuta harapan kembali tercipta dari bulat miliknya. "Aku tak ingin menjadi kejam Paman, tapi tak bisakah Paman memutar keadaan dan berganti posisi denganku?"
Jonghoon mengangkat kepalanya dan beradu pandangan dengan Chanyeol, kerutan kebingungan menyatu bersama kerutan wajah termakan usia miliknya.
"Baekhyun masih 16 tahun, Mirae juga. Mereka masih anak-anak, lalu bagaimana jika tanpa alasan dia dibuang seperti itu? Seperti Baekhyun, bagaimana jika Mirae yang mengalaminya?"
"Tuan Muda…" Jonghoon mencolos tak percaya.
"Sudah satu tahun berlalu, Paman." Potong Chanyeol. "Bagaimana bisa Paman tetap melakukan semua ini kepada Baekhyun?"
Chanyeol menghela nafas lelah dan memberikan tatapan putus asa miliknya. "Bagaimana bisa Paman sekejam ini untuk menyelamatkan diri Paman sendiri?"
"Saya tidak memiliki pilihan." Jonghoon berucap akhirnya. "Mirae membutuhkan operasi itu secepatnya." Ia mengusap wajah gusar dan risaunya bertambah dalam dirinya.
"Nyonya Park akan membantu seluruh biayanya asal saya melakukan semua yang beliau perintahkan."
Chanyeol mengangguk mengerti. Ia pun mencoba masuk ke dalam situasi dilemma yang dihadapi oleh pria itu, Chanyeol tak ingin menyalahi sedang kenyataan orangtuanya yang berada di balik itu semua.
Jonghoon ditawari sekarung uang untuk keselamatan keluarganya dan ia diwajibkan untuk membayar itu semua dengan sebuah anggukan perintah. Jinhee memberikan sebuah pilihan dan itu tidaklah sulit, tak sesulit membunuh anak manusia, hanya membawanya ke tempat yang Chanyeol tak pernah pikirkan. Itu merupakan pekerjaan yang mudah.
"Maafkan saya Tuan Muda, jika saya memberitau Anda maka Mirae… takkan bisa menjalani perawatannya kembali. Maafkan saya," Jonghoon mengujarkan penyesalan mendalam.
Chanyeol tak begitu terkejut karena pada kenyataannya ia telah memperkirakan hal itu.
"Bagaimana jika Paman membuat kesepakatan denganku?" Chanyeol membuka solusi yang lain.
Jonghoon menatap Chanyeol tak mengerti.
"Beritau aku dimana Baekhyun, maka aku akan membiayai seluruh perawatan Mirae."
Jonghoon merupakan manusia naïf tanpa pilihan yang sama. Ia memiliki sesuatu yang bisa ia perjual belikan, pun terhadap Chanyeol… itu bukanlah penolakan.
"Ilsan-dong."
Maka semuanya menjadi semudah itu.
…
Ada banyak hal yang tidak Baekhyun ketahui tentang Chanyeol, tentang bagaimana Chanyeol menjalani hidupnya dalam kurun setahun itu; bagaimana ia melewati harinya, bagaimana tidur malamnya, pekerjaannya… Baekhyun tak pernah mencoba membayangkan hal yang menjadi sama kiranya.
Chanyeol tak pernah lagi tidur senyenyak lalu ketika Baekhyun berada disana. Chanyeol tak lagi mengerjakan pekerjaannya dengan lugas seperti biasa, ia menjadi pemimpin payah yang bahkan hanya datang di hari-hari tertentu sesuai keinginannya.
Pola makan berantakan, jam tidur yang kurang memperlihatkan hasil bagaimana kurusnya lelaki tinggi itu sekarang. Tubuh jangkungnya terlihat mengerikan dengan pipi tirus dan tulang pipi yang menonjol. Rambut halus menghiasi atas bibir juga dagunya, Chanyeol tak terawat—ia bahkan tak pernah mempedulikan dirinya lagi.
Satu alasan Chanyeol terbangun di pagi hari adalah Baekhyun dan keberadaan anak itu. Chanyeol berkeliling kemanapun yang mungkin Baekhyun berada disana, namun nihil adalah hasil yang ia dapatkan. Menyerah bukan kata dalam hidupnya.
Setiap usaha akan membuahkan hasil, Chanyeol meyakini hal itu dan akhirnya disinilah ia.
Ilsan-dong, merupakan kota kecil dengan sebuah desa di kaki gunung Bukhansan. Disana terdapat sebuah sekolah asrama dengan penerapan sistem sekolah lama—nyaris terlihat terbelakang tanpa akses teknologi sebagai penyokong.
Baekhyun berada disana. Setahun yang lalu, Jonghoon sendirilah yang mengantar anak itu kesana. Di hari ini, Chanyeol menempatkan kakinya dengan buncahan dada dalam bahagia yang berlimpah.
Matahari bersinar terik di musim panas ini. Semilir angin menggunungan merupakan hal terbaik yang di dapatkan. Pada gerbang sekolah, dengan langkah menapak mantap Chanyeol membawa dirinya masuk ke dalam sana.
Ia menuju ruang kepala sekolah yang Jonghoon instruksikan kepadanya. Pada sisian koridor Chanyeol bertemu dengan seorang guru yang bertanya tentang kedatangannya dan Chanyeol mengatakan jika ia mencari siswa bernama Park Baekhyun—Byun Baekhyun yang namanya di ubah oleh permintaan Jinhee kepada Jonghoon.
"Saya adalah keluarganya," Lanjut Chanyeol.
Guru itu, Guru Lee mengatakan jika Baekhyun mengambil liburan musim panasnya. Ia tidak berada di sekolah sampai akhir musim ini. Chanyeol tak mampu menutupi kekecewaan dirinya mendengar penuturan itu.
"Tapi biasanya Baekhyun akan bekerja di perpustakaan sembari mengikuti kelas tambahan, dia melakukannya di musim panas yang lalu." Tukas Guru Lee kemudian.
Semangat menyuntik diri Chanyeol seketika.
"Kapan kelas musim panas itu dimulai?" tanyanya.
"Pendaftarannya akan dimulai minggu depan, jika Baekhyun mendaftar dia seharusnya kembali ke sekolah dalam minggu ini."
Itu membuat buncahan harapan mengisi Chanyeol kembali sampai ke seluruh saraf tubuhnya. ia telah menunggu saat-saat ini lebih dari satu tahun lamanya. Satu minggu bukanlah apa-apa, maka itu bukanlah masalah jika harus menunggu lagi.
Atas persetujuan dari Guru Lee, Chanyeol dibiarkan menunggu di areal sekolah sampai petang nanti. Chanyeol memberikan persetujuan yang sama dan menanti jam berharap Baekhyun kembali hari itu. Jikapun tidak, maka Chanyeol masih memiliki esok yang lain, esoknya lagi sampai satu minggu itu habis masanya.
Ufuk barat dihiasi jingga cantik perlahan. Kuning emas mewarnai lingkungan sekolah dengan semburat hangat mengenai wajah Chanyeol. Petang telah berganti dan itu menyadarkan Chanyeol jika harinya telah berakhir saat itu, ia harus melanjutkan besok.
Tungkainya ia paksa menegak dengan pundak lesu perlahan ia bawa pergi dari lingkungan luas itu. Riuh suara dari bawah tangga terdengar mengiringi kepergian Chanyeol. namun semuanya tertahan disana. Riuh suara itu membuatnya déjà vu sedang kerinduan membludak dalam dirinya.
Suara-suara itu semakin dekat sampai sosok pemiliknya terlihat kemudian. Chanyeol terpaku, pemilik riuh itu pun sama. Pandangan mereka terkunci dan semuanya seolah adalah mimpi.
Itu Baekhyun. Sosok kerinduannya selama ini berdiri di depannya kini dan itu benar merupakan Baekhyun.
"Baekhyun." Chanyeol setengah tak bisa mempercayai apa yang ditangkap oleh inderanya. Sosok Baekhyun tak bereaksi, tak ada reaksi terkejut, bahagia—semua hanyalah datar terpahat dari parasnya yang cantik.
Mungkin realita yang sama bingungnya atau keterdiaman atas semua ketidakpercayaan itu sendiri, maka Chanyeol memakluminya. Ia mengambil langkah miliknya pertama kali dan di saat yang bersamaan pula langkah Baekhyun tertarik mundur menjauhi dirinya.
Chanyeol tercenung, sosok lain yang tiba-tiba hadir di antara mereka itu membuatnya bertanya atas apa yang terjadi. Baekhyun berlalu pergi, tanpa kata sapaan apalagi peluk hangat yang telah siap Chanyeol sambuti.
"Aku tidak tau," itu merupakan ungkapan pertama yang menguar keluar dari feloni indah pita suaranya. "Aku tidak kenal siapa dia."
Chanyeol mencoba menafsirkan apa yang baru saja ia tangkapi. Terkejut bukanlah hal yang seharusnya ia lakukan, sosok menghilang Baekhyun seharusnya ia kejar dalam dekapnya namun apa yang Chanyeol lakukan hanyalah keterpakuan yang sama dan membiarkan Baekhyun pergi seperti itu.
Tanpa kata sapaan apalagi peluk rindu seperti yang Chanyeol harapkan.
…
Ocehan Sehun tentang beriak air kolam bukanlah hal yang ingin Baekhyun dengar. Semuanya seperti angin lalu, masuk telinga kanan keluar melalui telinga kiri. Petang tadi merupakan hal yang menguasai dirinya, pikirannya juga alasan mengapa degup jantungnya bertalu seperti itu.
Baekhyun pasti bermimpi. Sosok jangkung dewasa itu pastilah bagian ilusi miliknya.
Chanyeol tak mungkin berada disini, lagipula mengapa Chanyeol harus berada disini.
Lelaki itu telah memutus hubungan mereka, ia mengganti nama keluarga miliknya dan tak memerlukan alasan apapun lain untuk melihatnya datang ke tempat buangannya ini.
Baekhyun menghabiskan waktunya dengan termenung. Beriak air menyapa kakinya yang ia masukkan ke dalam kolam. Sehun menjadi satu-satunya yang menceburkan diri ke dalam biru itu sedang Baekhyun malah terdiam tanpa kata pada pinggiran kolam.
Sehun memperhatikannya, beberapa kali dan bertanya apa yang mengganggu pikiran teman sekamarnya itu. Itu terjadi sejak lelaki asing yang tak sengaja mereka temui di tangga tadi dan Baekhyun menjadi seperti ini.
Sehun mendesah pelan dan menyelam sampai ke dasar. Kaki Baekhyun di dalam air terlihat bergoyang dan Sehun mendekatinya. Lalu tanpa aba-aba melompat sampai air menciprat Baekhyun yang terlonjak kaget.
"Yak!" Baekhyun berteriak marah. Ia melotot kepada Sehun dan menyumpahi lelaki itu karena telah membuatnya basah kuyup. Sehun menyengir dan tanpa rasa bersalah menyelam kembali. Pada pertengahan kolam ia menyembul keluar dan menyiprati Baekhyun lagi dengan air.
"Ayo berenang bersama." Ajaknya.
Baekhyun mendengus kesal dan mengindahi ajakan Sehun. Ia mengeluarkan kakinya dari dalam air dan menjauhi bibir kolam kemudian.
Sehun gelagapan dan cepat-cepat menuju tepian.
"Yak Baekhyun mau kemana?" Sehun berteriak memanggil Baekhyun yang menuju kamar mandi.
"Sudah terlalu malam Sehun, sebentar lagi sekolah akan di tutup." Ujar Baekhyun tanpa menghentikan langkahnya.
Sehun mendengus lagi dan ogah-ogahan keluar dari kolam. Tubuh basahnya sedikit ia hentakkan masuk ke dalam kamar mandi dan mendapati Baekhyun tengah mandi pada salah satu bilik.
"Ada apa denganmu?" Sehun melirik Baekhyun yang tengah membaluri busa sabun ke seluruh tubuhnya. hazel tajamnya turun perlahan dan mengintip bagian bawah tubuh Baekhyun dan di rudung kecewa ketika mendapati adanya celana yang menutupi bagian privat lelaki itu.
"Apa yang kau lihat?" Baekhyun menyentak tiba-tiba. Ia mengambil gagang shower dan membasahi wajah Sehun dengan tega. Lelaki berkulit seputih salju itu taunya tak marah atau sesuatu, senyumnya terkembang lebar dan perlahan keluar dari bilik yang ia tempati.
"Mandikan aku Baek." Pintanya anak-anak.
Baekhyun mendelik dan memukul kepala Sehun dengan gagang shower. "Aku ini gay, kau mau aku setubuhi disini?" sipitnya melotot horror.
"Mau~" sahutan dengan nada dayuan itu membuat Baekhyun gemas. Ia sekali lagi tanpa perasaan memukul kepala Sehun, lebih keras lebih brutal.
Sehun mengaduh kesakitan dan kembali ke dalam biliknya dengan cemberut.
"Padahal tadi aku ingin membandingkan ukuran hidung kita."
"Yak mesuuuummm~" Teriak Baekhyun. Ia menjadi tak berhasrat untuk mandi lebih lama lagi, cepat-cepat ia bersihkan sisa busa sabun dan menyambar handuknya. Baekhyun memakai pakaiannya kilat dan meninggalkan kamar mandi dengan sumpah serapah.
"Baekhyun tunggu aku~" namun memang dasarnya Sehun tidak tau diri, bukannya merasa bersalah ia malah tak jadi mandi dan memilij berlari mengejar Baekhyun. Lelaki mungil itu lagi menyerukan kekesalannya dan mengumpati Sehun tapi sekali lagi Sehun malah mengindahi hal itu dengan merangkul pundak Baekhyun erat-erat.
"Akan kukatakan pada Bibi Sooyeon kalau kau itu cabul!" ancamnya.
"Tapi 'kan aku tidak mencabulimu, Baek." Sahut Sehun polos.
"Kau mesum dasar hidung besar!"
"Wah Baek~" Sehun menatap Baekhyun takjub. "Bagaimana kau tau jika hidungku besar?"
Baekhyun menghentak gemas dan menjepit hidung Sehun dengan keras. "Kau buta, kau tidak lihat hidung diwajahmu ini? Asdfghjkl~"
Sehun cemberut dan memegang hidungnya yang sakit oleh jepitan Baekhyun. "Kupikir hidung yang lain~" desah Sehun kecewa.
"Terserah!" rutuk Baekhyun, langkahnya ia hentakkan dengan sebal dan meninggalkan perataran sekolah dengan kesal. Sehun dibelakangnya mengejar dan lagi merangkul pundaknya tak tau malu.
"Eh, itu bukannya orang yang tadi?" Sehun berujar tiba-tiba, tangannya mengarah kepada sosok Chanyeol pada tangga asrama—terduduk bodoh di remang malam pada batas sekolah dan sekolah mereka.
Baekhyun ikut membawa pandangannya pada arah yang sama dan terkejut bukan main. Matanya membelalak dan langkahnya sontak terhenti.
"Ada apa?" Sehun di sampingnya bertanya bingung.
Baekhyun tak menjawab sedang inderanya terpaku akan Chanyeol. apa yang lelaki itu lakukan disana? Dia… masih disini?
Chanyeol menyadari cepat kehadiran mereka dan bangkit dari duduknya. Senyumnya tertarik lebar dan mendekati Baekhyun dan Sehun. Sehun dapat merasakan bagaimana pundak Baekhyun yang tiba-tiba menegang dan menatap Chanyeol seperti hantu.
"Baekhyun…"
Kerutan kebingungan Sehun semakin menjadi dan melempar pandangan Chanyeol bergantian kepada Baekhyun. Sehun mulai menerka jika keduanya memang saling mengenal satu sama lain.
Baekhyun memutus kontak matanya dengan cepat dari Chanyeol dan mengambil langkahnya kembali melewati lelaki tinggi itu. Namun Chanyeol tak membiarkannya seperti sore tadi—menarik pergelangan tangan Baekhyun dengan cepat.
"Baekhyun tunggu—"
"Lepas!" Sentak Baekhyun. Sipitnya tajam mengarahi Chanyeol. lelaki dewasa itu tertegun sedang hati bertanya apa ada dengan si mungil itu.
"Baekhyun," Gumannya. Baekhyun menyentak tangannya lagi, memaksa lepas dari cengkraman tangan Chanyeol. Namun Chanyeol mengindahi hal itu alih-alih semakin kuat menahan tangannya pada Baekhyun.
"Lepaskan aku!" Baekhyun memekik frustasi, ia tersentak-sentak memaksa tangannya lepas dan itu membingungkan bagaimana bening menghiasi sudut matanya tiba-tiba.
Sehun tersadar cepat dan buru-buru menarik Chanyeol lepas cengkramannya kepada Baekhyun.
"Hei, apa yang kau lakukan—"
Namun yang terjadi kemudian menghentikan seluruh niatan yang hendak Sehun lakukan. Chanyeol menarik Baekhyun tiba-tiba dan membawa tubuh itu ke dalam belitan tangannya. Sehun membelalak bersamaan sejuta pertanyaan mengisi apa hubungan kedua lelaki itu sebenarnya.
Baekhyun tersentak luar biasa. Tubuhnya menegang seperti batu dengan sipit yang membola dan menelaah apa yang tengah terjadi. Hangat tubuh Chanyeol menyelimuti tubuhnya dengan cepat, rasanya benar-benar hangat. Sensasi menyenangkan yang dulu mengisi dirinya Baekhyun rasakan kembali. Rasanya sedikit rindu, sebenarnya ia benar-benar merindukan hal itu.
"Aku merindukanmu Baekhyun." Ungkapan itu membuat dunia Baekhyun seperti berhenti berputar. "Sangat-sangat-sangat merindukanmu."
Berat suara Chanyeol sedikit serak, bening yang sempat tertahan ikut memenuhi sudut mata CEO itu. Chanyeol menangis, membiarkan hati kerinduannya menang dan menumpahkan segala hal yang tersimpan selama ini kepada Baekhyun.
"Maafkan aku baru menemukanmu sekarang."
Baekhyun tidak mengerti, kecewa dalam dirinya masih kokoh tapi ungkapan itu taunya menyakiti dirinya sendiri. Chanyeol membawanya dalam rasa sedih yang sama. Lelaki itu seolah menceritakan jika ia pun sama terlukanya selama ini.
"Lepas,"
Namun sayangnya tembok kecewa itu lebih kokoh dari segalanya.
Baekhyun dalam sekali sentakkan keras mendorong Chanyeol hingga terlepas darinya. Basah wajah Chanyeol mencubiti perasaannya lagi, Baekhyun mencolos menyadari betapanya rapuh paras tampan itu. Chanyeol terlihat berbeda, sangat berbeda dengan tubuh nyaris sisa tulang seperti itu.
Tapi Chanyeol telah membuangnya, lalu mengapa ia harus peduli lagi?
"Baekhyun…" Chanyeol hilang kata dalam dirinya. Penolakan Baekhyun menampari telak, lelaki mungil itu menolaknya. Baekhyun-nya menolak dirinya.
"Apa yang kau lakukan disini?" pertanyaan itu terdengar retoris bagi Chanyeol. Mengapa Baekhyun harus bertanya sedang lelaki itu telah memiliki jawabannya.
"Baek—"
"Mengapa kau datang kesini?"
"Aku mencarimu Baekhyun." Chanyeol mengatakan alasan apa yang membuatnya berada disana, itu sedikit membingungkan.
"Mengapa kau harus melakukannya?"
Chanyeol tercenung, mengapa Baekhyun lagi bertanya tentang maksud dan tujuan dirinya?
"Mengapa kau harus muncul lagi di hadapanku?!" Baekhyun tiba-tiba berteriak keras. Chanyeol tersentak pun halnya akan Sehun. "Kau seharusnya tak muncul lagi di hadapanku, lalu mengapa kau tiba-tiba saja melakukannya?"
Kesalahpahaman menjadi alasan dari itu semua. Chanyeol tak ingin menyalahi Baekhyun, itu wajar Baekhyun lakukan namun mengapa ia tak pernah siap menghadapinya?
"Maafkan aku…"
Itu permintaan maaf untuk satu tahun yang Chanyeol biarkan seperti itu. Baekhyun mungkin telah menumpuk benci dan Chanyeol pun tak ingin menyalahi keputusan itu juga. Baekhyun boleh melakukannya, lagipula ia memang bodoh. Kebodohan yang semuanya ia awali dan membuat mereka berakhir menjadi seperti ini.
"Mengapa kau harus meminta maaf? Itu bahkan tak bisa mengubah apapun." Ucap Baekhyun sakit.
Maaf bukanlah hal yang Baekhyun inginkan. Itu hanya akan membuatnya terlihat kejam sedang kenyataan ialah korban dari itu semua. Baekhyun telah lelah berharap. Pun Chanyeol dan kehadiran lelaki itu kembali, Baekhyun tak mengharapkan apapun lagi.
Ini bukan tentang Chanyeol yang mengasingkan dirinya, membuang dirinya. Itu merupakan hal yang seharusnya telah lelaki itu lakukan sejak dulu. Di hari kelahirannya dulu, Chanyeol tak seharusnya membawanya pulang dan merawatnya seperti itu.
Kehadirannya adalah aib, Jinhee menekan hal itu setiap harinya. Chanyeol seharusnya meninggalkan dirinya begitu saja. Mungkin saat itu Chanyeol masih terlalu muda, semua tindakan yang ia lakukan hanya di dasari oleh ego semata—membawa Baekhyun pulang maka akan menjadi sebuah kesalahan.
Sekian waktu beranjak, Chanyeol semakin dewasa. Pikirannya menjadi matang dan kemudian ia menyadari kesalahan terdahulu yang tak seharusnya ia lakukan.
1 tahun mengajarkan Baekhyun tentang banyak hal. Dirinya bukanlah siapa-siapa. Dirinya hanyalah beban yang lain. Chanyeol merasa cukup lalu mengapa ia harus keras kepala. Mau sampai kapan ia bertingkah tak tau malu seperti itu?
Baekhyun seharusnya berhenti, itu lebih baik daripada Chanyeol yang berhenti terlebih dahulu.
"Jika apa yang kau lakukan hanyalah tepatan janji kepada Ibu, maka kau sudah melakukannya. Kau bisa berhenti sekarang, kau sudah tak harus melakukannya lagi."
"Baekhyun."
"Jangan jadikan aku alasan sebagai penghambat hidupmu lagi Chanyeol."
Walaupun Chanyeol tak pernah mengatakan seperti apa terhambatnya ia akan kehadiran Baekhyun, Baekhyun tau Chanyeol merasakannya. Lagipula semuanya memang terlihat jelas seperti itu.
Lalu sebelumnya, jika yang Baekhyun sesalkan adalah tidak adanya sebuah ucapan perpisahan selamat tinggal, maka ini menjadi saat yang tepat untuk segalanya bukan? Chanyeol berada disini sekarang, lelaki itu tidak meninggalkan dirinya tanpa sisa selamat tinggal seperti hari kemarin. Chanyeol memberikannya kesempatan lalu mengapa Baekhyun harus menyiayiakan hal itu?
"Terima kasih untuk 16 tahun itu, aku takkan bisa membalas semua yang kau berikan kepadaku." Ada denyutan samar, halus sekali namun mendera Baekhyun tanpa ampun. Setahun yang lalu rasanya mungkin juga seperti ini. Mungkin lebih sakit dibandingkan ini, Tuhan berbaik hati menghilangkan sedikit sakit itu dan memberikan Baekhyun kesempatan apa yang ingin ia katakan.
Baekhyun menarik nafas dan menghela dengan pelan. Penglihatannya sedikit mengabur, ia tak begitu yakin seperti apa raut wajah Chanyeol di depannya. Sedihkah, bahagiakah? Itu raut wajah bahagia, benar bukan?
"Sekarang… selamat tinggal Chanyeol."
Itu merupakan sepenggal kalimat yang ingin Baekhyun ucapkan, tapi mengapa rasanya sesakit ini?
Mengapa setengah jiwanya seolah menghilang seperti ini?
Cocot: udah sampe sini, tinggal beberapa chap lagi akan tamat. say horeee coba! atau yg mau makin sinetron, kuy lah phhttt
thankchu yang baca chap sebelumnya, see ya again~
Btw kang AB cussonsbaekby juga mau apdet tapi besok wkwkkwkw di samperin yak~
