syukur alhamdulillah masih ada ide nangkring di kepala author, sebelumnya mohon maaf kalau cerita nya gimana2 buat kalian, author akan terus berusa belajar

terima kasih kritik, saran dan komentar kalian... luv yu

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

selamat membaca eaaaaaaaa

Warning ! typo bertebaran

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Flashback

"ugh" kepala Sakura terasa sangat berat ketika bangun dari tidurnya.

"sudah bangun, sayang" ternyata sang ibu sedang menunggu disampingnya sambil membawakan segelas air putih. "bangun nak, minum airnya dulu"

Sakura bangun dari tidurnya dan duduk menyandar, kemudian menerima segelas air dari Mebuki dan menghabiskannya. "semalam kau tau apa yang terjadi denganmu ?"

"iya bu, Sakura mabuk. Maafkan Sakura" jawab Sakura.

"hanya itu saja ?" Mebuki masih bertanya kepada putrinya tersebut.

"dan Sasuke yang membawaku pulang"

"itu saja ?"

"ibu kenapa bertanya terus sih, kepala Sakura masih sakit sekali" terdengar suara Sakura yang tampak kesal.

"tadi malam juga ada Karin dan juga Sasori"

"hah ?" wajah Sakura berubah seketika. "kenapa ada mereka juga ?"

"ceritanya panjang, sebaiknya setelah ini kau pergilah ke tempat Sasori" Mebuki tersenyum kearah Sakura. Sedangkan Sakura sendiri masih terlihat bingung.

"ibu, perbincangan kita tentang Amerika itu-"

"kau mau pergi kesana, sayang. Kalau begitu ayo !" ucap Mebuki, yang justru membuat Sakura terkejut.

"ma-maksud ibu, ibu juga ikut ?"

"iya. Apapun yang kau lakukan ibu akan selalu ada disampingmu"

"tapi bagimana dengan bibi Mikoto dan bibi Kushina ?"

"sayang, dari semua hal yang ada disekeliling kehidupan ibu, kau adalah satu-satunya prioritas utama dalam hidup ibu. Ibu tidak akan memperdulikan yang lainya, sekalipun kita harus pindah ke planet lain. Ibu tidak peduli" penjelasan Mebuki membuat Sakura tertawa sekaligus terharu. "mari kita cari kebahagian sama-sama"

Sakura yang mendengar penjelasan dari sang ibu, tidak bisa berkata-kata apapun, yang dia bisa lakukan hanya memeluk Mebuki.

.

.

.

.

.

.

Tok tok tok

Terdengar suara dari dalam rumah yang sudah pernah Sakura datangi sebelumnya tersebut. Kemudian muncul seseorang yang baru saja membukaan pintu untuknya. "aku harap kau tidak bosan aku datang kesini lagi"

"tentu saja tidak, aku sangat senang kau mau datang kesini lagi" Sasori tampak tersenyum kepada Sakura. "masuklah"

"ini sup kacang merah dari ibuku. Aku harap kau menyukainya" Sakura menyodorkan teremos kecil kepada Sasori.

"wah, ibumu baik sekali. Terima kasih ya Sakura" Sakura kembali mendapatkan senyuman dari mantan dosennya tersebut.

Beberapa menit setelah itu, Sasori tampak keluar sambil membawakan secangkir teh untuk Sakura. Kemudian Sasori duduk disamping Sakura. "apa kau juga mau menikmati supnya denganku ?"

"tidak perlu, aku sudah biasa dengan sup itu. Bagiku tidak ada spesial-spesialnya hehe"

"bagiku sup itu sangat spesial"

"kalau begitu kau bisa menikmatinya, mumpung masih hangat" saran Sakura.

"aku ingin menemanimu dulu disini"

"Sasori" Sakura tampak sedang menatap Sasori dengan sedih. "lagi-lagi kau dapatkan luka ini" wajah Sakura begitu kentara bahwa dia sangat menyesal. "maafkan aku, Sasori"

"kau tidak salah apapun"

Tangan kanan Sakura mencoba menyentuh luka memar di tulang pipi Sasori yang sudah bewarna kebiruan tersebut secara perlahan dengan wajah yang penuh penyesalan. "karena aku, kau juga jadi ikut menderita seperti ini"

Tangan Sasori kemudian menangkup tangan kanan Sakura. "akan aku lakukan apapun untukmu. Karena aku menyukaimu, Sakura"

Sakura yang ada dihadapannya saat ini hanya bisa membulatkan matanya karena terkejut. "melihatmu sungguh tersiksa karena pria brengsek yang sayangnya itu adalah sahabatmu, sungguh membuatku tidak bisa tinggal diam"

"aku tidak bisa diam saja, sampai kau benar-benar mendapatkan kebahagianmu sendiri. Aku akan selalu bersamamu, Sakura" Sasori mengeratkan genggaman tanya Sakura.

"aku sungguh-sungguh beruntung bisa bertemu dengan orang sepertimu" ucap Sakura. "Sasori, kau mau aku ajak kesuatu tempat ?"

.

.

.

"ini tempat yang kau maksud ?"

Sakura yang ada disampingnya hanya menganggukkan kepalanya. Dia masih terlihat menatap pusaran tanah bertuliskan 'Haruno Kizashi' yang ada dihadapnya saat ini.

"ayah, ini mungkin akan menjadi yang terakhir kali Sakura kemari. Untuk waktu yang sangat lama Sakura akan sangat jarang datang kemari. Maafkan Sakura, ayah" tatapan sendu Sakura tunjukkan untuk tempat peristirahatan terakhir sang ayah.

Sasori kemudian menunduk dan memberikan beberapa tangkai bunga di pusara tersebut. "kau yakin dengan keputusanmu ?"

Lagi-lagi Sakura menganggukkan kepalannya, "aku tidak tau apa yang akan terjadi disana nanti, tapi aku harus pergi dari sini"

"ibuku berani berkorban banyak untukku, karena itu aku harus bisa berubah supaya ibuku tidak terus menerus lakukan itu" ucap Sakura. "aku sangat mengerti, meninggalkan sahabat yang biasanya menjadi penghiburnya dikala kesepian sangatlah berat"

"apa yang terjadi pada ibumu ?"

"dulu ayahku seorang ahli masak yang cukup terkenal, dia punya banyak cabang di setiap kota di Jepang. Karena suatu kecelakaan di dapur ayahku meninggal di tempat. Ibuku dulu ikut mengelola salah satu restoran di kota ini yang juga tempat ayahku memasak, dan di restoran itu juga ibuku melihat bagaimana ayahku meninggal. Semua itu membuatnya sangat terpukul, ibuku mengalami kesedihan yang mendalam hingga dia depresi. Karena kondisinya yang seperti itu, aku yang saat itu masih ada diperutnya harus keluar sebelum waktunya. Kemudian bibi Mikoto dan bibi Kushina datang dan selalu menemani ibuku, merekalah yang membuat ibuku bisa menjadi lebih baik seperti saat ini. Tapi setelah keputusan yang kami buat saat ini, aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Aku sangat takut"

"saat ini satu-satunya yang ibumu punya adalah dirimu. Kebahagianmu adalah kebahagiannya juga, hal yang bisa kau lakukan saat ini adalah memperbaiki dirimu sendiri, maka kau juga akan menolong ibumu" ucap Sasori.

"apa kau mau membantuku ?" tanya Sakura sedikit ragu.

Sasori mengulurkan tangan kanannya kearah Sakura tanpa mengucapkan kalimat apapun. Dengan sedikit ragu Sakura mencoba meraih uluran tangan tersebut.

.

.

.

"terima kasih sudah membantuku, kak Itachi" Sakura tersenyum kepada Itachi yang baru saja selesai membantunya mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil.

"sama-sama" jawab Itachi. "aku harap ini menjadi pilihan yang terbaik untukmu. Semoga kau sukses disana"

"terima kasih"

"oh jadi ini yang dimaksud adikku dengan setan merah" ucap Itachi ketika melihat Sasori berjalan mendekati mereka berdua. Sedangkan Sakura hanya bisa menatap Sasori merasa tidak enak dengan yang kak Itachi katakan. "setan merah darimananya, adikku benar-benar aneh. Kau terlihat tampan begitu, bung"

Sasori terlihat tertawa mendengar perkataan Itachi. "Sasori. Akasuna Sasori" Sasori mengulurkan tanganya kearah Itachi.

"aku Itachi. Uchiha Itachi, kakaknya Sasuke" menerima jabatan tangan Sasori.

"iya, saya sudah tau. Anda benar-benar berbeda dengan Sasuke" ucap Sasori.

"adikku itu memang seperti batu, keras kepala dan dingin. Tidak sepertiku" jawab Itachi sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.

"senang berkenalan dengan anda"

"aku juga" jawab Itachi. "tolong jaga di baik-baik ya, Sasori. Akhir-akhir ini dia sangat cengeng"

"tentu saja" Sasori terlihat tersenyum geli mendengar menuturan Itachi, sedangakan Sakura yang bisa memerah karena menahan malu.

"anak-anak ayo segera masuk, ini sudah jadwalnya pesawat kita berangkat" Mebuki terlihat berjalan mendekati tiga orang yang sedang berkumpul tersebut.

"iya ibu" jawab Sakura. "ayo, Sasori" Sakura dan Sasori kemudian masuk sambil membawa barang-barang mereka. "sampai jumpa lagi, kak Itachi"

"terima kasih sudah mau membantu kami pindah ya, sayang" ucap Mebuki kepada Itachi. "tolong jaga baik-baik ibumu ya"

"iya, bibi. Bibi Mebuki juga baik-baik disana dan jaga kesehatannya" Itachi membalas pelukan Mebuki. Sebelum Mebuki pergi dan menyusul putrinya dan Sasori yang sudah masuk ke bandara.

"selamat jalan, Sakura. Semoga kau segera mendapatkan kebahagianmu" ucap Itachi.

.

.

.

.

.

Flasback End

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sakura menghilang !" raut wajah terkejut Karin terlihat jelas dari kedua matanya.

"hn"

"maksudmu menghilang itu apa ?" Karin berusaha memastikannya kembali.

"hilang, lenyap, tidak tampak, pergi, tidak tau ada dimana !" ucap Sasuke dengan penekanan di tiap-tiap kata-katanya. Entah kenapa Sasuke merasa kesal dengan tabiat Karin yang selalu tidak tau itu.

"kenapa Sakura tiba-tiba menghilang" raut wajah Karin berubah menjadi cemas. "kita harus berusaha mencarinya"

"dia tidak meninggalkan pesan apapun padamu ?"

"tidak" jawab Karin. "terakhir kami berhubungan adalah sekitar satu bulan yang lalu"

"apa menurutmu Sakura berusaha memutus persahabatan kita ?"

"dia memang sudah lakukan itu" jawab Sasuke.

"apa !" Karin kembali merasa terkejut. "ini mungkin sudah menjadi keputusannya. Aku pikir juga misalkan dia tetap disini itu hanya akan menyakitinya"

Karin tiba-tiba mendapat tatapan tajam dari Sasuke yang membuatnya kembali terkejut. "ke-kenapa kau tiba-tiba menatapku seperti itu ?" ucap Karin dengan gagap.

"sejak awal sebelum insiden itu terjadi, kita memang sudah menyakitinya" ucap Sasuke sebelum dia meninggalkan Karin sendirian.

"apa kita akan mencarinya ?" Karin tiba-tiba berdiri dari duduknya dan menghentikan langkah Sasuke.

"apa menurutmu kita masih punya muka untuk muncul di depannya ?" ucap Sasuke tanpa membalikkan badanya.

"ma-maksudmu ?" Karin terlihat bingung dengan ucapan yang Sasuke keluarkan. "bukankah pertanyaanmu itu terlalu berlebihan, bagaimanapun dia masih tetap sahabat kita"

"dia sendiri yang mengatakan padaku untuk jangan muncul dihadapanya lagi" kini Sasuke telah berdiri menghadap Karin. "jika kau ingin mencarinya cari saja sendiri". Kini Sasuke benar-benar telah meninggalkan Karin sendiri di ruangan miliknya.

"Sakura, jalan inikah yang kau pilih ?" ucap Karin dengan lirih. "dimanapun kau berada sekarang aku harap kau segera menemukan kebahagianmu sendiri"

"maafkan aku Sakura"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"kau baik-baik saja sayang ?" Mikoto terlihat berjalan mendekari putra bungsunya yang sedang duduk di kursi santai dekat kolam renang milik mereka.

"Sasuke baik-baik saja" jawab Sasuke yang tersadar dari lamunanya.

"tapi ibu tidak bisa menangkap itu semua. Ibu rasa kau tidak dalam keadaan baik-baik saja"

"apa ibu sudah tau kalau bibi Mebuki maupun Sakura menghilang, pergi entah kemana ?" tanya Sasuke.

Tampak Mikoto menarik nafas dalam sambil melihat riak air kolam renang yang bergerak karena semilir angin. Mikoto kemudian menganggukan kepalanya yang kemudian membuat Sasuke terkejut.

"sungguh bu ?" ucap Sasuke. "berarti ibu tau dimana mereka sekarang ?"

Mikoto masih tetap mempertahankan posisinya seperti tadi, namun kemudian dia mengubah arah pandangan matanya ke arah anak bungsunya tersebut, dan dia menggelengkan kepalangnya. "Sasuke, ibu tau apa yang terjadi denganmu, Karin maupun Sakura"

"Mebuki memang memberitahu ibu jika dia akan pindah ke suatu tempat. Tapi ketika kami menanyakan dimana, dia tidak menjawabnya. Alasanya adalah hanya ingin membuat Sakura merasa nyaman tanpa kehadiran kalian"

"apa yang terjadi dengan kalian benar-benar membuat ibu merasa sangat bersalah. Ibu tidak menyalahkanmu maupun Karin dengan apa yang terjadi, menurut ibu itu hanya sebuah takdir cerita yang menyakitkan yang memang harus terjadi diantara kalian"

"menurutmu apa yang orang tua rasakan jika anak mereka saling tersakiti satu sama lainnya. Ini semua memang jalan satu-satunya. Mau tidak mau ini semua harus terjadi, ini sulit untukmu dan juga sulit untuk ibu"

"sekarang fokuslah dengan apa yang ada didepan kita" Mikoto tersenyum kepada Sasuke.

"tapi Sasuke mencintainya"

PLAAK !

Tamparan yang Sasuke dapatkan di wajahnya begitu mengejutkannya. "kenapa ibu tiba-tiba menamparku !" Sasuke terlihat sedikit kesal namun kemudian menghilang ketika melihat raut wajah sang ibu yang berubah menjadi sedikit marah.

"bagaimana bisa kau ucapkan kalimat itu di depan ibu"

"ibu marah padaku ?" tanya Sasuke sambil satu tangannya masih memegang pipinya yang merah.

"ibu mendidikmu bukan untuk menjadi lelaki seperti itu. Apa kau benar-benar ingin menempatkan ibu dalam situasi sulit lagi ?" ucapa Mikoto dengan nada yang sedikit lebih keras.

"maksud ibu apa"

"Sakura sudah pergi, Sakura sudah menghilang, yang sekarang ada didepanmu dan menjadi tanggung jawabmu adalah Karin. Menurutmu apa yang akan terjadi jika kau terus-terusnya memikirkan semua ini, pikirkan tentang Karin juga"

"Sasuke tau itu ibu !" jawab Sasuke dengan nada tinggi. "bodohnya anakmu yang terlambat menyadarinya hanya karena ada bintang yang bersinar lebih terang darinya, Sasuke menyesal ibu" Sasuke jatuh terduduk dengan kepala yang tertunduk dan air mata yang menetes dengan sepintas.

"tapi semua sudah terlambat, sayang" ucap Mikoto dengan nada yang lebih tenang. "ibu sudah cukup kehilangan bibi Mebuki, ibu harap ibu tidak akan kehilangan untuk kedua kalinya"

"kenapa rasanya semenyakitkan ini"

"ibu yakin kau bisa menghadapi semua itu, sayang. Semua akan terbiasa dengan sendirinya. Yakinkanlah hatimu dan coba untuk kembali mempercayakan hatimu pada Karin"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

untuk chapter selanjutnya akan jadi cerita yang baru dari mereka. sebelumnya terimakasih sudah review cerita ini. author sangat senang sekali ... sampai ketemu di chapter selanjutnya *

.

.

.

.

.

.

.

TBC